1 / 10
Okunuyor
Dingin. Air danau pagi ini tidak sekadar menyegarkan, melainkan menggigilkan tulang, menusuk hingga ke sumsum seperti ribuan jarum es yang halus dan tak terlihat. Naru berdiri setengah tenggelam di pinggir kolam suci, celana pendek compang-campingnya basah kuyup berat, menyerap bobot seluruh duka yang seolah tersimpan di dasar perairan ini. Jari-jarinya merayap kasar di permukaan cangkang batu raksasa itu, mencari-cari titik-titik lumut hijau gelap yang membandel yang harus disingkirkan segera. Di bawah telapak kakinya, lumpur danau terasa lembek dan licin, licin seperti minyak, seolah tanah sendiri sedang ragu-ragu memegang beban berat hari itu. Kura-kura Langit, demikian orang-orang menyebut makhluk purba itu, tidak bergeming sama sekali. Hanya gelembung-gelembung udara kecil yang sesekali muncul dari celah moncongnya yang tertutup lumut tebal, lalu pecah di permukaan air dengan suara *pletok* pelan yang hampir tak terdengar di tengah hening pagi. Naru menahan napas, dadanya sesak, lalu menggosok kuat pada satu titik di cangkang. Sejumput lumut itu akhirnya lepas, melayang sebentar di air keruh sebelum tersapu arus pelan menuju tepian, seperti ingatan yang mulai dilupakan.
"Di sini kurang sedikit lagi, Pak," bisik Naru pada hewan itu. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desau angin yang melewati dedaunan pohon beringin raksasa di balai desa. Punggung kura-kura itu luasnya seperti halaman rumah tetua, dipenuhi pola retakan alami yang telah berusia ribuan tahun, sebuah sejarah hidup yang tertulis dalam batu. Bagi desa, itu adalah peta tak tertulis yang menunjukkan arah kehidupan, altar suci tempat mereka memohon, sekaligus fondasi kepercayaan mereka yang kokoh. Namun bagi Naru, punggung luas itu hanyalah tanggung jawab harian yang membuat punggungnya sendiri sedikit membungkuk karena lelah. Ia bukan pemimpin ritual yang disegani, bukan pula ketua adat yang berdiri gagah di atas panggung bambu sambil berkhotbah tentang kewajiban. Di sini, di tengah air yang membeku, ia hanya pemuda rendahan yang tugasnya menyikat kotoran agar roh pelindung mereka tidak merasa gatal.
Naru menarik tangannya kembali, menggigil sedikit saat udara pagi yang belum tersentuh sinar matahari menyentuh kulit basahnya. Bau anyir danau bercampur dengan aroma tanah basah yang baru diguyur hujan semalam, menciptakan bau khas yang selalu memicu ingatannya akan rumah—hangat, namun juga penuh rasa waspada yang tak pernah benar-benar hilang.
"Naru!"
Panggilan itu tajam, memotong keheningan pagi yang dingin. Naru menoleh cepat. Tiba-tiba saja Bu Sari sudah berdiri di tepian, membawa bakul anyaman berisi daun pisang segar dan beberapa bungkusan kecil. Wajah ibunya tertutup bayang di bawah terumbu pohon, meskipun senyum tipis selalu ia usahakan untuk anak lelakinya itu, sebuah topeng kebahagiaan yang rapuh.
"Dengan tenang iya, Bu," sahut Naru. Ia beranjak naik ke daratan dengan gerakan berat. Air menetes deras dari seluruh tubuhnya, membentuk genangan kecil di kaki ibunya. Bu Sari menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti beban yang dipikul. Tangannya terangkat cepat untuk menyeka rambut basah anaknya, jari-jarinya hangat di kulit kepala Naru yang dingin, lalu turun lagi sambil memegang erat bakul anyaman itu.
"Sudahlah, Nak. Jangan terlalu lama menggigul di air. Musim sedang tak menentu, badanmu bukan terbuat dari besi."
Naru mengangguk patuh, mengambil serbet kain kasar dari bahu ibunya dan mengusap wajahnya yang pucat.
"Kura-kura kelihatan gelisah, Bu. Kali ini lumutnya tumbuh lebih cepat dari biasanya."
