Bab 29: Bisikan Racun dalam Keberanian
Pasir kasar menusuk telapak tangan Bimo yang gemetar. Terhempas di pulau karang kecil, tubuhnya terasa bagai ranting kering, jiwanya koyak. Setiap deburan ombak, seolah ejekan, menggulung memori kegagalan ke bibir pantainya. Aroma asin laut bercampur lumut lembap dari sela bebatuan menusuk hidungnya, bukan menyegarkan, melainkan menyesakkan. Ia merasa tak ubahnya benih yang terbuang, tak lagi memiliki tanah untuk berakar.
"Untuk apa semua ini?" bisiknya, suaranya serak, parau. "Untuk apa aku berjuang?"
Keputusasaan mengikatnya erat, menjerat seperti akar bakau yang mencekik, melumpuhkan setiap otot. Pandangannya perlahan menelusuri horizon, garis biru tak berujung yang terasa kian menjauh. Isolasi itu bukan hanya sepi, melainkan sebuah palu godam yang menghantam semangatnya, meremukkannya. Semua keyakinan, semua perjuangan, kini terasa runtuh, berserakan di kakinya.
Namun, di tengah kegelapan batin yang pekat, sekelebat ingatan menyelinap, bagai cahaya redup. Wajah kakeknya, Aki Jajang, yang keriput dan penuh kearifan, melintas jelas di benaknya. Bimo teringat pesan terakhir kakek, diucapkan dengan suara serak khas Sunda, di tengah riuhnya pasar ikan. "Keberanian sejati, Le, bukan soal tidak takut. Melainkan soal berani melihat ke dalam, meski yang kau temukan bukan yang kau harapkan."
Dulu, Bimo mengira kata-kata itu adalah dorongan untuk menghadapi bahaya di dasar laut. Ia telah berulang kali mencari kekuatan dalam kata-kata itu, mencoba memecahkan teka-teki yang seolah tak berujung. Tapi di sini, di bawah terik matahari yang menyengat, kata-kata itu terasa hampa. Kosong. Tak ada solusi, tak ada kekuatan. Hanya gema yang menyesakkan, memenuhi rongga dadanya.
Bimo memejamkan mata. Suara ombak yang konstan kembali memecah keheningan, seolah alam sendiri sedang berbisik rahasia. Wajah kakeknya yang dulu ia anggap penuh kebijaksanaan, kini terasa ambigu, diselimuti bayangan lain. Sesuatu yang belum pernah ia pahami, tersembunyi di balik kerutan senyumnya.
"Berani melihat ke dalam." Bimo mengulang, bibirnya bergerak tanpa suara, mencoba merangkai ulang makna. Pikirannya mulai mengurai setiap suku kata, mencari celah. Seperti virus yang perlahan menyebar, kecurigaan mulai merayap di punggungnya. Dingin, menusuk, tak terhindarkan. Bulu kuduknya meremang. Keberanian sejati, ia sadar, bukan hanya soal melawan musuh di luar. Lebih dari itu, ia harus melawan musuh yang mungkin bersembunyi di balik kepercayaan paling dalam.
Bayangan Siti Nurhaliza menari di air dangkal di depannya, sebuah rahasia yang tak terucapkan. Siti, dengan idealismenya yang membara. Siti, dengan pengetahuannya yang tak biasa tentang ekosistem lokal.
"Tidak mungkin," Bimo bergumam, menggelengkan kepala. Ia mencoba menolak pikiran itu, namun kata-kata itu terasa hambar di lidahnya. "Siti tidak akan." Argumennya terasa lemah, rapuh seperti karang yang terkikis ombak. Ia tidak yakin. Siti adalah sekutu, pejuang lingkungan. Tapi bukankah kakeknya sendiri pernah berujar, "Arus terdalam bisa menarikmu ke arah yang tak pernah kau duga, bahkan saat kau berenang sekuat tenaga menuju cahaya"?
Bimo membuka matanya. Bayangan Siti kini terasa lebih jelas di benaknya, tak lagi samar. Ia mengingat betapa keras kepalanya Siti, betapa ia mencintai terumbu karang hingga batasan yang hampir fanatik. Ia teringat cerita Siti tentang terumbu karang di kampung halamannya yang hancur. Luka itu begitu dalam, begitu nyata, seolah ia bisa menyentuhnya.
