Bab 14: Gerbang yang Terlupakan
Matahari pagi di atas perairan Laut Banda terasa bagaikan lidah api yang menjilat tengkuk tanpa ampun. Bimo Satrio berdiri mematung di tepi buritan kapal *Bintang Timur*, sementara jemarinya yang terbungkus sarung tangan neoprene meraba katup tangki oksigen milik Dara Puspita dengan saksama. Bau solar yang terbakar dari mesin kapal bercampur dengan aroma amis garam yang tajam, menciptakan lapisan udara berat yang seolah menyumbat pori-pori kulit. Di sekeliling mereka, permukaan air tampak begitu tenang, sebuah hamparan pualam biru raksasa yang menyembunyikan rahasia di balik kedalamannya yang tak terjangkau cahaya. Pria itu memastikan segel karet pada regulator tidak menunjukkan retakan sekecil rambut pun. Baginya, keamanan adalah harga mati yang tidak dapat ditawar dalam perjalanan menuju perut bumi yang penuh misteri ini.
"Tekanan udara saat ini berada pada angka stabil di posisi dua ratus bar, Mbak Dara," ujar Bimo dengan nada rendah yang terjaga, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya. "Sebagai langkah awal, saya mohon agar Anda memeriksa masker Anda sekali lagi demi memastikan kedap udara yang sempurna."
Dara Puspita mengangguk singkat, sebuah gerakan mekanis yang menunjukkan konsentrasi penuh. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum ceria kini tampak kaku, menyerupai pahatan semen yang baru saja mengeras di bawah terik matahari. Dengan gerakan yang sangat efisien, dia menyesuaikan letak sabuk pemberat di pinggangnya agar distribusi beban terasa seimbang. Ketangkasannya mencerminkan jam terbang tinggi sebagai seorang pilot yang sudah terbiasa beroperasi dalam ruang kemudi yang sempit dan penuh tekanan.
"Seluruh sistem pemantauan berada pada indikator hijau, Bimo. Saya hanya memiliki keinginan kuat untuk segera memulai penyelaman ini sekarang juga," sahut Dara dengan suara yang tegas namun tenang. "Menunggu di atas dek ini rasanya serupa dengan terjebak di lampu merah yang tidak kunjung berubah warnanya, sementara waktu terus berputar."
Mbak Lastri mendadak muncul dari arah dapur kapal, membawa nampan kayu berisi dua gelas teh manis hangat yang uapnya menari-nari ditiup angin laut yang kencang. Wajahnya yang bulat memancarkan kecemasan mendalam yang tidak mampu disembunyikan sepenuhnya oleh senyum yang dipaksakan pada bibirnya. Dia meletakkan gelas-gelas itu dengan hati-hati, seolah-olah getaran kecil saja bisa merusak suasana yang sudah tegang.
"Le, Nduk, minumlah ramuan ini terlebih dahulu agar tubuh kalian tetap hangat. Perut yang kosong merupakan musuh utama bagi siapa pun yang berniat untuk bertamu ke rumah para penunggu laut yang agung," ucap Mbak Lastri sambil menyodorkan gelas-gelas tersebut.
"Mbak Lastri, kami baru saja menyelesaikan sarapan dalam porsi yang cukup besar beberapa saat yang lalu," kata Bimo sambil menyunggingkan senyum tipis, mencoba meredakan ketegangan yang menggantung di udara.
"Ah, itu kan kejadian satu jam yang lalu, sekarang kondisinya sudah tentu berbeda di dalam perut kalian. Laut itu sangat luas dan tidak terduga, Le, jangan sampai kalian kehilangan tenaga saat berada di bawah sana," balas Mbak Lastri dengan nada yang tidak menerima penolakan. Dia kemudian menambahkan dengan suara yang lebih pelan, hampir menyerupai bisikan doa. "Ibu sudah memanjatkan doa agar jalan kalian senantiasa terang. Jangan pernah lupa, jika kalian melihat sesuatu yang tidak lazim, jangan sekali-kali menegurnya."
Aki Jajang duduk tenang di atas tumpukan jaring nilon di sudut dek, jemarinya yang keriput dan legam sibuk memilin tali dengan ritme yang teratur. Matanya yang mulai memutih akibat katarak menatap lurus ke arah cakrawala, seolah-olah dia memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak mampu ditangkap oleh radar tercanggih milik Meiling. Pria tua itu menghentikan gerakannya sejenak, lalu menarik napas panjang yang terdengar berat.
