5 / 10
Reading
Nyala api di perut tungku dapur menyala kecil, hanya cukup untuk memantulkan cahaya jingga yang redup ke dinding tanah liat yang hangat dan lembab. Di lantai, Naru duduk bersila, dikelilingi oleh lautan tumpukan benang kapas yang kasar dan tumpukan daun lontar bergambar sketsa kasar yang berserakan di sekelilingnya. Bau jahe yang baru direbus bertemu dengan wangi santan kental dari panci di sudut ruangan, mencampur menjadi satu aroma yang membuat kelopak mata Naru terasa berat namun menenangkan sekaligus. Tepat di hadapannya, alat tenun backstrap milik Ina Mardea berdiri kokoh seperti tiang penyangga rumah, kayunya sudah licin terjamah dan mengkilap oleh puluhan tahun keringat jari-jari penenun tua.
"Jadi, garis ini bukan sekadar pembatas semata, Bu Ina," ujar Naru pelan. Jari telunjuknya yang kotor oleh coretan arang menelusuri pola pada selembar daun lontar yang kusam. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desir api di perapian. "Kalau kita tarik benangnya miring seperti ini... airnya akan mengalir ke akar tanaman samping, bukan tenggelam dan membusuk di satu titik saja."
Lira yang duduk di seberang tungku mencondongkan badan maju. Matanya meneliti sketsa itu dengan tajam, alisnya berkerut halus saat ia mencoba membedah logika di balik gambar sederhana itu. "Ini mirip *intercropping* yang kita coba di petak rahasia dulu, Naru. Jarak tanam. Garis ini menentukan seberapa lebar akar bisa mencari makanan tanpa saling menjerat dan mencekik."
Ina Mardea br. Sihombing menghela napas panjang, suaranya berdengus kasar. Nenek itu memegang sepotong kayu pemukul benang, memutarnya pelan di telapak tangan yang keriput penuh urat-urat tua. "Ai, macam mana pula itu? Pola *sigar* itu, kalau ditarik miring terus, kainnya jadi miring, Nak. Orang kampung lain bakal bilang kita menenun sambil mabuk."
Di bawah para penenun muda yang duduk di pinggiran saling berpandangan, cekikikan ditahan di balik tangan. Hangat tiba-tiba merambat naik ke leher Naru, membasahi kulitnya yang kering. Ia tahu Ina bukan sedang menolak, hanya menguji keteguhan hatinya seperti biasanya.
"Tapi, kalau kita buat kemiringannya pelan sekali, Bu? Seperti aliran sungai kecil yang membelah sawah perlahan," kata Naru lagi, kali ini tangannya bergerak di udara meniru arus air yang meliuk. "Di mata Dewan, ini cuma motif daun biasa. Tapi buat petani yang lihat kainnya, di sana mereka bisa baca kode. Mereka tahu kapan harus menanam jagung di sela padi."
Ina menatap mata Naru lama, tanpa berkedip. Di luar sorot matanya seperti sedang menimbang berat sebutir beras di atas timbangan tua. "Jadi kita menyelundupkan nasihat lewat rupa? Nak, main sembunyi-sembunyi sama roh itu bahaya. Kalau sampai Si-Serunai tahu pola ini sengaja dibelokkan dari pakem."
"Kita tidak membelokkan adat," Lira menyela cepat, lalu menunduk sedikit saat sadar nadanya terlalu tajam memotong percakapan tetua. Ia memperhalus suaranya, merendahkan volume. "Kita hanya... menafsir ulang. Seperti membaca puisi lama dengan irama baru yang lebih hidup."
Naru mengangguk mantap, memperkuat kata-kata Lira dengan tatapan yang tidak goyah. "Iya, Bu. Pola cangkang kura-kura itu. Dia bicara soal keseimbangan alam. Kalau kita tenunkan, dia jadi nyanyian yang tak bisa dibungkam oleh bisikan kebisingan pasar."
Dentang halus terdengar saat Ina mengetuk kayu pemukulnya ke sisi alat tenun, tanda persetujuan yang dingin. "Baiklah. Tetap saja coba tarik benangnya, Nak. Aku lihat apakah matamu seteluh tanganmu, atau hanya pandai berbicara saja."
