Bab 9: Bunga atas Waktu Pinjaman
Dinding-dinding kristal itu menjerit dengan seribu tahun suara yang dicuri. Elara mendesak maju menembus Vault of Echoed Moments, setiap langkah mengirim riak-riak baru melalui ambar temporal yang mengawetkan setiap bunyi yang pernah bergema di dalam ruang-ruang ini. Permohonan putus asa seorang pedagang dari tiga abad silam. Tawa seorang pengklaim dewa yang dilahap ambisinya sendiri. Entah di bagian yang lebih dalam, bunyi basah sebilah pisau menemukan daging, berulang-ulang, kekerasan yang diawetkan seperti lalat di dalam madu.
"Kiri." Napas Cassian panas di dekat telinganya. "Resonansinya makin kuat ke kiri."
Ia tidak bertanya bagaimana Cassian tahu. The Claimant memiliki caranya sendiri untuk membaca arus kekuatan yang mengalir di tempat-tempat seperti ini. Persepsinya bukan temporal—tidak seperti miliknya—namun itu cukup. Cukup untuk membuat mereka berdua terbunuh jika ia melakukan kesalahan.
Pertahanan vault ini telah dirancang oleh panteon lama untuk melindungi artefak-artefak paling berbahaya mereka dari tangan fana. Putaran temporal yang bisa menjebak penyusup dalam satu momen selamanya. Gaung-gaung yang mampu mendorong pikiran ke kegilaan dengan memaksanya mengalami seribu lini masa yang saling bertumpang tindih sekaligus. Medan stasis yang akan membekukan daging dan tulang dalam pengawetan abadi bila tersentuh tanpa kunci yang tepat. Cassian membawanya sebagai kunci.
"Bangsal luar tak akan bertahan lama lagi." Suaranya tetap tenang, terkendali, namun ketegangan melingkar di balik kata-kata itu seperti pegas yang menunggu terlepas. Para pemangsa yang memburu mereka telah mengikuti jejak mereka sampai ke tepian vault. "Mungkin beberapa menit. Jika keberuntungan berpihak pada kita."
Elara tidak memperlambat langkah.
Lorong-lorong kristal berpilin di depan, membiaskan cahaya dari sumber yang tak bisa ia kenali. Dindingnya sendiri seakan bernapas oleh waktu yang tersimpan, tiap faset memuat momen beku dari keberadaan seorang pengunjung masa lalu. Seorang perempuan menangis menutupi wajahnya. Seorang anak meraih sesuatu yang tepat di luar jangkauannya. Dua sosok terikat dalam pelukan yang telah berakhir berabad-abad lalu, kegembiraan mereka diabadikan dengan cara yang tak pernah mereka maksudkan.
Gaung-gaung itu menekan kesadarannya seperti beban fisik. Ia memusatkan diri pada denyut samar yang menariknya maju. Crown of Hours. Kehadirannya membakar dingin pada indra temporalnya, kian kuat setiap langkah. Artefak itu memanggil sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang mengenali hakikatnya meski ia belum pernah menyentuhnya sebelumnya.
Lorong itu terbuka ke sebuah ruang pusat.
Elara berhenti. Napasnya tercekat.
Crown of Hours melayang tersuspensi dalam sebuah bola petir beku, benang-benang energi temporal berkeretak mengelilinginya seperti jeruji sangkar. Artefak itu sendiri lebih kecil daripada yang ia duga—sebuah lingkar kepala dari logam gelap yang dipenuhi simbol-simbol yang seakan bergeser dan membentuk ulang bahkan saat ia menatapnya. Setiap simbol adalah sebuah momen. Setiap momen terkunci di balik penghalang waktu murni yang mengkristal.
"Itu." Suara Cassian tak diperlukan. Ia bisa melihatnya.
Ia melangkah untuk berdiri di sampingnya, tatapannya terpaku pada Mahkota yang melayang. Dalam cahaya yang terpecah-pecah, ekspresinya mustahil dibaca. “Kau bisa meraihnya?”
Elara menelaah medan stasis itu. Energi temporal yang membentuk jerujinya tidak seragam. Ia bisa melihat celah-celahnya, tempat satu momen merembes ke momen lain, menciptakan retakan setipis rambut di penjara itu. Pencuri biasa takkan pernah menyadarinya.
