Mahkota Jam berdenyut di atas kayu meja markas persembunyian yang penuh bekas luka, iramanya terlalu stabil, terlalu sengaja, seperti jantung yang telah belajar menghitung momen alih-alih menjalaninya. Elara membentangkan serpihan-serpihan hasil dekripsi di hadapannya, lembaran-lembaran vellum menguning yang dipenuhi aksara ilahi yang seakan bergeser di bawah cahaya lilin. Jarinya gemetar. Penuaan itu makin dipercepat—ia bisa melihatnya pada tangannya, garis-garis baru yang terukir di sekitar buku-buku jari, kulit yang menipis dan mengerut seperti perkamen tua setiap kali ia bergerak. Tiga hari. Ia telah menukar tiga hari dengan satu dekade waktu pinjaman.
Batu lembap dan rahasia yang lebih tua memenuhi tempat persembunyian itu, sebuah gudang bawah tanah yang terlupakan di bawah distrik pergudangan, tempat Cassian menyeretnya setelah mereka lolos lewat terowongan utara. Air menetes entah di mana dalam kegelapan, setiap tetes menghitung detik-detik yang tak lagi bisa ia hamburkan. Satu-satunya lilin meredup tersapu embusan angin yang tak seharusnya ada sejauh ini di bawah tanah.
Ia mengambil serpihan pertama. Aksara ilahi melengkung di permukaannya seperti makhluk hidup, bahasa para dewa yang direduksi menjadi tinta di atas kulit yang telah mengering. Kata-katanya menolak ditafsirkan—bukan terenkripsi, tepatnya, melainkan disusun untuk memantulkan pemahaman fana. Bertahun-tahun ia habiskan mempelajari cara membaca di antara sapuan goresannya, melihat bentuk-bentuk yang disembunyikan para dewa di tempat terbuka.
*Kenaikan Valdris, Yang Ketiga dari Namanya. Menghampiri takhta pada perayaan pergantian musim dingin. Mahkota diletakkan di keningnya oleh Imam Besar Perempuan. Dan takhta menerima dirinya.*
Elara mengernyit. Ia meraih serpihan lain, yang ini lebih tua, tepinya rapuh dan runtuh di bawah sentuhannya.
*Sang Nyonya Fajar duduk di atas kursi kekuasaan. Cahayanya memenuhi aula. Dan takhta menerima dirinya.*
Frasa itu berulang. Lagi dan lagi di enam serpihan, merentang berabad-abad. Dewa yang berbeda. Ranah yang berbeda. Akhir yang sama.
*Dan takhta menerima mereka.*
Ia menyandarkan tubuh ke belakang di bangku kayu kasar, tulang punggungnya menekan dinding batu dingin di belakangnya. Mahkota Jam terus berdenyut, sabar, menunggu. Ia mengira “menerima” berarti menyetujui. Menyambut. Memeluk mereka ke dalam kekuasaan panteon.
Namun tanggal-tanggalnya.
Elara menyusun ulang serpihan-serpihan itu dalam susunan baru, mengurutkannya berdasarkan jejak penanda temporal yang telah ia pelajari untuk dibaca di ruang-ruang terdalam Arsip. Valdris, Yang Ketiga dari Namanya, menghampiri takhta pada tahun Bulan Merah. Sang Nyonya Fajar, tiga abad sebelumnya. Sang Penguasa Bisikan, tujuh ratus tahun sebelum itu.
Tak satu pun dari mereka memerintah.
Ia menyisir serpihan-serpihan itu mencari catatan tentang masa pemerintahan mereka, dekret-dekret mereka, penghakiman ilahi mereka. Tidak ada. Para dewa menghampiri takhta, “diterima,” lalu—hening. Tak ada penyebutan lebih lanjut. Tak ada sejarah. Tak ada kisah para penyembah tentang mukjizat yang dilakukan dari singgasana ilahi.
Dingin merayap naik di sepanjang tulang punggungnya, tak ada hubungannya dengan kelembapan ruang bawah tanah.
“Tanggal-tanggalnya tidak selaras.” Suaranya retak memantul pada batu. “Mereka naik, tapi tak ada catatan tentang masa pemerintahan mereka. Tak ada catatan tentang apa pun setelahnya.”
