6 / 36
Lendo
Cahaya lampu minyak di atas meja jati itu berdenyut tak keruan. Bayangan hitam memanjang di dinding, meliuk-liuk serupa tentakel gurita raksasa yang hendak menelan seluruh isi ruang tengah rumah Aki Sastra. Di luar, hujan menghajar atap seng dengan ritme serampangan. Suaranya gaduh, menyerupai ribuan butir peluru timah yang dimuntahkan dari langit kelam menuju bumi. Aroma tanah basah menyelinap melalui celah jendela lapuk, membawa serta hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Bimo Satrio berdiri mematung di sudut ruangan yang remang. Kegelapan menyelimuti separuh wajahnya, menyembunyikan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang gelisah.
Dara Puspita tidak bergeser seinci pun dari posisinya di depan meja kayu yang mulai retak dimakan usia. Jemarinya yang ramping namun tampak liat perlahan membuka sebuah gulungan perkamen tua. Kertas itu mengeluarkan suara gemerisik yang kering, sebuah bunyi parau yang seketika membuat bulu kuduk Bimo meremang. Bau apak kertas kuno menyeruak, bertarung dengan uap garam yang merembes masuk dari sela-sela dinding kayu. Bimo menghirup aroma itu dengan napas yang tertahan. Itu adalah bau masa lalu, aroma yang selama belasan tahun ini ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan jurnal ilmiah dan deretan data arus laut yang membosankan.
"Lihat ini, Bimo," desak Dara. Suaranya tenang, namun ada ketajaman yang mengiris keheningan di antara mereka. Bimo segera memalingkan wajah, enggan menatap benda di atas meja itu maupun mata Dara yang menuntut jawaban. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menabrak rak buku tua yang dipenuhi koleksi kerang serta botol-botol sampel air yang berdebu. Rak itu berderit pelan, seolah kayu-kayunya ikut memprotes kehadiran Bimo yang penuh ketegangan. Jantungnya berdegup liar di balik tulang rusuk. Rasanya seperti piston mesin kapal yang dipaksa bekerja melampaui batas rotasi maksimal hingga hampir meledak.
Dinding-dinding ruangan seolah bergerak merapat, menghimpit napasnya dalam ruang yang mendadak terasa sangat pengap. "Saya tidak memiliki ketertarikan pada benda itu, Dara," kata Bimo dengan nada bicara yang diusahakan tetap formal dan datar. Namun, perempuan di hadapannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Dara mensejajarkan potongan perkamen itu dengan buku catatan Aki Sastra yang sudah terbuka sejak tadi di atas meja. Gerakannya sangat presisi dan penuh perhitungan. Seolah-olah ia telah melatih koordinasi tangan itu ribuan kali di dalam benaknya sebelum datang ke tempat ini.
Begitu kedua benda itu bersentuhan, garis-garis pantai yang digambar dengan tinta hitam pudar tampak menyatu tanpa celah sedikit pun. Sebuah simetri yang mustahil jika hanya dianggap sebagai kebetulan belaka di tengah luasnya samudra. "Peta ini tidak akan pernah mencapai bentuk sempurnanya tanpa bantuan ingatan Anda, Bimo Satrio," ucap Dara lagi. Bimo mencuri pandang ke arah meja, dan rasa ingin tahu yang menyakitkan mulai menggerogoti pertahanannya yang selama ini ia jaga dengan ketat. Ia mengenali lekukan garis pantai itu dengan sangat baik.
Garis itu membentuk teluk tersembunyi yang pernah ia kunjungi bersama ayahnya tepat sebelum badai besar itu datang menghancurkan segalanya. Guratan tintanya meliuk-liuk serupa akar pohon tua yang mencengkeram permukaan perkamen yang rapuh. Tangan Bimo yang tersembunyi di balik saku celana mulai gemetar hebat. Ia tidak mampu mengendalikan reaksi fisik tersebut meski otaknya terus berteriak agar ia tetap bersikap tenang dan acuh tak acuh. "Itu hanyalah selembar kertas tua yang sudah tidak memiliki nilai," gumam Bimo, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Dara.
Dara melangkah mendekat, membuat jarak di antara mereka menguap. Matanya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Bimo, mencari celah di balik topeng ketenangan pria itu. "Ini bukan sekadar kertas tua yang lapuk. Secara bertahap, ini adalah rute navigasi yang sedang diburu oleh banyak pihak, termasuk orang-orang dari Samudra Nusantara Corp."
