Debu dan tembaga tua. Rumah persembunyian itu berbau menyengat oleh keduanya. Elara menekan bahunya ke dinding batu lorong timur, menghitung detak jantung sampai bunyi pengejaran memudar menjadi hampa. Tiga hari berlari. Tiga hari menguraikan rahasia-rahasia Mahkota sementara tangannya gemetar dan penglihatannya buram di tepinya. Tiga hari menghindari satu hal yang tak bisa ia tinggalkan lari.
Dirinya sendiri.
Cassian pergi memeriksa perimeter—sifatnya yang tak pernah tidur membuatnya berguna untuk tugas semacam itu, meski Elara curiga ia juga butuh jarak dari apa yang telah mereka ketahui. Takhta itu melahap. Panteon tidak meninggalkan posisi mereka. Mereka telah ditelan. Setiap pengungkapan membawa beban, dan beban itu menghancurkan mereka berdua.
Ia mendorong tubuhnya menjauh dari dinding. Kakinya nyeri oleh letih yang merasuk sampai ke tulang, letih yang tak bisa disembuhkan oleh istirahat sebanyak apa pun. Utang temporal terus menumpuk, bunganya berlipat ganda dalam daging dan darah dan tahun-tahun yang belum sempat ia jalani.
Ruang cuci berada di ujung koridor sempit. Air. Ia membutuhkan air. Butuh membersihkan kotoran pelarian dari kulitnya, merasakan bersih meski hanya sesaat.
Cermin perunggu tergantung di atas baskom seperti hakim yang bisu.
Elara menghindari permukaan yang memantulkan sejak ruang bawah tanah. Ia sempat menangkap kilasan—bayang-bayang pinggiran yang tak cocok dengan ingatannya, kesan bahwa ada yang keliru pada tegak bahunya atau jatuh rambutnya. Namun ia tidak menatap. Tidak sungguh-sungguh.
Cahaya kelabu menjelang fajar menyusup lewat retakan di batu. Cahaya itu jatuh melintasi permukaan perunggu, menerangi apa yang selama ini ia menolak untuk lihat.
Tangannya terangkat tanpa sadar. Jemarinya menyentuh bingkai logam yang dingin.
Wajah yang menatap balik bukanlah wajah yang ia bawa masuk ke ruang bawah tanah.
Kelabu menyusup di rambut yang tiga hari lalu hitam pekat seperti tinta. Perak menjalar dari pelipisnya seperti embun beku merambat di kaca jendela, menyebar dalam guratan menuju puncak kepalanya. Garis-garis mengukir kulit di sekitar matanya—mata yang telah melihat terlalu banyak masa depan, masa depan yang tak akan pernah ia jalani karena ia telah menghabiskannya demi bertahan hidup.
"Itu bukan—"
Suaranya pecah. Ruangan itu menelan kata-katanya.
Ia menempelkan telapak tangannya rata pada perunggu, melihat bayangannya melakukan hal yang sama. Dingin merembes ke kulitnya. Perlahan-lahan perempuan di cermin meniru gerak itu, dan Elara merasakan jarak di antara mereka runtuh. Tidak ada mereka. Hanya dirinya. Hanya wajah pinjaman ini yang mengenakan ekspresinya seperti topeng.
"Lima menit." Ia menghitung dengan jari-jari gemetar. "Tiga puluh detik. Tiga menit."
Perhitungan. Ia harus menghitungnya. Harus memahami matematika dari pencurian yang ia lakukan sendiri. Lima menit untuk memecahkan enkripsi Mahkota. Tiga puluh detik untuk menghindari bilah beracun. Tiga menit untuk lolos dari ruang bawah tanah ketika bangsal-bangsal temporal runtuh mengurung mereka.
Setiap peminjaman telah mengukir dirinya ke dalam dagingnya dengan presisi bedah.
"Berapa tahun itu?"
Cermin tidak memberi jawaban. Namun tubuhnya telah menghitung jumlahnya dengan satu-satunya mata uang yang ia kenal.
Ia condong lebih dekat. Garis-garis di sekitar mulutnya menguat. Kulit di bawah rahangnya mengendur. Kapan itu terjadi? Kapan ia menjadi orang asing ini, yang mengenakan ekspresi duka ibunya?
Gaung temporal berkelebat di tepi penglihatannya. Cahaya gaib berdenyut di sisi pantulannya—bukan di cermin, melainkan di udara itu sendiri. Ia mendengar suaranya sendiri tertawa dari masa depan yang takkan pernah ia huni. Terang dan ceroboh, tawa seorang perempuan yang belum juga belajar harga dari meminjam.
Elara berputar.
Gaung itu memudar, menyisakan hanya dinding batu yang lembap dan bayang-bayang suatu bunyi.
"Elara."
Cassian berdiri di ambang pintu. Wajahnya mengendur. Topeng terkendali yang ia kenakan bak zirah retak, dan ia melihat keterkejutan itu tercatat dalam kebekuan mendadak tubuhnya. Pandangannya bergerak dari rambutnya ke wajahnya ke tangannya, mendata perubahan-perubahan itu dengan ketelitian seorang cendekia yang memeriksa naskah rusak.
Ia menunggu perhitungan itu. Momen ketika ia menimbang kegunaan dirinya yang tersisa melawan biaya yang sudah ia bayar. Ia pernah melihatnya membuat penilaian semacam itu sebelumnya—saat memutuskan informan mana yang harus dikorbankan, aliansi mana yang harus dikejar, kebenaran mana yang harus diucapkan dan mana yang harus ditahan.
Ia melintasi ruangan itu dalam tiga langkah.
Lengannya menutup tubuh Elara sebelum Elara sempat menghindar. Ia menarik Elara ke dadanya, satu tangan menyangga belakang kepala Elara, jari-jarinya tersangkut di rambut berurat abu-abu yang belum juga Elara pelajari untuk diterima.
"Aku melihatmu." Suaranya serak. Tanpa penjagaan. Jauh dari nada terukur yang ia pakai dalam negosiasi. "Aku melihatmu, Elara. Bukan tahun-tahunnya. Bukan biayanya." Napasnya bergetar di pelipis Elara. "Kau."
Elara berdiri kaku dalam pelukannya. Tenunan kasar jubah perjalanannya menggesek pipi Elara. Ia berbau asap dan udara musim dingin dan sesuatu di bawahnya yang sekadar dirinya—hangat dan kokoh dan tak terduga nyata.
"Kalau begitu, kau satu-satunya."
Kata-kata itu lepas sebelum sempat ia tahan. Suaranya bergetar pada tiap suku kata.
Cassian tidak melepaskannya. Kalau pun ada, cengkeramannya menguat, seolah-olah ia bisa menyatukan Elara lewat semata-mata kekuatan kehendak. Seolah tahun-tahun yang hilang dari Elara adalah sesuatu yang bisa ia kembalikan kalau saja ia bertahan cukup erat.
"Aku mendengar gaung." Pengakuannya keluar pelan, dibisikkan ke rambut Elara. "Di koridor. Suaramu, tertawa. Versi masa depan dirimu yang sudah tidak ada lagi."
Elara memejamkan mata. Gaung temporal itu merembes menembus. Bukan hanya untuknya lagi—orangan lain kini bisa merasakannya. Hutangnya membesar, dan bunganya menumpah ke dunia.
"Ini makin buruk."
"Aku tahu."
Tangannya berpindah dari rambut Elara ke bahunya, meneguhkannya. Ia mundur sedikit saja, cukup untuk menatap wajah Elara. Mata gelap itu menyimpan sesuatu yang tak mampu Elara namai—mungkin duka, atau rasa bersalah, atau bobot mengerikan dari mengetahui bahwa pencariannya telah menuntut harga ini dari daging Elara.
"Tiga hari." Ia menelusuri garis di sisi mulut Elara dengan ibu jarinya. "Tiga hari, dan kau menua satu dekade."
"Lima menit." Ia mendengar nada defensif dalam suaranya sendiri dan membencinya. "Lima menit demi Mahkota. Enkripsinya berlapis-lapis. Aku harus mengurai satu per satu sebelum—"
"Aku tahu apa yang kau lakukan." Rahangnya mengeras. "Aku ada di sana."
"Kalau begitu kau tahu itu perlu."
Kata itu menggantung di antara mereka. Perlu. Seolah-olah kebutuhan bisa membatalkan apa yang sudah dilakukan. Seolah-olah takhta, Mahkota, seluruh perang suksesi membenarkan pencurian tahun-tahun dari sebuah hidup yang bahkan belum sempat dijalani.
"Perlu, ya?"
Ia menarik diri. Lengan-lengannya terlepas darinya, dan lenyapnya kehangatannya terasa seperti pencurian kedua.
"Kau maunya aku apa? Meninggalkan Mahkota? Membiarkan yang lain menemukannya lebih dulu?"
"Aku maunya kau bilang padaku harganya." Suaranya menajam. "Kau ambruk setelah brankas itu. Nyaris tak sanggup melewati lorong timur. Dan sekarang—"
Ia mengisyaratkan ke arahnya. Ke uban di rambutnya. Ke garis-garis di wajahnya.
"Sekarang aku masih berguna." Ia mendengar getir dalam nadanya sendiri. "Masih bisa membantumu merebut takhtamu."
"Menurutmu ini soal itu?" Ia melangkah lebih dekat. "Kau kira aku melihatmu berdiri di sana, menua sebelum waktunya, lalu menghitung sisa nilai yang masih kau punya?"
"Aku pikir kau The Claimant bagi takhta ilahi." Ia menatapnya balik. "Aku pikir kau sudah mengorbankan segalanya demi kursi itu. Kedudukanmu. Reputasimu. Tidurmu, demi para dewa—kau sudah bertahun-tahun tidak tidur, bukan? Apa artinya beberapa tahun milikku dibanding semua yang sudah kau berikan?"
Ada sesuatu bergeser di rautnya. Topeng itu melorot lebih jauh, dan ia menangkap sekilas kelelahan telanjang di bawahnya. Ia tidak tak tidur atas kemauannya sendiri. Beban garis darahnya menuntut itu, sebagaimana kemampuannya menuntut harga mengerikan miliknya sendiri.
"Aku memberikan semua itu dengan sukarela." Suaranya merendah. "Kau tidak memilih ini. Kau sedang tenggelam dalam sebuah arsip saat aku menemukanmu, dan aku menyeretmu ke dalam perang yang tak pernah kau minta untuk kau perangi."
"Aku memilih." Kata-kata itu keluar lebih keras daripada yang ia maksud. "Setiap peminjaman. Setiap risiko. Aku yang memilihnya."
"Benarkah?" Ia memiringkan kepala. "Atau aku membuatmu merasa seolah-olah kau tak punya pilihan? Seolah menolak berarti meninggalkan bukan cuma aku, tapi semua orang yang bergantung pada kita untuk menghentikan para claimant lain?"
Pertanyaan itu menghantam seperti pukulan. Ia membuka mulut untuk menyangkalnya, namun kata-kata tak juga keluar. Karena ia benar. Setidaknya sebagian benar. Peminjaman pertama adalah naluri—menyelamatkan sebuah gulungan dari rak yang ambruk, meraih ke masa depan ketika rak itu masih berdiri dan menarik momen itu ke masa kini. Tapi peminjaman kedua. Yang ketiga. Menit-menit putus asa yang dicuri untuk bertahan dari upaya pembunuhan dan ward brankas dan mesin perang suksesi yang menggiling, yang nyaris tak ia pahami. Apakah itu pilihan atau kebutuhan? Dan apakah ada bedanya ketika alternatifnya adalah kematian?
"Aku tidak menyesal."
Kebohongan itu terasa seperti abu.
Cassian menelaah wajahnya. Apa pun yang ia lihat di sana membuat ekspresinya melunak menjadi sesuatu yang nyaris lembut.
"Kau pembohong yang payah, Archivist."
"Aku sudah dibilangi."
Gema lain berkelebat melintasi ruangan itu. Kali ini mereka berdua mendengarnya—sepotong percakapan yang bahkan belum terjadi. Dua suara berdebat soal arah di tempat yang belum pernah mereka datangi. Kata-katanya larut menjadi sunyi sebelum ia sempat menangkap maknanya.
"Gema-gema itu makin kuat." Elara memeluk tubuhnya sendiri. "Orang lain akan menangkapnya. Para claimant lain, agen-agen mereka—siapa pun yang peka terhadap distorsi waktu."
"Aku tahu."
"Apa yang terjadi kalau mereka sadar apa yang bisa kulakukan? Apa yang sudah kulakukan?"
Tatapan Cassian bergeser ke cermin perunggu. Ia menatap pantulan dirinya—rambut kelabu, wajah berkerut, mata yang memikul beban puluhan tahun lebih berat daripada seharusnya.
"Kalau begitu kita pastikan mereka tidak hidup cukup lama untuk menceritakannya pada siapa pun."
Nada dingin dalam suaranya mengejutkannya. Inilah claimant yang pertama kali ia temui—bangsawan penuh perhitungan yang akan mengorbankan apa pun demi takhta. Namun di balik dingin itu, ia mendengar sesuatu yang lain. Sesuatu yang melindungi.
"Seharusnya itu menenangkanku?"
Ia menoleh kembali padanya. Tangannya terangkat, ragu sejenak, lalu menangkup pipinya. Telapak hangat di atas kulitnya yang dingin.
"Itu untuk mengingatkanmu bahwa kau tidak sendirian dalam hal ini." Ibu jarinya menyapu garis di samping matanya. "Apa pun yang sudah kau berikan, apa pun yang sudah kau kehilangan—aku akan memberikan lebih banyak untuk melindungimu. Itu bukan perhitungan. Itu bukan ambisi." Suaranya turun, nyaris hanya bisik. "Itu pilihan."
Ia ingin mempercayainya. Keinginan itu lebih menakutkannya daripada cermin tadi. Karena percaya berarti memercayai, dan memercayai berarti rentan, dan kerentanan berarti ada satu hal lagi yang bisa diambil darinya. Satu hal lagi yang bisa ia gadaikan.
"Musuh-musuhmu tidak peduli pada pilihanmu." Ia melangkah mundur, dan tangan Cassian terlepas. "Mereka hanya akan melihat apa yang bisa kulakukan. Apa yang sudah kulakukan."
"Kalau begitu kita pastikan mereka melihat sesuatu yang lain." Ia menegakkan tubuh, dan sebagian dari topeng terkendali itu kembali. "Kita pastikan mereka melihat seorang claimant dan archivist-nya, tidak lebih. Tanpa kemampuan temporal. Tanpa masa depan yang dipinjam."
"Dan gema-gema itu?"
"Kita kendalikan." Rahangnya mengeras. "Kau hanya meminjam saat benar-benar perlu. Dan saat kau melakukannya—"
"Aku membayar harganya." Ia memberi isyarat ke pantulannya. "Seperti yang selalu kulakukan."
"Bukan sendirian."
Kata-kata itu menggantung di antara mereka. Sebuah janji. Sebuah peringatan. Ia tak tahu yang mana.
Gema lain beriak di ruangan. Yang ini membawa suara dirinya sendiri, mengucapkan kata-kata yang belum ia ucapkan: "Takhta itu lapar. Ia akan melahap segalanya. Bahkan kau."
Cassian mendengarnya. Ia melihat Cassian mendengarnya—ketegangan tipis di bahunya, cara matanya mengikuti asal suara itu bahkan ketika gema itu memudar.
"Masa depan itu." Suaranya terjaga netral dengan hati-hati. "Apakah itu pasti?"
"Tak ada masa depan yang pasti." Ia teringat brankas itu, enkripsi Mahkota yang menguak kebenaran tentang panteon. "Tapi ada yang lebih mungkin daripada yang lain."
"Takhta itu melahap para dewa." Ia berbicara pelan, seolah menguji bobot tiap kata. "Kau bilang ia akan mencoba melahap siapa pun yang duduk di atasnya berikutnya."
"Aku bilang Mahkota itu memperlihatkan padaku apa yang terjadi pada yang terakhir." Ia menatapnya. "Mereka tidak meninggalkan takhta mereka. Mereka dimakan olehnya. Dan apa pun yang mereka tinggalkan—kekuatan, rasa lapar, kebutuhan akan sebuah kesadaran untuk menyalurkannya—itulah yang kau coba klaim."
Ia menyerapnya. Ia memperhatikannya memproses informasi itu, memperhatikan sisi sarjana dalam dirinya menimbang implikasinya berhadapan dengan sisi pengklaim dalam dirinya yang membutuhkan kekuatan itu untuk bertahan hidup.
"Dan kau." Suaranya pelan. "Apa yang kemampuanmu katakan tentang masa depanmu sendiri?"
Pertanyaan itu mengiris lebih dalam daripada yang ia ketahui. Ia tidak pernah melihat. Tidak pernah mencoba meminjam sekilas nasibnya sendiri. Pikiran untuk melihat dirinya lebih tua lagi—atau, lebih buruk, melihat ketiadaan sama sekali—membuat perutnya membeku seperti es.
"Aku tidak tahu."
Kebohongan itu lagi. Ia makin pandai melakukannya.
Ia menelaah wajahnya, dan ia bertanya-tanya apakah ia bisa mengecap abu di lidahnya.
"Istirahat." Ia melangkah menuju pintu. "Aku ambil jaga pertama. Kita bergerak saat tengah hari."
"Cassian."
Ia berhenti di ambang pintu. Cahaya kelabu menangkap bidang-bidang tajam wajahnya, bayang di bawah matanya yang seolah tak pernah bertambah pekat, tak peduli berapa lama ia bertahan tanpa tidur.
"Terima kasih." Kata-kata itu terasa tidak memadai. "Karena melihatku. Karena—"
"Jangan." Suaranya mengasar. "Jangan berterima kasih padaku untuk batas minimum dari apa yang memang pantas kau dapatkan."
Ia pergi. Pintu menutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan.
Elara berbalik kembali ke cermin perunggu itu. Perempuan dalam pantulan menatapnya dengan mata yang menyimpan terlalu banyak pengetahuan. Rambut kelabu. Wajah berkerut garis. Tahun-tahun yang dirampas dari masa depan yang mungkin takkan pernah datang.
Ia menekan telapak tangannya ke permukaan dingin itu untuk terakhir kalinya.
"Aku masih di sini," katanya pada pantulannya. "Aku masih diriku."
Cermin itu tidak menjawab. Namun entah di bagian mana dalam kamar itu, gema lain berkelebat—sekilas dirinya berdiri di tempat yang belum pernah ia datangi, mengenakan mahkota yang belum pernah ia lihat, mengucapkan kata-kata yang tak sepenuhnya bisa ia dengar.
Masa depan sedang merembes ke masa kini. Dan dengan setiap tetesnya, ia merasakan dirinya semakin ringan.
Ia berpaling dari cermin itu dan tidak menoleh lagi.
Di luar, cahaya sejati pertama fajar merayap lewat celah-celah batu. Dalam beberapa jam, mereka akan bergerak lagi. Lari lagi. Bertarung lagi. Namun untuk saat ini, di ruang kelabu di antara malam dan siang, ia mengizinkan dirinya satu momen diam.
Utang itu kian membesar. Gema-gema itu kian menyebar. Dan entah di masa depan pinjaman yang telah ia habiskan, suatu versi dirinya berdiri mengenakan mahkota, mengucapkan peringatan yang belum bisa ia pahami.
Ia memejamkan mata dan membiarkan kelelahan menelannya.
Hal terakhir yang ia dengar sebelum tidur merenggutnya adalah gema lain—bukan kata-kata kali ini, melainkan suara. Detak jantung. Cepat dan ketakutan dan sepenuhnya, mengerikan, begitu akrab.
Jantungnya sendiri.
Dari masa depan ketika ia sudah berhenti berdetak sama sekali.
Lalu, di bawah irama sekarat itu, suara lain. Langkah kaki di koridor luar. Dua orang. Bergerak menuju pintunya dengan tujuan.
Cassian tak pernah berjalan bersama siapa pun.
Detak jantung dalam gaung itu makin keras. Langkah kaki itu makin dekat.
Dan Elara menyadari, dengan kejernihan dingin dari firasat pinjaman, bahwa kedua suara itu tidaklah terpisah.
Mereka sedang memburu hal yang sama.
Dirinya.