Bab 14: Harga dari Waktu Pinjaman
Sanctum terdalam Arsip selalu terasa seperti suaka. Dinding batu yang tebal oleh sejarah, aroma velum dan minyak lampu, serta Mahkota Jam yang berdengung dengan resonansi temporalnya yang senyap di atas pedestalnya. Elara terbangun di ranjang sungguhan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, terbungkus selimut wol yang beraroma penyimpanan kayu aras, dan untuk satu momen rapuh ia membiarkan dirinya percaya bahwa ia aman.
Lalu ia menangkap bayangannya di cermin perunggu mengilap di seberang ruangan.
Uban menyusup di antara rambut gelapnya. Garis-garis baru terukir di sekitar matanya. Tangannya tampak puluhan tahun lebih tua daripada wajahnya. Ia menatap orang asing di cermin, dan orang asing itu menatap balik dengan mata yang telah melihat terlalu banyak waktu pinjaman.
Suaka punya harga.
Ia duduk perlahan, persendiannya memprotes dengan kaku yang seharusnya milik seseorang dua kali usianya. Selimut wol melorot dari bahunya, dan ia melihat mantel perjalanan Cassian tersampir di kursi dekat situ. Pasti dia—waktu dia menggendongnya—
Pintu terbuka.
Cassian berdiri di ambang, wajahnya sengaja dikosongkan. Di satu tangan ia memegang surat tersegel, lilinnya menanggung sigil para Threshold Lords. Tatapannya menyapu Elara, mencatat: uban, wajah berkerut, tangan yang kini tampak milik seorang nenek alih-alih perempuan di puncak usia. Elara melihatnya menghitung berapa banyak lagi yang masih bisa ia berikan.
“Kau sudah bangun.” Suaranya terkendali. Terukur. “Bagus. Kita perlu membicarakan aliansi itu.”
Kehangatan kemitraan mereka mengental pahit di lambungnya. Elara menarik selimut lebih rapat, tiba-tiba sadar betapa rapuhnya penampilannya—menua melampaui usianya, terbungkus wol pinjaman, satu-satunya pertahanan hanyalah kebenaran yang ia bawa tentang takhta.
“Para Threshold Lords.” Ia menjaga suaranya tetap datar. “Apa yang mereka inginkan?”
Cassian melangkah masuk dan menutup pintu. Bunyi itu bergema di sanctum yang sunyi. Ia bergerak ke meja di sisi ranjang dan meletakkan surat itu, tetapi ia tidak membukanya. Sebaliknya, ia berdiri di sana, punggungnya menghadap Mahkota Jam, bayangannya jatuh menutupi Elara.
“Mereka menuntut bukti mandat ilahi.” Ia masih tidak menatap matanya. “Sebuah demonstrasi pada upacara Penyegelan. Sesuatu yang akan menunjukkan para dewa merestui klaimku.”
Mahkota Jam berdengung dengan resonansinya, dan Elara merasakannya hingga ke tulang—sebuah nada sumbang yang hanya ia yang bisa dengar. Waktu pinjamannya bernyanyi sebagai jawaban, sebuah utang yang menunggu untuk ditagih.
“Demonstrasi seperti apa?”
“Manipulasi temporal.” Rahangnya menegang. “Sesuatu yang berarti. Sesuatu yang akan membuktikan tanpa keraguan bahwa aku menguasai kekuatan di luar jangkauan fana.”
Keheningan merentang di antara mereka. Mahkota Jam berdengung. Cahaya lampu berkelip. Dan Elara mengerti, dengan kejernihan dingin yang meresap sampai ke tulangnya, apa yang ia minta.
“Seberapa besar?”
Ia sudah tahu. Ia bisa melihatnya dari caranya tak mau menatapnya, dari kehampaan yang ia jaga rapat di wajahnya, dari cara kedua tangannya tetap terlipat di belakang punggung.
“Cukup untuk membuatmu menua.” Akhirnya ia bertemu pandang dengannya, dan ia melihat perhitungan di sana—aritmetika hidupnya ditakar terhadap takhtanya. “Mungkin satu dekade. Mungkin lebih.”
Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis mati.
