Bab 30: Fajar di Balik Karang Hitam
Tetesan air memecah kesunyian Gua Karang Hitam. Suara itu berulang, ritmis, seperti denyut nadi bumi yang tersembunyi jauh di dalam. Bimo Satrio merapatkan jaket selamnya, merasakan dinginnya air laut merembes ke pori-pori kain, menembus hingga ke tulangnya. Berjam-jam sudah ia menanti di sini, sendirian. Kecemasan melilit perutnya, mengikatnya dalam simpul erat. Rasa itu lebih pekat dari lumpur dasar laut yang dingin.
"Bertahanlah, kawan-kawan," bisiknya, suaranya serak, nyaris tak terdengar. Ia memeriksa sisa oksigennya. Jarum pengukur menari-nari di ambang batas merah. Hanya cukup untuk beberapa jam lagi, mungkin. Tangan Bimo bergerak lincah, menyalakan suar frekuensi rendah. Alat itu berkedip, memancarkan sinyal harapan ke dalam kehampaan gelap.
Namun, harapan itu rapuh. Sinyal terus terganggu, terpotong oleh gelombang pengacau milik sindikat. Cengkeraman sindikat itu telah menyebar jauh, bahkan hingga ke kedalaman ini. Bimo menghela napas berat. Bau amis garam yang tajam menusuk hidungnya. Ia menyandarkan punggung pada dinding gua yang lembap, merasakan dinginnya batu kasar merayapi kulit. Cahaya senter di dahinya mulai meredup, seolah ikut menyerah pada keputusasaan yang merayapi dirinya.
Sebuah bayangan bergerak di kedalaman air yang gelap. Bimo menegakkan tubuh, jantungnya berpacu kencang. Apakah itu mereka? Atau hanya tipuan mata, pantulan dari ketakutannya sendiri? Ia menahan napas, matanya menembus kegelapan pekat.
Dua sosok muncul tiba-tiba, berenang mendekat. Siluet mereka samar di balik air yang keruh. Kelegaan membanjiri Bimo, begitu kuat hingga lututnya terasa lemas. Bukan sendirian. Dara Puspita dan Silas Papare.
Mereka berenang dengan gerakan lambat, setiap kayuhan terlihat berat. Bimo segera membantu mereka naik ke tepian batu yang licin. Napas mereka terengah-engah, memecah kesunyian gua yang sebelumnya hening.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Bimo, suaranya terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri. Ia memeriksa kondisi mereka.
Silas mengangguk, namun bahunya terkulai. Ada luka robek di sana, menganga, mengeluarkan darah yang larut dalam air laut. Wajahnya pucat pasi, tetapi sorot matanya masih memancarkan keteguhan. Dara, di sisi lain, tampak lebih tertekan. Rambutnya lepek, menempel di wajah, dan matanya memerah.
"Tas peralatanku… hilang," ujarnya, suaranya bergetar. "Terlepas saat dikejar."
Bimo mengangguk, mencoba menenangkan. "Tidak apa-apa. Yang penting kalian selamat." Ia membuka ransel kecilnya, mengeluarkan kotak P3K seadanya. Persediaan medis mereka sangat terbatas, hanya cukup untuk luka ringan. Bimo merobek ujung kain bajunya, bersih dan masih kering, lalu dengan lembut membersihkan luka Silas. Sentuhan kain kasar itu membuat Silas meringis, namun dia tidak bersuara.
"Kau… tak perlu repot, Pace," kata Silas, suaranya parau.
"Tentu saja perlu, Kaka," jawab Bimo, fokus pada lukanya. "Kita ini tim. Tidak ada yang tertinggal." Ia membalut luka itu dengan hati-hati, memastikan tidak terlalu kencang. Kemudian, ia mengeluarkan botol air minum terakhirnya. "Dara, minumlah ini."
Dara mengambil botol itu dengan tangan gemetar, meneguknya perlahan. Kehangatan air itu terasa seperti anugerah kecil. Bimo menyalakan api kecil menggunakan korek api tahan air dan beberapa ranting kering yang entah bagaimana bisa ia temukan di gua. Bau belerang dari api itu bercampur dengan aroma amis laut, menciptakan kehangatan yang rapuh di tengah dinginnya gua. Cahaya api menari-nari, memantulkan bayangan di dinding batu, seolah mereka adalah hantu yang bersembunyi dari dunia.
