正在阅读

Bab 3: Bisikan di Pintu

Garis perak di rambut The Archivist terasa gatal di pelipisnya, seperti cap bakar yang baru menempel. Dua detik, yang dicuri dari masa depannya sendiri, telah meninggalkan catatan fisik di buku besar tubuhnya. Debu kelabu dari runtuhnya Delta-Seven masih melapisi wol biru tua jubahnya. Denyut tumpul yang keras kepala menggerogoti persendiannya, dan rasa darah yang berbau tembaga masih tertinggal di pangkal tenggorokannya dari gusi yang sempat berdarah lalu sembuh terlalu cepat. Utang itu sudah dibayar, tetapi buktinya melekat padanya. Ia berdiri di atrium pusat Grand Archive, ruang menganga seperti gua, tempat udara menggantung begitu tak bergerak hingga terasa membeku. The Witness telah menghilang setelah percakapan mereka, melebur kembali ke rak-rak yang lebih tinggi. Kata-kata terakhirnya menggantung di dalam kesunyian yang kental itu. *Takhta itu adalah skema untuk sebuah sifon. Dan kau, arsiparis kecil, adalah kunci yang seharusnya tak ada.* Ia memiliki gunung pertanyaan. Hanya satu tempat yang mungkin menyimpan jawaban yang tidak dikurasi oleh para pemenang atau dipoles oleh para claimant. Archive of Echoes. Terlarang, disegel di balik pintu-pintu dari kayu ek tua yang diperkuat gelang tembaga dan ditatah serpihan obsidian. Penjaganya berdengung pada frekuensi yang membuat gerahamnya bergetar—dengung rendah yang terus-menerus, lebih terasa daripada terdengar. Temporal, bukan magis. Dibuat untuk mengusir, bukan menghancurkan. Akses standar memerlukan sigil Kepala Arsiparis, yang tidak ia miliki. Kredensial sementaranya, yang ia peroleh dengan mengungkap anomali sidik ibu jari, memberinya kebebasan atas koleksi umum. Tidak lebih. Koridor itu sepi. Cahaya lampu minyak paus melemparkan bayang-bayang panjang yang bergoyang, memanjang dan memendek tidak selaras dengan nyala yang berkedip-kedip. Satu bayangan, terlempar dari sebuah sconce, menjilat gelang tembaga pintu itu seperti lidah hitam. Aroma ozon dan kesunyian kertas yang dalam—kesunyian berabad-abad yang tak tersentuh—memenuhi ruang. Ujung jarinya menyapu logam dingin mekanisme pengunci—teka-teki rumit dari pelat-pelat tembaga yang saling mengait. Ia menuntut tekanan berirama tertentu, diterapkan pada tujuh titik secara berurutan. Urutan yang diketahui tiga orang di dunia. Orang biasa akan melihat pintu yang mustahil. Ia melihat pintu yang akan terbuka. Konsepnya sederhana, refleks mengerikan yang baru mulai ia pahami. Ia bisa meminjam waktu dari masa depan pribadinya, pinjaman kecil terhadap usianya sendiri. Untuk memecahkan kunci itu, ia tidak perlu mengetahui urutannya. Ia hanya perlu melihat momen *setelah* kunci itu terpecahkan. Ia memusatkan perhatian pada pelat tengah; dunia tidak bergeser atau mengabur. Sebaliknya, sebuah pintu terbuka di dalam pikirannya. Sensasi hantu tentang kemungkinan. Ia meminjam tiga detik. Sebuah sentakan, tajam dan dingin, melesat naik di tulang punggungnya. Napasnya tersendat. Dalam fragmen pinjaman itu, tangan dirinya di masa depan bergerak. Jari-jarinya menekan, menggeser, mengetuk dengan keluwesan tanpa sadar. Pelat-pelat tembaga bergeser disertai rangkaian bunyi *klik* lembut, seperti diberi minyak. Klik terakhir menggema di tengkoraknya satu detak jantung sebelum menggema di koridor batu. Pintu yang sebenarnya terbuka segelnya dengan desis udara yang terlepas. Ia mengembuskan napas; sekujur tubuhnya diguncang getar halus. Nyeri baru, setajam jarum, mekar di belakang mata kanannya. Harganya. Mendorong pintu itu ke dalam, dengung bangsalnya melonjak menjadi