Ia teringat lima menit yang pernah ia pinjam untuk membaca rahasia-rahasia Mahkota. Bulan-bulan yang harus ia bayar karenanya. Uban yang kini menyusup di rambutnya seperti embun beku di antara daun-daun musim gugur. Dan sekarang ia menginginkan satu dekade. Mungkin lebih.
“Kau memintaku memberikan tahun-tahun dari hidupku untukmu.” Suaranya keluar tenang. Ia terkejut betapa tenangnya ia merasa. “Tahun-tahun yang mungkin bahkan tak kumiliki untuk diberikan.”
“Aku memintamu membantuku mengamankan sebuah takhta yang akan melindungi semua orang—termasuk kau.” Ia melangkah mendekat, dan suaranya melembut. Kehangatan yang selama ini ia asosiasikan dengannya merayap kembali ke dalam nadanya. “Koalisi sedang terbentuk melawan kita. Valdren, Calvet, Ithric—mereka akan mencabik-cabik semua yang telah kita bangun. Tapi dengan dukungan para Lord Ambang, kita bisa—”
“Melindungiku?” Ia tertawa, dan suaranya terdengar rapuh. “Kau memintaku mati demi mahkotamu.”
Sesuatu berkelebat di wajahnya. Frustrasi? Rasa bersalah? Ia tak bisa memastikan. Ia memang selalu pandai menyembunyikan pikirannya di balik topeng ketenangan yang terjaga itu.
“Aku memintamu percaya bahwa perkara ini sepadan dengan pengorbanannya.” Suaranya mengeras. “Aku memintamu percaya bahwa takhta yang sedang kuperjuangkan akan menciptakan dunia di mana orang-orang sepertimu—”
“Orang-orang sepertiku.” Ia menepis selimut dan berdiri. Tangan-tangannya yang menua bergetar ketika ia menghadapnya. “Maksudmu alat. Senjata yang dipakai sampai habis lalu dibuang ketika sudah melewati masa bergunanya.”
“Itu tidak—” Ia berhenti. Menarik napas. Ketika ia bicara lagi, suaranya terkontrol dengan cermat. “Aku tidak pernah memperlakukanmu sebagai alat.”
“Benarkah tidak?” Ia mengangkat kedua tangannya—tangan yang kini tampak seperti milik seorang perempuan yang telah menjalani hidup panjang, bukan seseorang yang baru saja lewat dari masa mudanya. “Lihat aku, Cassian. Benar-benar lihat. Lima menit yang kupinjam. Lima menit, dan inilah harganya. Dan sekarang kau menginginkan satu dekade?”
“Situasinya sudah berubah.” Rahangnya mengeras. “Koalisi—”
“Koalisi akan selalu ada. Ancaman akan selalu ada.” Ia melangkah ke arahnya, dan batu dingin lantai Arsip merembes ke telapak kakinya yang telanjang. “Akan selalu ada alasan lain. Keperluan lain. Perkara lain yang katanya pantas mengorbankan diriku.”
“Kau tidak adil.”
“Tidak adil?” Kata itu meretakkan sesuatu di dadanya. “Aku sudah memberimu bulan-bulan dari hidupku. Aku menua bertahun-tahun dalam rentang beberapa minggu. Aku memikul rahasia-rahasiamu dan melawan musuh-musuhmu dan percaya—” Ia berhenti. Menelan ludah. “Aku percaya padamu ketika kau bilang aku berarti bagimu. Bahwa aku bukan sekadar sarana untuk mencapai tujuan.”
“Kau memang berarti.” Ia meraih ke arahnya, tapi ia melangkah mundur. Tangan itu menggantung di udara di antara mereka, lalu jatuh ke sisi tubuhnya. “Elara, aku—”
“Jangan.” Suaranya keluar tajam. “Jangan bilang aku berarti, sementara kau memintaku memberikan sisa hidupku untukmu.”
Mahkota Jam berdengung dengan nada sumbangnya, dan cahaya lampu menangkap warna kelabu di rambutnya. Ia melihatnya menyadari itu—melihat tatapannya menelusuri helaian perak, garis-garis di sekeliling matanya, tangan yang bergetar meski ia berusaha menahannya agar tetap tenang.
