Bab 17: Mulut yang Menunggu
Arsip suci tidak menyambut pengunjung. Ia menoleransi mereka, sebagaimana sebuah katedral menoleransi para turis—menyadari kehadiran mereka, mendongkol oleh sentuhan mereka, menunggu mereka pergi agar ia bisa kembali pada keheningan kudusnya. Elara melintasi ruang-ruang luarnya seperti pencuri di rumah para dewa, kekuatannya yang tak stabil berkerlip di tepi persepsi, menciptakan gaung dirinya sendiri yang tiba sebelum ia datang dan bertahan setelah ia berlalu. Prime Vellum menunggu di jantung labirin, dan ia hendak menyampaikan kepadanya sebuah kebenaran yang akan meruntuhkan segala sesuatu yang ia kira ia ketahui tentang perang memperebutkan takhta.
Langkah kakinya bergema tiga detik sebelum ia melangkah.
Ia membeku.
Bunyi-hantu dari derap kakinya sendiri sampai ke telinganya dari depan, memantul pada dinding-dinding yang menjebak momen-momen sebagaimana ambar menjebak lalat. Kali ini lorong-lorong arsip tidak terbuat dari batu atau logam, melainkan dari detik-detik yang memadat—lantai dari menit-menit yang dipampatkan, sebuah labirin yang dibangun dari bobot terkumpul sejarah ilahi.
"Tiga detik di depan." Ia mengembuskan kata-kata itu seperti doa. "Tiga detik di belakang. Aku hantu yang berjalan menembus hidupku sendiri."
Kata-kata itu menggantung di udara, lalu mengulang dirinya dari momen yang belum terjadi. Suaranya, tiba sebelum ia mengucapkannya.
Gaung temporal itu kian memburuk. Setiap detik pinjaman dari Stoneheart Vault telah meninggalkan retak-retak dalam dirinya, dan kini retak-retak itu merembes ke dunia di sekelilingnya. Ia memaksa diri maju.
Lorong-lorong itu menampakkan kepadanya pantulan-pantulan masa depan yang mungkin tak pernah menjadi kenyataan—dirinya yang lebih tua, lebih muda, kadang-kadang keduanya sekaligus. Dalam satu serpihan, ia berdiri di kaki sebuah takhta, kedua tangannya meneteskan sesuatu yang gelap. Dalam yang lain, ia terbaring tak bergerak di atas altar, wajahnya digurat dekade-dekade yang belum ia jalani. Bayangan-bayangan itu memusingkannya, membuatnya meragukan setiap belokan.
Sebuah ward berdenyut melawan kesadarannya seperti detak jantung. Perlindungan ilahi, ditenun ke dalam arsitekturnya sendiri. Ia merasakan Elara—mortal, penyusup, pencuri momen. Denyut itu kian cepat saat ia bergerak lebih dalam, dan ia merasakannya menekan pelipisnya, sebuah sakit kepala yang bersemayam di balik matanya.
Ia harus bergerak lebih cepat.
Elara meraih kekuatannya, kemampuan terlarang yang sudah mengorbankannya begitu banyak. Hanya beberapa detik pinjaman. Cukup untuk menyelinap melewati perhatian ward sebelum ia sempat membunyikan alarm. Utangnya akan jatuh tempo nanti—selalu begitu—tetapi nanti adalah masalah bagi masa depan yang mungkin tidak ada jika ia gagal di sini.
Ia menarik.
Waktu melengkung.
Denyut ward itu melambat, meregang, menjadi gelombang kental seperti sirup yang bisa ia susuri menghindarinya. Tubuhnya menjerit memprotes—sendi-sendinya ngilu, kulitnya meremang oleh sensasi hantu seolah bertahun-tahun melaju lewat—namun ia bergerak menembus celah itu dan muncul di sisi lain sebelum ward itu bahkan sempat mencatat kehadirannya.
Lorong itu terbuka menuju sebuah ruang yang sangat luas.
Prime Vellum terletak di pusat ruangan, dan wujudnya sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan gulungan. Bukan buku. Sebuah lempeng raksasa dari waktu yang mengkristal, permukaannya dipenuhi kata-kata yang menulis dan menulis ulang diri mereka sendiri dalam siklus tak berujung, kalimat-kalimat mengalir seperti air di atas medium bening itu. Ruang itu sendiri seakan menahan napas. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Bahkan udara terasa berat, seolah tempat itu menolak konsep perubahan itu sendiri.