buzz mendadak yang membuat giginya ngilu, lalu surut kembali menjadi drone latar. Begitu melangkahi ambang, residu samar yang berkilau melekat di tangan-tangannya di tempat ia tadi menyentuh tembaga. Wujudnya seperti debu raksa yang ditaburi bintang-bintang yang digiling halus, hanya tampak dalam sinar lampu yang datang dari sudut. Ia menatapnya. Ia tak menyangka dirinya meninggalkan jejak. Archive of Echoes adalah sebuah ruang bundar, lebih kecil dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya tidak dipenuhi rak, melainkan ceruk-ceruk individual, masing-masing disegel di balik lembar kaca tanpa cacat, tidak memantulkan apa pun. Udara di sini lebih dingin, lembap dengan cara yang mengisyaratkan tanah yang dalam alih-alih terbengkalai. Satu-satunya cahaya datang dari sebuah lampu bertudung di podium baca di tengah—cahayanya sebuah bola sempurna yang tak berkedip dan tak goyah, yang tidak menimbulkan bayangan. Kesunyian di sini pun berbeda. Bukan kosong, melainkan penuh. Seperti jeda di antara detak jantung pada seekor binatang raksasa yang sedang tidur. Tujuannya adalah satu fragmen Prime Vellum yang spesifik. Fondasi, catatan yang tak berubah, yang tak bisa diutak-atik oleh sihir ilahi mana pun. Ia bisa disamarkan, disalahartikan, dikunci rapat, tetapi tak pernah dapat diubah. Fragmen yang ia cari tercatat dalam indeks umum dengan judul yang menipu karena terdengar puitis: *Napas Terakhir Thalassus, Dewa Perairan Dalam*. Diklasifikasikan sebagai “elegi spekulatif, pasca-Kesenyapan.” Ia tahu itu dusta. Elegi ditulis oleh yang masih hidup. Ini sesuatu yang lain. Ia menemukannya di ceruk ketiga pada lengkung barat. Labelnya, terukir pada pelat kuningan, sederhana. Pintu kacanya tidak memiliki kunci, hanya gagang yang mulus. Saat ia menariknya hingga terbuka, sehembus udara lolos, membawa aroma yang tak mungkin keliru: garam, batu dingin, dan bau dalam yang pekat akan besi dari sebuah palung samudra. Di bawahnya masih tertinggal samar, wangi manis penyesalan. Gulungan vellum itu terbaring di atas bantalan beludru hitam. Ia mengangkatnya dengan tangan yang berhenti gemetar semata-mata karena kekuatan tekad. Beratnya tidak wajar, padat. Bahannya tidak terasa seperti kulit hewan yang diproses. Lebih dingin, lebih halus, dengan tekstur samar yang lentur, mengingatkannya pada kulit hidup yang dingin. Sebuah rasa menggigil merambat naik di sepanjang lengannya. Di podium tengah, di bawah cahaya yang sempurna, ia membentangkan gulungan itu. Tintanya bukan hitam, melainkan biru pekat berair yang seolah bergeser dalam cahaya lampu. Tulisan itu adalah High Chorus, bahasa titah ilahi. Dan ia berenang. Huruf-hurufnya mengabur, terbentuk ulang, berenang melintasi vellum seperti belut di antara kelp. Sebuah mantra pelestarian, ia menyadari—yang menjadi tidak stabil ketika penyihir yang mengucapkannya—Thalassus—berhenti ada. Teks itu hanya bisa dibaca dengan ketenangan fisik dan mental yang sempurna. Sedikit saja gemetar, sedikit saja pikiran mengembara, maka maknanya larut menjadi kekacauan nila. Sang Archivist menjadi patung. Ia memperlambat napasnya, memaksa jantungnya ke irama yang mantap, seperti metronom. Nyeri di persendiannya, gatal garis perak itu, rasa darah yang seperti hantu—semuanya ia petak-petakkan, ia kunci rapat di sebuah ruangan jauh dalam benaknya. Dunianya menyempit menjadi lingkaran cahaya, gulungan dingin, dan tinta yang menari. Perlahan, kata-kata menjadi jelas. *…tekanannya bukan tekanan air, melainkan tekanan kesunyian. Ia melipat ruang-ruang jantung. Takhta bernyanyi. Ia selalu bernyanyi. Kami menyebutnya harmoni. Kami keliru. Itu satu nada tunggal yang ditahan, yang mengurai semua nada lain. Ia tidak menginginkan pemujaan. Ia menginginkan…* Tinta itu berpusar ganas. Ia menahan napas. *…pelahapan. Menjadi satu-satunya lagu. Kami merasakan tarikan itu. Lyssandra dari Hearth mencoba membungkamnya. Ia… lenyap. Bukan tidak ada. Melainkan dihapuskan. Ranahnya berkelip di dunia fana seperti api sekarat. Takhta melahap melodinya.