Anak panah menghantam kulit kayu, hanya tiga inci dari kepalanya. Elara melemparkan diri ke samping. Tubuhnya—kini lebih tua, persendiannya kaku oleh waktu pinjaman—mengkhianatinya. Ia tersandung. Anak panah lain melengking menembus gelap dan menyambar jubahnya, memakukan kain berat itu ke batang ek. Ia menarik keras. Kainnya tetap tertahan.
Sosok-sosok muncul dari batas pepohonan. Empat. Tidak—enam. Mereka bergerak dengan presisi para serdadu yang pernah berburu bersama sebelumnya.
"Peliharaan archivist milik The Claimant." Suara itu datang dari balik topeng. Kulit dan besi. Tanpa lambang rumah. Profesional.
Jari-jari Elara menemukan tas selempang di pinggulnya. Crown of Hours berdengung di telapak tangannya, hangat dan putus asa. Ia bisa meminjam waktu. Satu menit. Dua. Cukup untuk lari. Tapi utangnya pada akhirnya akan ditagih. Tangannya sudah terasa nyeri karenanya. Urat-urat perak kehitaman menggurat pola-pola di bawah kulitnya, tempat gema temporal merembes keluar.
"Jangan." Seorang perempuan melangkah maju, busurnya terangkat dan siap. "Crown itu ikut kami. Kau ikut kami. Tak perlu ada yang mati malam ini."
Rahang Elara mengeras. Ia melepas tali tas selempang itu. Tangan-tangan kasar mencengkeram lengannya. Seseorang merenggut Crown itu dari genggamannya. Dengungnya tersendat—lalu lenyap. Ia menelan protes yang naik ke tenggorokannya. Mereka takkan mendengarnya memohon.
"Geledah dia. Dengan benar."
Jari-jari meraba sisi tubuhnya, pinggangnya, sepatunya. Mereka menemukan pisau yang Cassian berikan padanya. Botol kecil salep penyembuh. Bungkusan buah kering yang ia simpan-simpan. Semuanya dilucuti.
"Ikat pergelangan tangannya. Jangan terlalu kencang—dia berharga."
Berharga. Bukan berbahaya. Bukan ancaman. Hanya hadiah.
---
Gerobak itu berbau jerami dan keringat lama. Elara duduk dengan punggung bersandar pada bilah-bilah kayu, pergelangan tangan terikat di depan dengan tali yang menggesek kulit namun tidak sampai memotong. Para penculiknya telah menyampirkan selimut di bahunya. Sebentuk belas kasihan kecil. Udara malam menggigit menembus jubahnya yang menipis.
Perempuan yang tadi berbicara naik ke dalam gerobak. Ia membawa cawan tanah liat dan sesuatu yang terbungkus kain.
"Air." Ia menyodorkan cawan itu. "Dan roti. Masih hangat."
Elara menatapnya. "Kenapa?"
"Karena kau tahanan kami." Suara perempuan itu datar, praktis. "Bukan mayat kami."
"Maksudku—kenapa repot-repot memberiku makan?"
Perempuan itu duduk di bangku di seberangnya. Dalam cahaya redup yang menyusup lewat kanvas, wajahnya lebih muda daripada yang Elara duga. Tulang pipi tegas. Sebuah parut membelah alis kirinya.
"Karena seharusnya ada seseorang yang melakukannya."
Kata-kata itu jatuh dengan ganjil. Tanpa kebencian. Tanpa kekejaman terhitung yang Elara harapkan dari musuhnya. Ia mengambil roti itu. Hangat—hal hangat pertama yang ia sentuh sejak meninggalkan kompleks Cassian. Kebaikan pertama yang ia terima dari siapa pun. Dari musuhnya. Ironinya mengental di perutnya.
"Kau membawaku ke mana?"
Perempuan itu tidak menjawab. Ia mengamati Elara makan dengan ekspresi yang mungkin adalah iba.
"Temanmu—The Claimant." Suara perempuan itu berubah. Kini hati-hati. "Dia bukan seperti yang kau kira."
Tangan Elara terhenti. "Aku sudah pernah mendengar itu."
"Dari orang-orang yang menginginkan sesuatu darimu. Aku mengerti." Perempuan itu mencondongkan tubuh ke depan. "Tapi kami punya bukti. Dokumen. Arsip tersegel dari Prime Vellum itu sendiri."
Prime Vellum. Keahlian Elara. Ranahnya. Tak ada sihir ilahi yang bisa mengubah arsip-arsip itu—ia sendiri yang mengajarkan hal itu pada Cassian.
"Kaubohong."
