Bab 16: Napas di Balik Keruh
Lantai baja di bawah sol bot Bimo Satrio tidak sekadar bergetar; ia mengerang, mengirimkan gelombang kejut yang merambat naik melalui sumsum tulangnya seperti aliran listrik yang tidak stabil. Lampu darurat menyalak dalam ritme merah yang menyakitkan mata, mengubah koridor kapal selam menjadi lorong sempit yang seolah-olah sedang menciut. Pekikan alarm kebocoran menghantam gendang telinganya tanpa ampun, sebuah simfoni sumbang yang menusuk udara dengan ribuan jarum perak imajiner. Di ujung lorong, pintu kompartemen mesin yang sedikit ternganga memuntahkan kabut uap panas. Aroma tajam ozon beradu dengan bau besi terbakar, memenuhi rongga hidungnya hingga memicu rasa mual yang mendesak.
Bimo mencengkeram pegangan tangga hingga buku-buku jarinya memutih, kontras dengan permukaan logam yang mulai lembap. Napasnya memburu dalam ritme yang pendek dan dangkal, seolah-olah oksigen di sekelilingnya telah mengkristal menjadi butiran pasir yang menyumbat tenggorokan. Fokus matanya menyempit, hanya terpaku pada cairan gelap yang merembes keluar dari celah bawah pintu. Cairan itu pekat oleh campuran oli, bergerak dengan kelincahan seekor predator yang sedang mengintai mangsa di balik bayang-bayang. Dingin yang mulai merayap di pergelangan kakinya terasa seperti jemari es yang mencoba menariknya kembali ke dalam kegelapan masa lalu.
"Meiling, segera laporkan status tekanan di sektor empat!" Bimo berteriak ke arah interkom dinding, suaranya bersaing dengan deru mesin yang sekarat.
Suara Meiling Wijaya terdengar pecah, terdistorsi oleh derau statis yang kasar di balik pengeras suara. "Tekanannya anjlok melampaui batas aman, Mas Bimo! Sistem otomatis gagal mengunci katup eksternal karena adanya hambatan mekanis. Sepertinya terdapat kerusakan fisik yang signifikan pada bagian aktuator luar!"
Bimo memejamkan mata sejenak, namun kegelapan di balik kelopak matanya justru memunculkan bayangan yang lebih mengerikan. Pusaran air raksasa yang menelan siluet ayahnya bertahun-tahun silam kembali berputar, membawa serta rasa asin dan keputusasaan yang sama. Setiap tetesan air yang menghantam lantai logam kini terdengar seperti dentum lonceng perunggu yang menggema di ruang hampa, menandai hitungan mundur yang tidak diinginkan. Ketakutan itu bukan lagi sekadar emosi, melainkan beban fisik yang menindih pundaknya hingga ia sulit untuk berdiri tegak.
"Apakah Dara masih berada di dalam ruangan itu?" tanya Bimo, suaranya bergetar meskipun ia mencoba sekuat tenaga untuk menutupinya.
"Dara masuk beberapa menit yang lalu untuk mengaktifkan pompa cadangan secara manual," jawab Meiling, kini dengan nada panik yang tidak lagi bisa disembunyikan. "Dia tidak menjawab panggilan radionya, Mas! Aku khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi di sana."
Langkah kaki Bimo terasa seberat timah saat ia memaksa tubuhnya mendekati pintu kompartemen mesin yang diselimuti uap. Setiap inci kemajuan adalah peperangan melawan gravitasi traumanya sendiri yang terus memerintahkan otot-ototnya untuk berbalik dan lari. Ia mendorong daun pintu logam yang berat itu, dan seketika, pemandangan di hadapannya membuat detak jantungnya seolah berhenti mendadak. Air laut setinggi pinggang telah memenuhi ruangan, bergolak hebat mengikuti guncangan kapal yang kian tidak stabil.
Dara Puspita terlihat sedang berpegangan erat pada pipa besar di sudut ruangan, tubuhnya setengah terendam dalam cairan keruh. Sebuah rak peralatan berat telah roboh dan menjepit kaki kanannya di bawah permukaan air, menguncinya dalam posisi yang sangat berbahaya. Wajah sang pilot tampak pucat pasi di bawah temaram lampu darurat, namun matanya masih memancarkan api keberanian yang tajam. Ia tidak berteriak meminta tolong, melainkan memberikan instruksi dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Bimo! Berhenti mematung dan segera bertindak!" teriak Dara, suaranya parau akibat menghirup uap panas yang menyesakkan dada. "Katup manualnya berada di bawah sana, tepat di balik tangki ballast! Kau harus menutupnya sekarang juga!"
Bimo terpaku di ambang pintu, kakinya seolah-olah telah menyatu dengan lantai logam yang dingin dan licin. Sentuhan air es yang merayap di kulitnya memicu kilas balik yang menyakitkan; rasa asin di lidah, kegelapan yang menghimpit, dan tekanan yang menghancurkan paru-paru. Ia bisa merasakan dadanya menyempit, seolah-olah ada beban ribuan ton yang sedang menindih jantungnya hingga ia kesulitan menghirup udara. Dunia di sekitarnya mulai berputar, dan suara gemuruh air berubah menjadi raungan monster dari kedalaman yang pernah ia temui di masa kecilnya.
"Aku... tiba-tiba aku tidak bisa melakukannya, Dara," bisik Bimo, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh air yang terus masuk.
"Kau harus bisa, Mas Bimo!" sahut Dara, kali ini dengan nada yang lebih lembut namun penuh dengan penekanan yang tidak terbantahkan. "Kapal ini akan menjadi makam kita semua jika katup itu tidak segera ditutup. Tolong, lupakan airnya sejenak dan fokuslah padaku!"
Silas Papare muncul secara tiba-tiba di belakang Bimo, napasnya juga memburu setelah berlari dari sektor keamanan di ujung lain kapal. Pria besar itu memindai situasi dengan cepat, lalu menepuk bahu Bimo dengan telapak tangannya yang kasar dan hangat. Kekuatan dalam tepukan itu seolah menyalurkan sedikit keberanian ke dalam tubuh Bimo yang sedang menggigil hebat. Silas memberikan anggukan kecil, sebuah bentuk kepercayaan yang tidak membutuhkan dekorasi kata-kata panjang untuk dipahami.
"Kaka Bimo, tolong dengar saya baik-baik. Dara sangat membutuhkan bantuanmu di bawah sana," ujar Silas dengan suara berat yang menenangkan. "Saya akan menahan pintu ini sekuat tenaga supaya tidak terkunci otomatis dan menjebak kalian berdua."
Bimo menoleh ke arah Silas, menemukan ketenangan yang luar biasa di mata pria Papua itu yang kontras dengan kekacauan di sekeliling mereka. Ia kemudian kembali menatap Dara yang kini mulai kesulitan menjaga kepalanya tetap di atas permukaan air karena volume air yang terus meningkat. "Hanya satu putaran lagi, jangan pernah melihat ke bawah," gumam Bimo pada dirinya sendiri, mencoba memantrai ketakutannya agar tetap terkendali. Ia melangkah masuk ke dalam air yang sedingin es, merasakan sensasi perih saat oli mengenai luka gores di lengan bawahnya.
Air itu terasa seperti lumpur hisap yang mencoba menelannya bulat-bulat ke dalam perut bumi yang gelap dan sunyi. Bimo menarik napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan udara yang terasa berat, lalu menyelam ke dalam kegelapan keruh yang menyelimuti kompartemen. Di bawah air, dunia berubah menjadi kesunyian yang mematikan, hanya menyisakan detak jantungnya yang berdentum seperti genderang perang di telinga. Pandangannya sangat terbatas, hanya mampu menangkap bayangan buram dari pipa-pipa logam dan kabel yang menjuntai seperti tentakel makhluk laut.
Tangannya meraba-raba dasar kompartemen, menyentuh permukaan logam dingin yang licin karena lapisan minyak yang tebal. Di titik ini, rasa takut itu kembali menyerang dengan ganas, sebuah gelombang kepanikan yang mencoba memaksanya untuk segera naik ke permukaan. Namun, bayangan wajah Dara yang terjepit dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin tim menahan dorongan tersebut. Ia terus mencari hingga jemarinya menemukan tuas logam besar berbentuk roda, katup manual yang menjadi satu-satunya harapan mereka untuk bertahan hidup.
Bimo mencengkeram roda itu dengan kedua tangannya, mengerahkan seluruh energi yang masih tersisa di dalam otot-ototnya. Logam itu terasa sangat kaku, seolah-olah telah menyatu dengan kerak laut yang membeku selama berabad-abad di kedalaman terdalam. Ia mendorong kakinya ke dinding kapal untuk memberikan daya ungkit tambahan, sambil terus menahan napas hingga dadanya terasa seperti akan meledak. Roda itu akhirnya berderit, sebuah suara logam yang beradu yang getarannya bisa ia rasakan langsung di telapak tangannya.
