Fragmen-fragmen perkamen terbentang di atas meja penuh guratan seperti tulang-tulang patah. Elara menelusurkan jari tuanya yang keriput di sepanjang tepi sebuah manifes pengiriman, kulit vellum itu terasa kasar di bawah sentuhannya. Pengiriman gandum. House Valdris. Ia menyisihkannya lalu meraih sobekan lain—kontrak tentara bayaran yang memuat segel mata terbuka milik Serene Conclave. Tinta biru-kehitaman mengabur di bagian yang pernah diremas terlalu keras oleh seseorang saat melarikan diri dari brankas. Tangannya masih gemetar, menyimpan gaung pelarian putus asa itu, waktu pinjaman membebani sendi-sendinya seperti rantai besi. Ia memaksa jemarinya terus bergerak.
Cahaya lilin berkelap-kelip di seantero satu-satunya ruangan persembunyian itu, melemparkan bayang-bayang yang membuat fragmen-fragmen arsip menari. Ruangan itu berbau batu dingin dan ketakutan lama, bau jam-jam putus asa yang dihabiskan berdesakan di sini sementara pasukan musuh menyisir kota di atas. Selapis tipis debu melapisi segalanya kecuali meja tempat ia bekerja—satu-satunya permukaan bersih di sebuah ruangan yang sudah lupa seperti apa rasanya hangat.
“Pengiriman gandum Valdris,” gumamnya, suaranya serak karena lama tak digunakan. “Kontrak tentara bayaran Conclave. Jaringan intelijen Thornbound.”
Ia menarik fragmen lain mendekat. Segel duri-silang Thornbound menatapnya, tertekan ke dalam lilin hitam dengan pola khas yang menandai serikat pembunuh mereka. Tiga jalur terpisah. Tiga musuh yang kelak terpisah, pada akhirnya. Setiap dokumen memuat tanggal dari enam bulan terakhir, masing-masing merujuk pada sumber daya yang dipindahkan, aset yang ditempatkan.
Kepalanya berdenyut, menyimpan gema waktu pinjaman. Sebuah aftershock temporal merambat di penglihatannya—citra-citra samar masa depan yang mungkin tak pernah datang, merembes ke masa kini. Ia memejamkan mata rapat-rapat sampai hantu-hantu itu memudar. Saat ia membukanya lagi, sebuah pola muncul dari kertas-kertas yang berserakan.
“Jalur terpisah,” bisiknya. “Polanya sama.”
Tanggal-tanggalnya saling sejajar. Sumber daya itu saling melengkapi—Valdris menyediakan makanan dan dana, Conclave memasok prajurit terlatih, Thornbound menyumbangkan jaringan intelijen mereka. Bukan tiga kampanye terpisah. Melainkan satu upaya yang terkoordinasi.
Perutnya serasa berubah menjadi es.
Ia menyatukan fragmen-fragmen itu, tangan tuanya bekerja dengan ketelitian nekat. Ini—sepucuk surat dari seorang pengurus Valdris yang menyebut “pakta itu.” Itu—catatan buku besar Conclave yang mencatat pembayaran untuk “usaha bersama.” Dan ini—komunikasi Thornbound yang memerintahkan aset untuk “menunggu sinyal terkoordinasi.”
Potongan-potongan itu menyatu seperti sebilah pisau meluncur masuk ke sarungnya.
Tiga signet tertekan ke dalam satu segel. Ikat gandum House Valdris, mata terbuka Serene Conclave, duri-duri silang Thornbound—bersatu pada satu dokumen untuk pertama kalinya dalam tiga abad.
Elara menatap lilin itu, napasnya tercekat di tenggorokan. Rumah-rumah ini telah menghabiskan generasi demi generasi untuk membunuh ahli waris satu sama lain, meracuni sumur-sumur satu sama lain, membakar ladang-ladang satu sama lain. Dendam darah antara Valdris dan Thornbound saja telah merenggut ratusan nyawa sepanjang abad terakhir. Dan kini mereka berbagi satu segel.
Ia mengusap lilin itu dengan jarinya, merasakan bobot koordinasi yang mustahil. Bahasa dalam pakta itu presisi, nyaris anggun dalam kebrutalannya. Tiap faksi akan menyumbangkan kekuatan khas mereka agar tak ada satu pun jalur pelarian tersisa. Valdris akan memakai kendali mereka atas perdagangan gandum untuk melaparkan siapa pun yang mendukung. Conclave akan menyediakan kekuatan militer untuk menghancurkan setiap konfrontasi langsung. Thornbound akan mengerahkan jaringan intelijen mereka untuk melacak setiap pergerakan, mengantisipasi setiap serangan balik.
