Membaca

Bab 2: Ritual Pagi yang Membeku

Tiga hari setelah upacara yang gagal itu, Naru kembali ke kolam suci. Dingin. Itu yang pertama kali meretas kesadarannya saat ujung jarinya menembus permukaan air. Pagi ini lebih tajam dari biasanya; air mencengkeram kulit dengan gigil es yang mencair pelan, jauh berbeda dari kelembutan belai yang biasa membasahi awal musim tanam. Di dalam dada, napas tertahan sesaat sebelum dihembaskan pelan, membentuk awan putih tipis yang segera buyar di udara pagi. Naru kembali menekan kain kasar yang sudah ia basahi ke punggung kura-kura langit yang mengapung tenang di sana. Cangkang itu terasa kusam dan penuh sejarah, tertutup lapisan lumut halus yang licin bagaikan belut saat gesekan sikatnya mulai bekerja. Gerakannya ritmis, terukur, namun matanya tak henti menoleh ke tepian kolam. Sejak malam upacara itu—malam ketika kura-kura menolak sesaji tetua dan justru menunjukkan pola aneh di cangkangnya kepada Naru—rumpun padi yang sakit bertambah banyak. Kini bukan hanya satu petak, melainkan tiga petak yang menguning dan menggulung layu, persis seperti orang sakit demam yang kehilangan darah. "Perlahan, Kakek... sepertinya airnya terlalu dingin hari ini," bisik Naru pelan, suaranya hampir tenggelam di antara dengung katak yang mulai bangun. Langkah berat terdengar berderit di jalan setapak di belakangnya. Seorang laki-laki tua berjalan pincang melintas, memikul keranjang bambu berisi daun pisang kering yang bau anyirnya menyeruak hidup. Pandangan lelaki itu menyapu sekilas ke arah Naru, lalu tertahan pada rumpun padi yang sedang Naru perhatikan dengan wajah cemas. "Eh, Naru. Jangan keki terus merisaukan rumpun pinggiran itu," ujar si tua tua sambil menghentikan langkah, menopang berat badannya yang membungkuk pada tongkat kayu berurat. "Dulu juga pernah begini. Musim kadang manja, Nak. Butuh waktu supaya panas matahari mengecup tanamannya dengan benar." Naru menghentikan sikatannya. Tangan itu menggantung di atas air, menetes. "Tapi, Pak. Daunnya menguning dari pangkal. Bukan karena kepanasan. Seperti... akarnya susah minum." Si tua tertawa renyah, suaranya berkerok bagaikan daun kering terinjak sepatu. "Kau ini, Nak. Terlalu sering mengintip catatan ibumu yang soal tanam. Alam punya nadanya sendiri. Biarkan saja. Kalau memang layu, kita ganti dengan benih baru. Fokus saja pada tugasmu membersihkan Kakek Gurita di situ. Jangan sampai Roh Janggala marah karena kolamnya kotor." Naru menunduk, menatap bayangannya sendiri di air yang mulai bergerak. "Iya, Pak." Kata-katanya terasa meluncur dan tenggelam cepat, seperti kerikil kecil yang dilempar ke danau dalam. Si tua melanjutkan langkahnya, meninggalkan Naru dengan rasa cemas yang kini terasa lebih berat menekan tulang bongkol. Air kolam yang semula dingin menyegarkan tiba-tiba terasa membeku jantung. Ia menatap cangkang kura-kura yang kini bersih sebagian, retakan-retakan di sana tampak seperti jaringan laba-laba yang sedang menunggu mangsa. Apakah ini juga hanya bagian dari 'musim yang manja', atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang membusuk perlahan di tanah mereka? *** Suara gong bambu yang memekak telinga membelah keheningan siang, memanggil semua warga menuju balai desa untuk musyawarah lanjutan. Udara di dalam balai itu pengap, sesak, dan bercampur dengan bau aneh yang menyakitkan hidung—aroma keringat orang banyak yang ketakutan, asap dupa tebal yang membakar ruas-ruas paru-paru, dan bau anyaman bambu tua yang lembap dan usang. Naru duduk meringkuk di pinggir lingkaran rapat, di lantai tikar yang terasa kasar menjalar di sela-sela celah jari kaki. Ia memeluk