“Utusan Threshold Lords tiba besok.” Suaranya sudah menjadi datar. Seperti urusan kerja. “Mereka mengharapkan jawaban.”
“Jawabannya tidak.”
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti batu.
Ekspresi Cassian tidak berubah. Namun sesuatu bergeser di balik matanya—sebuah dingin yang mengapung ke permukaan, sebuah perhitungan yang selalu ada tetapi selama ini ia memilih untuk tidak melihatnya. Ia menatap tangan-tangannya yang menua untuk terakhir kalinya, dan ia mengerti: Cassian sudah menghitung ulang. Sudah menentukan bagaimana melangkah tanpa kerja samanya.
“Aku sempat berharap kau akan mengerti keperluannya.” Ia merapikan mansetnya. Gerakan kecil, presisi dan terkendali. “Takhta menuntut pengorbanan. Kupikir kau, dari semua orang, akan menghargai itu.”
“Aku mengerti dengan sempurna.” Ia mendengar suaranya sendiri seolah dari kejauhan—mantap, jernih, final. “Kau memintaku mati demi ambisimu. Jawabannya tidak.”
“Kalau begitu, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”
Ia berbalik. Pintu Arsip terbuat dari kayu ek berat, diperkuat dengan gelang-gelang besi, dan pintu itu menutup di belakangnya dengan bunyi seperti makam yang disegel.
Kesunyian setelahnya mutlak.
Elara berdiri di ruang dalam, sendirian bersama Mahkota Jam dan bobot dari apa yang baru saja ia kehilangan. Selimut wol tergeletak berantakan di atas ranjang. Mantel perjalanan Cassian masih menggantung di sandaran kursi. Bau velum dan minyak lampu menekan dari segala sisi, dan ia menyadari dirinya gemetar.
Ia telah kehilangan perlindungan Cassian. Koalisi akan mengejarnya sekarang—mereka tahu apa dirinya, apa yang bisa ia lakukan. Tanpa faksi Cassian yang melindunginya, ia rapuh. Terbuka.
Namun ia masih hidup.
Ia bergerak menuju cermin perunggu dan memaksa dirinya menatap. Benar-benar menatap.
Rambut kelabu. Wajah berkerut. Tangan yang menua puluhan tahun hanya dalam hitungan minggu. Inilah akumulasi utang waktunya yang menjadi nyata—setiap menit yang dipinjam terukir ke dalam dagingnya. Inilah yang sudah ia berikan. Inilah harga yang sudah ia bayar.
Dan dia menginginkan lebih.
Mahkota Jam berdengung di atas pedestalnya, resonansi temporalnya menjadi pengingat konstan atas segala yang telah ia korbankan dan segala yang masih bisa ia kehilangan. Ia memikirkan takhta yang melahap para dewa. Panteon yang telah ditelan oleh kekuatan yang ingin mereka kendalikan. Cassian menginginkan takhta itu. Ia percaya dirinya bisa menguasainya. Menaklukkannya.
Elara tahu kenyataannya.
Pintu Arsip tetap tertutup. Ruang suci itu terasa lebih besar sekarang, lebih kosong, dinding-dinding batunya menekan dirinya dengan bobot berabad-abad. Ia telah memilih dirinya sendiri ketimbang ambisi Cassian. Ia menolak menjadi pengorbanan lain bagi kelaparan tak berujung milik takhta itu.
Namun ketika ia berdiri di sana, terbalut kehangatan pinjaman dan dikelilingi bukti atas segala yang sudah ia serahkan, ia bertanya-tanya apakah harga dari penolakan itu mungkin lebih tinggi daripada yang sanggup ia tanggung.
Di luar sana, entah di sudut mana di kota yang terhampar melampaui tembok-tembok tebal Arsip, koalisi sedang berkumpul. Para Penguasa Ambang menanti jawaban mereka.
Dan Cassian—
Cassian tak akan memaafkan ini.
Ia menyentuh kaca cermin perunggu itu, tangan tuanya meninggalkan bekas jari di permukaan yang dipoles. Perempuan yang menatap balik tampak seperti orang asing. Namun mata itu—masih miliknya. Masih jernih. Masih teguh.
