Dengung rendah sonar musuh terasa seperti denyut nadi yang menghantam pelipis Bimo Satrio. Kemudian getaran itu merambat melalui air, menyusup ke dalam tulang selangkanya, dan menciptakan resonansi yang menyakitkan di balik baju selamnya. Di depannya, kegelapan Palung Banda bukan lagi sekadar ruang hampa tanpa cahaya. Selanjutnya kegelapan itu kini terasa padat, seolah-olah air laut telah berubah menjadi semen cair yang siap membeku dan mengubur mereka hidup-hidup. Bimo menoleh ke belakang, melihat pendar biru pucat dari plankton yang terganggu oleh gerakan sirip selam timnya." Pertama matikan lampu. Sekarang," perintah Bimo melalui radio bawah air. Pada akhirnya suaranya terdengar mekanis, terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik yang semakin kuat di kedalaman ini. Dia melihat satu per satu cahaya senter di belakangnya padam. Dara Puspita, yang berada paling dekat dengannya, memberikan isyarat tangan yang tegas meski wajahnya tersembunyi di balik masker. Silas Papare memposisikan tubuhnya di barisan paling belakang, menjadi tameng hidup bagi Meiling dan Siti Nurhaliza. Dengan tenang mereka semua kini bergantung pada penglihatan periferal dan insting murni untuk menembus labirin karang yang menjulang di depan. Arus air di sini tidak menentu, berputar-putar seperti pusaran badai yang terperangkap dalam botol kaca. Tiba-tiba bimo merasakan tarikan kuat pada kaki kirinya, sebuah tanda bahwa ada celah besar di dinding tebing yang mengisap air masuk. Dia menggunakan keahliannya membaca pola arus, mengikuti aliran dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di bawah tangannya meraba dinding batu yang licin oleh lumut laut dalam. Teksturnya kasar, tajam di beberapa bagian, sanggup merobek lapisan polimer baju selam mereka jika tidak waspada." Lagi ikuti gerakanku secara manual," bisik Bimo lagi. Dia tidak berani menggunakan pendorong jet pada baju selamnya. Dengan cepat suara mesin akan menjadi lonceng kematian yang mengundang para penyelam sindikat langsung ke posisi mereka. Di kejauhan, sapuan cahaya senter musuh mulai terlihat, memotong kegelapan seperti pedang cahaya yang haus darah. Sekarang ini cahaya itu menyapu dinding gua, hanya terpaut beberapa meter dari tempat Silas bersembunyi di balik tonjolan karang. Bimo menahan napas tanpa disadari, membiarkan paru-parunya terasa panas karena kekurangan oksigen segar. Dengan hati-hati satu skuter bawah air milik musuh meluncur lewat di atas mereka. Getaran mesinnya membuat dada Bimo bergetar hebat, sebuah sensasi yang membangkitkan memori lama tentang kecelakaan ayahnya. Segera dia memejamkan mata sejenak, memaksa jantungnya untuk melambat. Jika dia panik, timnya akan hancur. Kali ini dia harus menjadi sungai yang mengukir jalan menembus batu, tenang namun tak terhentikan." Bimo, oksigenku tinggal lima belas persen," suara Meiling terdengar gemetar di earphone." Sejauh ini loh, kok cepat banget habisnya? Tadi kan masih banyak!" "Tenang, Mei. Tepat saat itu atur napasmu," sahut Bimo lembut." Jangan bicara kalau tidak perlu." Di sini bimo melihat ke arah langit-langit gua yang rendah. Di sana, di antara celah-celah stalaktit yang menggantung seperti taring monster purba, dia melihat sesuatu yang tidak biasa. Di sana ada gelembung udara yang terjebak di permukaan batu, berkilauan seperti perak cair di bawah sisa-sisa cahaya plankton. Itu adalah tanda adanya kantong udara atau setidaknya celah yang menuju ke permukaan yang lebih tinggi. Meskipun demikian, namun, celah itu sangat sempit, mungkin hanya cukup untuk tubuh manusia tanpa peralatan lengkap." Kita harus masuk ke sana," Bimo menunjuk ke arah celah sempit itu. Di luar dara mendekat, matanya membelalak di balik kaca masker." Kau gila, Bimo? Di dalam itu sempit