Namun ia bukan pencuri biasa.
“Aku bisa meraihnya.” Ia mengulurkan tangan ke arah bola itu. Dingin menggigit kulitnya bahkan sebelum ia menyentuhnya. Jemarinya menemukan celah pertama dan menyelinap masuk, lalu celah kedua. Kilat beku berderak di buku-buku jarinya, lapar akan sentuhan. Ia mendorong lebih dalam.
Mahkota itu terasa membakar telapak tangannya seperti bara yang diambil dari api yang sudah mati. Ia bisa merasakan bobot berabad-abad dalam logam dingin itu, kekuatan yang terkumpul dari setiap momen yang pernah disentuhnya. Jemarinya menutup, mencengkeramnya, lalu menarik.
Medan stasis itu pecah berkeping.
Energi temporal meledak ke luar dalam hentakan senyap yang melemparkan Elara ke belakang. Ia menghantam dinding kristalin cukup keras sampai ia melihat bintang-bintang. Mahkota itu tetap terpeluk ke dadanya, masih membara dengan dingin yang mengerikan itu.
“Elara!” Cassian sudah berada di sisinya dalam sekejap, tangannya menemukan bahu Elara, menahannya agar stabil. “Kau terluka?”
Elara menggeleng. Gerakan itu mengirim gelombang disorientasi baru ke dalam tengkoraknya. “Aku mendapatkannya.”
“Kalau begitu kita harus bergerak. Retakannya pasti sudah terdeteksi.”
Ia menunduk menatap Mahkota di tangannya. Dari dekat, ia bisa melihat simbol-simbol itu lebih jelas. Itu bukan sekadar hiasan—itu sebuah bahasa, ditulis dalam momen-momen beku, setiap karakter menyimpan sepotong waktu yang hanya bisa dibaca oleh seseorang yang mampu menangkap arus temporal. Sebuah enkripsi. Ditulis oleh waktu itu sendiri.
“Cassian.” Suaranya keluar lebih kasar daripada yang ia maksudkan. “Mahkota ini terkunci. Ada enkripsi temporal yang menyegel isinya.”
Cassian berjongkok di sampingnya, pandangannya bergerak dari wajah Elara ke artefak itu lalu kembali lagi. “Bisa kau pecahkan?”
Elara mempelajari simbol-simbol yang bergeser itu. Indah dalam kerumitannya, masing-masing sebuah pengkristalan sempurna dari momen yang dicuri dari sejarah dan dipakai ulang sebagai kunci. Untuk membacanya, ia harus menangkap momen-momen yang dikandungnya. Semuanya. Pada saat yang sama.
“Itu akan membutuhkan peminjaman yang besar.” Ia menelusuri satu simbol dengan ibu jarinya. “Lima menit. Mungkin lebih.”
Ekspresi Cassian tak berubah. “Apa harganya bagimu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara di antara mereka. Elara bisa mendengar perhitungan di balik kata-kata itu. Ia sudah tahu jawabannya. Ia telah meneliti kemampuannya seteliti Elara meneliti brankas ini. Ia paham apa yang akan diperas lima menit waktu pinjaman itu dari masa depannya. Namun ia tetap bertanya. Memberinya ilusi pilihan.
"Berbulan-bulan." Ia menatapnya lurus. "Mungkin bertahun-tahun, tergantung bagaimana utangnya berbunga. Gaungnya akan terlihat oleh siapa pun yang mengamati. Kita akan mengumumkan posisi kita kepada setiap faksi Claimant di kota ini."
Cassian terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras, otot-otot bekerja di bawah kulit yang mendadak tampak lebih letih daripada yang pernah ia lihat.
"Informasi yang terkandung dalam Crown itu mungkin sangat penting untuk mengakhiri perang suksesi ini." Suaranya pelan. "Tanpanya, kita buta terhadap hakikat sejati takhta. Kita tidak bisa mengambil keputusan dengan informasi yang memadai. Kita tidak bisa melindungi siapa pun." Ia berhenti sejenak. "Tapi pilihannya harus milikmu. Aku tidak akan memaksamu."
Elara ingin mempercayainya. Ia ingin percaya bahwa kekhawatiran Cassian tulus, bahwa kelembutan dalam suaranya mencerminkan sesuatu selain manipulasi yang berhati-hati. Namun ia sudah melihat bagaimana cara Cassian bekerja. Ia pernah menyaksikan Cassian mengorbankan bidak-bidak untuk melindungi posisinya.