lutut, merasa dirinya mengecil di antara tubuh-tubuh tegap para tetua dan petani yang sedang berdebat panas dengan suara berat. Di tengah lingkaran itu, Pak Raka Suryaningrat berdiri dengan postur yang dipaksa tegar, namun jempol kakinya yang bergetar pelan di atas lantai bambu mengkhianati kegelisahan yang ia coba sembunyikan. Terhampar di hadapannya seikat padi yang busuk, daunnya menghitam dan berlendir, diletakkan di atas nampan bambu seperti mayat yang harus diautopsi segera. Keadaan sudah jauh lebih buruk dibanding rapat terakhir. "Ini bukan sekadar penyakit biasa, Saudara-saudara," kata Pak Raka, suaranya rendah dan berat, berputar-putar mencari alur yang tepat di tengah ketegangan. "Sesaji tambahan yang kita berikan tiga hari lalu tidak mengubah apa pun. Hewan-hewan di hutan mulai gelisah. Rusa-rusa turun ke tepi danau, mencari makan rumput yang seharusnya bukan makanan mereka. Tanda-tandanya jelas. Dewan Tetua sedang... menunggu sesuatu dari kita." Suara desis setuju mengalir deras di ruangan itu, namun Naru merasakan gelombang ketakutan yang berbeda menghantam dadanya. Ia menatap padi busuk itu dengan ngeri. Di atas bau anyir busuk yang menusuk tulang hidung, bercampur dengan wangi dupa yang terlalu manis, tercipta bau yang asing, memual, dan penuh ancaman. "Pak Raka," ujar salah satu petani, suaranya serak karena menahan batuk. "Kalau begitu, apa yang harus kita tambahkan? Ayam? Beras merah? Atau... mungkin kita harus mengadakan upacara tolak bala di tepi hutan?" Pak Raka mengangkat tangan, menenangkan gelombang panik yang mulai naik. "Semua itu akan kita bicarakan pelan-pelan. Tapi ingat, Nak. Di luar kita tidak boleh terburu-buru menawar pada roh. Kita harus lihat dulu apa yang kurang dari bakti kita." Naru menelan ludah kasar. Tenggorokannya terasa kering, berpasir. Ia melihat Ina Mardea yang duduk tidak jauh darinya; nenek itu sedang asik melipat ujung kain tenunannya, matanya menyipit tajam mengamati Pak Raka seperti elang memperhatikan tikus. Ina mendengus pelan, suaranya hampir tertelan oleh gemuruh suara orang-orang yang mulai saling bersahutan tentang jenis sesaji dan harganya. "Ai, macam mana pula ini?" bisik Ina pada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk didengar telinga Naru yang sensitif. "Mikirnya cuma perut roh doang. Padahal lihat saja akarnya, sudah busuk di dalam tanah." Komentar itu seperti menyalakan api kecil di hati Naru, membakar rasa ragu. Ia melihat celah di percakapan saat Pak Raka berhenti sejenak untuk minum teh dari cangkir tempurung yang retak. Naru menegakkan badan, jantungnya berdegup kencang seperti burung yang terkejut dalam sangkar, menabrak kawat besi. "Pak." Suara Naru terdengar putus di tengah keramaian, membuat beberapa kepala berpaling. Kali ini ia menunduk lagi, malu, tapi kemudian menguatkan niatnya dengan menggenggam celana. "Pak Raka. Mungkin... mungkin bukan soal sesaji." Mata di ruangan itu berpindah kepadanya serentak. Pandangan itu terasa berat, seperti batu yang dilempar bertubi-tubi ke arah wajahnya. Pak Raka menoleh, alisnya terangkat, terkejut mendengar suara lantang dari pojok ruangan yang seharusnya sunyi. "Naru?" tanya Pak Raka, nada suaranya campur bingung dan menasihati. "Ada apa, Nak?" Naru menggosok telapak tangannya yang berkeringat ke celana, meninggalkan jejak basah di kain. "Tadi pagi saya cek parit di belakang kolam. Airnya... airnya berhenti mengalir, Pak. Seperti tersumbat lumpur tebal. Kalau air tidak sampai ke akar, sesaji apapun tidak akan membuat padi itu hidup lagi. Mungkin kita perlu membersihkan saluran air dulu sebelum..." "Nak Penjaga Kolam," potong seorang tetua lain yang