sekali! Tabung kita tidak akan muat lewat sana." "Kita lepas tabungnya," jawab Bimo tegas." Namun, satu per satu. Aku akan masuk duluan." Keputusan itu terasa seperti melompat ke dalam kawah gunung berapi yang sedang bergejolak. Tanpa tangki oksigen yang terpasang di punggung, mereka akan kehilangan stabilitas dan cadangan napas utama. Secara bertahap namun, tetap berada di jalur utama berarti menyerahkan diri pada moncong senjata penyelam sindikat. Bimo mulai melepaskan pengait tangki oksigennya dengan tangan yang sedikit gemetar. Seketika dia memegang tangki itu di depannya, mendorongnya masuk ke dalam celah sempit yang gelap. Dinding gua yang tajam menggores baju selamnya, menciptakan suara gesekan logam pada batu yang terdengar memekakkan telinga di bawah air. Bimo merasakan klaustrofobia mulai merayap di tenggorokannya, mencekik kesadarannya. Tapi ruang di sekelilingnya begitu sempit hingga dia tidak bisa memutar kepala. Dia hanya bisa merayap maju, menggunakan ujung jari kakinya untuk mendorong tubuhnya melewati lorong batu yang dingin." Sementara itu, ayo, sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri. Tiba-tiba, sensor pada pergelangan tangannya berkedip merah. Selain itu, tekanan air yang fluktuatif mulai merusak modul komunikasi. Suara statis memenuhi telinganya, memutus hubungannya dengan tim di bawah. Sekali lagi kepanikan sesaat menyambar pikirannya seperti petir di tengah malam. Dia sendirian di dalam perut bumi, terjepit di antara ribuan ton batu dan air. Lalu tetap saja dia membayangkan tepi pandangannya menggelap, seperti tikus yang mencium bau ular di lubang yang buntu. Namun, Bimo menolak untuk menyerah. Akhirnya dia teringat janji pada dirinya sendiri: tidak akan pernah meninggalkan anggota tim, apa pun risikonya. Dengan satu sentakan kuat, dia berhasil melewati bagian tersempit dari celah itu. Kepalanya menyembul keluar dari air, disambut oleh kegelapan yang berbeda. Udara di sini terasa apek dan manis, sebuah kontras yang luar biasa setelah berjam-jam menghirup oksigen botolan yang kering. Bimo segera berbalik, mengulurkan tangannya kembali ke dalam air yang gelap. Dia merasakan tangan lain menyambutnya. Itu tangan Dara. Dengan susah payah, dia menarik pilot itu keluar dari celah sempit. Setelah itu dara terbatuk-batuk, menghirup udara gua dengan rakus. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan ketangguhan yang tidak tergoyahkan." Perlahan sempit. Sekali. Sialan," gerutu Dara dengan aksen Minangnya yang muncul saat dia tertekan." Kalau aku sampai terjepit di sana, akan kupastikan kau yang pertama kupukul saat kita keluar." Bimo tidak menjawab, dia hanya memberikan senyum tipis yang tak terlihat di kegelapan. Satu per satu, anggota tim lainnya muncul. Silas membantu Siti yang tampak lemas, sementara Meiling merangkak keluar dengan wajah yang masih menunjukkan sisa-sisa ketakutan hebat. Mereka kini berada di sebuah langkan batu yang kering, di dalam kubah gua raksasa yang tidak terdeteksi oleh sonar musuh. Hawa dingin yang menusuk tulang segera menyergap mereka saat baju selam yang basah terkena udara gua yang lembap. Bimo membantu Siti duduk, menyandarkannya pada dinding gua yang terasa dingin namun stabil. Keheningan mutlak di dalam gua ini hanya dipecah oleh suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit, menciptakan irama monoton yang menghantui." Kita aman di sini untuk sementara," kata Bimo, suaranya kini terdengar parau tanpa bantuan radio." Musuh tidak akan bisa mendeteksi kita melalui lapisan batu setebal ini." "Tapi oksigen kita habis, Bimo," Mei berbisik, suaranya bergetar karena kedinginan." Loh, terus kita pulangnya gimana? Kita terjebak di sini?" "Kita tidak terjebak, Mei," Silas menimpali dengan suara baritonnya yang menenangkan." Kita