6 / 10
Lendo
Aroma manis bunga kamboja yang biasanya melekat erat di pagar bambu telah lenyap digerus malam. Udara malam ini terasa berat, bercampur dengan bau tanah yang baru terbalik dan sesuatu yang tajam menusuk hidung—bau karet yang terbakar. Naru duduk terdiam di ujung teras, memandang kegelapan yang tampaknya melahap ujung jalan setapak tanpa ampun. Suara jangkrik yang biasanya ritmis kini berantakan, seperti orkestra kehilangan maestro, berisik tanpa arah. Di dalam dada, jantungnya berpacu tak teratur, memukul tulang rusuk dengan keras. Berita buruk dari Desa Wadas sampai tadi sore, membawa bayang-bayang musibah.
Sawah di sana nekat mencoba metode tanam baru, melanggar restu Dewan Totem, dan kena batunya. Bukan karena padi layu di batang, melainkan tanggul pembatas air jebol di tengah malam, diterjang hujan liar yang tak seharusnya turun di musim kemarau. Orang-orang bilang itu kebetulan, tapi Naru merasakan sensasi dingin yang menjalar perlahan di sepanjang tulang belakangnya, rasa dingin yang merayap naik seperti es dari tumit hingga ke leher. Pintu depan berderit pelan, membuka keheningan.
Bu Sari muncul membawa nampan kayu. Segelas teh jahe hangat dan sepotong kue bugis berwarna hijau terbaring rapi di sana. Aroma jahe pedas langsung menyeruak, memotong bau tak sedap yang menyebar dari luar. "Minum, Nak," ujarnya lembut, meletakkan nampan di atas lantai bambu yang sudah terkelupas di beberapa bagian. "Jangan dipikir terus-menerus. Kalau pikiran terus diperas, kepala bisa pecah."
Naru meraih gelas itu. Hangatannya menusuk jari-jari yang membeku. "Tapi, Bu. Desa Wadas. Tanggulnya jebol."
Bu Sari duduk di sebelahnya, merapikan kainnya yang kusut di bagian lutut. "Air itu punya memori, Nak. Kalau kita memaksa dia mengalir ke jalur yang tidak ditulis dalam kitabnya, dia marah. Tapi bukan berarti kita berhenti belajar membacanya."
Naru meneguk teh hangat itu. Cairan pedas itu turun ke kerongkongan, sedikit banyak membakar kecemasan yang membeku di sana. "Salah kita? Salah saya yang menyebarkan polanya?"
Bu Sari menepuk paha Naru pelan. Tangan kasarnya yang berbekas kapur sirih terasa hangat dan menenangkan. "Kalau air sabar, batu pun bisa berlubang. Tapi kalau kita terburu-buru memahami arus, kita bisa hanyut. Pak Raka sedang berunding dengan tetua lain. Biar dulu."
Tapi Naru tak bisa diam. Kecemasan itu terasa seperti benang yang ditarik dari dua ujung, siap putus kapan saja. Dia meletakkan gelasnya dan berdiri mendadak. "Aku mau ke balai sebentar, Bu."
"Jangan terlalu malam. Roh suka berkelana saat bulan remang."
Jalanan menuju balai desa sunyi senyap. Biasanya, di jam segini, canda tawa pemuda nongkrong di warung Pak RT masih terdengar ramai, tapi malam ini hanya ada gonggongan anjing dari kejauhan, suara yang memantul tembus keheningan yang mengganggu. Naru mempercepat langkah. Sepatu kulitnya terasa berat, seolah sedang menimbang lumpur basah. Sampai di balai, cahaya lampu minyak temaram berkedip dari celah dinding bambu. Suara berat terdengar dari dalam, bukan teriakan, melainkan gumaman-gumuman padat, seperti saraf yang meregang hingga titik pecah.
Naru mengintip pelan. Pak Raka duduk di kursi kepala, tampak lebih tua dari biasanya. Wajahnya yang biasanya penuh kewibawaan kini terlipat lelah, dikelilingi asap rokok kretek yang mengepul tebal. Di hadapannya berdiri sesosok bayangan setengah transparan dengan bulu-bulu halus berkilauan di bawah sinar lampu. Itu Galuh Sarang-Burung.
"Kampung kalian sedang main api, Pak Tetua," kata Galuh. Suaranya berbisik namun menusuk telinga, tajam seperti seruling bambu yang ditiup terlalu kuat. "Desa Wadas hanyalah peringatan kecil. Setetes air di atas batu yang panas."
Pak Raka menghela napas panjang, asap rokok keluar dari hidungnya bergulung-gulung. "Kami hanya mencoba bertahan, Nek Galuh. Tanaman kami layu. Akarnya putus."
"Bertahan dengan melanggar pola aliran?"
Galuh tertawa pendek, suaranya berkerutuk seperti daun kering diinjak kaki. "Kalau rantingnya rapuh, jangan salahkan sarang runtuh. Dewan sudah mencatat. Desa Wadas dipotong jatah hujannya musim depan. Dan desa ini..."
Matanya yang berkilauan menyorot ke arah jendela tempat Naru bersembunyi, seolah pandangannya tembus dinding bambu. "Desa ini sedang diawasi."
Naru menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, berdentum di telinga sendiri. Dinding-dinding ruangan terasa merapat, mendekat, mencekik ruang geraknya.
"Jatah hujan?" suara Pak Raka terdengar goyah. "Nek, rakyat saya butuh makan."
"Makan?" Galuh melangkat mendekati meja, kakinya tidak menyentuh lantai. "Kalian ingin makan, tapi tak mau mengikuti irama. Program Obat Langit sudah siap. Benih yang tahan layu sudah ada di gudang Dewan. Tinggal ambil. Tunduk pada aturan, makanan akan turun seperti hujan. Simpel sekali, bukan?"
Pak Raka terdiam. Jempol kakinya bergetar pelan mengetuk lantai kayu—kebiasaan lama saat gelisah melanda. "Aku... aku harus bicara dengan warga."
"Jangan terlalu lama berpikir, Pak Tetua. Angin berubah arah dengan cepat belakangan ini."
Bayangan itu lenyap begitu saja, diterpa angin malam yang tiba-tiba masuk lewat jendela. Lampu minyak berkedip hebat, nyaris padam. Pak Raka memijat pelipisnya, bahunya turun, menanggung beban yang seolah lebih berat dari balai bambu ini sendiri. Naru menarik diri pelan ke belakang. Punggungnya basah oleh keringat dingin. Ini bukan sekadar ancaman. Ini penjara. Mereka terkurung dalam pilihan: lapar karena tanah mati, atau kelaparan karena dikunci oleh langit.
Dia berbalik, hampir menabrak sosok yang berdiri di kegelapan pojok teras. "Lira!"
Lira Samudra Putri berdiri dengan kedua tangan dilipat di dada. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang dia tahan, namun matanya bersinar tajam di bawah rembulan. "Kau dengar?"
Naru mengangguk, tenggorokannya tercekat, sulit menelan air liur. "Jatah hujan dipotong. Wadas kena semprot."
"Semprot?" Lira mendekat, suaranya menurun menjadi desisan tajam. "Mereka sengaja merusak tanggul? Itu bukan kebetulan, Naru. Itu sampel. Mereka pikir manusia cuma angka di buku jarak tanam."
Lira menyandarkan punggungnya ke tiang teras, menatap ke arah kebun yang gelap gulita. "Program Obat Langit. Itu yang mereka mau. Monopoli benih. Kalau kita ikut, kita aman tapi terbelenggu. Kalau tidak..." Dia menggesekkan telapak tangan ke lengan bajunya, gestur frustrasi yang kasar. "Kita mati pelan-pelan."
Kepalanya berdenyut nyeri. "Jadi... kita berhenti? Berhenti menyebarkan polanya?"
Lira menatapnya tajam. "Kau dengar tadi? Galuh bilang desa ini diawasi. Pola di tenun Ina, lagu yang dinyanyikan ibu-ibu, semuanya sudah terlalu jauh menyebar. Kita tidak bisa menariknya kembali."
"Terus apa yang harus kita lakuin?" tanya Naru, suaranya terdengar lemah di telinganya sendiri. "Aku cuma penjaga kura-kura. Aku nggak bisa melawan Dewan."
"Bukan melawan," kata Lira, meraih lengan Naru, jarinya kuat mencengkeram lengan atasnya. "Tapi menawar. Kita harus punya kartu remi. Sesuatu yang membuat mereka tidak bisa begitu saja mematikan keran a."
Apa kartu itu? Naru tidak tahu. Di kepalanya hanya bayangan cangkang kura-kura langit yang berbaring di dasar kolam suci. Pola-pola yang ia salin selama berminggu-minggu. Ada bagian yang belum selesai. Sebuah segmen kosong di bagian tengah cangkang yang selalu tertutup lumpur, sulit dibaca.
"Aku harus ke kolam," ujar Naru tiba-tiba.
"Sekarang? Malam buta begini?"
"Ada sesuatu yang kurang. Pola itu belum lengkap, Lira. Kalau Dewan punya aturan main sendiri, pasti di cangkang ada caranya. Jalan keluar dari permainan ini."
Lira menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Hati-hati. Aku jaga di sini. Kalau ada yang mencurigakan, aku akan batuk."
Naru meluncur ke arah kolam suci di ujung desa, dekat hutan bambu. Jalan setapak itu licin karena embun. Suara katak-katak kecil terdengar di antara ilalang, suara yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti bisikan-bisikan waspada di semak-semak. Kolam suci tenang. Permukaan airnya seperti kaca hitam, memantulkan bulan sabit yang pucat. Di tengahnya, gundukan besar yang sedikit muncul ke permukaan adalah punggung Kura-kura Langit. Hewan itu sudah ada sejak desa ini belum bernama, sejak leluhur masih hidup di gua.
Naru duduk di pinggir kolam di atas batu yang lumut. Dia menyentuh air. Dingin. Menusuk tulang. "Kekasih... tolong," bisiknya pada permukaan air yang tenang. "Aku bingung."
Sebuah riak kecil muncul dari tengah kolam. Lambat sekali. Kepala Kura-kura yang tua dan penuh lumut hijau keabu-abuan muncul perlahan ke permukaan. Matanya kecil, seperti kelereng kusam yang menyimpan sejarah ribuan tahun. Dia tidak mengeluarkan suara, hanya mendesakkan punggungnya lebih dekat ke tepi tempat Naru duduk.
Naru mengeluarkan sepotong arang dari saku. Dengan hati-hati, ia mulai menggambar di atas batu datar di sampingnya. Ia mencoba menyalin ulang pola dari ingatannya. Garis melengkung seperti sungai, titik-titik seperti bebatuan, segmen-segmen terputus seperti jejak hewan. "Di sini," gumam Naru, jari-jarinya bergetar menunjuk bagian tengah gambar. "Di sini kosong. Selalu. Kabut."
Kura-kura itu bergerak. Sangat pelan. Punggungnya yang besar bergesek dengan dasar kolam, mengeluarkan suara *kresek* berat seperti kayu tua yang ditekan. Dia memiringkan tubuhnya, memperlihatkan sisi cangkang yang biasanya terendam lumpur tebal. Air di sekitar sisi itu bergerak, seolah ada tangan tak terlihat yang menyekanya. Lumpur hitam pekat terkikis perlahan, menampakkan pola baru yang selama ini tersembunyi.
Naru menajamkan penglihatannya. Di bawah lapisan lumpur itu, ada ukiran yang berbeda. Bukan pola tanam. Bukan pola air. Itu adalah serangkaian garis lurus yang saling memotong, membentuk semacam grid, dengan satu titik pusat yang sangat dalam.
"Apa ini?" bisik Naru. Dia ingat. Ini mirip dengan pola jaring laba-laba yang dilihatnya di gudang arsip Dewan saat diundang kemarin. Tapi ini lebih sederhana. Lebih primitif.
Naru menyentuh permukaan cangkang itu dengan ujung jari. Terasa kasar, namun ada getaran halus, seperti detak jantung yang sangat lambat. Detak. Jeda. Detak. Pola itu bukan instruksi bagaimana menanam padi. Ini adalah kunci. Ini adalah peta aliran energi dari langit ke bumi yang tidak melewati Dewan Totem. Sebuah jalur *bypass*.
Tiba-tiba, angin bertiup kencang dari arah hutan. Daun-daun pohon bergemuruh, suara yang terlalu besar untuk malam yang sepi. Naru menoleh. Dari balik bayangan pohon beringin tua di ujung kolam, muncul sosok tinggi tegap. Aura dingin menyertainya, membuat udara malam yang tadinya lembap berubah tiba-tiba menjadi sangat dingin, menusuk kulit. Roh Janggala Si-Serunai.
Naru menegakkan tubuh, refleksnya membuatnya hampir terjatuh ke dalam kolam. Kura-kura itu dengan tenang menyelam perlahan, menciptakan riak besar yang mengaburkan pola yang baru saja terlihat.
"Penjaga muda," suara Janggala terdengar datar, tanpa emosi, seperti kertas yang dibaca di depan kantor. "Sedang apa kau di luar jam jaga?"
Jantung Naru berdegup kencang, tapi dia memaksa dirinya berdiri tegak. "Hanya... membersihkan pikiran, Tuan. Dan mengecek keadaan Kura-kura."
Janggala melangkah maju. Kakinya yang bersandal kulit tidak meninggalkan jejak di tanah berpasir. Wajahnya yang pucat dan sempurna itu menatap air kolam, seolah mencari sesuatu. "Kami mendengar desa ini banyak berbisik. Banyak pola baru yang muncul di kain-kain tenun."
Naru menelan ludah dengan susah payah. "Itu... hanya hiasan, Tuan. Nenek-nenek suka variasi."
Janggala menoleh, matanya yang tidak berkelip-kelip menembus pertahanan Naru. "Hiasan yang menyamai data cadangan kesuburan tingkat tiga? Kau pikir kami bodoh, Nak?"
"Anak itu hanya penjaga kolam, Janggala."
Suara lain memotong dinginnya suasana. Ina Mardea br. Sihombing muncul dari jalan setapak lain, membawa keranjang anyaman berisi daun pandan wangi. Aroma manis pandan seketika menyeruak, memotong bau pengap yang dibawa roh itu. Ina berjalan dengan santai, meski Naru bisa melihat rahangnya yang mengeras.
"Ina," sapa Janggala singkat, sedikit menunduk. "Penenun senior."
"Ai, macam mana pula tengah malam begini kau mengintip anak kecil?" kata Ina, meletakkan keranjangnya dengan keras di atas batu. Suara *thud*-nya terdengar jelas. "Malammu panjang sekali ya sampai urusan desa kecil begini diawasi satu-satu."
Janggala tidak terganggu. "Kami menjaga keseimbangan. Terlalu banyak variabel liar musim ini. Risiko gagal panen naik tujuh persen."
Ina tertawa, suaranya renyah namun tajam. "Tujuh persen? Di atas kertas, mungkin. Di tanah, Bah, itu bedanya hidup dan mati. Kau datang kesini untuk mengancam atau sekadar jalan-jalan?"
Roh itu mengabaikan cemoohan Ina. Ia kembali menatap Naru. "Hati-hati dengan jarimu, Penjaga. Jangan sampai pola yang kau gambar di air mencoreng catatan resmi Dewan. Musim hujan tahun ini sangat sensitif."
Janggala berberbalik. Badannya menyatu dengan bayang-bayang pohon, menghilang tanpa suara, seperti kabut yang ditiup angin. Hening kembali menyelimuti kolam. Hanya suara napas Naru yang tersengal-sengal dan gemericik air tenang.
Ina mendekat, tangannya meraih bahu Naru, menggenggamnya dengan kuat. "Kau lihat pola itu, Nak?" bisik Ina, matanya menyipit mencoba melihat ke arah kolam yang sudah tenang.
Naru mengangguk pelan. "Di cangkang. Tadi. Sebentar saja. Pola... titik pusat."
Ina menarik Naru menjauh dari tepi kolam, ke bawah pohon beringin. "Dengar baik-baik, Nak. Roh itu takut. Kalau mereka takut, berarti kita punya sesuatu yang mereka butuhkan atau sesuatu yang bisa melukai mereka."
"Apa yang harus kita lakuin, Nek?"
Ina menatap ke arah desa yang gelap. "Kita tidak bisa berhenti menenun. Tapi kita harus mengubah lagunya. Pola yang kau lihat tadi... itu kunci. Kita harus menyelipkannya ke dalam motif yang paling rumit, sehingga saat mereka baca, mereka hanya melihat bunga, bukan jebakan."
Naru memikirkan garis-garis lurus yang saling memotong. Titik pusat. Itu berbahaya. Itu seperti memotong nafas Dewan. Tapi ingatannya melayang pada wajah Pak Raka yang tadi malam, pada ancaman pemotongan jatah hujan. Pintu keluar terasa semakin jauh jika mereka hanya diam.
"Baik," kata Naru, tinjunya mengepal penuh tuju di saku celananya. "Aku butuh benang merah. Banyak. Dan Lira. Lira harus tahu cara memasukkannya ke dalam data pertanian."
Ina mengelus rambut Naru kasar, senyum tipis di wajahnya yang keriput. "Pikiranmu tajam malam ini, Nak. Sepasang gunting yang baru diasah. Ayo pulang. Sebelum mata mereka kembali melirik ke sini."
Mereka berjalan pulang meninggalkan kolam yang kembali hitam pekat. Di dasar kolam, Kura-kura Langit perlahan muncul lagi. Punggungnya terbuka, memperlihatkan pola itu sekilas sebelum lumpur perlahan kembali turun, menutupinya rapat-rapat, menyembunyikan rahasia yang bisa memutus rantai belenggu langit.
Naru menoleh sekali lagi ke belakang. Di kepalanya, kode-kode itu sudah mulai berpindah dari gambar menjadi rencana. Sebuah rencana gila. Sebuah benih yang harus menembus aspal keras aturan Dewan. Besok, motif tenun di balai akan berubah. Dan lagu yang dinyanyikan ibu-ibu saat menanam tidak akan lagi doa meminta hujan, tapi mantra mengambil alih arus.