"Misi ini… sia-sia," ujar Silas, suaranya berat. Ia menatap api, matanya memancarkan bayangan ketakutan. "Kita harus ke daratan utama. Bersembunyi. Mereka terlalu kuat."
Bimo menoleh, menatap Silas dengan tenang. "Tidak ada yang sia-sia, Kaka Silas. Kakekku pernah bilang, arus itu tidak bisa dihindari. Tapi bisa diarahkan."
Silas mendengus pelan. "Itu filosofi orang tua. Kita berhadapan dengan mesin perang, bukan arus laut."
"Tapi bukankah mesin perang itu juga punya arus?" balas Bimo. "Arus kepentingan, arus keserakahan. Kita hanya perlu menemukan celahnya." Ia melihat cahaya api menari-nari di mata Silas yang penuh ketakutan, seperti tikus yang mencium bau ular. Pesimisme Silas masuk akal, mengingat kekuatan musuh yang nyaris tak terjangkau. Namun, Bimo tidak bisa menyerah.
"Celah? Kita cuma tiga orang, Bimo," sahut Dara, suaranya sedikit lebih kuat setelah minum. "Mereka punya kapal induk, drone, pasukan bersenjata lengkap. Kita ini… ikan teri yang mencoba melawan hiu."
"Ikan teri yang lincah bisa menyelinap, Dara. Hiu besar itu lambat dan buta di beberapa titik," kata Bimo, mencoba membangkitkan semangat. "Kita punya keunggulan lokal. Kita tahu medan ini lebih baik dari mereka."
Silas terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Bimo. Rasa asin yang tertinggal di bibir mereka setelah pelarian panjang terasa seperti pengingat pahit akan betapa dekatnya mereka dengan kematian. Ia menghela napas. "Jadi, apa rencanamu, oseanografer?" Ada nada sarkasme yang samar dalam suaranya, mekanisme pertahanan diri yang khas Silas.
Bimo tersenyum tipis. "Rencana kita adalah gerilya. Serangan cepat, mematikan, lalu menghilang." Ia menoleh pada Dara. "Dara, kau bilang tas peralatanmu hilang. Tapi tabletmu?"
Dara merogoh saku dalam jaket selamnya. "Ini… masih ada. Tapi layarnya retak, dan baterainya sekarat." Ia menyerahkan tablet itu pada Bimo. Bimo menerimanya, menyalakan layar yang berkedip-kedip. Dengan cahaya senter yang meredup, ia melihat sekilas data yang tersisa. "Coba lihat ini, Dara. Apakah ada pola patroli yang bisa kau temukan? Titik buta mereka?"
Dara mendekat, matanya menyipit. Ia menggeser-geser layar, jari-jarinya yang cekatan bergerak cepat meskipun tablet itu rusak. "Loh, kok… iya. Ada celah di sini! Setiap tiga jam, ada jeda lima belas menit di sektor barat daya. Mungkin untuk pengisian ulang atau rotasi drone." Nada teknisnya kembali, meski gugup.
"Itu dia!" Bimo menunjuk peta topografi dasar laut yang samar-samar terlihat di tablet. Ia mengambil sebilah ranting kecil, lalu mulai menggambar di pasir gua. "Kita akan menyelinap melalui celah ini. Menuju kapal induk mereka."
Silas menatap Bimo, alisnya terangkat. "Kapal induk? Kau gila, Pace? Itu bunuh diri!"
"Bukan bunuh diri, Kaka. Itu satu-satunya cara kita bisa menghentikan mereka," jawab Bimo tegas. "Mereka akan terus mencari kita, terus merusak laut ini. Kita harus menyerang jantungnya."
"Waktunya sempit, Bimo," Dara mengingatkan. "Jeda patroli itu bisa berubah kapan saja. Kapal induk itu juga bisa berpindah posisi."
"Itu sebabnya kita harus bergerak sekarang," kata Bimo. Ia menatap wajah kedua temannya, melihat keraguan dan ketakutan yang masih bersemayam di sana. Namun, ada juga secercah tekad yang mulai menyala. "Aku tidak akan memaksa kalian. Tapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai mereka berhenti merusak laut kita."
Silas menghela napas panjang, menatap lukanya yang sudah terbalut. Ia memejamkan mata sejenak, seolah sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri. "Baiklah, Pace. Aku ikut. Tapi kalau ini berakhir dengan kita jadi makanan hiu, kau yang traktir kopi di surga."