"Ingatlah pesan Aki dengan saksama, Bimo. Laut bukanlah jalan tol yang dapat kau lalui sesuka hatimu tanpa aturan," gumam Aki Jajang dengan suara serak yang berwibawa. "Tempat itu memiliki pintu dan penjaga yang harus dihormati. Apabila kau datang dengan membawa niat yang tulus, maka pintu itu akan terbuka dengan sendirinya untukmu."
"Aki, tujuan utama kami hanyalah untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang telah lama terkubur," sahut Bimo sambil membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai bentuk penghormatan tertinggi pada sang tetua.
"Sering kali, jawaban yang kau cari justru tersembunyi di balik pertanyaan-pertanyaan yang belum sanggup kau ajukan secara jujur, atuh," balas Aki Jajang dengan senyum misterius. "Berhati-hatilah terhadap arus yang mengalir di bawah sana. Aki merasakan bahwa ia sedang merasa lapar pada hari yang istimewa ini."
Meiling Wijaya berlari keluar dari ruang kendali dengan tergesa-gesa, sementara headphone masih melingkar erat di lehernya yang jenjang. Wajahnya tampak pucat pasi, dan matanya terpaku pada tablet digital yang menampilkan grafik-grafik rumit yang terus berubah. Dia berhenti tepat di depan Bimo dan Dara, napasnya sedikit tersengal akibat kepanikan yang melanda dirinya.
"Bimo, Dara, saya mohon dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu sebelum kalian melompat ke air. Mengapa anomali magnetik di area ini terus menunjukkan kenaikan yang sangat drastis dan tidak masuk akal?" tanya Meiling dengan suara yang meninggi. Dia menunjukkan layar tabletnya yang menampilkan citra sonar yang tidak biasa. "Sinyal sonar di koordinat target ini menunjukkan bentuk kotak yang sangat sempurna, namun tertutup oleh lapisan organik yang sangat tebal. Penampakannya terlihat seperti sebuah gedung raksasa yang dibungkus oleh selimut lumut purba."
"Mungkin fenomena tersebut hanyalah formasi batuan sedimen biasa yang terbentuk secara alami, Mei," potong Silas Papare yang sedang sibuk memeriksa kekuatan tali pengaman di sisi kapal. Suaranya yang berat dan dalam memberikan rasa aman yang mungkin saja semu bagi mereka yang mendengarnya.
Pria bertubuh kekar itu menarik tali tersebut dengan tenaga yang besar untuk menguji ketahanannya. "Kaka sudah memastikan bahwa tali ini berada dalam kondisi yang sangat kuat dan prima. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan di bawah sana, segera tarik tali ini sebanyak tiga kali, maka Kaka akan menarik kalian kembali ke permukaan secepat kilat seperti ikan tuna yang tertangkap jaring."
Bimo menatap dalam ke arah mata Dara, mencari secercah kepastian di balik tatapan pilot tersebut. Dara hanya memberikan isyarat jempol ke atas, sebuah simbol universal yang cukup untuk menenangkan gejolak di dalam dada Bimo. Mereka berdua melangkah serempak menuju tepi dek kapal yang berbatasan langsung dengan air. Suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal terdengar seperti detak jantung raksasa yang sedang menanti kedatangan mereka. Bimo memasang maskernya, merasakan dinginnya karet yang menekan kulit wajahnya dengan kuat. Rasa asin mulai terasa di bibirnya, berasal dari sisa-sisa uap air laut yang beterbangan di udara.
"Tiga, dua, satu," bisik Bimo sebagai aba-aba terakhir sebelum mereka menjatuhkan diri ke belakang secara bersamaan.
Dunia seketika berubah secara drastis, dari kebisingan mesin kapal yang menderu menjadi keheningan biru yang seolah memekakkan telinga. Air laut yang dingin merayap masuk melalui celah-celah setelan selam, memberikan kejutan pada saraf-saraf tubuh Bimo yang tadinya terpapar panas matahari. Suara mendesis yang ritmis dari regulator oksigen menjadi satu-satunya irama yang menemani perjalanannya menuju kegelapan. Di bawah sana, kegelapan biru pekat seolah sudah bersiap untuk menelan cahaya senter yang mereka bawa dalam genggaman.
Bimo menyalakan lampu kepalanya, membelah kepekatan air dengan seberkas cahaya yang menari-nari di antara partikel sedimen yang melayang. Mereka turun secara perlahan, mengikuti tali pemandu yang menjulur ke bawah seperti urat nadi yang menghubungkan mereka dengan kehidupan di permukaan bumi. Dara berada tepat di sampingnya, dengan gerakan tubuh yang tetap tenang dan terkendali sepenuhnya. Bimo sesekali melirik jam tangannya untuk memantau kedalaman yang terus bertambah secara konstan.