Semua dipersatukan oleh satu klausul: kehancuran bersama atas klaim garis darah Cassian.
"Mereka saling membenci," katanya lantang, suaranya datar oleh amarah yang dikekang. "Mereka sudah saling membunuh turun-temurun. Dan mereka semua sepakat menyingkirkan itu demi menghancurkanmu."
Kata-kata itu menggantung di udara dingin. Ia teringat setiap percobaan pembunuhan yang berhasil mereka lewati. Setiap kemunduran yang tampak bagi musuh-musuh Cassian. Setiap momen yang terasa seperti lolos tipis. Apa semuanya mengarah ke sini? Apa sejak awal mereka telah menggiringnya menuju saat ini?
Sebuah jebakan yang tinggal menunggu tiga hari untuk dijepret.
Lingkar ward luar bergetar.
Kepala Elara tersentak mendongak. Penghalang pelindung di sekeliling tempat persembunyian itu berkedip sekali, dua kali—lalu terbelah dengan bunyi seperti sutra yang disobek. Seseorang telah menerobos perimeter.
Tangannya meraih pisau di ikat pinggang, refleks-refleks yang dipinjam dari sisa waktu hidupnya menjeritkan peringatan yang tubuh tuanya susah payah jawab.
Langkah kaki di tangga. Terukur. Sengaja. Bukan cara seorang pembunuh mendekat.
Sesosok muncul dari bayang-bayang koridor pintu masuk. Seorang perempuan dalam livery resmi—abu-abu netral, tanpa tanda warna rumah mana pun. Seorang utusan. Wajahnya memanggul ekspresi kosong yang profesional, milik seseorang yang dilatih menyampaikan kabar tanpa reaksi, meski ada sesuatu yang tajam berkelebat di balik matanya.
Cengkeraman Elara pada pisau tak mengendur.
"The Archivist Elara." Suara sang utusan halus, terlatih. "Dan The Claimant Cassian. Aku membawa pesan untuk kalian berdua."
Dari sudut ruangan, Cassian bangkit dari tempatnya merawat anglo kecil. Wajahnya bagai topeng ketegangan yang terkendali, namun Elara bisa membaca kesiagaan yang menggulung di bahunya. Ia bergerak berdiri di sampingnya, tangannya bertumpu pada gagang bilahnya sendiri.
"Kau seharusnya tak bisa menemukan kami," katanya. Suaranya memuat bahaya senyap, seperti bilah yang sedang ditarik.
Senyum sang utusan tak mencapai matanya. "Aliansi punya sumber daya, Claimant. Tempat persembunyian kalian teridentifikasi tiga jam lalu. Kami memilih memberi kehormatan ini alih-alih langsung membakar bangunannya."
Ia mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam mantel resminya. Perkamen tebal, disegel dengan lilin yang berkilau keemasan dalam cahaya lilin. Tiga cap meterai ditekan ke permukaannya—tiga yang sama yang baru saja dipelajari Elara.
“Para claimant sekutu menyampaikan tawaran belas kasihan ini.” Sang utusan mengulurkan gulungan itu dengan gerak yang presisi dan terukur. “Tanggalkan klaim garis darah. Menyingkirlah ke dalam ketidakjelasan. Jalani sisa tahun-tahunmu dalam damai.” Senyumnya melebar setipis hela napas. “Alternatifnya adalah... menyeluruh.”
Cassian menerima gulungan itu. Ia mematahkan segelnya dengan tangan yang tetap, meski Elara melihat ketegangan di rahangnya, buku-bukunya memutih. Perkamen berderak ketika ia menggelarnya, tulisan resmi itu menangkap cahaya lilin.
“Tiga hari,” ia membacakan keras-keras. “Tanggalkan klaim dalam tiga hari, atau hadapi respons militer gabungan dari rumah-rumah sekutu.”
“Embargo gandum Valdris sudah dimulai.” Nada suara sang utusan tetap netral, tetapi kepuasan mengendap di bawah topeng profesional itu. “Para pendukungmu di provinsi-propinsi timur akan kelaparan dalam sepekan. Pasukan Konklaf telah mengamankan lintasan pegunungan—kalian tak bisa lari ke utara. Dan Thornbound punya mata di setiap bayangan.”
Ia berhenti, membiarkan kata-kata itu mengendap seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang. “Tak ada jalan keluar, Claimant. Hanya ada pilihan.”