Ia bidak. Ia selalu tahu itu. Namun ia juga satu-satunya yang bisa membaca apa yang terkandung di dalam Crown itu.
"Bantu aku berdiri."
Cassian tak ragu. Tangan Cassian menutup di atas tangannya, hangat dan kokoh, lalu menariknya berdiri. Elara sempoyongan sesaat, mencari keseimbangan. Crown itu lebih berat daripada yang tampak, atau mungkin ia memang jauh lebih terkuras daripada yang ia sadari.
"Awasi." Ia menegakkan dirinya sambil bersandar padanya. "Kalau gaungnya termanifestasi seperti yang kuduga, kita akan segera kedatangan tamu."
"Aku tidak akan membiarkan apa pun mendekatimu saat kau bekerja."
Elara tidak menanggapi. Tak ada gunanya berdebat tentang apa yang bisa atau tidak bisa ia janjikan.
Elara memejamkan mata.
Kegelapan di balik kelopaknya tidak kosong. Ia bisa merasakan kehadiran Crown menekan kesadarannya, momen-momen beku di dalamnya memanggil sesuatu di dalam darahnya. Ia meraih tempat di dalam dirinya tempat kekuatannya berdiam—kapasitas aneh untuk menarik waktu dari masa depannya sendiri dan membelanjakannya di masa kini.
Lima menit. Ia butuh lima menit waktu pinjaman.
Ia mulai menarik.
Detik pertama datang dengan mudah. Selalu begitu. Sebuah pengambilan yang lembut, seperti menarik buku dari rak. Ia mengarahkan waktu pinjaman itu ke Crown, membiarkannya membasuh simbol-simbol terenkripsi. Karakter pertama menjadi jelas.
Detik kedua lebih sulit. Utangnya mulai menumpuk di pinggir kesadarannya, tekanan di belakang mata yang menjanjikan pembayaran akan ditagih. Ia terus menarik.
Detik ketiga. Detik keempat. Detik kelima.
Tekanan itu berubah menjadi nyeri. Napas Elara kini lebih cepat. Ia bisa merasakan detak jantungnya makin kencang, setiap denyut mendorong waktu pinjaman mengalir melalui nadinya. Simbol-simbol pada Crown mulai terurai satu per satu, maknanya menjadi terang saat ia meneranginya dengan momen-momen curian.
Enam detik. Tujuh. Delapan.
Sesuatu bergeser di dalam tubuhnya. Sebuah ngilu dalam yang bermula dari tulangnya dan merambat keluar. Ia mengertakkan gigi dan terus menarik.
Sembilan. Sepuluh. Sebelas.
Udara di sekelilingnya menebal. Setiap tarikan napas kini menjadi upaya, seperti mencoba menghirup melalui kain basah. Distorsi temporal tengah menguat; waktu pinjaman itu menciptakan pusaran-pusaran kecil dalam anyaman realitas yang dapat dideteksi siapa pun yang memiliki kepekaan.
Dua belas. Tiga belas.
Ia mendengar Cassian menarik napas tajam. Ia tak bisa melihat apa yang dilihat Cassian, tetapi ia bisa membayangkannya. Gema-gema itu pasti sudah merembes sekarang—bayangan gaib dari momen-momen yang belum terjadi, berkelip timbul-tenggelam di sekitarnya.
Empat belas. Lima belas.
Kulitnya mulai mengencang. Sensasinya mula-mula halus saja, tarikan ringan di wajah dan tangan. Lalu menguat, menjadi rasa terbakar yang seolah bermula dari suatu tempat di bawah dagingnya.
Ia terus menarik.
Dua puluh detik. Tiga puluh. Satu menit.
Simbol-simbol Mahkota kini terbentuk semakin cepat; setiap momen yang menyala menyingkap lebih banyak rahasia artefak itu. Ia dapat melihat struktur enkripsinya, cara momen-momen yang membeku saling mengunci membentuk penghalang yang hanya waktu itu sendiri yang dapat menerobosnya.
Dua menit.