Lilin itu berkelip. Bayang-bayang melompat di atas serpihan-serpihan, dan sesaat, tinta itu tampak menggeliat, seolah huruf-huruf ilahi berusaha meloloskan diri dari halaman.
Elara meraih serpihan lain, jari-jarinya yang renta meraba-raba bahan yang rapuh itu. Yang ini berbeda. Bukan catatan tentang kenaikan.
Sebuah peringatan.
Ditulis dengan tulisan tangan yang arkais, huruf-hurufnya rapat dan putus asa, seakan-akan si juru tulis kehabisan waktu:
*Takhta bukanlah kursi. Ia adalah mulut. Ia tidak menganugerahkan kuasa. Ia melahap siapa pun yang memilikinya. Para dewa percaya mereka bisa mengendalikannya. Mereka keliru. Kami yang mencatat ini sudah mati; kami hanya belum berhenti bernapas. Jika kau membaca ini, larilah. Jangan dekati singgasana itu. Jangan biarkan siapa pun duduk di atasnya. Kelaparan itu sabar. Kelaparan itu abadi. Takhta menerima siapa pun yang menyerahkan diri, dan ia tak pernah kenyang.*
Tangan Elara gemetar. Serpihan itu meleset dari jemarinya, melayang turun ke meja seperti daun sekarat. Kata-kata itu mengabur—bukan karena air mata, ia sadar, melainkan karena distorsi temporal yang merembes dari Mahkota.
Artefak itu kini berdenyut lebih cepat, seolah bergairah oleh temuannya.
Ia teringat Cassian. Ambisinya. Keyakinannya yang tulus bahwa mengklaim takhta akan memungkinkannya menyembuhkan dunia yang telah ditinggalkan para dewa. Cara ia berbicara tentang takdir, tentang hak darah, tentang kewajiban yang ia tanggung kepada leluhur ilahinya.
Ia sedang berjalan menuju sebuah mulut dengan tangan terbuka.
“Mereka tidak pergi.” Suaranya keluar tercekat, nyaris hanya bisik. “Mereka diambil. Semuanya, sampai yang terakhir. Takhta itu tidak menganugerahkan keilahian—ia memakannya.”
Serpihan-serpihan itu terhampar berserakan di hadapannya seperti tulang di sebuah makam. Kini ia bisa melihat polanya, kebenaran yang seseorang telah coba kubur berabad-abad lalu. Keheningan Agung bukanlah ketiadaan.
Itu adalah pencernaan.
Takhta itu telah melahap seluruh panteon, perlahan, metodis, selama ribuan tahun. Setiap dewa yang mendekatinya menjadi santapan. Dan perang suksesi—para Claimant yang bertarung demi artefak, demi hak darah, demi kesempatan untuk duduk di atas singgasana yang kosong—mereka bukanlah pewaris yang saling berebut mahkota.
Mereka adalah hidangan yang sedang dipersiapkan untuk sebuah perjamuan.
Mahkota Jam-Jam berdenyut lebih keras. Lilin itu meredup, lalu mati.
Kegelapan menelan ruang bawah tanah itu.
Elara tak bergerak. Napasnya datang dalam tarikan pendek-pendek yang tajam, udara pekat oleh bau tinta tua dan kematian yang lebih tua lagi. Ia masih bisa mendengar tetes air, setiap tetes sebuah hitung mundur menuju sesuatu yang tak mampu ia namai.
Tangan-tangannya yang renta mencengkeram tepi meja, buku-buku jarinya memutih dalam gulita.
Lalu gema itu datang.
Mulanya ia berupa bisikan, sebuah suara yang terdengar seperti suaranya sendiri namun berlapis, teregang, seakan diucapkan melalui tahun-tahun yang belum ia jalani. Udara berkilau di sampingnya, dan sebuah bentuk terbentuk. Tembus pandang. Berkelip. Bayang-hantu dirinya sendiri, tetapi lebih tua, jauh lebih tua, kulit seperti perkamen membungkus tulang-tulang yang menonjol pada sudut-sudut yang keliru, mata cekung dengan kelaparan yang membuat perut Elara mual.
Gema itu meraih Mahkota Jam-Jam dengan tangan yang gemetar.