hanya sedang beristirahat. Kaka Bimo tahu apa yang dia lakukan." Bimo merogoh kantong darurat di pinggangnya. Dia mengeluarkan sebuah termos kecil yang telah dia persiapkan sebelum mereka meninggalkan kapal. Itu adalah kopi jahe buatan Mbak Lastri, yang entah bagaimana masih terasa hangat meskipun mereka telah melalui pertempuran bawah air yang melelahkan. Bau jahe yang pedas dan uap hangatnya segera memenuhi ruang sempit di antara mereka, memberikan rasa nyaman yang aneh di tengah situasi hidup dan mati." Minumlah," Bimo menyodorkan termos itu kepada Siti terlebih dahulu." Ini akan membantu menghangatkan tubuhmu." Siti meminumnya perlahan, matanya terpejam saat rasa pedas jahe membakar dingin di tenggorokannya. Dia kemudian memberikannya kepada Meiling, lalu Dara, dan terakhir Silas. Saat termos itu kembali ke tangan Bimo, isinya tinggal sedikit. Dia meminum sisa kopi itu, merasakan kehangatan yang menjalar ke dadanya, mencoba mengusir rasa bersalah yang mulai menggerogoti pikirannya." Maafkan aku," kata Bimo tiba-tiba, memecah keheningan." Aku yang membawa kalian ke dalam situasi berbahaya ini. Seharusnya aku tidak seobsesif ini mencari catatan itu." Dara mendengus, menyandarkan kepalanya ke dinding batu." Jangan mulai lagi, Satrio. Kita semua di sini karena kita percaya pada misi ini. Bukan cuma karena kau." "Tapi nyawa kalian taruhannya," balas Bimo, matanya menatap kegelapan di ujung gua." Ayahku hilang karena hal seperti ini. Aku tidak ingin sejarah berulang." "Kaka, dengar," Silas meletakkan tangannya yang besar di bahu Bimo." Laut tidak pernah mengambil tanpa memberi. Kita sudah sampai sejauh ini karena keberanian, bukan karena nasib buruk. Jangan biarkan ketakutanmu menjadi badai yang menenggelamkan kita semua." Bimo terdiam, meresapi kata-kata Silas. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai di dalam pikirannya. Meski begitu dia harus percaya pada instingnya, seperti yang selalu dikatakan Aki Jajang. Dia harus belajar memaafkan dirinya sendiri. Di tengah kegelapan itu, dia merasa seolah-olah beban berat yang selama ini dia pikul mulai sedikit terangkat. Cahaya senter Bimo yang mulai meredup karena baterai lemah menyapu dinding gua di hadapan mereka. Dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Di atas permukaan batu yang kasar, terdapat ukiran kuno yang hampir tertutup oleh endapan mineral selama puluhan tahun. Dia mendekat, jemarinya meraba tekstur ukiran itu dengan hati-hati." Ini." Bimo bergumam, suaranya penuh dengan kekaguman." Apa itu, Bimo?" Siti ikut mendekat, rasa ingin tahu biologisnya bangkit kembali." Simbol keluarga Satrio," jawab Bimo pelan." Ini bukan sekadar gua alami. Sekarang ini adalah salah satu titik penanda yang pernah disebutkan kakekku dalam catatannya. Kita tidak sengaja menemukan tempat yang mereka cari selama ini." Ukiran itu berbentuk lingkaran dengan garis-garis yang menyerupai arus air, persis seperti logo yang ada di buku catatan tua milik ayahnya. Tekstur kasar ukiran itu terasa familiar di bawah ujung jarinya, seolah-olah ada koneksi batin yang melintasi waktu. Di sini, di tempat paling tersembunyi di bawah laut Indonesia, jejak keluarganya ternyata tertanam kuat." Jadi, kakekmu pernah ke sini?" Dara bertanya, suaranya kini penuh rasa hormat." Bagaimana mungkin dia bisa sampai ke sini tanpa peralatan canggih?" "Tradisi, Dara," sahut Bimo." Aki Jajang pernah bilang bahwa orang-orang dulu punya cara sendiri untuk berkomunikasi dengan laut. Mereka tidak butuh sonar atau kapal selam canggih. Di dekatnya mereka punya rasa hormat." Meiling mencoba mengaktifkan kembali perangkat komunikasinya, namun hanya suara statis yang terdengar." Loh, kok masih nggak bisa ya? Padahal aku sudah coba reset modulnya berkali-kali." "Simpan