Rasa sakit kini menjadi kawan yang terus menempel. Ia memancar ke setiap bagian tubuhnya, ngilu yang dalam dan mengerikan, seakan tulang-tulangnya sedang dipadatkan. Kulitnya terus mengencang, meregang di atas kontur yang berubah.
Tiga menit.
Ia bisa mendengar suara-suara. Bukan gema para pengunjung masa lalu—ini sesuatu yang lain. Bisikan dari masa depan yang ia curi. Serpihan percakapan yang takkan pernah ia jalani, peringatan yang takkan pernah ia terima, ungkapan sayang yang takkan pernah ia dengar.
Empat menit.
Mahkota itu hampir sepenuhnya jelas sekarang. Ia bisa membaca frasa-frasa utuh dalam simbol-simbol yang telah terurai, pecahan pengetahuan yang membuat perutnya mengeras oleh implikasinya. Takhta itu bukan seperti yang mereka percaya. Pantheon tidak meninggalkan posisinya.
Mereka telah dilahap.
Empat setengah menit.
Kaki Elara tertekuk. Ia akan jatuh kalau saja ia tidak sedang duduk, namun bahkan dalam posisi duduk pun ia terhuyung berbahaya. Utang itu kian menumpuk setiap detik; setiap momen pinjaman menagih lebih mahal daripada yang sebelumnya.
"Elara." Suara Cassian tegang oleh sesuatu yang mungkin ketakutan. "Wajahmu."
Ia tak bisa berhenti. Ia sudah terlalu dekat.
Lima menit.
Simbol terakhir terurai.
Rahasia-rahasia Mahkota membanjiri benaknya, gelombang informasi yang nyaris tak sanggup ia cerna. Ia melihat hakikat sejati takhta itu, cara ia memakan kesadaran siapa pun yang duduk di atasnya. Ia melihat upaya putus asa pantheon pertama untuk menciptakan pembatas—Mahkota Jam itu sendiri, yang dirancang untuk mengatur kelaparan takhta yang tak berujung.
Ia melihat bahwa itu gagal.
Elara membuka mata.
Hal pertama yang ia lihat adalah tangan-tangannya sendiri. Kini tangan itu tampak termakan cuaca, kulitnya lebih tipis dan lebih tembus cahaya daripada sebelumnya. Bintik-bintik usia muncul di punggung buku jarinya. Jejaring halus pembuluh vena di bawah permukaan tampak lebih menonjol.
Ia mendongak ke dinding-dinding kristalin. Pantulannya menatap balik dari selusin sudut berbeda. Wajah yang menatap keluar itu lebih tua. Bukan renta, bukan keriput, tetapi jelas menua. Garis-garis baru terukir di sekeliling mulut dan matanya. Rambutnya, yang berwarna cokelat tua ketika ia memasuki brankas, kini menampakkan semburat perak di pelipis.
"Para dewa, lindungilah kita." Suara Cassian nyaris hanya bisikan.
Ia menoleh menatapnya. Ekspresinya adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Topengnya terlepas. Di bawah perhitungan dan kendali yang hati-hati, ada sesuatu yang mentah. Duka. Kengerian. Dan sesuatu yang lain, sesuatu yang mungkin adalah kelembutan.
"Kau tahu itu akan menuntut bayaran." Suaranya terdengar lebih serak daripada sebelumnya. "Kau menghitung harganya sebelum kita masuk."
"Aku tahu itu akan menuntut sesuatu." Ia bergerak mendekatinya, kembali berjongkok di sampingnya. Kali ini, ketika tangannya menemukan tangan Elara, genggamannya lembut. Hampir khidmat. "Aku tidak tahu itu akan menuntut sebanyak ini."
Ia ingin menarik diri darinya. Ia ingin menuntut apakah kepeduliannya tulus atau sekadar duka seorang pemain yang telah merusak bidak berharga. Namun telapak tangan Cassian hangat di atas jari-jarinya yang dingin. Dan mata Cassian, ketika bertemu dengan matanya, menyimpan sesuatu yang tak bisa ia singkirkan begitu saja.
"Kau bisa berdiri?"
Ia tidak yakin. Tubuhnya terasa aneh—lebih berat dan lebih rapuh pada saat yang sama. Tulang-tulangnya nyeri dengan denyut dalam yang tak kunjung reda. Sendi-sendinya memprotes saat ia mengubah posisi.
Namun ia tetap mencoba.
