Lendo

Bab 2: Jalan Setapak di Dasar Kelam

Bimo Satrio memeriksa katup tabung oksigennya untuk ketiga kalinya dalam lima menit terakhir. Di sini logam dingin itu terasa akrab di bawah jemarinya yang sedikit gemetar, sebuah ritual yang lebih bersifat psikologis daripada teknis. Di atas dek kapal kayu kecil milik Aki Jajang, udara pagi Ambon yang lembap terasa seperti selimut basah yang menempel di kulit. Akhirnya bau solar yang terbakar bercampur dengan aroma amis garam yang tajam, menusuk hidung dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menghabiskan separuh hidupnya di dermaga." Nggih, Aki, tekanannya sudah pas," ucap Bimo pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Lalu suara baritonnya yang tenang biasanya menjadi jangkar bagi tim mana pun yang ia pimpin, namun hari ini, ada getaran halus yang ia sembunyikan di balik istilah teknis. Ia menyesuaikan masker selamnya, merasakan karet silikon yang menekan pipi dengan kencang. Sementara itu, cahaya matahari memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan ribuan berlian kecil yang menyilaukan mata, seolah-olah laut sedang mencoba menyembunyikan apa yang ada di bawah sana. Aki Jajang duduk di buritan, tangannya yang keriput memegang kemudi kayu dengan santai. Lagi topi capingnya yang usang menutupi sebagian wajahnya, namun mata tua itu tetap tajam mengawasi gerak-gerik Bimo. Ia menyesap kopi hitam dari gelas plastik yang sudah kusam warnanya." Pertama tong dipaksa, Bimo," ujar Aki Jajang dengan tempo bicaranya yang lambat, menyelipkan partikel khas Sunda yang selalu terbawa ke mana pun ia pergi." Laut teh punya jam kerjanya sendiri, ulah dilawan kalau dia sedang tidak ingin diganggu." Segera bimo mengangguk pelan, menghormati peringatan sang mentor yang sudah dianggapnya seperti kakek sendiri." Saya hanya ingin memastikan koordinat terakhir dari catatan Ayah, Aki. Hanya sebentar." Mbak Lastri muncul dari kabin sempit kapal, membawa nampan berisi pisang goreng yang masih mengepulkan uap. Kemudian aroma manis tepung goreng itu sempat mengalahkan bau laut sejenak. Ia memandang Bimo dengan tatapan keibuan yang penuh kekhawatiran, tangannya yang gempal sibuk menata piring agar tidak bergeser akibat goyangan kapal." Tapi mangan dulu, Le," potong Mbak Lastri dengan logat Jawanya yang kental." Perut kosong itu musuh penyelam, nanti kamu kram di bawah sana, siapa yang repot?" Di bawah bimo tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang jarang ia tunjukkan di laboratorium." Nggih, Mbak, satu saja. Terima kasih." Ia mengambil sepotong pisang goreng, merasakan panasnya membakar ujung lidah sejenak sebelum mengunyahnya dengan cepat. Di sana rasa manis dan gurih itu memberikan sedikit energi tambahan, sebuah bahan bakar kecil sebelum ia memasuki jalan tol sunyi di bawah permukaan air. Bimo tahu, di bawah sana tidak ada rambu lalu lintas, hanya ada insting dan sisa-sisa memori yang menghantui. Sejauh ini langkah kaki Bimo terasa berat saat ia berjalan menuju pinggir kapal, beban tabung di punggungnya seolah menariknya kembali ke daratan. Ia berdiri di tepi dek, memandang ke arah air biru tua yang tampak seperti jurang tanpa dasar. Sekarang ini di titik inilah, keberanian biasanya bertemu dengan logika, dan bagi Bimo, logika sering kali kalah oleh rasa penasaran yang obsesif." Ingat, Bimo," sela Aki Jajang lagi, suaranya serak namun penuh penekanan." Sekarang batasmu teh bukan di tabung oksigen, tapi di sini." Aki menunjuk dadanya sendiri. Tetap saja bimo tidak menjawab, ia hanya melakukan *backroll entry*. Tubuhnya terjatuh ke belakang, membelah permukaan air dengan suara *plung* yang meredam segala kebisingan dunia atas. Dengan hati-hati dingin yang menusuk segera menyergap kulitnya yang tertutup *wetsuit* tipis. Gelembung-gelembung udara melesat ke atas seperti kelereng