Sepuluh meter telah terlewati, kemudian angka di jamnya menunjukkan lima belas meter. Tekanan air yang semakin besar mulai menghimpit rongga dadanya, memaksa Bimo untuk melakukan teknik ekualisasi pada telinganya secara berulang kali. Tepat saat itu, sebuah bunyi letupan kecil di dalam kepalanya memberikan rasa lega yang sesaat dari tekanan yang menyiksa.
"Bimo, apakah Anda mampu mendengar suara aneh yang sedang bergema saat ini?" Suara Dara terdengar melalui sistem komunikasi helm selam, meskipun terganggu oleh sedikit statis.
"Suara apakah yang Anda maksud, Dara? Saya tidak menangkap apa pun selain suara napas saya sendiri," sahut Bimo sambil menajamkan pendengarannya.
"Suara itu terdengar menyerupai deru mesin, namun memiliki karakteristik yang berbeda. Ada getaran rendah yang sangat kuat hingga saya bisa merasakannya merambat sampai ke tulang belakang saya," jelas Dara dengan nada yang mulai menunjukkan kekhawatiran.
Bimo mencoba untuk memfokuskan seluruh indranya pada lingkungan sekitar yang sunyi. Meskipun demikian, yang dia dengar hanyalah napasnya yang berat dan suara gelembung udara yang naik menuju permukaan. "Mungkin saja hal tersebut merupakan efek dari tekanan air yang tinggi terhadap persepsi pendengaran Anda, Dara. Saya mohon agar Anda tetap fokus pada navigasi kita, karena kompas kuno ini menunjukkan bahwa kita sudah berada sangat dekat dengan tujuan."
Pria itu mengeluarkan kompas perunggu peninggalan ayahnya yang telah dimodifikasi secara khusus agar tahan terhadap tekanan tinggi. Jarum kompas itu sempat berputar liar tanpa arah sebelum akhirnya berhenti dan menunjuk ke arah tebing bawah laut yang menjulang di sebelah kiri mereka. Cahaya senter Bimo menyapu dinding karang yang tampak mati dan tidak bernyawa. Tidak ada warna-warni terumbu karang yang biasanya menghiasi perairan dangkal yang penuh cahaya. Di tempat ini, yang tersisa hanyalah struktur abu-abu yang ditutupi oleh lumut aneh berwarna hijau gelap yang hampir menyerupai warna hitam legam.
Tanpa peringatan apa pun, air di sekitar mereka mendadak mulai bergolak dengan sangat hebat. Bimo merasakan tubuhnya terdorong ke samping oleh sebuah kekuatan yang sangat luar biasa besar. Arus bawah laut yang tiba-tiba menguat itu menghantam mereka layaknya palu godam yang diayunkan oleh raksasa yang sedang murka. Pasir di dasar laut terangkat dengan cepat, mengaburkan pandangan mereka dalam sekejap mata. Dunia di bawah sana berubah menjadi keruh, cokelat, dan sangat berbahaya bagi keselamatan mereka.
"Dara! Segera pegang tali pemandu dengan sekuat tenaga!" teriak Bimo, meskipun suaranya terdengar sangat teredam oleh kepadatan air.
Dia melihat Dara terombang-ambing tanpa kendali, tangannya meraba-raba di dalam kekeruhan air untuk mencari pegangan yang kokoh. Arus yang ganas itu mencoba menyeret mereka menuju palung gelap yang menganga lebar di bawah kaki mereka. Bimo mengerahkan seluruh kekuatan ototnya, menendang sirip selamnya dengan tenaga maksimal untuk melawan arus. Dia berhasil menjangkau lengan Dara dan menariknya mendekat ke arah dinding karang yang stabil. Jari-jarinya mencengkeram celah batu dengan sangat erat, hingga kuku-kukunya terasa sakit di balik lapisan sarung tangan.
"Saya mohon tetaplah tenang, Dara! Atur ritme napas Anda dengan baik agar tidak memboroskan cadangan oksigen yang kita miliki!" perintah Bimo dengan tegas.
Dara tampak terengah-engah, dengan gelembung-gelembung udara yang keluar dari regulatornya dalam jumlah banyak dan tidak beraturan. "Arus ini benar-benar terlalu kuat untuk dilawan, Bimo! Rasanya seperti ada sebuah kekuatan besar yang sedang menarik kita paksa masuk ke dalam lubang hisap yang tak berdasar!"
"Ikutilah gerakan saya! Kita akan bergerak merayap di sepanjang dinding karang ini untuk menghindari pusat arus!" Bimo memberikan instruksi sambil mulai bergerak secara perlahan.
