Brankas Stoneheart tak memiliki jendela. Elara menghitung detak jantung di antara pergantian penjaga—tujuh belas, delapan belas, sembilan belas—dan beban waktu pinjaman yang menumpuk menekan dadanya seperti air bah menekan bendungan. Tiga hari ditawan. Tiga hari menyaksikan tangannya gemetar, merasakan tahun-tahun yang ia curi dari esok hari menggerogoti tulangnya hari ini. Crown of Hours sudah hilang. Para prajurit Veyra merampasnya ketika mereka menyeretnya ke sini, dan tanpa pengaruh penstabilnya, utang yang ia miliki kepada waktu itu sendiri mulai berbunga.
Ia menempelkan telapak tangan pada pintu besi yang dingin. Tak ada hangat. Tak ada celah. Batu lembap merembeskan dingin menembus pakaian penjaranya yang tipis, dan entah di mana di balik dinding, ia mendengar dentang jauh pertanda pergantian giliran. Tujuh belas detak jantung. Delapan belas. Penjaga di luar selnya berdeham.
Sekarang.
Elara meraih waktu seperti perempuan tenggelam meraih udara—dan sesuatu robek terbuka di dalam dirinya. Meminjam itu datang menghantam seperti kepalan. Bukan detik kali ini. Menit. Ia menarik lima menit penuh dari masa depannya dan utangnya menerjangnya sekaligus, tahun-tahun momen pinjaman menuntut pembayaran dalam satu gelombang yang mematikan. Lututnya lemas. Penglihatannya pecah menjadi gambar-gambar bertumpuk, masing-masing meleset satu detak jantung dari yang lain. Pintu besi itu ada dalam tiga keadaan sekaligus: tertutup, sedang terbuka, dan sudah terbuka. Ia terhuyung melewati versi yang membiarkannya lewat.
“Hati-hati—dia bergerak!”
Teriakan itu datang dari belakangnya, atau di depannya, atau dari versi lorong yang belum terjadi. Jerit Elara sendiri bergema kembali padanya dari momen-momen yang belum ia jalani. Tangannya tua. Lalu muda. Lalu tua lagi, kulitnya seperti kertas dan berbintik, buku-buku jarinya bengkak oleh radang sendi yang butuh puluhan tahun untuk terbentuk dalam waktu yang wajar. Utangnya jatuh tempo lebih cepat daripada yang sanggup ia bayar.
Lari.
Lorong membentang di hadapannya, cahaya obor tersendat-sendat dalam irama yang tak masuk akal. Seorang penjaga mengangkat busurnya. Ia melihat anak panah itu melesat dari talinya—melihatnya membeku di tengah terbang—melihatnya menghantam dinding di belakangnya. Ketiga versi itu ada sekaligus, saling bertumpuk seperti lembaran transparan yang ditaruh berlapis-lapis. Elara berlari menuju versi di mana anak panah itu meleset.
“Tidak, tidak, tidak—”
Suaranya datang dari mana-mana. Dari depan dirinya, menjerit. Dari belakangnya, terengah. Dari mulutnya sendiri di masa kini, kata-katanya tercabik oleh kekacauan yang ia lepaskan. Lantai bergelombang. Batu menjadi air menjadi batu lagi, dan ia jatuh melewati satu momen ketika gravitasi lupa arah mana yang harus ia tunjuk. Bahunya membentur sesuatu yang padat. Rasa sakit mekar, tajam dan seketika dan nyata—satu-satunya hal yang nyata di lorong yang telah menjadi kaleidoskop waktu yang terpecah.
Ia berguling bangkit. Tubuhnya menjerit memprotes, sendi-sendi beradu seperti engsel berkarat, otot-otot yang semestinya milik perempuan tiga puluh tahun lebih tua darinya. Setiap sel di tubuhnya tengah membayar harganya.
Penjaga lagi. Busur silang lagi. Anak panah itu menggantung di udara di hadapannya, membeku di antara satu detak jantung dan detak berikutnya, dan tanpa sempat berpikir ia meraih waktu tambahan—
Dunia retak.