Bimo mulai mengumpulkan potongan-potongan informasi, bagai serpihan pecahan kaca yang berserakan di benaknya. Detail-detail kecil tentang Siti. Bagaimana ia selalu tahu persis di mana terumbu karang paling rentan, di mana arus paling berbahaya. Pengetahuannya bukan sekadar teori. Itu adalah intuisi yang mendalam, nyaris supranatural.
Lalu, Bimo teringat bagaimana terkadang tindakan musuh, Samudra Nusantara Corp, seolah 'selaras' dengan tujuan Siti. Bukan secara langsung, tentu saja. Namun ada pola. Pola di mana kerusakan yang disebabkan perusahaan seringkali membuka jalan bagi 'restorasi' yang diusung Siti, atau justru memperkuat argumennya untuk perlindungan ekstrem. Apakah itu kebetulan belaka? Atau sebuah simfoni yang mengerikan, dimainkan oleh tangan-tangan tak terlihat?
Ketakutan akan kebenaran ini terasa seperti kabut dingin yang mengendap di dadanya, menyesakkan setiap tarikan napas. Pengkhianatan dari seseorang yang ia percayai, yang ia kagumi, terasa jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan misi apa pun. Tenggorokannya terasa membakar, kering oleh rasa haus dan kecurigaan yang membuncah. Lidahnya terasa kaku. Suara burung laut yang melengking di kejauhan hanya menambah rasa sepi dan ketidakpastian yang menggerogoti jiwanya.
"Lagipula, dia terlalu idealis," Bimo berbisik pada dirinya sendiri, mencoba mencari celah. "Mungkin dia dimanipulasi. Mungkin dia tidak tahu."
Tapi kakeknya tidak bicara soal manipulasi. Kakeknya bicara soal 'keberanian sejati' dan 'melihat ke dalam'. Melihat ke dalam diri Siti? Atau melihat ke dalam motif tersembunyi di balik idealismenya yang membara? Bimo mengingat percakapan mereka. Siti pernah berkata, "Beberapa hal harus dihancurkan agar yang lain bisa tumbuh lebih kuat." Kalimat itu, yang dulu ia anggap sebagai metafora perjuangan, kini terdengar seperti bisikan racun yang meracuni setiap selnya.
Mungkinkah Siti, dalam upayanya yang ekstrem untuk melindungi laut, tanpa sadar—atau bahkan sengaja—membuat pilihan yang justru menguntungkan Togar Simanjuntak? Siti begitu yakin bahwa pendekatannya adalah yang terbaik, yang paling murni. Ia tidak akan pernah membiarkan spesimen laut mati hanya untuk penelitian, ia bersumpah. Tapi bagaimana jika, demi 'kebaikan yang lebih besar', demi menyelamatkan seluruh ekosistem, ia rela mengorbankan sebagian kecil? Atau bahkan bersekutu dengan iblis itu sendiri?
Pikiran itu, mengerikan sekaligus logis, terus berputar di benaknya, tak memberi jeda. Kecurigaan ini tumbuh seperti lumut di bebatuan, menemukan celah di fondasi kepercayaannya. Pengetahuan tidak biasa Siti tentang kerentanan ekosistem, mungkin saja telah dieksploitasi. Atau lebih buruk, mungkin Siti sendiri yang menyediakannya, percaya bahwa itu adalah strategi jangka panjang yang lebih efektif.
Setelah pergolakan mental yang panjang, Bimo membiarkan tubuhnya lunglai ke pasir. Ia mencari sedikit ketenangan, memaksa dirinya merasakan lingkungan sekitarnya. Aroma hutan bakau yang samar terbawa angin, membawa sedikit kedamaian yang tak terduga. Kehangatan pasir yang tersisa dari matahari sore meresap ke kulitnya. Momen singkat ini mengingatkannya pada keindahan yang ia perjuangkan mati-matian.
Pikirannya masih mengganggu, namun kini ia mencoba mengendalikannya, menariknya kembali. Ia tidak bisa membiarkan keputusasaan menguasai. Kakeknya bicara tentang keberanian, bukan keputusasaan. Keberanian sejati, ia sadar, mungkin adalah menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Ia menatap langit senja, jingga dan ungu berpadu indah. Lautan di depannya tampak tenang, namun Bimo tahu, di bawah permukaannya, arus-arus mematikan sedang bekerja, tak terlihat.