Dara tersenyum samar. "Aku juga. Aku harus membuktikan bahwa pilot kapal selam terbaik di Indonesia tidak akan lari dari tantangan." Ia melihat Bimo, matanya penuh pertanyaan. "Apa rencananya?"
Bimo mengulurkan tangannya, telapaknya terbuka. "Kita akan bertarung demi satu sama lain. Kita akan bertarung demi laut ini. Kita akan bertarung demi apa yang benar." Silas dan Dara meletakkan tangan mereka di atas tangan Bimo, genggaman mereka erat dan dingin. Sebuah sumpah tak terucap terjalin di antara mereka. Ketakutan masih ada, namun kini berubah menjadi tekad bulat, seperti akar bakau yang menancap kuat di lumpur, menolak untuk tumbang. Bimo merasakan energi baru mengalir dalam dirinya, bukan lagi beban, melainkan kekuatan.
"Dara, kau akan memimpin navigasi. Cari titik terlemah di lambung kapal mereka. Silas, kau akan jadi garda depan, membersihkan jalan. Aku akan mencari ruang kendali atau pusat data," Bimo menjelaskan, suaranya kini penuh wibawa seorang jenderal yang mengamati medan perang. "Kita akan menyelinap masuk seperti bayangan, dan keluar seperti badai."
Mereka mengangguk, mata mereka memancarkan resolusi. Suara ombak yang menghantam dinding luar gua terdengar seperti genderang perang, memanggil mereka. Bimo mematikan api kecil, kegelapan kembali menyelimuti mereka, hanya cahaya senter yang redup yang menjadi penuntun. Saat mereka bersiap untuk menyelam kembali, sebuah getaran dahsyat mengguncang gua. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit. Suara gemuruh rendah, dalam, dan mengancam, menembus air. Kapal induk sindikat telah menyalakan mesin utamanya. Waktu mereka habis. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit. Suara gemuruh rendah, dalam, dan mengancam, menembus air. Kapal induk sindikat telah menyalakan mesin utamanya. Waktu mereka habis.
"Sial!" Dara berseru, refleks menunduk saat kerikil menghantam punggungnya. Getaran itu bukan lagi sekadar guncangan, melainkan desakan yang mengoyak ketenangan gua. Air di kolam kecil di samping mereka beriak hebat, memercik ke dinding batu. Bimo merasakan tanah bergetar di bawah kakinya, seolah raksasa di atas sedang menggeliat bangun. Udara menjadi tebal, dipenuhi debu dan ketakutan yang merayap.
Silas, dengan sigap, menyalakan senter utamanya, menyapu dinding gua. Retakan-retakan baru terlihat, memanjang seperti urat nadi yang pecah. "Kita tidak punya banyak waktu, Kaka Bimo," suaranya serak, kalah oleh gemuruh yang semakin memekakkan telinga. "Kapal itu... dia akan bergerak."
Bimo mengangguk, rahangnya mengeras. "Dara, kita harus segera keluar dari sini. Temui yang lain di titik kumpul." Ia menunjuk ke arah celah sempit yang mengarah ke luar gua. "Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Mereka menyelam kembali ke dalam air yang kini terasa lebih dingin dan bergejolak. Gemuruh mesin kapal induk merambat melalui air, menciptakan resonansi yang menusuk gendang telinga. Cahaya senter mereka menari-nari di antara bayangan, memperlihatkan bebatuan tajam dan arus bawah yang mulai terbentuk. Setiap dorongan kaki terasa mendesak, setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan tekanan yang meningkat.
Saat mereka mendekati titik kumpul, sebuah celah bawah air yang lebih luas, mereka melihat siluet-siluet lain. Mei, Ucok, Siti, dan Lastri menunggu, mata mereka memancarkan campuran kecemasan dan tekad. Getaran mesin kapal induk sudah mencapai mereka di sini, terasa seperti detak jantung monster laut yang terbangun dari tidur panjang.
"Apa yang terjadi, Bimo?" Mei langsung bertanya, suaranya terdengar panik di bawah air, teredam oleh regulatornya. "Aku merasakan getaran ini di seluruh sistem. Ini bukan sekadar mesin pendorong. Ini... ini seperti reaktor utama mereka menyala."