Mereka bergerak inci demi inci, melawan tekanan air yang seolah memiliki keinginan untuk meremukkan setiap tulang rusuk di dalam tubuh mereka. Setiap gerakan yang dilakukan terasa sangat berat, seolah-olah mereka sedang mendaki gunung yang curam dengan beban ratusan kilogram di punggung. Bimo dapat merasakan detak jantungnya bergema keras di dalam helm, sebuah perkusi ketakutan yang terus mencoba untuk merusak konsentrasi dan kewaspadaannya. Cahaya senternya sesekali menangkap bayangan-bayangan aneh pada dinding karang, memperlihatkan bentuk-bentuk yang terasa terlalu simetris untuk disebut sebagai hasil bentukan alam.
Setelah melalui perjuangan yang sangat melelahkan, arus ganas itu mereda dengan kecepatan yang sama saat ia datang tadi. Keheningan kembali menyelimuti lingkungan sekitar, menyisakan rasa lelah yang luar biasa pada otot-otot tubuh mereka yang menegang. Bimo menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang dingin, berusaha menenangkan napasnya yang masih memburu. Dia menoleh ke arah Dara, yang juga tampak sangat kepayahan akibat insiden barusan.
"Apakah Anda berada dalam kondisi yang baik-baik saja setelah kejadian tadi?" tanya Bimo dengan penuh perhatian.
"Hampir saja saya menjadi bagian dari sejarah yang terkubur di dasar laut ini selamanya," jawab Dara dengan tawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan. "Aksen Minang saya hampir saja keluar karena saking takutnya, Bimo. Itu merupakan indikator bahwa saya benar-benar berada dalam kondisi tertekan."
"Kita telah sampai di koordinat yang tepat. Saya mohon, lihatlah ke arah depan kita sekarang," ucap Bimo sambil mengarahkan senter berkekuatan tingginya ke arah dinding di hadapan mereka.
Di sana, di balik lapisan tebal karang mati dan sedimen yang telah menempel selama berabad-abad, terdapat sebuah tonjolan besar yang mencolok. Bentuknya persegi panjang sempurna, menjulang tinggi hingga menghilang ke dalam kegelapan yang ada di atas mereka. Bimo mendekat dengan hati-hati, tangannya sedikit gemetar saat dia mencabut pisau selam dari sarungnya yang terikat di paha. Dia mulai mengikis lapisan karang yang keras itu dengan gerakan yang mantap. Getaran kasar merambat melalui gagang pisau saat ujung bajanya beradu dengan sesuatu yang terasa jauh lebih keras daripada batu karang pada umumnya.
Sedimen putih mengepul ke udara, menghalangi pandangan mereka sejenak sebelum akhirnya tersapu oleh sisa-sisa arus yang masih mengalir lemah. Bimo terus bekerja tanpa henti, mengabaikan rasa pegal yang mulai menjalar di kedua lengannya yang terus bergerak. Sedikit demi sedikit, sebuah permukaan yang sangat halus dan gelap mulai menampakkan dirinya di balik kerak laut.
"Ini bukanlah batu karang alami, Dara," bisik Bimo dengan nada yang penuh dengan ketakjuban. "Ini adalah batuan basal. Hitam, padat, dan dipoles dengan tingkat kesempurnaan yang luar biasa."
Dara segera ikut membantu proses pembersihan tersebut, menggunakan tangannya untuk menyingkirkan sisa-sisa lumut yang masih menempel erat. "Bimo, saya mohon perhatikan bagian ini. Terdapat sebuah ukiran yang sangat jelas di sini."
Bimo mengarahkan cahaya senternya ke titik yang ditunjuk oleh Dara dengan saksama. Di sana, tersembunyi di balik kerak laut yang tebal, terdapat sebuah garis melengkung yang dipahat sangat dalam ke dalam batu. Bimo membersihkan area di sekitarnya dengan gerakan yang lebih cepat dan penuh semangat. Pola itu mulai terbentuk secara utuh, menampakkan sebuah simbol yang menyerupai pusaran air atau mungkin sebuah galaksi spiral, dikelilingi oleh karakter-karakter kuno yang tidak pernah Bimo temukan di buku teks arkeologi mana pun.
"Inilah gerbang yang selama ini kita cari," kata Bimo, suaranya kini dipenuhi oleh kekaguman yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. "Catatan yang ditinggalkan oleh ayah saya terbukti benar. Memang ada sebuah struktur buatan manusia yang berdiri di kedalaman yang mustahil ini."
