Getaran ganjil merambat melalui sol sepatu bot Bimo Satrio, menjalar hingga ke tulang keringnya. Ini bukan lagi dengung rendah dari mesin pendorong utama yang biasanya memberikan rasa aman yang konstan. Ritme baru ini terasa kasar, sebuah sinkopasi mekanis yang beradu dengan tekanan air dalam, menciptakan anomali yang mengusik naluri pelautnya. Kapal Bintang Timur kini tidak lagi meluncur mulus; ia terasa seperti kereta tua yang dipaksa melintasi jalur berbatu di tengah kegelapan total. Ruang kemudi yang biasanya bermandikan cahaya putih kini tenggelam dalam pendar biru redup dari deretan monitor yang berkedip gelisah.
"Kontak! Ada kontak cepat dari arah jam empat!" Seruan Meiling Wijaya membelah keheningan yang menyesakkan itu. Gadis itu mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya nyaris menyentuh layar, sementara jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menghasilkan serangkaian bunyi klik yang ritmis. Pipi Meiling yang biasanya merona kini tampak sepucat porselen, terpantul pada layar radar yang menampilkan satu titik merah tunggal. Titik itu bergerak dengan pola agresif, memotong arus bawah laut dengan kelincahan yang mustahil bagi kapal selam konvensional. Hambatan air seolah-olah tidak memiliki kuasa atas objek misterius tersebut.
"Matikan semua emisi sekarang juga. Kita harus benar-benar menghilang dari jangkauan sensor mereka," perintah Bimo dengan nada suara yang terjaga, meskipun otot rahangnya menegang. Dia memahami sepenuhnya bahwa di kedalaman ini, setiap pancaran energi sekecil apa pun adalah suar yang mengundang pemangsa. Telapak tangannya mencengkeram pinggiran meja peta, merasakan dinginnya baja yang mulai lembap oleh kondensasi udara. Bimo menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan detak jantungnya yang mulai berdentum tidak beraturan di balik tulang rusuknya.
"Baik, Mas Bimo. Saya mematikan sonar aktif sekarang. Kita beralih ke mode senyap total," sahut Mei seraya menekan serangkaian tombol darurat dengan gerakan pasti. Seketika itu juga, dengung mesin yang selama ini menjadi latar belakang kehidupan mereka lenyap, meninggalkan kesunyian yang memekakkan telinga. Kapal Bintang Timur kini berubah menjadi sebongkah logam pasif yang melayang tak berdaya di kegelapan abadi Laut Banda. Lampu-lampu utama padam total, digantikan oleh kilatan lampu darurat merah yang berputar lambat, melemparkan bayangan panjang yang tampak menggeliat di dinding kabin.
"Dara, segera ambil alih kendali manual. Gunakan pendorong darurat hanya jika situasi benar-benar mendesak," Bimo menoleh ke arah pilotnya dengan tatapan tajam. Dara Puspita sudah duduk tegak di kursinya, kedua tangannya menggenggam tuas kendali dengan kekuatan yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya terpaku pada kegelapan pekat di luar jendela observasi yang tebal, mencari tanda-tanda keberadaan lawan. Dia tidak memberikan jawaban verbal, hanya sebuah anggukan kecil yang menunjukkan konsentrasi penuh pada tugas di tangannya.
"Ini bukan kapal nelayan atau kapal riset yang tersesat. Lihat kecepatannya. Objek ini bergerak seperti burung pemangsa di bawah air, Mas," gumam Dara dengan suara yang terdengar parau. Dia mengatur napasnya dengan teratur, mencoba mempertahankan fokus di tengah tekanan atmosfer yang seolah ikut menghimpit mentalnya. Di luar sana, suara dengung sonar dari kapal asing itu mulai terdengar, frekuensinya meningkat hingga memekakkan telinga. Bunyi itu memantul di lambung kapal mereka, menyerupai ketukan jemari raksasa yang sedang menuntut jalan masuk.