Ia telah memilih untuk hidup.
Sekarang ia harus bertahan menghadapi akibatnya. Kesunyian Arsip menekan telinganya seperti beban yang nyata. Ia telah terbiasa dengan dengung konstan energi temporal, getaran halus dari waktu pinjaman yang berdiam di dalam dinding-dinding ini. Kini, kesunyian itu terasa seperti napas yang ditahan—menunggu, mengawasi.
Ia berpaling dari cermin. Selimut wol menggenang di sekitar pinggulnya, dan ia menyadari betapa dinginnya ruang suci itu telah menjadi. Lampu-lampu menyala redup, minyaknya nyaris habis. Berapa lama ia tidur? Berapa lama Cassian berdiri di sana, menatapnya beristirahat, menghitung apa yang akan ia minta darinya?
Ia telah menggendongnya melewati gema temporal. Telah membungkusnya dengan mantelnya. Telah membiarkannya tidur sementara ia merencanakan untuk meminta tahun-tahun dari hidupnya.
Sebuah bunyi datang dari suatu tempat di balik pintu ek berat itu—langkah kaki, suara-suara. Arsip sedang terjaga. Kabar akan menyebar. Arsiparis milik The Claimant telah menolaknya. Aliansi itu tergantung di ujung tanduk.
Ia harus bergerak. Menyusun rencana. Memutuskan apa yang terjadi selanjutnya, sekarang setelah ia membakar jembatan di belakangnya.
Namun tubuhnya terasa berat, seperti timah. Utang waktu menarik-narik persendiannya. Ia menekan telapak tangannya rata pada dinding batu yang dingin dan merasakan detak jantung Arsip yang mantap—pengetahuan berabad-abad yang terkumpul, dipertahankan dalam vellum dan perunggu dan resonansi temporal. Tempat ini telah melindunginya. Telah memberinya tujuan. Telah menjadi satu-satunya rumah yang pernah benar-benar ia kenal.
Kesadaran itu datang dengan kepastian yang hening. Ia tak bisa tinggal di sini, tidak setelah menolaknya. Tidak ketika ia akan kembali dengan tuntutan, dengan perdebatan, dengan bobot ambisinya menekan dirinya sampai ia patah atau membungkuk. Arsip adalah bentengnya sama seperti bentengnya sendiri. Mungkin lebih.
Ia berdiri perlahan, kakinya goyah menopangnya. Mantel perjalanan itu melorot dari bahunya, dan ia membiarkannya jatuh. Ia tak akan membawa kehangatannya bersamanya. Tidak lagi.
Sebuah ketukan terdengar di pintu. Tiga ketukan tajam, berjarak tepat.
"Elara." Suara The Ally, direndahkan. "Aku dengar. Boleh aku masuk?"
Ia mempertimbangkan untuk menolak. Mempertimbangkan kemewahan kesendirian, dukacita, membiarkan dirinya punya satu momen kecil ini untuk meratapi apa yang telah hilang. Namun dukacita adalah kemewahan yang tak sanggup ia bayar. Bukan sekarang. Bukan ketika koalisi sedang berkumpul dan kesabaran Cassian menipis.
Pintu itu terayun terbuka, dan The Ally melangkah masuk. Wajahnya pucat dalam cahaya lampu, matanya membesar. Ia habis berlari—Elara bisa melihatnya dari semu merah di pipinya, dari naik-turun napasnya yang cepat.
"Kau bilang tidak." The Ally menutup pintu di belakangnya. "Kau benar-benar bilang tidak."
"Dia murka. Aku belum pernah melihatnya seperti ini." Ia melintasi ruangan dalam tiga langkah cepat lalu berhenti mendadak, pandangannya tertambat pada tangan Elara. Pada hela-hela uban yang menyusup di rambut hitamnya. "Oh. Oh, Elara. Gaung itu—ternyata mengambil lebih banyak daripada yang kau bilang."
"Gaung itu mengambil apa yang selalu diambilnya." Elara menjaga suaranya tetap mantap, terkendali. "Aku hanya memilih untuk tidak membiarkannya mengambil lebih banyak."