Pikiran Elara berpacu. Persekutuan yang baru saja ia temukan—ini pukulan pertamanya. Bukan bilah di kegelapan, melainkan kurungan yang menutup rapat mengitari mereka. Setiap pintu keluar disegel. Setiap sumber daya diputus. Mereka telah merencanakan ini berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun.
Dan ia menggenggam sebuah kebenaran yang bisa menghancurkan semuanya.
Takhta melahap mereka yang duduk di atasnya. Suksesi ada untuk menyediakan santapan bagi sebuah kelaparan purba. Jika aliansi itu tahu—jika mereka memahami bahwa hadiah yang mereka kejar akan menelan mereka—akankah mereka tetap bertarung untuk itu? Atau justru mengungkap kebenaran itu akan meruntuhkan tujuan Cassian sepenuhnya?
Sang utusan menunggu dengan kesabaran seseorang yang sudah menang. “Aku akan kembali saat fajar pada hari ketiga untuk jawaban kalian. Aliansi lebih menyukai penyelesaian damai.” Matanya menilik tangan Elara yang menua, pada uban yang menyusup di rambutnya. “Mereka paham bahwa sebagian pertempuran dimenangkan melalui kesabaran, bukan kekuatan.”
Ia membungkuk—gerakan yang presisi, formal, tanpa sedikit pun hormat—lalu mundur lewat jalan yang sama saat ia datang. Langkah kakinya memudar menaiki tangga. Ward luar menutup kembali di belakangnya dengan dengung lembut.
Keheningan menekan telinga Elara.
Cassian menatap gulungan di tangannya. Cahaya lilin membuat bayang-bayang menari di wajahnya, memperdalam garis-garis di sekitar matanya. Ia tampak lebih tua daripada tiga hari lalu. Mereka berdua begitu.
“Tiga hari.” Suaranya pelan. “Mereka sudah merencanakan ini berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun.” Ia mendongak, menatap mata Elara. “Sepanjang waktu ini aku berjalan menuju perangkap mereka.”
Tenggorokan Elara mengencang. Ia teringat hakikat sejati takhta itu, kelaparan mengerikan yang ia temukan di ruang penyimpanan. Perjanjian itu dirancang untuk memastikan kehancuran Cassian—namun bagaimana jika kemenangan aliansi justru akan menghancurkan mereka juga? Bagaimana jika takhta itu akan melahap siapa pun yang duduk di atasnya, baik sang penuntut maupun sang pesaing?
Ia bisa memberi tahu dia. Ia bisa memberi tahu dia bahwa hadiah yang dicarinya adalah pemangsa yang menyamar. Namun pengetahuan itu mungkin akan mematahkannya. Ia telah mengorbankan segalanya demi klaim ini—posisinya, keselamatannya, bertahun-tahun dari hidupnya. Jika ia mengungkap bahwa pencariannya sudah terkutuk sejak awal, akankah ia masih punya tekad untuk bertarung? Ataukah kebenaran itu akan menjadi pukulan terakhir yang dibutuhkan aliansi?
“Mungkin ada.” Ia ragu. Kata-kata itu terasa seperti batu-batu di dalam mulutnya. “Cara lain. Sesuatu yang kutemukan di ruang penyimpanan.”
Ekspresi Cassian menajam. “Maksudmu apa?”
Panas tungku bara menekan punggungnya. Ia bisa merasakan kehangatannya, mencium asap samar arang, melihat cahaya jingga bara yang berdenyut seperti detak jantung yang lambat. Sesaat, ia tergoda untuk mengatakan semuanya—kelaparan takhta, nasib sejati pantheon, siklus mengerikan yang telah melahap para dewa dan akan melahap para penuntut juga.
Namun kata-kata itu mati di kerongkongannya.
“Aku tidak tahu apakah itu akan menyelamatkanmu atau menghancurkanmu,” katanya sebagai gantinya. “Aku butuh lebih banyak waktu untuk memahaminya.”
Cassian meneliti wajahnya. Elara bisa melihat dia mencari kebenaran di balik kata-katanya, hal yang tidak ia ucapkan. Rahangnya mengeras.
“Waktu.” Ia mengembuskan napas yang nyaris seperti tawa. “Kita punya tiga hari. Dan kau butuh waktu untuk memahami sesuatu yang mungkin menyelamatkan kita.” Ia menggeleng pelan. “Para dewa murah hati dengan ironi-ironi mereka.”