"Sistem navigasi kita mulai mengalami malfungsi serius. Ada gangguan sinyal yang sangat kuat berasal dari arah mereka. Mengapa layarnya menjadi kacau seperti ini?" Mei memukul sisi monitornya dengan telapak tangan karena frustrasi yang memuncak. Garis-garis statis mulai muncul secara acak, mengaburkan data posisi yang sangat mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Bimo segera mendekat, mengamati gangguan tersebut dengan kening berkerut dalam. Ini bukan sekadar kerusakan teknis akibat usia kapal; ini adalah interferensi elektronik tingkat militer yang dirancang untuk membutakan lawan sebelum serangan dimulai.
"Tetaplah tenang, Mei. Fokuskan perhatianmu pada enkripsi data kita. Jangan biarkan mereka menembus sistem utama kapal ini," Bimo meletakkan tangannya di bahu Mei sejenak, memberikan dukungan fisik yang terasa hangat di tengah hawa dingin kabin. Butiran keringat asin mengalir dari pelipis Bimo, mulai masuk ke matanya dan menimbulkan rasa perih yang mengganggu. Dia menyekanya dengan punggung tangan tanpa mengalihkan pandangan dari titik merah di layar yang kini sudah berada dalam jarak visual.
"Kaka Silas, segera bersiap di ruang palka bawah. Kita tidak bisa menebak apa niat mereka yang sebenarnya," Bimo memberikan instruksi kepada pria yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan. Silas Papare segera bergerak tanpa banyak bicara, wajahnya yang keras tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Bagi Silas, situasi genting ini adalah medan yang sudah sangat akrab baginya, sebuah jalan pulang menuju insting bertahan hidup yang paling purba. Dia memeriksa perlengkapannya dengan gerakan yang efisien dan mematikan.
"Pace, saya akan menjaga area bawah. Kali ini tidak akan ada satu pun penyusup yang boleh masuk tanpa izin saya," tegas Silas. Langkah kaki Silas yang berat bergema di sepanjang lorong sempit, menciptakan resonansi yang seolah-olah menghitung mundur sisa waktu yang mereka miliki. Bimo menarik napas panjang, merasakan paru-parunya terisi udara yang mulai terasa basi dan berbau ozon dari sirkuit yang kepanasan. Dia kembali menghadap monitor, di mana Mei masih bergelut dengan barisan kode yang terus menolak untuk patuh.
"Dara, lakukan manuver manual sekarang juga!" seru Bimo, suaranya membelah kebisingan statis yang memenuhi ruangan. Dara Puspita segera melompat ke kursi pilot, jemarinya menari di atas tuas kendali dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah menganggap mesin sebagai perpanjangan tubuh sendiri. Namun, wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini mengeras seperti batu karang. Dia menarik tuas dengan sekuat tenaga, tetapi kapal itu tetap bergeming, seolah-olah ada kekuatan magnetis yang mencengkeram lambung mereka di tengah kegelapan laut.
"Sistem kemudi terkunci total, Bimo! Saya tidak bisa memberikan input apa pun ke mesin!" teriak Dara dengan nada frustrasi yang jarang dia tunjukkan di depan kru. "Ini terasa seperti kita sedang ditarik oleh jangkar raksasa yang tidak terlihat. Mereka melakukan *docking* otomatis secara paksa ke lambung kita!" Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat menghantam kapal, melemparkan Lastri yang baru saja muncul dari arah dapur hingga menghantam dinding koridor dengan keras. Lastri mengerang pelan sambil memegangi pinggangnya, namun matanya yang penuh ketakutan tetap tertuju pada Bimo.
Aroma oli mesin yang tajam mulai merembes masuk ke dalam kabin utama, bercampur dengan bau amis laut yang entah bagaimana terasa lebih mengancam dari biasanya. "Semuanya, segera berpegangan pada apa pun yang kokoh!" Bimo memberikan instruksi, meskipun dia sendiri hampir kehilangan keseimbangan akibat kemiringan lantai. Suara dentuman logam berat terdengar dari arah palka bawah, sebuah bunyi benturan yang memekakkan telinga. Itu adalah suara dua entitas baja yang dipaksa menyatu dalam pelukan yang mematikan.