energimu, Mei," saran Bimo." Kita butuh baterai itu untuk nanti saat kita mencoba keluar." Mereka duduk terdiam dalam kegelapan, berbagi kehangatan tubuh di tengah udara gua yang dingin. Rasa persaudaraan di antara mereka terasa menguat, ditempa oleh bahaya yang baru saja mereka lalui. Bimo merasa bahwa meskipun mereka sedang dikejar oleh sindikat yang kejam, di tempat ini, mereka menemukan kedamaian yang aneh. Seolah-olah gua ini melindungi mereka dari kejahatan dunia luar. Siti mulai menjelaskan tentang ekosistem unik yang mungkin ada di dalam gua ini, berbicara tentang spesies udang buta atau bakteri yang hidup dari mineral batu. Suaranya yang lembut menjadi musik latar yang menenangkan di tengah kesunyian. Bimo mendengarkan sambil terus memperhatikan simbol di dinding, mencoba memecahkan teka-teki yang tersembunyi di baliknya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat Bimo mencoba memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, sebuah suara memecah keheningan mutlak gua tersebut. *Tap. Tap-tap. Tap. *
Bimo tersentak bangun. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ada mesin yang menderu di dalam dadanya. Suara itu bukan tetesan air. Itu adalah suara ketukan berirama yang berasal dari balik dinding gua yang paling dalam. Suara itu terdengar disengaja, memiliki pola yang sangat spesifik. *Tap. Tap-tap. Tap. *
"Kalian dengar itu?" bisik Bimo, suaranya gemetar. Dara dan Silas segera bersiaga, tangan mereka meraba peralatan yang tersisa." Suara apa itu, Pace?" tanya Silas dengan nada waspada. Bimo tidak menjawab. Dia mengenal pola itu. Itu adalah kode ketukan rahasia yang hanya diketahui oleh anggota keluarga Satrio—sebuah cara berkomunikasi sederhana yang diajarkan ayahnya saat mereka sedang memancing di sungai dulu. Kode itu berarti: *Aku di sini. Apakah kau di sana? *
"Tidak mungkin," gumam Bimo, wajahnya memucat. Dia mendekati dinding gua tempat suara itu berasal. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia membalas ketukan itu menggunakan batu kecil. *Tap. Tap-tap. Tap. *
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Semua orang menahan napas, mata mereka tertuju pada dinding batu yang bisu. Kemudian, dari balik kegelapan yang lebih dalam, suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan lebih mendesak. *Tap-tap. Tap-tap-tap. Tap. *
Itu adalah balasan. Sebuah jawaban yang seharusnya tidak mungkin ada di kedalaman ratusan meter di bawah laut, di dalam gua yang telah terisolasi selama puluhan tahun. Bimo merasakan tanah seolah bergeser di bawah kakinya. Siapa pun atau apa pun yang ada di balik dinding itu, mereka tahu siapa dia." Bimo, ada apa?" Dara mendekat, tangannya memegang bahu Bimo yang kaku." Kau terlihat seperti melihat hantu." "Itu kode keluargaku, Dara," bisik Bimo, matanya berkaca-kaca." Seseorang di balik sana sedang memanggilku." Meiling memeluk dirinya sendiri, gemetar ketakutan." Loh, kok bisa? Bukannya nggak ada orang lain di sini selain kita dan sindikat?" Bimo tidak mendengarkan. Dia mulai meraba-raba dinding batu, mencari celah atau pintu tersembunyi. Obsesinya kini kembali membara, namun kali ini bukan didorong oleh data ilmiah, melainkan oleh harapan yang mustahil. Jika ada seseorang di sana, apakah itu berarti ayahnya masih hidup? Atau apakah ini jebakan lain yang dipasang oleh laut untuk menguji kewarasannya? Di kejauhan, suara mesin skuter musuh kembali terdengar, kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Penyelam sindikat tampaknya telah menemukan celah masuk ke labirin ini. Mereka terjepit di antara ancaman nyata dari belakang dan misteri yang membingungkan di depan." Kita harus bergerak," kata Silas tegas." Musuh sudah dekat." Bimo menatap dinding batu itu sekali lagi. Dia tahu bahwa