Naru menggeser posisi duduknya yang kaku, memasang tali *backstrap* yang tebal di pinggangnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan ketegangan di bahu mulai mencair sedikit demi sedikit saat ia mulai mengayuhkan *pedal* kayu itu. Tekstur benang yang kasar lalu berubah halus saat melewati *reed* terasa familiar di ujung jari, seperti genggaman tangan ibunya yang dulu sering membetulkan posisinya. Suara ketukan kayu berirama, *tek-tek, tek-tek*, mulai mengisi kekosongan dapur yang sebelumnya hanya diisi desir api.
Di ruangan sempit ini, irama itu adalah orkestra kecil mereka, sebuah simfoni bisu yang menyusun kode rahasia di balik layar kain. Satu demi satu, garis-garis miring itu mulai terbentuk, terkunci oleh benang lusi dan pakan. Lira sesekali memberi isyarat tanpa suara, mengangkat tangan saat jarak antar benang harus dilebarkan, menunduk saat harus dirapatkan lagi. Udara di dapur terasa semakin menipis dan berat, bukan karena sesak napas, tapi karena fokus yang mengerucut pada satu titik benang.
Di dalam kepala Naru, ia merasa seperti sedang menyusun peta ribuan kepingan yang berserakan, dan setiap kali benang saling terkunci, satu kepingan peta itu menemukan tempatnya. Beberapa jam berlalu tanpa mereka sadari, waktu larut malam hanya ditandai oleh pergeseran bayang-bayang api. Di luar, hujan mulai turun deras, suaranya meresap masuk lewat sela-sela dinding bambu yang retak, menambah lapisan suara alami yang menenangkan di ruangan itu. Keringat Naru mulai bercucuran di pelipis, membasahi kemeja kerjanya, namun jarinya tidak berhenti bergerak.
"Cukup, Nak," kata Ina tiba-tiba, tangannya yang kasar menahan bahu Naru pelan namun tegas. "Istirahat sebentar. Kalau dipaksa terus, polanya bisa putus di tengah jalan, dan serat itu akan sulit disambung kembali."
Naru melepaskan ikatan pinggang yang membuat perutnya tertekan selama berjam-jam, merasakan aliran darah kembali mengalir normal ke kakinya yang kesemutan. Ia mengusap keringat di dahi dengan lengan baju yang sudah kusam. Di seberang, Lira terlihat menguap malu, matanya sayu namun tetap waspada mengamati hasil tenunan itu.
"Aku akan ambil wedang jahe," ujar Naru sambil berdiri dengan gerakan sedikit terhuyung. Ia berjalan mendekati tungku, mengambil panci tanah liat yang masih mengepulkan uap gurih ke wajahnya. Lalu ia menuangkan minuman hangat itu ke tiga buah batok kelapa yang sudah disiapkan ibunya sebelum ia pergi tidur duluan.
"Ini, Kak Lira. Hati-hati, masih panas."
Lira menerima batok itu dengan kedua tangan. Sekali lagi, jari-jarinya yang putih bersih dan halus kontras tajam dengan warna batok yang gosong dan tua.
"Terima kasih, Mas Naru."
Naru duduk kembali di lantai, menyeruput minumannya perlahan. Rasa pedas jahe yang menyengat dan manis gula merah langsung melesak ke kerongkongan, menghangatkan rongga dada yang tadi terasa dingin oleh rasa cemas yang menggumpal.
"Kita harus uji lagunya," kata Naru tiba-tiba, ide itu muncul begitu saja di kepalanya seperti percikan api. "Kalau kain tenunnya jadi, lagunya harus nyambung. Tapi kalau tidak, orang-orang bakal bingung dan mengira ini hanya kain rusak."
Lira tersenyum tipis, bibirnya yang kering sedikit terangkat. "Lagu tanam? Maksudmu nyanyian waktu kita menabur benih dulu di ladang?"
"Iya. Coba. Aku nyanyikan potongan yang kubuat tadi siang."
Naru membersihkan tenggorokannya, suaranya berat sesaat. Ia mulai mendengungkan nada rendah, lalu naik perlahan seperti tangga. Liriknya sederhana, tentang air dan tanah, tapi cara Naru menyusun nadanya sengaja melompat-lompat tidak beraturan, meniru pola tanam *intercropping* yang punya logika tersembunyi.
*"Air mengalir di sela batu... Benih mencari tempat tidur..."*
Naru mencoba menaikkan oktaf di bagian akhir, ingin menekankan bagian di mana akar harus menancap dalam. Namun, tenggorokannya ternyata tidak sanggup menahan tekanan itu. Suaranya pecah, melengking tinggi dan falsu, seperti ayam berkokok di tengah malam yang ketakutan.