"Biarkan saja mereka mencarinya hingga ke dasar neraka terdalam sekalipun," sahut Bimo dengan nada bicara yang tajam dan penuh penekanan. Ia merasa seolah lantai kayu di bawah kakinya bergeser, membuatnya tidak stabil berdiri di rumah yang telah ia tempati sejak kecil. Setiap kata yang diucapkan Dara terasa seperti hantaman ombak besar yang menghantam tebing karang di dalam dadanya. Bimo ingin sekali menyambar peta itu dan melemparkannya ke dalam tungku api, melenyapkan segala bukti yang menghubungkannya kembali dengan kegelapan di bawah sana. Namun, di saat yang sama, ada bagian dari jiwanya yang merindukan sensasi dingin air laut yang memeluk tubuhnya.
"Anda mengenali koordinat ini, bukan?" tanya Dara sambil menunjuk sebuah titik kecil yang nyaris tak terlihat di atas peta. Bimo menarik napas pendek, merasa pasokan oksigen di ruangan itu tiba-tiba menipis secara drastis. Bayangan ayahnya yang sedang tersenyum di atas dek kapal selam mini kembali muncul dengan jelas di pelupuk matanya. Ayahnya selalu berujar bahwa laut adalah rumah yang paling jujur, namun bagi Bimo, laut hanyalah kuburan luas yang tidak pernah berhenti menagih janji. Ia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak, meski lututnya terasa lemas dan mengancam akan runtuh kapan saja.
"Saya sudah lama berhenti membaca dan memahami peta-peta seperti itu," kata Bimo dengan nada formal yang kaku, berusaha menciptakan jarak emosional.
"Jangan membohongi diri Anda sendiri, Mas Bimo," potong Dara, menggunakan sapaan yang sedikit lebih lembut namun tetap mengandung tuntutan yang tidak bisa diabaikan. Dara kembali ke meja dan menunjuk sebuah simbol aneh yang menyerupai bentuk mata yang sedang menangis. Ia kemudian membacakan sebaris kalimat dari buku catatan Aki Sastra dengan suara rendah yang bergetar. Kalimat itu terdengar seperti mantra kuno yang sengaja dibisikkan untuk membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di kedalaman.
"Tepat di tempat di mana besi mengeluarkan air mata dan air tidak lagi memiliki rasa, di situlah jantung samudra berdetak," baca Dara dengan sangat pelan. Bimo Satrio tiba-tiba menggebrak meja jati itu dengan telapak tangannya yang terbuka. Suara benturan keras itu menggema di seluruh ruangan, membuat cangkir kopi kosong di ujung meja berdenting nyaring karena getaran yang dihasilkan. Napas Bimo memburu, dan matanya membelalak menatap Dara dengan kemarahan yang meluap-luap dari balik dadanya.
Detak jam dinding di sudut ruangan tiba-tiba terdengar seperti dentum lonceng kematian yang menghantam telinga dengan kekuatan penuh. "Cukup! Saya minta Anda diam, Dara!" teriak Bimo dengan suara yang pecah. Seketika, kilasan balik suara derit lambung kapal yang hancur berkeping-keping di bawah tekanan air ribuan psi menghantam kesadarannya tanpa ampun. Ia bisa merasakan sensasi dingin yang merayap perlahan di sepanjang tulang punggungnya. Perasaan itu persis seperti saat ia melihat kapal ayahnya menghilang ditelan kegelapan abadi samudra.
Suara besi yang mengerang kesakitan sebelum akhirnya patah adalah simfoni kematian yang tidak akan pernah bisa ia hapus dari ingatannya. "Anda sama sekali tidak memahami apa yang sedang Anda bicarakan saat ini," ujar Bimo dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.
"Saya justru sangat tahu bahwa Anda adalah satu-satunya orang yang mampu membawa kita menuju titik tersebut," sahut Dara tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun terhadap kemarahan Bimo.
"Laut sudah mengambil lebih dari cukup dari hidup saya, Dara," kata Bimo, suaranya kini merendah namun penuh dengan kepahitan yang kental. "Silakan Anda cari orang gila lain yang mau mempertaruhkan nyawanya hanya demi mengejar dongeng pengantar tidur ini."
Dara menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Bimo dengan pandangan yang menyiratkan rasa remeh yang mendalam. "Jadi, beginilah akhir dari perjalanan sang oseanografer hebat yang pernah saya kenal? Bersembunyi di balik tembok rumah tua yang pengap dan membiarkan teori besar ayahnya dianggap sebagai lelucon oleh dunia?"