Bimo bisa merasakan getaran itu merambat dari telapak kakinya hingga ke sumsum tulang, sebuah tanda bahwa integritas kapal mereka telah dilanggar. Di layar monitor Mei, sebuah jendela peringatan berwarna merah darah muncul tiba-tiba, menutupi semua data navigasi yang tersisa dengan pesan peringatan yang berkedip. "Otoritas akses tingkat tinggi terdeteksi di pintu palka bawah," Mei membaca pesan itu dengan suara yang gemetar hebat. "Bagaimana ini mungkin terjadi? Protokol keamanan kita justru membuka pintu palka untuk mereka secara otomatis. Sistem kita mengenali mereka sebagai pemilik sah!"
Bimo segera berlari menuju lemari perlengkapan darurat dengan langkah seribu. Dia menyambar sebuah senapan suar dan sebuah tongkat taktis berat, senjata sederhana yang terasa sangat tidak memadai dibandingkan dengan teknologi yang baru saja melumpuhkan mereka. Dia berdiri tegak di depan pintu palka yang menuju ke ruang bawah, memosisikan dirinya sebagai perisai antara kru dan ancaman yang sedang mendekat. "Mbak Lastri, Mei, segera masuk ke ruang mesin dan kunci pintu dari dalam!" perintah Bimo tanpa menoleh sedikit pun.
"Dara, tetaplah di posisimu dan bersiaplah untuk melakukan manuver apa pun jika kunci magnetik ini terlepas," lanjut Bimo. "Saya tidak akan meninggalkan Anda di sini sendirian, Mas Bimo," sahut Mei dengan suara yang pecah oleh tangis yang tertahan. Dia melangkah mendekat, tangannya yang dingin dan gemetar mencari pegangan pada lengan Bimo. Dalam ruang sempit yang kini terasa seperti perangkap baja itu, kehangatan telapak tangan Mei adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagi Bimo.
Bimo meremas tangan Mei sejenak, sebuah momen solidaritas yang sunyi di tengah badai yang sedang berkecamuk di dalam kapal. Dia bisa mencium aroma sabun cuci piring yang masih tertinggal di tangan Lastri yang kini juga mendekat, memberikan rasa nyaman yang aneh di tengah situasi yang mengancam nyawa. "Kita akan baik-baik saja, saya berjanji," bisik Bimo, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada orang lain. "Kita sudah menempuh perjalanan sejauh ini, dan ini hanyalah satu lagi tikungan tajam di jalan yang rusak."
Di bawah kaki mereka, suara hidrolik mulai mendesis keras, menandakan proses pembukaan pintu palka. Pintu baja yang berat itu mulai berputar, engselnya mengerang karena dipaksa bergerak oleh sistem eksternal yang jauh lebih kuat. Di layar monitor yang masih menyala di belakang mereka, sebuah logo muncul dengan sangat jelas: sebuah lingkaran dengan simbol gelombang yang terpotong, logo perusahaan milik Pak Satya. Di bawah logo itu, tertera tulisan tebal yang dingin: **UNIT SANITASI - PROTOKOL PEMBERSIHAN**.
"Unit Sanitasi?" gumam Dara yang masih berada di kursi pilot, matanya membelalak melihat logo yang sangat dia kenal itu. "Itu adalah unit pembersih jejak milik pusat. Mengapa mereka dikirim ke koordinat ini?" Ketegangan mencapai puncaknya saat pintu palka terbuka sepenuhnya, menyemburkan uap dingin yang menciptakan kabut tipis di udara. Silas Papare sudah berdiri di sana dengan posisi siap tempur, namun dia tetap diam, matanya yang tajam menatap ke dalam kegelapan lubang palka yang baru terbuka.
Langkah kaki sepatu bot militer yang berat mulai terdengar, berirama dan sangat tenang. Setiap langkah itu bergema di lantai logam, menyerupai detak jantung predator yang sedang mendekati mangsanya. Seorang pria melangkah keluar dari kabut uap tersebut dengan gerakan yang sangat terkontrol. Dia mengenakan seragam taktis hitam pekat tanpa lencana apa pun, namun gerakannya menunjukkan profesionalisme yang mematikan. Wajahnya datar dan tanpa ekspresi, seolah-olah dia sedang berjalan di koridor kantor daripada melakukan invasi bersenjata.
