4 / 19
Leyendo
Sileath menjaga udara tetap kering, suhu tetap konstan, dan ribuan gulungan naskah berada dalam stasis yang sempurna.
Napas itu mulai tersendat.
Ia menelusuri sebuah glif dengan ujung jarinya. Simbol untuk “Stasis Abadi” seharusnya berdengung dengan getaran rendah yang hangat. Yang ia rasakan justru seperti kapur. Urat perak di bawahnya tampak kusam, cahaya di dalamnya meredup-menyala seperti lilin diterpa angin. Simpul dingin mengencang di perutnya. Ia menarik tangannya, jari-jarinya berdenyut oleh ketiadaan daya.
Arsip itu sekarat, perlahan-lahan.
Sepatunya berbisik di atas lantai ascay yang dipoles. Dengung yang selama sepuluh tahun menjadi latar hidupnya kini berubah menjadi dentam sakit-sakitan yang datang putus-putus. Tersendat. Berhenti. Lalu mulai lagi dengan embusan mengi. Setiap kali jeda terjadi, bangunan itu sendiri seakan menarik napas, batu-batu purba mengerang saat menanggung beban abad-abad yang mendadak tak lagi ditengahi. Debu, yang biasanya tertahan dalam suspensi sempurna, melayang dalam pilinan malas melewati berkas-berkas cahaya pagi yang kelabu.
Ia mencapai meja Prime. Sihir ilahi tak bisa menyentuhnya. Meja itu hanya bisa dibaca.
Namun bagian tentang Suksesi Ilahi berpijar dengan cahaya emas yang lembut.
Ia membungkuk lebih dekat, napasnya tertahan. Tinta itu bergerak. Bukan maknanya. Tinta fisiknya. Kata-kata “Tahta Ilahi” berkilau, huruf-hurufnya meluber di tepinya seperti cat air di atas kertas lembap. Mereka berombak, larut, lalu mulai membentuk ulang. Jantungnya menghantam tulang rusuknya, seekor burung yang terperangkap. Huruf-huruf baru menggumpal, gelap dan tegas.
*Mesin pemangsa.*
Frasa itu terbaring di atas vellum, berdenyut dengan panas samar yang tidak sehat. Ia mengulurkan tangan, telapak tangannya melayang sejengkal di atasnya, dan mencium sesuatu yang manis namun busuk—buah yang terlalu matang dibiarkan di ruangan tertutup. Ia menekan telapak tangannya rata. Bahan itu biasanya sejuk, lentur seperti sesuatu yang hidup. Kini panas demam. Di bawah tangannya, kata-kata “mesin pemangsa” memudar, membentuk ulang kembali menjadi “tahta ilahi.” Siklus itu berulang. Larut. Membentuk. Sebuah kebenaran yang telah dikunci para dewa berjuang naik ke permukaan, dan satu-satunya medium yang dimilikinya adalah satu hal yang tak bisa mereka ubah secara langsung.
Arsip itu bukan sekadar gagal. Ia sedang ditulis ulang dari fondasinya.
Sebuah *ping* tajam menggema di seluruh aula, suara sebuah jampi penopang yang patah. Cahaya di atrium meredup. Sebuah tabung gulungan naskah di rak tinggi mengeluarkan erangan pelan saat medan stasis di sekelilingnya berkerlip. Udara menjadi lebih berat, lebih lembap. Rasa batu tua dan jamur mengembang di lidahnya.
Menit. Mungkin kurang.
Kehancuran total akan mengubah sepuluh ribu tahun sejarah menjadi debu dan bubur dalam satu helaan napas katastrofik.
Ia berlari kembali ke pilar pusat. Pikirannya melesat menelusuri protokol. Tidak ada protokol untuk ini. Tangkal itu berasal dari ilahi, dipertahankan oleh daya ambient dari sebuah panteon yang berfungsi. Panteon itu telah lenyap. Kekuatan mengucur keluar ke dalam kekosongan yang ditinggalkan singgasana yang bisu. Ia bisa memanggil The Witness, tetapi lelaki itu masih berjarak berhari-hari, sedang berkonsultasi dengan para imam sisa di kota bawah. Ia sendirian. Satu-satunya alat yang ia miliki adalah yang dilarang untuk ia gunakan.
Tiga puluh detik. Ia membutuhkan tiga puluh detik perhatian yang terfokus, benar-benar hadir, untuk menelusuri sigil penguat di atas glif-glif yang sedang runtuh. Sebuah penahan sementara. Sepotong selotip di atas bendungan retak. Namun itu mungkin bertahan cukup lama baginya untuk memahami korupsi di Vellum, untuk menemukan solusi yang sesungguhnya.