Suara ketukan alat tenun berhenti seketika. Hening. Hanya suara hujan di luar yang tetap berdesing. Naru menunduk dalam, mukanya terasa panas bukan karena api, tapi karena malu yang menusuk tulang. "Eee... Maaf. Itu... itu terlalu tinggi."
Tiba-tiba, tawa Lira pecah memecah keheningan. Bukan tawa mengejek, tapi tawa ringan yang memantul di dinding dapur yang hangat. Naru menatapnya terkejut. Wajah Lira yang biasanya ditempa seriusitas kantor istana kini berubah kerlipan, matanya menyipit bahagia, menampakkan sisi manusiawi yang jarang terlihat.
"Suara itu," Lira tertawa lagi, menutup mulutnya dengan tangan sebentar namun bahunya tetap berguncang. "Suara itu lebih cocok untuk mengusir tikus daripada memanggil hujan, Mas Naru."
Salah seorang penenun muda di pinggir ikut tertawa cekikikan tertahan. Ina Mardea hanya tersenyum miring, namun tawanya yang renyah ikut meramaikan suasana yang sebelumnya kaku itu.
"Iya, iya. Aku tahu," sahut Naru, akhirnya ikut tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang gundul. Ia merasa beban di dadanya sedikit longgar, terangkat oleh tawa ringan itu. "Tapi... kira-kira tikusnya paham kode pola itu ya?"
"Mereka pasti paham kalau kita teriak sekencang tadi," goda Lira. Ia menyeruput wedangnya lagi, tapi pandangannya tidak lepas dari Naru. Ada kelembutan di sana yang belum pernah Naru lihat sebelumnya, sebuah jembatan yang baru terbangun. "Tapi serius, Mas. Melompat nadanya itu. Ide bagus. Itu meniru cara air mencari jalan, kan? Tidak pernah lurus."
Naru mengangguk, merasa validasi itu lebih manis dari wedang jahe di tenggorokannya. "Tepat sekali. Kita harus buat orang itu berhenti sebentar saat menyanyi, supaya mereka sadar. Ada yang berbeda di tanah ini."
Momen itu membuat jarak antara mereka—antara pemuda desa penjenguk kura-kura dan duta istana yang tinggi—menyusut menjadi seukur selembar kain tipis. Mereka bukan lagi sekadar mitra yang terpaksa bekerja sama demi tugas, melainkan dua orang yang sedang belajar menari dalam satu irama yang sama. Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama. Angin malam berhembus lebih kencang, membawa aroma bau tanah basah yang menyengat hidung, pertanda hujan di luar makin deras. Dan bersama angin itu, terbawa pula kabar yang tidak mereka undang.
Naru berdiri cepat, berjalan mendekati jendela dapur yang sempit. Di kejauhan, di seberang danau yang gelap gulita, ia melihat cahaya obor bergerak goyang di arah balai desa. Balai arsip.
"Ada yang datang," bisiknya, napasnya memendat.
Lira segera meletakkan batoknya dengan bunyi *tek* yang keras. "Siapa?"
"Petugas arsip Dewan. Membawa laporan mingguan."
Jantung Naru berdegup kencang mengetuk dada. Ia tahu persis apa isi laporan minggu ini. *Program Obat Langit*.
"Aku harus lihat."
"Aku ikut," kata Lira tanpa ragu, matanya menyala dalam gelap.
Mereka meninggalkan kehangatan dapur, berjalan menyusuri lorong belakang yang dingin menuju balai kecil tempat arsip desa disimpan. Udara di sini jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Lantai bambu terasa licin dan lembap menyergap telapak kaki. Bau kertas lontar tua dan tinta getah menyala menyengat hidung, aroma yang selalu membuat Naru ingat pada kantor-kantor dingin milik pejabat yang tidak suka disentuh oleh rakyat biasa.
Di dalam balai, seorang tetua penjaga arsip sedang merapikan beberapa papan bambu yang berdebu. Dia terkejut saat melihat Naru dan Lira muncul dari bayangan sudut ruangan.
"Naru? Kenapa belum tidur?" tanya tetua itu, suaranya berat dan berat.
"Hanya... ingin memastikan catatan benih, Pak," bohong Naru, meski matanya sudah menelusuri deretan tulisan aksara kuno di dinding dengan rakus.
Tetua itu menghela napas, tidak terlalu percaya tapi terlalu lelah untuk mempertanyakan alasan pemuda itu. "Hati-hati. Laporan Dewan Totem baru saja turun sore ini. Mereka sedang menyusun daftar kampung prioritas untuk Program Obat Langit tahun ini."
Naru mendekat, matanya memindai tulisan-tulisan itu dengan cepat. *Kuota Obat Terbatas. Distribusi Berdasarkan Kepatuhan Adat.*
Jari Naru mengepal sampai kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. "Kampung-kampung di hulu, Pak? Yang tanahnya paling keras dan kering? Mereka masuk daftar ini?"
Tetua penjaga arsip menggeleng pelan, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Tidak. Namanya tidak ada di sini. Dewan bilang... risikonya terlalu tinggi untuk investasi obat di sana. Mereka bilang tanah itu sudah mati. Mereka harus menunggu musim depan."
"Menunggu?" Lira berseru pelan, lalu menutup mulut saat sadar suaranya nyaris terdengar marah menggema. "Tapi kalau menunggu musim depan, tanaman mereka sekarang sudah mati semua. Orang-orang akan kelaparan."
"Begitulah aturannya, Nak," sahut tetua itu dingin, menutup lemari arsip kayu dengan bunyi yang berat. "Dewan menghitung angka, bukan rasa lapar."
Dunia di sekitarnya terasa menyempit menjadi terowongan gelap bagi Naru. Kampung-kampung hulu itu. Mereka adalah tetangga jauh mereka, orang-orang yang sering datang ke pasar desa membawa hasil hutan kecil dengan wajah letih. Kalau tidak ada obat, atau dalam hal ini, metode tanam baru yang mereka rahasiakan, mereka akan kelaparan dan menderita.
"Kita harus cepat," bisik Lira di telinga Naru, suaranya mendesak urgensi. "Kalau kain dan lagu kita sampai ke sana lebih cepat dari surat Dewan ini... setidaknya mereka punya harapan untuk bertahan."
Naru mengangguk singkat. Ia membalikkan badan, beranjak keluar dari balai yang bau pengabadian dan kematian itu. Pikirannya sudah berada jauh di sana, di rumah-rumah panggung beratap ilalang yang mulai diserang wabah kekeringan.
Mereka kembali ke dapur, tapi suasana hati Naru sudah berubah total. Rasa hangat tadi kini tercampur dengan rasa urgensi yang menyala membara. Ia mengambil kain setengah jadi dari alat tenun Ina Mardea dengan kasar.
"Ina," panggil Naru, nada suaranya lebih berat dan serius. Nenek itu sedang melipat benang sisa di keranjang. "Aku mau tunjukkan sesuatu."
Naru menyebarkan kain itu di atas meja kayu, menunjuk pada motif yang baru saja mereka rancang dengan jari yang gemetar. "Lihat bagian sini, Bu. Pola spiralnya. Garis miring yang membelah ini."
Ina Mardea mendekat, kacamata bacanya digeser ke ujung hidung yang merah. Ia menatap pola itu lama, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Naru. "Lalu?"
"Ini... ini mirip dengan motif *boraspati* di dinding balai lama, Bu," kata Naru pelan, suaranya hampir berbisik. "Yang sering Kakak bilang itu 'motif rusak' atau kesalahan tenun."
Hening yang mencekam menyelimuti dapur. Suara hujan di luar terdengar begitu jelas, seperti detak jam yang mengejar waktu. Ina Mardea tidak langsung menjawab. Ia berjalan terpincang ke sudut dapur, mengambil kain usang yang terlipat rapi di dalam peti kayu—kain yang biasanya digunakan sebagai penutup tempat tidur saat sakit demam.
Ia membukannya, menyebarkannya di atas meja, tepat di sebelah kain buatan Naru. Naru dan Lira menunduk, mata mereka melebar melihat apa yang terbentang di depan mata.
Di kain tua yang berwarna kekuningan itu, tersembunyi di antara motif bunga besar yang dominan, ada garis-garis kecil samar yang hampir hilang oleh usia. Garis-garis itu membentuk pola. Pola spiral yang sama persis. Pola irigasi tersembunyi yang sama.
"Kalian..." Naru tergagap, tidak percaya. "Kalian sudah tahu?"
Ina Mardea duduk perlahan di bangku kayu, suaranya berat seperti batu yang jatuh ke dasar sumur yang dalam. "Dulu. Dulu sekali, waktu aku masih seumur kalian, Nak. Kami menenun pola ini ke kain-kain yang kami kirim ke kampung kampung jauh. Kami kira... dengan menyebarkannya secara diam-diam, kami bisa menyelamatkan banyak orang dari kelaparan."