"Baiklah," Bimo berujar pelan, suaranya kini lebih tegas, meskipun getir. "Jika itu yang harus aku lihat, maka akan aku lihat."
Kecurigaan ini, yang dulunya adalah beban yang menghimpit, kini menjadi sebuah tujuan baru. Sebuah misi yang lebih pribadi, lebih menyakitkan, dan lebih mendesak daripada sebelumnya. Jika Siti benar-benar terlibat, bahkan secara tidak langsung, maka ia harus tahu. Dan ia harus menghentikannya, apa pun risikonya. Gelombang dingin merayap di kakinya saat air pasang mulai naik, seolah laut sendiri sedang bersiap untuk menelan rahasia yang baru saja terungkap, menguburnya dalam kegelapan. Bimo beringsut menjauh dari jangkauan ombak, mencari pijakan yang lebih kering. Punggungnya menyentuh batang kelapa tumbang yang terdampar, permukaannya kasar dan penuh lumut laut. Rasa dingin dari air tadi masih melekat di kulitnya, seolah membekukan setiap pikiran yang mencoba kabur. Langit senja perlahan memudar, digantikan oleh kegelapan pekat yang bertabur bintang, masing-masing memancarkan cahaya dingin yang jauh.
Pikirannya kembali pada Aki Jajang, kakeknya. Bertahun-tahun lalu, di beranda rumah panggung yang menghadap laut, Aki pernah berkata, "Laut itu seperti manusia, Le. Punya rahasia. Punya kemarahan. Tapi yang paling berbahaya, punya bisikan yang bisa meracuni." Bimo dulu menganggapnya sebagai kearifan lokal, metafora puitis dari seorang tua yang hidupnya menyatu dengan laut. Kini, bisikan itu terasa nyata, bergaung di telinganya, seolah peringatan yang terlambat ia pahami.
"Bisikan yang bisa meracuni," gumam Bimo, suaranya serak. Racun itu kini terasa menyebar di benaknya, merusak kepercayaan yang ia pupuk. Siti. Nama itu berputar-putar, menjadi pusat dari segala kecurigaan. Bagaimana mungkin? Siti, dengan idealismenya yang membara, dengan mata yang selalu berbinar saat berbicara tentang terumbu karang yang rusak, dengan semangatnya yang tak tergoyahkan untuk melindungi laut. Ia adalah sekutu, bukan musuh. Atau setidaknya, itulah yang Bimo yakini.
Namun, ada beberapa hal yang kini terasa ganjil. Pengetahuan Siti tentang arus bawah yang tidak biasa, detail tentang lokasi tertentu yang seharusnya tidak diketahui oleh sembarang orang. Bimo ingat saat Siti pernah menyebutkan sebuah celah di dasar laut, jalur sempit yang hanya bisa diakses pada waktu-waktu tertentu, yang ia klaim pelajari dari cerita nelayan tua. Bimo, dengan keangkuhan ilmiahnya, sempat mengabaikan itu. "Data satelit tidak menunjukkan adanya celah signifikan di sana, Siti," katanya kala itu, menepis. Siti hanya tersenyum tipis, "Laut punya jalannya sendiri, Mas Bimo. Tidak semua tertangkap radar."
Senyum itu, yang dulu Bimo anggap sebagai tanda kerendahan hati, kini terasa seperti tirai yang menyembunyikan sesuatu. Sebuah bisikan. Apakah Siti adalah corong dari bisikan itu? Atau dia sendiri yang diracuni? Pertanyaan itu menusuk, lebih tajam dari karang tajam.
Bimo memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma asin laut yang bercampur dengan bau lumpur hutan bakau yang samar. Bau itu dulu menenangkannya, mengingatkannya pada rumah. Sekarang, bahkan bau itu pun terasa asing, seolah laut itu sendiri sedang bersekongkol melawan dirinya. Isolasi di pulau ini, yang awalnya terasa seperti pelarian, kini menjadi penjara. Tidak ada yang bisa ia ajak bicara, tidak ada yang bisa memvalidasi kegilaan yang mulai merayapi pikirannya.