Mereka berdua mundur beberapa meter untuk dapat melihat skala penuh dari penemuan luar biasa yang ada di hadapan mereka. Cahaya senter mereka, yang biasanya terasa sangat terang di permukaan, kini tampak kecil dan tidak berdaya di hadapan kemegahan gerbang batu purba itu. Tingginya mungkin mencapai sepuluh meter, dengan lebar yang diperkirakan mampu dilewati oleh dua kendaraan besar sekaligus secara berdampingan. Gerbang itu berdiri dengan tegak, sebuah monumen bisu yang seolah menantang perjalanan waktu dan tekanan laut yang menghancurkan.
"Bagaimanakah mungkin orang-orang pada zaman dahulu mampu membangun struktur semegah ini di bawah tekanan air yang begitu besar?" tanya Dara dengan suara yang penuh dengan rasa tidak percaya. "Tekanan di kedalaman ini saja sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan kapal kayu terkuat sekalipun."
"Mungkin saja pada saat gerbang ini dibangun, wilayah ini belum tenggelam di bawah permukaan laut," jawab Bimo sambil terus mengamati setiap detail ukiran yang ada. "Atau mungkin mereka memiliki akses terhadap teknologi yang melampaui batas imajinasi manusia modern saat ini."
Bimo mendekati bagian tengah gerbang, tepat di mana simbol pusaran misterius itu berada. Dia mendadak merasakan sebuah dorongan yang tidak dapat dijelaskan oleh logika untuk menyentuh permukaan batu tersebut. Rasanya seolah-olah ada sebuah kekuatan magnetis yang menarik tangannya secara perlahan namun pasti. Dia melepaskan sarung tangan neoprenenya, membiarkan kulit telapak tangannya bersentuhan langsung dengan air laut yang terasa membeku.
"Bimo, apa yang sedang Anda rencanakan? Saya mohon agar Anda tidak menyentuh benda asing itu secara sembarangan tanpa prosedur yang jelas!" Dara memberikan peringatan dengan nada cemas.
Bimo tidak mengindahkan peringatan tersebut dan tetap meletakkan telapak tangannya tepat di pusat simbol pusaran itu. Permukaan batu itu terasa sangat aneh di kulitnya—tidak dingin seperti air di sekitarnya, melainkan terasa hangat, seolah-olah ada sebuah kehidupan yang sedang berdenyut di dalamnya. Teksturnya terasa sehalus kain sutra, namun pada saat yang sama memberikan kesan kekuatan yang sangat tak tergoyahkan. Serta-merta, sebuah getaran rendah mulai merambat melalui medium air di sekitar mereka.
Getaran itu begitu kuat hingga Bimo dapat merasakannya beresonansi di dalam paru-parunya sendiri. Suara yang dihasilkan bukan berasal dari lingkungan luar, melainkan seolah-olah bergema langsung di dalam tengkoraknya dengan frekuensi yang unik. Garis-garis ukiran di tengah gerbang mulai memancarkan cahaya biru redup yang sangat indah. Cahaya itu tidaklah menyilaukan, namun di tengah kegelapan abadi dasar laut, ia tampak seperti sebuah bintang yang baru saja dilahirkan ke alam semesta.
"Bimo! Saya mohon segera mundur dari posisi Anda sekarang juga!" teriak Dara sambil menarik bahu Bimo dengan paksa.
Bimo tetap terpesona, seolah-olah jiwanya telah terpikat oleh fenomena tersebut. Cahaya biru itu semakin lama semakin terang, merambat mengikuti setiap garis ukiran yang ada dan memetakan seluruh struktur gerbang secara mendetail. Simbol-simbol kuno itu kini bercahaya dengan intensitas yang stabil, seolah-olah baru saja dialiri energi listrik setelah tertidur selama ribuan tahun lamanya. Air di sekitar gerbang mulai berputar secara perlahan, menciptakan sebuah pusaran kecil yang menarik sedimen-sedimen dari lantai laut ke pusatnya.
"Meiling! Silas! Apakah kalian mampu melihat fenomena ini melalui monitor pemantauan di atas kapal?" Dara berteriak ke arah radio komunikasi dengan nada panik.
"Kami sedang menyaksikannya, Dara! Sinyal magnetik dari posisi kalian meledak melampaui batas skala pengukuran! Apa yang sebenarnya kalian lakukan di bawah sana?" Suara Meiling terdengar sangat panik, bercampur dengan suara statis yang semakin menguat.
"Bimo baru saja menyentuh pusat gerbang tersebut! Dan sekarang, seluruh struktur ini memancarkan cahaya biru yang sangat terang!" lapor Dara dengan suara yang bergetar.