Cassian menangkapnya ketika kakinya menyerah. Lengan Cassian melingkari pinggangnya, menyangga berat tubuhnya menempel di sisi Cassian. Ia bisa merasakan kekuatan dalam diri Cassian, daya terkendali yang biasanya ia sembunyikan di balik lapisan-lapisan keanggunan istana.
"Bersandarlah padaku." Suara Cassian tegas. "Gema temporal itu pasti terlihat bermil-mil jauhnya. Kita harus bergerak sebelum para pemburu kita tiba."
Elara membiarkan Cassian menuntunnya menuju lorong. Kakinya menemukan ritmenya semata-mata karena keras kepala. Mahkota itu tetap terpeluk erat di dadanya, rahasia-rahasianya kini dapat dibaca dalam benaknya. Ia mendapatkan apa yang mereka cari. Harganya tertulis di dagingnya.
"Apakah kau mempelajari apa yang kita butuhkan?" tanya Cassian. Suaranya rendah, dipasang hanya untuk telinganya.
"Ya." Ia menelan melawan kering di tenggorokannya. "Takhta itu bukan seperti yang kita kira. Itu bukan kursi kekuasaan. Itu sebuah mulut."
Cassian tidak langsung menjawab. Cengkeramannya di pinggang Elara menguat setipis helai. "Kalau begitu kita harus sangat berhati-hati tentang siapa yang duduk di atasnya."
Mereka bergerak melalui lorong-lorong kristalin, meninggalkan ruang pusat di belakang. Dinding-dinding itu masih berdentang oleh seribu tahun suara-suara yang dicuri, tetapi kini Elara bisa mendengar sesuatu yang lain di bawah koor itu. Langkah kaki. Banyak langkah kaki. Mendekat dari berbagai arah.
"Penjagaan luar sudah runtuh." Suara Cassian kehilangan seluruh kelembutannya. Ia kembali menjadi seorang claimant, pemangsa yang menghadapi persaingan. "Mereka sudah di dalam."
Tangan Elara mengerat pada Mahkota. Berbulan-bulan hidupnya ia habiskan untuk membaca rahasia-rahasianya. Ia tidak akan kehilangan artefak itu sekarang.
“Bisa sampai ke lorong timur?” tanya Cassian. “Ada jalan keluar sekunder yang seharusnya masih tidak diawasi.”
Elara mengangguk. Bicara membutuhkan tenaga yang tidak ia miliki.
Mereka bergerak lebih cepat. Dinding-dinding kristalin memantulkan langkah mereka dari seratus sudut berbeda, dan di tiap pantulan, Elara dapat melihat hantu dirinya yang lebih tua berkedip di tepi penglihatannya. Gema-gema temporal itu masih merembes. Peringatan di mata-mata cekung itu jelas.
Ini baru pembayaran pertama. Utangnya akan terus berbunga.
Bunyi langkah kaki kian dekat. Elara kini bisa mendengar suara-suara, meninggi oleh alarm atau komando. Para pemburu telah menemukan sisa-sisa ladang stasis yang hancur. Mereka akan tahu persis apa yang telah diambil.
“Di sini.” Cassian menariknya ke sebuah lorong samping yang nyaris tak cukup lebar untuk satu orang. Mereka menyusup masuk satu per satu, dinding kristalin menggesek bahu mereka. “Jalan keluarnya tepat di depan.”
Elara bisa melihatnya. Sebuah persegi panjang kegelapan yang menjanjikan pelarian. Ia mendorong dirinya ke sana dengan sisa kekuatan terakhirnya.
Di belakang mereka, langkah-langkah itu berlipat ganda. Para pemburu sedang berkumpul. Ia bisa merasakan kehadiran temporal mereka seperti panas di punggungnya, bobot terkumpul dari kekuatan pinjaman mereka menekan indra-indranya.
Ia akan mengenali jejak itu di mana pun. Seorang claimant saingan. Salah satu faksi yang telah memburu mereka sejak perang suksesi dimulai.
Ia tidak menoleh untuk melihat. Menoleh hanya akan memperlambatnya.
Mereka menerobos keluar ke udara malam yang dingin. Lorong itu membawa mereka ke sisi sebuah bukit yang menghadap kota; lampu-lampu ibu kota terhampar di bawah seperti bara yang berceceran. Angin menggigit kulit Elara yang menua dengan taring yang sebelumnya tak terasa setajam ini.
Cassian tidak berhenti. Ia menuntunnya menuruni lereng bukit, cengkeramannya mantap di pinggang Elara. Mereka bergerak melewati bayang-bayang dan semak belukar, menambah jarak antara diri mereka dan pintu masuk brankas. Ketika akhirnya mereka berhenti, di sebuah cekungan di antara dua pohon purba, kaki Elara benar-benar menyerah. Ia merosot ke tanah dengan punggung bersandar pada batang, Mahkota masih dipeluk erat ke dadanya.
Cassian berjongkok di sebelahnya. Dalam gelap, wajahnya sulit dibaca. Namun tangan-tangannya, ketika menemukan tangan Elara, lembut.
“Istirahat.” Ia menjaga suaranya rendah. “Kita punya waktu sebelum mereka sadar jalan keluar mana yang kita pakai.”
Elara ingin tertawa. Waktu. Ia telah menghabiskan begitu banyak waktu di brankas itu. Bertahun-tahun hidupnya, dipadatkan menjadi lima menit wawasan pinjaman.
“Rahasia Mahkota.” Suaranya nyaris berbisik. “Sekarang aku tahu apa yang dikandungnya. Aku tahu apa sesungguhnya takhta itu.”
“Ceritakan nanti.” Cassian mengeluarkan sebuah labu dari entah di mana di dalam mantelnya dan menekannya ke tangan Elara. “Minum. Kau butuh cairan.”
Ia minum. Airnya sejuk dan bersih, menenangkan rasa perih di tenggorokannya. Saat ia menurunkan labu itu, ia mendapati Cassian memandangnya dengan ekspresi yang tak bisa ia tafsirkan.
“Sakit?”
Ia mempertimbangkan pertanyaan itu. Tubuhnya ngilu dengan denyut yang dalam dan tak kunjung reda. Persendiannya kaku. Kulitnya terasa terlalu ketat membalut tulang-tulangnya. Namun rasa sakit bukan bagian yang terburuk. Yang terburuk adalah mengetahui bahwa ini baru permulaan. Setiap peminjaman akan menuntut harga yang lebih besar. Setiap utang akan berlipat ganda. Pada akhirnya, takkan ada lagi yang tersisa untuk diambil.
“Sakit.” Ia mengembalikan labu itu. “Tapi aku punya apa yang kita cari.”
Cassian terdiam lama. Lalu ia mengulurkan tangan dan menyingkirkan sehelai rambut berurat perak dari dahi Elara. Sentuhannya seringan bulu, nyaris khidmat.
“Aku minta maaf.” Suaranya pelan. “Aku tidak menginginkan ini untukmu.”
Elara ingin mempercayainya. Ia ingin percaya bahwa duka dalam suara Cassian itu nyata, bahwa kelembutan dalam sentuhannya mencerminkan sesuatu yang tulus. Namun ia telah membaca rahasia-rahasia Mahkota. Ia tahu apa yang takhta lakukan pada mereka yang mengejarnya. Ia tahu bagaimana kuasa merusak bahkan niat yang terbaik sekalipun.
Cassian adalah The Claimant. Ia menginginkan takhta. Dan Elara baru saja memberinya pengetahuan yang ia perlukan untuk meraihnya.
“Kau menyesal karena kau peduli,” katanya, “atau karena alat yang rusak jadi kurang berguna?”
Tangan Cassian terhenti di pelipisnya. Elara mengira ia akan menarik diri, mundur ke balik tembok perhitungan dan kendalinya.
Namun, Cassian menahan tatapannya.
“Mungkin.” Ia berbicara lirih. “Itu pertanyaan yang masih kucari jawabannya dalam diriku sendiri.”
Ia tidak menggerakkan tangannya. Elara pun tidak menyingkir.
Di bawah mereka, lampu-lampu kota menyala bagai seribu nyala api kecil, masing-masing sebuah kehidupan yang akan tersentuh oleh apa yang telah mereka gerakkan. Mahkota Jam-Jam terasa berat di tangan Elara yang letih. Dan entah di mana, di kedalaman kristal brankas itu, hantu dirinya yang lebih tua masih berkelip di dinding-dinding, bermata hampa dan memberi peringatan tentang harga yang belum datang.