Bimo mengangkat senapan suarnya, membidik tepat ke arah dada pria itu dengan tangan yang berusaha tetap stabil. "Berhenti di situ! Identifikasi diri Anda dan katakan apa tujuan Anda masuk ke kapal ini!" Pria itu berhenti tepat tiga langkah di depan Bimo, sama sekali tidak tampak terancam oleh senjata di tangan Bimo. Sebaliknya, dia hanya menatap Bimo dengan tatapan dingin yang kosong, seolah-olah dia sedang melihat sebuah objek mati.
"Rute Nol-Sembilan, pelaksanaan pembersihan jalur menuju destinasi akhir," ucap pria itu dengan suara bariton yang sangat stabil. "Kode akses: Arwana Emas. Saya berada di sini atas perintah langsung dari Bapak Satya melalui instruksi Togar Simanjuntak." Bimo tertegun mendengar kode tersebut, dan perlahan-lahan senapan suar di tangannya menurun. Kode itu adalah sandi rahasia yang hanya diketahui oleh lingkaran dalam proyek ini, sebuah protokol darurat yang seharusnya hanya digunakan dalam kondisi paling kritis.
Namun, insting Bimo—insting yang selama ini membantunya membaca arus bawah laut yang berbahaya—meneriakkan peringatan keras di dalam kepalanya. Pria ini bukan sekutu yang datang menyelamatkan mereka. "Spesialis?" tanya Bimo dengan suara yang terdengar serak di tenggorokannya. "Panggil saya begitu jika hal itu membuat Anda merasa lebih aman dalam situasi ini," jawab pria itu, matanya menyapu ruangan dengan ketelitian seorang pemburu yang sedang menghitung jumlah mangsanya.
"Tugas saya sangat sederhana, yaitu memastikan bahwa perjalanan ini berakhir tanpa meninggalkan saksi yang tidak diinginkan," lanjut sang Spesialis. Silas Papare melangkah maju, tubuh besarnya yang kokoh menutupi sebagian jalan menuju kru lainnya. "Pace, saya sama sekali tidak menyukai caramu masuk ke rumah orang lain. Ini adalah kapal kami, dan Anda adalah tamu yang tidak diundang." Pria yang disebut Spesialis itu hanya melirik Silas sekilas sebelum kembali menatap Bimo.
"Kapal ini adalah aset perusahaan yang sah. Dan saat ini, aset ini sedang berada dalam proses sanitasi total. Sindikat yang selama ini kalian takuti? Mereka sebenarnya tidak pernah ada. Itu hanyalah cerita karangan Bapak Satya untuk memastikan kalian tetap berada di jalur yang telah dia tentukan sebelumnya." Bimo merasakan dunianya seolah runtuh seketika. Semua ketakutan mereka, semua upaya melelahkan untuk menghindari pengejaran Sindikat, hanyalah sebuah sandiwara besar yang dirancang dengan sangat rapi.
Mereka hanyalah pion yang digerakkan di atas papan catur yang luas, dan pria di depan mereka adalah tangan yang bertugas untuk membersihkan papan itu setelah permainan selesai. "Jadi, selama ini kita tidak sedang melarikan diri dari musuh?" tanya Mei dengan suara lirih yang bergetar. "Kalian adalah musuhnya sekarang," jawab Spesialis itu sambil menarik sebuah perangkat elektronik kecil dari sabuk taktisnya. "Sebab kalian sudah mengetahui terlalu banyak tentang apa yang tersimpan di dasar laut itu."
Aroma oli yang tajam kini terasa semakin menyesakkan, seolah-olah kapal itu sendiri sedang meratapi pengkhianatan yang terjadi di dalamnya. Bimo menyadari bahwa Spesialis ini tidak datang untuk membantu mereka mencapai tujuan akhir. Dia datang untuk memastikan bahwa mereka tidak akan pernah sampai ke mana pun lagi. Perjalanan mereka yang penuh harapan kini berubah menjadi pelarian maut di dalam ruang sempit yang mereka sebut rumah. Bimo melirik ke arah Dara, yang tangannya masih berada di dekat tuas kendali darurat.