Ia mencoba berpikir secara analitis, seperti seorang ilmuwan. Apa motifnya? Siti adalah seorang idealis. Dia membenci eksploitasi. Togar Simanjuntak adalah personifikasi dari eksploitasi itu. Jadi, bagaimana mungkin Siti bersekutu dengan Togar? Kecuali, Togar telah memanipulasi Siti, menggunakan idealismenya sebagai senjata. Itu akan menjadi strategi yang kejam, namun sangat khas Togar. Togar tidak akan pernah mengotori tangannya sendiri. Dia akan mencari pion, seseorang yang bisa dia dorong ke depan, seseorang yang dengan tulus percaya bahwa mereka melakukan hal yang benar.
Bimo membuka matanya. Langit kini sepenuhnya gelap, hanya ada jutaan bintang yang bersinar terang, refleksi samar di permukaan laut yang tenang. Ketengan itu menipu. Di bawahnya, arus-arus mematikan bekerja. Seperti Togar. Seperti, mungkin, Siti.
Ia teringat lagi pada pesan Aki Jajang. "Keberanian sejati, Le, bukan cuma melawan badai yang terlihat. Tapi juga melawan racun yang tak kasat mata, yang merayap masuk dari dalam." Dulu, Bimo mengira kakeknya bicara tentang korupsi atau ketamakan manusia. Sekarang, ia sadar, itu mungkin peringatan tentang pengkhianatan. Pengkhianatan yang bisa datang dari orang terdekat, dari mereka yang kita percaya.
Rasa mual menyeruak. Bimo menunduk, pasir terasa dingin di pipinya. Jika Siti terlibat, bagaimana ia bisa menghentikannya? Bagaimana ia bisa menghadapi seseorang yang ia anggap sebagai teman, sebagai rekan seperjuangan? Ini bukan lagi tentang menemukan artefak. Ini tentang menyelamatkan Siti dari dirinya sendiri, atau dari cengkeraman Togar, sebelum semuanya terlambat. Itu adalah keputusan sulit yang harus ia buat.
Bimo merenung, menganalisis setiap interaksi, setiap kata yang Siti ucapkan. Ada satu momen, saat mereka membahas peta arus bawah laut. Siti menunjuk ke sebuah area yang, menurut data Bimo, tidak memiliki karakteristik aneh. Namun Siti bersikeras, "Nenek moyang kami selalu menghindari area ini, Mas Bimo. Mereka bilang ada 'penjaga' di sana. Arusnya aneh, bisa menarik kapal ke dasar." Bimo menganggapnya takhayul. Sekarang, ia bertanya-tanya, apakah itu kode? Sebuah informasi yang disamarkan?
Kecurigaan itu tumbuh, seperti benih beracun yang ditanam di tanah subur. Ia mencoba mencari celah, bukti untuk menyangkalnya. Namun, setiap kali ia mencoba, justru semakin banyak kepingan puzzle yang terasa pas. Siti memiliki akses ke informan lokal, ke jaringan nelayan yang tidak akan pernah berbicara dengan orang luar seperti Bimo. Jaringan itu bisa menjadi mata dan telinga Togar, melalui Siti.
Angin laut berembus, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Bimo menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia harus tenang. Ia harus berpikir jernih. Ini adalah medan perang baru, dan musuhnya mungkin memakai topeng yang paling meyakinkan.
Bimo berbisik, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Siti tidak akan pernah." Tapi suara kecil di kepalanya, suara analitisnya yang dingin, membantah. *Bagaimana jika dia dimanipulasi? Bagaimana jika idealismenya digunakan untuk tujuan jahat?* Togar adalah master manipulasi. Dia bisa membuat hitam terlihat putih, dan putih terlihat seperti ancaman.
Bimo mengingat kembali percakapannya dengan Dara, Meiling, bahkan Ucok. Tidak ada yang pernah menyuarakan keraguan tentang Siti. Semua orang melihatnya sebagai pahlawan lokal, pelindung lingkungan. Ini membuat Bimo semakin terisolasi dengan kecurigaannya. Jika ia menyuarakan ini, akankah ada yang percaya? Atau akankah ia dianggap paranoid, gila karena tekanan?
Rasa takut akan pengkhianatan itu menghimpit dadanya. Bukan hanya pengkhianatan Siti terhadap misi mereka, tapi juga pengkhianatan Bimo terhadap kepercayaannya sendiri pada orang lain. Ayahnya pernah berkata, "Percayalah pada instingmu, Bimo. Tapi jangan biarkan instingmu membutakan logikamu." Kini, instingnya berteriak bahaya, sementara logikanya berjuang mencari penjelasan yang lebih rasional.