Suara pecah seperti kaca. Elara sempoyongan ketika koridor terbelah menjadi tiga versi dirinya sendiri, masing-masing sedikit tak selaras dengan yang lain. Dalam satu versi, si penjaga masih mengangkat senjatanya. Dalam versi lain, ia sudah menembak. Dalam versi ketiga, ia tergeletak meringkuk di lantai, pingsan oleh pukulan yang belum sempat ia berikan. Wajahnya sendiri menatap balik kepadanya dari momen yang terpecah—lebih tua, lebih muda, menjerit dalam derita yang bisu.
Gema-gema itu makin parah. Setiap kali meminjam, ia menciptakan riak, dan riak itu berubah menjadi gelombang. Ia tak bisa mengendalikannya. Kekuatan yang selama ini ia gunakan dengan ketelitian sedemikian rupa telah menjadi sesuatu yang liar, seekor binatang yang menggigit tangan yang memberinya makan. Ia meraih momen berikutnya dan malah menangkap segenggam kemarin, ingatan tentang suara Veyra yang meluncur di atasnya seperti minyak.
*"Dokumen-dokumen itu memuat tanda tangannya, Archivist. Tulisan tangan Cassian sendiri, yang memerintahkan pembangunan kamp-kamp kerja paksa. Memerintahkan program-program pembiakan. Memerintahkan penundukan setiap jiwa fana yang tidak berguna bagi pemerintahannya."*
Kaki Elara tersangkut pada sebuah batu lantai yang ada dan tidak ada pada saat bersamaan. Tubuhnya terhuyung ke depan, menghantam tanah, mengecap darah. Jeritan-jeritan temporal berdentang di telinganya—kakofoni suara dirinya sendiri, teriakan para penjaga, bunyi gerusan batu melawan batu ketika brankas itu sendiri mulai tak stabil.
Bangun. Bangun saja atau kau mati di sini.
Ia memaksa dirinya tegak. Lengannya gemetar. Penglihatannya mengganda, melipat tiga, memperlihatkan selusin versi koridor yang sama memanjang ke selusin arah yang berbeda. Obor-obor menyala dengan intensitas yang berlainan di tiap versi, ada yang terang, ada yang meredup tersengal, ada yang sudah padam. Ke mana jalan keluar? Ia tak ingat. Denah Stoneheart Vault ada dalam ingatannya, tetapi ingatannya hidup dalam serpihan yang tercecer di seantero kekacauan yang ia lepaskan. Ia meraih pengetahuan itu dan hanya menangkap potongan-potongan—kiri di persimpangan, bukan kanan, bukan lurus, bukan—
Sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya.
Hangat. Padat. Nyata.
Kepala Elara tersentak naik. Cassian berdiri di hadapannya, jemarinya melingkar di lengan Elara, matanya menemukan mata Elara di tengah runtuhan momen-momen yang retak. Ia tampak keliru di dalam kekacauan temporal itu—terlalu stabil, terlalu hadir, sebuah titik tetap di dunia yang tak mau berhenti berputar.
"Elara!"
Suaranya membelah kebisingan. Elara mendengarnya jelas untuk pertama kalinya sejak peminjaman itu dimulai, mendengarnya tanpa gema-gema yang bertumpang tindih—masa lalu dan masa depan yang merembes ke masa kini.
"Kau—"
Ia tak sanggup menyelesaikannya. Dokumen-dokumen itu. Tanda tangan itu. Perintah-perintah untuk menundukkan kaum fana. Veyra telah menunjukkan buktinya, telah membiarkannya merasakan Prime Vellum yang autentik di bawah ujung jarinya, telah menyaksikan wajah Elara runtuh ketika bukti itu menghancurkan segala yang selama ini ia percayai tentang pria yang kini memegang pergelangan tangannya seperti jangkar.
"Aku tahu apa yang mereka tunjukkan padamu." Cengkeraman Cassian menguat. Suaranya rendah, mendesak, nyaris tak terdengar di atas raungan angin temporal. "Aku tahu. Tapi tidak sekarang. Bergerak."