Satu inci demi satu inci, roda tersebut mulai berputar perlahan meskipun dengan perlawanan yang sangat kuat. Bimo terus memutar, mengabaikan rasa perih yang menyengat matanya dan tekanan yang menyumbat telinganya seperti kapas basah yang berat. Secara bertahap, tekanan air yang masuk terasa mulai berkurang, dan suara gemuruh di luar perlahan-lahan mereda menjadi desisan halus. Ia memutar katup itu hingga mencapai titik maksimal, memastikan aliran air benar-benar terputus dan tidak ada lagi kebocoran yang tersisa.
Ia segera menendang kakinya ke atas, memecah permukaan air dengan napas yang meledak keluar dari kerongkongannya seperti letupan uap. "Sekarang ini sudah... sudah kututup sepenuhnya!" teriak Bimo sambil terbatuk-batuk hebat karena air asin sempat masuk ke tenggorokannya. Silas segera melompat ke dalam genangan air untuk membantu Bimo mengangkat rak peralatan yang masih menjepit kaki Dara. Dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, Silas mengangkat beban logam itu seolah-olah itu hanyalah sepotong kayu ringan yang tidak berarti.
Bimo dengan sigap menarik Dara keluar dari jebakan tersebut, merangkul bahu sang pilot dan membantunya menuju area yang lebih tinggi dan kering. Pompa darurat mulai bekerja kembali, mengeluarkan suara dengungan rendah yang menenangkan saat air mulai surut dari ruangan. Mereka bertiga duduk bersandar di dinding koridor yang masih basah, napas mereka saling bersahutan dalam irama yang kacau namun penuh kelegaan. Bimo merasakan getaran hebat di tangannya, sisa-sisa adrenalin yang masih mengalir deras di pembuluh darahnya seperti arus listrik.
"Kau berhasil melakukannya, Bimo," ujar Dara dengan suara yang masih lemah, namun ada senyum tipis yang tulus di bibirnya. "Sejujurnya, aku tidak tahu kau memiliki kekuatan untuk melakukan itu setelah semua yang terjadi di masa lalumu."
Bimo hanya mampu mengangguk pelan, masih berusaha keras untuk menstabilkan detak jantungnya yang liar. Ia menatap tangannya yang kotor oleh oli dan dipenuhi luka-luka kecil, merasa seolah-olah ia baru saja kembali dari medan perang yang paling mengerikan. Di sudut matanya, ia melihat Silas yang memberikan jempol tanda hormat sebelum pria itu berdiri untuk mengecek kerusakan teknis lainnya. Tak lama kemudian, Mbak Lastri datang berlari dari arah dapur dengan wajah yang sangat cemas.
Wanita itu membawa beberapa lembar handuk kering dan botol air mineral di tangannya, bergerak dengan kecekatan seorang ibu yang merawat anaknya. Ia segera menyelimuti bahu Bimo dengan handuk hangat, sebuah sentuhan sederhana yang seketika memberikan rasa aman yang luar biasa. "Ya Allah, Le, kalian tidak apa-apa?" tanya Lastri dengan nada medoknya yang kental dan penuh kekhawatiran. "Ayo, segera minum air ini. Jangan sampai kalian jatuh sakit karena kedinginan di bawah sini."
Bimo menerima botol air itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, merasakan kesegaran air yang membasuh rasa pahit oli di lidahnya. "Terima kasih banyak, Mbak Lastri. Kami berdua baik-baik saja, hanya sedikit terkejut," jawab Bimo dengan suara yang mulai stabil.
"Nanti Mbak akan buatkan wedang jahe yang sangat panas untuk kalian semua," lanjut Lastri sambil mengusap sisa air dari wajah Dara dengan lembut. "Kalian ini benar-benar membuat jantung orang tua seperti saya mau copot saja dengan kejadian tadi."
Meiling muncul dari arah ruang kendali, wajahnya masih terlihat pucat namun ekspresinya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Mas Bimo, Mbak Dara, sistem komunikasi utama sudah berhasil distabilkan kembali oleh tim teknis. Di bawah sana, Pak Hendra tadi terus bertanya lewat radio dengan nada mendesak, aku sampai pusing menjawabnya!"
"Sampaikan pada Pak Hendra bahwa situasi di sini sudah sepenuhnya terkendali," kata Bimo, suaranya kini terdengar jauh lebih mantap dan penuh otoritas. "Mei, tolong lakukan pengecekan integritas lambung di sektor empat secara menyeluruh. Aku tidak ingin ada kejutan lain yang menunggu kita di balik dinding ini."
"Siap dilaksanakan, Mas!" Mei segera kembali ke posisinya dengan langkah yang cepat, jemarinya sudah mulai menari di atas layar tablet digital yang dibawanya.
Dara mencoba untuk berdiri, namun ia segera meringis kesakitan saat mencoba menumpu berat badan pada kaki kanannya yang tadi terjepit. Bimo dengan sigap menahan lengannya, memberikan tumpuan yang kokoh agar sang pilot tidak terjatuh kembali ke lantai yang masih licin. "Jangan terlalu memaksakan diri dulu, Dara," ujar Bimo dengan nada tegas namun penuh perhatian. "Biarkan Mbak Lastri membantumu menuju ruang medis untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Aku adalah pilot kapal ini, Bimo. Aku harus mengetahui kondisi fisik kapalku secara langsung," protes Dara, meskipun ia tidak menolak bantuan fisik dari Bimo.
"Kapal ini tidak akan bisa melaju ke mana pun tanpa pilot yang berada dalam kondisi sehat," sahut Bimo sambil menatap mata Dara dengan serius. "Sekarang, tolong turuti kata-kataku sekali saja demi keselamatan kita bersama."
Dara mendengus pelan, sebuah tanda bahwa ia akhirnya menyerah pada argumen logis yang disampaikan oleh Bimo. Mbak Lastri kemudian memapah Dara menuju ruang medis, meninggalkan Bimo sendirian di koridor yang kini hanya menyisakan genangan air tipis. Keheningan mulai kembali menyelimuti interior kapal selam, namun bukan lagi keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang membawa rasa lega yang mendalam. Bimo berdiri diam sejenak, menatap pintu kompartemen mesin yang kini sudah tertutup rapat dan aman.
Ia merasakan sebuah perubahan yang halus di dalam dirinya, sebuah retakan kecil pada dinding ketakutan yang selama ini mengurung jiwanya. Meskipun trauma masa lalu itu belum sepenuhnya sirna, ia tahu bahwa ia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu melampauinya. Lampu koridor kembali beralih ke warna putih yang terang, menandakan bahwa daya utama kapal telah pulih sepenuhnya. Bimo berjalan perlahan menuju ruang kendali, melewati pipa-pipa yang masih meneteskan sisa air dengan suara ritmis.
Langkahnya terhenti mendadak saat ia melihat sesuatu yang ganjil di dinding luar kompartemen, tepat di tempat air tadi pertama kali merembes masuk. Cahaya lampu yang terang memantul pada sebuah ukiran yang sebelumnya ia yakini tidak ada di sana. Bimo mendekat, menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas di balik sisa-sisa oli yang masih menempel pada permukaan logam. Jantungnya kembali berdegup kencang, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa ingin tahu yang sangat mendalam.
Di permukaan logam kapal yang kuat itu, terdapat sebuah simbol yang terukir halus namun sangat dalam. Bentuknya menyerupai pusaran air yang dikelilingi oleh garis-garis geometris yang rumit, sangat identik dengan simbol-simbol di peta kuno milik ayahnya. Ukiran itu terlihat sangat baru, seolah-olah baru saja dipahat oleh tangan yang tidak terlihat saat air tadi membanjiri ruangan tersebut. Bimo menyentuh simbol itu dengan ujung jarinya, merasakan tekstur logam yang terasa hangat, sangat kontras dengan suhu ruangan yang dingin.
Simbol itu seolah-olah berdenyut pelan di bawah sentuhannya, mengirimkan getaran halus yang membuatnya merinding hingga ke tengkuk. Ia teringat kembali pada kata-kata Aki Jajang tentang bagaimana laut memiliki cara sendiri untuk menandai mereka yang berani masuk ke wilayahnya. "Mas Bimo? Mengapa kau lama sekali di sana?" suara Meiling terdengar dari interkom, memecah lamunan singkatnya.
Bimo segera menarik tangannya kembali, namun matanya masih terpaku pada simbol misterius yang seolah sedang menatapnya balik. "Iya, Mei. Aku akan segera ke sana untuk membantu kalian," jawabnya sambil mengambil napas dalam-dalam. Ia merasakan udara segar yang kini mengalir bebas di paru-parunya, memberikan kekuatan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tantangan di depan mereka mungkin akan jauh lebih besar, namun untuk pertama kalinya, Bimo merasa benar-benar siap untuk menghadapinya.