Bimo berenang mendekat, gestur tangannya memberi isyarat untuk tetap tenang. "Benar, Mei. Mereka akan bergerak. Kita tidak punya pilihan selain bertindak sekarang." Ia melihat ke arah Ucok, yang wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. "Ucok, kau siap?"
Ucok menghela napas panjang, gelembung-gelembung udara keluar dari mulutnya. "Siap apanya, Kaka? Kau dengar itu? Itu bukan suara kapal biasa. Itu suara neraka yang akan menelan kita hidup-hidup!" Ada keraguan yang jelas dalam matanya, ketakutan yang tak bisa disembunyikan. "Kita hanya bertiga... maksudku, kita berenam. Melawan kapal sebesar itu?"
Silas menepuk bahu Ucok. "Kita tidak bertarung dengan kekerasan, Pace. Kita bertarung dengan akal." Suaranya tenang, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan.
Bimo menatap setiap anggota timnya, mencari keyakinan. Ia teringat kata-kata Aki Jajang saat mereka pertama kali berdiskusi tentang menjaga laut. "Laut itu hidup, Le. Dia punya cara sendiri untuk melindungi dirinya. Kita hanya perlu mendengarkan bisikannya, dan menjadi bagian dari alirannya." Bimo merasa pesan itu kini lebih relevan dari sebelumnya. Mereka bukan penyerang yang frontal, melainkan bagian dari arus, menyelinap di antara celah-celah kekuatan lawan.
"Kita tidak akan menyerang secara langsung," Bimo menjelaskan, suaranya tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. "Kita akan menjadi bayangan. Kita akan menggunakan keahlian kita sebagai penyelam untuk menembus pertahanan mereka. Ini adalah perang gerilya di bawah air."
Dara mengangguk. "Rencana awal masih berlaku. Aku akan memimpin navigasi. Kita akan mencari titik buta mereka, celah di mana sensor mereka tidak bisa menjangkau."
Mei, meskipun masih terlihat cemas, mulai berpikir secara analitis. "Aku bisa mencoba meretas sistem komunikasi mereka dari jarak dekat, tapi aku butuh akses fisik ke salah satu terminal mereka. Setidaknya, aku bisa membuat gangguan kecil untuk mengalihkan perhatian."
"Itu ide bagus, Mei," Bimo menyahut. "Tapi kita harus masuk dulu. Silas, kau dan Ucok akan menjadi garda depan. Cari celah di lambung kapal, pintu masuk darurat, atau apa pun yang bisa kita gunakan."
Ucok masih tampak ragu. "Celah? Di kapal sebesar itu? Mereka pasti punya sistem keamanan berlapis. Ini bukan kapal ikan, Kaka." Ia menggelengkan kepalanya. "Ini bunuh diri."
Siti, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. "Kita tidak punya pilihan lain, Bang Ucok. Jika kapal ini bergerak, ekosistem di sini akan hancur. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi." Ada kemarahan yang membara di matanya, kemarahan seorang pelindung laut.
Lastri, dengan ketenangan seorang ibu, hanya menatap Bimo. "Apapun keputusanmu, Le. Kami ikut." Kepercayaan yang tulus itu sedikit meredakan ketegangan.
Bimo tahu ia harus memimpin, tidak hanya dengan strategi, tetapi juga dengan keyakinan. "Ucok, ingat apa yang kau katakan tentang kapal-kapal penyelundup? Selalu ada jalan masuk yang tidak terlihat oleh mata biasa. Kita akan menemukan itu." Ia menatap Ucok lurus. "Aku butuh keahlianmu dalam menemukan celah, dalam melihat apa yang orang lain lewatkan."
Mendengar tantangan itu, Ucok menarik napas dalam. Sesuatu dalam dirinya bergemuruh. Mungkin itu adalah harga dirinya sebagai penyelundup ulung, atau mungkin kesadaran bahwa ia tidak bisa membiarkan rekan-rekannya bertarung sendiri. "Baiklah, Kaka. Tapi kalau kita mati, kau yang traktir kopi di akhirat nanti!" Meskipun ada nada bercanda, tekadnya sudah bulat.
"Lalu, bagaimana dengan kelemahan kapal ini?" Bimo bertanya, menoleh ke Mei. "Kau punya data intelijen dari Mei?"
Mei mengangguk, jarinya mengetik cepat di papan sentuh transparan yang terpasang di pergelangan tangannya. Data holografik kecil muncul di depannya, menunjukkan skema kapal induk sindikat. "Berdasarkan analisis awal dari sinyal yang kita sadap, kapal ini menggunakan sistem propulsi hidrolik-elektrik yang sangat kompleks. Kekuatannya memang masif, tapi itu juga menjadi kelemahannya."
Ia menunjuk ke beberapa titik di skema. "Ada beberapa titik tekanan tinggi di sepanjang lambung bawah, terutama di sekitar sistem pendingin reaktor dan jalur kabel utama. Jika kita bisa membuat gangguan di sana, setidaknya kita bisa memperlambat mereka. Atau, jika kita beruntung, bahkan membuat mereka harus berhenti untuk perbaikan."
"Gangguan seperti apa?" tanya Dara, matanya menelusuri skema dengan cermat.
"Paling efektif adalah memutus aliran daya ke salah satu pompa hidrolik utama, atau merusak sensor tekanan di area vital," Mei menjelaskan, suaranya menjadi lebih percaya diri saat berbicara tentang keahliannya. "Tapi itu berarti kita harus masuk ke dalam, dan itu berarti melewati sistem keamanan mereka."
"Sistem keamanan itu yang jadi masalah," Ucok menyela. "Pasti ada sensor gerak, sonar aktif, bahkan mungkin ranjau kecil."
"Kita akan menghindari itu," Bimo memutuskan. "Silas, kau punya pengalaman menonaktifkan sensor bawah air. Kita akan bergerak lambat, menggunakan arus sebagai penyamaran, dan bersembunyi di bayangan kapal itu sendiri."
Silas mengangguk. "Bisa, Kaka. Tapi butuh konsentrasi tinggi. Satu kesalahan kecil, kita ketahuan."
"Itu risiko yang harus kita ambil," kata Bimo. "Rencana kita adalah gerilya. Kita tidak akan bertarung langsung. Kita akan menyelinap, menyerang titik-titik vital, dan menghilang sebelum mereka tahu apa yang terjadi."
Ia memandang Dara. "Dara, kau akan memimpin rute navigasi. Cari celah di antara pola sonar mereka, gunakan pengetahuanmu tentang arus bawah untuk menyamarkan pergerakan kita."
Dara mengangguk tegas. "Serahkan padaku. Aku akan menemukan jalan."
"Silas dan Ucok, kalian akan menjadi tim penetrasi. Begitu Dara menemukan titik masuk, kalian berdua yang akan membuka jalan. Ingat, fokus pada jalur kabel dan sistem pendingin yang Mei tunjukkan." Bimo menunjuk skema holografik yang masih melayang di depan Mei.
"Mei, begitu kita masuk, kau akan menjadi mata dan telinga kita. Kau akan mencari pusat kendali, atau setidaknya terminal yang bisa kau gunakan untuk mengganggu sistem mereka." Bimo menoleh ke Siti dan Lastri. "Siti, Lastri, kalian berdua akan tetap di belakang, memberikan dukungan logistik dan pengawasan. Jika ada masalah, kalian yang akan menjadi jalur evakuasi kita."
Siti mengangguk, ekspresinya serius. "Aku akan mencatat semua kerusakan lingkungan yang mereka sebabkan. Ini akan menjadi bukti kita."
Lastri tersenyum tipis. "Jangan khawatir, Le. Aku sudah menyiapkan semua peralatan cadangan. Kalian hanya perlu fokus pada misi."
Gemuruh dari kapal induk semakin kuat, terasa seperti getaran yang merobek air dan batu. Tekanan di telinga mereka meningkat. Ini bukan lagi ancaman yang jauh, melainkan kenyataan yang mendesak. Cahaya senter mereka berkedip-kedip, seolah ikut merasakan ketegangan.
"Waktu kita habis," Bimo menegaskan. "Kita bergerak sekarang."
Mereka semua mengangguk. Ketegangan memenuhi udara di bawah air, namun di antara mereka, ada ikatan yang menguat, tekad yang sama untuk melindungi laut. Mereka mulai mengatur posisi, memeriksa peralatan selam mereka untuk terakhir kalinya. Masker terpasang rapat, regulator di mulut, dan sirip siap mendorong mereka maju.
Bimo merasakan dinginnya air meresap ke dalam kulitnya, namun tekadnya membakar. Ia tahu ini adalah misi paling berbahaya yang pernah ia hadapi, tetapi juga yang paling penting. Ayahnya selalu mengatakan bahwa laut akan selalu menunjukkan jalan bagi mereka yang menghormatinya. Kini, ia harus percaya pada itu.