Koridor di belakangnya berkelip. Para penjaga muncul dan lenyap, membeku dalam momen-momen yang belum sepenuhnya memadat. Sebuah baut panah silang melintas menembus ruang tempat kepalanya berada sedetik sebelumnya, menembus sebuah gaung seperti hantu. Dia nyata. Dia di sini. Dan dia meraih dirinya melewati ujung dunia.
Tangan Elara gemetar saat ia mengangkatnya menuju tangan Cassian. Keraguan mengental di perutnya, pekat dan beracun. Bukti Veyra tak terbantahkan. Prime Vellum tak mungkin dipalsukan. Tanda tangan Cassian asli, nyata, telah—
Jari-jari Cassian mengait jari-jarinya. Sentuhan itu menyetrum dirinya seperti kilat. Hangat. Tekanan. Kenyataan fisik sederhana dari kulit orang lain menempel pada kulitnya. Di dalam kekacauan waktu yang pecah-pecah, genggamannya adalah satu-satunya hal yang masuk akal.
"Apa—" Ia menelan ludah. Suaranya datang dari tiga arah sekaligus, saling bertumpuk dengan dirinya sendiri. "Bagaimana kau—"
"Warisan ilahi ada gunanya." Cassian menariknya berdiri, menahannya ketika kakinya goyah. "Aku bisa melihat jahitannya. Tempat-tempat di mana waktu masih bertahan menyatu. Kau bisa berjalan?"
Elara tidak tahu. Ia tidak tahu apa pun lagi. Koridor itu membentang ke terlalu banyak arah, dan tubuhnya terasa seperti milik orang lain—seseorang yang tua, seseorang yang sekarat, seseorang yang sudah meminjam terlalu banyak dan tak mampu membayarnya kembali.
"Kekuatanmu." Mata Cassian menyisir wajahnya. Dalam cahaya obor yang berkelip, rautnya tampak bergeser antara pria yang dulu ia percaya dan tiran yang Veyra perlihatkan padanya. "Bisa kau hentikan ini?"
"Aku tidak—" Kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. "Aku tak bisa—"
"Kalau begitu kita lari." Tangannya menemukan tangan Elara lagi, jari-jari saling mengait, genggamannya kuat dan hangat dan mustahil terasa begitu nyata. "Kita lari sampai ini berhenti."
Cassian menariknya maju. Elara tersandung mengikuti, telapak kakinya mencari pijakan di lantai yang terus berusaha menjadi sesuatu yang lain. Kekacauan mengamuk di sekeliling mereka, tetapi Cassian bergerak melaluinya seperti seorang pria yang menapaki jalur yang sudah dikenalnya di siang hari. Ia melihat momen-momen yang stabil, untaian waktu yang belum juga berjumbai, dan ia menuntunnya melewati celah-celahnya.
Seorang penjaga termaterialisasi di depan mereka. Cassian tidak memperlambat langkah. Ia melangkah masuk ke sebuah momen ketika penjaga itu belum muncul, lalu melangkah keluar di sisi seberangnya, menyeret Elara melewati celah itu sebelum lini masa sempat memadat mengurung mereka.
"Bagaimana—" Elara tak mampu merangkai pertanyaannya. Pikiran-pikirannya tercerai seperti daun-daun dalam badai.
"Ambang." Cassian menunduk melewati sebuah balok yang ada dalam tiga posisi sekaligus. "Aku bisa berjalan di antaranya. Selalu bisa. Tak pernah kupikir itu akan berguna untuk ini."
Koridor itu bermuara pada sebuah persimpangan. Ingatan Elara berkerlip—dia pernah ada di sini sebelumnya, atau dia akan ada di sini, atau dia ada di sini dalam selusin momen yang berbeda sekaligus. Gema-gema memperlihatkan kepadanya seratus versi ruang yang sama, masing-masing sedikit berbeda. Dalam beberapa, para penjaga berdiri tegap. Dalam yang lain, persimpangan itu kosong. Dalam satu, api melahap dinding-dindingnya.
Cassian menariknya ke kiri. “Lewat sini.”
“Tunggu—” Elara menancapkan tumit. Tubuhnya menjerit memprotes, sendi-sendi beradu, tetapi ia memaksa dirinya berhenti. “Dokumen-dokumen itu. Veyra menunjukkan padaku—”
“Aku tahu apa yang dia tunjukkan padamu.” Cassian menoleh. Wajahnya menegang, rahang mengatup, dan dalam cahaya yang terpecah-pecah ia tak bisa membaca ekspresinya. “Aku tahu apa yang kau kira tentang diriku. Tapi kalau kita bertahan di sini membicarakannya, loop-loop itu akan menangkap kita. Mereka akan melipat kita ke dalam momen-momen yang tak bisa kita kabur darinya. Itu yang kau mau?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Di sekeliling, waktu terus retak. Sebagian dinding di kanan mereka berkerlip lalu lenyap, menyingkap kegelapan di baliknya—lalu tersentak kembali menjadi ada begitu cepat sampai membuat matanya berair.
“Tidak,” bisiknya.
“Kalau begitu jalan.”
Mereka berlari. Ruang simpanan itu berubah menjadi mimpi buruk dari realitas yang saling menindih. Kaki Elara menghantam batu-batu yang bergeser di bawahnya, permukaan yang berubah teksturnya tiap langkah. Kadang-kadang ia melihat dirinya sendiri di depan mereka—bayang-hantu, gema dari momen yang belum terjadi, tersandung di sebuah koridor yang belum mereka capai. Ia mendengar suaranya sendiri menjerit dari belakang, sebuah peringatan atau jeritan kesakitan, ia tak tahu yang mana.
Tangan Cassian tak pernah lepas dari tangannya. Cengkeramannya satu-satunya yang konstan, satu-satunya yang tetap padat ketika segala yang lain tercerai-berai. Ia membenci dirinya sendiri karena kenyamanan yang diberikannya. Membenci bagian dalam dirinya yang ingin mempercayainya meski ada bukti, meski Prime Vellum, meski tanda tangan yang ia telusuri dengan jemarinya sendiri.
Anak-panah busur silang mendesis melewati mereka. Satu melintas menembus bahu Cassian, menembus sebuah gema seperti asap. Yang lain menyambar ujung lengan baju Elara, merobek kain namun luput dari kulit. Para penjaga menembak membabi buta ke dalam kekacauan, dan kekacauan membalas tembakan—anak-panah muncul dari entah mana, lenyap ke dalam momen-momen yang tak pernah ada.
“Di sana!” Cassian menunjuk ke depan. Sebuah pintu. Besi sungguhan, kayu sungguhan, tertambat pada sebuah momen yang tampak stabil. “Dinding luar. Di balik itu, halaman. Bisakah kau—”
Sebuah gelombang menerjang mereka.
Pandangan Elara memutih. Ia merasakan dirinya jatuh, merasakan cengkeraman Cassian terlepas tersobek, merasakan dunia melarut menjadi seribu serpih yang saling bertumpang tindih. Ia muda. Ia tua. Ia sekarat di ranjang yang tak pernah ia lihat. Ia berdiri di ladang bunga, rambutnya memutih, tangannya mantap. Ia menjerit di sebuah koridor yang ada dalam tujuh belas versi berbeda sekaligus.
Utang itu. Utang itu jatuh tempo sekaligus, menuntut bayaran untuk setiap momen yang telah ia curi, setiap detik yang ia pinjam dari masa depan yang dengan cepat menghabis.
“—lara! Elara!”
Tangan di wajahnya. Kehangatan. Tekanan. Seseorang menahannya, menambatkannya, menariknya kembali dari tepi pelupaan. Ia membuka mata. Wajah Cassian mengambang masuk ke fokus, hanya beberapa inci dari wajahnya. Ekspresinya tegang, terkendali, tetapi ada sesuatu yang berkelebat di bawah permukaan—ketakutan, mungkin, atau sesuatu yang hampir mirip kepedulian.
“Tetap bersamaku.” Suaranya rendah. Mendesak. “Jangan biarkan itu mengambilmu. Lawan.”