perak yang terlepas dari kantongnya, menciptakan orkestra suara *whoosh-hiss* yang ritmis dari regulatornya. Namun, di bawah sini, dunia berubah menjadi biru yang mendalam, sebuah terminal sunyi di mana waktu seolah berhenti berdetak. Bimo mulai turun, menggerakkan siripnya dengan gerakan panjang dan efisien. Meski begitu ia membayangkan dirinya sedang mengemudi di jalan setapak yang sempit, di mana setiap belokan harus diperhitungkan dengan cermat. Cahaya matahari yang menembus permukaan air tampak seperti pilar-pilar cahaya di dalam katedral kuno, menerangi partikel-partikel plankton yang menari seperti debu di udara. Di atas visual di sekelilingnya mulai berubah seiring bertambahnya kedalaman. Terumbu karang yang berwarna-warni di lapisan atas mulai memudar, digantikan oleh bayangan kelabu dan biru tua. Dengan cepat ia melewati sebuah tebing bawah laut yang ditumbuhi oleh kipas laut raksasa, yang melambai-lambai ditiup arus bawah seperti pepohonan di pinggir jalan raya yang sepi. Sepuluh meter. Selain itu, tekanan mulai terasa menekan gendang telinganya, sebuah pengingat fisik bahwa ia sedang memasuki wilayah yang tidak bersahabat bagi paru-paru manusia. Bimo melakukan manuver *equalize*, meniup hidungnya yang tersumbat hingga terdengar suara *pop* kecil di telinganya. Dua puluh meter. Di kedalaman ini, warna merah sudah hilang sepenuhnya dari spektrum cahaya. Selanjutnya darah yang keluar dari luka kecil di tangannya—akibat tergores pinggiran kapal tadi—tampak berwarna hijau gelap di bawah air. Bimo terus turun, matanya terpaku pada komputer selam di pergelangan tangannya yang menunjukkan angka-angka digital yang terus bertambah. Dengan tenang lalu, ia mencapainya. Batas psikologis yang selalu membuatnya berkeringat dingin meski di dalam air yang sejuk. Perlahan tiga puluh meter. Di sinilah, belasan tahun yang lalu, sinyal dari alat komunikasi ayahnya terputus. Tiba-tiba bimo merasakan napasnya menjadi dalam dan berat, sebuah reaksi otomatis saat paru-parunya mencoba mencari lebih banyak oksigen yang kini terasa lebih padat. Mulutnya terasa kering bagai pasir gurun, meski ia dikelilingi oleh jutaan liter air. Ia berhenti sejenak, melayang di antara kegelapan bawah dan cahaya atas. Tangannya meraba saku *wetsuit*-nya, memastikan alat pemindai sonar portabel yang ia bawa masih ada di sana. Secara bertahap bimo melihat ke bawah, ke arah lantai samudra yang masih tertutup kegelapan pekat. Di sana, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah kilatan logam. Bimo memicingkan mata, mencoba menembus keremangan air. Di luar ia menyalakan senter selamnya, mengirimkan seberkas cahaya putih yang tajam ke arah objek tersebut. Cahaya itu memantul pada sebuah pelat titanium yang setengah terkubur di dalam pasir malang. Seketika jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya seperti mesin yang berputar di zona merah. Ia tahu ia seharusnya tidak turun lebih jauh lagi. Protokol keselamatannya melarang penyelaman solo di kedalaman ini tanpa peralatan teknis yang memadai. Namun, rasa haus akan jawaban membakar logikanya hingga menjadi abu. Di dalam bimo mengayunkan siripnya, meluncur turun menuju objek tersebut. Setiap meter yang ia lalui terasa seperti taruhan nyawa. Setelah itu tekanan air kini terasa seperti beban ribuan ton yang mencoba meremukkan tulang rusuknya. Ia mendarat di dasar laut dengan perlahan, menciptakan awan pasir halus yang mengaburkan pandangannya sejenak. Pada akhirnya tangannya yang bersarung tangan karet meraba pelat logam itu. Ia membersihkan pasir yang menutupinya dengan gerakan lembut, seolah-olah sedang mengusap debu dari nisan keramat. Sebaliknya, di sana, terukir sebuah nomor seri yang sudah sangat ia hafal di luar kepala." S-09-B," bisik Bimo dalam hati, suaranya bergema di dalam kepalanya sendiri. Dan itu adalah