"Apa yang Anda ketahui tentang ayah saya?" tanya Bimo dengan nada mengancam, langkahnya maju satu tindak mendekati Dara.
"Saya tahu beliau tidak mengorbankan nyawanya agar Anda bisa membusuk dan layu di tempat ini, Bimo," jawab Dara dengan kalimat yang tajam. "Beliau berpulang karena beliau percaya bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan berharga daripada sekadar deretan data di atas kertas."
Bimo merasa hawa panas menjalar di telapak tangannya, sebuah kontras yang aneh dengan hawa dingin yang menyelimuti hatinya saat ini. Ia berjalan cepat menuju pintu depan, langkah kakinya menciptakan suara berdebam yang berat di atas lantai kayu yang kering. Dengan satu gerakan kasar, ia menarik gagang pintu besi yang sudah mulai berkarat. Dinginnya logam menyengat kulit telapak tangannya, namun ia tidak memedulikan rasa sakit itu sedikit pun.
"Keluar," perintah Bimo singkat dengan suara yang rendah namun penuh otoritas. Dara tidak bergerak dari tempatnya berdiri, ia masih menatap Bimo dengan binar mata yang menyala-nyala oleh determinasi.
"Anda adalah seorang pengecut, Bimo Satrio. Anda jauh lebih takut pada kenangan Anda sendiri daripada pada kedalaman laut yang paling gelap sekalipun."
"Saya bilang keluar sekarang juga!" Bimo berteriak, suaranya bersaing dengan gemuruh guntur yang menggelegar di langit luar. Hujan yang tadinya gerimis kini berubah menjadi badai kecil, membawa butiran air dingin yang masuk ke dalam ruangan melalui pintu yang terbuka. Dara akhirnya melangkah menuju pintu, namun ia berhenti tepat di ambang batas antara ruang dalam dan dunia luar. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan terakhir yang penuh dengan kekecewaan yang nyata.
"Pintu ada di belakang Anda, Dara," kata Bimo dengan otoritas mutlak yang dipaksakan agar suaranya tidak pecah. "Dan saya minta Anda untuk tidak kembali lagi ke rumah ini."
"Saya akan pergi sesuai keinginan Anda," ujar Dara pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan. "Tapi ingatlah satu hal, Bimo. Anda tidak akan pernah bisa lari dari arus. Semakin kuat Anda melawannya, semakin kuat pula ia akan menyeret Anda kembali ke tengah samudra."
Dara melangkah keluar ke tengah guyuran hujan, dan sosoknya dengan cepat menghilang ditelan kegelapan malam yang pekat. Bimo segera membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat dan menguncinya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga ia terduduk di atas lantai yang dingin. Sunyi segera menyergap ruangan itu, sebuah keheningan yang terasa jauh lebih berat karena potongan peta yang sengaja ditinggalkan Dara masih tergeletak di atas meja.
Bimo memejamkan mata erat-erat, mencoba meredam badai emosi yang mengamuk di dalam kepalanya. Setiap tarikan napasnya terasa sangat berat, seolah-olah paru-parunya telah dipenuhi oleh air laut yang asin dan pekat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu, sebuah pengingat fisik bahwa ia masih hidup, meski sebagian dari jiwanya merasa sudah mati bersama ayahnya belasan tahun yang lalu. Ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang seperti kawat baja yang siap putus kapan saja.
Dengan gerakan yang lambat dan mekanis, Bimo bangkit berdiri dan melangkah menuju dapur kecil di sudut rumah. Ia mengambil teko tembaga yang sudah kusam dan mengisinya dengan air dari tempayan tanah liat. Suara kucuran air itu terdengar seperti bisikan parau yang memanggil dari kedalaman palung laut. Ia menyalakan kompor gas kecil, menunggu hingga air mendidih dengan tatapan mata yang kosong. Ia menyeduh kopi tubruk kental di dalam cangkir keramik favoritnya yang sudah retak seribu.
Aroma kopi yang tajam dan menusuk hidung mulai memenuhi ruang dapur, memberikan sedikit rasa nyaman yang sangat ia butuhkan saat ini. Bimo membawa cangkir panas itu kembali ke ruang tengah dan duduk di kursi goyang milik kakeknya. Kayu kursi itu terasa halus di bawah jemarinya, sebuah tekstur yang memberikan rasa aman yang semu di tengah ketidakpastian. Bimo menyesap kopi panas itu secara perlahan. Rasa pahit yang pekat membekas di pangkal lidahnya, memberikan sensasi hangat yang menjalar dari tenggorokan menuju dadanya.