Ia berbalik dan berjalan menuju ruang kendali, meninggalkan simbol itu dalam bayang-bayang koridor yang perlahan mulai mengering. Di ruang medis yang tenang, Dara sedang duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang sudah dibalut perban putih yang rapi. Lastri sedang merapikan peralatan medis sambil terus menggumamkan doa-doa dalam bahasa Jawa yang terdengar seperti nyanyian kuno. Suasana di ruangan itu terasa hangat dan aman, sebuah kontras yang sangat tajam dengan kekacauan yang baru saja mereka lalui di kompartemen mesin.
"Bagaimana kondisi kakimu sekarang?" tanya Bimo saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan medis tersebut.
"Hanya memar yang cukup lebar dan sedikit lecet di permukaan kulit," jawab Dara sambil mencoba menggerakkan jari-jari kakinya dengan hati-hati. "Terima kasih banyak sudah datang tepat waktu tadi, Bimo. Jika kau tidak masuk, mungkin aku sudah menjadi bagian permanen dari dekorasi kapal ini."
Bimo duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, menatap Dara dengan ekspresi yang sulit diartikan namun penuh rasa syukur. "Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Kau membuatku tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi ketakutanku sendiri yang paling gelap."
"Itulah gunanya kita berada dalam satu tim, bukan?" Dara tersenyum, sebuah senyum tulus yang sangat jarang ia tunjukkan kepada siapa pun. "Kita harus saling mendorong saat salah satu dari kita mulai goyah menghadapi rintangan."
Aki Jajang masuk ke dalam ruangan dengan langkahnya yang lambat, tenang, dan penuh wibawa seperti biasanya. Pria tua itu menatap Bimo dan Dara bergantian, lalu mengangguk kecil dengan senyum misterius yang tersirat di wajahnya yang keriput. Ia membawa sebuah mangkuk kecil berisi cairan berbau harum rempah-rempah yang seketika menenangkan saraf yang tegang. "Laut sudah menyaksikan keberanianmu yang sesungguhnya, Bimo," ujar Aki Jajang dengan suara seraknya yang sangat khas.
"Aki, ada sesuatu yang sangat aneh di dinding luar ruang mesin," kata Bimo, teringat kembali pada simbol yang baru saja ia temukan. "Ada ukiran simbol yang persis sama dengan yang ada di peta milik ayah saya."
Aki Jajang tidak terlihat terkejut sedikit pun; ia justru mendekati Bimo dan menepuk bahunya dengan gerakan yang sangat lembut. "Itu adalah sebuah tanda, Le. Laut sudah menerima kehadiran kita di sini, namun ia juga memberikan peringatan bahwa rahasia yang kita cari tidak akan diberikan dengan mudah."
Bimo terdiam, merenungkan setiap kata yang diucapkan oleh pria tua itu dengan saksama di dalam pikirannya. Ia tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, dan setiap langkah ke depan akan membawanya lebih dalam ke misteri yang merenggut ayahnya. Siti Nurhaliza kemudian masuk ke ruangan dengan membawa beberapa laporan penelitian terbaru, wajahnya terlihat sangat serius namun ada binar kekaguman di matanya. "Pak Hendra ingin kita segera melakukan evaluasi teknis menyeluruh, namun beliau juga menyampaikan rasa bangganya atas tindakan cepat kalian."
"Sampaikan pada Pak Hendra bahwa kita membutuhkan waktu satu jam untuk beristirahat dan memulihkan tenaga," ujar Bimo dengan nada otoritas yang tenang. "Setelah itu, kita akan melanjutkan misi ini dengan kewaspadaan yang lebih tinggi dari sebelumnya."
Siti mengangguk patuh, menunjukkan rasa hormat yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia tunjukkan sebelumnya kepada Bimo. Bimo bersandar di kursinya, merasakan kelelahan yang luar biasa mulai menyelimuti seluruh otot di tubuhnya yang tegang. Namun, di balik rasa lelah itu, ada rasa damai yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidupnya. Ia menatap ke arah jendela kecil di ruang medis yang menunjukkan kegelapan abadi laut dalam di luar sana.