"Benarkah?" Perempuan itu berdiri. "Kau akan lihat. Tidak lama lagi."
Ia memanjat turun dari gerobak. Elara ditinggalkan sendirian, dengan roti yang terasa berubah menjadi abu di mulutnya, dan Mahkota Jam yang hilang entah di mana di depan sana—denyutnya kini bukan lagi penghiburan, melainkan luka.
---
Mereka membawanya ke sebuah benteng yang dipahat ke lereng pegunungan. Elara pernah mempelajari arsitektur wilayah Threshold—tahu sejarah benteng-benteng seperti ini. Dibangun oleh para pengklaim dewa pertama. Dirancang untuk menahan serangan ilahi. Tak pernah ia bayangkan ia akan memasuki salah satunya sebagai tawanan.
Sang pengklaim saingan menunggunya di sebuah ruangan yang dindingnya dipenuhi rak. Gulungan. Kodeks. Lempeng-lempeng tanah liat bakar yang tersegel. Napas Elara tersangkut. Bau itu menghantamnya lebih dulu. Minyak pengawet. Debu vellum. Aroma samar tinta yang menua melampaui ingatan yang masih hidup. Wewangian profesinya. Rumahnya.
"Selamat datang, Archivist." Suaranya tertata. Berbudaya.
Elara menoleh. Sang pengklaim saingan berdiri di dekat meja baca, tangan terkatup di belakang punggung. Ia bergerak dengan kewibawaan yang sama seperti Cassian—beban garis keturunan ilahi yang tak mungkin keliru. Namun, bila kehadiran Cassian membara, kehadiran pria ini dingin. Hening. Seperti air di bawah es.
"Aku adalah The Claimant Valdren." Ia menunjuk ke meja. "Dan kurasa kau tahu apa ini."
Dokumen. Segel-segel. Lilin merah tua yang familier dari ruang terdalam Prime Vellum. Tenggorokan Elara mengencang.
"Kau membuang-buang waktumu." Ia menjaga suaranya tetap datar. "Aku tak punya apa pun untuk kukatakan padamu."
"Aku tidak butuh kau bicara. Aku butuh kau membaca." Ia melangkah menyingkir. Dokumen-dokumen itu terbentang di atas meja seperti sebuah tuduhan. "Sekutu lamamu—Cassian dari garis Threshold—telah membuat rencana-rencana tertentu. Rencana yang menyangkut kerajaan-kerajaan fana."
Mata Valdren terasa setua zaman. Menimbang.
"Kau dulu archivist-nya. Kau tahu tulisannya. Sandiannya."
Elara tidak bergerak.
"Bacalah." Suara Valdren tak mengandung ancaman. Hanya kepastian. "Lalu katakan padaku apakah pria yang kau tinggalkan itu benar seperti yang kau percaya."
Ia bisa menolak. Ia bisa berpaling, memejamkan mata, menolak ikut serta dalam manipulasi apa pun ini. Namun segel-segel itu asli. Ia bisa melihatnya bahkan dari seberang ruangan. Pola-pola rumit yang tertekan pada lilin merah tua. Tanda tangan para Lord Threshold yang ia kenali dari tahun-tahun studinya.
Kakinya membawanya maju tanpa seizinnya.
Dokumen pertama adalah sebuah surat. Tulisan tangan Cassian—ia mengenalinya seketika. Sudut-sudut tajam. Lengkungan-lengkungan hemat. Ia pernah melihatnya menulis laporan, dekret, catatan pribadi.
*Kerajaan-kerajaan fana akan memerlukan bimbingan dalam tatanan baru. Mereka yang melawan akan diberi satu kesempatan untuk tunduk. Mereka yang menolak akan dijadikan contoh.*
Matanya bergerak ke halaman berikutnya. Sebuah draf perjanjian. Segel Cassian di bagian bawah.
*Sebagai imbalan atas dukungan militer melawan para penuntut takhta saingan, Wangsa Valdren akan diberi wewenang pemerintahan atas provinsi-provinsi timur. Populasi fana akan dinilai untuk pelayanan ilahi. Mereka yang memiliki garis keturunan yang sesuai akan diangkat. Mereka yang tidak akan tetap berada di kedudukan mereka sekarang.*
Pelayanan ilahi. Tangan Elara bergetar.
Dokumen ketiga lebih buruk. Sebuah daftar. Nama-nama. Lokasi-lokasi. Para cendekia fana yang telah meneliti sejarah takhta.