duduk di sebelah Pak Raka, suaranya halus namun menusuk seperti silet tumpul. "Urusan air dan hujan itu wilayah Dewan Totem. Kalau air berhenti mengalir, berarti roh penjaga sungai sedang tidur. Kita tidak bisa sekadar menyodok lumpur dengan cangkul sembarangan. Itu bisa dianggap melanggar batas." Tapi bukan kata-kata tetua itu yang membuat Naru terdiam. Yang membuatnya menutup mulut rapat-rapat adalah tatapan Pak Raka. Bukan tatapan marah, melainkan tatapan sayang yang mengecilkan, yang meremehkan. Tatapan yang berkata tanpa suara, *Duduklah, Nak. Biarkan orang dewasa yang bekerja. Kamu hanya anak-anak.* "Biarkan saja, Pak," sapa Pak Raka akhirnya, menepuk bahu Naru pelan dari kejauhan dengan tangan yang hangat. "Naru masih muda. Dia hanya melihat apa yang ada di depan matanya, belum mengerti apa yang ada di balik tabir itu. Kita lanjutkan, Saudara-saudara. Seperti tadi, kita sepakat untuk menambah sesaji ayam jago hitam tiga ekor malam ini, bukan?" Naru merasakan panas menjalar dari leher ke wajahnya. Ia menunduk dalam-dalam, merasa seolah-olah lehernya sedang ditekuk paksa oleh tangan tak terlihat. Suara-suara di balai kembali ramai, membahas harga ayam dan jenis dupa, menyisakan Naru sendirian di pojok dengan rasa malu yang getir seperti daun pahit dikunyah lidah. Di seberang lingkaran, ia melihat ibunya, Bu Sari, menatapnya dengan mata sayang namun penuh penegasan diam. *Jangan memaksa,* tatapan itu berkata lembut. *Biarkan arus mengalir.* *** Udara di dalam balai terasa sesak, seperti ada tali yang ditarik pelan dari arah berlawanan di leher Naru. Dada terasa terkunci. Ia butuh napas. Ia butuh keluar. Dengan alasan mengambil air kendi dari dapur, Naru menyelinap keluar dari pintu belakang, menghindari pandangan orang-orang yang sibuk berdebat. Cahaya matahari siang menyambutnya dengan hangat yang menusuk tulang, kontras tajam dengan kesejukan bayang-bayang yang pengap di dalam balai. Ia berjalan sedikit terpincang menuju halaman belakang, tempat kandang ayam dan anjing tua desa biasa berbaring mencari tempat teduh. Di sana, seekor anjing berbulu coklat kusam, Si Tua, sedang terbaring melungset di bawah pohon rambutan yang rindang. Anjing itu membuka satu mata saat mendengar langkah kaki Naru yang menghampir, lalu mengibaskan ekunya pelan, memukul-mukul tanah berdebu sebagai sapaan. Naru duduk bersandar di dinding kandang ayam, menghela napas panjang. Di sampingnya, ada baki bambu berisi kue beras yang seharusnya dibawa masuk ke dalam untuk sesaji nanti. Bau manis gula merah dari kue itu menggodanya dengan tajam. Perutnya berkerut lapar, sarapan paginya hanya nasi dingin sedikit yang tertinggal. "Hai, Kawan," gumam Naru, mengulurkan tangan mengelus kepala Si Tua. Bulu anjing itu hangat dan kasar, penuh debu halus, namun sentuhan itu menenangkan saraf yang tegang. Si Tua mendekat, menjulurkan lidah berdaki menjilat telapak tangan Naru yang asin keringat. Naru tertawa pelan, nada yang lebih ringan dari tadi. "Dasar lapar. Sama seperti aku." Tanpa berpikir panjang, ia mengambil satu kue beras dari baki, merasa bersalah sejenak karena mengurangi porsi roh, tapi rasa lapar mengalahkan segala macam rasa hormat sesaat. Kue itu renyah di luar, lembut dan lengket di dalam. Ia memecahnya menjadi dua, lalu melempar sebagian ke arah Si Tua. "Untukmu. Jangan bilang-bilang ya sama Roh Janggala." Si Tua menangkap kue itu dengan lahap, suara remahnya berkeriutan pelan di antara gonggongan pendek. Ayam-ayam yang sedang bertelur di dalam kandang mulai berkokok tidak semangat, paruh-paruh mereka menusuk sela-sela bambu, ingin ikut serta. Naru berdiri, mengambil remah-remah kue