Bab 21: Gema di Balik Dinding Besi
Cahaya neon di langit-langit ruang kendali Bintang Timur berdenyut tidak keruan, melemparkan bayangan yang menari-nari di atas konsol instrumen yang dingin. Bimo Satrio menyeka peluh yang membanjiri pelipisnya dengan punggung tangan, merasakan sisa minyak mesin yang lengket di kulitnya. Ujung obeng presisinya berdenting pelan saat menyentuh sekrup terakhir pada panel komunikasi utama, sebuah bunyi logam yang menggema di ruangan yang sunyi itu. Dinding-dinding baja di sekelilingnya seolah-olah merapat, menghimpit ruang geraknya hingga setiap tarikan napas terasa berat dan terbatas. Bau menyengat dari sirkuit yang kepanasan menusuk indra penciumannya, bercampur dengan aroma apek dari udara yang terus diputar oleh sistem ventilasi. Di bawah telapak kakinya, getaran ritmis dari mesin kapal merambat naik, sebuah dengungan rendah yang terasa hingga ke sumsum tulang.
"Sedikit lagi, nggih, hanya sedikit lagi," bisik Bimo dengan suara yang serak dan nyaris tenggelam oleh deru kipas pendingin komputer. Ia perlu memastikan bahwa anomali frekuensi yang tertangkap monitornya bukan sekadar kegagalan sistemik atau gangguan elektromagnetik biasa. Frekuensi itu telah muncul sebanyak tiga kali dalam satu jam terakhir, sebuah pola yang terlalu teratur untuk disebut sebagai gangguan alam. Sinyal tersebut sangat tipis dan terbungkus dalam protokol enkripsi yang belum pernah ia temui selama bertahun-tahun bergelut dengan data oseanografi. Ini bukan transmisi dari pusat komando di darat, apalagi dari pelampung sonar yang mereka sebar di sekitar area penelitian.
Panel itu akhirnya terlepas dengan suara denting tajam yang memecah keheningan, menyingkap jalinan kabel warna-warni yang rumit di dalamnya. Bimo menarik napas panjang, membiarkan udara lembap yang beraroma oli mesin memenuhi paru-parunya saat ia mengamati isi panel tersebut. Di balik untaian kabel perak, ia menemukan sebuah modul tambahan berukuran tidak lebih besar dari kuku jempol yang menempel pada bus data utama. Alat itu berkedip dengan cahaya merah yang sangat redup, menyerupai jantung mekanis yang berdenyut di tengah kegelapan perangkat elektronik.
"Siapa yang tega memasang benda ini di sini?" gumam Bimo dengan nada yang bergetar karena amarah yang mulai membuncah. Jemarinya bergerak dengan ketelitian seorang ahli bedah saat ia mencoba melepaskan modul itu tanpa memicu alarm sabotase sistem. Ia menyadari sepenuhnya risiko yang sedang ia ambil dengan melakukan pembongkaran ilegal di tengah malam buta seperti ini. Jika ada kru lain yang memergokinya, kepercayaan tim yang sudah retak akibat tekanan misi ini akan hancur berkeping-keping dalam sekejap. Namun, instingnya yang terasah selama bertahun-tahun membaca pola arus laut memberitahunya bahwa ada arus bawah yang jauh lebih berbahaya di dalam perut kapalnya sendiri.
Modul itu akhirnya terlepas dan terasa sangat dingin di telapak tangan Bimo, seolah-olah benda itu adalah sepotong es yang menolak untuk mencair meski digenggam erat. Ia segera menyarungkan benda itu ke dalam saku celananya saat telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendekat dari lorong sempit di luar ruangan. Bunyi sepatu bot yang menghantam lantai besi bergema dengan ritme yang lambat namun pasti, menciptakan ketegangan yang membuat bulu kuduk Bimo berdiri tegak.
"Saudara Bimo? Mengapa Anda masih berada di sini dan belum beristirahat?" Suara Silas Papare menggelegar di ambang pintu, sosoknya yang tegap dan besar seolah-olah memenuhi seluruh ruang yang sempit itu. Cahaya merah dari lampu darurat yang berkedip pelan di sudut ruangan memberikan bayangan panjang yang tampak mengancam di wajah Silas.