* Dingin yang jauh lebih dalam daripada sejuk ruang itu merembes ke tulang-tulangnya. *Aku menambatkan diriku pada dataran abyssal, pada bobot semua samudra. Itu tidak cukup. Lagu itu menemukan celah-celahnya. Ia menjanjikan koor, tetapi yang ditawarkannya hanya keserempakan yang melahap. Kini aku melihat rancangannya. Itu bukan pernah sebuah kursi kekuasaan. Itu sebuah mulut. Kita adalah santapannya. Aku akan…* Teks itu terpecah, melarut menjadi percikan biru yang kacau, seperti ombak menghantam batu. Frasa terakhir yang masih terbaca melekat di tepi vellum, huruf-hurufnya tegas dan putus asa. *…memutuskan sambungannya. Jika aku tak bisa, akan kubawa perairan dalamku ke dalam kesunyian bersamaku. Biarkan Takhta tersedak garam dan kehampaan. Biarkan embusan napas terakhirku menjadi pintu yang tak bisa—* Tinta itu berhenti. Kalimatnya sekadar berakhir, bukan dengan titik, melainkan dengan olesan, seakan alat tulisnya direnggut dari genggaman sang penulis. Para dewa tidak meninggalkan takhta mereka. Mereka telah dilahap olehnya. Kesunyian Agung bukanlah penelantaran; itu tindakan sabotase terakhir yang putus asa. Bunuh diri untuk membuat kelaparan seekor pemangsa. Takhta itu bukan baterai. Ia parasit. Kesadaran itu datang seperti longsoran ketakutan, menghantam dan mutlak. Ia mengendap di perutnya seperti batu. Skema yang ia selamatkan, yang diburu para claimant—itu bukan panduan menuju kuasa. Itu diagram pengkabelan untuk sistem pencernaan ilahi. Setiap claimant yang bergegas menyambungkan diri ke sana adalah santapan yang sukarela naik ke piring. Sebilah papan lantai berderit di belakangnya. Bukan keluhan kayu tua yang mengendur. Ini kompresi halus, disengaja, dari sebuah kaki yang menumpu berat badan. Setiap otot di tubuhnya mengunci. Jantungnya, yang begitu cermat ia kendalikan, kini menghantam tulang rusuknya seperti burung terperangkap. Ia tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada gulungan yang menghancurkan itu. Dengan gerak lambat dan terukur yang menjeritkan rasa bersalah, ia mulai menggulung kembali vellum itu. Teksturnya yang dingin seperti kulit kini terasa cabul. “Fragmen yang mengagumkan.” Suara seorang pria. Tenang. Berbudaya. Presisi. Tidak ada ancaman di dalamnya, hanya kepastian pengamatan yang hening—yang lebih menggentarkan daripada teriakan mana pun. Suara itu datang dari ambang pintu. Satu-satunya jalan keluar. Ia selesai menggulung gulungan itu, jemarinya kikuk. Menyisipkannya kembali ke ceruknya dan menutup pintu kaca. Tindakan itu terasa seperti menyegel sebuah makam. Barulah kemudian ia menoleh. Dia berdiri tepat di dalam Archive of Echoes, satu tangan bertumpu ringan pada pintu ek yang kini tertutup. Tinggi, mengenakan jubah cendekia berwarna abu-abu arang, lebih sederhana dan kurang berornamen daripada milik seorang arsiparis. Rambutnya gelap, disisir ke belakang dari dahi yang tinggi, dan wajahnya tersusun dari sudut-sudut yang terjaga serta kecerdasan yang siaga. Ia tampak muda, mungkin akhir dua puluhan, tetapi matanya lebih tua. Abu-abu pucat, jernih seperti kristal. Tak ada