Lira menarik napas tajam, dadanya terangkat. "Lalu kenapa berhenti?"
"Karena Dewan," sahut Ina, tatapnya kosong menatap api tungku yang bergoyang. "Roh Janggala Si-Serunai datang ke desa ini. Dia bilang pola ini mengacaukan 'keseimbangan kuota' yang mereka tetapkan. Dia menyuruh kami berhenti. Mengancam akan menarik semua perlindungan roh dari desa kami jika kami terus menenun pola haram itu."
Lutut Naru terasa lunyai. Ia merasa seperti baru saja menemukan pintu rahasia di rumahnya sendiri, pintu yang selama ini ia kira hanya dinding biasa. Jadi selama ini, selama bertahun-tahun, para tetua yang ia kira kaku, kolot, dan menolak perubahan, sebenarnya sedang menyembunyikan pengetahuan penyelamat ini demi keamanan bersama?
"Jadi... kalian diam saja?" tanya Naru, suaranya terdengar kecewa tanpa ia maksudkan, rasa percayanya terguncang.
Ina menatapnya tajam, mata tuanya berkilat keras. "Kami tidak diam, Nak bodoh. Kami menyimpannya. Menunggu. Menunggu sampai ada seseorang yang cukup berani mengambilnya kembali, dan cukup pintar untuk tidak tertangkap oleh mata-mata Dewan."
Naru terdiam. Rasa kecewa berubah menjadi sesal yang menusuk, lalu berubah menjadi rasa hormat yang rumit dan berlapis. Ternyata ia bukan sedang memulai perlawanan baru. Ia sedang meneruskan benang yang putus bertahun-tahun lalu oleh ketakutan.
"Dan sekarang," sambung Ina, suaranya melunak sedikit, "kalian datang. Dengan cara baru. Dengan logika baru dari kerajaan savana itu yang membawa angin segar."
Nenek itu menatap Lira sekilas, lalu kembali ke wajah Naru yang penuh tanda tanya. "Mungkin ini saatnya kita jahit lagi benang yang putus itu."
Naru menatap Lira, mencari persetujuan. Gadis itu mengangguk tegas, matanya penuh tekad dan api yang sama. "Tapi kita harus hati-hati," lanjut Ina, jari-jarinya mengetuk meja. "Kali ini, kita tidak akan menyebarkannya seenaknya seperti dulu. Kita akan merancangnya seperti... seperti menjalin jaring laba-laba yang rapat tapi tidak terlihat oleh mangsanya."
Naru mengambil segenggam padi kering dari wadah anyaman di sampingnya. Ia menyebarkan biji-biji itu di atas tikar anyaman di lantai dapur, membentuk peta kasar yang tersebar. "Ini desa kita," kata Naru, menunjuk satu tumpukan biji. "Dan ini kampung hulu yang tidak masuk daftar Dewan."
Ia menggeser biji-biji lain, membentuk garis-garis tak terlihat yang menghubungkan titik-titik itu di lantai. "Kita kirim kain ke sini lewat pedagang arang yang lewat tengah malam. Lagu kita sampaikan ke sini lewat penggembala yang lewat jalur pegunungan."
Ina memperhatikan peta biji itu dengan mata tajam. Ia menggeser satu biji padi, memindahkannya sedikit ke kiri dengan jari yang gemetar. "Jangan lewat sini. Jalur ini terlalu sering dilalui utusan Dewan yang mata elangnya tajam. Kirim lewat utara, lewat jalan setapak di pegunungan yang terjal."
"Tapi itu memakan waktu dua hari lebih lama, Bu," protes Naru, khawatir waktu tidak ada di pihak mereka. "Musim tanam tinggal hitungan minggu, bahkan hari."
"Lebih baik lambat tapi sampai pada tangan yang tepat, daripada cepat tapi tertangkap di tengah jalan," jawab Ina tegas, suaranya tidak bisa diganggu gugat. "Ingat, Nak. Dewan sedang mengawasi. Mereka tidak bodoh. Mereka sedang mencari siapa yang membocorkan pola ini ke desa-desa liar."
Naru menatap peta biji di hadapannya, merasakan beratnya tanggung jawab itu menekan bahunya. Bukan hanya soal menyelamatkan tanaman, tapi soal menyelamatkan nyawa orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Ia menggeser biji-biji lagi, mencari kombinasi jalur yang paling aman dan mematikan bagi mata-mata.
