1 / 36
Чтение
Debu Namasua yang gersang mengepul di bawah injakan sandal Bimo Satrio, menyusup ke sela-sela jari kakinya yang pecah-pecah. Matahari Maluku menggantung rendah di cakrawala, memuntahkan panas yang membuat udara pagi terasa lengket dan menyesakkan. Ia harus bergegas sebelum kerumunan di dermaga semakin memadat dan menutup celah baginya untuk bertindak. Kabar tentang "kemajuan" yang dibawa Pak Darman dari Ambon telah merayap dari mulut ke mulut sejak fajar menyingsing, membakar rasa penasaran warga. Bagi penduduk desa, mesin itu adalah sebuah mukjizat yang turun dari langit, namun bagi Bimo, benda logam itu adalah retakan pertama pada bendungan perlindungan yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Di sepanjang jalan setapak, pepohonan cengkih berdiri kaku dengan dahan-dahan rimbun yang menyerupai barisan penjaga yang mulai membungkuk dimakan usia. Aroma pedas dan manis yang tajam menusuk hidung, bertarung sengit dengan bau amis ikan yang menguap dari para-para bambu di halaman rumah warga. Bimo nyaris menabrak pagar rumah panggung Aki Jajang karena langkahnya yang terlampau lebar. Sang tetua desa sedang duduk bersila di teras, jemari kurusnya yang gemetar masih lincah menganyam jaring ikan yang tampak seperti jaring laba-laba raksasa di bawah cahaya pagi. Mata keruh Aki Jajang terangkat, memaku langkah Bimo dengan tatapan yang seolah mampu menelanjangi setiap niat yang tersimpan di balik keningnya yang bersimbah peluh.
"Permisi, Aki," sapa Bimo tanpa sedikit pun mengurangi kecepatannya.
Aki Jajang hanya memberikan anggukan yang sangat lambat, seolah lehernya digerakkan oleh ritme pasang surut air laut yang malas. Bimo terus memacu langkahnya, merasakan jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk. Ia harus tiba di dermaga kayu itu sebelum mesin tempel tersebut menderu dan memecahkan keheningan yang ia jaga. Namasua adalah sebuah oasis yang sengaja ia isolasi agar tetap utuh dari jamahan dunia luar yang serakah. Setiap inci teknologi baru yang masuk adalah ancaman nyata bagi kerahasiaan yang tersimpan di kedalaman laut mereka.
Dermaga kayu yang sudah lapuk itu mengerang pelan di bawah beban kerumunan warga yang bersorak-sorai. Di ujung struktur yang menjorok ke laut itu, Pak Darman berdiri dengan dada membusung, tangannya bertumpu pada sebuah benda logam yang berkilau asing. Sebuah mesin tempel Yamaha lima belas tenaga kuda memantulkan cahaya matahari seperti permata yang salah tempat di tengah lingkungan organik ini. Bau solar yang tajam mulai merusak aroma garam laut saat Bimo akhirnya menyelinap ke barisan paling depan.
"Wah, Pak Darman, ini adalah barang yang sangat mewah," ujar Bimo sambil mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.
Pak Darman menoleh dengan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi kuning akibat noda kopi dan tembakau. "Akhirnya Anda datang juga, Bimo! Silakan Anda perhatikan mesin ini dengan saksama. Dengan bantuan teknologi ini, saya tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk mendayung hingga tangan lecet setiap kali hendak menuju pasar di kota. Ini adalah fajar baru bagi masa depan Namasua!"
Bimo mendekat dengan langkah yang sengaja dibuat lamban, berpura-pura mengagumi cat biru metalik pada badan mesin tersebut. Logam itu terasa dingin dan tak bernyawa di bawah telapak tangannya, sangat kontras dengan panas matahari yang mulai membakar pundaknya. Ia bisa merasakan getaran kegembiraan dari warga di sekitarnya, sebuah energi kolektif yang justru membuatnya merasa terasing. Mereka melihat mesin ini sebagai kunci menuju kemudahan, sementara dalam benak Bimo, benda ini adalah suar yang akan menarik perhatian hiu-hiu seperti Togar Simanjuntak ke pesisir mereka.