"Saya akan segera kembali ke kabin, Kaka Silas," jawab Bimo sambil berusaha mengatur nada suaranya agar tetap stabil dan tenang. Ia menyandarkan punggungnya pada panel yang sudah ia tutup kembali dengan tergesa-gesa, menyembunyikan bekas bongkarannya. "Saya hanya sedang memeriksa beberapa log komunikasi karena sepertinya ada sedikit gangguan cuaca di permukaan yang memengaruhi transmisi data kita ke pusat."
Silas mengangguk perlahan, matanya yang tajam dan berpengalaman mengamati setiap inci ruangan itu dengan saksama. "Laut sedang gelisah, Pace. Di bawah sini, saya bisa merasakan getarannya melalui telapak kaki saya yang berpijak di lantai ini. Kapal ini terasa seperti seekor burung yang menyadari ada kucing yang sedang mengintai di balik semak-semak."
Bimo menelan ludah, merasakan rasa asin dari keringat yang menetes di bibirnya terasa sangat nyata dan pahit. "Mungkin itu hanya perasaan kita saja karena sudah terlalu lama berada di kedalaman tanpa melihat cahaya matahari."
"Mungkin saja Anda benar," Silas berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. "Tetapi saya sarankan jangan terlalu lama menyendiri di ruangan ini. Di kedalaman seperti ini, kegelapan sering kali membisikkan hal-hal yang tidak benar pada pikiran manusia."
Setelah Silas menghilang di balik tikungan lorong, Bimo terduduk lemas di kursi putar, membiarkan napasnya keluar dalam helaan yang berat. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa hanya diam dan berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi di atas kapal ini. Jika benar ada informan yang menyusup di antara mereka, maka keselamatan seluruh tim kini berada dalam ancaman yang sangat besar. Ia harus mencari bukti tambahan yang lebih kuat sebelum berani melakukan konfrontasi secara terbuka dengan rekan-rekannya.
Ingatannya kemudian melayang pada kotak medis di ruang makan, sebuah tempat yang biasanya jarang diperiksa secara mendetail kecuali dalam keadaan darurat medis. Bimo melangkah keluar dari ruang kendali dengan hati-hati, menyusuri lorong kapal yang terasa seperti usus raksasa yang gelap dan lembap. Ia sengaja menghindari area dapur agar tidak berpapasan dengan Lastri yang mungkin masih terjaga untuk menyiapkan ransum esok hari. Saat mencapai ruang makan yang sepi, ia segera menuju lemari penyimpanan medis yang terletak di sudut ruangan.
Bau antiseptik yang tajam dan menusuk segera menyambutnya saat pintu lemari itu berderit terbuka di bawah sentuhan tangannya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Bimo membongkar tumpukan perban dan botol-botol obat yang tertata rapi di dalam rak tersebut. Di bawah tumpukan kain kasa yang masih terbungkus plastik, ia menemukan benda itu lagi: sebuah pemancar kecil yang identik dengan yang ia temukan di panel komunikasi. Benda itu tersembunyi dengan sangat rapi, menunjukkan bahwa pelakunya adalah seseorang yang sangat mengenal seluk-beluk kapal ini.
Bimo merasa seolah-olah lantai besi di bawah kakinya bergeser, membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat karena rasa terkejut yang luar biasa. Ini bukan lagi sekadar kecurigaan yang didasari oleh paranoia, melainkan sebuah pengkhianatan nyata yang terencana dengan sangat matang. Seseorang di dalam tim ini secara aktif membocorkan koordinat posisi mereka kepada pihak luar, kemungkinan besar kepada Togar Simanjuntak dan sindikatnya.
"Apa yang sedang Anda cari di dalam lemari medis itu, Saudara Bimo?" Suara itu berasal dari arah meja makan, memecah kesunyian malam dengan ketajaman yang mengejutkan.
Bimo tersentak hingga hampir menjatuhkan pemancar itu dari genggamannya, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Di sana, di bawah cahaya lampu temaram yang menggantung di atas meja, Dara Puspita duduk dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas. Wajahnya terlihat sangat lelah, dengan lingkaran hitam yang menghiasi bawah matanya yang biasanya memancarkan ketajaman seorang pilot.
Bimo tidak memberikan jawaban secara lisan, melainkan melangkah mendekat dan meletakkan pemancar kecil itu di atas meja kayu yang sudah mulai kusam. Denting logamnya terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian malam, sebuah bunyi yang menuntut penjelasan segera.
"Siapa yang memiliki benda ini, Dara?" tanya Bimo dengan kalimat yang pendek dan tajam, menyerupai sayatan sembilu yang dingin.
Dara mengerutkan keningnya, matanya terpaku pada perangkat elektronik kecil yang kini berada di hadapannya. "Benda apa itu? Apakah itu merupakan bagian dari sistem navigasi yang baru saja Anda perbaiki?"
"Ini adalah pemancar ilegal," Bimo menatap Dara lurus-urus, mencoba mencari kejujuran di balik tatapan wanita itu. "Saya menemukannya tertanam di panel komunikasi utama dan satu lagi tersembunyi di dalam kotak medis. Seseorang di kapal ini sedang menjalin komunikasi dengan musuh-musuh kita."
Dara berdiri dengan gerakan yang sangat cepat, hingga kursi besinya berderit keras saat bergesekan dengan lantai besi. "Apakah Anda sedang menuduh saya? Saya sudah mempertaruhkan nyawa saya untuk membawa kapal ini melewati celah sempit yang berbahaya kemarin, dan sekarang Anda menyebut saya pengkhianat?"
"Saya tidak sedang menuduh siapa pun secara spesifik saat ini," Bimo mencoba menurunkan nada suaranya, meskipun jantungnya masih berdegup kencang. "Namun fakta-fakta yang ada tidak bisa berbohong kepada kita. Sinyal ini terpancar keluar dari kapal kita setiap satu jam sekali tanpa henti."
"Loh, bagaimana mungkin benda itu bisa ada di sana?" Suara Mei terdengar dari arah pintu, mengejutkan mereka berdua yang sedang bersitegang. Gadis itu muncul dengan piyama bergambar karakter kartun yang kontras dengan situasi, wajahnya tampak pucat pasi di bawah lampu ruangan. "Bimo, itu adalah modul enkripsi frekuensi radio jarak pendek. Biasanya perangkat seperti itu digunakan oleh pihak militer atau korporasi besar untuk pelacakan aset secara rahasia."
Ketegangan di dalam ruangan itu meningkat seketika seiring dengan munculnya anggota tim lainnya yang terbangun karena suara perdebatan. Lastri datang dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya, diikuti oleh Ucok Batubara yang wajahnya terlihat sudah siap untuk melakukan kontak fisik. Silas berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersedekap, mengamati semua orang dengan tatapan yang sulit untuk diterjemahkan.
"Ada apa ini? Mengapa kalian sudah ribut-ribut di tengah malam yang dingin seperti ini?" tanya Lastri dengan suara yang biasanya hangat namun kini terdengar penuh kecemasan.
Bimo mengangkat pemancar itu tinggi-tinggi agar bisa dilihat oleh semua orang yang hadir di sana. "Ada pengkhianat di antara kita semua. Seseorang telah memberikan lokasi rahasia kita kepada sindikat Bang Togar melalui perangkat ini."
"Bah! Jangan Anda main-main dengan ucapan Anda, Bimo!" seru Ucok dengan logat Medannya yang kental dan penuh emosi. "Anda lihatlah muka kami satu per satu di sini. Siapa yang Anda curigai sebenarnya? Saya? Atau si Silas yang pendiam ini?"
"Saya tidak pernah mengatakan bahwa itu adalah Anda, Ucok," Bimo tetap berdiri teguh meskipun ia kini dikelilingi oleh tatapan yang penuh amarah dan kecurigaan. "Tetapi benda ini tidak mungkin bisa terpasang dengan sendirinya tanpa bantuan tangan manusia. Seseorang di ruangan ini pasti tahu siapa pemilik sebenarnya dari modul ini."