Bimo masih terpaku pada cahaya biru yang menawan itu. Di matanya, cahaya tersebut bukan sekadar fenomena fisik atau kimia biasa. Baginya, itu adalah sebuah jawaban yang selama ini ia cari, sebuah jejak nyata yang ditinggalkan oleh ayahnya. Dia merasa seolah-olah gerbang purba ini mengenali kehadirannya, seolah-olah dia telah menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk mencapai momen yang menentukan ini. Rasa lelah dan ketakutan yang tadi sempat menghimpitnya kini lenyap tanpa bekas, digantikan oleh sebuah rasa damai yang sangat aneh namun menenangkan.
"Dara, saya mohon lihatlah apa yang sedang terjadi di depan kita," bisik Bimo dengan penuh rasa takjub.
Di bagian tengah gerbang, sebuah celah tipis mulai terbuka secara perlahan. Suara gesekan batu yang sangat berat terdengar menyerupai suara guntur yang bergema di bawah permukaan air. Gelembung-gelembung udara berukuran besar keluar dari celah tersebut, naik menuju permukaan seperti balon-balon raksasa yang dilepaskan. Dari balik celah yang semakin lebar, sebuah cahaya yang jauh lebih terang mulai memancar keluar, memperlihatkan sebuah lorong gelap yang menuju ke tempat yang jauh lebih dalam lagi.
"Kita harus segera masuk ke dalam lorong tersebut, Dara," kata Bimo dengan nada yang penuh keyakinan.
"Apakah Anda sudah kehilangan akal sehat? Cadangan oksigen kita saat ini hanya tersisa empat puluh persen saja! Kita sama sekali tidak mengetahui bahaya apa yang menanti di balik gerbang itu!" Dara menarik tangan Bimo dengan tenaga yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Inilah tujuan utama dari seluruh ekspedisi kita, Dara. Inilah alasan mendasar mengapa kita berada di tempat ini sekarang. Jika kita memutuskan untuk kembali sekarang, kita mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan kedua seumur hidup kita," tegas Bimo.
Dara menatap gerbang yang terbuka itu dengan ragu, lalu beralih menatap mata Bimo yang penuh dengan tekad. Dia dapat melihat sebuah kemauan yang tidak akan tergoyahkan oleh apa pun di mata pria itu. Pilot itu akhirnya menghela napas panjang, menciptakan awan gelembung kecil di depan maskernya.
"Baiklah, Tuan Oseanograf yang keras kepala. Namun saya peringatkan, jika kita sampai tewas di bawah sini, saya akan menghantui Anda selamanya. Apakah Anda mengerti?" ucap Dara akhirnya mengalah.
Bimo mengangguk dengan tulus. "Tentu saja, Mbak Dara. Saya sangat menghargai kesediaan Anda untuk menemani saya dalam misi yang berbahaya ini."
Mereka berdua melakukan gerakan *fist bump* singkat, sebuah janji bisu di antara dua penjelajah yang baru saja menemukan jalan baru di peta dunia yang belum pernah terjamah manusia modern. Bimo memimpin jalan, berenang secara perlahan menuju celah gerbang yang memancarkan cahaya biru yang menghipnotis. Setiap gerakan sirip selamnya membawa dia selangkah lebih dekat ke misteri yang telah menghantui keluarganya selama puluhan tahun.
Saat mereka melewati ambang gerbang, tekanan di sekitar tubuh mereka terasa berubah secara mendadak. Air tidak lagi terasa berat dan menghimpit, melainkan terasa jauh lebih ringan, hampir menyerupai densitas udara di permukaan. Cahaya biru itu kini menyelimuti seluruh tubuh mereka, memberikan sebuah sensasi hangat yang sangat menenangkan jiwa. Bimo menoleh ke belakang sejenak, melihat gerbang raksasa itu mulai menutup kembali dengan perlahan, seolah-olah mengunci mereka di dalam sebuah dunia yang sama sekali baru.
"Bintang Timur, apakah kalian masih dapat mendengar suara kami di sana?" Suara Meiling terdengar sangat jauh dan terputus-putus oleh gangguan sinyal yang parah. "Sinyal kalian... hilang... kami... tidak bisa... melihat..."
Setelah itu, hanya ada keheningan total yang menyelimuti mereka. Bimo mencoba menyalakan senternya kembali, namun kali ini dia menyadari bahwa cahaya senter tersebut tidak lagi dibutuhkan. Dinding lorong di hadapan mereka terbuat dari sejenis kristal transparan yang memancarkan cahaya lembut dari dalam dirinya sendiri. Di kejauhan, Bimo dapat melihat bentuk-bentuk bangunan yang melayang secara ajaib, jembatan-jembatan air yang menghubungkan menara-menara tinggi, dan sebuah kota yang seolah-olah dikonstruksi sepenuhnya dari cahaya dan air.