Ekspresi The Ally berubah. Takut, marah, duka—semuanya melintas di wajahnya sebelum mengeras menjadi sesuatu yang lebih tegar. Lebih bertekad.
"Kalau begitu kita harus bergerak. Sekarang. Malam ini." Ia melangkah lebih dekat, merendahkan suara. "Utusan Threshold Lords tiba besok. Cassian harus menampilkan front yang bersatu, dan kalau kau bukan bagian dari itu—"
"Aku tahu apa diriku." Elara menatapnya tanpa goyah. "Aku adalah The Archivist yang menolak The Claimant. Aku adalah perempuan yang memilih hidupnya sendiri ketimbang tahtanya. Aku adalah apa pun yang ia katakan kepada mereka tentang diriku."
"Kau temanku." Suara The Ally pecah pada kata itu. "Dan kau dalam bahaya. Bahaya sungguhan. Cassian tidak memaafkan. Dia tidak lupa. Dan dia jelas tidak membiarkan siapa pun pergi begitu saja darinya."
Elara teringat wajah The Claimant di bawah cahaya lampu. Kekosongan yang terjaga rapi. Ketiadaan kehangatan yang dulu ia kira nyata. Berbulan-bulan ia habiskan untuk meyakinkan dirinya bahwa perlindungannya tulus, bahwa kepeduliannya padanya lebih dalam daripada sekadar kegunaan. Ia telah menjadi bodoh.
"Ada lorong pelayan," lanjut The Ally. "Mengarah ke aneks arsip timur. Dari sana, kau bisa mencapai distrik luar sebelum fajar. Aku kenal orang-orang yang—"
"Tidak." Elara menggeleng. "Aku tidak akan lari. Belum."
"Aku perlu mengerti apa yang sudah kulakukan." Ia bergerak ke arah jendela, menekan telapak tangannya ke kaca yang dingin. Di bawah sana, kota membentang dalam gelap, kuil-kuil dan menaranya menyusut menjadi bayang-bayang dan cahaya bintang. Di suatu tempat dalam kegelapan itu, Threshold Lords menunggu jawaban mereka. Di suatu tempat, Cassian sudah memintal narasinya, menjadikannya rintangan bagi perdamaian, alasan aliansi itu mungkin gagal.
Ia pernah menjadi sang arsiparisnya. Penjaga rahasia-rahasianya. Jendelanya menuju Crown of Hours dan takhta yang dijaganya. Kini ia tak lebih dari bidak lain di papan—dan bidak yang baru saja menolak bergerak sesuai perintah.
"Kau tidak bisa tinggal di sini." Suara The Ally kini pelan. Putus asa. "Dia akan menemukan cara untuk memaksamu. Kau tahu dia akan begitu. Dia selalu begitu."
"Mungkin." Elara berpaling dari jendela. "Tapi aku sudah memberi cukup banyak tahun untuk perjuangannya. Aku tidak akan memberinya kepuasan melihatku kabur."
The Ally meneliti wajahnya. Apa pun yang ia lihat di sana membuat bahunya turun, napasnya terlepas dalam helaan panjang.
"Kau akan membuatku menyeretmu keluar dari sini, ya?"
"Aku akan memintamu percaya padaku." Elara mengulurkan tangannya yang menua—sebuah isyarat yang tak akan ia lakukan dulu, ketika tangannya masih selaras dengan wajahnya. "Bisa?"
The Ally menatap tangan itu. Pada garis-garis, bintik-bintik, dan bukti waktu pinjaman. Lalu ia meraihnya, genggamannya hangat dan mantap.
"Aku sudah memercayaimu sejak malam ketika kau menyelamatkan nyawaku di Kuil Abu. Aku tidak akan berhenti sekarang."
Kata-kata itu mengendap di dada Elara. Ia punya sekutu. Ia punya tujuan. Ia telah membuat pilihannya, dan ia akan bertahan melewatinya.
Namun di luar tembok Arsip, kota itu menunggu. Dan di suatu tempat dalam kegelapan itu, Cassian sudah merencanakan langkah berikutnya.