keputusan yang dia ambil selanjutnya akan mengubah hidupnya selamanya. Jadi dia harus memilih antara melarikan diri demi keselamatan tim, atau masuk lebih dalam ke dalam misteri yang mungkin akan menghancurkannya." Ada celah di sini!" teriak Siti pelan, menunjuk ke arah sudut gua yang tertutup oleh bayangan stalagmit besar. Bimo segera berlari ke arah Siti. Di sana, terdapat sebuah lorong kecil yang menurun, menuju ke arah suara ketukan itu berasal. Cahaya senternya yang redup menunjukkan jalan yang curam dan licin. Tanpa ragu, Bimo melangkah masuk, diikuti oleh anggota tim lainnya yang tidak punya pilihan selain mengikuti pemimpin mereka. Saat mereka mulai menuruni lorong itu, suara ketukan kembali terdengar, kali ini diikuti oleh suara bisikan yang samar, seperti angin yang berhembus di antara celah batu. Bimo mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa sakit di kakinya dan oksigennya yang semakin menipis. Dia harus tahu. Di atas dia harus menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang telah menghantuinya selama belasan tahun. Tiba-tiba, lorong itu berakhir di sebuah ruangan besar yang dipenuhi oleh kristal-kristal bercahaya alami. Cahaya biru dan hijau berpendar dari dinding, menciptakan suasana yang magis sekaligus mengerikan. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah meja batu besar, dan di atasnya terletak sebuah benda yang sangat dikenal oleh Bimo. Itu adalah tas penyelaman milik ayahnya, tampak masih utuh meskipun telah dimakan usia." Ayah?" panggil Bimo dengan suara yang nyaris tak terdengar. Namun, tidak ada jawaban. Hanya suara tetesan air dan dengung sonar musuh yang semakin mendekat dari arah mereka datang. Bimo melangkah maju, tangannya terjulur untuk menyentuh tas itu. Tepat saat jarinya hampir menyentuh permukaan kain yang kasar, sebuah bayangan besar muncul dari balik kristal raksasa di ujung ruangan. Sesosok figur manusia berdiri di sana, mengenakan baju selam kuno yang sudah usang dan penuh tambalan. Wajahnya tersembunyi di balik kegelapan, namun matanya yang bersinar tertimpa cahaya kristal menatap langsung ke arah Bimo. Figur itu mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar mereka diam." Siapa kau?" tanya Dara dengan nada menantang, tangannya sudah siap dengan pisau selam. Figur itu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengetukkan jarinya ke dinding kristal di sampingnya, menciptakan irama yang sama yang telah menuntun Bimo ke tempat ini. *Tap. Tap-tap. Tap. *
Bimo membeku. Rahangnya ngilu karena terus mengatup rapat. Dia merasakan gelombang emosi yang begitu kuat hingga membuatnya sesak napas. Di hadapannya, di kedalaman yang mustahil ini, misteri Catatan Dasar Laut bukan lagi sekadar legenda atau teori ilmiah. Misteri itu hidup, bernapas, dan menunggunya di dalam kegelapan yang sunyi." Bimo, lihat!" teriak Meiling sambil menunjuk ke arah pintu masuk lorong yang baru saja mereka lalui. Cahaya senter yang sangat terang mulai muncul dari lorong itu. Penyelam sindikat telah menemukan mereka. Suara tembakan senjata bawah air mulai terdengar, memecah kristal-kristal di dinding dan menciptakan ledakan cahaya yang menyilaukan. Mereka terjebak. Figur misterius itu tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menarik sebuah tuas tersembunyi di balik meja batu. Sebuah pintu rahasia terbuka di lantai gua, menyingkapkan jalan keluar yang menuju ke arus bawah tanah yang deras." Masuk!" perintah figur itu dengan suara serak yang terdengar seperti gesekan batu. Bimo menatap figur itu sekali lagi, mencoba mengenali wajah di balik masker kuno itu. Namun, Silas sudah mendorongnya masuk ke dalam lubang, diikuti oleh Dara, Siti, dan Meiling. Saat Bimo terjatuh ke dalam air yang dingin dan deras, dia sempat melihat figur itu berdiri tegak menghadapi para penyelam sindikat yang mulai memasuki ruangan. Siapakah orang itu? Dan mengapa dia memiliki kode rahasia keluarga Satrio? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Bimo saat arus bawah tanah membawanya pergi jauh ke dalam kegelapan yang lebih dalam, meninggalkan masa lalunya dan menuju masa depan yang penuh dengan ketidakpastian yang mematikan. Arus itu membawanya dengan kecepatan tinggi, seolah-olah laut itu sendiri sedang mencoba memuntahkannya keluar dari perut bumi. Bimo mencoba meraih tangan Dara yang berada di dekatnya, namun kekuatan air terlalu besar. Mereka terpisah dalam kegelapan yang total, hanya suara gemuruh air yang mengisi indra pendengarannya. Tiba-tiba, cahaya terang muncul di ujung terowongan air itu. Bimo menutup matanya saat tubuhnya terlempar keluar dari arus dan mendarat di permukaan air yang tenang. Saat dia membuka mata, dia menyadari bahwa dia berada di sebuah laguna tersembunyi di dalam pulau karang yang tidak berpenghuni. Dia terengah-engah, menghirup udara segar yang terasa seperti anugerah Tuhan. Satu per satu, teman-temannya muncul di permukaan air, semuanya tampak kelelahan namun selamat. Mereka berhasil lolos dari maut, namun Bimo tahu bahwa ini barulah awal dari pertempuran yang sebenarnya. Dia meraba sakunya dan menyadari bahwa dia sempat menyambar sesuatu dari meja batu tadi. Sebuah buku kecil bersampul kulit yang sudah sangat tua. Dengan tangan gemetar, dia membukanya. Di halaman pertama, tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang sangat dia kenal:
*Untuk Bimo, jika kau menemukan ini, berarti kau sudah siap menghadapi kebenaran yang sesungguhnya tentang laut kita. *
Bimo menutup buku itu, jantungnya berdegup kencang. Dia menatap ke arah laut lepas yang membentang di hadapannya. Di bawah sana, di kedalaman yang sunyi, rahasia besar sedang menunggunya. Dan dia tidak akan berhenti sampai dia menemukan setiap kepingan kebenaran itu, apa pun harganya." Kita harus kembali," kata Dara, suaranya terdengar lelah namun penuh tekad." Nggih, Dara," jawab Bimo pelan." Tapi kali ini, kita tidak akan lari lagi." Dia berdiri di pinggir laguna, menatap matahari yang mulai terbit di ufuk timur. Cahaya merahnya memantul di permukaan air, seolah-olah laut sedang terbakar oleh amarah dan harapan yang sama besarnya. Bimo Satrio kini bukan lagi sekadar oseanografer yang kaku. Dia adalah penjaga rahasia, pewaris catatan yang akan mengubah dunia selamanya. Namun, di balik kegembiraan karena selamat, sebuah pertanyaan besar tetap menggantung di benaknya. Siapakah orang di dalam gua tadi? Dan apakah benar ayahnya masih ada di luar sana, bersembunyi di dalam labirin sunyi yang tidak pernah terpetakan oleh manusia? Bimo mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia akan kembali ke sana. Dan dia akan menemukan figur itu. Sebaliknya, dan dia akan menuntut jawaban yang telah dicurinya selama dua puluh tahun ini. Perjalanan ini masih jauh dari selesai, dan badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Tiba-tiba, dari balik semak-semak di pinggir laguna, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Semua orang segera bersiaga, namun yang muncul bukanlah penyelam sindikat. Itu adalah seekor burung camar yang terbang rendah, membawa sesuatu di paruhnya. Burung itu menjatuhkan sebuah benda tepat di depan kaki Bimo. Sebuah kompas kuno, dengan jarum yang menunjuk ke arah yang tidak masuk akal. Jarum itu terus berputar-putar, seolah-olah sedang mencari sesuatu yang tidak ada di dunia ini. Bimo memungut kompas itu, dan saat dia menyentuhnya, sebuah getaran aneh merambat ke seluruh tubuhnya." Petualangan ini baru saja dimulai," bisik Bimo pada dirinya sendiri, matanya menatap tajam ke arah laut yang misterius.