"Mesin ini memang sangat mengesankan, Pak," ujar Bimo dengan nada yang disisipi keraguan yang terukur. "Namun, apakah Bapak yakin mesin secanggih ini sanggup menghadapi karakter arus di tanjung kita? Arus di sana sangat liar dan tidak terduga. Mesin buatan kota sering kali tidak memahami bahasa laut kita yang keras dan penuh rahasia."
Pak Darman tertawa terbahak-bahak, sebuah suara bariton yang serak dan penuh percaya diri. "Bimo, Anda mungkin terlalu banyak membaca buku namun kurang memahami perkembangan teknologi modern. Ini adalah Yamaha, bukan sekadar mainan anak-anak yang mudah rusak. Mari, bantu saya memasang mesin ini pada bagian buritan perahu agar kita bisa segera mencobanya."
Bimo mengangguk patuh, mengenakan topeng peran yang sudah ia latih selama bertahun-tahun demi kelangsungan hidup desa ini. Ia berjongkok di samping mesin, jemarinya yang terampil mulai meraba bagian teknis yang tidak dipahami oleh mata awam penduduk desa. Di dalam saku celananya, Bimo meraba segenggam serat kelapa halus yang telah ia siapkan dengan teliti semalam. Sambil berpura-pura mengencangkan baut pengikat pada buritan, jemarinya bergerak dengan presisi seorang oseanografer yang mengetahui setiap titik lemah sebuah sistem mekanis.
Taufik, seorang pemuda desa yang selalu ingin tahu, menyipitkan mata ke arah gerakan tangan Bimo yang tertutup bayangan badan perahu. "Bimo, apa yang sedang Anda lakukan di bagian itu? Mengapa baut tersebut Anda putar ke arah kiri, bukan ke kanan?"
Bimo tidak menunjukkan kegugupan sedikit pun meski jantungnya berdenyut lebih cepat. Ia menoleh ke arah Taufik dengan senyum kecil yang menenangkan, sebuah upaya untuk mengalihkan kecurigaan pemuda itu. "Saya hanya memastikan tidak ada udara yang terjebak di dalam saluran bahan bakar, Taufik. Mesin modern seperti ini sangat sensitif terhadap gangguan sekecil apa pun. Jika ia merasa tidak nyaman, suaranya akan menjadi sangat bising dan bisa mengganggu ketenangan para penghuni laut."
Taufik mengernyitkan dahi, tampak ragu antara harus percaya pada logika mekanis atau pada takhayul yang selalu ditekankan oleh Bimo. Di Namasua, kata-kata Bimo memiliki bobot yang besar karena dialah satu-satunya orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di luar pulau. Dengan gerakan yang sangat halus, Bimo menyelipkan serat kelapa itu ke dalam filter bahan bakar dan sedikit melonggarkan baut pengatur aliran bensin. Ia memastikan bahwa kerusakan yang ia buat tidak akan terlihat secara kasat mata, namun cukup fatal untuk membuat mesin itu mati dalam hitungan menit.
"Pemasangan sudah selesai, Pak Darman. Silakan Anda mencobanya sekarang," kata Bimo sambil berdiri dan mengusap tangannya yang kotor ke celana usangnya.
Pak Darman menarik tali starter dengan semangat yang meluap-luap, otot-otot lengannya menegang. Mesin itu terbatuk sekali, mengeluarkan kepulan asap hitam yang berbau busuk, lalu kembali terdiam dalam kebisuan yang kaku. Pak Darman mencoba lagi dengan tenaga yang lebih besar, wajahnya mulai memerah karena usaha keras. Kali ini mesin itu menderu sebentar, sebuah suara bising yang memecah ketenangan teluk, sebelum akhirnya mati total dengan suara mendesis yang mengecewakan.