bagian dari kapal selam mini milik ayahnya. Penemuan ini bukan sekadar keberuntungan; ini adalah peta jalan yang selama ini ia cari. Namun, tepat saat ia hendak mengambil foto pelat tersebut, sebuah getaran hebat merambat melalui air. Bukan getaran alami dari arus laut. Tepat saat itu ini adalah getaran mekanis yang berat. Bimo mendongak. Sekali lagi jauh di atas sana, bayangan sebuah kapal yang jauh lebih besar dari milik Aki Jajang mulai menutupi cahaya matahari. Kapal itu memiliki lunas baja yang tajam, membelah air dengan keangkuhan yang menakutkan. Suara mesin diesel raksasa terdengar seperti geraman monster yang kelaparan, merambat melalui molekul air dan menggetarkan seluruh tubuh Bimo. Ia segera mematikan senternya. Meskipun demikian, di bawah air, cahaya adalah undangan bagi pemangsa, baik yang alami maupun yang menggunakan mesin. Bimo merapatkan tubuhnya ke balik bongkahan karang besar, mencoba menyatu dengan bayangan dasar laut. Di dekatnya dari kedalamannya, ia bisa melihat peralatan sonar canggih diturunkan dari kapal besar itu. Kabel-kabel baja menjuntai seperti tentakel gurita raksasa, mencari sesuatu di dasar laut. Bimo mengenali logo yang terpampang samar di lambung kapal tersebut saat kapal itu bergerak perlahan di atasnya. Samudra Nusantara Corp. Jadi togar Simanjuntak sudah mulai bergerak. Bimo merasakan amarah bercampur ketakutan mulai merayap di tenggorokannya. Kali ini perusahaan itu tidak seharusnya berada di zona konservasi ini. Mereka sedang mencari apa yang ia cari, dan mereka memiliki sumber daya yang jauh lebih besar. Bimo memeriksa sisa oksigen di tabungnya. Jarum indikator mulai mendekati area merah. Ia telah menghabiskan terlalu banyak waktu di kedalaman ini karena adrenalin. Ia harus segera naik, namun kapal di atas sana masih berada tepat di jalur asensinya. Jika ia naik sekarang, ia akan tertangkap oleh sensor mereka. Jika ia tetap di sini, ia akan kehabisan napas. Bimo menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia harus melakukan gerakan menyamping, menjauh dari jangkauan sonar kapal itu sebelum memulai proses dekompresi. Ia mulai merayap di dasar laut, menggunakan tangan untuk menarik tubuhnya di antara celah-celah karang, menghindari penggunaan sirip yang bisa menciptakan turbulensi yang terdeteksi. Tangannya menyentuh sesuatu yang tajam, merobek sarung tangannya dan menggores telapak tangannya. Rasa perih itu menyengat, namun ia tidak peduli. Ia terus bergerak, matanya terus melirik ke arah bayangan hitam di atas sana yang menyerupai awan badai yang siap menelan apa pun di bawahnya. Setelah merasa cukup jauh, Bimo mulai naik secara bertahap. Ia berhenti di kedalaman sepuluh meter untuk melakukan *safety stop*. Tiga menit yang terasa seperti tiga abad. Di atas sana, suara mesin kapal Samudra Nusantara mulai menjauh, namun gema suaranya masih menghantui telinga Bimo. Saat kepalanya memecah permukaan air, Bimo langsung melepas regulatornya dan menghirup udara segar dengan rakus. Paru-parunya terasa seperti baru saja dibebaskan dari penjara yang sempit. Ia menoleh ke sekeliling, mencari kapal Aki Jajang. Kapal kayu itu berada sekitar seratus meter darinya, bergoyang-goyang tidak keruan akibat gelombang yang ditinggalkan oleh kapal besar tadi. Aki Jajang dan Mbak Lastri berdiri di tepi dek, melambai-lambaikan tangan dengan panik. Bimo berenang menuju mereka dengan sisa tenaga yang ada. Setiap kayuhan kakinya terasa berat, seolah-olah laut enggan melepaskannya pergi. Saat ia mencapai tangga kapal, tangan kekar Aki Jajang segera menariknya naik ke atas dek." Kamu gila, Le!" seru Mbak Lastri, wajahnya pucat pasi." Tadi ada kapal raksasa lewat hampir menabrak kita! Kamu tidak apa-apa?" Bimo terduduk di dek, melepas maskernya yang penuh embun. Napasnya masih tersengal-sengal, dan air laut menetes dari rambutnya