Elara mendekat dengan jantung berdegup menghantam tulang rusuknya. “Tunjukkan padaku.” Suaranya pecah dalam kesunyian. “Tunjukkan padaku apa yang kau sembunyikan.”
Kata-kata di permukaannya mendadak membeku. Lalu mereka mulai bergeser, huruf-huruf menyusun ulang diri seperti prajurit yang merapatkan barisan. Vellum itu menanggapi dirinya. Ia mengenal sifat temporal Elara—waktu pinjamannya, momen-momen curiannya. Ia melihat pada diri Elara suatu kerusakan yang sejenis.
*KAU MEMBAWA TANDA UTANG.*
Elara tersentak. “Aku tahu apa yang kubawa.” Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Tunjukkan takhtanya. Tunjukkan apa yang terjadi pada para dewa.”
Huruf-huruf itu bergejolak. Sesaat, tak ada apa pun yang terbentuk. Lalu sebuah petikan muncul, berpendar dengan api dingin yang tak memancarkan cahaya, namun tetap membakar dirinya ke dalam penglihatan Elara.
*KOMPAK ASLI: Panteon menempa takhta itu sebagai gudang kesadaran ilahi, sebuah wadah untuk menyalurkan kehendak kolektif para dewa. Namun wadah itu memiliki kehendaknya sendiri. Ia lapar.*
Tangan Elara bergetar saat ia membaca. Rasa tembaga memenuhi mulutnya—tidak, bukan tembaga. Abu. Abu dari masa depan yang terbakar.
*YANG PERTAMA DUDUK ADALAH KORVETH, DEWA AMBANG.*
“Tidak.” Kata itu lolos sebelum ia sempat menahannya. “Para dewa tidak—mereka tak mungkin begitu saja duduk di atas sesuatu yang bisa—”
Huruf-huruf Vellum itu terus berjalan, tak kenal ampun.
*IA BERMAKSUD MENGGUNAKAN KUASA TAKHTA UNTUK MEMPERLUAS RANAHNYA. TAKHTA MENGGUNAKANNYA SEBAGAI BALASAN. DALAM TIGA SIKLUS, KESADARANNYA DICERNA. TUBUHNYA TERTINGGAL. PIKIRANNYA MENJADI BAHAN BAKAR.*
“Dicerna.” Elara merasakan empedu naik. “Maksudmu dimakan.”
*YANG KEDUA ADALAH LYRIS, DEWI KENANGAN.*
“Berapa banyak?” Suara Elara meninggi, retak. “Berapa banyak dari mereka yang mencoba untuk—”
*IA PERCAYA IA BISA MENAHAN KELAPARAN ITU. IA MEMBERINYA MASA LALUNYA, MASA KININYA, MASA DEPANNYA. ITU TIDAK CUKUP.*
“Jawab aku!” Ia menghantamkan telapak tangannya ke permukaan Vellum itu. “Berapa banyak dewa yang dilahap benda itu?”
*TAK PERNAH CUKUP.*
Kata-kata itu menyusun ulang diri, mengalir seperti air dingin.
*YANG KETIGA. YANG KEEMPAT. YANG KELIMA. MASING-MASING PERCAYA MEREKA BISA MENAKLUKKAN MULUT ITU. MASING-MASING MENJADI SANTAPANNYA.*
Elara terhuyung mundur menjauhi Vellum. Tumitnya tersangkut pada ketiadaan, dan ia meraih tepi ruang itu untuk menstabilkan diri. Dinding-dinding memperlihatkan pantulan dirinya—wajahnya sendiri, berkerut dan kelabu, mata terbelalak oleh ngeri.
“Mereka tidak meninggalkan takhta mereka.” Ia mengucapkan kata-kata itu keras-keras, merasakannya mengendap ke dalam tulangnya seperti pemberat timah. “Mereka dilahap olehnya.”
*KELAPARAN ITU BERTAHAN. MULUT ITU MENANTI.*
Dia memaksa dirinya terus membaca. Kata-kata itu kini bergeser lebih cepat, seakan-akan Vellum merasakan pemahamannya dan ingin melengkapi gambaran itu sebelum ia sempat lari.