Keheningan segera jatuh menyelimuti dermaga, hanya menyisakan suara ombak yang menghantam tiang-tiang kayu yang mulai keropos. Wajah Pak Darman mulai pucat pasi saat ia menatap mesin yang baru saja ia banggakan. "Mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Padahal saat di kota tadi, mesin ini bekerja dengan sangat lancar tanpa ada kendala sedikit pun."
Bimo memasang wajah prihatin yang paling meyakinkan, alisnya bertaut seolah ikut merasakan kekecewaan tersebut. Ia membungkuk kembali, memeriksa mesin itu dengan kerutan di dahi yang dalam untuk memperkuat sandiwaranya. "Sepertinya bahan bakar subsidi yang kita peroleh kemarin memiliki kualitas yang sangat buruk, Pak. Kandungan air dan kotorannya terlalu tinggi untuk mesin modern. Mesin seperti ini tidak bisa mengonsumsi bahan bakar sembarangan, berbeda dengan mesin tua kita yang lebih tahan banting."
Kekecewaan yang mendalam terlihat jelas di mata Pak Darman saat ia menatap investasinya yang mahal itu dengan pandangan yang hampir menangis. Warga desa mulai berbisik-bisik di belakang mereka, beberapa dari mereka mengangguk setuju dengan penjelasan teknis yang diberikan Bimo. Ketakutan akan teknologi yang dianggap "rewel" mulai merayap di antara mereka, menggantikan kegembiraan yang tadi sempat membuncah.
Seorang nelayan tua dari belakang kerumunan menyahut dengan suara parau. "Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Bimo. Laut kita tidak menyukai suara bising yang dihasilkan oleh mesin-mesin seperti ini. Lebih baik kita tetap menggunakan dayung, karena cara itu jauh lebih tenang dan menghormati alam."
Bimo merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat saat melihat kerumunan itu mulai membubarkan diri dengan rasa sangsi. Ia telah berhasil mematikan satu lagi sumbu kemajuan yang mengancam ketenangan desa ini. Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama ketika dari arah jalan desa, seorang pria dengan kemeja safari yang licin tanpa kerutan berjalan mendekat. Itu adalah Hendra Suwandi, seorang birokrat dari kantor kabupaten yang sudah beberapa kali datang membawa janji-janji pembangunan yang muluk.
Hendra berdeham keras sebelum mulai berbicara, sebuah kebiasaan yang selalu membuat rahang Bimo mengeras karena muak. "Selamat pagi, Bapak-bapak sekalian. Saya melihat ada sedikit kendala teknis dengan mesin baru Pak Darman di sini?"
Pria itu mengeluarkan selembar brosur dari tas kulitnya yang mengilap, sebuah benda yang terasa sangat asing di tengah lingkungan Namasua yang serba kusam. "Itulah sebabnya pemerintah sangat ingin membangun dermaga beton yang lebih modern dan menyediakan stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan di desa ini. Kami ingin memastikan bahwa teknologi yang Bapak-bapak miliki dapat berfungsi dengan maksimal tanpa kendala bahan bakar lagi."
Hendra mulai memaparkan proposal pembangunan dermaga baru yang akan menghubungkan Namasua dengan jalur perdagangan utama di Maluku Tengah. Warga desa yang tadi sempat kecewa kini kembali berkumpul, rasa ingin tahu mereka terpancing oleh angka-angka keuntungan yang disebutkan oleh Hendra. Bimo melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Hendra dan para nelayan dengan sikap yang tetap sopan namun tegas.
"Pak Hendra, maaf jika saya harus memotong penjelasan Anda," kata Bimo dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Namun, apakah pihak pemerintah sudah mempertimbangkan tradisi 'tanah yang tidak boleh digali' di sepanjang pesisir ini? Para tetua kami selalu memperingatkan bahwa mengukir pantai dengan semen dan beton akan mengundang kemarahan penjaga laut. Kita tentu tidak ingin bencana yang menimpa desa tetangga terjadi di sini, bukan?"