Kehangatan itu seolah menjadi selimut hitam yang membungkus saraf-sarafnya yang lelah, melindunginya sejenak dari bayang-bayang masa lalu yang kelam. Ia membiarkan uap panas kopi menyentuh wajahnya, menutup mata dan mencoba membayangkan bahwa ia berada di sebuah tempat yang sangat jauh dari jangkauan laut. Namun, peta itu masih ada di sana, diam membisu di bawah cahaya lampu minyak yang semakin meredup. Potongan perkamen itu seolah memancarkan auranya sendiri yang bersifat magnetis.
Bimo menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak akan bisa memejamkan mata untuk tidur malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia melihat garis-garis pantai itu berubah menjadi tangan-tangan raksasa yang menariknya kembali ke dasar samudra. "Nggih, Aki," gumam Bimo pelan, seolah sedang bercakap-cakap dengan kakeknya yang sudah lama tiada. "Saya hanya ingin hidup dengan tenang di sini. Apakah keinginan itu merupakan sebuah kesalahan besar?"
Tidak ada jawaban yang datang dari keheningan rumah tua itu. Hanya ada suara derit kursi goyang dan detak jam dinding yang terus berjalan tanpa henti, menghitung waktu yang tersisa. Bimo menatap cangkir kopinya yang kini hanya menyisakan ampas hitam di dasar keramik. Ia merasa seperti sebuah beban timah yang membelenggu di dasar laut, tidak mampu bergerak maju namun juga tidak bisa benar-benar menetap dengan damai. Pikiran Bimo melayang jauh pada kejadian tragis belasan tahun yang lalu.
Ia masih bisa merasakan guncangan hebat kapal saat ombak setinggi rumah menghantam lambung kapal mereka tanpa ampun. Ayahnya, dengan wajah yang tampak tenang namun tegas, memerintahkannya untuk segera masuk ke dalam kapsul penyelamat. Itu adalah kali terakhir ia melihat senyum di wajah ayahnya sebelum segalanya berubah menjadi bencana. Setelah momen itu, hanya ada kegelapan total dan suara air yang merembes masuk ke dalam kabin dengan tekanan tinggi. Bimo menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar sangat lelah di tengah kesunyian malam.
Ia meletakkan cangkirnya di atas meja kecil di samping kursi goyang dengan gerakan hati-hati. Tangannya kembali terjulur, hampir menyentuh peta di atas meja besar, namun ia segera menariknya kembali seolah baru saja menyentuh bara api yang menyala. "Saya telah mengambil keputusan yang benar," bisiknya pada kegelapan yang menyelimuti ruangan. "Saya tidak akan pernah kembali ke sana. Tidak akan pernah untuk kedua kalinya."
Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Bimo tahu bahwa pernyataan itu hanyalah sebuah kebohongan besar yang ia ciptakan untuk melindungi dirinya sendiri. Rasa bersalah yang membeku selama bertahun-tahun kini mulai menunjukkan retakan-retakan kecil yang berbahaya. Peta itu bukan sekadar rute menuju harta karun atau rahasia kuno yang terkubur, melainkan rute menuju penebusan dosa yang selama ini ia cari secara tidak sadar. Ia menatap jendela yang kini hanya menampakkan pantulan dirinya sendiri di tengah kegelapan.
Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, dengan garis-garis kelelahan yang terukir jelas di sekitar matanya yang cekung. Bimo Satrio, sang oseanografer yang kini memiliki ketakutan luar biasa pada air, merasa terjebak dalam pusaran emosi yang tidak memiliki jalan keluar. Lampu minyak akhirnya padam karena kehabisan bahan bakar, menyisakan seluruh ruangan dalam kegelapan total yang mencekam. Hanya ada cahaya samar dari sisa-sisa bara di tungku dapur yang memberikan sedikit rona kemerahan pada dinding kayu.
Bimo tetap duduk diam di kursi goyangnya, mendengarkan suara hujan yang mulai mereda di luar sana. Namun, suara-suara di dalam kepalanya justru semakin keras berteriak, menuntut perhatian yang selama ini ia abaikan. Di atas meja, potongan peta itu seolah terus menunggu dengan sabar. Ia menunggu tangan yang tepat untuk menyatukannya kembali, menunggu seseorang yang cukup berani untuk menghadapi monster yang bersembunyi di kedalaman abadi. Bimo tahu bahwa Dara Puspita tidak akan menyerah begitu saja pada penolakannya.
