Hingar pasar menghantam dinding-dinding batu seperti pasang yang menolak surut. Rempah-rempah mencekik udara—pekat oleh jintan dan kacang panggang—menutupi bau dasar tubuh yang tak pernah tersentuh air dan kotoran kuda yang menetap dalam panas. The Archivist berjalan rapat di dekat bahu The Claimant, matanya menyapu kerumunan bukan untuk mencari wajah, melainkan riak dalam arus manusia. Waktu bergerak berbeda di sini, kental dan berat, seperti minyak tumpah di atas air yang menolak menyatu.
Para pedagang meneriakkan harga sementara para pembeli menawar gulungan-gulungan sutra, suara mereka naik turun dalam irama yang terasa terlatih, nyaris mekanis. Sinar matahari merembes melalui tenda-tenda kanvas di atas, menorehkan bayang-bayang bergaris di atas batu-batu jalan dalam selang-seling pita terang dan gelap. Butir-butir debu menari di dalam berkas cahaya, berputar dalam pola-pola yang tampak terlalu disengaja untuk sekadar kebetulan.
Ada rasa salah yang menyengat di pangkal lehernya. Bukan bunyi, bukan bau, melainkan keheningan di dalam kebisingan yang menonjol dengan tajam. Kerumunan mengalir mengitari satu titik tertentu di depan—sebuah celah dalam sungai manusia yang seharusnya tak ada di lorong sepadat ini.
The Claimant berhenti untuk memeriksa perhiasan seorang pedagang, perhatiannya terpaku pada kalung emas bertatah rubi yang menangkap cahaya. Jubahnya bergeser, memperlihatkan gagang belati tersembunyi di balik kain. Kepercayaan diri memancar darinya, kehangatan yang menarik orang-orang mendekat meski ada bahaya. Namun udara di sekelilingnya mendadak dingin, setajam gigitan pada kulit yang terbuka dan membuat bulu kuduk meremang.
The Archivist berhenti. Napasnya tertahan tanpa ia tahu alasannya, paru-parunya membeku di dalam dada.
Gerak kilat menyambar di tepi penglihatannya. Sesosok tubuh melepaskan diri dari bayang-bayang penyangga tenda, tangan menyelinap ke dalam tunik dengan kecepatan yang terlatih. Baja berkilat—bukan dengan cahaya perak, melainkan rona ungu sakit-sakitan yang menandakan racun di bilahnya. Pisau itu mengarah ke ruang di antara tulang belikat The Claimant, memburu titik vital. Jarak menutup terlalu cepat untuk reaksi biasa.
Tak ada waktu untuk berteriak memberi peringatan. Tak ada waktu untuk mendorongnya menyingkir.
Tiga puluh detik. Ia bisa membayar harga itu.
The Archivist meraih ke dalam sumur masa depannya sendiri dan mencengkeram kekuatan. Rasanya seperti menggenggam kabel berarus yang terkubur dalam es—menyetrum dan membekukan sekaligus. Dunia tersentak masuk ke gerak lambat yang kenyal seperti agar-agar, memanjang seperti gulali yang ditarik. Butir-butir debu membeku di tengah udara, melayang dalam amber sesaat itu. Mulut si pedagang menganga, suara dilucuti sepenuhnya. Tubuh si pembunuh yang menerjang tergantung tertahan, patung yang dipahat dari dengki dan niat. Racun ungu merayap di sepanjang tepi bilah seperti bisa yang bergerak lamban.
Nyeri merobek pelipisnya, tajam seperti jarum yang ditancapkan ke jaringan otak. Kulit kepalanya kesemutan, rambut menegang seolah ditarik tangan-tangan tak kasatmata. Ia bergerak menembus detik-detik yang membeku itu, memaksa tubuhnya patuh. Kakinya menapak di atas batu-batu jalan, menemukan pijakan pada batu. Tangannya mendorong punggung The Claimant dengan tenaga mendesak.
Ia terhuyung ke depan, tak menyadari maut yang luput darinya hanya beberapa senti. Bilah si pembunuh mengayun menghantam udara di tempat ia tadi berdiri, bertemu perlawanan tak kasatmata yang menghentikan lajunya. Sebuah perisai temporal berkilau, rapuh bagai kaca namun tetap kukuh.
Waktu menghantam kembali ke tempatnya dengan daya yang brutal.