Hendra Suwandi menatap Bimo dengan tatapan tajam yang sulit diartikan, menyadari bahwa pemuda di depannya adalah penghalang utama bagi proyeknya. "Saudara Bimo, kita sekarang hidup di zaman modern yang menuntut efisiensi. Tradisi memang harus dihormati, namun perut warga tidak bisa kenyang hanya dengan berpegang pada mitos masa lalu. Dengan dermaga ini, kapal-kapal besar bisa bersandar, dan hasil tangkapan nelayan bisa langsung dijual ke eksportir dengan harga tinggi."
"Dan dengan dermaga itu pula, ketenangan yang kita miliki akan musnah," balas Bimo dengan cepat, suaranya sedikit meninggi. "Namasua akan berubah menjadi pelabuhan bising yang penuh dengan sampah dan orang asing yang tidak menghargai adat kita. Apakah itu yang benar-benar kita inginkan? Kehilangan identitas desa demi beberapa lembar rupiah yang belum tentu sampai ke tangan nelayan kecil?"
Perdebatan itu berlangsung alot di bawah terik matahari yang semakin menyengat kulit. Bimo menggunakan setiap retorika tentang pelestarian budaya dan ketakutan akan bencana alam untuk memprovokasi keraguan kolektif warga. Ia melihat keraguan mulai kembali muncul di wajah-wajah tetangganya, sebuah tanda bahwa pengaruhnya masih cukup kuat. Bagi mereka, Bimo adalah pelindung yang menjaga mereka dari dunia luar yang dianggap kejam, tanpa menyadari bahwa Bimo sedang melakukan hal yang sama: menahan mereka dalam kemiskinan demi sebuah rahasia.
Setelah hampir satu jam berdebat tanpa hasil, Hendra Suwandi akhirnya menyerah dan melipat kembali brosurnya dengan gerakan gusar. Ia pergi meninggalkan dermaga dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, meninggalkan aroma parfum kota yang perlahan memudar tertiup angin laut. Kerumunan warga pun perlahan bubar, menyisakan Pak Darman yang masih berdiri lesu di samping perahunya, menatap mesin Yamaha-nya yang kini tak lebih dari sekadar hiasan logam yang mahal.
Bimo menyandarkan punggungnya yang pegal pada tiang kayu warung kopi milik Nek Inah, membiarkan napasnya keluar dalam helaan panjang yang berat. Akting yang ia lakukan hari ini sangat menguras energi mentalnya. Di dalam warung yang teduh itu, Lastri sedang sibuk menggoreng pisang di sebuah wajan besar yang permukaannya hitam karena jelaga bertahun-tahun. Bau pisang goreng yang manis dan gurih menyambut kedatangan Bimo, memberikan sedikit rasa nyaman yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Silakan duduk, Bimo. Anda terlihat sangat lelah hari ini," sapa Lastri dengan logat Jawa yang masih kental meski ia sudah puluhan tahun menetap di Maluku.
Bimo menjatuhkan dirinya di atas bangku kayu yang panjang, merasakan otot-otot kakinya yang tegang mulai sedikit rileks. "Tolong berikan saya kopi pahit satu gelas, Mbak Lastri. Dan juga pisang gorengnya dua buah saja."
Lastri meletakkan segelas kopi tubruk yang pekat di depan Bimo, asapnya mengepul membawa aroma kafein yang tajam ke indra penciumannya. "Tadi saya melihat Anda di dermaga dari kejauhan. Kasihan sekali Pak Darman, dia sudah menabung sangat lama untuk bisa membeli mesin tempel itu."