"Dara, sekarang!" teriak Bimo, seraya menerjang ke arah Spesialis itu dengan seluruh tenaga yang tersisa. Spesialis itu bergerak dengan kecepatan yang nyaris tidak manusiawi. Sebelum Bimo sempat mengayunkan tongkat taktisnya, pria itu sudah bergeser ke samping dengan gerakan yang sangat efisien. Dia tidak membalas dengan pukulan langsung; sebaliknya, dia menggunakan momentum lari Bimo untuk mendorongnya ke arah dinding baja. Bunyi dentuman tubuh Bimo yang menghantam logam bergema di seluruh ruangan, memicu teriakan ngeri dari Mei dan Lastri.
"Jangan mencoba untuk ikut campur dalam urusan ini!" bentak Spesialis itu kepada Silas yang mulai bergerak maju dengan tinju terkepal. "Atau protokol sanitasi ini akan saya mulai dari kalian berdua terlebih dahulu." Silas Papare tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Dia menarik napas dalam-dalam, otot-otot lengannya menegang di bawah cahaya lampu darurat yang berkedip-kedip. Baginya, ancaman ini adalah bahasa yang dia pahami lebih baik daripada barisan kode komputer milik Mei.
"Di tanah saya, tamu yang masuk tanpa permisi tidak akan pernah pulang dengan kaki yang utuh," ucap Silas dengan dialek Papua yang kental, suaranya rendah dan penuh ancaman. Dara, yang mendengar instruksi Bimo, tidak membuang waktu sedetik pun. Dia tidak mencoba menggerakkan kapal secara keseluruhan karena sistemnya masih terkunci rapat. Sebaliknya, dia meretas masuk ke sistem pembuangan tekanan palka melalui jalur belakang yang tersembunyi.
"Semuanya, segera berpegangan pada apa pun yang bisa kalian jangkau!" teriak Dara dengan suara lantang. Jarinya menekan serangkaian perintah di panel darurat dengan cepat. Tiba-tiba, katup tekanan tinggi di ruang palka terbuka dengan suara raungan yang memekakkan telinga. Udara bertekanan tinggi menyembur keluar dengan kekuatan dahsyat, menciptakan guncangan hebat yang membuat kapal mereka miring secara drastis ke satu sisi. Spesialis itu kehilangan keseimbangannya sejenak, memberikan celah bagi Bimo untuk bangkit.
Bimo melihat kesempatan emas itu dan segera berlari ke arah panel kontrol pintu palka manual. "Mei, bantu saya mengunci pintu ini dari dalam! Kita harus memutus hubungan fisik dengan kapal mereka sekarang juga!" Mei, meskipun kakinya terasa lemas, merangkak menuju panel kontrol di bawah bimbingan Bimo. Jemarinya yang gemetar mulai memasukkan kode dekripsi yang dia buat sendiri sebagai antisipasi terhadap peretasan eksternal. "Mengapa mereka mencoba mengakses sistem oksigen kita juga?" Mei berseru kaget.
"Mas Bimo, mereka berniat membius kita semua melalui saluran udara!" seru Mei dengan panik. "Cepat, Mei! Jangan biarkan mereka memenangkan pertarungan ini!" Bimo berteriak sambil menahan pintu palka yang mulai menutup secara manual dengan seluruh kekuatan tubuhnya. Lastri, yang selama ini hanya bisa menonton dengan ngeri, tiba-tiba bergerak menuju dapur. Dia mengambil sebuah tabung pemadam api berat dan melemparkannya ke arah Silas dengan akurasi yang mengejutkan.
"Kaka Silas, gunakan tabung ini!" teriak Lastri. Silas menangkap tabung itu dengan satu tangan dan langsung menyemprotkan isinya ke arah Spesialis yang mulai pulih dari guncangan. Awan putih tebal segera memenuhi ruangan, mengaburkan pandangan dan memberikan perlindungan visual bagi kru. Di tengah kabut itu, Bimo bisa mendengar suara umpatan rendah dari sang Spesialis. "Kalian hanya menunda sesuatu yang sudah tidak bisa dielakkan lagi," suara Spesialis itu terdengar dari balik kabut.