Suara kembali dengan raungan yang memekakkan. Bilah itu pecah menghantam perisai, serpihan logam bernyanyi melesat di udara dalam hujan maut. Si pembunuh menjerit, momentumnya menyeretnya menabrak lapak di belakang dengan bunyi benturan keras. Jerit massa meledak, kacau dan melengking, menembus udara.
The Archivist jatuh berlutut, gravitasi mendadak terasa sepuluh kali lebih berat dari sebelumnya. Rasa tembaga membanjiri mulutnya, logam dan pekat. Tangannya gemetar saat ia memaksa dirinya bangkit, sendi-sendinya bergesek seperti roda gigi kering yang kekurangan minyak.
"Jangan bangun." Suara The Claimant membelah kepanikan, rendah dan terkendali. Ia tak mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Matanya menyapu kerumunan, membuntuti si pembunuh yang melarikan diri ke tengah desakan orang. "Mereka mungkin masih mengintai dari balik bayang-bayang."
The Archivist merangkak cepat menuju mulut sebuah gang, kakinya goyah menyangga tubuh. Batu-batu jalan terasa tak rata di bawah sepatunya, tiap langkah menjadi tawar-menawar dengan keseimbangan dan gravitasi. Napasnya datang pendek-pendek, tersengal kasar. Udara berasa ozon dan debu jalanan, berpasir di lidah dan kering di tenggorokan.
Ia menyelinap ke kegelapan gang, punggung menekan batu yang dingin. Dinding itu menyedot hangat dari tulang belakangnya, mendinginkannya sampai ke sumsum. The Claimant menyusul beberapa saat kemudian, jubahnya berputar di sekitar sepatunya ketika ia masuk ke remang. Ia menarik tudung rendah menutupi wajah, melebur dengan bayangan lorong sempit itu.
Keheningan mengendap di antara mereka, berat oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terucap.
Di atas, seiris langit yang terlihat di antara gedung-gedung berubah menjadi biru yang lebih pekat ketika siang meredup. Senja mendekat lebih cepat daripada seharusnya.
"Kau terluka?" Ia menanyakan itu tanpa menoleh padanya, fokusnya tetap pada mulut gang, tangan bertumpu dekat gagang belatinya.
"Tidak." Kata itu keluar serak, menggesek tenggorokannya. "Cuma lelah."
Kebohongan yang diucapkannya untuk melindunginya. Lelah tak menjelaskan ngilu di tulangnya, dalam dan menggema sampai ke sumsum. Tak menjelaskan dingin mendadak yang sama sekali tak ada hubungannya dengan angin di luar.
The Archivist mengangkat tangan ke pelipis. Jemarinya menyapu rambut yang terasa lebih kasar daripada sebelumnya, teksturnya berubah. Ia menarik sehelai ke depan, mata menegang dalam cahaya redup.
Abu-abu. Bukan perak, bukan putih, melainkan abu kusam seperti sisa api yang sudah padam. Satu gurat memanjang dari pelipisnya turun ke arah telinga, mencolok di antara cokelat tua rambutnya yang lain. Garis-garis halus terukir di sekeliling matanya, tampak ketika ia menyipit melawan kelam. Utang itu tertagih seketika, mengambil haknya tanpa ampun. Tiga puluh detik yang dicuri dari masa depan yang takkan pernah sempat ia jalani.
Kulitnya terasa lebih kendur di tangan-tangannya, setipis perkamen dan rapuh saat disentuh. Ia mengepalkan tinju, menyembunyikan gemetar itu dari pandangannya.
The Claimant lalu berbalik, matanya menangkap cahaya samar yang menyusup ke gang. Bintik-bintik ungu memantul di irisnya, berpendar lemah seperti bara di abu yang sekarat. Ia menelaah wajahnya—bukan dengan kekhawatiran, melainkan dengan perhitungan. Seorang pedagang menimbang barang melawan koin.
"Tiga puluh detik," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan fakta.
"Bagaimana kau tahu?"
"Udara bergeser. Tekanan turun di sekitar kita." Ia melangkah lebih dekat, sepatu botnya menggesek lantai tanah. "Aku merasakan perpindahannya. Kau menggunakan pinjaman itu melawan arus."
"Aku tidak punya pilihan."
"Kau selalu punya pilihan. Itulah beban dari kemampuan yang kau miliki." Ia menyelipkan tangan ke dalam jubahnya, mengeluarkan sebuah labu kecil. Logamnya berkilau kusam di dalam bayang-bayang. "Minum."