"Dara, apakah Anda juga menyaksikan keindahan yang luar biasa ini?" tanya Bimo, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
Dara tidak segera menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya berdiri terpaku, dengan tangannya yang menempel pada dinding kristal yang berkilauan. Di dalam matanya terpantul keindahan kota bawah laut yang selama ini hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur belaka. Mereka kini bukan lagi sekadar penyelam biasa; mereka telah menjadi saksi hidup dari sebuah peradaban yang hilang, penjelajah di jalan raya yang tidak pernah tercantum di peta mana pun di dunia.
Namun, di tengah kekaguman yang luar biasa itu, sebuah bayangan berukuran sangat besar melintas dengan cepat di atas posisi mereka. Bayangan itu bergerak dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal untuk ukuran sebesar itu di dalam air. Bimo segera mematikan senternya dan menarik Dara untuk bersembunyi di balik sebuah pilar kristal yang besar. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang akibat lonjakan adrenalin yang tiba-tiba.
"Benda apakah yang baru saja melintas di atas kita tadi, Bimo?" bisik Dara dengan suara yang sangat pelan.
"Saya tidak memiliki jawaban pasti untuk itu, namun satu hal yang jelas adalah kita tidak sedang sendirian di tempat ini," sahut Bimo sambil waspada.
Bimo melirik ke arah pergelangan tangannya untuk memeriksa kompas kuno itu. Jarum kompas tersebut tidak lagi menunjuk ke arah utara sebagaimana mestinya. Jarumnya kini berputar dengan frekuensi yang sangat cepat, seolah-olah telah kehilangan arah di sebuah tempat di mana hukum-hukum fisika konvensional tidak lagi berlaku sepenuhnya. Di tengah putaran yang liar itu, jarumnya sesekali berhenti sejenak dan menunjuk ke arah sebuah menara tinggi yang berdiri megah di pusat kota, menara yang puncaknya diselimuti oleh kabut biru yang sangat tebal.
"Ayah..." gumam Bimo dengan suara yang hampir tak terdengar.
Dia merasakan sebuah firasat kuat bahwa ayahnya berada di sana, di dalam menara itu, sedang menantinya untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai belasan tahun yang lalu. Perjalanan panjang ini ternyata belum berakhir. Justru, momen ini merupakan awal dari sebuah babak baru yang mungkin akan menjadi yang paling berbahaya dalam hidup mereka. Bimo memeriksa sisa cadangan oksigennya sekali lagi dengan perasaan cemas. Angka di monitor menunjukkan tiga puluh lima persen. Waktu yang mereka miliki sangatlah terbatas.
"Marilah kita segera beranjak, Dara. Kita harus bergerak sebelum entitas yang menjaga tempat ini menyadari keberadaan kita sepenuhnya," ajak Bimo.
Mereka mulai berenang menyusuri lorong kristal tersebut, berusaha menjaga profil tubuh serendah mungkin agar tidak mudah terdeteksi. Di sekeliling mereka, ikan-ikan dengan bentuk yang sangat aneh dan tubuh yang mampu berpendar berenang dengan tenang, seolah-olah kehadiran manusia di tempat itu adalah hal yang sudah biasa terjadi. Bimo terus menatap lurus ke depan, ke arah menara cahaya yang menjulang tinggi, sementara di belakang mereka, gerbang batu raksasa itu telah tertutup sepenuhnya, menyisakan hanya kegelapan laut yang dingin di luar sana.
Tiba-tiba, sebuah suara dentuman yang sangat keras bergema di seluruh lorong kristal itu. Getaran yang dihasilkan begitu kuat hingga membuat dinding kristal di sekitar mereka mulai menampakkan retakan-retakan kecil. Bimo dan Dara saling berpandangan dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran. Sesuatu yang berukuran sangat besar sedang mendekati posisi mereka, dan mereka merasakan bahwa entitas itu bukanlah sesuatu yang ramah.
"Dara, saya mohon segera lari dari sini!" teriak Bimo dengan penuh kepanikan.
Mereka memacu sirip selam mereka dengan kekuatan penuh, meluncur dengan cepat di antara pilar-pilar cahaya saat bayangan raksasa itu kembali menampakkan dirinya. Kali ini, mereka dapat melihat sepasang mata berwarna merah menyala yang menatap tajam di tengah kegelapan lorong yang remang. Perjalanan pulang kini terasa menjadi sangat jauh, dan jalan yang terbentang di hadapan mereka dipenuhi dengan rintangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya dalam mimpi terburuk sekalipun.