Bimo menyesap kopinya perlahan, membiarkan rasa pahit yang kuat itu membakar lidahnya dan memberikan sentakan energi. "Kadang-kadang, kehilangan sesuatu yang sangat kita inginkan adalah cara laut untuk melindungi kita dari sesuatu yang jauh lebih buruk, Mbak."
Lastri hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan pengertian namun juga menyimpan gurat kesedihan yang mendalam. Ia adalah sosok yang tahu persis bagaimana rasanya kehilangan sesuatu di laut, setelah suaminya tidak pernah kembali dari ekspedisi pencarian mutiara sepuluh tahun yang lalu. Sejak saat itu, Lastri menjadi sosok ibu bagi semua orang di desa, memastikan tidak ada nelayan yang pergi melaut dengan perut kosong.
"Anda terlalu banyak memikul beban desa ini di pundak Anda sendiri, Bimo," kata Lastri sambil meletakkan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan uap panas. "Ingatlah bahwa laut memiliki caranya sendiri untuk memberi dan mengambil apa yang ia kehendaki. Anda tidak akan bisa mengatur segala sesuatunya selamanya, sekuat apa pun Anda mencoba."
Bimo memilih untuk tidak menjawab pernyataan itu dan menikmati pisang gorengnya dalam diam. Suara derit dahan pohon ketapang di atas warung dan deburan ombak yang konsisten menjadi latar belakang bagi pikirannya yang sedang kacau. Di kejauhan, ia melihat Pak Darman berjalan pulang dengan bahu yang merosot, sebuah pemandangan yang memicu denyut rasa bersalah di hati Bimo. Namun, ia segera menekan perasaan itu dalam-dalam, meyakinkan dirinya sendiri bahwa sabotase ini dilakukan demi kebaikan yang lebih besar.
Selesai dengan kopinya, Bimo membayar dan berjalan pulang menuju gubuknya yang terletak agak terpencil di ujung pantai yang berbatu. Gubuk itu tampak sederhana dari luar, namun di dalamnya tersimpan rahasia yang bisa mengguncang dunia oseanografi internasional. Bimo memastikan pintu kayu gubuknya terkunci rapat sebelum ia mendekati sebuah papan lantai yang sedikit longgar di bawah tempat tidurnya. Dengan hati-hati, ia mengangkat papan tersebut dan mengeluarkan sebuah tabung logam kedap air yang terasa dingin di tangannya.
Di dalam tabung itu terdapat sebuah peta tua yang kertasnya sudah mulai rapuh dan berwarna kecokelatan dimakan usia. Peta itu bukan sekadar panduan navigasi biasa bagi para pelaut; ada koordinat-koordinat yang ditandai dengan tinta merah pekat. Titik-titik tersebut menandakan lokasi di mana arus laut berperilaku menyimpang dari hukum alam, dan tempat di mana ayahnya terakhir kali terlihat sebelum hilang ditelan kegelapan bawah air. Bimo mengambil sebuah kalender kecil yang ia sembunyikan di balik peta tersebut dan memberikan tanda silang pada tanggal hari ini.
Satu hari lagi telah berlalu, dan Namasua tetap tidak terlihat di radar dunia luar yang haus akan eksploitasi. "Catatan Dasar Laut" itu tetap aman di tempatnya yang tak terjangkau oleh tangan-tangan serakah. Bimo berjalan menuju jendela kecil yang menghadap langsung ke arah laut lepas, menatap permukaan air yang berwarna biru tua. Matahari mulai tergelincir ke arah barat, menciptakan jalur cahaya keemasan di atas air yang tampak seperti jalan setapak menuju cakrawala.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Bimo saat ia menyadari bahwa tekanan dari dunia luar semakin hari semakin kuat. Ia adalah sebuah bendungan yang mulai menunjukkan retakan kecil, dan arus perubahan di luar sana sedang mendorong dengan kekuatan yang tak terbayangkan. "Satu hari lagi, Ayah," gumam Bimo pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin yang menyusup lewat celah dinding gubuk. Bau apek dari kolong rumah bercampur dengan aroma garam yang selalu menempel di kulitnya, menciptakan suasana yang mencekam dalam kesunyian.