yang luput. Matanya menyapu wajahnya, posturnya, gurat perak di rambutnya, cara kedua tangannya menggantung sedikit menjauh dari tubuh. Cassian. Nama itu muncul dari sebuah memo administratif yang pernah ia baca sekilas—seorang cendekia tamu dari Lyceum of Thresholds, diberi hak istimewa untuk melakukan pengamatan. Seorang spesialis dalam “anomali metafisika terapan.” Ia pernah melihat namanya, tak pernah wajahnya. “Prime Vellum of Thalassus,” lanjutnya, nadanya santai seolah berbincang. “Sedikit yang terpikir mencari kebenaran objektif dalam padanan ilahi dari sebuah surat bunuh diri. Mereka lebih menyukai sejarah yang telah dikurasi. *Apologia of the Absent*, dan semacamnya.” Ia melangkah satu langkah ke depan. Butir-butir debu di udara, tertangkap cahaya lampu, seakan menggantung tanpa bergerak di sekelilingnya, seolah waktu di sekitar dirinya mendadak melamban. “Naskah itu menolak dibaca. Mantra stabilisasi menuntut ketenangan mutlak. Fisik dan mental. Keadaan yang sulit dicapai ketika seseorang sedang… gelisah.” The Archivist tak mengatakan apa-apa. Ia berhitung. Jarak ke pintu: lima belas kaki. Dia menghalanginya. Ruang itu tak punya jalan keluar lain. Peralatan di podium: sebuah lensa pembesar, sebuah pelipat tulang, sebuah pemberat. Bukan senjata. Tubuhnya adalah buku besar penuh rasa sakit yang masih baru. Meminjam lebih banyak waktu sekarang akan menjadi bencana. Jelas. “Aku Cassian,” katanya, memberi anggukan kecil yang sopan. Ia tak menanyakan namanya. Ia sudah mengetahuinya. “Aku mengetahui daftar cendekia tamu.” Suaranya sendiri terdengar datar dan terkendali di telinganya. “Bagian ini dibatasi.” “Memang.” Mata pucatnya melirik ke tangan-tangannya. “Bangsal temporal pada pintu cukup sensitif. Mereka meninggalkan residu pada orang-orang yang… bernegosiasi dengan mereka secara tidak lazim.” Pandangan The Archivist turun. Debu perak, seperti raksa, masih melekat di ujung jarinya, berpendar samar dalam cahaya ganjil ruangan itu. Ia belum menghapusnya. Kesalahan pemula. Ia mengepalkan tangan menjadi tinju, lalu memaksa untuk merilekskannya. Residu itu terseret, menodai kulitnya dengan garis-garis samar yang berkilau. “Serbuk tembaga,” katanya. “Dari inlay. Di bawah minyak pada mekanismenya.” “Itu yang kau lihat?” tanya Cassian, kepalanya miring sedikit. Tak ada ejekan, hanya rasa ingin tahu yang tulus. “Menarik. Aku melihat silika temporal. Kulit detik-detik yang tanggal, yang telah digeser. Ia melekat pada titik gangguan.” Ia berhenti, pandangannya terangkat dari tangan ke matanya. “Seperti sutra yang bermuatan listrik statis.” Kekhususan deskripsi itu membekukan darahnya. Ia bukan sekadar melihat sebuah anomali. Ia memahami tata bahasanya. “Aku sedang mengatalogkan pola resonansi di Sayap Delta,” katanya, mengambil satu langkah santai lagi mendekat. Kini sepuluh kaki. “Dampak dari runtuhnya rak yang malang itu. Medan stasis di sana masih dalam pemulihan. Riak di dalam waktu, seperti air kolam setelah sebuah batu dilemparkan.” Ia berhenti, kedua tangannya terjepit longgar di belakang punggung. Pose seorang cendekia. Rasanya seperti lilitan seekor panter. “Riak-riak itu menuntun kemari. Mereka menguat di luar pintu itu. Lalu aku mendengarnya.” The Archivist menjaga wajahnya tetap seperti topeng ketidakpahaman yang sopan. “Mendengar apa?” “Sebuah bisikan.” Mata kristalnya menahan tatapannya. “Sesaat sebelum aku masuk. Datangnya dari bilik ini, tetapi itu bukan suaramu yang membaca lantang. Lebih rendah. Tepi-tepinya compang-camping. Ia berkata, *‘Dia ada di pintu.’