Ia mengambil labu itu, jemarinya melingkar pada logam dingin. Kehangatan memancar melaluinya, menghangatkan telapak tangannya melawan dingin. Anggur berbumbu beraroma kayu manis dan cengkih, pekat dan manis di udara apek. Ia meneguk sedikit, cairan itu sedikit membakar saat turun. Panas menyebar di dadanya, melawan dingin yang mulai mengendap di sumsum.
"Apakah utang itu memengaruhimu?" Pertanyaan itu terlontar sebelum ia sempat menahannya.
The Claimant terdiam, tangannya melayang di dekat gagang belatinya. "Hanya dalam arti aku kehilanganmu kalau ia mengambil terlalu banyak."
Jawaban telah diberikan, tetapi kebenaran disembunyikan di balik kata-kata. Ia bergantung pada kekuatannya, namun memperlakukan biayanya sebagai variabel logistik yang perlu dikelola. Bukan pengorbanan, melainkan pengeluaran di lembar pembukuan.
The Archivist menurunkan labu itu, mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Abu yang terbawa angin tersangkut di tenggorokannya, membuatnya batuk di dalam kesunyian.
"Kita harus bergerak," katanya. "Gang ini jebakan kalau mereka mengepung kita dari dua sisi."
"Beri aku satu saat."
Ia berbalik menuju sebuah baskom air yang terselip dekat dinding gang, ditinggalkan oleh pembersih jalan. Air keruh memantulkan seiris langit di atas. Ia membungkuk, memercikkan cairan dingin ke wajahnya. Air menetes dari dagunya, meresap ke tuniknya. Kejutan dingin itu membantu menyingkirkan kabut di kepalanya.
Bayangannya menatap balik dari permukaan air. Mata seorang asing memandang keluar, tak dikenal dan menua. Keriput membingkai sudut-sudutnya, cukup dalam untuk menangkap bayang-bayang dan menahannya. Garis kelabu itu mencolok seperti bekas luka di atas rambut gelap. Ia menyentuh garis itu, jemarinya menelusuri tekstur helai yang berubah. Rapuh. Siap patah di bawah tekanan kecil.
The Claimant mengawasi dari bayang-bayang, sunyi dan tak bergerak. Cahaya api dari anglo di dekatnya berkelap-kelip pada dinding, melemparkan bayangannya panjang melintasi tanah. Namun bayangan itu tidak mengikuti kelap-kelip nyala dengan irama yang sama. Ia tetap stabil, tak bergeming, sementara cahaya menari dan bergeser. Wadah tanpa sumber, memerlukan luapan untuk menjaga kepaduannya. Pikiran itu muncul tanpa diminta, tajam dan jernih.
"Kau bisa berjalan?" tanyanya, memecah kesunyian.
"Bisa." Ia menegakkan tubuh, menyeka air dari pipinya dengan lengan baju. "Tunjukkan jalannya."
---
Mereka bergerak lewat gang-gang belakang, menghindari jalan-jalan utama tempat mata bisa menangkap keberadaan mereka. Sampah menumpuk di sudut-sudut, berbau busuk dan kayu basah. Tikus-tikus berlarian menjauh dari sepatu bot mereka, mencicit dalam kegelapan. The Archivist menjaga langkahnya tetap stabil, menolak memperlihatkan kelemahan di kakinya. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pasir, hambatan kian menebal tiap kali ia memaksa maju.
The Claimant bergerak tanpa suara, hantu di dalam muram. Ia memeriksa sudut-sudut sebelum berbelok, tangan selalu siap di gagang senjatanya. Ia menuntunnya menuju sebuah rumah aman—bangunan yang terselip di antara toko roti dan tukang sepatu. Kayunya tampak tua, ternoda bertahun-tahun oleh asap dan hujan. Di dalam, udara berbau semak kering dan debu lama.
The Claimant menyalakan sebuah lampu, nyalanya sempat tersendat sebelum akhirnya menyambar sumbu. Kehangatan menyebar perlahan, mengusir dingin senja. Ia memberi isyarat agar ia duduk di bangku kayu dekat api. Tekstur kayu yang kasar menekan pahanya menembus kain celananya.
"Kita perlu membicarakan implikasinya," katanya, menuangkan air ke dalam cangkir tanah liat. Ia menawarkannya padanya, tetapi ia sendiri tak minum seteguk pun. "Implikasi?"
Ia menerima cangkir itu, kedua tangannya melingkari tanah liat yang hangat. "Aku menyelamatkan nyawamu."
"Kau menyingkap kemampuanmu. Pada mereka, dan padaku." Ia duduk berhadapan dengannya, lutut terbuka, sikapnya santai namun siap. "Sekarang mereka tahu kaulah senjatanya. Bukan aku."
"Aku bukan senjata untuk dipakai."
"Segalanya adalah senjata dalam perang ini. Bahkan waktu itu sendiri." Ia mencondongkan tubuh, cahaya api menangkap sudut-sudut tajam wajahnya. "Peminjaman itu menciptakan gema. Hantu dari momen-momen yang tak pernah terjadi. Yang lain bisa merasakannya. Kau membuat kita terlihat oleh mereka yang memburu."
Uap naik dari cangkir, melingkar di udara seperti asap dari tumpukan pembakaran jenazah. Ia menatapnya hingga buyar, lenyap ke dalam gelap ruangan.
"Aku harus menghentikan bilah itu agar tidak membunuhmu."
"Dan kau melakukannya. Tapi biayanya naik setiap kali digunakan." Ia mengetuk meja, ritmenya ajek. Tik. Tik. Tik. "Lain kali, mungkin semenit. Lalu lima. Sampai kapan ini berakhir, Archivist?"
"Saat utangnya dibayar lunas."
"Dan siapa yang menagih pembayarannya?"
Keheningan memanjang di antara mereka, tegang seperti kulit genderang yang siap pecah. Api berkeretak, semak kering menyusut menjadi bara di perapian. Panas menghangatkan wajahnya, tetapi tangannya tetap dingin meski dekat api.
Ia menatapnya, sungguh-sungguh menatapnya melintasi meja. The Claimant duduk terlalu diam untuk seorang lelaki hidup. Napasnya lambat, mantap, seperti mesin dalam mode siaga alih-alih manusia yang beristirahat. Dadanya nyaris tak terangkat setiap tarikan napas. Detak jantung tak terlihat di bawah kulit.
"Aku akan memantau biayanya," katanya akhirnya. "Kau tak perlu khawatir soal perhitunganku atas waktu."
"Aku khawatir tentang misi. Kau variabel yang tak mampu kukehilangan." Ia berdiri, bergerak ke jendela untuk mengintip melalui celah-celah kisi ke jalan di bawah. "Istirahatlah. Kita bergerak saat fajar."
Ia membelakanginya, perhatiannya terpaku pada dunia di luar.
The Archivist meletakkan cangkir itu di atas bangku. Tanah liat berklik pelan saat bersentuhan dengan kayu di ruangan yang sunyi. Ia merogoh ranselnya, menarik keluar perban linen untuk pergelangan tangannya. Teksturnya yang kasar menggesek ujung jarinya ketika ia melilitkannya pada pergelangan, menyembunyikan urat-urat yang tampak terlalu menonjol di bawah kulit.
Tidur terasa jauh, seperti negeri yang tak bisa ia kunjungi malam ini. Ia berbaring, punggung menempel pada bangku, mata terpejam menahan cahaya. Gelap menekan kelopak matanya, berat dan pekat. Suara-suara kota merembes lewat dinding, teredam dan jauh. Roda gerobak mencicit di jalan. Seekor anjing menggonggong pada bulan. Suara-suara bertengkar tentang sesuatu yang sepele di dekat sana.
*Mahkota berbisik bahwa Cassian adalah wadah tanpa sumber.*
Pikiran itu kembali, tak diundang dan tajam. Ia membuka mata, menatap balok-balok langit-langit di atas. Serat kayu berpilin dalam pola-pola yang mirip peta tanah asing. Aliran noda gelap membelah kayu yang lebih terang, bercabang seperti delta.
The Claimant tetap di dekat jendela, tak bergerak. Seperti patung yang menjaga ambang ruangan. Ia tidak tidur. Ia tidak mengubah posisi. Hanya naik-turunnya bahu yang menandakan ia hidup. Dan bahkan itu pun, bagi mata The Archivist yang lelah, terasa meragukan.
Ia menyentuh lagi guratan kelabu itu. Rambutnya terasa seperti rumput kering, rapuh dan mati. Kulit di sekitar matanya menegang ketika ia berkedip. Tiga puluh detik. Harga kecil untuk sebuah nyawa yang terselamatkan. Namun bunga menumpuk pada utang. Lain kali, utang itu akan menuntut lebih. Bukan hanya rambut, bukan hanya garis-garis di wajahnya. Mungkin ingatan. Mungkin tahun-tahun yang tak sanggup ia kehilangan.
Ada gerakan di sudut.
The Archivist menggeser tubuhnya, mencari posisi yang tidak terlalu membuatnya ngilu. Selimut wol memberinya kenyamanan yang gatal di kulit. Bau lanolin dan asap memenuhi hidungnya. Ia memejamkan mata lagi, memaksa tubuhnya rileks. Otot-ototnya menolak, kencang seperti tali busur yang ditarik terlalu jauh.
"Elara."
Nama itu datang dari bayangan, lembut dan rendah. Ia membuka mata. The Claimant masih menghadap jendela, membelakanginya. Ia tidak menoleh.
"Tadi kau yang bicara?" tanyanya.
"Bukan." Ia tidak bergerak. "Tidur."
Ia tetap berbaring, mendengarkan malam. Angin melolong melewati tulang-tulang batu bangunan itu. Rintihan rendah yang terdengar seperti suara-suara memanggil namanya. Ia memalingkan kepala ke arah bunyi itu.
Tak ada apa-apa selain jalan di bawah. Batu-batu jalan yang kosong berkilau di bawah cahaya bulan.
Namun perasaan itu tetap tinggal. Mata-mata mengawasi dari kegelapan di luar. Bukan The Claimant. Seseorang yang sama sekali lain.
Ia duduk perlahan, otot-ototnya memprotes. Persendiannya berkeretek, keras di kesunyian ruangan. The Claimant menoleh saat itu juga, matanya berkilat dalam cahaya redup.
"Istirahat," perintahnya. Suaranya tak memberi ruang untuk bantahan.
"Aku mendengar sesuatu di luar."
"Suara kota. Tidak lebih."
Ia berjalan menghampirinya, berhenti di kaki bangku. Tingginya yang menjulang menjatuhkan bayangan menutupi tubuhnya. "Kau kelelahan. Pinjaman itu memengaruhi persepsi."
"Mungkin." Ia tidak berbaring lagi. "Atau mungkin utang itu menarik lebih dari sekadar penuaan."
Ia mengamatinya lama sekali, tatapannya tajam. Lalu ia mengangguk, sekali, sebagai pengakuan.
"Jaga belatimu dekat."
Ia kembali ke jendela. Membelakangi. Penjagaan dilanjutkan.
The Archivist meraih ranselnya, jari-jarinya menggenggam gagang pisaunya. Baja terasa dingin, menenteramkan dalam genggamannya. Ia menyelipkannya di bawah selimut, dalam jangkauan mudah. Logam menekan pinggulnya, bobot dingin melawan hangatnya api.
Tidur akhirnya datang, gelisah dan dangkal. Mimpi-mimpi dipenuhi jam yang berdetak mundur. Tangan-tangan meraih keluar dari cermin, menariknya masuk ke kaca. Ia terjaga dengan tersentak, jantungnya memalu tulang rusuk. Keringat mendingin di kulitnya, membuatnya menggigil di kamar yang berangin. Api telah menyusut menjadi bara, pijarnya berdenyut lemah, seperti detak jantung yang sekarat.
The Claimant masih berdiri di dekat jendela. Posisi yang sama seperti sebelumnya. Kebekuan yang sama seperti malam. Cahaya fajar merembes lewat kisi-kisi, kelabu dan lemah.
Ia duduk, selimut melorot. Kekakuan menyambut tiap gerakan. Punggungnya memprotes. Lehernya berkeretak sakit. Ia berdiri, berjalan ke arah baskom untuk membasuh diri. Ia membungkuk, menyiram wajahnya. Sengatan dingin membangunkannya sepenuhnya.
Bayangannya menunjukkan kebenaran. Guratan kelabu itu tampak lebih gelap di bawah cahaya siang. Garis-garis di sekitar matanya lebih dalam, lebih kentara. Ia tampak sepuluh tahun lebih tua daripada kemarin. Dua puluh, barangkali, dalam rentang satu malam. Waktu tak lagi linear baginya. Ia adalah mata uang yang dihabiskan dalam bongkah-bongkah hidup.
The Claimant berpaling dari jendela. "Kita berangkat sepuluh menit lagi."
"Kita mau ke mana?"
"Arsip. Kita perlu memverifikasi catatan pajak." Ia bergerak menuju pintu, tangan pada kaitnya. "Pembunuh bayaran itu sebuah pesan. Seseorang tahu apa yang mampu kau lakukan."
"Dan mereka ingin aku mati karenanya."
"Atau mereka ingin kau dihentikan sebelum bertindak." Ia membuka pintu. Udara dingin menerjang masuk, berbau hujan dan batu basah. "Ada bedanya."