Bimo merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, menyadari bahwa pria itu benar jika mereka tetap bertahan di kapal ini. Mereka terjebak di tengah samudera, di dalam sebuah kaleng logam yang kini menjadi sasaran empuk bagi Unit Sanitasi. "Dara, apakah cadangan daya kita masih mencukupi untuk peluncuran kapsul darurat?" tanya Bimo melalui interkom dengan nada mendesak. "Cukup, tapi kita akan kehilangan kapal ini selamanya, Bimo! Ini adalah rumah kita!" jawab Dara dengan suara yang tercekat.
Bimo menatap ke sekeliling ruangan—ke arah Mei yang masih berjuang, ke arah Silas yang berdiri tegak, dan ke arah Lastri yang memegang pisau dapur dengan tangan gemetar. Kapal ini memang rumah mereka, namun sebuah kendaraan hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. "Rumah adalah di mana kita berada, Dara. Bukan pada potongan logam ini," ucap Bimo dengan nada penuh penekanan. "Segera siapkan peluncuran. Kita akan meninggalkan kapal ini sekarang juga."
Spesialis itu mencoba menerjang menembus kabut putih, tetapi Silas menghalanginya dengan hantaman tabung pemadam api yang kosong. Pertarungan jarak pendek yang brutal terjadi di ruang sempit itu, suara benturan daging dan logam menciptakan irama yang mengerikan. Bimo membantu Mei berdiri dan menariknya menuju lorong kapsul darurat. "Mbak Lastri, ayo cepat!" Bimo menarik lengan wanita itu. Saat mereka berlari, Bimo sempat menoleh ke belakang dan melihat logo perusahaan Pak Satya di monitor yang retak.
Guncangan berikutnya terasa jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Kapal intai milik Unit Sanitasi mulai melepaskan tembakan peringatan ke arah lambung luar, mencoba memaksa mereka untuk menyerah. Suara alarm darurat kini berubah menjadi raungan panjang yang monoton, menandakan integritas struktur kapal sudah berada di titik kritis. Bimo mendorong Mei dan Lastri masuk ke dalam kapsul darurat yang sempit. Ruangan itu berbau plastik baru dan antiseptik, terasa sangat asing bagi mereka.
Dara menyusul dengan cepat, wajahnya basah oleh air mata karena harus meninggalkan kapal kesayangannya. Terakhir, Silas masuk dengan napas terengah-engah dan baju yang robek di beberapa bagian. "Pace, dia masih ada di sana. Dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja," ucap Silas sambil menutup pintu kedap udara kapsul dengan bantingan keras. Bimo melihat melalui jendela kecil kapsul saat pintu palka utama kapal mereka meledak akibat tekanan internal yang tidak stabil.
Spesialis itu berdiri di sana, dikelilingi oleh api dan uap, menatap langsung ke arah kapsul mereka dengan tatapan yang tetap dingin. "Luncurkan, Dara!" perintah Bimo dengan tegas. Dengan satu sentakan keras yang membuat tubuh mereka terlempar ke kursi, kapsul darurat itu terlepas dari lambung kapal utama. Bimo merasakan sensasi jatuh yang hebat saat mereka terlempar ke dalam kegelapan laut yang dingin. Melalui jendela, dia melihat kapal Bintang Timur perlahan-lahan menjauh dan kemudian meledak dalam bola api bawah air yang sunyi.
Di dalam kapsul yang sempit itu, kelima orang tersebut terdiam seribu bahasa. Mereka kini terapung di tengah samudera luas tanpa navigasi yang pasti, membawa kenyataan pahit bahwa perjalanan mereka selama ini adalah sebuah kebohongan besar. Bimo memegang tangan Mei yang masih gemetar, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya kompas mereka saat ini. "Kita masih hidup," bisik Mei memecah keheningan yang panjang. "Benar, Mei. Kita masih hidup, dan perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai."