4 / 10
正在阅读
Busuk. Itulah hal pertama yang menyeruak masuk ke hidung Naru, jauh lebih cepat sebelum matahari pagi sempat menampakkan wajahnya sepenuhnya di ufuk timur. Aroma asam batang padi yang membusuk berkecamuk hebat, bercampur dengan bau lumpur lengket yang terasa menghisap dan menahan setiap gerakan betisnya yang mencoba melangkah. Naru berdiri tegak di pematang pinggir desa, tempat di mana tanaman padi seharusnya mulai menguning indah seperti daun tua yang diterpa angin gurun, kini justru tampak layu kering seolah-olah musim hujan telah lama mengabaikan mereka. Di genggaman tangannya, selembar daun lontar berisi sketsa pola dari cangkang Kura-kura Langit terasa hangat dan lembap, menyimpan panas misterius yang tidak diketahui asalnya.
Dia menatap barisan tanaman yang layu itu dengan mata menyipit, mencoba membaca pesan tersembunyi di antara batang-batang yang rebah. Pola kematian di tanah ini aneh sekali bentuknya. Ia tidak merata, melainkan membentuk lingkaran-lingkaran putus yang sengaja menghindari titik-titik tertentu, seolah-olah ada lubang tak terlihat di mana akar-akar tanaman masih bisa bernapas lega. Jari-jari Naru meluncur pelan di atas permukaan kertas lontar yang kasar, menyejajarkan garis putus dalam sketsa dengan lingkaran kematian yang membelah sawah di hadapannya. Sama. Persis sama.
"Ee, Pak Yanto," panggil Naru pelan pada sosok petani muda yang sedang menggemburkan tanah di petak sebelah.
Punggung petani itu langsung tegang. Otot-otot di baju kumunya mengeras, kaku bagai papan kayu tua yang tak bengkok sedikit pun. Pak Yanto menghentikan kerjanya, lalu mengusap keringat yang bercampur dengan debu halus di keningnya dengan punggung tangan.
"Ada apa, Nak?"
Dengan hati-hati, Naru mendekat. Langkahnya diatur pelan-pelan, takut salah menginjak tanaman sakit yang tersebar di sekitar kakinya. "Lihat ini, Pak. Pola layunya. Dia selalu menghindari titik-titik tertentu. Seperti... dia sedang mencari jalan keluar."
Pak Yanto menoleh perlahan. Mukanya penuh keraguan, dan rasa takut tertelan pelan-pelan di balik sorot matanya yang sayu. "Hanya kebetulan, Nak. Sekarang tanah ini sedang... sedang sakit."
"Bukan sakit biasa," bantah Naru sambil menunjuk sketsanya, suaranya bergetar sedikit tak tertahani. "Kalau kita ikuti garis putus ini... mungkin kita bisa bantu akar menemukan air. Tanam ulang dengan jarak beda. Lebih renggang. Seperti jejak semut yang sedang mencari gula."
Cangkul di tangan Pak Yanto jatuh pelan ke tanah, mencetak goresan dangkal pada lumpur. "Naru, Nak. Dewan Totem sudah mengirim pesan lewat Si Galuh. Tidak boleh ada yang berubah. Jarak tanam sudah ditetapkan leluhur. Kalau kita mengubahnya... Siapa yang bertanggung jawab kalau panen gagal total?"
"Tapi kalau kita diam saja, Pak, ini juga gagal total," balas Naru cepat, lidahnya terasa licin, lalu seketika menyesal. Dia menarik napas dalam-dalam, memaksa dadanya untuk tenang. "Cuma satu petak kecil, Pak. Di pojok itu. Sebagai... persembahan rasa ingin tahu pada tanah."
Pak Yanto melirik ke arah balai desa yang jauh di sana, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke wajah polos Naru. Di sinar pagi yang menyipit, terasa es membeku di pembuluh darahnya, sebuah ketakutan kuno yang sedang berhadapan dengan harapan putus asa.
"Kalau Ketua Adat tahu..."