*Netralisasi. Netralisasi. Bawa ke ambang untuk penilaian. Netralisasi.*
Namanya tidak ada di daftar itu. Namun nama orang lain ada. Para arsiparis yang pernah berlatih bersamanya. Para cendekia yang pernah makan semeja dengannya. Teman-teman.
“Ini bisa saja palsu.” Kata-kata itu tergores keluar dari tenggorokannya.
Ekspresi Valdren tak berubah. “Oleh siapa? Vellum Utama tidak bisa diubah oleh sihir ilahi. Kau tahu itu.”
Elara tahu. Dialah yang mengajarkan itu pada Cassian. Yang menjelaskan perlindungan kuno yang ditenun ke dalam fondasi arsip. Yang pernah percaya—
“Kau yang mengajarinya itu.” Suara Valdren pelan. “Dan dia memakai pengetahuan itu untuk menyembunyikan rencananya di depan mata. Catatan-catatan yang tak akan terpikir olehmu untuk kau ragukan. Dokumen-dokumen yang disegel oleh otoritas yang kau percaya.”
Pandangan Elara mengabur. Bukan air mata. Sesuatu yang lebih buruk. Dingin yang mengendap di dadanya bukan ketakutan. Itu pengenalan. Ia mengenali segel-segel ini. Ia telah memverifikasi dokumen seperti ini ratusan kali. Seni pemalsuan itu halus—ia bisa mencium yang palsu dari seberang ruangan.
Ini bukan palsu.
“Dari mana kau mendapatkan ini?”
“Memangnya penting?” Valdren melangkah ke jendela. Cahaya obor menangkap kilau perak di rambutnya. “Pertanyaannya bukan dari mana ini berasal. Pertanyaannya apa yang akan kau lakukan dengan apa yang kau ketahui.”
Elara membalik halaman lagi. Kesaksian dari seorang Lord Ambang. Menggambarkan perundingan dengan Cassian. Penaklukan kerajaan-kerajaan fana dibicarakan sesantai perjanjian dagang. Tangannya bergetar begitu keras hingga ia nyaris menjatuhkan vellum itu.
“Aku meninggalkannya.” Kata-kata itu meluncur sebelum ia sempat menghentikannya. “Aku meninggalkannya karena dia memintaku mengorbankan lebih banyak hidupku. Lebih banyak waktuku. Kupikir—kupikir dia hanya menginginkanku karena kekuatanku.”
“Dan sekarang?”
Ia menatap dokumen-dokumen itu. Pada tulisan tangan Cassian yang dikenalnya. Pada prosa yang cermat dan terukur, yang menjabarkan perbudakan atas semua orang yang pernah ia kenal.
“Sekarang aku tidak tahu dia menginginkanku untuk apa.”
Valdren melintasi ruangan. Ia berhenti sejauh satu rentang lengan—tidak cukup dekat untuk mengancam, namun cukup dekat untuk berbicara pelan.
“Kau seorang arsiparis sebelum kau menjadi miliknya. Itulah sebabnya aku membawamu ke sini. Bukan sebagai tahanan.” Suaranya merendah. “Sebagai saksi.”
Tatapan Elara jatuh pada Mahkota Jam. Benda itu duduk di atas sebuah alas di seberang ruang, berdenyut samar. Pembatas itu. Perangkat yang dulu digunakan panteon asli untuk mengendalikan kelaparan takhta. Ia telah mencurinya untuk Cassian. Telah menua bertahun-tahun dalam hitungan menit untuk memecahkan enkripsinya. Telah percaya ia sedang menolong seorang pria yang peduli padanya.
Dengung Mahkota itu adalah tuduhan dari kejauhan.
“Aku bilang padanya dia akan melepaskan takhta demi aku.”
Ekspresi Valdren berubah. Sesuatu yang mungkin saja belas kasihan.
“Benarkah?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Elara teringat tangan Cassian di pipinya. Suaranya dalam kegelapan. *Kau bukan alat bagiku.*
Apa ada yang nyata dari semua itu? Atau ia telah dibina? Digrooming? Sebuah aset berguna dengan kemampuan unik, ditempatkan untuk membantunya merebut takhta yang akan memungkinkannya memperbudak dunianya?
Ia memikirkan daftar itu. Nama-nama para sarjana yang ditandai untuk dinetralisasi. Namanya tidak ada di sana. Karena ia terlalu berharga untuk disingkirkan.
“Aku harus—” Suaranya pecah. “Aku harus melihat semuanya.”
Valdren mengangguk pelan.
“Ikuti aku.”