Ia bangkit berdiri, membersihkan pasir dari celananya. Kakinya terasa pegal, tubuhnya lelah, namun pikirannya berputar lebih cepat dari sebelumnya. Ia harus kembali ke kapal. Ia harus memeriksa data, mencari anomali, mencari celah yang mungkin ia lewatkan. Ini adalah satu-satunya cara untuk membuktikan atau menyangkal kecurigaannya.
Perjalanannya kembali terasa lebih berat. Setiap langkah di pasir basah terasa seperti perjuangan. Suara ombak yang sebelumnya menenangkan kini terdengar seperti bisikan ancaman, mengolok-olok kebodohannya. Ia merasa seperti berjalan di atas tali tipis, di antara jurang kepercayaan dan pengkhianatan.
Ketika ia akhirnya mencapai perahu karet yang ia gunakan untuk mencapai pantai, ia berhenti sejenak. Menatap kembali ke laut lepas. Di kejauhan, lampu kapal mereka, *Naga Samudra*, berkelip samar. Sebuah mercusuar harapan, atau target yang rentan?
Ia teringat pada salah satu kutipan Aki Jajang lainnya, yang selalu ia anggap sebagai nasihat untuk menghadapi tantangan alam. "Kadang, Le, bahaya terbesar itu bukan dari ombak besar atau badai. Tapi dari air tenang yang menyimpan pusaran di bawahnya." Kata-kata itu kini terasa seperti ramalan. Siti, dengan ketenangannya, dengan idealismenya, apakah dia adalah pusaran itu?
Bimo naik ke perahu, mesinnya menyala dengan sekali tarik. Suara bisingnya memecah kesunyian malam, seolah menyingkirkan semua pikiran gelap untuk sesaat. Ia mengemudikan perahu kembali ke *Naga Samudra*, matanya menatap tajam ke depan, namun pikirannya masih jauh di belakang, di pantai itu, di bawah langit yang bertabur bintang, di mana benih keraguan mulai berakar.
Sesampainya di kapal, Bimo langsung menuju ruang kendali, tempat Mei biasanya berjaga. Ruangan itu kosong. Mei mungkin sedang istirahat. Bimo menyalakan monitor utama, cahaya biru terang membanjiri ruangan. Ia mulai membuka file data, membandingkan peta arus, rekaman sonar, dan log komunikasi.
Tangannya bergerak otomatis, jari-jarinya menari di atas keyboard. Ia mencari pola, anomali, sesuatu yang bisa mengkonfirmasi atau menyangkal. Setiap baris kode, setiap grafik, setiap angka terasa seperti petunjuk dalam teka-teki yang rumit. Ia merasa seperti seorang detektif, menginterogasi data mati.
Ia memutar ulang rekaman komunikasi yang mereka lakukan selama beberapa hari terakhir. Suara Siti terdengar jelas, lugas, penuh semangat. "Arus di sektor Delta-7 sangat kuat, Mas Bimo. Kita harus berhati-hati. Nelayan setempat bilang ada semacam 'tarikan' di sana." Bimo mengangguk saat itu, menganggapnya sebagai informasi berharga dari seorang ahli lokal. Sekarang, ia mendengar nada lain, sebuah penekanan yang terasa disengaja, seolah Siti ingin mereka menghindari area tertentu, atau justru mengarahkan mereka ke sana.
Kecurigaan itu semakin menguat. Ia ingat Togar Simanjuntak. Togar adalah seorang manipulator ulung. Dia tidak akan pernah bertindak kotor secara langsung. Dia akan mencari celah, mencari titik lemah, mencari orang-orang yang bisa dia manfaatkan. Dan Siti, dengan idealismenya yang murni, dengan cintanya yang tak terbatas pada laut, bisa jadi adalah target yang sempurna.
Bimo merasa dingin. Bukan karena suhu AC di ruang kendali, tapi karena rasa ngeri yang merayapi jiwanya. Jika Siti benar-benar dimanfaatkan, maka mereka semua dalam bahaya. Seluruh misi, seluruh upaya mereka, bisa jadi telah dikompromikan dari dalam.
Ia menggeser pandangan ke peta topografi dasar laut yang terpampang di layar. Area yang Siti sebutkan, sektor Delta-7, memang menunjukkan anomali kecil dalam pembacaan sonar, tetapi tidak cukup signifikan untuk Bimo perhatikan sebelumnya. Namun, jika digabungkan dengan "pengetahuan tidak biasa" Siti tentang celah dan arus, itu bisa menjadi jalur rahasia. Jalur yang bisa digunakan untuk mengakses sesuatu, atau untuk menyembunyikan sesuatu.
Pikirannya kembali pada ayah. Ayahnya selalu menekankan pentingnya melihat melampaui permukaan. "Laut itu punya banyak wajah, Bimo. Yang terlihat tenang bisa jadi yang paling berbahaya." Pesan itu kini terasa seperti pedang bermata dua. Ia harus percaya pada instingnya, namun juga harus memastikan bahwa insting itu tidak diracuni oleh keputusasaan atau paranoia.
Bimo menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Ia harus tetap rasional. Ia tidak bisa membiarkan emosi menguasai. Ia adalah seorang ilmuwan. Bukti adalah segalanya. Ia akan mencari bukti.
Ia mulai menyusun daftar. Daftar semua kejadian aneh, semua perkataan Siti yang kini terasa ambigu, semua data yang tidak sinkron. Ini adalah tindakan nyata pertamanya, sebuah upaya untuk mengendalikan kekacauan di benaknya. Ini adalah cara Bimo Satrio menghadapi resistensi internal dan eksternal. Dengan analisis, dengan data.
Namun, di tengah semua analisis itu, ada satu elemen kenyamanan yang tersisa. Sebuah kenangan. Aroma kopi hitam yang selalu diseduh Aki Jajang setiap pagi. Aroma itu, meskipun tidak ada di sana, terasa begitu nyata di benaknya, membawa sedikit kehangatan di tengah badai keraguan. Kenangan itu mengingatkannya pada kekuatan, pada ketahanan.
Ia harus kuat. Demi misi. Demi tim. Demi Siti.
Bimo menghabiskan sisa malam itu di ruang kendali, matanya terpaku pada layar, otaknya bekerja tanpa henti. Ia mencari benang merah, mencari pola yang tersembunyi di balik data yang melimpah. Setiap kali ia menemukan sesuatu yang mencurigakan, meskipun kecil, kecurigaan terhadap Siti semakin menguat. Ini adalah proses yang menyakitkan, seperti membedah bagian dari dirinya sendiri.
Fajar mulai menyingsing, mewarnai langit timur dengan gradasi merah dan oranye. Sinar matahari pertama menembus jendela ruang kendali, menyinari wajah Bimo yang lelah. Ia tidak tidur semalaman. Matanya merah, namun pikirannya terasa lebih jernih, meskipun juga lebih berat.
Ia telah menemukan beberapa anomali. Bukan bukti konklusif, tapi cukup untuk menanamkan keraguan yang dalam. Beberapa kali, Siti menyarankan rute yang sedikit memutar, atau menyarankan untuk menunda penyelaman karena "kondisi arus yang tidak stabil" padahal data sensor menunjukkan sebaliknya. Bimo dulu menganggapnya sebagai kehati-hatian Siti yang berlebihan. Sekarang, ia melihatnya sebagai upaya untuk mengulur waktu, atau mengalihkan perhatian.
Sebuah gambaran muncul di benaknya: Togar Simanjuntak, tersenyum ramah, namun matanya dingin. Togar adalah pemangsa yang sabar. Dia akan menunggu, mengamati, dan kemudian menyerang pada saat yang paling tepat. Dan jika Siti adalah bagian dari rencana Togar, bahkan tanpa ia sadari, maka Togar telah berhasil menempatkan racunnya di jantung tim mereka.
Bimo menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pelipisnya. Beban ini terasa lebih berat daripada kegagalan misi itu sendiri. Kegagalan bisa diperbaiki, data bisa dikumpulkan ulang. Tapi pengkhianatan, atau potensi pengkhianatan dari seseorang yang ia percayai, itu adalah luka yang jauh lebih dalam.
Ia menatap ke luar jendela, melihat laut yang kini berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Indah, namun penuh rahasia. Seperti Siti. Kecurigaan Bimo terhadap Siti, yang dulunya adalah sekutunya yang tak tergoyahkan, kini menjadi beban baru yang lebih berat dari kegagalannya sendiri. Apakah Siti benar-benar mengkhianati mereka, ataukah ia hanya korban dari idealismenya sendiri, dimanipulasi untuk melayani tujuan musuh? Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan tanpa jawaban, seperti awan badai yang siap meletus.