"Kita belum bilang siapa-siapa," desak Naru, suaranya rendah tapi tegas. "Kita coba diam-diam. Kalau gagal, kita tutup. Hilang. Tak ada yang tahu."
Angin pagi berhembus kencang tiba-tiba, membawa suara daun kering saling bergesekan, seperti bisikan-bisikan ragu dari para leluhur. Pak Yanto menghela napas panjang, berat, dan akhirnya mengangguk sangat pelan.
***
Bau asap dapur dan serat basah menyambut Naru begitu ia melangkah masuk ke halaman Rumah Ina Mardea br. Sihombing. Di dalam, suara alat tenun kayu berdengung ritmis, *tek-tek-tek*, terus-menerus tanpa henti, bagaikan detak jantung rumah tua itu sendiri yang masih berusaha hidup. Naru dan Lira Samudra Putri duduk bersila di lantai anyaman bambu, tepat di kaki Ina yang sedang asik memasang benang baru.
"Ina, Nek," sapa Naru sopan sambil menaruh kain tenun usang yang dibawanya di lantai.
Ina menoleh. Matanya tajam meneliti, namun senyum ramah tetap tersungging di sudut bibirnya. "Eh, Naru. Bawa tamu cantik ya? Lira Savana itu, kan?"
Lira mengangguk sopan, tangannya melipat rapi di atas paha.
"Tapi apa yang kalian cari di sini? Jangan-jangan mau minta nenek ini merapal hujan?" tanya Ina setengah bergurau.
"Bukan merapal, Nek," jawab Naru cepat. "Tapi... minta Nek membaca pola." Dia membuka sketsanya, melebarkannya dan menunjukkannya pada kain tenun yang sedang digarap Ina. "Pola cangkang kura-kura ini. Nek lihat, mirip motif 'Sungsang' yang Nek tenun dulu kan? Tapi... Bagian spiralnya beda."
Ina menyipitkan mata, lalu menarik kaca matanya yang tergantung di lehernya dan mengenakannya. "Ai, macam mana pula ini? Motif Sungsang itu sakral, Nak. Ditenun cuma untuk kain kafan atau kain upacara. Kalian mau nenek masukin pola itu ke kain kerja? Buat apa? Biar petani bisa baca doa sambil kerja?"
Lira menyela pelan, suaranya terukur dan hati-hati. "Bukan doa, Ina. Jadi ini... Logika air. Spiral ini, kalau Nek perhatikan baik-baik, itu cara air berputar di kolam saat kita melempar batu. Kalau kita tanam padi mengikuti spiral ini, akar tidak akan bertemu satu sama lain, tidak akan berebut makanan di tanah yang sedikit."
Ina tertawa renyah, namun matanya tetap waspada di balik kaca matanya. "Logika air? Anak muda sekarang, segala mau dibalik pakai logika. Pola, Nak, itu irama. Bukan sekadar gambar." Dia mengambil seutas benang merah, lalu menyilangkannya di atas benang putih dengan gerakan tangan yang terlatih. "Tapi... Kalau memang untuk menyelamatkan cucu-cucu nenek dari kelaparan."
Tangan Ina berhenti sejenak di udara, tergantung. "Baiklah. Tapi jangan salah benang ya, Nak. Kalau salah, polanya doa yang putus."
Naru tersenyum lega, bahunya turun rileks. "Terima kasih, Ina."
Mereka bekerja sepanjang siang itu di bawah atap rumah panggung. Naru belajar dengan seksama mengikuti gerakan tangan Ina, memahami bagaimana benang naik turun membentuk jembatan tipis antara dunia sakral dan dunia praktis. Lira sibuk mencatat setiap simpul yang dibuat, menerjemahkan motif tenun ke dalam bahasa varietas benih dan jarak tanam yang presisi. Cahaya siang menembus celah-celah anyaman dinding bambu, membuat debu-debu halus di udara tampak menari-nari, bagaikan partikel kecil dalam sebuah orkestra cahaya yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang sabar.
***
Langit berubah warna dengan cepat, menggelap saat mereka beranjak kembali ke sawah. Angin berhembus kencang membawa kabar akan datangnya badai, dinginnya menusuk hingga ke tulang. Tekanan udara turun drastis sebelum topan tiba, membuat telinga terasa penuh dan tersumbat. Naru, Lira, dan Pak Yanto berdiri berdampingan di petak pojok yang sudah mereka siapkan sejak pagi.
"Kita harus cepat," kata Lira, suaranya terbawa hembusan angin kencang. "Hujan akan turun sekarang juga."
Naru menggenggam kain bermotif baru itu erat-erat, jari-jarinya memutih. "Pak Yanto, bibitnya. Letakkan mengikuti garis spiral ini. Jangan di tengah. Di... Di sela-selanya."
Pak Yanto menggigil. Bukan karena dinginnya angin, tapi karena ia merasa sedang melanggar batas yang selama ini ia jaga dengan hidupnya. "Nak... Kalau ini hancur kena hujan deras..."
"Kita berdoa saja tanahnya mau menampung air," jawab Naru. Tangannya sudah kotor penuh oleh lumpur saat ia menancapkan satu bibit padi ke tanah liat. "Pendekar menemukan pusatnya, Pak. Kita cari pusat tanah yang masih hidup."
Mereka bekerja dalam hening yang hanya pecah oleh suara cangkul menancap dan hembusan angin yang menderu. Pak Yanto ragu-ragu, hampir saja menarik bibitnya kembali beberapa kali, tapi setiap melihat Naru yang bekerja dengan kepala tertunduk dan penuh tekad tanpa kata-kata, ia memaksa dirinya untuk melanjutkan. Hujan rintik pertama jatuh, dingin menusuk leher, diikuti oleh guntur jauh yang bergemuruh bagaikan genderang kayu raksasa yang marah.
"Masuk!" teriak Lira saat hujan mulai turun deras tak terkendali.
Mereka berlari meninggalkan petak yang baru saja selesai ditanam, meninggalkan gundukan tanah hitam yang telanjang dan terbuka di tengah badai yang mengamuk.
***
Lumbung kayu tua di ujung sawah menjadi tempat berteduh mereka yang tergesa-gesa. Suara hujan deras memukul atap rumbia tanpa henti, bagaikan berjuta jari mengetuk sekaligus, menciptakan irama menenangkan di tengah kegelisahan yang membelah dada. Di dalam, udara terasa hangat oleh api kecil yang menyala di tungku dan bau keringan padi yang menenangkan. Naru dan Lira duduk mengangkang di lantai bambu, berusaha mengeringkan kain basah mereka yang menempel di kulit. Pak Yanto sedang memeras air dari kemejanya dengan wajah cemas.
Tiba-tiba, dari sudut gelap lumbung, muncul sosok bayangan membawa nampan kayu. Bu Sari Pitaloka berdiri di sana, matanya menelusuri wajah-wajah basah itu satu per satu. Di atas nampannya, terhidang nasi hangat yang mengepul, kuah sayur keladi berwarna kuning gurih, dan ikan asap yang mengepaskan asap lembut ke udara.
"Ibu..." Naru terdiam. Tulang belakangnya menegang seketika.
Bu Sari meletakkan nampan itu di lantai dengan pelan. "Langit sudah memberi tanda sejak tadi. Kenapa kalian baru masuk sekarang? Kenapa kalian di sawah pojok itu?"
Naru menelan ludah, tenggorokannya kering. "Kami... Cuma mengecek saluran air, Bu. Takut tersumbat."
Bu Sari duduk berlutut, memandang Naru lekat. Matanya penuh selidik, namun tidak ada kemarahan yang menyala di sana. "Saluran air di pojok itu sudah lama kering, Nak. Jangan bohong pada ibumu."
Naru menunduk, wajahnya tertutup rambut basah. "Kami... Mencoba sesuatu. Sesuatu yang... Mungkin bisa menyelamatkan sisa tanaman."
Bu Sari mengambil mangkuk kecil, menuangkan kuah keladi panas ke dalamnya, lalu menyodorkannya pada Naru. "Makan. Biar hangat."
Naru menerima mangkuk itu dengan kedua tangan yang gemetar sedikit. Uap nasi dan bau ikan asap segera memenuhi hidungnya, menghangatkan dadanya yang dingin karena hujan.
"Lira," panggil Bu Sari pelan tanpa menoleh.
"Iya, Bu."
"Kau jaga dia, ya. Kalau dia terpeleset, jangan biarkan dia jatuh sendirian." Bu Sari menatap Lira tajam, lalu tersenyum tipis. "Kau pandai membaca tanah, Nak. Tapi ingat, tanah ini punya memori. Jangan sakiti hatinya."
Lira mengangguk, wajahnya tersipu malu. "Aku akan berhati-hati, Bu."
Mereka makan dalam hening yang tidak canggung lagi. Suara hujan di luar menjadi selimut tebal yang mengisolasi mereka dari dunia luar yang keras. Di antara suapan nasi dan gurihnya ikan asap, terjalin sebuah kesepakatan tak terucap bahwa apa pun yang terjadi di petak pojok itu, urusan mereka bersama. Naru merasa hangatnya api tungku menjalar perlahan ke dalam dada, menggantikan rasa takutnya perlahan-lahan. Ini bukan sekadar makanan, ini adalah jaringan keluarga yang merangkulnya kembali.
***
Tiga hari setelah badai lewat, pagi cerah menyapa desa dengan sinar yang membingungkan. Naru dan Lira berjalan cepat menuju petak pojok itu. Jantung Naru berdegup kencang, berirama seperti pemanah yang sedang menarik busurnya sebelum melepaskan anak panah ke udara. Mereka berhenti tiba-tiba di pematang, napas tercekat.
Sawah di sekitarnya, yang ditanam dengan cara lama, mulai menunjukkan tanda-tanda layu kembali. Daunnya menggulung ke dalam, pucat dan lemah bagaikan orang sakit. Tapi petak pojok itu...
"Lira, lihat!" bisik Naru, suaranya bergetar.
Di tengah gundukan tanah hitam yang basah, tunas-tunas hijau segar menembus permukaan. Mereka tidak hanya tumbuh, tapi berdiri tegak dengan sombong, warna hijaunya lebih tua, lebih kenyal dibanding tetangganya. Akar-akar halus terlihat jelas mencengkeram tanah dengan kuat. Bau tanah lembap segar tercium kuat di sana, berbeda tajam dengan bau asam membusuk di petak sebelah.
Lira berjongjong, menyentuh daun itu dengan ujung jari yang hati-hati. "Luar biasa. Jarak tanam yang renggang membuat aerasi tanah jauh lebih baik. Spiral pola tanam membuat air hujan kemarin tidak langsung menggenang dan membusukkan batang, tapi meresap perlahan ke pusat."
Naru menarik napas lega, panjang. "Berhasil."
"Tapi," Lira berdiri lagi, wajahnya tiba-tiba serius. "Naru, ini masalah besar. Kalau kita lapor ini ke Pak Raka atau ke Dewan Totem, mereka akan ambil alih. Di istana, ada istilah... *Return JSON*."
Naru mengerutkan kening, bingung. "Return... JSON?"
"Itu..." Lira berpikir sejenak, mencari kata-kata sederhana untuk menjelaskan konsep asingnya. "Semacam format data, Nak. Bayangkan data ini adalah pesan rahasia dari bumi pada kita. Kalau kita serahkan begitu saja ke Dewan Totem, mereka akan mengunci pesan itu. Mereka akan memutuskan siapa yang boleh membacanya, siapa yang boleh memakainya. Seperti catatan kering di papan kayu yang hanya boleh diisi dan dibaca oleh juru tulis resmi. Kita... Kita tidak bisa mengubahnya lagi."
Naru menatap tunas-tunas hijau itu dengan pandangan baru. Jadi kalau dia menyerahkan penemuannya sekarang, kampung-kampung lain mungkin tidak akan bisa memakainya kalau Dewan Totem tidak mengizinkan. Kelaparan akan terus berjalan, dan pengetahuan ini akan terkubur di arsip istana.
"Jadi kita... Kita tidak lapor?" tanya Naru pelan.
"Kita uji dulu di sini," kata Lira, matanya berbinar semangat. "Di kampung lain. Lewat kain tenun Ina, lewat lagu-lagu rakyat. Kita sebarkan polanya sebagai cerita, bukan sebagai laporan resmi. Biar pengetahuan ini tumbuh liar, seperti rumput liar di pinggir jalan, bukan seperti pohon bonsai di pot yang dijaga ketat oleh satpam."
Naru mengangguk mantap. Dia merasakan getar keberanian yang tak pernah ada sebelumnya mengalir di tangannya. "Kita harus bicara dengan Pak Yanto. Mungkin dia punya saudara di kampung seberang yang bisa kita bantu."
***
Senja turun perlahan, mewarnai langit dengan jingga pucat yang memudar menjadi ungu gelap. Naru dan Lira berjalan pulang melewati pematang sempit yang membelah sawah yang sepi. Bayangan mereka memanjang di antara baris padi yang mulai gelap dan sunyi. Naru memandang Lira dari samping, mencoba membaca sosoknya di bawah cahaya remang. Cahaya senja memantul di wajah Lira, menyoroti garis rahang yang tegas dan mata yang selalu penuh pertanyaan akan dunia.
Dulu, Naru hanya melihatnya sebagai utusan kerajaan savana yang sombong dan jauh, seseorang yang tidak mengerti lumpur. Tapi sekarang... Dia melihat cara Lira menunduk untuk melihat jejak capung di air, cara dia memperhatikan arah angin dengan mata terpejam penuh konsentrasi. Lira tidak datang ke sini hanya untuk memerintah atau mengkritik. Dia datang karena dia peduli. Dia menambal kekurangan Naru dengan ilmunya yang luas, dan Naru menambal kekurangan Lira dengan rasa sayangnya yang mendalam pada kampung ini.
"Kak Lira," panggil Naru pelan, memecah keheningan.
Lira berhenti, menoleh. "Ya?"
"Terima kasih. Sudah mau menggigil di sawah bareng aku tadi."
Lira tersenyum kecil, senyum yang jarang ia tunjukkan di istana yang kaku dan formal. "Aku cuma ingin tahu apakah teoriku benar, Naru. Tapi..." dia berhenti sejenak, melihat ke arah danau yang tenang mengkilap di kejauhan. "Tapi rasanya... Enak juga. Bermain lumpur."
Naru tertawa pelan, suaranya berdengung ringan di senja. "Kapan-kapan kita tanam jagung di belakang rumah. Bukan buat percobaan sains. Cuma... Buat dimakan."
Lira mengangguk cepat. "Deal."
Mereka berjalan lagi, menyusuri pematang yang semakin gelap. Naru merasa ada sesuatu yang berubah di antara mereka, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kerja sama menyelamatkan tanaman. Tapi dia tidak tahu apa namanya, dan dia belum berani menyebutnya. Dia hanya berharap langit ini tidak terlalu cepat berganti menjadi malam yang gelap gulita.
Naru menoleh sekali lagi ke arah petak pojok yang sudah jauh tertinggal di kegelapan. Titik hijau kecil itu selamat di tengah lahan cokelat yang membusuk. Tapi di kepalanya, sebuah pertanyaan mulai menggerogoti rasa leganya perlahan. Setiap hari mereka menunda memberi tahu Dewan Totem, kampung-kampung di sekelilingnya semakin lapar. Namun setiap rahasia yang mereka bagikan kepada semakin banyak orang, semakin mendekatkan mereka pada momen ketika Dewan Totem akan bertanya dengan nada mengancam: siapa yang berani menulis ulang musim tanpa izin langit?