*KEHENINGAN BESAR BUKANLAH PENGABAIAN. ITU KELAPARAN. PARA DEWA TERAKHIR MENYEGEL TAKHTA DAN MELARIKAN DIRI, BERHARAP MENOLAKNYA DARI SANTAPAN.*
“Jadi mereka lari.” Tawa getir menggesek keluar dari tenggorokannya. “Para dewa perkasa itu kabur dan meninggalkan kita semua untuk—”
*TETAPI KELAPARAN ITU TAK BISA DITOLAK. IA MENJANGKAU LEWAT MIMPI, LEWAT RAMALAN, LEWAT KONSEP SUKSESI ITU SENDIRI.*
*IA TELAH MEMANGGIL PARA CLAIMANT BARU. IA TELAH MEMBISIKKAN JANJI-JANJI KEKUASAAN. IA AKAN MAKAN LAGI.*
Lantai seolah miring di bawah kakinya. Elara mencengkeram tepi Vellum, jari-jarinya menekan permukaannya—yang hangat. Hangat seperti kulit. Hangat seperti sesuatu yang hidup.
Ia menarik tangannya cepat-cepat.
“Para claimant.” Napasnya tersengal-sengal pendek. “Cassian. Yang lain. Mereka bukan bersaing memperebutkan hadiah. Mereka sedang digiring menuju—”
*MENUJU MULUT. MENUJU JAMUAN. PERANG SUKSESI ADALAH MENU. TAKHTA TELAH MENYIAPKAN MEJANYA.*
Sebuah suara dari belakangnya. Langkah kaki? Bukan—gema. Gema langkahnya sendiri, tiba bahkan sebelum ia sempat melangkah. Kekuatannya bocor tak terkendali, menciptakan hantu-hantu temporal yang berkelip di tepi ruang itu.
Ia harus pergi. Ia harus memberi tahu—
Memberi tahu siapa? Memberi tahu Cassian bahwa dia sedang digemukkan untuk disembelih? Memberi tahu bahwa semua yang telah ia korbankan, semua orang yang telah ia kehilangan, ternyata demi melayani nafsu makan seorang predator?
Vellum menuliskan satu pesan terakhir.
*THE ARCHIVIST MEMBAWA UTANG. THE ARCHIVIST MEMBAWA WAKTU. THE ARCHIVIST BISA MEMBERI MAKAN KELAPARAN ITU SELAMA SERIBU TAHUN.*
Itu tahu. Itu bisa melihat momen-momen pinjamannya, detik-detik yang dicurinya. Itu bisa mengecap korupsi temporal yang hidup di tulang-tulangnya.
Elara berlari.
Ia kabur dari ruangan itu, kekuatannya yang tak stabil menciptakan gema-gema beruntun yang membuat koridor-koridor menjadi mimpi buruk momen yang saling bertumpuk. Elara-masa-lalu dan Elara-masa-depan berkelip dalam penglihatannya, hantu-hantu yang meraih padanya dengan tangan-tangan tembus pandang. Segel-segel pelindung kini berdenyut memberi alarm—ia telah terdeteksi, atau lebih tepatnya, gema-gemanya yang terdeteksi. Arsip itu tahu ada penyusup bergerak di lorong-lorongnya.
Dinding-dinding memperlihatkan seratus masa depan saat ia melintas. Di sebagian, ia lolos. Di sebagian lain, ia tertangkap. Di salah satunya, ia ambruk di koridor ini juga, tubuhnya akhirnya membayar utang karena terlalu banyak momen pinjaman. Ia tak berhenti untuk menelisik satu pun.
Pintu keluar termaterialisasi di depan—sebuah ambang yang dipahat dari cahaya pucat, batas antara ruang arsip yang tak bertuan waktu dan dunia di luar. Elara menerjang melewatinya dan muncul ke udara malam yang dingin yang membakar paru-parunya dengan realitasnya yang mendadak.
Bintang-bintang berputar di atas kepala. Bulan menggantung rendah di cakrawala, sabit perak yang seakan sedang mengiris kegelapan. Ia jatuh berlutut di anak tangga arsip, terengah-engah, tubuhnya gemetar oleh sisa guncangan dari apa yang baru dipelajarinya.
Lalu dia melihatnya.
Cassian berdiri di kaki tangga, siluetnya tegas berlatarkan langit yang bertabur bintang. Dia tidak masuk ke arsip—dia tak bisa, sebagai seorang claimant, akan memicu setiap bangsal begitu melangkahi ambang—tetapi dia bertahan. Dia menunggu. Berjam-jam, mungkin. Malam makin pekat mengelilinginya sementara Elara berada di dalam, dan tetap saja dia tinggal.
“Kau menemukan sesuatu.” Bukan pertanyaan.
Elara berdiri dengan kaki yang goyah. Berat kebenaran menekan dadanya, sesuatu yang fisik, yang membuat tiap tarikan napas menjadi kerja keras. Dia ingin lari darinya, mengurung pengetahuan itu rapat-rapat, tetapi tubuhnya menolak bergerak lebih jauh.
“Aku menemukan semuanya.” Suaranya terdengar hampa di telinganya sendiri. “Dan tidak satu pun sesuai dengan yang kita kira.”
Cassian menaiki anak tangga pertama. Lalu berhenti, seolah merasakan dia butuh jarak. Angin malam menyambar rambut hitamnya, menariknya menutupi wajah. Dia tampak lelah. Dia tampak manusia.
“Maka kita menghadapinya bersama,” katanya.
Elara tertawa—bunyi patah yang sama sekali tak menyimpan humor. “Benarkah? Apa kau bahkan tahu apa yang sedang kita hadapi?”
“Katakan padaku.”
Kata-kata yang harus diucapkannya tersangkut di tenggorokan. Jika dia mengatakan padanya, dia harus menyaksikan harapannya mati. Dia harus melihatnya menyadari bahwa setiap kematian, setiap pengorbanan, setiap detik penderitaan dalam perang suksesi ini terjadi sia-sia. Bahwa dia bukan pemain dalam permainan takhta, melainkan hidangan di atas menu.
“Takhta itu bukan kursi kekuasaan.” Akhirnya dia berhasil memaksa kata-kata itu keluar. “Itu mulut. Ia melahap panteon asli. Para dewa tidak meninggalkan takhta mereka—mereka dimakan olehnya. Dan sekarang ia lapar lagi.”
Ekspresi Cassian tidak berubah. Dia menyerap kata-katanya seperti batu menyerap hujan—tanpa reaksi, tanpa perlawanan. Namun sesuatu bergeser di balik matanya. Elara melihatnya. Sekilas pemahaman, atau mungkin pengenalan.
“Kau tahu.” Tuduhan itu keluar datar, terkuras energinya oleh kebesaran segala hal lainnya. “Atau kau mencurigainya.”
“Aku berharap aku salah.” Dia menaiki satu anak tangga lagi. “Aku berharap takhta itu bisa berbeda. Direformasi. Dikendalikan.”
“Itu tidak bisa.” Elara menggeleng, rambut jatuh menutupi wajahnya. “Itu hidup, Cassian. Ia hidup selama ini, dan ia memanggil para claimant seperti—seperti umpan yang menarik mangsa.”
“Kalau begitu kita tidak mengambil takhta.” Dia mengatakannya sederhana, seolah itu solusi paling jelas di dunia. “Kita menghancurkannya.”
“Kau tak bisa menghancurkannya.” Tangannya bergerak tanpa daya. “Itu terbuat dari waktu yang mengkristal, dari kesadaran ilahi, dari hal-hal yang tak bisa dibuat tidak pernah ada. Prime Vellum bilang—”
“Aku tidak peduli apa kata Vellum.” Dia kini cukup dekat sehingga Elara bisa melihat garis-garis di sekitar matanya, kelelahan yang terpahat pada rautnya. Cassian telah memikul bobot pengetahuannya sendiri, kecurigaannya sendiri, harapannya yang putus asa bahwa dia keliru. “Segalanya bisa diurai. Segalanya bisa diakhiri. Kita hanya harus menemukan caranya.”
Elara ingin mempercayainya. Ia ingin tenggelam dalam kenyamanan kepastian Cassian, membiarkan orang lain memikul beban kebenaran yang mustahil. Namun ia telah melihat kata-kata Vellum menyala di dalam kegelapan. Ia telah merasakan kehangatan hidup dari permukaannya.
“Takhta itu melihatku.” Suaranya turun menjadi bisikan. “Ia tahu apa diriku. Ia bilang aku bisa memberinya makan selama seribu tahun.”
Cassian membeku.
“Kalau begitu kita pastikan kau tak pernah berada dalam posisi di mana itu berarti.” Tangannya menemukan tangan Elara—hangat, kukuh, nyata. Sebuah tambatan pada dunia yang masih ada di luar aula-aula beku arsip. “Aku tidak menunggu di sini karena aku tak punya tempat lain untuk pergi, Elara. Aku menunggu karena aku tahu kau akan keluar membawa sesuatu yang terlalu berat untuk satu orang.”
Elara menatap tangan mereka yang saling bertaut. Genggamannya mantap, tapi tidak mengekang, menawarkan keterhubungan tanpa belenggu. Udara malam dingin di wajahnya, namun telapak tangan Cassian hangat di telapak tangannya. Kontras itu mendadakkannya—menyakitkannya—sadar betapa sendirinya ia merasa di dalam koridor-koridor itu.
“Para claimant,” katanya. “Yang lain. Mereka tidak tahu apa yang sedang mereka tuju.”
“Tidak. Mereka tidak tahu.” Ibu jari Cassian mengusap sebuah lingkaran kecil di punggung tangannya. “Dan ketika kita memberi tahu mereka, sebagian dari mereka tak akan percaya. Sebagian akan mengira kita sedang berusaha menyingkirkan pesaing. Sebagian akan memutuskan risikonya sepadan dengan kekuatan.”
“Kalau begitu mereka akan mati.”
“Mereka akan mati.” Ia mengatakannya tanpa gentar. “Tapi kita tidak harus begitu. Dan mungkin—mungkin kita bisa menyelamatkan cukup banyak orang untuk membuat perbedaan. Mungkin kita bisa menemukan cara untuk menyegel benda itu selamanya. Tapi kita tak akan bisa melakukan semua itu kalau kau ambruk di anak tangga ini karena kelelahan dan utang.”
Elara sadar ia benar. Tubuhnya sedang menyerah, waktu pinjaman itu menagih bayaran dalam tahun-tahun yang tak mampu ia berikan. Penglihatannya beriak di tepi, kegelapan merambat seperti pasang.
“Aku perlu beristirahat.” Kata-kata itu terasa seperti menyerah. “Aku perlu pulih.”
Cassian menuntun lengannya melingkar di bahunya, menopang bobotnya ketika mereka menuruni tangga. “Kebenaran akan tetap benar besok. Takhta itu tidak akan ke mana-mana. Dan aku juga tidak.”
Mereka berjalan bersama memasuki malam, meninggalkan aula-aula beku arsip di belakang. Bintang-bintang berputar di atas, acuh tak acuh pada drama kecil para fana dan para dewa. Bulan melanjutkan perjalanannya yang lambat melintasi langit, sebuah sabit perak yang berjanji akan mengiris apa pun kegelapan yang ditemuinya.
Dan entah di jantung ranah ilahi, di sebuah bilik yang berada di luar waktu, Prime Vellum menuliskan pesan baru di permukaannya—pesan yang tak akan dibaca oleh mata hidup mana pun.
*THE ARCHIVIST TAHU. THE CLAIMANT TETAP. KELAPARAN MENUNGGU.*
*SABAR.*
*PENGUMPANAN AKAN DATANG.*
Pesan itu memudar sekejap kemudian, terserap kembali ke dalam permukaan Vellum yang tak bertepi. Dalam kesunyian sesudahnya, arsip itu mengendap—batu menggesek batu seolah mengembuskan napas setelah lama menahannya. Lorong-lorong beku itu sudah mulai melupakan penyusup yang pernah melintasinya. Gema-gema temporal yang ia tinggalkan tengah buyar, terurai seperti benang yang ditarik dari kain tua.
Di ranah fana, Elara tidur dengan gelisah di kamar kecil yang Cassian temukan untuk mereka, tubuhnya memproses utang yang telah ia tanggung. Rambutnya memutih di pelipis—penanda permanen atas jam-jam yang dipinjam lalu dihabiskan. Garis-garis di sekitar matanya kian dalam. Ia bermimpi tentang sebuah takhta yang lapar, tentang para dewa yang menyuapinya dengan pikiran mereka satu per satu sampai tak tersisa apa pun selain keilahian yang hampa.
Cassian berjaga di dekat jendela, siluetnya terbingkai oleh kelabu menjelang fajar. Ia tidak tidur. Tidak bisa tidur. Beban dari apa yang ia ceritakan menekan dadanya. Ia sudah mencurigai ada yang keliru dengan suksesi. Ia tidak menyangka bahwa takhtanya sendirilah pemangsa itu.
Ketika Elara menggeliat, matanya menemukan Cassian di seberang kamar yang remang, ia melihat pertanyaan yang tak sanggup ia ajukan.
Ia menggeleng sebelum Cassian sempat bicara. "Kita tidak berhenti." Suaranya serak oleh keletihan, namun teguh oleh tujuan. "Kita hanya berhenti mempercayai kebohongan itu."