Dari sudut ruangan yang jauh, Mara muncul membawa sebuah panci dan sekumpulan kecil perbekalan. Mara yang cepat tanggap dan berhati hangat, yang telah berdiri di sisi mereka di setiap jam yang putus asa, bergerak menuju tungku bara dengan efisiensi terlatih dari seseorang yang telah belajar menciptakan kenyamanan dalam keadaan yang mustahil.
“Apa pun yang akan datang,” katanya, suaranya membelah ketegangan seperti bilah menembus sutra, “kita menghadapinya lebih baik dengan perut terisi.”
Ia mulai menyiapkan makanan dengan persediaan seadanya yang mereka selamatkan. Umbi-umbian dari pelarian mereka melalui kota bawah—pucat dan beraroma tanah. Daging asin dari simpanan tempat persembunyian, dipotong menjadi irisan tipis. Roti kasar yang dibungkus kain agar tidak cepat apek. Hidangan sederhana, tetapi aroma masakan yang mengepul di atas tungku bara memenuhi kamar kecil itu dengan sesuatu yang nyaris terasa seperti kehangatan.
Elara memandangi Mara bekerja. Keberumahan itu menghantamnya—cara Mara bergerak dengan tujuan, kehati-hatian yang ia berikan bahkan pada bahan-bahan yang begitu bersahaja. Di dunia intrik politik dan suksesi ilahi, seseorang masih memasak. Masih menciptakan sekejap kedamaian di tengah kekacauan.
Mara menyodorkan semangkuk lebih dulu kepadanya. Keramik itu hangat di telapak tangan Elara yang menua, panasnya meresap ke jari-jarinya yang kaku. Uap mengepul dari permukaan, membawa aroma garam dan umbi-umbian panggang.
“Makan,” kata Mara. “Kalian berdua. Apa pun yang ada di gulungan itu, bisa menunggu cukup lama sampai selesai makan.”
Cassian menerima mangkuknya dengan anggukan terima kasih. Ia duduk di lantai di sebelah Elara, bahunya nyaris menyentuh bahu Elara. Tak satu pun dari mereka berbicara. Mereka hanya makan—rasa garam dan makanan sederhana itu menambatkan mereka pada saat ini.
Kehangatan api mengusir dingin dinding-dinding batu. Bayang-bayang terasa kurang mengancam di sini, dalam lingkar kecil cahaya dan kehangatan ini. Elara mendapati dirinya sedikit condong ke arah Cassian, menyerap kekuatan dari kehadirannya.
Tangan Cassian menyenggol tangannya ketika mereka berdua meraih roti. Sentuhan itu singkat—sekejap kontak, kulit bertemu kulit, hangat bertemu hangat. Ia menarik diri hampir seketika, mengembalikan perhatiannya pada gulungan ultimatum itu. Namun sensasinya tertinggal di kulit Elara seperti cap.
Elara menatap profilnya dalam cahaya api. Rahang yang tegas. Alis yang berkerut. Beban sebuah klaim yang mungkin akan menghancurkannya, dengan cara apa pun. Ia memiliki kuasa untuk mengubah pemahamannya tentang segalanya—tetapi dengan harga apa?
“Tiga hari,” katanya lagi, suaranya kini lebih lembut. “Mereka sudah mengepung kita sepenuhnya. Embargo gandum, jalur-jalur pegunungan, jaringan intelijen. Mereka memikirkan semuanya.”
Elara meletakkan mangkuknya. Tangan-tuanya telah berhenti gemetar, kehangatan makanan meneguhkannya. “Mereka memikirkan solusi militer,” katanya. “Tapi mereka belum memikirkan semuanya.”
Cassian menatapnya. “Maksudmu?”
Ia ragu lagi. Kebenaran itu duduk di dadanya seperti batu, berat dan dingin. Takhta melahap siapa pun yang duduk di atasnya. Suksesi adalah mekanisme makan. Para dewa tidak meninggalkan takhta mereka—mereka dilahap olehnya.
Jika ia mengatakannya, itu bisa meremukkan tujuan aliansi. Jika tak ada kuasa untuk diklaim, tak ada yang perlu diperebutkan. Namun itu juga akan meremukkan alasan Cassian untuk bertarung. Seluruh pencariannya, seluruh pengorbanannya, akan tersingkap sebagai sebuah arak-arakan menuju kehampaan.
“Maksudku, aliansi mereka dibangun di atas satu asumsi bersama,” katanya hati-hati. “Dan asumsi bisa dipatahkan.”