Ia menuntunnya lebih jauh ke dalam ruang itu. Melewati rak-rak berisi arsip tersegel. Melewati kesaksian, perjanjian, dan rencana-rencana yang digambar dalam tulisan tangan Cassian yang rapi. Mahkota Jam berdetak di belakang mereka. Dan Elara mengikuti seorang penuntut takhta saingan ke dalam gelap, membawa keraguan yang begitu berat sampai terasa bisa meremukkannya di tempat ia berdiri.
---
Ruang arsip itu lebih kecil daripada yang pertama. Satu meja. Satu lampu. Dokumen-dokumen terbentang dalam barisan rapi. Valdren telah meninggalkannya sendirian dengan instruksi untuk membaca. Untuk memverifikasi. Untuk menilai sendiri.
Tangan Elara menyusuri kertas-kertas itu tanpa arahan sadar. Pelatihannya mengambil alih. Periksa segelnya. Verifikasi tanda tangannya. Silangkan pola sandinya. Semuanya asli. Setiap halaman sebuah paku di peti mati kepercayaannya.
Ia menemukan sepucuk surat bertanggal tiga bulan sebelum mereka bertemu. Tulisan Cassian. Membahas kebutuhan akan seorang arsiparis dengan kemampuan temporal.
*Mahkota Jam memerlukan sentuhan fana. Kekuatan ilahi tidak dapat berantarmuka dengan mekanismenya. Kita harus menemukan kandidat yang sesuai. Seseorang dengan anugerah yang diperlukan. Seseorang yang bisa dibujuk ke pihak kita.*
Dibujuk. Elara teringat pertama kali Cassian menemukannya. Di arsip. Mengikuti riak temporal yang bahkan tidak ia sadari sedang ia tinggalkan. Apakah itu kebetulan? Atau sejak awal ia memang diburu?
Lampu itu berkelap-kelip. Bayang-bayang menari di atas dokumen-dokumen. Ia membalik halaman berikutnya. Rancangan perjanjian. Kerajaan-kerajaan fana dibagi-bagi di antara wangsa-wangsa ilahi setelah penobatan Cassian.
*The Archivist akan dipertahankan sebagai aset permanen. Kemampuannya akan esensial untuk menjaga kalibrasi Mahkota. Pastikan loyalitasnya melalui cara-cara yang sesuai.*
Cara-cara yang sesuai. Perut Elara mual. Ia telah menyangka—telah percaya—
Kehangatan tangan Cassian. Ketegangan dalam matanya saat ia mengucapkan nama Elara. Cara ia melindunginya melewati gema temporal di Distrik Amber. Apa ada yang nyata? Ataukah semuanya perhitungan? Permainan panjang yang dimainkan seorang pria yang punya berabad-abad untuk merencanakan langkah-langkahnya?
Ia teringat perempuan di gerobak. *Karena seharusnya ada seseorang yang melakukannya.*
Kebaikan dari musuh. Kebohongan dari sekutu. Dunia terbalik, dan Elara berlutut di ruang penuh bukti yang tak bisa ia sangkal, tangannya gemetar di atas dokumen-dokumen yang menghancurkan semua yang pernah ia percayai tentang pria yang pernah ia percaya dengan nyawanya.
Pintu terbuka di belakangnya. Suara Valdren pelan.
“Kau punya pertanyaan.”
Elara tidak menoleh.
“Kenapa memperlihatkan ini padaku? Kalian bisa saja memakai dokumen-dokumen ini untuk melawannya tanpa aku.”
“Kami bisa.” Langkah kakinya mendekat. Berhenti. “Tapi kau punya sesuatu yang kami butuhkan. Pengetahuan tentang Mahkota. Tentang metode Cassian. Dan kau punya alasan untuk membantu kami sekarang.”
Akhirnya ia mengangkat kepala. Menatap mata Valdren yang purba, menakar.
“Apa yang kau inginkan?”
Valdren meraih melewati dirinya. Mengangkat sebuah dokumen yang belum sempat ia lihat. Meletakkannya ke tangan Elara.
Sebuah peta. Ruang takhta. Mahkota Jam ditempatkan di pusat. Dan sebuah catatan dengan tulisan tangan Cassian:
*Sang Arsiparis harus hadir pada penobatan. Kemampuan temporalnya akan menjembatani celah antara kekuatan fana dan ilahi. Ia tidak akan selamat dari proses itu, namun pengorbanannya akan memastikan kestabilan takhta selama berabad-abad.*
Elara membaca kata-kata itu sekali. Dua kali. Kertas itu mengabur. Ia selalu tahu kekuatannya datang dengan harga. Ia telah menerima bahwa meminjam waktu berarti menua, kemerosotan, kematian dini. Tapi itu pilihannya. Ia mengendalikannya.