“Jangan biarkan dia mengambilnya.” Suara itu bertumpuk dengan dirinya sendiri, paduan suara dari berbagai masa depan yang berbicara serempak. “Jangan biarkan siapa pun mengambilnya. Takhta adalah lapar. Takhta selalu lapar.”
Elara merangkak mundur tergesa, bangkunya menggesek batu. Gema itu berkelip, memperlihatkan dirinya berdiri di hadapan sebuah takhta yang tak bisa ia lihat dengan jelas, meraih sesuatu yang menyala dengan cahaya yang menyakitkan untuk disaksikan. Mulut gema itu terbuka dalam jeritan bisu, lalu—
Hilang.
Lilin itu menyala kembali, apinya tenang seolah tak pernah padam.
Elara terduduk di lantai dingin, punggungnya menempel pada dinding, serpihan-serpihan berserak di sekelilingnya seperti daun gugur. Jantungnya menghantam tulang rusuk. Gema itu adalah rembesan waktu, sekilas masa depan yang mungkin sudah pernah ia pinjam, sebuah peringatan dari diri yang mungkin takkan ada jika ia membuat pilihan yang benar.
Atau yang salah.
Ia menekan telapak tangannya ke mata. Batu kasar menggesek punggungnya menembus kain tipis kemejanya, menambatkannya pada masa kini. Denyut Mahkota telah melambat, puas, seakan ia sudah memperlihatkan apa yang ingin diperlihatkannya.
Sebuah ingatan muncul, tanpa diminta. Tangan ibunya, mantap dan hangat, menuntun jemari Elara kecil menelusuri sebuah teks kuno. Kedalaman Arsip yang diterangi cahaya lilin, bau kulit perkamen dan debu dan pengetahuan yang dijaga lintas abad. Suara ibunya, lembut namun yakin:
“Kebenaran adalah satu-satunya hal yang lebih lama bertahan daripada takhta, Nak. Jagalah, bahkan ketika itu mematahkan hatimu.”
Saat itu Elara berusia tujuh tahun, duduk bersila di lantai bagian terlarang, dikelilingi teks-teks yang belum bisa ia baca. Ibunya seorang arsiparis senior, salah satu dari sedikit orang yang memahami bahwa menjaga sejarah berarti menjaga bagian-bagian yang buruk, kebenaran yang ingin dikubur orang-orang berkuasa.
“Kenapa kita menyimpan hal-hal buruk?” tanya Elara kecil. “Perang dan wabah dan para raja yang membunuh rakyatnya sendiri?”
Ibunya tersenyum, sedih dan paham. “Karena harus ada yang mengingat. Karena orang-orang yang ingin lupa biasanya orang yang sedang merencanakan untuk melakukannya lagi.”
Ingatan itu menyelimuti Elara seperti selimut, tipis namun hangat. Ia menjadi arsiparis untuk menjaga kebenaran. Bukan untuk menyajikannya kepada kekuasaan. Bukan untuk membentuknya menjadi dusta yang nyaman.
Kebenaran, begitu ibunya mengajarkannya, layak dibayar dengan harga berapa pun.
Namun kebenaran ini? Kebenaran ini bisa menghancurkan Cassian. Bisa meremukkan tujuannya, identitasnya, alasan ia bertarung. Ia membangun seluruh keberadaannya di atas keyakinan bahwa ia ditakdirkan menuntut takhta, bahwa hak darahnya datang bersama tanggung jawab, bahwa ia bisa menjadi dewa yang dibutuhkan dunia.
Dan kini ia tahu bahwa menuntut takhta berarti dilahap olehnya.
Langkah kaki bergema di terowongan di atas. Berat. Sengaja. Makin dekat.
Elara mengumpulkan serpihan-serpihan itu dengan tangan gemetar, menumpuknya menjadi satu, pikirannya berpacu. Ia bisa menyembunyikannya. Membakarnya. Berpura-pura tak pernah mengurai rahasia Mahkota. Membiarkan Cassian terus menuju takdirnya, tak tahu tentang mulut yang menantinya.
Atau dia bisa mengatakan padanya. Mengatakan bahwa segala yang selama ini ia percayai adalah kebohongan. Bahwa para leluhurnya tidak meninggalkan takhta mereka—mereka dimakan olehnya. Bahwa pencarian yang telah ia korbankan bertahun-tahun untuk mengejarnya tak lebih dari sebuah mekanisme pemberian makan, mengantarkan daging segar kepada rasa lapar yang abadi.
Langkah kaki kian keras. Kini ia bisa mendengar suara, teredam batu namun tak mungkin keliru. Nada Cassian yang terukur. Tanggapan The Ally yang lebih cepat, lebih hangat. Mereka telah kembali dari pengintaian, membawa kabar tentang arah pergeseran pengejaran.
Elara memandang pecahan-pecahan itu untuk terakhir kalinya. Kebenaran terasa berat di tangannya, lebih berat daripada seharusnya selembar velum. Suara ibunya bergema dalam ingatannya: *Kebenaran adalah satu-satunya hal yang bertahan lebih lama daripada takhta.*
Namun apakah kebenaran harus bertahan lebih lama daripada Cassian?
Pintu gudang bawah tanah berderit terbuka. Cahaya menumpah turun ke anak tangga, membelah kegelapan. Elara menangkis silau, pecahan-pecahan itu dipeluknya ke dada, wajah tuanya menjadi topeng yang ia sendiri tak yakin mampu dipertahankan.
"Elara." Suara Cassian tegang oleh kekhawatiran. "Kita harus bergerak. Pengejaran sudah bergeser ke utara. Kita punya celah waktu, tapi tidak akan lama."
Elara menatapnya, berdiri sebagai siluet di ambang pintu, raut tegasnya terukir tajam oleh obor yang dibawanya. Ia tampak lelah. Teguh. Bahkan penuh harap—seperti seorang lelaki yang yakin ia bertarung demi sesuatu yang layak dimenangkan.
Ia sama sekali tak tahu bahwa ia bertarung untuk dimakan.
"Fragmen-fragmennya," kata Elara, suaranya lebih mantap daripada yang ia rasakan. "Aku sudah menyelesaikan terjemahannya."
Cassian menuruni tangga, sepatu botnya berdentang di atas batu. The Ally mengikuti, wajahnya pucat dalam cahaya obor, matanya melirik-lirik ke bayang-bayang seolah mengantisipasi serangan dari setiap sudut. Mereka sampai di dasar, dan Cassian melangkah ke meja, pandangannya jatuh pada lembaran-lembaran velum yang berserakan.
"Apa yang kau temukan?"
Ia meraih pecahan-pecahan itu.
Elara menariknya menjauh.
Gerakannya kecil, naluriah, tetapi membuat Cassian membeku. Tangannya menggantung di udara di antara mereka, dan sesuatu berubah di wajahnya—seberkas kebingungan, lalu kecurigaan, lalu kewaspadaan yang pernah Elara lihat sebelumnya, pada hari-hari awal ketika ia belum mempercayainya.
"Elara." Suaranya merendah. "Apa yang Mahkota tunjukkan padamu?"
Mahkota Jam berdenyut di antara mereka, sabar, lapar, menghitung detik-detik sampai salah satu dari mereka memberi makan takhta. Elara bisa merasakan bobot kebenaran menekan tulang rusuknya, menuntut dilepaskan. Ia bisa mengakhiri pencariannya saat ini juga. Menghancurkan tujuan hidupnya dengan kata-kata.
Atau ia bisa membiarkannya berjalan masuk ke mulut itu dengan keyakinan bahwa ia sedang menuntut sebuah mahkota.
Cahaya obor berkerlip. Air menetes. Mahkota berdenyut.
Dan Elara membuat pilihannya.
"Ada celah-celah dalam catatan," katanya, suaranya datar, terkendali. "Fragmen-fragmen ini tidak lengkap. Seseorang telah menyingkirkan bagian-bagian dari catatan sejarah—dokumentasi berabad-abad, lenyap. Aku butuh waktu lebih banyak untuk menyusun ulang apa yang hilang."
Kebohongan itu terasa seperti abu di lidahnya.
Cassian mengamati wajahnya, mencari sesuatu yang ia sendiri tak yakin bisa ia sembunyikan. The Ally bergerak di belakangnya, satu tangan bertumpu pada pisau di ikat pinggangnya, mata masih menyapu bayang-bayang ruang bawah tanah.