Wanita itu memiliki api determinasi yang sama dengan ayahnya, sebuah tekad yang mampu membuat gunung sekalipun menolak untuk bergerak dari tempatnya. Bimo meraba saku celananya dan mengeluarkan sebuah pelat titanium bernomor seri 'S-09-B' yang ia temukan di Ambon beberapa waktu lalu. Logam dingin itu terasa sangat berat di telapak tangannya, seolah membawa beban sejarah yang tak terkatakan. Itu adalah potongan fisik dari masa lalunya, sebuah bukti nyata bahwa ayahnya pernah berada di sana, di kedalaman yang kini ia takuti setengah mati.
Ia menggenggam pelat logam itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih karena tekanan. "Kenapa Ayah meninggalkan benda ini untuk saya?" tanyanya dalam hati dengan penuh kepedihan. Pertanyaan itu menggantung di udara ruangan yang dingin, tidak mendapatkan jawaban apa pun dari kegelapan. Bimo merasa seolah ia sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam, dan satu langkah kecil saja akan membuatnya jatuh selamanya ke dalam kehampaan. Pilihan yang ada di depannya terasa sangat mustahil untuk diambil.
Ia harus memilih antara tetap aman dalam ketakutan yang melumpuhkan atau terjun ke dalam ketidakpastian yang mungkin akan mematikan. Ia bangkit dari kursi goyang dan berjalan perlahan menuju meja besar di tengah ruangan. Dalam kegelapan total, ia meraba permukaan perkamen itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Teksturnya terasa kasar dan rapuh, seperti kulit mati yang menyimpan rahasia besar selama berabad-abad. Bimo bisa merasakan denyut halus dari kertas itu, sebuah ilusi yang diciptakan oleh imajinasinya yang sedang bekerja terlalu aktif.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan pelan namun jelas di pintu depan rumahnya. Bimo membeku di tempatnya berdiri, napasnya tertahan di tenggorokan. Apakah Dara memutuskan untuk kembali lagi? Ataukah itu hanya suara dahan pohon tua yang tertiup angin dan menghantam kayu pintu? Jantungnya kembali berpacu dengan cepat, dan ia berusaha menangkap suara sekecil apa pun yang berasal dari luar sana. Ketukan itu terdengar lagi untuk kedua kalinya, kali ini lebih berirama dan penuh dengan penekanan yang disengaja.
Itu bukan suara alam. Seseorang sedang berdiri di luar sana, di tengah sisa-sisa gerimis malam yang menggigit. Bimo merasa lututnya kembali melemah, dan rasa takut yang baru mulai merayap perlahan di benaknya. Siapa yang akan datang berkunjung ke rumah terpencil ini di jam selarut ini? Jika orang itu bukan Dara, maka pilihannya menjadi jauh lebih berbahaya bagi keselamatannya. Bimo teringat kembali pada peringatan Dara tentang orang-orang dari Samudra Nusantara Corp yang sedang mengincarnya.
Bimo melangkah perlahan menuju pintu, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai kayu yang sering berderit. Tangannya kembali memegang gagang pintu besi yang terasa sangat dingin di kulitnya. Ia bisa merasakan kehadiran seseorang di balik kayu tebal itu, sebuah energi yang terasa asing namun memiliki kekuatan yang sangat besar. "Siapa yang berada di luar sana?" tanya Bimo dengan suara yang hampir tidak terdengar, tertahan oleh rasa cemas yang memuncak.
Tidak ada jawaban verbal yang terdengar, namun suara ketukan itu tiba-tiba berhenti seketika. Keheningan yang mengikuti momen itu terasa jauh lebih mencekik daripada sebelumnya. Bimo bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi dahinya meski suhu udara sedang sangat rendah. Ia ingin sekali mengintip melalui lubang kunci, namun rasa takut yang primitif menahan gerakannya. Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang berwibawa terdengar dari balik pintu, memecah kesunyian malam dengan nada yang sangat tenang namun mengandung ancaman.
"Bimo Satrio, saya tahu Anda berada di dalam. Kita perlu membicarakan tentang warisan berharga milik ayah Anda."
Darah Bimo seolah berhenti mengalir di dalam pembuluhnya saat mendengar suara itu. Suara itu jelas bukan milik Dara. Itu adalah suara yang penuh dengan otoritas, jenis suara yang biasa terdengar di ruang-ruang rapat dewan direksi yang mewah dan eksklusif. Bimo tahu persis siapa pemilik suara itu, meski ia belum pernah bertemu secara langsung dengannya selama ini. Ia melangkah mundur dari pintu, matanya tertuju pada peta di atas meja yang seolah bersinar dalam kegelapan.