yang hitam legam. Ia melihat ke arah telapak tangannya yang berdarah, lalu ke arah laut yang kini kembali tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa." Saya menemukan ini, Aki," kata Bimo dengan suara parau, sambil menunjukkan serpihan kecil titanium yang berhasil ia cungkil dari pelat tadi. Aki Jajang mengambil serpihan itu, mengamatinyanya di bawah sinar matahari. Matanya yang tua menyipit, dan ekspresinya berubah menjadi sangat serius. Ia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, hanya memutar-mutar logam itu di antara ibu jari dan telunjuknya." Ini teh bukan sekadar besi tua, Bimo," ujar Aki Jajang pelan." Ini teh kunci yang seharusnya tetap terkunci." "Tapi itu bagian dari kapal Ayah, Aki! Saya yakin itu," balas Bimo, nada suaranya meninggi karena emosi yang tertahan." Dan Togar. Kapal tadi itu milik Samudra Nusantara. Mereka tahu sesuatu." Mbak Lastri segera mengambil handuk kering dan menyampirkannya ke bahu Bimo." Sudah, sudah. Masuk dulu, ganti baju. Kamu bisa mati kedinginan kalau terus begini." Bimo menurut, namun pikirannya masih tertinggal di kedalaman tiga puluh meter tadi. Ia tahu bahwa penemuannya hari ini telah mengubah segalanya. Ia bukan lagi sekadar oseanografer yang mencari data ilmiah; ia sekarang adalah target di dalam peta permainan yang jauh lebih besar dan berbahaya. Di dalam kabin yang sempit, aroma kopi dan kayu tua memberikan sedikit rasa aman yang semu. Bimo duduk di depan meja kecil yang penuh dengan peta laut dan catatan teknis. Ia mengambil ponsel satelitnya, mencoba menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi di dasar laut Namasua." Mei? Kamu bisa dengar saya?" tanya Bimo saat sambungan terhubung. Suara Meiling Wijaya terdengar di seberang sana, cepat dan penuh energi seperti biasanya, meski terdistorsi oleh gangguan sinyal." Loh, Mas Bimo? Tumben telepon jam segini. Ada apa? Kok suaranya kayak habis dikejar hiu?" "Mei, saya butuh kamu meretas manifes kapal Samudra Nusantara yang berada di koordinat Ambon hari ini," perintah Bimo tanpa basa-basi." Cari tahu apa yang mereka bawa di bawah dek. Terutama peralatan pemetaan bawah laut mereka." "Waduh, Mas, itu mah cari perkara namanya," sahut Mei, meski terdengar ada nada antusias di suaranya." Tapi ya sudah, kasih aku waktu satu jam. Eh, tapi kok bisa mereka ada di sana? Bukannya itu zona terlarang?" "Itulah yang ingin saya ketahui, Mei. Cepat ya." Bimo mematikan sambungan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kabin, merasakan getaran mesin kapal Aki Jajang yang mulai bergerak kembali menuju dermaga. Ia melihat ke luar jendela kecil, ke arah cakrawala di mana kapal Samudra Nusantara tadi menghilang. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan Bimo tahu bahwa jalan di depannya tidak akan semulus aspal di kota. Ini adalah perjalanan melalui arus yang tidak terduga, di mana setiap mil yang ditempuh membawanya lebih dekat ke kebenaran yang mungkin lebih baik tetap terkubur. Aki Jajang masuk ke kabin, membawa segelas teh hangat yang mengepulkan aroma melati. Ia meletakkannya di depan Bimo, lalu duduk di kursi kayu di seberangnya." Bimo, laut teh tidak pernah berbohong," kata Aki Jajang dengan suara yang sangat rendah." Manusia yang sering berbohong pada dirinya sendiri. Kamu mencari Ayahmu, atau kamu mencari pembenaran atas rasa bersalahmu?" Pertanyaan itu menghujam tepat di ulu hati Bimo. Ia terdiam, tangannya mengepal di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ini semua demi ilmu pengetahuan, namun sorot mata Aki Jajang seolah bisa menembus segala dinding pertahanan yang ia bangun." Saya hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya, Aki," jawab Bimo akhirnya, suaranya hampir menyerupai bisikan." Tahu teh ada harganya, Le," sela Mbak Lastri yang berdiri di pintu kabin." Kadang harganya