"Pengejaran itu tak akan memberi kita lebih banyak waktu," kata Cassian pelan. "Kita bergerak malam ini, atau kita tak bergerak sama sekali."
"Kalau begitu kita bergerak." Elara mengumpulkan serpihan-serpihan itu ke dalam tas kulit, gerakannya presisi, ekspresinya netral. "Aku akan melanjutkan analisis di jalan. Mungkin ada arsip lain, sumber lain yang bisa menutup celah-celahnya."
Ia tidak menatap Cassian. Tidak bisa. Jika ia bertemu pandang dengannya, ia akan melihat kepercayaan di sana, keyakinan bahwa ia adalah sekutunya, arsiparisnya, rekan dalam pencarian ini. Ia akan melihat lelaki yang mempertaruhkan segalanya demi takhta yang ingin memangsanya, dan ia harus memutuskan apakah akan menyelamatkannya atau membiarkannya memilih kehancurannya sendiri.
Kebenaran adalah satu-satunya hal yang mampu bertahan lebih lama daripada takhta. Namun kadang-kadang kebenaran bisa menunggu. Kadang-kadang kebohongan adalah satu-satunya perlindungan yang bisa kau bangun.
Cassian meraih dan menyentuh bahunya, cengkeramannya lembut namun tegas.
"Elara. Lihat aku."
Ia memaksa dirinya menatapnya.
"Apa pun yang diperlihatkan Mahkota kepadamu," katanya, suaranya rendah, "kebenaran apa pun yang kau temukan dalam serpihan-serpihan itu—kita menghadapinya bersama. Itu kesepakatannya. Itu sumpahnya. Kau tidak menanggung ini sendirian."
Sumpah itu. Kata-kata yang ia ucapkan saat ia bergabung dengan perjuangannya, saat ia pertama kali meminjam waktu untuk menyelamatkan nyawanya dan mengikat dirinya pada takdirnya.
*Bersama sampai takhta diklaim atau pencarian diakhiri.*
Ia telah bersumpah membantu Cassian mengklaim takhta. Ia tidak pernah bersumpah akan mengatakan bahwa itu akan membunuhnya.
"Bersama," ulangnya, kata itu hampa di mulutnya.
The Ally berdeham. "Kita harus pergi. Sekarang. Jalur utara bersih, tapi itu tidak akan bertahan."
Cassian melepaskan bahu Elara. Ia mengambil Crown of Hours dari meja, denyutnya semakin cepat saat disentuh, lalu menyelipkannya ke dalam wadah berlapis di ikat pinggangnya. Artefak itu tampak kecil pada tubuhnya, tak mencolok, sekadar lingkar kepala dari logam gelap yang kebetulan berpendar oleh cahaya waktu pinjaman.
Elara bertanya-tanya apakah takhta akan tampak sama polosnya. Kursi indah di aula indah, menunggu seseorang duduk, beristirahat, mempersembahkan diri.
Ia menyampirkan tas serpihan itu ke bahunya dan mengikuti Cassian menaiki tangga. The Ally menutup barisan, pisaunya masih terhunus, matanya masih mencari ancaman yang mengintai di bayang-bayang.
Mereka muncul di sebuah gang sempit, langit malam di atas mereka pekat oleh awan yang menutupi bintang. Udara berbau hujan dan busuk, perut kota menekan dari segala sisi. Di suatu tempat di kejauhan, sebuah lonceng berdentang menandai tengah malam.
Cassian berjalan cepat, sepatu botnya menghantam batu-batu jalan dengan tujuan yang jelas. The Ally menyamainya, langkahnya yang lebih ringan nyaris tanpa suara. Elara mengikuti, kaki tuanya nyeri setiap kali melangkah, beban tahun-tahun pinjamannya menekan bahunya.
Ia telah berbohong padanya.
Kebenaran itu tergeletak di dalam tas selempang yang menempel di pinggulnya, serpihan-serpihan vellum yang menceritakan kisah tentang pelahapan dan kelaparan, tentang para dewa yang dilahap oleh kekuatan yang justru mereka cari untuk kuasai. Ia membawa pengetahuan yang bisa mengakhiri pencariannya, menyelamatkan nyawanya, menghancurkan tujuannya.
Dan ia telah memilih untuk menyembunyikannya.