Malam mulai jatuh di Namasua, dan lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di rumah-rumah warga, menciptakan titik-titik cahaya kecil yang gemetar di sepanjang pesisir. Bimo duduk di ambang pintu, menatap kegelapan laut yang kini tampak seperti cairan hitam yang naik perlahan untuk menelan daratan. Ia merasa seperti seorang prajurit yang berdiri sendirian di garis depan, memegang rahasia yang terlalu berat untuk dipikul oleh satu orang saja. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap mendekat dari arah pantai, membuat Bimo seketika menegang.
Tangannya secara refleks meraba pisau kecil yang selalu ia simpan di pinggang, matanya menyipit mencoba menembus kegelapan. Dari balik bayang-bayang pohon kelapa, muncul sesosok tubuh tinggi besar dengan langkah yang penuh otoritas. Itu adalah Silas Papare, seorang spesialis keamanan yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam hutan atau menyelam di kedalaman yang tidak masuk akal bagi manusia biasa.
"Kaka Bimo," sapa Silas dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa. Dialek Papuanya yang kental memberikan kesan kekuatan yang tak terbantahkan di tengah kesunyian malam.
"Kaka Silas," balas Bimo sambil sedikit merilekskan bahunya yang tadi sempat menegang. "Ada keperluan apa Anda datang berkunjung malam-malam begini?"
Silas berdiri di depan gubuk Bimo, matanya yang tajam menatap lurus ke arah laut lepas seolah bisa melihat apa yang tersembunyi di balik cakrawala. "Ada sebuah kapal asing yang tertangkap oleh radar kecil saya tadi sore. Mereka sengaja tidak menyalakan lampu navigasi untuk menghindari deteksi. Kapal itu diam di luar batas karang kita selama dua jam penuh sebelum akhirnya menghilang ke arah utara."
Jantung Bimo berdegup kencang, dan sakelar kewaspadaan di dalam kepalanya seolah baru saja dinyalakan dengan paksa. Informasi dari Silas bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, karena pria itu memiliki insting yang lebih tajam daripada sensor elektronik mana pun. "Apakah Anda melihat mereka mengirimkan sekoci atau tim penyelam ke arah pantai kita?" tanya Bimo dengan nada serius.
"Tidak ada pergerakan yang terlihat secara kasat mata," jawab Silas singkat. "Namun, saya bisa merasakan bahwa laut sedang merasa sangat gelisah malam ini. Ikan-ikan di kedalaman mulai naik ke permukaan tanpa alasan yang jelas, seolah-olah mereka sedang melarikan diri dari sesuatu. Sesuatu yang besar sedang mendekati kita, Bimo."
Bimo terdiam sejenak, mencerna peringatan dari Silas yang terasa seperti hembusan angin dingin di tengkuknya. Jika Silas mengatakan bahwa badai sedang mengintai, maka Namasua memang sedang berada dalam bahaya yang nyata. "Terima kasih atas informasinya, Kaka Silas. Saya mohon kepada Anda untuk terus memantau pergerakan di laut. Jangan sampai ada pihak asing yang mendarat di pantai ini tanpa sepengetahuan kita."
Silas hanya memberikan anggukan singkat sebelum berbalik dan menghilang kembali ke dalam kegelapan secepat ia muncul tadi. Bimo kembali menatap laut, namun rasa tenang yang tadi sempat ia rasakan kini telah hilang sepenuhnya. Ketegangan baru merayap di pembuluh darahnya, membuat buku-buku jarinya memutih saat ia mencengkeram bingkai pintu kayu gubuknya. Desa Namasua mungkin masih terlihat tenang dari luar, namun di bawah permukaan yang gelap, ada sesuatu yang sedang terbangun dari tidurnya.