lebih mahal dari yang sanggup kita bayar." Bimo menyesap tehnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, di dalam hatinya, ada dingin yang tidak bisa diusir oleh teh sehangat apa pun. Dingin yang berasal dari kedalaman laut, dari tempat di mana cahaya matahari tidak pernah sampai. Seketika, sebuah alarm berbunyi dari laptop Bimo yang tergeletak di sudut meja. Itu adalah notifikasi dari sensor bawah laut yang ia pasang secara ilegal di sekitar area penyelamannya tadi. Layar laptop itu berkedip-kedip merah, menunjukkan adanya aktivitas seismik yang tidak wajar. Bimo segera mendekati laptopnya, jemarinya menari di atas *keyboard* dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh orang yang sedang panik. Grafik di layar menunjukkan lonjakan energi yang sangat besar, berpusat tepat di lokasi pelat titanium yang ia temukan tadi." Aki, lihat ini!" seru Bimo. Aki Jajang mendekat, keningnya berkerut melihat grafik yang naik turun dengan liar." Apa itu teh artinya?" "Seseorang baru saja meledakkan sesuatu di dasar laut," kata Bimo, wajahnya mengeras." Mereka mencoba menghancurkan bukti itu." Getaran hebat kembali terasa, kali ini lebih kuat hingga membuat gelas teh di atas meja terguling dan isinya tumpah membasahi peta-peta Bimo. Kapal kayu itu bergoyang hebat, dan suara ledakan tumpul terdengar dari kejauhan, merambat melalui air seperti guntur di bawah permukaan. Bimo berlari keluar kabin, memandang ke arah lokasi penyelamannya tadi. Sebuah kolom air raksasa meledak ke udara, membawa serta lumpur dan puing-puing dari dasar laut. Burung-burung laut terbang berhamburan, menjerit ketakutan saat ketenangan mereka koyak oleh keserakahan manusia. Di kejauhan, kapal Samudra Nusantara Corp tampak berputar arah, meninggalkan lokasi dengan kecepatan tinggi. Mereka telah melakukan apa yang mereka inginkan, dan mereka tidak peduli pada kerusakan ekosistem yang mereka tinggalkan." Biadab!" teriak Mbak Lastri, tangannya mengepal ke arah kapal besar itu." Mereka pikir laut ini milik nenek moyang mereka apa?" Bimo hanya diam, matanya terpaku pada sisa-sisa ledakan yang mulai mereda. Ia merasakan kemarahan yang dingin mulai membeku di dalam dirinya. Togar Simanjuntak bukan sekadar pesaing bisnis; dia adalah ancaman bagi sejarah keluarganya dan masa depan laut ini." Kita harus pergi dari sini, Aki," kata Bimo pelan namun tegas." Mereka akan kembali untuk memastikan tidak ada saksi." Aki Jajang mengangguk, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dalam sekejap. Ia segera menuju kemudi dan memutar haluan kapal menjauh dari zona ledakan. Mesin kapal tua itu menderu, berjuang melawan arus yang kini menjadi kacau akibat ledakan tadi. Saat mereka menjauh, Bimo melihat ke arah laut untuk terakhir kalinya dalam hari itu. Air yang tadinya biru jernih kini berubah menjadi keruh dan kecokelatan. Di bawah sana, jalan setapak yang baru saja ia temukan kini telah hancur, tertutup oleh reruntuhan dan debu bawah laut. Namun, Bimo masih memegang serpihan titanium itu di sakunya. Sebuah fragmen kecil dari masa lalu yang kini menjadi satu-satunya kompas menuju masa depan. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik gelar akademisnya. Malam mulai turun menyelimuti perairan Ambon, membawa serta kegelapan yang lebih pekat dari biasanya. Bimo berdiri di dek, membiarkan angin laut yang kencang menerpa wajahnya. Ia membayangkan ayahnya, berada di suatu tempat di bawah sana, dalam keabadian yang sunyi." Saya akan menemukannya, Yah," bisik Bimo ke arah kegelapan." Apa pun harganya." Tiba-tiba, ponsel satelitnya bergetar lagi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Bimo membukanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. *Jangan kembali ke Namasua malam ini. Mereka menunggumu di dermaga. * Bimo menatap pesan itu, lalu menoleh ke arah Aki Jajang yang sedang fokus mengemudi. Siapa yang mengirim pesan ini? Dan seberapa besar sebenarnya jaringan yang dimiliki oleh Togar Simanjuntak? Ketakutan yang tadi sempat mereda kini kembali hadir, lebih tajam dan lebih nyata. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penjelajah; ia adalah buronan di tanah kelahirannya sendiri. Jalan pulang kini terasa lebih jauh dan lebih berbahaya daripada jalan menuju dasar laut yang paling dalam sekalipun." Aki, kita tidak bisa kembali ke dermaga utama," kata Bimo, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Aki Jajang menoleh sejenak, matanya mencerminkan cahaya lampu navigasi yang redup." Lalu kita teh mau ke mana, Bimo? Laut ini luas, tapi tempat sembunyi teh sedikit." Bimo terdiam sejenak, memikirkan langkah selanjutnya. Ia teringat pada sebuah koordinat lama yang pernah disebutkan ayahnya dalam salah satu jurnalnya. Sebuah tempat yang tidak ada di peta resmi, sebuah pelabuhan bayangan yang hanya diketahui oleh para penjaga tradisi." Ke arah timur, Aki. Ke Teluk Tersembunyi," jawab Bimo. Mbak Lastri yang sedang membersihkan tumpahan teh di kabin menghentikan kegiatannya. Ia memandang Bimo dengan tatapan yang sulit diartikan, antara takut dan pasrah." Itu tempat terlarang, Le. Orang-orang bilang laut di sana punya nyawa sendiri." "Kita tidak punya pilihan lain, Mbak," sahut Bimo." Nyawa laut jauh lebih baik daripada tangan-tangan orang yang ingin menghancurkannya." Kapal kayu itu terus melaju membelah ombak malam, meninggalkan jejak buih putih yang segera hilang ditelan kegelapan. Di atas mereka, bintang-bintang bersinar dengan dingin, seolah-olah sedang mengamati permainan kecil manusia di atas panggung biru yang tak berujung. Bimo kembali masuk ke kabin, membuka laptopnya yang masih menyala. Ia melihat data seismik terakhir sekali lagi. Ada sesuatu yang aneh. Di balik pola ledakan tadi, ada frekuensi rendah yang terus berulang, sebuah pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh dinamit atau bahan peledak konvensional. Itu adalah sebuah sinyal. Sebuah panggilan dari kedalaman yang lebih jauh lagi. Jantung Bimo berdegup kencang. Ia menyadari bahwa ledakan itu bukan sekadar untuk menghancurkan bukti. Itu adalah sebuah kunci untuk membuka sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang selama ini tertidur di bawah lapisan kerak bumi. Dan Togar Simanjuntak baru saja membangunkan monster itu. Bimo menutup laptopnya dengan kasar. Ia harus segera bertemu dengan Dara Puspita. Hanya pilot kapal selam segila Dara yang berani membawanya kembali ke bawah sana, menembus batas-batas yang dilarang oleh akal sehat. Di luar, suara ombak yang menghantam lambung kapal terdengar seperti detak jantung samudra yang semakin cepat. Perjalanan ini bukan lagi tentang membuktikan teori ayahnya. Ini adalah tentang mencegah kiamat kecil yang sedang direncanakan di balik meja-meja kantor Samudra Nusantara Corp. Bimo memejamkan mata sejenak, mencoba mencari ketenangan di tengah badai yang mulai terbentuk. Ia tahu, mulai saat ini, setiap napas yang ia hirup adalah pinjaman dari laut. Dan laut selalu menagih hutangnya pada akhirnya." Nggih, Ayah," gumam Bimo pelan." Sekarang saya mengerti kenapa Ayah tidak pernah kembali." Kapal terus melaju, menembus kabut malam yang mulai turun. Di depan mereka, Teluk Tersembunyi menunggu dengan segala rahasia dan bahayanya. Dan di belakang mereka, bayangan Togar Simanjuntak terus mengejar, siap menelan siapa pun yang berani menghalangi ambisinya. Bimo menggenggam serpihan titanium itu erat-erat, merasakan ujung-ujungnya yang tajam menusuk telapak tangannya. Rasa sakit itu adalah pengingat bahwa ia masih hidup, dan selama ia masih hidup, harapan itu masih ada. Meski harapan itu kini tersembunyi di dasar laut yang paling kelam.

⚙️ Configurações de leitura

18px
1.8