Biayanya akan seketika. Pembatalan-kebenaran tentang apa yang menunggunya di sana.
Cakram itu hangat menekan telapak tangannya. Ia menutup jemarinya mengitari benda itu.
Ia punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
antara momen.
Ia perlu melihat jauh lebih banyak daripada itu sekarang.
Arsip itu berdengung di sekelilingnya, tangkal-tangkalnya pulih, kesunyianya tak lagi rapuh melainkan berjaga. Di suatu tempat di kota di balik temboknya, seorang penuntut-dewa sedang berjalan menuju sebuah singgasana yang akan melahapnya. Dan ia satu-satunya orang yang masih hidup yang baru saja membaca mereka.
Ia menunduk menatap cakram perunggu di tangannya. Sebuah kunci, begitu ia menyebutnya. Sebuah alat bagi seseorang yang perlu melihat b Keheningan Besar bukanlah penelantaran. Itu adalah bunyi sebuah perjamuan yang berakhir.
Kakinya lemas. Ia menahan dirinya pada tepi ceruk, lapisan beludrunya dingin dan lembut di bawah jemarinya.
Perang suksesi. Para penuntut. Cassian, dengan keletihannya dan tawaran yang cermat, tulus. Mereka semua bertarung demi hak untuk duduk di sebuah kursi yang akan memakan mereka hidup-hidup.
Tinta Vellum terdiam. Kata-katanya tetap ada, tegas dan permanen, seakan-akan selalu berada di sana dan ia hanya kekurangan mata untuk membacaiannya.
Singgasana itu bukan tempat duduk kekuasaan. Itu sebuah mulut. Setiap dewa yang mendekatinya dengan keyakinan bahwa mereka akan memerintah, justru disambut—diserap, dicerna, kesadaran ilahi mereka dilipat ke dalam kelaparan yang telah menunggu sejak sebelum kronik pertama ditulis. Bingkai itu seolah bernapas. Di depan matanya, pada bagian yang menjabarkan ritus kenaikan singgasana ilahi, tintanya sendiri mulai mengalir. Tulisan doktrinal kuno melarut seperti gula di dalam teh, membentuk ulang menjadi baris-baris baru yang tajam. Korupsi itu bukan pembusukan, melainkan wahyu yang menimpa delapan abad kebenaran mapan.
Kata-kata baru itu berkilau, basah dan gelap.
Mereka tidak berbicara tentang kenaikan yang mulia, melainkan tentang pemangsaan yang sunyi dan putus asa telapak, pola-pola konsentrisnya bergeser di bawah ibu jarinya—bukan acak, melainkan sebuah bahasa yang nyaris bisa ia rasakan. Sebuah kunci. Ke sebuah ambang. Ke sebuah perang. Menerima berarti melangkah masuk ke badai itu, menjadi terlibat dalam suksesi yang sepanjang kariernya ia dokumentasikan dari jarak aman. Menolak berarti berdiri sendirian di arsip yang runtuh, bersenjata hanya dengan menit-menit pinjaman dan sebuah kebenaran yang sekarat.
Keputusan itu melilit di tenggorokannya, tak terucap.
Lalu Vellum itu bergerak.
Bukan denyut. Sebuah riak. Kulit mustahil di atas gadingnya, menunggu ia memutuskan kapan harus mengembuskan napas, dan ke hembusan angin asing yang mana.
Ia menoleh kembali ke Prime Vellum.
Cakram itu masih hangat di telapak tangannya sebelum ditelan oleh dengung arsip yang pulih, stabil.
Ia berdiri sendirian, cakram perunggu itu berat di tangannya. Resonansi hangat dari segel-segel pelindung adalah dusta, kedamaian sementara yang dibeli dengan rasa sakitnya sendiri. Prime Vellum di ceruknya masih berdenyut dengan kebenaran tersembunyi yang lapar. Dan ia memegang sebuah kunci yang ditawarkan oleh seorang pria yang entah merupakan peluang terbaiknya untuk keselamatan, atau arsitek dari kehancuran yang lebih halus.
Arsip itu sunyi. Aman. Untuk saat ini.
Namun kesunyiannya berbeda. Itu kesunyian dari napas yang ditahan, kolega yang dihormati. Lalu ia berbalik dan pergi, langkah kakinya bergema lembut cakram perunggu. Cakram itu hangat, bukan dari tangannya, melainkan dari dalam. Permukaannya diukir lingkaran-lingkaran sepusat dari pola-pola mungil yang bergeser, yang seakan berenang di bawah ibu jarinya. Berat yang padu, menenteramkan.