Mata Cassian menyipit. “Asumsi macam apa?”
“Yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk dijelaskan.” Ia menatap Cassian tanpa gentar. “Waktu yang belum kumiliki. Tapi aku akan punya.”
Mara berdehem dari seberang ruangan. “Utusan itu bilang mereka sudah mengidentifikasi persembunyian ini tiga jam yang lalu. Kalau mereka tahu kita ada di mana—”
“Maka kita tak bisa tinggal di sini.” Cassian berdiri, kenyamanan setelah makan itu sudah memudar ketika kenyataan kembali menegaskan dirinya. “Kita harus bergerak. Cari lokasi lain sebelum mereka memutuskan pendekatan damai ini tidak berhasil.”
Elara ikut berdiri, persendiannya memprotes. Waktu pinjaman itu memberati tubuhnya, menuaikannya melampaui usianya. Berapa banyak waktu yang tersisa? Berapa menit lagi yang bisa ia curi dari masa depannya sebelum utang itu jatuh tempo?
“Terowongan timur,” katanya. “Ada jaringan di bawah kawasan pedagang tua. Kalau kita bergerak malam ini, kita bisa sampai sebelum fajar.”
Cassian mengangguk. Ia berbalik mengumpulkan perbekalan mereka yang berserakan, gerakannya efisien dan terkendali. Namun sebelum ia memalingkan diri, tangannya kembali menemukan tangan Elara—kali ini bukan kebetulan. Jemarinya menutup di atas jemari Elara yang menua, hangat dan mantap.
“Apa pun yang kau temukan di ruang penyimpanan itu,” katanya pelan, “apa pun yang tidak kau katakan padaku—aku percaya padamu.”
Kata-kata itu menghantamnya seperti pukulan. Percaya. Ia percaya padanya, sementara Elara menyimpan kebenaran terpenting dari semuanya rapat-rapat di balik giginya.
“Aku tahu,” katanya. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. “Aku tahu kau percaya.”
Cassian meremas tangannya sekali, lalu melepaskannya. Ia bergerak membantu Mara mengepak barang-barang mereka yang seadanya, meninggalkan Elara berdiri sendirian di dekat anglo yang hampir padam.
Elara menunduk menatap tangannya yang menua. Cahaya api membuat garis-garis dan bintik-bintiknya tampak lebih dalam, lebih nyata. Ia telah mencuri waktu untuk menyelamatkan mereka, dan utang itu tertulis pada dagingnya. Berapa banyak lagi yang harus ia bayar sebelum semua ini berakhir?
Naskah perjanjian itu tergeletak di atas meja, di tempat ia meninggalkannya, tiga segel berkilau pada lilin. House Valdris. The Serene Conclave. The Thornbound. Musuh berabad-abad, kini dipersatukan oleh satu tujuan. Mereka mengira telah menjebak Cassian. Mereka mengira telah memperhitungkan setiap variabel.
Namun mereka tidak tahu apa sesungguhnya takhta itu.
Mereka tidak tahu bahwa hadiah yang mereka incar akan melahap mereka sehabis-habisnya, sama pastinya seperti ia telah melahap para dewa sebelum mereka.
Elara mengambil naskah perjanjian itu dan menahannya dalam cahaya api. Lilinnya berkilau seperti darah. Ia punya tiga hari untuk memutuskan apakah akan memakai pengetahuan itu sebagai senjata—atau membawanya hingga ke liang lahat.
Bara terakhir di anglo remuk menjadi abu, dan ruangan tenggelam dalam bayang-bayang. Di suatu tempat di atas mereka, kota terlelap, tak menyadari kekuatan-kekuatan yang sedang berkumpul dalam gelap. Jaring aliansi itu kian menutup. Takhta menunggu di ruangannya yang sunyi, sabar dan lapar.
Dan Elara berdiri di pusat semuanya, memegang dua kebenaran mengerikan dengan tangan yang menua sebelum waktunya.
Ia teringat tangan Cassian di atas tangannya. Ia teringat kepedulian Mara yang senyap, makanan yang disiapkan di tengah kekacauan. Ia teringat kehangatan yang sempat mereka bagi bersama, singkat dan rapuh seperti nyala lilin.
Ia menyelipkan naskah perjanjian itu ke dalam mantelnya dan berbalik menghadapi pekerjaan di depan.
Tiga hari. Tiga kebenaran. Satu pilihan yang akan menentukan apakah salah satu dari mereka akan bertahan hidup untuk melihat akhirnya.