Bimo menyadari bahwa ia tidak akan bisa menjadi bendungan yang menahan arus ini selamanya. Angin malam bertiup lebih kencang, membawa aroma badai yang akan datang dan bau logam yang samar dari arah laut. Ia menutup pintu gubuknya dan mematikan lampu minyak, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan total. Dalam kesunyian itu, ia hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu dengan suara deburan ombak yang semakin keras menghantam pantai.
Ia bertanya-tanya dalam hati, berapa lama lagi ia bisa menjaga kebohongan ini sebelum laut sendiri yang membongkar rahasianya kepada dunia. Pertanyaan itu menggantung di udara gubuk yang pengap, tak terjawab seperti kabut yang menyelimuti puncak gunung di kejauhan. Bimo merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang keras, namun matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit gubuk yang terbuat dari rumbia. Di luar sana, sebuah lampu kecil di tengah laut berkedip sekali lalu menghilang, seolah memberikan tanda bahwa permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Bimo memejamkan mata, namun bayangan ayahnya yang perlahan tenggelam ke dalam air hitam yang dingin terus menghantuinya. Ia mengepalkan tangannya di bawah selimut usang, berjanji pada diri sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang kembali. Ia akan melakukan apa pun, bahkan jika ia harus menjadi penjahat di mata orang-orang yang ia cintai, demi menjaga agar dasar laut tetap menyimpan rahasianya. Udara di dalam gubuk terasa semakin menipis, seolah-olah laut sedang mencoba menghisap oksigen dari daratan untuk dibawa ke kedalamannya.
Ia bangkit kembali dari tempat tidur, merasa tidak tenang untuk sekadar memejamkan mata. Bimo mengambil kembali tabung logamnya, memastikan isinya masih aman di bawah papan lantai. Jemarinya meraba permukaan peta yang kasar, mencari kekuatan dari garis-garis koordinat yang digambar oleh tangan ayahnya bertahun-tahun yang lalu. Di sudut peta itu, terdapat sebuah catatan kecil yang ditulis dengan tinta yang sudah hampir pudar: "Jangan pernah mencari apa yang tidak ingin ditemukan oleh laut."
"Tapi mereka akan terus mencarinya, Ayah," bisik Bimo dengan suara parau. "Dan aku harus menjadi orang terakhir yang berdiri menjaganya, atau orang pertama yang ikut tenggelam bersamanya."
Di luar, suara derit dermaga kayu yang bergoyang tertiup angin terdengar seperti rintihan minta tolong yang memilukan. Bimo berdiri di tengah kegelapan gubuknya, menunggu fajar yang mungkin akan membawa lebih banyak ancaman daripada harapan. Ia adalah sang penjaga yang tersembunyi, dan tugasnya kini telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, Bimo merasa bahwa laut tidak lagi berada di pihaknya, melainkan sedang menuntut sesuatu yang sangat mahal.
Keheningan Namasua terasa sangat mencekam, seolah-olah seluruh desa sedang menahan napas secara kolektif. Sesuatu yang besar, sesuatu yang dingin, dan sesuatu yang telah lama terkubur di bawah tekanan ribuan atmosfer kini mulai merayap naik menuju permukaan. Bimo adalah satu-satunya orang yang berdiri di antara rahasia itu dan dunia yang haus akan kekuasaan. Ia adalah bendungan yang mulai retak, dan arus di luar sana sedang menariknya dengan kekuatan yang melampaui batas kemampuannya.
Cahaya fajar pertama mulai menyembul di ufuk timur, membawa serta bayang-bayang kapal besar yang kini terlihat jelas di cakrawala Namasua. Kapal itu bukan milik nelayan lokal, dan siluetnya yang angkuh menunjukkan bahwa mereka tidak datang untuk membawa perdamaian. Bimo Satrio keluar dari gubuknya, matanya menyipit menatap kapal tersebut dengan penuh kewaspadaan. Ia tahu bahwa hari ini adalah hari di mana penyamarannya sebagai nelayan biasa akan segera berakhir dan ia harus kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.