“Ini bukan jawaban,” katanya, suaranya pelan.
“Ini undangan,” jawabnya. “Simpan. Gunakan untuk membantu menjaga tempat ini, jika itu saja yang kauinginkan. Jika kau melihat jalan di mana kita bisa bekerja sama untuk melakukan lebih… kuncinya akan menemukan aku.”
Ia memberinya sebuah bungkuk kecil yang formal, semacam yang mungkin diberikan seorang cendekia kepada rekan sejawat yang dihormati. Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, langkah kakinya menggema lirih.
Aku tahu nilai sebuah catatan yang sejati. Aku butuh seseorang yang bisa membaca apa yang para dewa coba sembunyikan, bukan seseorang yang akan mengatakan apa yang ingin kudengar.
Perlahan, ia meraih dan mengambilnya.
“Kenapa?” tanyanya. “Kenapa menawarkan ini? Kenapa tidak saja memerintahku? Kau punya rahasiaku.”
Sekilas emosi yang tulus melintas di wajahnya—sesuatu seperti malu, atau penyesalan. “Karena memerintah adalah apa yang dilakukan para dewa lama. Itu yang diharapkan takhta. Aku berusaha membangun sesuatu yang berbeda. Dan karena…” Ia ragu, mencari kata-kata. “Aku juga menghabiskan hidupku di perpustakaan. Aku lalu menatap wajahnya. Terbuka, sungguh-sungguh, namun dengan keletihan dalam di matanya—keletihan seseorang yang memikul beban lintas generasi.”
Ia merogoh mantelnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah cakram, sebesar koin besar, terbuat dari perunggu gelap kemerahan. Ia menadahkan di telapak tangannya.
“Ini Kunci Ambang,” katanya. “Bukan senjata. Ini… penyaring. Ia menyelaraskan diri pada keadaan-keadaan peralihan. Dekatkan pada pintu terkunci, dan ia akan memperlihatkan saat terakhir kunci itu diputar. Dekatkan pada segel yang memudar, dan ia mungkin memperlihatkan bentuk aslinya yang stabil. Ini alat untuk seorang arsiparis. Untuk seseorang yang perlu melihat momen-momen *di antara*.”
Ia memandang cakram itu, tujuan. Bobot pilihan itu amat besar, tekanan fisik pada paru-parunya.
Dia melihat keraguannya. Dia tidak mendesak. Sebaliknya, dia merogoh saku bagian dalam—tempat ia menyimpan bukti. Dia adalah solusi sementara. Dia menawarkan pelindung. Sebuah tuas pengungkit yang terkubur di sini. “Sebagai gantinya, faksiku bisa menyediakan perlindungan. Sumber daya. Kita bisa memperkuat bangsal-bangsal ini dengan lebih dari sekadar momen pinjaman. Kita bisa menemukan cara untuk melestarikan semua ini.” Gerak tangannya merangkum arsip yang luas dan sunyi itu. “Alternatifnya adalah menyaksikannya runtuh sementara perang para claimant memanas dan kelaparan takhta kian membesar. Kau akan meminjam detik demi detik sampai kau tak punya masa depan lagi untuk dipinjam—hanya untuk menjaga satu gulungan agar tidak berubah jadi debu.”
Dia benar. Ngilu di persendiannya, rasa darah di lidahnya, semuanya menyatakan itu. Dia melangkah lebih dekat, suaranya merendah. “Kekosongan politik ini bukan sekadar perebutan kekuasaan. Ini sobekan pada kain realitas. Para claimant bertarung memperebutkan mahkota, tanpa sadar takhtanya sendiri adalah pemangsa. Aku harus memahami apa itu sebelum siapa pun duduk di atasnya. Untuk itu, aku butuh seseorang yang bisa membaca kata-kata yang disembunyikan para dewa.”
Tawaran itu melayang di antara mereka. Tak terucap, namun jelas.
“Kau ingin aku bekerja untukmu,” katanya datar.
“Aku ingin kau bekerja *bersama* aku,” katanya. “Gunakan penglihatanmu. Bantu aku menavigasi sejarah sejati. Itulah sebabnya kaulah satu-satunya yang bisa menstabilkan sebuah bangsal dengan mengingatkan bangsal itu pada bentuknya sendiri.” Ia mengambil apa yang perlu untuk dikatakan berikutnya. “Jawaban atas apa yang sedang terjadi ada di ruangan ini. Di sana.” Ia mengangguk ke arah Prime Vellum. “Tapi itu ditulis dalam bahasa yang para dewa coba hapus. Aku tak bisa membacanya. Sepertinya kau bisa.”