Dara memimpin, gerakannya luwes seperti penari di kedalaman. Ia mencari celah di antara bebatuan, mengikuti arus lemah yang bisa menyamarkan keberadaan mereka. Di belakangnya, Silas dan Ucok bergerak dalam formasi rapat, mata mereka awas mengamati sekeliling. Mei, dengan papan sentuh holografiknya, terus memindai sinyal, mencari anomali. Siti dan Lastri mengikuti di belakang, menjaga jarak aman namun siap bertindak.
Mereka berenang keluar dari gua, menuju kegelapan yang lebih pekat di laut lepas. Di kejauhan, siluet raksasa kapal induk sindikat menjulang, gelap dan mengancam, seperti gunung berapi bawah laut yang siap meletus. Lampu-lampu sorot dari kapal itu menyapu kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan bergerak yang harus mereka hindari.
Suara mesin kapal induk kini bukan lagi gemuruh, melainkan dengungan konstan yang meresap ke dalam tulang. Air di sekitar kapal tampak beriak aneh, terganggu oleh kekuatan yang baru saja dilepaskan. Bimo bisa merasakan panas samar dari reaktor yang memancar melalui air, tanda kekuatan destruktif yang mereka hadapi.
"Ada pola sonar aktif di sektor tiga!" Mei memberi isyarat tangan, menunjuk ke arah kanan. "Mereka sedang melakukan pemindaian rutin."
Dara segera mengubah arah, memimpin tim untuk berlindung di balik formasi karang besar yang menjulang seperti menara. Mereka menekan tubuh ke dinding karang, berusaha seolah-olah menjadi bagian dari lanskap bawah laut. Cahaya sorot kapal induk menyapu melewati mereka, hanya beberapa meter di atas kepala. Detak jantung Bimo berpacu, napasnya tertahan. Ini adalah permainan petak umpet dengan taruhan nyawa.
Setelah cahaya itu berlalu, Dara memberi isyarat untuk bergerak lagi. Mereka melanjutkan perjalanan, lebih hati-hati dari sebelumnya. Silas menunjuk ke sebuah celah kecil di lambung kapal, dekat dengan garis air. "Itu mungkin pintu masuk servis, Kaka Bimo," isyaratnya. "Terlindungi dari sensor utama."
Bimo mengamati. Celah itu tampak seperti lubang kecil yang tidak signifikan di lambung baja raksasa, mudah terlewatkan jika tidak dicari dengan cermat. "Baiklah, Silas, Ucok. Itu target kita."
Ucok mengangguk, matanya kini memancarkan fokus seorang pemburu. Keraguan sebelumnya telah digantikan oleh naluri bertahan hidup dan keinginan untuk membuktikan dirinya. Mereka berdua bergerak maju, sirip mereka mengayuh perlahan, mendekati lambung kapal yang dingin dan gelap.
Saat mereka semakin dekat, Bimo bisa melihat detail lambung kapal. Lumut laut dan beberapa teritip menempel di permukaannya, seolah kapal itu telah berdiam di sana untuk waktu yang lama, menyatu dengan lingkungan, namun kini siap merusak. Bau minyak dan logam samar-samar tercium, bahkan di bawah air. Itu adalah bau kehancuran yang akan datang.
Silas mengeluarkan alat pemotong laser kecil dari sabuknya. Cahaya merah tipis memancar dari ujungnya, menembus kegelapan. Ia mulai bekerja dengan hati-hati, memotong segel di sekitar pintu masuk servis. Setiap gerakan dihitung, setiap suara dihindari. Ucok berjaga, mengawasi setiap pergerakan di sekitar mereka.
Mei terus memantau, jarinya menari di papan sentuh. "Aku mendeteksi peningkatan aktivitas di ruang mesin. Mereka akan segera meningkatkan kecepatan!"
Bimo tahu mereka tidak punya banyak waktu. "Cepat, Silas!"
Dengan dengungan halus, segel pintu servis terlepas. Silas menarik pegangan, dan pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan lorong gelap di dalamnya. Air segera menyedot mereka masuk, menarik mereka ke jantung kapal musuh. Ini adalah titik tidak bisa kembali. Mereka telah menembus pertahanan. Sekarang, mereka harus bertarung. Perjuangan sebenarnya baru saja dimulai.