Ia melangkah keluar ke jalan. The Archivist menyusul, menarik jubahnya rapat-rapat. Angin menggigit wajahnya yang terbuka. Ia menyentuh guratan kelabu itu untuk terakhir kalinya, menyembunyikannya di bawah tudung.
Jalanan terbentang kosong. Tak ada gerobak. Tak ada pedagang. Hanya keheningan dan bayang-bayang yang menunggu.
Ia berjalan di sisi The Claimant, langkahnya menyesuaikan iramanya. Seekor burung menjerit di atas kepala, suaranya tajam dan mendadak. Ia mendongak. Langit tetap cerah. Tak tampak burung.
"Kau dengar itu?" tanyanya.
"Dengar apa?" Ia tidak mendongak.
"Tak apa." Ia terus berjalan.
Namun rasa diawasi kian kuat. Bukan dari jalanan di bawah. Dari bangunan-bangunan yang berderet di sepanjang jalan. Jendela-jendela menatap turun seperti rongga mata kosong.
The Archivist mengencangkan genggaman pada tali ranselnya. Di dalam, jurnal itu menunggu. Halaman-halamannya dipenuhi catatan tentang waktu dan utang. Kebenaran yang ditulis dengan tinta yang tak bisa dihapus. Ia akan membutuhkannya segera. Utang itu segera jatuh tempo, dan ia tak yakin masih punya cukup untuk membayar.
The Claimant berhenti di sebuah sudut, tangan terangkat. Ia mendengarkan, kepala dimiringkan ke samping. Angin membawa bunyi dari tikungan. Langkah kaki. Banyak.
"Penyergapan," bisiknya. "Atau rombongan penyambut."
Ia bergerak ke sisi pria itu, tangan melayang ke gagang belatinya. "Ke arah mana?"
"Kiri. Masuk ke pasar lagi."
"Ke dalam kerumunan?"
"Tempat terbaik untuk bersembunyi." Ia menatapnya, mata serius. "Tetap dekat. Jangan meminjam kecuali aku menyuruhmu."
"Kenapa?"
"Karena aku perlu tahu apa yang masih kau punya untuk diberikan." Ia melangkah keluar ke jalan. "Waktu kita hampir habis."
The Archivist mengikuti. Hiruk-pikuk orang memuncak saat mereka memasuki alun-alun pasar. Bau roti dan ikan bercampur dengan aroma hujan. Orang-orang berdesakan, tak menyadari bahaya yang berjalan di antara mereka. Ia menundukkan kepala, tudung ditarik rendah.
Namun tatapan-tatapan itu tetap terpaku padanya. Ia merasakannya. Mengawasi. Menunggu kesalahan berikutnya. Peminjaman waktu berikutnya. Sepotong masa depannya berikutnya yang akan dipahat pergi.
Ia menyentuh gurat abu-abu di bawah tudungnya. Saat menarik tangannya, sehelai rambut terlepas ikut terbawa. Ia membiarkannya jatuh, menatapnya lenyap ke dalam kerumunan. Sepotong kecil hidupnya, hilang terbawa angin.
The Claimant menoleh. Melihat tangannya. Melihat rambut itu jatuh. Ia tidak mengatakan apa-apa.
Mereka bergerak semakin jauh ke dalam pasar. Menuju Arsip. Menuju kebenaran. Menuju ujung jalan.
Namun jalan itu tidak sedang berakhir. Ia bercabang menjadi jalur-jalur. Dan ia tidak yakin jalur mana yang mengarah pada keselamatan.
Sebuah bayangan melepaskan diri dari dinding di depan. Bukan pembunuh. Sesuatu yang lain. Lebih tinggi. Berselubung kegelapan yang tidak serasi dengan cahaya. Ia mengangkat tangan perlahan dan menunjuk tepat ke arahnya.
The Claimant membeku. "Jangan menatap itu."
"Apa itu?" tanyanya.
"Seorang penagih." Ia mencabut belatinya. "Lari."
The Archivist tidak perlu disuruh dua kali. Ia berbalik dan lari, telapak kaki menghantam batu-batu jalan. Kerumunan menyingkir di depannya, berteriak kebingungan. Jantungnya menghantam tulang rusuknya, perih dan cepat.
Di belakangnya, bayangan itu bergerak. Bukan berjalan. Meluncur. Tanpa suara. Cepat.
Ia tidak menoleh. Ia tak bisa menoleh.
Utang itu menanti. Dan kini, begitu pula sang penagih.