Bimo menyadari bahwa pelariannya selama ini telah mencapai titik akhir. Arus yang sangat ia takuti telah membawanya ke sebuah titik di mana ia tidak bisa lagi sekadar menjadi penonton yang pasif. "Jangan pernah membuka pintu itu, Bimo," bisik sebuah suara di dalam kepalanya yang mirip dengan peringatan Aki Jajang. Namun, Bimo tahu bahwa pintu kayu itu tidak akan mampu menahan mereka selamanya jika mereka memutuskan untuk masuk secara paksa. Ia menatap peta itu sekali lagi, lalu beralih ke pelat titanium di tangannya.
Sebuah keputusan besar harus segera diambil, dan apa pun pilihannya, hidupnya tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang masih ia miliki di dalam dirinya. Tangannya yang tadinya gemetar kini mulai stabil, seolah-olah beban yang ia pikul selama ini telah menemukan tempat untuk bersandar. Bimo Satrio menatap pintu itu dengan pandangan yang tajam, siap menghadapi apa pun yang sedang menunggu di baliknya.
Di luar, hujan benar-benar telah berhenti, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari dedaunan menuju tanah yang basah. Kesunyian itu terasa seperti napas yang tertahan, menunggu sebuah ledakan besar yang akan mengubah segalanya dalam sekejap. Bimo meletakkan tangannya di atas kunci pintu, namun ia tidak segera memutarnya. Ia menunggu sejenak, membiarkan ketegangan di udara mencapai puncaknya yang paling tinggi.
"Bimo Satrio," suara di luar kembali memanggil, kali ini dengan nada yang sedikit lebih mendesak dan tidak sabar. "Jangan biarkan saya menunggu terlalu lama di sini. Anda tentu tahu apa yang bisa saya lakukan jika saya mulai kehilangan kesabaran saya."
Bimo menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu bahwa ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah ia inginkan, sebuah ekspedisi menuju kegelapan yang paling dalam di dasar samudra. Ia menoleh ke arah peta di atas meja untuk terakhir kalinya, dan sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya: apakah ia akan menjadi orang yang menemukan kebenaran sejati, ataukah ia hanya akan menjadi korban lain dari rahasia besar yang tersimpan di dasar laut?
Tangannya mulai memutar kunci, dan suara derit logam yang bergeser terdengar seperti sebuah vonis mati di telinganya yang sensitif. Pintu itu perlahan terbuka, menyingkap sesosok bayangan pria yang berdiri tegak di tengah kegelapan malam, dengan mata yang bersinar penuh dengan ambisi yang mematikan. Bimo Satrio berdiri tegak, menantang takdir yang baru saja mengetuk pintunya dengan keras. Ia tidak lagi gemetar. Ia tidak lagi merasa takut. Karena di kedalaman hatinya, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengalahkan monster adalah dengan menghadapinya langsung di sarangnya.
"Silakan Anda masuk," kata Bimo dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang bahkan terasa menakutkan bagi dirinya sendiri. Pintu terbuka lebar, dan bayangan itu melangkah masuk ke dalam rumah, membawa serta aroma kekuasaan dan pengkhianatan yang akan mengubah jalannya sejarah di Karang Hijau selamanya. Bimo menutup pintu di belakangnya, mengunci dirinya sendiri dalam sebuah permainan berbahaya yang taruhannya adalah nyawanya sendiri. Di atas meja, peta itu tetap diam membisu, menyimpan rahasia yang kini telah mulai terungkap perlahan.
Di kejauhan, laut memberikan jawaban dengan sebuah deburan ombak yang sangat keras menghantam pantai, seolah sedang menyambut kembalinya sang putra yang hilang ke pelukannya yang mematikan. Bimo tahu, perjalanannya baru saja dimulai. Dan kali ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali menuju daratan yang aman dan tenang. Ia sudah berada tepat di tengah arus, dan arus itu hanya memiliki satu tujuan akhir: dasar samudra yang paling dalam dan gelap. Keheningan kembali menyelimuti rumah tua itu, namun kali ini keheningan itu terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Ia penuh dengan antisipasi, penuh dengan bahaya, dan penuh dengan janji-janji yang mungkin tidak akan pernah bisa ditepati oleh siapa pun. Bimo Satrio telah memilih jalannya sendiri, dan sekarang ia harus menanggung segala konsekuensi yang akan datang menyertainya.