"Baik," kata Naru akhirnya, mengambil keputusan. "Kita bagi tiga. Satu jalur utara lewat hutan, satu selatan lewat sungai, dan satu... lewat danau, pakai perahu nelayan malam saat patroli beristirahat."
Lira tersenyum penuh kemenangan. "Pertahanan berlapis."
"Persis," sahut Ina, mengangguk pelan. "Seperti akar yang mencari air di tanah kering. Kita cari segala celah kehidupan."
Suara tawa mereka tadi sudah lama sirna, digantikan oleh kekhusyukan rencana yang matang. Namun, di tengah hening itu, terdengar suara aneh dari luar atap. *Berpur. Berpur.*
Bunyi sayap yang berat dan besar. Keras. Terlalu dekat dengan atap dapur yang terbuat dari rumbia. Naru menegang, otot-ototnya kaku. Lira langsung berdiri, tangannya bergerak cepat memadamkan sebagian lampu minyak agar dapur terlihat redup dan menyatu dengan kegelapan.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, seolah ia sudah melakukannya ribuan kali dalam mimpi buruk, Ina Mardea menyembunyikan kain-kain itu di bawah tumpukan daun pisang besar. Angin malam tiba-tiba berhenti bertiup. Hujan pun ikut mereda seketika, meninggalkan keheningan yang mengganggu dan mencurigakan.
"Bunyi apa itu?" bisik Lira, suaranya tertahan.
Naru mengintip dari celah dinding bambu yang basah. Matanya melihat bayangan besar melintas di halaman, memblokir bulan sebentar dan menutupi bintang. Bentuknya seperti burung, tapi ukurannya raksasa, jauh lebih besar dari elang biasa. Kepalanya berputar, memindai desa yang sedang tidur dengan mata yang menyala.
"Si Galuh," bisik Naru, napasnya tercekat di tenggorokan. "Utusan Dewan. Mata mereka."
"Kemari dia?" tanya Ina pelan, tangannya sudah memegang pemukul benang dengan erat, siap memukul jika perlu.
Naru menggeleng, jantungnya berdegup kencang di leher. "Tidak. Dia lewat. Tapi... dia berhenti sebentar di depan balai arsip. Seperti sedang mencium sesuatu."
Dari luar, terdengar suara bernada tinggi, seperti seruling ditiup angin kencang yang menusuk, namun berirama seperti kata-kata manusia yang berbisik.
"Inspeksi. Besok pagi."
Suara itu melayang jauh, menghilang ke arah danau gelap yang bergelombang. Naru menoleh ke Lira dan Ina. Wajah mereka menyiratkan hal yang sama: ketakutan yang dipagari oleh tekad. Inspeksi. Berarti Dewan curiga ada sesuatu yang tidak beres. Berarti Program Obat Langit mereka sedang disorot ketat, dan ada mata yang mengawasi setiap gerak-gerik desa ini.
"Kita harus bersiap," kata Naru, suaranya mantap meski tangannya gemetar sedikit di samping tubuhnya. Ia menatap peta biji padi di tikar, sebuah peta yang kini terasa seperti medan perang yang nyata. "Besok, saat mereka datang, kita harus sudah siap dengan jawaban yang meyakinkan. Dan kain-kain ini harus sudah berangkat meninggalkan desa sebelum matahari terbit."
Ina mengangguk, bangkit dengan punggung yang sedikit membungkuk namun langkahnya pasti menuju pintu belakang. "Aku bangunkan yang lain. Kita kerja malam ini sampai selesai, tidak boleh ada mata yang terpejam."
Naru melihat Lira. Di tengah bahaya itu, gadis itu mengulurkan tangannya, menepuk bahu Naru pelan, memberikan kekuatan yang mengalir lewat sentuhan. "Kita bisa lakukan ini, Mas Naru. Kita punya jaringan sekarang. Kita tidak sendirian lagi."
Naru mengangguk, memandang wajah Lira dan Ina bergantian. Ia melihat ke arah cangkang kura-kura langit yang tersimpan aman di kamarnya, lalu kembali ke kain di hadapannya yang menanti warna. Ia memegang benang lusi, merasakan teksturnya yang kasar namun kuat di jari. Malam ini, mereka tidak hanya menenun kain. Mereka menenun nasib bersama, menyatukan benang putus antara masa lalu dan masa depan, sebelum bayang-bayang besar di luar itu kembali menjemput mereka dengan cakar-cakarnya.