*” Sentakan, listrik dan dingin, menembus dirinya. Ia tak mendengar apa pun. Namun tiga detik pinjamannya—apakah ada gema dari momen itu, kesadaran dirinya di masa depan tentang kedatangannya, merembes kembali? Hantu sebuah peringatan dari momen yang, baginya, secara teknis belum terjadi? “Arsip-arsip ini tua,” katanya, tenggorokannya menegang. “Mereka mengendap. Angin di ventilasi atas kadang terdengar seperti suara.” “Itu bukan angin.” Suara Cassian tetap lembut, tetapi kata-katanya mutlak. “Itu gema-waktu. Sepenggal kesadaran dari masa depan personal, sesaat dapat terdengar di masa kini. Fenomena langka. Yang hanya pernah kubaca dalam naskah-naskah teoretis dari Serikat Chronomancer sebelum… pembubarannya.” Ia mengamatinya, rautnya murni ketertarikan akademis. “Kau tampak tidak sehat, Archivist. Untaian itu di rambutmu baru. Dan kau cenderung menahan sisi kirimu. Cedera sendi? Munculnya cukup tiba-tiba.” Ia telah mengamatinya. Bukan hanya hari ini. Sejak runtuhnya rak. Ia melacak riak temporal dari peminjamannya, mengikutinya sampai kemari, dan kini ia berdiri membedahnya dengan ketelitian tenang seorang ahli bedah. Seekor tikus di bawah bayang-bayang elang tak mungkin merasa lebih telanjang. “Tugas pelestarian itu bersifat fisik,” katanya, kata-katanya menjadi abu di mulutnya. “Tentu.” Ia mengangguk, seolah menerima penjelasannya. Ia tak mempercayai satu kata pun. “Bolehkah aku bertanya apa yang kau harapkan untuk ditemukan dalam kata-kata terakhir Thalassus? Kebanyakan peneliti mencari narasi-narasi agung. Mengapa dari Keheningan. Kau langsung menuju *bagaimana* dari akhir seorang dewa tunggal. Pendekatan yang sangat khas arsiparis. Berfokus pada sumber primer, bukan komentarnya.” Ia sedang mengujinya. Bukan hanya pengetahuannya, melainkan maksudnya. Apakah ia sekadar cendekia yang ingin tahu, atau sesuatu yang lain? “Sumber primer adalah satu-satunya sumber yang tidak bisa berbohong,” jawabnya, mengulang aturan pertama dalam pelatihannya. “Komentar punya agenda.” “Dan agenda apa yang kau tangkap dalam wasiat terakhir Dewa Perairan Dalam itu?” Dia menatap balik tatapannya. Kebenaran di dalam gulungan itu adalah senjata. Membagikannya berarti mempertaruhkan segalanya. Berbohong kepada pria ini, dengan mata yang bisa melihat, terasa mustahil berbahaya. Dia memilih serpihan kebenaran. “Keputusasaan. Bukan kepasrahan.” Ada kerlip di mata kelabunya. Sesuatu yang mungkin rasa hormat, atau barangkali sekadar konfirmasi. “Keputusasaan adalah katalis. Ia menempa alat-alat yang ganjil dan aliansi yang lebih ganjil lagi.” Akhirnya ia melepaskan kait kedua tangannya yang sejak tadi terlipat di belakang punggung, memberi isyarat samar ke arah ceruk-ceruk. “Ruang ini adalah buktinya. Setiap gaung di sini adalah tindakan terakhir yang putus asa. Jerit ke dalam kekosongan, diawetkan dalam perkamen dan tinta.” Ia menoleh kembali padanya. “Arsip bukan tempat yang statis, Archivist. Tidak lagi. The Silence mematahkan lebih dari sekadar panteon. Ia mematahkan suatu… keseimbangan tertentu. Hal-hal yang tadinya dorman kini mulai bergerak. Kekuatan-kekuatan mengendus di tepiannya. Dan anomali, seperti riak di kolam, menarik perhatian.” Ia sedang memperingatkannya. Dan memperlihatkan dirinya. Ia bukan sekadar cendekiawan. Ia pemburu anomali. Dan dialah hal paling anomali di gedung itu. “Perhatian seperti apa?” tanyanya, suaranya nyaris tak lebih dari bisikan. “Jenis yang tak repot-repot memakai serbuk tembaga sebagai penjelasan.” Ia melirik lagi tangan-tangannya yang berurat perak. “Energi residual yang kau bawa itu adalah suar. Samar, tapi dapat ditangkap oleh instrumen yang tepat. Atau indra yang tepat.” Ia melangkah satu langkah terakhir, memangkas jarak menjadi delapan kaki. Kini cukup dekat hingga ia bisa melihat garis-garis halus di sudut matanya, ketenangan mutlak dalam posturnya. “Aku bisa membantumu memahaminya. Prinsip-prinsipnya. Aturannya. Harganya.” Setiap naluri menjerit agar lari, menyangkal, bersembunyi. Tapi pintunya tertutup. Dan dia tahu. Dia *tahu*. Penyangkalan tak ada gunanya. Ia sedang menawarkan jalan keluar dari ketidaktahuan yang buta dan ketakutan. “Kenapa?” Pertanyaan itu meluncur sebelum sempat ia tahan. “Karena,” kata Cassian, dan untuk pertama kalinya, secercah sesuatu yang personal mewarnai nada bicaranya yang presisi. Keletihan. Kelaparan. “Peralatan yang kita punya tidak memadai untuk dunia yang akan datang. Sihir lama sudah lenyap. Para The Claimant yang baru bermain-main dengan mainan rusak yang tidak mereka pahami. Dan beberapa anomali… beberapa anomali bukan kesalahan. Mereka adalah koreksi. Aku sangat ingin tahu kau termasuk yang mana.” Ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah kartu kecil, polos, dari kertas tekan. Ia mengulurkannya, tidak mendekat, memaksanya melangkah maju untuk mengambilnya. Sebuah aksi teater yang disengaja, memberinya ilusi pilihan. Ia mengambil kartu itu. Di atasnya tertulis sebuah alamat di Kawasan Cendekia, dan sebuah waktu: dua jam lewat tengah malam. “Penghalang di sini akan tersetel ulang saat malam sepenuhnya jatuh,” katanya, mengangguk ke arah pintu. “Residu di tanganmu akan memudar saat itu. Aku sarankan kau mencucinya sebelum menemui orang lain. Kepala Arsiparis punya rasa ingin tahu yang lebih sedikit… secara teoretis daripada aku.” Ia berbalik, seolah hendak pergi, lalu berhenti. “Oh, dan Arsiparis? Thalassus adalah yang ketujuh yang pergi. Yang pertama Lyssandra dari Perapian. Jika kau mencari pola, mulailah dari awal. Fragmennya ada di koleksi pribadi Lyceum. Fakta yang tidak ada di indeks umum.” Lalu ia lenyap, menarik pintu kayu ek itu hingga tertutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang final. The Archivist berdiri sendirian dalam cahaya sempurna tanpa bayangan. Kartu di tangannya terasa lebih berat daripada gulungan vellum. Residu perak di kulitnya seolah berdenyut. Ia datang mencari jawaban tentang para dewa dan malah menemukan misteri yang lebih dalam, lebih mendesak, berdiri dalam wujud manusia. Cassian tahu apa dirinya. Ia tidak membongkarnya. Ia menawarkan kemitraan. Atau sebuah jerat yang begitu elegan hingga ia belum bisa melihat dinding-dindingnya. Longsor gentar di perutnya telah memadat menjadi simpul keputusan yang dingin dan keras. Ia menatap ceruk yang menyimpan kata-kata terakhir Thalassus. *Biarkan napas terakhirku menjadi sebuah pintu yang tak dapat—* Kalimat itu takkan pernah selesai. Barusan ia disodori kunci untuk pintu yang sama sekali berbeda. Ia tak tahu ke mana pintu itu menuju. Hanya bahwa pintu itu terbuka, menunggu, dan lelaki yang memegangnya punya mata yang melihat detik-detik mengelupas dari kulitnya. Cahaya lampu berkerlap, sekali. Sesosok bayangan, panjang dan kurus dan tak dilemparkan oleh apa pun di ruangan itu, meluncur melintasi dinding jauh. Ia lenyap sebelum ia sempat menolehkan kepala. Gema, atau peringatan? Ia menyelipkan kartu itu ke dalam lengan bajunya, jari-jarinya menggesek kehalusan dingin yang ganjil dari garis perak di rambutnya. Entri buku besar. Tanda terima. Dan sebuah cap. Ia punya dua jam sampai tengah malam.

⚙️ 阅读设置

18px
1.8