lain, dan menyebarkannya di tanah berdebu. "Ayo, bagi rata. Kalau di dalam cuma orang dewasa yang ngomong, di sini kita yang berkuasa," goda Naru pada ayam-ayam itu yang berebut. "Kalian juga tahu kan, kalau padi sakit, kalian juga kelaparan. Atau kalian mau makan sesaji dupa saja?" Ayam-ayam itu berebut, suara paruh mematuk tanah terdengar ritmis dan menenangkan, seperti ketukan jantung yang kembali normal. Naru memejamkan mata sejenak, membiarkan hangatnya matahari siang menyerap ke punggung baju katunnya yang tipis. Untuk beberapa saat, dunia tidak serumit balai rapat yang berasap. Tidak ada hirarki, tidak ada tetua yang menatap rendah, tidak ada Dewan Totem yang dingin dan jauh. Hanya dia, anjing, ayam, dan kue beras. Dunia yang sederhana, di mana rasa lapar bisa diobati dengan remahan, dan persahabatan tidak butuh basa-basi atau protokol. "Naru!" Panggilan itu membuyarkan ketenangannya. Bu Sari berdiri di pintu dapur, menatapnya dengan tangan yang masih menutupi mulut dari kagetan, namun matanya berbinar melihat pemandangan anaknya sedang memberi makan hewan peliharaan desa. "Ibu," panggil Naru, buru-bur mengelap mulutnya dari sisa kue. Bu Sari mendekat, langkahnya pelan seperti tidak mau mengusik momen privasi anaknya. Ia duduk di batu di samping Naru, mengatur kainnya. "Kau lari keluar. Rapatnya bikin pusing ya?" Naru mengangguk, tidak sanggup berbohong pada ibunya sendiri. "Saya merasa... tidak bisa bernapas, Bu. Mereka semua bicara soal roh, soal sesaji. Tapi padi di luar sana terus mati. Saya cuma mau bilang soal air, tapi..." "Kalau airnya sabar, Nak, batu pun bisa berlubang," ujar Bu Sari pelan, merangkul bahu Naru dengan erat. "Tapi kalau airnya dipaksa mengalir deras saat saluran tersumbat, yang ada justru tanggul yang jebol. Pak Raka dan tetua yang lain... mereka sedang takut. Orang yang takut biasanya berpegangan pada apa yang mereka kenal, bukan mencari jalan baru." "Tapi kita kan tidak bisa cuma menunggu," desak Naru, suaranya sedikit naik nada, frustrasi. "Kita tidak menunggu," kata Bu Sari, menatap kandang ayam yang bising. "Kau membersihkan kolam. Di bawah kau mengamati padi. Kau memberi makan anjing. Itu juga cara menjaga desa, Nak. Mungkin caranya beda dengan cara mereka di balai, tapi bukan berarti tidak berguna." Bu Sari mengambil sisa kue di tangan Naru dan memakannya sendiri, lalu tertawa kecil, meneteskan remah di baju. "Kue ini enak. Roh mana pun pasti suka. Ayo, masuk lagi. Air kendi di dapur sudah siap. Kau antar, lalu... sekali lagi kau boleh kembali ke sini kalau mau. Jangan terlalu lama terkurung di dalam." Naru melihat ibunya kembali ke dapur dengan pinggul yang bergoyang pelan. Rasa sesak di dadanya berkurang, meski tidak hilang sepenuhnya. Ia melihat ke arah Si Tua yang sedang menjilat sisa kue di kaki-kakinya. "Kau dengar itu, Tua? Ibu bilang kita juga jaga desa," bisik Naru pada anjing itu. Si Tua hanya menggonggong pendek, sepakat, lalu kembali tidur. *** Langit senja mulai memerah, memantul warna darah segar di permukaan kolam suci yang tenang. Rapat telah usai, dan keputusan final telah dijatuhkan: sesaji tambahan malam ini. Naru berdiri di tepi kolam, memegang nampan berisi bunga kenanga yang wangi menyengat dan nasi tumpeng kecil. Dengan hati yang masih mengganjal, ia meletakkan sesaji itu di atas batu altar kecil di pinggir kolam. Bau bunga yang harum itu bertentangan dengan bau lumpur dan air yang mulai dingin kembali, menciptakan aroma kontras yang aneh. Ia berjongkok, menatap ke dalam air yang jernih namun dalam. Kura-kura langit itu muncul perlahan dari kedalaman kegelapan. Kepalanya yang penuh keriput tua menembus permukaan, mata kecilnya menatap Naru tanpa berkedip, penuh kebijaksanaan kuno. Hewan itu tidak memakan sesaji. Ia hanya mengapung diam, cangkangnya yang retak terpapar di bawah cahaya senja yang semakin redup. Naru mengulurkan tangan, menyentuh pinggir cangkang itu dengan gemetar. "Kakekian sudah mendengar mereka di balai, ya?" bisiknya, suaranya bergetar pelan. "Mereka akan memberi ini semua. Bunga, nasi, ayam. Apakah itu akan membuat daun padi itu hijau lagi?" Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian. Hanya saja, untuk sesaat, Naru merasa cangkang di bawah tangannya berdenyut pelan. Bukan denyut jantung makhluk hidup, tapi seperti getaran tanah saat gempur kecil. Retakan-retakan di cangkang itu, yang biasanya terlihat acak seperti kaca pecah, tiba-tiba terasa... hidup. Seolah memiliki urutan tertentu. Seperti pola tenun yang Ina buat, atau seperti aliran sungai yang sedang mencari jalan ke laut. Kecurigaan yang tadi muncul di balai kini tumbuh lebih kuat. Kalau sesaji saja cukup, mengapa kura-kura ini tidak memakannya? Mengapa matanya menatap Naru seolah menunggu sesuatu yang lain? Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan bunga atau nasi. "Kalau bukan sesaji... lalu apa?" gumam Naru, pelan sekali, hampir tak terdengar. Kelelahan setelah hari yang panjang mulai menyerang tubuhnya. Mata Naru terasa berat, kelopaknya seperti ditarik timah. Ia bersandar pada batu besar di tepi kolam, membiarkan suara serangga malam yang mulai berdengung menjadi nyanyian pengantar tidur yang monoton. Udara dingin menempel di lehernya, menusuk pori-pori, namun ia terlalu lelah untuk menggigil. Dalam keadaan setengah sadar, pandangannya kabur, berbayang. Ia melihat cangkang kura-kura itu sekilas lagi. Tapi kali ini, bayangan di matanya berbeda. Retakan-retakan hitam di cangkang itu bergerak. Mereka meliuk, memanjang, dan menyambung satu sama lain, membentuk garis-garis putih yang menyala di kegelapan pikirannya. Pola itu familiar. Naru mengerjap-erjapkan mata, mencoba menangkap fokus yang kabur. Garis-garis itu berpotongan, membentuk kotak-kotak kecil yang tersusun rapi. Beberapa kotak terisi garis miring, yang lain kosong. Itu mirip... hamparan sawah jika dilihat dari atas bukit. Atau mungkin mirip pola anyaman tikar yang ia duduki tadi siang, namun lebih rumit. "Seperti... peta," bisik Naru dalam mimpi. Ia mencoba menghafalnya dengan keras. Kotak di sini kosong, artinya tanah kering. Garis melingkar di sini, artinya sumber air. Garis lurus panjang, itu jarak tanam. Pola itu kompleks, namun logis. Seperti sebuah teka-teki yang sedang membuka kuncinya sendiri pelan-pelan. Tapi begitu ia ingin fokus lebih dalam, suara kayu balai ditutup keras terdengar jauh di kejauhan, menariknya kembali ke kesadaran penuh dengan kaget. Naru terbangun dengan reflek, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap ke dalam kolam. Airnya tenang kembali, gelap. Kura-kura itu hanya cangkang tua yang kusam, retakan acak tanpa makna di bawah permukaan hitam pekat. Tidak ada garis menyala. Tidak ada peta. Hanya air danau yang diam dan menakutkan. Naru memegang kepalanya, pusing. Apakah ia hanya bermimpi? Ataukah ia hampir melihat sesuatu yang nyata tapi tersembunyi? Ia menatap jemarinya, seolah-olah jejak pola itu masih menempel di sana. Bayangan pola itu masih menempel di pelupuk matanya, memudar seperti bekas ombak di pasir yang kering. Dalam hati, sebuah pertanyaan muncul, lebih kuat dari rasa takutnya pada tetua atau Dewan Totem. Jika bukan tetua dan bukan Dewan Totem yang menunjukkan pola itu... siapa yang sedang mengajarinya? Dan untuk apa?

⚙️ Pengaturan Baca

18px
1.8