Di permukaan laut, kapal *Bintang Timur* mulai bergoyang dengan sangat hebat akibat guncangan dari bawah. Aki Jajang berdiri dengan tegak di tepi dek, menatap permukaan air yang mulai mengeluarkan buih berwarna biru yang aneh. Pria tua itu menghela napas panjang yang sarat akan makna, lalu memejamkan matanya dengan perlahan.
"Pintu kuno itu kini telah terbuka sepenuhnya, Bimo. Sekarang, segalanya tergantung pada bagaimana kau mampu menemukan jalan keluarnya kembali," ucap Aki Jajang dengan suara yang tenang namun penuh wibawa.
Mbak Lastri tanpa sengaja menjatuhkan nampan teh yang dibawanya, membiarkan gelas-gelas kaca itu hancur berkeping-keping di atas dek kapal. "Le... Nduk... Saya mohon pulanglah dengan selamat ke pelukan kami," bisiknya dengan suara gemetar, sementara air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang kemerahan.
Meiling terus berteriak di depan monitor kendali yang kini hanya menampilkan garis-garis statis yang kacau. Silas Papare memegang erat tali pengaman yang kini terasa sangat ringan di tangannya, seolah-olah beban yang tadinya berada di ujung tali tersebut telah hilang ditelan oleh samudra yang luas. Di bawah sana, di kedalaman yang tidak terjangkau oleh akal manusia, Bimo Satrio dan Dara Puspita baru saja memulai sebuah petualangan besar yang akan mengubah jalannya sejarah dunia untuk selamanya.
Kegelapan kembali menyelimuti gerbang batu purba itu, menyembunyikannya di balik lapisan karang mati yang seolah-olah tumbuh kembali dengan kecepatan yang tidak wajar. Rahasia besar itu tetap terjaga dengan aman, setidaknya untuk saat ini, sampai cahaya biru itu kembali memanggil dari balik kegelapan abadi yang sunyi. Bimo mendadak merasakan sebuah tarikan yang sangat kuat pada kaki kanannya. Sesuatu yang tidak terlihat telah berhasil menangkapnya dengan cengkeraman yang sangat kuat.
Pria itu berbalik dengan cepat untuk melihat apa yang menyerangnya, namun yang dia temukan hanyalah sepasang mata merah yang menatapnya dengan penuh kebencian dan kemarahan. Indikator oksigen di pergelangan tangannya kini menunjukkan angka yang sangat kritis, yaitu lima belas persen.
"Bimo!" teriakan histeris dari Dara adalah hal terakhir yang mampu ditangkap oleh indra pendengarannya sebelum semuanya berubah menjadi kegelapan yang pekat.
Apakah momen ini merupakan akhir tragis dari pencarian panjangnya, ataukah ini hanyalah sebuah ujian lain yang diberikan oleh laut yang tidak pernah mengenal kata maaf? Jawaban atas pertanyaan itu kini terbaring bisu di balik gerbang yang telah tertutup rapat, di dalam sebuah kota legendaris yang seharusnya tidak pernah ada. Di tempat itu, waktu seolah berhenti berdetak dan legenda kuno bertransformasi menjadi kenyataan yang nyata. Bimo mencoba untuk meronta dengan sisa tenaga yang dimilikinya, namun kekuatannya perlahan-lahan menghilang ditelan keputusasaan.
Dia merasa tubuhnya seolah-olah menjadi selembar daun kering yang hanyut terbawa arus sungai yang sangat deras, menuju ke arah air terjun yang tidak memiliki ujung. Di saat-saat terakhir sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dia melihat sebuah bayangan manusia berdiri tegak di kejauhan, melambaikan tangan ke arahnya dengan gerakan yang lembut. Bayangan itu terasa sangat akrab di dalam ingatannya, sosok yang sangat dia kenali sepanjang hidupnya.
"Ayah?" bisik Bimo di dalam relung batinnya yang paling dalam.
Setelah itu, keheningan total menyelimuti seluruh eksistensinya. Hanya suara detak jantungnya sendiri yang semakin lama semakin melemah, bergema di dalam helm selam yang kini terasa sempit layaknya peti mati besi yang terkunci rapat. Di atas sana, matahari terus bersinar dengan terangnya, seolah tidak memedulikan drama kehidupan dan kematian yang sedang berlangsung di bawah kakinya. Laut Banda tetap tampak tenang di permukaan, menyimpan rahasia terbesarnya dalam dekapan biru yang abadi dan tak tersentuh oleh waktu.