"Selamat datang di Namasua," bisik Bimo dengan nada yang sedingin air di kedalaman seribu meter. "Semoga kalian sudah menyiapkan diri untuk tenggelam bersama ambisi kalian."
Angin laut menyambar wajahnya, membawa aroma solar dan keserakahan yang busuk dari arah kapal tersebut. Perjalanan panjang yang selama ini ia takuti akhirnya dimulai juga, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali ke belakang. Desa yang tenang ini akan segera berubah menjadi medan tempur yang sengit, dan Bimo adalah jenderalnya yang tak terlihat. Ia melangkah menuju rumah Aki Jajang, menyadari bahwa ia membutuhkan restu dari sang penjaga tradisi sebelum badai benar-benar pecah di pesisir mereka.
Di belakangnya, laut mulai bergejolak dengan ombak-ombak besar yang menghantam pantai dengan kekuatan yang tidak biasa. Bimo tidak menoleh lagi, terus melangkah dengan tekad yang sekeras karang dan hati yang seberat baja. Perang untuk memperebutkan masa depan dasar laut baru saja dimulai di titik nol ini. Bimo Satrio siap untuk bertarung, meski ia tahu bahwa dalam perang melawan laut dan nafsu manusia, jarang ada pemenang yang bisa keluar tanpa luka yang abadi.
Langkah-langkahnya meninggalkan jejak yang dalam di pasir pantai, jejak yang akan segera dihapus oleh ombak yang datang silih berganti. Namun bagi Bimo, penghapusan jejak itu adalah sebuah bentuk kemenangan kecil. Selama Namasua tetap tidak terlihat oleh radar dunia, selama itu pula rahasia ayahnya akan tetap aman di tempatnya yang paling gelap. Kapal besar di cakrawala mulai menurunkan sekoci-sekocinya, siap untuk mendarat di pantai Namasua yang suci.
Bimo mengepalkan tinjunya, merasakan adrenalin mulai mengalir deras di pembuluh darahnya. Ia tidak lagi berlari untuk melakukan sabotase kecil pada mesin tempel; sekarang ia berlari untuk kelangsungan hidup sebuah rahasia yang jauh lebih besar dari nyawanya sendiri. "Aki! Aki Jajang!" teriak Bimo saat ia tiba di depan rumah sang tetua desa dengan napas yang memburu.
Aki Jajang keluar dari pintu rumahnya dengan ketenangan yang luar biasa, matanya menatap kapal di kejauhan dengan pandangan yang tak terbaca. "Sudah waktunya, Bimo. Laut sudah merasa bosan menunggu dan kini ia menuntut jawaban."
Bimo mengangguk mantap, mencoba menenangkan degup jantungnya. "Apa yang harus saya lakukan sekarang, Aki? Kekuatan mereka jauh lebih besar dari apa yang kita miliki."
Aki Jajang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat tua dan bijaksana di bawah cahaya pagi. "Jadilah seperti air, Bimo. Jangan biarkan dirimu menjadi batu yang kaku. Karena batu akan hancur berkeping-keping oleh hantaman ombak, namun air akan selalu menemukan jalan pulangnya, seberapa pun jauh ia tersesat."
Bimo menatap Aki, lalu kembali menatap ke arah laut yang mulai bergolak hebat. Ia mengerti sekarang bahwa ia tidak bisa terus-menerus menjadi bendungan yang kaku menahan arus. Terkadang, satu-satunya cara untuk menyelamatkan sesuatu yang berharga adalah dengan membiarkannya hanyut bersama arus, namun tetap menjaganya agar tidak tenggelam di tangan yang salah. Suara mesin kapal asing itu mulai terdengar merusak ketenangan pagi Namasua, menandakan bahwa babak pertama dari perjuangan Bimo Satrio telah resmi dimulai di bawah langit Maluku yang membara.