Kegelapan itu tidak lagi terlihat seperti monster yang menakutkan, melainkan seperti sebuah kanvas besar yang menunggu untuk dijelajahi oleh mereka. Bimo tahu bahwa di suatu tempat di bawah sana, catatan dasar laut yang dicari ayahnya sedang menunggu untuk ditemukan kembali. "Istirahatlah sejenak, Bimo," kata Dara pelan, seolah-olah ia mampu membaca setiap pikiran yang melintas di kepala pria itu. "Besok akan menjadi hari yang sangat panjang bagi kita semua."
Bimo mengangguk, memejamkan matanya sejenak sambil menikmati kehangatan ruangan medis yang nyaman tersebut. Suara dengungan mesin kapal yang kini sudah stabil terdengar seperti nina bobo yang menenangkan jiwanya yang lelah. Di luar kapal selam, di kegelapan abadi samudera, simbol yang terukir di lambung kapal mulai bersinar redup dengan cahaya biru pucat. Cahaya itu berdenyut seirama dengan detak jantung kapal, seolah-olah kapal itu kini telah menjadi bagian dari ekosistem laut yang misterius.
Tiba-tiba, Bimo terbangun saat merasakan guncangan kecil pada kapal, sebuah getaran yang frekuensinya berbeda dari kebocoran sebelumnya. Ia membuka mata dan melihat bahwa semua orang di ruangan itu juga merasakan hal yang sama dengan ekspresi waspada. "Ada apa itu, Meiling?" tanya Bimo melalui interkom, suaranya kembali ke mode siaga penuh dalam sekejap.
"Mas Bimo, sensor sonar kita mendeteksi sesuatu yang sangat besar sedang berada tepat di bawah posisi kita," suara Meiling terdengar gemetar. "Dan objek itu... ia bergerak mendekati kita dengan kecepatan yang sangat tinggi!"
Bimo segera berdiri, mengabaikan rasa lelahnya demi keselamatan seluruh awak kapal yang ia pimpin. Ia menatap Aki Jajang yang hanya diam dengan tatapan yang sangat dalam ke arah kegelapan di luar jendela kaca. Bimo tahu bahwa waktu untuk beristirahat telah benar-benar usai, dan kini saatnya mereka menghadapi apa pun yang telah terbangun. "Semua personel, segera kembali ke pos masing-masing dan bersiap untuk manuver darurat!" perintah Bimo dengan tegas.
Mereka semua bergerak dengan cepat, meninggalkan ruang medis menuju pos mereka masing-masing dengan determinasi yang tinggi. Bimo berjalan paling depan, langkahnya mantap dan tidak lagi menunjukkan keraguan sedikit pun terhadap air di sekelilingnya. Saat ia sampai di ruang kendali, ia melihat layar monitor yang kini dipenuhi dengan titik-titik cahaya yang membentuk pola rumit. Titik-titik itu seolah-olah merupakan sebuah bahasa kuno yang sedang dituliskan secara digital di hadapan mata mereka.
Di balik kegelapan air yang pekat, sebuah struktur raksasa mulai terlihat dari balik cahaya lampu sorot kapal selam mereka. Itu bukan sekadar bebatuan alami, melainkan sebuah gerbang logam raksasa yang tertutup rapat dengan hiasan simbol-simbol kuno. Dan gerbang itu, secara perlahan namun pasti, mulai terbuka lebar seolah-olah sedang menyambut kedatangan para tamu dari dunia atas. Bimo menahan napasnya, merasakan beban takdir yang kini benar-benar bertumpu di atas pundaknya yang kokoh.
"Masuk ke dalam celah itu sekarang juga," bisik Bimo, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada tim yang sedang menunggu perintahnya. Kapal selam itu perlahan bergerak maju, memasuki celah gerbang yang terbuka lebar menuju kegelapan yang lebih pekat namun terasa hidup. Saat mereka melewati gerbang itu, cahaya lampu sorot mereka menangkap pemandangan yang membuat semua orang di ruang kendali terdiam. Di depan mereka terbentang sebuah kota bawah laut yang megah, dengan bangunan yang terbuat dari kristal dan logam bercahaya.
"Luar biasa... ini benar-benar tidak masuk akal secara arkeologis," gumam Siti Nurhaliza dengan mata yang berkaca-kaca melihat keindahan tersebut. Bimo hanya bisa terdiam, merasakan air mata haru mulai mengalir di pipinya karena ia telah membuktikan kebenaran ayahnya. Namun, di tengah kekaguman itu, sebuah bayangan besar melintas cepat di atas kapal mereka, memutus aliran cahaya selama beberapa detik. Sesuatu sedang mengawasi mereka dari kegelapan, dan Bimo tahu bahwa petualangan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai.