Bab 26: Arsitektur Sang Pengkhianat
Kegelapan di dalam celah sempit itu terasa seperti kain kafan basah yang membungkus seluruh tubuh, menyesakkan dan dingin. Punggung Bimo Satrio menekan dinding batu yang kasar hingga butiran mineral purba terasa menusuk lapisan tipis pakaian selamnya. Di sampingnya, napas Dara Puspita terdengar pendek dan tertahan, sebuah irama patah-patah yang membocorkan kecemasan yang ia kunci rapat di balik giginya. Bau belerang yang samar merembes dari celah batuan di atas mereka, beradu tajam dengan aroma lumut lembap yang memenuhi rongga hidung. Sinar lampu senter dari pasukan Sindikat menyapu lorong di luar ceruk, menciptakan garis-garis perak yang membelah kegelapan seperti pedang yang mencari mangsa. Jari-jari Bimo gemetar saat ia mematikan senter kecil di tangannya, membiarkan kepekatan total menelan mereka tanpa sisa. Ia mendekap buku catatan kakeknya erat-erat di depan dada, seolah kertas-kertas rapuh itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam pusaran ketakutan.
Detak jantung Bimo berpacu liar, bergema di gendang telinganya sendiri dengan kecepatan yang menyakitkan. "Mohon jangan bergerak sedikit pun," bisik Dara, suaranya nyaris tidak lebih dari sekadar hembusan angin di tengah gema tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua. Tetesan itu jatuh dengan ritme yang tidak teratur, menciptakan ilusi suara langkah kaki yang ragu-ragu di luar sana. Bimo mengunci napasnya hingga dadanya terasa panas dan sesak, menghitung setiap detik yang merayap dengan kelambatan yang menyiksa. Ruang di antara mereka begitu terbatas, memaksa bahu Bimo bersentuhan langsung dengan bahu Dara yang kaku. Ia bisa merasakan getaran halus dari tubuh sang pilot, sebuah bukti fisik bahwa meskipun Dara tampak setangguh karang, situasi ini mampu menggetarkan fondasi keberanian siapa pun.
Cahaya senter di luar sana akhirnya memudar dan menjauh, meninggalkan sunyi yang kembali memerintah di dalam gua. Bimo melepaskan napas yang tertahan, namun beban di dadanya justru terasa semakin berat. Langit-langit gua seolah merunduk turun, mengecilkan ruang gerak mereka hingga batas yang mustahil untuk ditoleransi oleh akal sehat. Ia merogoh saku sampingnya dengan gerakan lambat, mengeluarkan sebuah lampu LED kecil yang cahayanya hanya cukup untuk menyinari permukaan kertas di tangannya. "Apa yang sedang Anda lakukan, Saudara Bimo?" Dara bertanya dengan nada mendesak, matanya terus melirik waspada ke arah lorong yang baru saja dilewati oleh para pengejar.
Bimo tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya mengangkat telapak tangannya sebagai isyarat agar Dara tetap menjaga kewaspadaan. Ia membuka halaman terakhir dari 'Catatan Dasar Laut', bagian yang selama ini ia anggap sebagai ruang kosong atau sekadar coretan tanpa makna. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia memiringkan lampu LED tersebut, menggunakan teknik pencahayaan miring untuk mencari bekas tekanan pena yang tersembunyi di balik serat kertas yang rapuh. Tekstur kertas tua itu terasa kasar dan berpasir di bawah ujung jarinya, membawa aroma tinta yang memudar serta debu waktu yang menyesakkan. Perlahan, bayangan dari serat kertas mulai membentuk huruf-huruf yang tersusun dalam kode keluarga yang sangat personal.
Ini adalah sandi yang sering digunakan kakeknya saat memberikan teka-teki logika semasa Bimo masih kecil di beranda rumah mereka. Setiap lekukan huruf membawa rasa sakit yang tumpul ke dalam benak Bimo, membangkitkan kenangan tentang seorang pria tua yang selalu ia jadikan mercusuar moral. "Beliau sudah mengetahui segalanya," gumam Bimo, suaranya terdengar serak dan penuh dengan ketidakpercayaan yang pahit. Dara mendekat, mencoba mengintip apa yang tertulis di sana meskipun ia tidak memahami kerumitan kodenya. "Apa yang beliau ketahui? Siapa sebenarnya yang Anda maksudkan?"
Bimo tidak segera memberikan jawaban, matanya terpaku pada baris-baris kalimat yang kini terbaca dengan kejelasan yang mengerikan. Tulisan itu bukan berisi koordinat harta karun yang hilang atau rahasia energi purba yang terpendam. Itu adalah sebuah profil psikologis, sebuah analisis bedah yang mendalam tentang ketakutan dan kecenderungan perilaku Bimo sendiri. Kakeknya telah mencatat dengan sangat detail bagaimana Bimo akan bereaksi terhadap kegelapan, bagaimana ia akan memilih rute pelarian berdasarkan logika teknis, dan bahkan bagaimana rasa bersalahnya akan muncul jika ia membawa orang lain ke dalam bahaya.
"Beliau merancang labirin ini khusus untuk saya," kata Bimo, suaranya bergetar hebat saat ia menyadari kenyataan itu. "Jebakan di gua sebelumnya bukan bertujuan untuk menghalangi Sindikat, melainkan untuk menguji saya. Semua ini dirancang berdasarkan fobia saya terhadap ruang sempit dan kegelapan total. Beliau sudah sangat yakin bahwa saya akan datang ke tempat ini." Dara mengerutkan kening, tangannya menyentuh lengan Bimo dengan genggaman yang berusaha memberikan kekuatan. "Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa kakek Anda sudah merencanakan seluruh rangkaian kejadian ini sejak bertahun-tahun yang lalu?"
Bimo mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya namun ia mengeraskan rahang untuk menolaknya jatuh. Dengan gerakan cepat, ia membalik halaman berikutnya, dan apa yang ia temukan di sana membuat dunianya seolah runtuh menjadi kepingan tak berarti. Catatan itu berisi instruksi rinci tentang bagaimana memancing pasukan Sindikat ke sebuah wilayah yang disebut 'Dead Zone' geologis. Di tengah skenario yang dingin itu, Bimo dan seluruh timnya hanyalah umpan yang sengaja dikorbankan demi tujuan yang lebih besar. "Ini bukan peta menuju penemuan besar, Dara," ujar Bimo, suaranya kini terdengar hampa seperti gema di dalam sumur tua.
"Ini adalah sebuah skema manipulatif yang sangat kejam. Beliau ingin menggunakan keberadaan kita untuk menghancurkan Sindikat dalam sebuah misi bunuh diri massal. Beliau sama sekali tidak memedulikan apakah kita akan keluar dari tempat ini dalam keadaan bernapas atau tidak." Guncangan emosional itu membuat tangan Bimo bergetar begitu hebat hingga buku itu terlepas dari genggamannya. Buku itu jatuh ke dalam genangan air dingin di dasar gua dengan suara kecipak yang pelan dan memuakkan. Bimo menatap benda itu dengan kemarahan yang meluap-luap, merasa dikhianati oleh sosok yang selama ini ia puja sebagai kompas hidupnya.
Ia sempat terpikir untuk membiarkan buku itu tenggelam, membiarkan rahasia gelap kakeknya lenyap ditelan kegelapan air. Namun, rasa panik tiba-tiba menyerang sarafnya dengan kekuatan yang melumpuhkan. Jika buku itu hilang, mereka tidak akan pernah tahu apa langkah selanjutnya dalam rancangan gila ini. Bimo merosot ke bawah, merogoh air yang dinginnya menusuk tulang untuk mengambil kembali buku yang basah kuyup itu. Air asin dari keringatnya mengalir ke mata, menambah rasa perih yang sudah meradang di dalam dadanya.
"Saudara Bimo, mohon tenangkan diri Anda," Dara berbisik, mencoba menarik bahu Bimo agar kembali berdiri tegak. Bimo mengibaskan tangan Dara dengan kasar, wajahnya memerah karena perpaduan antara amarah dan keputusasaan yang murni. "Beliau menggunakan saya sebagai alat! Ayah saya meninggal karena mencari kebenaran yang beliau sembunyikan, dan sekarang beliau menginginkan kematian saya juga hanya untuk membalas dendam pada Togar Simanjuntak! Kita semua hanyalah pion yang digerakkan di atas papan permainan ini!"
Serangan panik mulai menguasai sistem saraf Bimo, membuat napasnya tersengal-sengal dan pendek. Ia merasa seperti seekor tikus yang terjebak di bawah bayangan elang, tanpa tempat untuk lari dan tanpa kekuatan untuk melawan takdir yang sudah tertulis. Ruang sempit ini terasa semakin menjepit, dan ia mulai berhalusinasi bahwa dinding-dinding batu ini adalah nisan yang sudah dipahat kakeknya untuk mereka berdua. Dara tidak membiarkan Bimo tenggelam lebih jauh ke dalam lubang hitam emosinya sendiri. Ia meraih kedua tangan Bimo, menggenggamnya dengan kekuatan yang mengejutkan bagi seorang wanita bertubuh ramping.
Sentuhan hangat tangan Dara terasa sangat kontras dengan dinginnya dinding batu yang menekan punggung mereka. Sang pilot memaksa Bimo untuk menatap langsung ke matanya, sebuah tatapan yang tajam, jernih, dan penuh dengan determinasi yang tak tergoyahkan. "Bimo, lihatlah saya sekarang," kata Dara dengan nada yang sangat tegas, menanggalkan semua formalitas yang biasanya ia jaga. "Anda bukan sekadar pion di tangan siapa pun. Anda adalah alasan mengapa kita masih bisa bernapas sampai detik ini. Kakek Anda mungkin telah menuliskan rencana ini, tetapi beliau tidak memiliki kendali atas kehendak bebas Anda saat ini."
Bimo menggelengkan kepala, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman realitas yang menyakitkan itu. "Anda tidak memahami situasinya. Semua langkah yang saya ambil sudah diprediksi dengan akurasi yang mengerikan. Setiap keputusan yang saya buat adalah bagian dari pola yang beliau ciptakan." Dara memotong kalimat itu dengan cepat dan tajam. "Maka ubahlah keputusan tersebut! Jika beliau berpikir Anda akan berlari menuju 'Dead Zone' itu, maka kita akan melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Kita tidak akan menjadi tumbal bagi agenda siapa pun. Kita adalah sebuah tim, dan kita memiliki pilihan untuk menentukan arah kita sendiri."
Bimo terdiam, mencoba mengatur ritme napasnya yang masih memburu tidak beraturan. Validasi dari Dara terasa seperti pelampung penyelamat yang dilemparkan tepat ke tengah badai yang sedang menghantamnya. Ia melihat ke arah buku yang kini basah kuyup di tangannya, menyadari bahwa pengkhianatan kakeknya terasa seperti kematian kedua bagi ayahnya. Namun, di tengah reruntuhan mental itu, ada sebuah percikan kecil perlawanan yang mulai menyala di dasar jiwanya. Suara 'ping' sonar yang tajam dan berulang-ulang tiba-tiba bergema di dinding gua, memutus keheningan yang tegang di antara mereka.
Bunyi itu terdengar lebih dekat dan lebih nyaring dari sebelumnya, menandakan bahwa peralatan pencari milik Sindikat sudah mulai memetakan koordinat persembunyian mereka. Setiap bunyi 'ping' itu terasa seperti jarum perak yang menusuk saraf Bimo, mengingatkannya bahwa waktu mereka hampir habis. "Mereka sudah berada sangat dekat dengan posisi kita," bisik Dara, tangannya kini sudah berpindah ke gagang pisau selam yang tersarung di paha. Bimo berdiri perlahan, mengusap wajahnya dengan kasar untuk menghapus sisa-sisa air mata dan keringat yang mengaburkan pandangannya.
Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara lembap yang kini terasa sedikit lebih segar karena munculnya tekad yang baru. Ia tidak akan membiarkan arsitektur rencana kakeknya mendikte bagaimana cerita hidupnya akan berakhir. "Saya mengetahui apa yang harus kita lakukan sekarang," kata Bimo, suaranya kembali ke nada tenang yang biasanya, namun kali ini ada ketajaman yang berbeda di sana. "Kakek saya merancang tempat ini untuk memicu ketakutan terdalam saya, tetapi beliau melupakan satu variabel penting. Saya adalah seorang oseanografer profesional. Saya memahami arus air di tempat ini jauh lebih baik daripada catatan tua mana pun."
Bimo membuka kembali halaman yang basah, mencari satu detail teknis yang mungkin diabaikan oleh kakeknya karena terlalu fokus pada manipulasi psikologis. Ada sebuah celah di dekat zona geologis itu yang menurut data anomali arus tidak seharusnya berada di sana secara alami. Jika ia bisa memanfaatkan tekanan air dari lubang termal di bawah mereka, mereka bisa menciptakan sebuah pengalihan yang tidak pernah tercatat dalam skenario mana pun. "Kita akan membalikkan keadaan ini," lanjut Bimo, matanya kini berkilat di bawah cahaya redup lampu LED. "Kita akan memancing mereka ke sebuah titik yang tidak pernah diprediksi oleh kakek saya maupun Togar Simanjuntak."
Dara tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang penuh dengan keberanian yang menular. "Itu adalah Saudara Bimo yang saya kenal. Jadi, bagaimanakah rincian rencana Anda?" Sebelum Bimo sempat memberikan penjelasan, sebuah suara statis yang pecah meledak dari interkom yang terpasang di dinding lorong, hanya beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi. Suara itu berderit nyaring, memantul di antara dinding-dinding batu yang lembap sebelum berubah menjadi sebuah suara bariton yang sangat dikenal oleh Bimo. Suara itu terdengar sangat tenang, berwibawa, dan mengandung nada kemenangan yang memuakkan bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Bimo Satrio. Anda tidak perlu membuang waktu untuk bersembunyi lagi," suara Togar Simanjuntak bergema melalui sistem komunikasi gua yang tampaknya sudah berhasil mereka retas sepenuhnya. "Saya mengetahui bahwa Anda sudah membaca bagian akhir dari catatan kakek Anda. Saya juga memahami betapa hancurnya perasaan Anda saat menyadari pengkhianatan ini." Bimo membeku di tempatnya, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Bagaimana mungkin Togar bisa mengetahui isi dari catatan yang sangat rahasia itu?
"Kakek Anda adalah orang yang sangat cerdas, Bimo," lanjut Togar, suaranya terdengar seolah ia sedang berbisik tepat di samping telinga Bimo. "Tetapi beliau bukan satu-satunya orang yang memahami cara menggunakan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan. Beliau telah menjual koordinat tempat ini kepada saya puluhan tahun yang lalu, jauh sebelum ayah Anda menemui ajalnya. Pengkhianatan ini memiliki akar yang jauh lebih dalam daripada yang pernah Anda bayangkan sebelumnya." Dara menatap Bimo dengan mata terbelalak, sementara Bimo merasa seolah-olah sebuah longsoran salju ketakutan menimpanya sekali lagi.
Jika apa yang dikatakan Togar adalah sebuah kebenaran, maka seluruh pencarian hidupnya selama ini hanyalah sebuah kebohongan besar yang dibangun di atas fondasi keserakahan keluarganya sendiri. "Keluarlah sekarang, Bimo," suara Togar kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih mendesak dan penuh otoritas. "Mari kita selesaikan skenario ini bersama-sama. Saya memiliki sesuatu yang sangat ingin saya tunjukkan kepada Anda. Sesuatu yang tidak sempat dituliskan oleh kakek Anda di dalam buku catatan yang Anda pegang itu."
Suara langkah kaki yang berat kini terdengar jelas di lorong luar, disertai dengan pancaran cahaya senter yang mulai merembes masuk ke dalam celah persembunyian mereka. Bimo menatap Dara, dan untuk pertama kalinya, ia melihat kilatan keraguan di mata sang pilot yang biasanya tak gentar. Namun, Bimo tidak lagi merasa seperti tikus yang terpojok di sudut ruangan. Ia merasakan kemarahan yang membara di dalam dadanya, sebuah api yang memberinya kekuatan untuk berdiri tegak di tengah badai pengkhianatan ini. Ia menutup buku catatan itu dengan suara keras, tidak lagi memedulikan isinya yang beracun.
"Dara, bersiaplah sekarang juga. Kita tidak akan mengikuti skenario milik siapa pun hari ini." Bimo melangkah keluar dari ceruk sempit itu, menantang cahaya senter yang menyilaukan matanya tanpa berkedip. Ia berdiri kokoh, kakinya berpijak pada dasar gua yang tidak rata seolah ia adalah bagian dari karang purba itu sendiri. Di hadapannya, tiga anggota pasukan Sindikat berdiri dengan senjata terarah, namun Bimo tidak memandang mereka. Matanya tertuju lurus pada kamera pengawas yang terpasang di sudut langit-langit, tempat ia yakin Togar sedang mengamati setiap gerakannya.
"Bang Togar!" Bimo berseru, suaranya bergema dengan kekuatan yang mengejutkan dirinya sendiri dan memantul di dinding gua. "Saya tidak peduli apa pun yang telah kakek saya jual kepada Anda. Laut ini bukan komoditas yang bisa dibeli, dan rahasianya tidak akan pernah menjadi milik Anda!" Tepat pada saat itu, sebuah getaran hebat mengguncang seluruh struktur gua. Suara gemuruh dari kedalaman bumi mulai terdengar, sebuah sunyi mencekam sebelum guntur yang menandakan bahwa alam mulai bereaksi terhadap gangguan manusia. Bimo mengetahui bahwa 'Dead Zone' itu mulai aktif, namun bukan karena instruksi kakeknya, melainkan karena tekanan air yang ia manipulasi melalui pemahamannya tentang arus bawah.
Cahaya senter para penjaga mulai bergetar tidak keruan di tangan mereka saat lantai gua berguncang dengan hebat. Bimo memanfaatkan momen kebingungan itu untuk menarik Dara ke arah jalur pelarian baru yang baru saja ia temukan di balik bayangan. Namun, sebuah suara lain muncul dari interkom, suara yang lebih muda, lebih putus asa, dan sangat familiar bagi rungu Bimo. "Mas Bimo. Tolong saya." Itu adalah suara Meiling, dan ia terdengar seolah sedang berada dalam cengkeraman bahaya maut yang nyata. Bimo berhenti mendadak, hatinya mencelos seperti jatuh ke jurang yang dalam.
Pengkhianatan ini ternyata memiliki lapisan yang jauh lebih mengerikan, dan ia baru saja menyadari bahwa umpan yang sebenarnya bukanlah dirinya sendiri. Umpan itu adalah seluruh anggota timnya yang kini tersebar di dalam labirin bawah laut yang mematikan ini. "Meiling?" Bimo berteriak ke arah interkom, namun hanya suara statis yang dingin yang menjawab panggilannya. Togar tertawa kecil di seberang sana, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat di atas batu nisan. "Skenario ini belum mencapai puncaknya, Bimo. Dan Anda baru saja tiba pada babak yang paling menarik dari semuanya."
Bimo menatap lorong gelap di depannya, menyadari bahwa ia harus membuat pilihan mustahil antara menyelamatkan dirinya bersama Dara atau masuk lebih dalam ke jebakan untuk menyelamatkan Meiling. Rasa asin dari keringatnya kini bercampur dengan rasa pahit di mulutnya, namun ia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ia menoleh ke arah Dara, yang sudah mengangguk mantap seolah sudah mengetahui apa yang akan ia katakan sebelum kata-kata itu terucap. "Kita akan menjemput mereka semua," kata Bimo dengan nada yang tidak menerima bantahan apa pun.
Mereka berlari menembus kegelapan yang pekat, meninggalkan pasukan Sindikat yang masih berusaha menyeimbangkan diri di tengah guncangan gua yang semakin parah. Setiap langkah yang diambil Bimo terasa seperti beban yang semakin berat menindih bahunya, namun ia terus bergerak maju. Ia didorong oleh keinginan murni untuk menghancurkan pola yang telah menghancurkan keluarganya selama ini. Ia tidak lagi mencari catatan atau bukti fisik; ia mencari cara untuk mengakhiri siklus pengkhianatan ini sekali dan untuk selamanya. Di kejauhan, cahaya biru aneh mulai memancar dari celah-celah batuan, menandakan kedekatan mereka dengan inti 'Dead Zone'.
Bau belerang semakin menyengat, dan suhu air di sekitar mereka mulai meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Bimo mengetahui bahwa mereka sedang menuju ke arah bahaya yang tak terbayangkan, namun rasa takutnya telah menguap. Ia telah menemukan sesuatu yang lebih kuat daripada ketakutan: sebuah tujuan yang murni di tengah dunia yang penuh dengan manipulasi kotor. "Saudara Bimo, lihatlah ke arah sana!" Dara menunjuk ke arah sebuah ruangan besar yang terbuka di depan mereka. Di tengah ruangan itu, Meiling tampak terikat pada sebuah struktur logam yang dingin, dikelilingi oleh peralatan sonar yang memancarkan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.
Di atas tubuh Meiling, sebuah layar besar menampilkan profil psikologis Bimo yang sedang diperbarui secara real-time oleh algoritma yang rumit. Togar tidak hanya ingin menggunakan Bimo sebagai umpan fisik; ia ingin menggunakan Bimo sebagai kunci biologis untuk membuka gerbang energi yang hanya bisa diakses melalui respons saraf tertentu. Bimo berhenti di ambang pintu ruangan itu, napasnya memburu dengan cepat. Ia melihat Meiling yang pucat pasi, dan ia melihat bayangan wajah Togar yang muncul di layar besar tersebut. Ini adalah panggung teater penderitaan yang dirancang oleh kakeknya dan disempurnakan oleh musuh besarnya.
"Selamat datang di babak terakhir yang sesungguhnya, Bimo Satrio," kata Togar, senyumnya kini terlihat sangat jelas di layar raksasa itu. "Mari kita saksikan bersama, apakah Anda sanggup mengubah akhir dari cerita yang sudah tertulis ini." Bimo melangkah maju dengan tangan mengepal erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia mengetahui bahwa setiap gerakannya sedang dipantau, setiap emosinya sedang diukur dengan presisi mesin. Namun, ia juga mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Togar maupun kakeknya sendiri.
Ia mengetahui bahwa di dasar laut yang paling dalam sekalipun, selalu ada arus bawah yang bisa mengubah arah segalanya secara tiba-tiba. Dan ia baru saja menemukan arus perlawanan itu di dalam dirinya sendiri. Gua itu kembali bergetar, kali ini dengan kekuatan yang lebih dahsyat hingga bongkahan batu mulai berjatuhan dari langit-langit. Bimo menatap Meiling, lalu menatap layar tempat Togar berada dengan pandangan yang tajam. Ia mengambil sebuah langkah yang tidak pernah tercatat dalam profil psikologis mana pun, sebuah tindakan yang murni berdasarkan insting kasih sayang, bukan logika atau ketakutan.
"Saya tidak akan membiarkan Anda mengambil apa pun lagi dari kehidupan kami," bisik Bimo, suaranya tenggelam dalam gemuruh gua yang semakin menjadi-jadi. Saat ia bersiap untuk menerjang maju ke depan, sebuah suara yang sangat ia kenal—suara yang seharusnya sudah lama hilang dari dunia ini—memanggil namanya dari kegelapan di belakang Meiling. Suara itu bukan berasal dari interkom, melainkan suara fisik yang nyata, serak, dan penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Bimo. Maafkan kakek, Le." Bimo terpaku di tempatnya berdiri, jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sesaat.
Di balik bayang-bayang peralatan sonar yang berdengung, sesosok pria tua muncul dengan pakaian yang compang-camping dan wajah yang dipenuhi luka lama yang belum sembuh. Itu adalah kakeknya, Aki Jajang, yang selama ini ia kira telah meninggal dunia atau setidaknya berada di tempat yang aman dari jangkauan Sindikat. Pengkhianatan ini ternyata memiliki wajah manusia, dan wajah itu adalah wajah yang paling ia cintai di seluruh dunia ini. Bimo merasakan dunianya benar-benar hancur berkeping-keping, meninggalkan ia berdiri sendirian di tengah reruntuhan warisan keluarganya yang busuk.
Suara sonar terus berbunyi 'ping' dengan ritme yang semakin cepat, seperti detak jam yang menghitung mundur menuju kehancuran total. "Kek?" Bimo berbisik, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh bumi. Aki Jajang menatapnya dengan mata yang penuh dengan kesedihan yang tak terkatakan, namun di tangannya, ia memegang sebuah detonator yang terhubung langsung ke inti energi. Skenario ini ternyata belum berakhir, dan Bimo baru saja menyadari bahwa ia adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikan ledakan yang akan menghancurkan seluruh ekosistem Palung Banda ini.
"Pilihlah sekarang, Bimo," suara Togar kembali terdengar, kali ini dengan nada yang penuh dengan antisipasi yang kejam. "Selamatkan kakek Anda yang terkasih, atau selamatkan laut yang Anda puja. Cerita ini selalu berakhir dengan sebuah pengorbanan yang besar." Bimo menatap detonator di tangan kakeknya, lalu menatap Meiling yang menangis tanpa suara, dan akhirnya menatap Dara yang berdiri di sampingnya dengan tangan yang siap bertindak. Di tengah horor psikologis ini, Bimo menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar oseanografer yang mencari kebenaran ilmiah.
Ia adalah penentu masa depan, dan setiap detik yang berlalu membawanya semakin dekat pada keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Gua itu berguncang sekali lagi dengan hebatnya, dan kali ini, sebuah retakan besar mulai terbuka di lantai tepat di antara Bimo dan kakeknya. Celah itu memisahkan mereka dengan jurang kegelapan yang tampak tak berdasar. Cahaya biru dari bawah jurang itu memancar semakin terang, menyinari wajah Bimo yang kini dipenuhi dengan determinasi yang dingin dan mematikan. Ia mengetahui apa yang harus ia lakukan, meskipun itu berarti ia harus menghancurkan skenario itu dengan tangannya sendiri. "Dara, lakukan sekarang juga!" teriak Bimo, dan ia pun melompat melintasi jurang maut itu, menantang kematian demi sebuah kebenaran yang tidak pernah tertulis di buku mana pun.