“Aku membaca apa yang tertulis.”
“Kau melihat apa yang *tersingkap*,” desaknya. “Ada bedanya. Time-mote milikku bereaksi pada gaungmu, ya. Tapi ia sudah berdengung di dekatmu selama berhari-hari. Kau punya… kedekatan dengan waktu. Kepekaan. Kau tak cuma membaca sejarah. Kau menyentuh teksturnya. Begitulah caramu melihat korupsi itu. Itulah sebabnya aku di sini. Kalau bukan karena aku, kau akan diseret ke sisa kuil terdekat untuk diinterogasi, atau lebih buruk. Kehadiranku di sini bukan berniat jahat, The Archivist. Itu… melawan takhta yang sunyi.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Seorang god-claimant. Keturunan keilahian, berjalan di arsipnya, menyamar sebagai cendekia. Kepercayaan yang sempat mulai ia letakkan padanya—pengetahuannya, bantuan diam-diamnya—membeku menjadi kecurigaan yang tajam dan menyilaukan. Dia bukan pengamat netral. Dia seorang pemain dalam permainan yang sedang memecahkan dunianya.
“Kau bohong.”
“Aku menghilangkan,” ia membetulkan lembut, tanpa sikap defensif. “Di ruangan penuh sejarawan, seorang pria yang meneliti ritus suksesi yang samar tak akan mengangkat alis siapa pun. Seorang god-claimant akan.” Ia menahan napas. Tentang ambang. Tentang pintu-pintu, tentang fajar dan senja dan keputusan. “Aku seorang claimant. Salah satu dari banyak yang mencari takhta. Kakek buyutku adalah Dewa Thred.” Ia memandangnya dengan intensitas yang mentah, mendesak. “Inilah sebabnya bangsal-bangsal itu gagal. Ini bukan kekosongan yang pasif. Ini sebuah… kelaparan yang aktif. Sifat takhta sedang menulis ulang hukum-hukum dasar di sekitarnya. Arsipmu, semua struktur yang dibangun di atas tatanan ilahi lama, menjadi tak stabil.”
“Apa kau ini?” Pertanyaan itu lolos dari bibirnya sebelum sempat ia kurung.
Ia terdiam lama, menelaahnya. Menimbang sebuah neraca yang mengerikan. Lalu bahunya turun, sebuah pelemasan yang disengaja. “Namaku Cassian dari Ambang Sutra. Milikku hanya membaca apa jadinya.” Ia menoleh padanya, ketenangannya yang biasa retak—suhu Arsip. Ia merasa tersingkap, seolah dikuliti hidup-hidup. Pandangannya melesat melewati dirinya, ke arah relung tempat Prime Vellum masih berdenyut dengan kebenaran busuknya.
Ia mengikuti arah pandangnya. Keningnya berkerut. Tanpa sepatah kata, ia berjalan ke relung. Ia bergerak untuk mencegatnya, menempatkan dirinya di antara dia dan Vellum, tetapi ia berhenti mendadak, matanya membesar saat ia membaca teks yang berkilau, yang bergeser-geser.
“‘Mesin pemangsa,’” hembusnya, kata-katanya nyaris tak terdengar.
“Kau bisa melihatnya?”
“Distorsinya? Ya. Kebenarannya? Aku bisa. Sudah kukenal. Rasa dingin merambat melalui dirinya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan udara. Itu elegan. Tapi itu jahitan pada arteri yang terpenggal.”
“Apa yang kau tahu tentang itu?” Suaranya terdengar lebih tegang daripada yang ia maksudkan.
Ia mengangkat kristal itu. “Sebuah time-mote. Ia beresonansi dengan distorsi temporal. Aku merasakan getaran pertama ketika ward-ward mulai tersendat. Aku datang untuk mengamati pembusukan itu.” Ia berhenti, matanya menyisir wajahnya. “Aku tak menyangka akan menyaksikan seorang sejarawan melakukan operasi darurat pada kausalitas itu sendiri.”
Ia tahu. Rahasia yang ia bawa sejak kecil, kebenaran berbahaya yang menguras tentang dirinya, wa tetapi bergeser ke samping, memberinya ruang. Kesantunan seorang sarjana. “Kekuatan yang menopang mereka sedang terurai. Penguatanmu o bertemu dengan miliknya.” Tak ada keterkejutan. Hanya konfirmasi yang kelam.
“Kau meminjam waktu.”
Suaranya tenang, terukur, namun menggema melalui kesunyian yang pulih seperti batu dijatuhkan ke kolam yang tenang. Setiap naluri menjerit agar ia berbohong, mengalihkan. Namun buktinya barusan memudar dari udara di antara mereka. Penyangkalan adalah permainan anak-anak. Ia menegakkan tulang punggungnya, mengabaikan denyut di tengkoraknya.
“Ward-ward itu sedang gagal.”
“Mereka gagal karena takhta itu kosong.” Ia melangkah lebih dekat. Ia tidak mendekati pilar atau dirinya,is hand, tatapannya shifting tred pada sebuah titik sedikit di kiri dirinya, ekspresinya penuh intensitas yang terfokus. Di tangan bersarungnya, ia memegang sebuah kristal kecil yang bening. Ia berdenyut dengan cahaya biru lembut, berdegup seirama dengan gema samar yang memudar.
Gaungnya.
Bayangan dirinya yang hantu, tembus pandang, kedua tangan masih terangkat ke arah pilar, perlahan larut ke udara. Sebuah cuplikan sempurna dari momen pinjamannya, mengalirkan diri kembali ke masa kini. Sebuah gaung temporal. Ia berkedip sekali, dua kali, lalu lenyap. Kristal di tangan Cassian meredup. Ia menurunkan hn pinjaman itu.
Dan ia tidak sendirian.
Sosok itu berdiri sepuluh langkah jauhnya, tersiluet melawan cahaya lembut dari jendela tinggi. Cassian. Ia tidak menatapnya. Ia bersandar pada pilar, terengah-engah. Vertigonya begitu hebat. Lantai seolah miring dan mengayun. Nyeri tajam di belakang matanya meledak menjadi migrain penuh, penglihatannya berenang, dipenuhi bintik-bintik hitam yang menari. Sakit mendadak dan dalam mengendap di lututnya; kekakuan mencengkeram jari-jarinya yang beberapa saat lalu belum ada. Ia mengangkat tangan gemetar ke wajahnya, menyeka darah dari bibir atasnya. Kulitnya terasa seperti kertas, kering. Tiga puluh detik lebih tua, tetapi penuaan itu tidak terbagi rata. Ia terkonsentrasi, bunga kekerasan yang dibayar— detik-detik berakhir.
Pembayaran menghantam seperti kepalan tangan tertutup ke dada.
Ia terhuyung mundur dar— kepalanya menguat, pita ketat yang mencekik. Aliran panas asin menetes dari hidungnya. Ia mengabaikannya. Rasa tembaga kini satu-satunya rasa.
Lima belas detik dipinjam. Dua puluh.
Ia menyelesaikan jejak terakhir pada glif Stasis Abadi. Sesaat, tak ada apa-apa. Lalu sebuah *dengung* rendah, bergaung, mekar dari pilar, stabil dan kuat. Urat-urat perak itu menyala terang. Bobot menindas di udara mereda. Tangkis yang tersendat-sendat merata menjadi nada yang kontinu dan sehat. Keruntuhan yang segera terjadi berhasil dihindari.
Yang ketig— Ia melihat denyut cahaya yang samar, memudar, di urat-urat perak.
Ia bekerja. Satu glif. Yang lain.
Rasa sakit di .
Waktu kini adalah sumber daya, kolam terbatas yang sedang ia kuras. Ia harus bergerak.
Tangan-tangannya melayang di atas glif-glif itu. Ia tidak menggambar yang baru; itu membutuhkan daya yang tidak ia miliki. Ia menelusuri pola-pola yang sudah ada dengan niatnya, menguatkan ingatan mereka di dalam batu. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan dan presisi yang terasa asing, tiap gerak meninggalkan bayangan susulan perak yang samar di udara. Dunia di sekelilingnya adalah kabur warna dan bunyi yang diredam, memanjang menjadi dengung rendah. Ia melihat butir-butir debu menggantung, tak bergerak.terentang. Sendi-sendinya nyeri dengan dingin tua yang dalam. Ia membuka matanya. Ia tidak merapal mantra; ia melakukan penarikan. Ia memusatkan diri pada rasa tiga puluh detik berikutnya—dinginnya batu, degup panik jantungnya, kejernihan keputusasaan—dan meraih ke depan sepanjang benang keberadaannya sendiri, meminjamnya.
Dunia tidak melambat. *Dirinya* yang berakselerasi.
Rasa metalik, tajam seperti koin tembaga, membanjiri mulutnya. Sebuah tombak nyeri putih-membara menerobos pelipisnya, menetap menjadi denyut garang dan berirama di belakang matanya. Sensasinya seperti disentak dengan kasar.
Ia menempelkan kedua tangan pada marmer dingin. Memejamkan mata. Teknik itu bukan sihir. Itu pelanggaran atas sebuah garis wakt— tapi memang selalu begitu.