Cassian telah merencanakan untuk melahapnya sepenuhnya. Menuliskannya dalam prosa yang cermat, terukur. Menghitung kematiannya dengan santai, seperti pesanan persediaan.
“Dia akan membunuhku.” Suaranya datar. Jauh. “Pada penobatan. Dia akan menghabisiku dan membuangku.”
Keheningan Valdren adalah konfirmasi.
Tangan Elara mengepal di sekitar dokumen itu. Kertasnya terlipat kusut.
“Aku akan membiarkannya.” Kata-kata itu membakar di tenggorokannya. “Aku akan memberinya segalanya. Karena aku pikir—”
Ia berhenti. Karena ia percaya dirinya berarti baginya. Bukan sebagai alat. Bukan sebagai aset. Sebagai seorang manusia.
“Sang Arsiparis.” Suara Valdren membelah dukanya. “Bantu kami menghentikannya. Gunakan pengetahuanmu tentang Mahkota. Verifikasi intelijen kami. Berikan kami keunggulan yang kami butuhkan untuk mencegah penobatannya.”
“Dan sebagai gantinya?”
“Kami memberimu sesuatu yang tak akan pernah ia berikan.” Mata Valdren menahan tatapannya. “Kebenaran. Dan kesempatan untuk memilih akhir ceritamu sendiri.”
Lampu berkedip. Elara teringat tangan Cassian di wajahnya. Suaranya. Ia teringat dokumen dalam kepalan tangannya yang kusut. Kematiannya, direncanakan dalam prosa yang cermat. Dan ia teringat perempuan di gerobak, menawarkan roti kepada seorang tahanan. *Karena seharusnya ada yang melakukannya.*
Keheningan memanjang. Suara Elara, ketika akhirnya keluar, nyaris hanya bisikan.
“Apa yang perlu kulakukan?”
Valdren merogoh ke dalam mantel dan mengeluarkan sebuah amplop tersegel. Lilirnya hitam. Ia meletakkannya di atas meja di antara mereka.
“Tiga hari dari sekarang, Cassian akan mengadakan pertemuan puncak dengan para lord netral. Sebuah isyarat niat baik menjelang penobatannya.” Suaranya sengaja netral. “Dia telah meminta seorang arsiparis untuk memverifikasi klaim-klaim historis tertentu. Seseorang dengan kredensial tanpa cela. Seseorang yang ia percaya.”
Darah Elara terasa membeku.
“Dia meminta kau. Secara khusus. Dengan menyebut namamu.”
Amplop itu tergeletak di atas meja seperti sebilah pisau. Jika ia membukanya, ia akan menemukan surat perintah kematiannya sendiri—atau barangkali sebuah kesempatan untuk mencegahnya. Namun bagaimanapun juga, ia harus melangkah kembali ke dalam pelukan Cassian. Membiarkannya percaya bahwa ia masih mempercayainya.
Jari-jarinya menyentuh lilin hitam itu. Masih hangat.
“Dia akan tahu aku sudah melihat dokumen-dokumen ini,” katanya. “Dia akan mencium pengkhianatan itu begitu aku melangkah melewati pintu.”
Senyum Valdren tipis. Hampir sedih.
“Tidak. Dia tidak akan.” Ia meletakkan sebuah vial kaca kecil di samping amplop. Cairan di dalamnya tak berwarna, berkilau samar. “Ini akan menekan tanda temporalmu selama enam jam. Bagi Cassian, kau akan persis seperti yang tampak—seorang arsiparis ketakutan yang lari dari perlindungannya dan ditangkap oleh musuh-musuhnya.”
Elara menatap vial itu. Pada amplop. Pada dokumen-dokumen yang sudah menghancurkan segala yang ia yakini.
“Dan kalau aku menolak?”
“Maka kau pergi dengan bebas.” Valdren mundur selangkah. “Kami tidak akan memaksamu. Tapi ketahuilah ini—Cassian sudah mencarimu. Para agennya menyisir jalan-jalan Threshold saat kita berbicara. Jika kau lari, dia akan menemukanmu. Dan dia tak akan pernah membiarkanmu pergi lagi.”
Lampu itu meredup lalu berkedip-kedip. Bayang-bayang menyerbu dari sudut-sudut ruangan, dan Elara mendengar sesuatu yang sebelumnya tak ia sadari—dengungan pelan dari Crown of Hours, berdenyut seirama dengan detak jantungnya sendiri.
Seolah-olah itu mengenalinya.
Seolah-olah itu sedang menunggu.