Hujan mulai turun ketika mereka mencapai tepi distrik, tetes-tetes besar yang memercik ke atas batu-batu jalan dan mengubah dunia menjadi kelabu. Cassian menarik jubahnya lebih rapat lalu terus melangkah. The Ally menelusuri atap-atap mencari pemanah. Elara berjalan di antara mereka, dilindungi, dituntun, disayangi.
Beban rahasianya kian berat setiap langkah.
Mereka tiba di gerbang utara ketika lonceng-lonceng selesai berdentang, para penjaga berganti, irama kota terus berjalan seakan tak ada yang berubah. Seakan dunia tidak sedang bertumpu di tepi sebuah pengungkapan. Seakan seorang pria tidak sedang melangkah menuju sebuah mulut yang akan menelannya bulat-bulat.
Cassian berhenti di gerbang, menoleh untuk memeriksanya, matanya lembut oleh kekhawatiran.
“Kau masih sanggup?”
Elara mengangguk. Kebohongan itu sudah mulai lebih mudah, kulit kedua yang membentuk lapisan di atas kebenaran. “Aku baik-baik saja. Fragmen-fragmen ini akan aman sampai kita menemukan tempat yang cukup aman untuk mempelajarinya lebih jauh.”
Ia tersenyum, ekspresi tulus yang dulu pertama kali membuatnya percaya padanya. “Kita akan menemukan jawabannya, Elara. Apa pun yang disembunyikan Mahkota, apa pun yang ditinggalkan para dewa—kita akan mengungkapnya. Bersama.”
Bersama. Kata itu mengikuti Elara melewati gerbang, masuk ke dalam kegelapan di luar tembok kota yang basah kuyup oleh hujan. Kata itu bergema di dalam tengkoraknya, memantul pada kebenaran yang tak bisa ia ucapkan, rahasia yang tak bisa ia bagi, pilihan yang sudah ia ambil dan tak bisa ia tarik kembali.
*Takhta adalah kelaparan. Takhta selalu kelaparan.*
Dan ia sedang menuntun pria yang telah ia sumpahi untuk dilindungi, tepat ke dalam mulutnya.
Jalan ke utara membentang di hadapan mereka, berkelok melewati perbukitan yang kelak menjadi pegunungan, menuju sebuah takhta yang menunggu dengan kesabaran tanpa batas untuk santapan berikutnya. Elara berjalan di samping Cassian, kaki tuanya nyeri, waktu pinjamannya menekan masa depannya, rahasianya bagai batu di dadanya.
Di belakang mereka, lonceng kota berdentang satu kali lagi, untuk terakhir kalinya.
Di depan, sesuatu bergerak—sesuatu yang telah menunggu selama berabad-abad, sesuatu yang telah belajar menghitung momen alih-alih menjalaninya, sesuatu yang tak pernah berhenti lapar.
Crown of Hours berdenyut di ikat pinggang Cassian, dan di kegelapan di luar gerbang, Elara menangkap sebuah gerakan. Sesosok figur. Berdiri tak bergerak di tepi garis pepohonan, mengawasi mereka lewat.
Ia memiringkan kepalanya ke arah Elara.
Wajahnya sendiri menatap balik—lebih tua, lebih cekung, mata terang oleh kelaparan mengerikan yang pernah ia lihat di ruang bawah tanah. Gaung itu mengangkat satu tangan dalam lambaian pelan, mulutnya membentuk kata-kata yang tak bisa Elara dengar tertutup hujan dan lonceng.
Lalu ia tersenyum.
Dan lenyap.
Jantung Elara mencengkeram. Ia meraih lengan Cassian, jari-jarinya menancap pada lengan bajunya.
“Ada apa?” Cassian menoleh, tangannya meraih pedangnya. “Apa yang kau lihat?”
Ia menatap garis pepohonan yang kosong. Tak ada apa-apa di sana sekarang selain bayang-bayang dan hujan dan jalan panjang ke utara.
“Tidak ada,” ia mendengar dirinya sendiri berkata. “Cuma gelap yang mempermainkan.”
Namun gema itu telah mengenakan wajahnya. Telah mengenalnya. Telah menunggu.
*Takhta selalu lapar.*
Dan ia sudah tahu namanya.