Dara melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Bimo, napasnya terasa hangat di kulit Bimo. "Anda sepertinya sudah mulai gila karena tekanan misi ini, Bimo Satrio. Anda terlalu banyak membaca data mentah sampai otak Anda mulai melihat hantu di setiap sudut kapal."
"Hantu tidak akan memasang pemancar di panel komunikasi, Dara," balas Bimo dengan nada yang tak kalah sengit. "Dan hantu juga tidak akan membuat kita semua berakhir di dasar laut ini sebagai bangkai yang terlupakan."
"Mungkin saja Anda sendiri yang memasang benda itu!" Dara berteriak, suaranya bergetar karena amarah yang memuncak. "Anda membutuhkan alasan untuk menutupi kegagalan Anda dalam menemukan artefak itu, jadi Anda mengarang skenario pengkhianatan ini. Apakah Anda ingin terlihat seperti pahlawan yang dikhianati oleh kawan-kawannya sendiri?"
Bimo merasakan gelombang panas naik ke wajahnya, sebuah reaksi fisik terhadap tuduhan yang tidak berdasar tersebut. Tinjunya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan emosi yang meluap-luap di dalam dadanya. "Saya tidak pernah mencari kemuliaan pribadi dalam misi ini. Saya hanya ingin memastikan kita semua bisa pulang dengan selamat. Namun bagaimana kita bisa selamat jika ada ular yang bersembunyi di dalam baju kita sendiri?"
"Sabar toh, Le," Lastri mencoba menengahi perdebatan itu dengan meletakkan tangannya yang lembut di bahu Bimo. "Janganlah kita asal menuduh tanpa bukti yang jelas. Kita semua di sini sudah seperti keluarga besar di dalam kapal kecil ini."
"Keluarga tidak akan saling membunuh demi uang, Mbak Lastri," kata Bimo dengan suara yang pelan namun sangat tegas. Ia menatap satu per satu wajah rekan-rekannya, mencari tanda-tanda kegugupan yang mungkin tersembunyi. "Siapa pun yang melakukannya, saya minta berhentilah sekarang. Sebelum sindikat itu benar-benar mengepung dan menghancurkan kita semua."
Suasana di ruang makan menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara mesin kapal yang terus menderu di kejauhan. Uap panas dari sup yang tadi disiapkan Lastri mulai mendingin di atas meja, tidak tersentuh oleh satu pun anggota tim yang kini saling curiga. Aroma kaldu yang biasanya gurih kini justru membuat perut Bimo terasa mual dan tidak nyaman. Ia merasa terisolasi secara emosional, seolah-olah ada dinding kaca yang tiba-tiba muncul dan memisahkan dirinya dari orang-orang yang selama ini ia percayai.
"Kita akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh isi kapal besok pagi," kata Silas akhirnya, suaranya yang berat memecah kesunyian yang mencekam. "Setiap sudut kapal, setiap tas pribadi milik kru. Tidak akan ada pengecualian bagi siapa pun."
"Termasuk pemeriksaan terhadap tas milik Bimo sendiri," tambah Dara dengan nada sarkastik yang kental. Ia memberikan tatapan tajam terakhir pada Bimo sebelum berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kemudi.
Satu per satu anggota tim membubarkan diri dengan wajah yang muram, meninggalkan ruang makan yang kembali sepi dan dingin. Bimo masih berdiri mematung di tempatnya, merasa seperti seutas kawat yang sudah ditarik terlalu kencang dan siap untuk putus kapan saja. Beban kepemimpinan dan bayang-bayang kegagalan masa lalu menindih pundaknya dengan sangat berat, membuatnya sulit untuk menegakkan kepala. Ia teringat kembali pada sosok ayahnya, yang juga dikhianati oleh laut—atau mungkin oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya di saat-saat kritis.
Bimo berjalan dengan langkah gontai menuju dek observasi, mencari ketenangan di tengah kekacauan pikiran yang melanda. Di sana, kegelapan laut dalam di balik kaca tebal yang sesekali diterangi oleh lampu sorot kapal memberikan sedikit rasa damai. Air laut di luar sana terlihat sangat pekat, menyerupai tinta yang tumpah di atas kanvas hitam yang tak berujung. Ia duduk di sebuah kursi panjang, menatap kosong ke arah kegelapan yang seolah-olah ingin menelan seluruh keberadaannya.
"Ambillah ini." Dara tiba-tiba berdiri di sampingnya, suaranya tidak lagi mengandung amarah seperti sebelumnya. Di tangannya, ia memegang sebuah jaket tebal yang terlihat usang namun tampak sangat hangat dan nyaman. "Ini adalah milik mendiang ayah saya. Beliau selalu berpesan, jika hati sedang terasa dingin, maka badan harus tetap dijaga agar tetap hangat supaya pikiran bisa tetap jernih."
Dara menyampirkan jaket itu di bahu Bimo dengan gerakan yang lembut, sebuah gestur yang tidak disangka-sangka oleh Bimo. Kehangatan fisik dari kain wol itu segera meresap ke dalam kulit Bimo, memberikan sedikit rasa nyaman yang sangat ia butuhkan saat ini. Bimo menatap Dara, mencoba mencari jejak kebohongan di matanya, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang sama mendalamnya dengan yang ia rasakan sendiri.
"Terima kasih banyak, Dara," bisik Bimo dengan tulus. "Saya memohon maaf jika tadi saya bersikap terlalu keras dan menyinggung perasaan Anda."
Dara menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk duduk di samping Bimo di kursi panjang tersebut. "Saya mengerti perasaan Anda. Kita semua saat ini sedang berada dalam ketakutan yang luar biasa. Sindikat itu terasa seperti badai yang tidak pernah berhenti mengejar kita ke mana pun kita pergi. Namun menuduh satu sama lain hanya akan mempercepat proses kehancuran kita dari dalam."
"Saya hanya tidak ingin kehilangan siapa pun lagi dalam misi ini," Bimo menundukkan kepalanya, menatap lantai besi. "Kejadian yang menimpa ayah saya dulu terjadi karena saya tidak cukup teliti dalam melihat tanda-tanda bahaya yang ada. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan fatal yang sama untuk kedua kalinya."
"Kita tidak akan mati di tempat ini," Dara meletakkan tangannya di atas tangan Bimo sejenak, memberikan dukungan moral yang kuat. "Kita sudah melewati banyak rintangan bersama-sama. Ingatkah Anda saat kita nyaris tergilas oleh runtuhan di pabrik bawah tanah itu? Kita berhasil selamat karena kita saling menaruh kepercayaan satu sama lain."
Bimo mengangguk pelan, mencoba meresapi kata-kata Dara. "Nggih, Anda benar. Namun bukti fisik itu tetap ada di sana, Dara. Saya tidak bisa mengabaikan keberadaan pemancar itu begitu saja."
"Saya tahu itu. Kita akan mencari tahu siapa pelakunya bersama-sama, dengan cara yang lebih bijaksana tanpa harus saling menghancurkan satu sama lain."
Mereka berdua duduk berdampingan dalam diam, menatap layar radar yang berputar pelan di sudut ruangan observasi. Titik-titik hijau kecil di layar menunjukkan posisi mereka yang sangat terpencil di tengah luasnya samudra yang tak bertepi. Untuk sejenak, jembatan komunikasi di antara mereka mulai terbangun kembali, meskipun fondasinya masih terasa sangat goyah dan rapuh.
"Anda tahu," Dara memecah kesunyian yang sempat tercipta, "terkadang laut memberikan jawaban dengan cara-cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Mungkin saja pengkhianat itu bukan berasal dari salah satu anggota tim kita. Mungkin ada cara lain yang mereka gunakan untuk melacak pergerakan kita."
"Mungkin saja," jawab Bimo, meskipun di dalam lubuk hatinya ia masih menyimpan keraguan yang besar.
Malam semakin larut dan suhu di dalam kapal terasa semakin menurun. Bimo memutuskan untuk mencoba beristirahat sejenak di kursi itu, membiarkan tubuhnya rileks. Ia menarik jaket pemberian Dara lebih erat ke tubuhnya, mencium aroma samar minyak kayu putih dan tembakau tua yang memberikan efek menenangkan. Matanya mulai terasa sangat berat saat dengung mesin kapal berubah menjadi nina bobo mekanis yang menghanyutkan kesadarannya.
Namun, ketenangan yang baru saja ia rasakan itu hanya berlangsung sesaat sebelum akhirnya buyar. Di dalam saku celananya, pemancar yang ia sita tadi tiba-tiba bergetar dengan sangat hebat, sebuah getaran elektrik yang membuat kulitnya meremang. Bimo tersentak bangun dengan jantung yang berpacu liar, seolah-olah ia baru saja terbangun dari mimpi buruk. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda kecil itu dengan tangan yang gemetar.
Cahaya merah pada modul itu kini berkedip dengan frekuensi yang sangat cepat, menyerupai sebuah peringatan bahaya yang mendesak. Sebuah layar kecil yang tadinya tersembunyi di balik casing pemancar itu tiba-tiba menyala, memancarkan cahaya biru pucat. Bimo memicingkan matanya untuk membaca baris teks yang muncul di sana, huruf-huruf digital berwarna hijau neon yang membuat darahnya terasa membeku seketika.
'Target sudah dalam jangkauan. Eksekusi saat fajar tiba.'
Bimo segera menoleh ke arah jendela observasi yang besar di hadapannya. Di ufuk timur yang sangat jauh, semburat cahaya pertama mulai membelah kegelapan laut yang pekat. Fajar telah tiba, membawa serta ancaman yang selama ini mereka takuti. Mereka tidak lagi sendirian di kedalaman samudra ini. Ia menoleh ke arah Dara yang masih tertidur pulas di sampingnya, wajahnya tampak tenang dalam tidurnya. Tangannya gemetar hebat saat ia menyadari bahwa waktu yang mereka miliki telah habis sepenuhnya. Siapa pun pengkhianatnya, mereka telah berhasil membawa serigala tepat ke depan pintu rumah mereka.
Bimo berdiri dengan tergesa-gesa, hingga jaket milik Dara jatuh ke lantai tanpa ia sadari. Ia harus segera mencapai ruang kemudi untuk memberikan peringatan kepada Silas dan Ucok. Namun, saat ia berbalik untuk berlari, ia melihat sebuah bayangan berdiri tegak di ujung lorong yang gelap. Sosok itu memegang sesuatu yang terlihat seperti perangkat detonator jarak jauh di tangannya.
"Jangan bergerak sedikit pun, Mas Bimo," suara itu terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk situasi yang penuh tekanan seperti ini.
Bimo tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas karena cahaya latar yang menyilaukan dari lampu darurat yang tiba-tiba menyala dengan sangat terang. Namun, ia mengenali suara itu dengan sangat baik; suara yang selama ini selalu memberikan nasihat birokrasi yang kaku namun terdengar sangat sopan di telinganya.
"Pak Hendra?" bisik Bimo dengan nada yang penuh ketidakpercayaan, seolah-olah dunianya baru saja runtuh.
Sosok itu melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya, menyingkap identitasnya yang sebenarnya. Hendra Suwandi berdiri di sana dengan wajah yang biasanya terlihat gugup, namun kini tampak dingin dan penuh determinasi yang mematikan. Di tangannya, sebuah perangkat genggam terus berkedip selaras dengan pemancar yang masih dipegang oleh Bimo.
"Maafkan saya, Le," kata Pak Hendra dengan nada bicara yang sangat datar, tanpa ada sedikit pun penyesalan yang tersirat. "Ada hutang besar di masa lalu yang harus segera saya bayar. Dan Togar Simanjuntak bukanlah tipe orang yang suka menunggu terlalu lama."
Bimo merasakan sebuah jurang yang sangat dalam menganga di bawah kakinya, menelan seluruh keyakinannya. Semua analisis data yang ia lakukan, semua kecurigaannya pada Dara atau Ucok, ternyata salah sasaran sepenuhnya. Musuh yang paling berbahaya adalah dia yang paling tidak terlihat dan paling tidak dicurigai selama ini.
"Apa yang sebenarnya Bapak lakukan pada kami?" tanya Bimo, suaranya nyaris hilang ditelan oleh rasa sesak di dadanya.
"Saya hanya sedang menyelamatkan diri saya sendiri," jawab Hendra dengan dingin. "Dan mungkin, jika kalian semua cukup beruntung, Togar akan membiarkan kalian tetap hidup sebagai tawanan yang berharga."
Tepat pada saat itu, sebuah guncangan yang sangat hebat menghantam lambung Bintang Timur, membuat seluruh badan kapal bergetar hebat. Suara ledakan tumpul terdengar berasal dari arah buritan, segera diikuti oleh raungan alarm kebocoran yang memekakkan telinga. Kapal itu miring ke arah kiri dengan sudut yang sangat ekstrem, melemparkan tubuh Bimo ke dinding besi yang dingin dan keras.
"Dara! Bangun! Kita dalam bahaya!" teriak Bimo sekuat tenaga sambil mencoba meraih pegangan besi di dinding untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Di luar jendela observasi, lampu sorot kapal menangkap bayangan beberapa unit kapal selam mini tak berawak milik sindikat yang mulai mengepung mereka. Kapal-kapal itu bergerak lincah seperti hiu yang telah mencium bau darah di dalam air. Cahaya laser merah mulai memindai lambung Bintang Timur, mencari titik-titik terlemah pada struktur baja untuk ditembus oleh torpedo berikutnya. Bimo menatap Pak Hendra yang masih berdiri tegak dengan tenang meskipun kapal terus bergoyang hebat akibat hantaman gelombang ledakan.
"Bapak sudah membunuh kita semua dengan pengkhianatan ini," desis Bimo dengan penuh kebencian.
"Tidak, Bimo," Hendra menekan sebuah tombol pada perangkat genggamnya dengan ibu jari. "Saya hanya sedang membukakan pintu untuk masa depan yang baru bagi kita semua."
Lampu utama di dalam kapal padam secara total, menyisakan hanya cahaya merah darurat yang berputar liar dan menciptakan suasana yang mencekam. Di tengah kegelapan yang pekat itu, Bimo menyadari bahwa perjuangan mereka untuk membuktikan kebenaran kini telah berubah menjadi perjuangan brutal untuk sekadar bertahan hidup satu menit lagi. Gema dari ledakan kedua terdengar jauh lebih dekat daripada sebelumnya, merobek keheningan dasar laut dan menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih tersisa di hati Bimo Satrio.
"Semua kru segera menuju stasiun tempur!" teriak Dara yang sudah terbangun sepenuhnya dan langsung bereaksi dengan insting seorang pilot yang terlatih. "Bimo, bantu saya di konsol kemudi sekarang juga!"
Bimo merangkak di atas lantai yang miring dengan susah payah, mencoba mencapai ruang kemudi sementara air mulai merembes masuk dari celah-celah paking pintu yang mulai gagal menahan tekanan luar biasa dari kedalaman samudra. Di belakangnya, sosok Pak Hendra menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan tim dalam keadaan kekacauan yang sempurna dan mematikan. Layar monitor di ruang kemudi menyala kembali secara otomatis, menampilkan pesan terakhir dari sindikat yang kini telah menguasai seluruh frekuensi komunikasi mereka:
'Serahkan Catatan Dasar Laut sekarang juga, atau jadilah bagian dari sejarah yang tenggelam selamanya.'
Bimo menatap ke arah Dara, dan untuk pertama kalinya dalam misi ini, ia melihat ketakutan yang murni terpancar di mata pilot tangguh itu. Namun, di balik ketakutan yang mendalam itu, ada api kemarahan yang mulai menyala dengan terang. Mereka kini terjepit, dikhianati oleh orang dalam, dan kalah jumlah secara signifikan, tetapi laut sepertinya belum selesai dengan urusan mereka.
"Kita tidak akan menyerah begitu saja pada mereka," bisik Bimo, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri daripada kepada Dara.
Kapal Bintang Timur mengerang dengan suara logam yang tertekuk di bawah tekanan hidrostatik yang luar biasa, terdengar seperti jeritan makhluk purba yang sedang sekarat di kedalaman. Dan di luar sana, fajar yang seharusnya membawa harapan baru bagi umat manusia, justru membawa bayang-bayang kematian yang semakin mendekat dengan pasti.