"Kalau airnya sabar, batu pun bisa berlubang, Nak," ujar Bu Sari lembut, matanya melirik ke arah sawah yang membentang luas di kejauhan, di mana awan mendung mulai berkumpul perlahan. "Tapi kalau hatinya gelisah, air yang tak berombak pun bisa bergejolak. Biarkan Pak Tetua yang memikirkan soal gelisah tidaknya roh itu. Kau fokus saja agar jangan sampai terseruk demam."
Naru menatap punggung ibunya yang mulai membungkuk itu. Ada getaran kekhawatiran dalam nada bicara Bu Sari yang biasanya selalu datar seperti permukaan danau di pagi cerah. Seketika ia mengikuti arah pandang ibunya, menembus jarak yang memisahkan mereka dari kebun. Di ujung sawah, dekat batas sungai, ada sepetak tanaman padi yang warnanya menyolok berbeda. Hijau pucat. Menggulung layu sebelum waktunya. Tanaman itu tampak menyakitkan, seperti orang yang sedang demam tinggi—menyusut, menutup diri, menolak makanan yang masuk.
"Kemudian tanah Pak Tono juga?" tanya Naru pelan.
Bu Sari mengangguk, bibirnya bergetar halus sebelum akhirnya menjawab dengan suara serak.
"Semalam tanaman itu masih tegak. Pagi ini... seperti diseret ke bawah oleh tangan tak terlihat. Pak Raka sudah memanggil musyawarah nanti siang. Katanya, mungkin kita kurang memberi sesaji di musim tanam tahun ini."
Naru mengepalkan tangannya di samping tubuh, menyembunyikan gerakan itu di balik serbet kain kasar yang ia genggam. Ia ingat bau busuk yang sempat menusuk hidungnya semalam saat lewat dekat petak itu. Bau itu menusuk hingga ke tenggorokan. Itu bukan bau kurang sesaji. Itu bau akar yang membusuk di dalam tanah, membusuk karena sesuatu yang salah. Namun, ia memilih diam. Luka lama di dadanya masih terasa perih jika terkena angin—ingatan saat ia kecil dan mencoba menjelaskan pola hujan di depan rapat desa, hanya agar ditertawakan karena dianggap 'cuma anak kecil yang sok tahu'. Sekarang ini suaranya memang bukan untuk balai desa.
"Ayo pulang," kata Bu Sari, memecah keheningan yang kembali menyergap di antara mereka. "Nenek Ina sedang menunggu di dapur. Katanya ada motif tenun baru yang harus ia tunjukkan padamu."
***
Matahari siang sudah tinggi menjilat atap rumah ketika suara gong bambu yang berat terdengar menggelinding di udara, memanggil semua laki-laki dewasa di desa untuk berkumpul di Balai Adat. Naru duduk di sudut teras belakang balai, tempat para pemuda biasanya berkumpul sambil memperbaiki alat pertanian atau sekadar menggosok parang yang tumpul. Dari sini, pandangannya bisa menjelajah wajah-wajah tetua yang duduk melingkar di lantai bambu yang diampar tikar usang. Pak Raka Suryaningrat duduk di ujung timur, posisi paling terhormat. Wajah tetua desa itu terlihat garang, keriput di dahi dan mata sipitnya terlihat lebih dalam dari biasanya, seolah ada beban berat yang menekan kulitnya dari dalam. Ia memegang tongkat kayu palem yang diukir motif ular naga, ujungnya dipukul-pukul pelan ke lantai berirama.
"Musim ini memberi kita ujian berat," suara Pak Raka berat, berputar pelan seperti air sungai yang mencari alur di antara batu yang menghalangi. "Tanaman yang kita tanam dengan keringat, mulai menunjukkan tanda-tanda layu tanpa sebab jelas."
Naru memperhatikan jari-jari kaki Pak Raka yang telanak itu. Jempol kaki kirinya bergerak-gerak gelisah naik turun, sebuah tanda kebiasaan kecil yang selalu muncul ketika tetua itu sedang menyembunyikan ketakutannya sendiri di balik wajah tegas.
"Ini bukan sekadar gagal panen biasa," lanjut Pak Raka, nadanya turun satu oktaf menjadi berat dan mengancam. "Roh Janggala dari Dewan Totem pernah berpesan, bahwa jika kita menjaga keseimbangan, bumi akan memberi makanan pada kita. Tapi lihatlah sekarang. Akar-akar itu membusuk. Ada apa yang kita lupakan?"
Hening sejenak menyelimuti balai. Hanya suara jangkrik di rerumputan luar dan desah angin di atap ilalang yang terdengar mengisi ruang kosong.
"Mungkin kita perlu menambah sesaji, Pak," usul seorang petani tua dari barisan tengah, suaranya gemetur. "Tahun lalu kita hanya memberi satu ayam. Mungkin tahun ini Dewan menginginkan yang lebih."
Pak Raka mengangguk pelan, tapi matanya tidak menatap orang yang bicara, melainkan menatap lantai kosong di depannya seolah mencari jawaban yang hilang di sana.
"Bukan sekadar jumlah, Nak. Mungkin caranya yang salah," kata Pak Raka akhirnya. "Ritual penghormatan air mungkin harus kita perbarui. Kita harus memastikan bahwa Kura-kura Langit, penjaga utama kita, benar-benar puas dengan perhatian kita."
Naru menunduk, memandang pahanya sendiri. Ia mengingat kembali pagi tadi. Kura-kura itu tidak sedang marah atau meminta sesaji tambahan. Hewan itu hanya diam. Seperti sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Atau sedang sakit parah.
"Besok kita akan adakan Upacara Pembersihan Besar di kolam suci," putus Pak Raka akhirnya, suaranya tegas namun ada getaran ragu yang halus di ujung kalimatnya. "Kita akan minta maaf atas segala kelalaian. Kita akan bawa kemenyan dari arah barat, dan beras kuning terbaik dari lumbung. Siapkan semuanya malam ini."
Para lelaki mengangguk serentak. Suara setuju bergema, namun di telinga Naru, suara itu terdengar seperti retakan-retakan kecil pada dinding tanah liat yang mulai rapuh. Mereka semua takut. Dan ketika takut, manusia cenderung melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang, berharap hasilnya akan berbeda kali ini, meski logika berkata lain.
***
Sore harinya, langit berubah warna menjadi oranye memar di sebelah barat, menyilaukan siapa saja yang berani menatapnya terlalu lama. Naru kembali ke tepi kolam suci, kali ini bukan untuk membersihkan lumut, tapi sekadar duduk di batu besar favoritnya yang dingin dan keras. Ia membawa sepotong ubi rebus kecil dari dapur, menggigitnya pelan tanpa nafsu, rasa hambar di mulutnya mencerminkan perasaannya. Di hadapannya, kolam yang biasanya tenang itu kini riuh oleh persiapan ritual. Beberapa pemuda sedang menata bunga kenanga di atas perahu kecil, sementara Pak Raka sibuk memberi instruksi pada penabuh gong dengan suara tinggi yang sarat kepanikan.
"Tempatkan dupa di sebelah kiri, Nak! Jangan sampai asapnya menutupi pandangan ke arah barat!" teriak Pak Raka.
Naru menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-parunya menelan udara sore yang bercampur dengan aroma kemenyan yang harum namun menyengat hidung. Rasanya sesak di dada. Seperti ada tekanan yang mengumpul dalam wadah tertutup, menunggu untuk meledak, namun tidak ada lubang untuk udara keluar. Ia melihat ke arah kolam. Permukaan airnya tenang sekali. Terlalu tenang. Tidak ada ikan mas merah yang biasanya melompat-lompat memakan serangga permukaan. Tidak ada capung yang berani hinggap di daun teratai yang mengapung.
"Gong!"
Suara dentuman besar menggetarkan dada Naru dan tulang-tulangnya. Upacara dimulai. Pak Raka berdiri di ujung dermaga kayu, membaca mantra dalam bahasa kuno yang pelan dan terputus-putus, kata-kata yang terdengar asing di telinga Naru. Asap kemenyan membumbung tinggi, membentuk tiang abu-abu di langit senja yang pudar. Para warga berdiri membungkuk, mata tertutup rapat, bibir komat-kamit berdoa. Naru ikut membungkuk, tapi matanya terbuka sedikit, mengintip melalui celah rambutnya. Ia menatap air. Tidak ada apa-apa. Biasanya, saat mantra dibacakan, air akan beriak sedikit, atau Kura-kura Langit akan muncul sedikit, memperlihatkan puncak kepalanya yang penuh keriput sebagai tanda persetujuan. Tapi sore ini, kolam itu seperti kaca mati. Hening. Menolak.
Pak Raka berhenti bicara sejenak, bingung. Ia melihat ke sekeliling, lalu menatap air lagi dengan wajah penuh tanya yang tak tersembunyi. Mantranya ia ulang, nada suaranya dinaikkan, lebih mendesak, lebih panik.
*Gong!*
Dentuman kedua terasa memaksa, namun masih hening mutlak. Pak Raka turun tangannya perlahan, bahunya slump. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini terlihat pucat pasi, seperti kertas yang diremas basah. Para warga mulai membuka mata, saling berpandangan dengan rasa takut yang mulai memuncak tak terkendali. Apakah roh pelindung mereka benar-benar telah pergi? Apakah mereka benar-benar telah ditinggalkan selamanya? Naru merasakan jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain. Ia melihat ada riak kecil sekali di bawah permukaan, jauh dari tempat dupa dibakar, jauh dari tempat Pak Raka berdiri megah. Riak itu muncul dari arah tempat ia biasanya membersihkan lumut. Tanpa berpikir panjang, Naru melangkah maju, melewati kerumunan warga yang masih terpana bingung.
"Nak, kau mau ke mana?" bisik Bu Sari dari barisan belakang, tangannya mencoba meraih lengan anaknya, tapi Naru sudah terlalu jauh terjangkau. Ia berjalan cepat ke ujung dermaga lain, tempat yang lebih rendah, dekat sekali dengan permukaan air. Di sana, ia berjongjong. Wajahnya hampir menyentuh air dingin. Bau lumpur dan anyir memenuhi hidungnya, membumi.
"Pak," panggilnya pelan, tanpa sebutan gelar, tanpa mantra penghormatan. Hanya panggilan seorang anak pada kakek tua. "Maafkan kami. Kami... kami bingung. Tanah kami sakit."
Air beriak perlahan. Kepala Kura-kura Langit muncul perlahan dari balik bayang dermaga. Mata kuning keriput itu menatap lurus ke arah Naru. Bukan ke arah Pak Raka. Bukan ke arah dupa dan sesaji mahal yang berjejer. Hewan tua itu mendekat. Moncongnya menyentuh jari Naru yang menjulur ke air. Sentuhannya kasar, seperti batu karang yang bergerak hidup. Naru menarik tangannya terkejut, namun ia tidak mundur. Ia berani menatap ke dalam mata makhluk itu. Di sana ia tidak melihat kemarahan. Ia melihat sesuatu yang lain—sesuatu yang menyerupai kesabaran yang sudah habis, atau sebuah pertanyaan yang sangat lama ditahan tanpa jawaban.
Kura-kura itu membalikkan badan sedikit, memperlihatkan sebagian punggungnya yang tersembunyi di bawah air. Di sana, di antara retakan cangkang tua yang berlumut, ada garis cahaya samar yang bergerak. Pola aneh yang belum pernah Naru lihat sebelumnya. Seperti akar yang mencari jalan keluar dari tanah yang keras dan padat. Pola itu berdenyut pelan. Sekali. Dua kali. Naru menelan air liurnya dengan susah payah. Pola itu... familiar. Ia melihat ke arah sawah yang layu di kejauhan, lalu kembali menatap cangkang dengan mata berbinar.
"Gumpalan. Tanah," gumam Naru tanpa sadar, suaranya bergetar. "Jarak tanam. Terlalu dekat."
Kura-kura itu menyemburkan air kecil dari hidungnya, menyiram wajah Naru, lalu perlahan menyelam kembali ke dalam kegelapan danau yang dalam, meninggalkan riak lingkar yang meluas ke tepian, mengacaukan pantulan dupa di atas air. Di belakangnya, Pak Raka dan para warga hanya bisa terdiam, memandang punggung pemuda itu yang terjongjong sendirian, bertanya-tanya mengapa roh yang menolak doa mereka justru mau muncul untuk seorang penjaga kura-kura yang cuma bertugas menyikat lumut setiap hari.