“Aku tidak bisa—” Suaranya pecah. “Utangnya, itu—”
“Aku tidak peduli soal utang.” Tangan-tangannya berpindah dari wajahnya ke bahunya, mencengkeram cukup keras hingga bisa meninggalkan memar. “Lawan. Kau pernah meminjam dari masa depanmu sebelumnya. Kau tahu cara membayarnya. Satu momen demi satu. Satu tarikan napas. Tetap di sini. Tetap sekarang.”
Ia mencoba. Berusaha memusatkan diri pada masa kini, pada sensasi tangan Cassian di bahunya, pada batu dingin di bawah lututnya. Namun kekacauan terus menariknya, terus berusaha menyeretnya ke momen-momen retak yang berputar-putar di sekitar mereka seperti puing dalam banjir.
“Lihat aku.” Suara Cassian membelah kebisingan. “Bukan pada gaungnya. Bukan pada serpihannya. Padaku. Aku nyata. Aku di sini. Aku datang untukmu.”
Kenapa?
Pertanyaan itu membakar di tenggorokannya, tetapi ia tak sanggup mengucapkannya. Mengapa ia datang untuknya? Jika ia seperti yang dikatakan Veyra—seorang tiran yang menunggu giliran, seorang pria yang merencanakan memperbudak para fana begitu ia merebut takhta—mengapa ia mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan satu archivist yang bahkan sudah memenuhi tujuannya?
Kecuali Veyra berbohong. Kecuali dokumen-dokumen itu dipalsukan. Kecuali tak ada lagi yang benar, dan dunia telah menjadi seretakan seperti waktu yang telah ia pecahkan.
“Elara.” Suara Cassian melunak. Cengkeramannya di bahunya mengendur, menjadi sesuatu yang nyaris seperti pelukan. “Aku datang untukmu. Apa pun yang kau kira tentang diriku, apa pun yang mereka tunjukkan padamu—aku datang untukmu. Itu harus berarti sesuatu.”
Ia tidak tahu. Tidak bisa tahu. Bukti dan kenyataan hidup di semesta yang terpisah, dan ia terperangkap di ruang di antara keduanya. Namun tangan Cassian hangat. Suaranya mantap. Dan di dunia yang tak mau berhenti pecah berkeping-keping, ia satu-satunya hal yang terasa nyata.
“Pintunya,” berhasil ia ucapkan. “Kita harus—”
“Ya.” Ia membantunya berdiri. Lengan Cassian melingkari pinggangnya, menopang beratnya ketika kakinya menolak bekerja sama. “Halaman. Kau bisa lari?”
Ia tidak yakin bisa berjalan. Namun ia tetap mengangguk, karena alternatifnya adalah tinggal di sini, menjadi bagian permanen dari putaran-putaran itu, hantu yang menghantui sebuah koridor yang ada dalam tujuh belas versi berbeda sekaligus.
Mereka bergerak bersama. Cassian setengah menggendongnya menembus kekacauan, warisan ketuhanannya membuatnya mampu menavigasi retakan-retakan itu dengan keyakinan yang tak bisa ia tandingi. Ia menemukan momen-momen yang stabil, untaian waktu yang masih bertahan, lalu menariknya melewati semua itu seperti seorang pria menuntun perempuan buta melewati bangunan yang terbakar.
Pintu itu muncul di hadapan mereka. Nyata. Kukuh. Bahu Cassian menghantam kayunya dengan seluruh berat tubuhnya, dan kuncinya pecah berantakan.
Udara malam yang dingin menampar wajahnya. Elara terengah, sensasinya tajam dan jernih setelah sesak pengap di dalam brankas. Mereka berada di sebuah pelataran, langit terbuka membentang di atas, bintang-bintang berceceran di kegelapan seperti garam yang tumpah. Distorsi itu masih mengamuk di sekitar pintu masuk brankas, tetapi di sini—di sini, udara tenang. Masa kini bertahan. Untuk saat ini.
“Kekuatanmu.” Suara Cassian tegang. Ia belum melepaskannya, lengannya masih melingkari pinggangnya. “Itu tidak berhenti. Loop-loop itu mengikutimu.”
Ia bisa merasakannya. Distorsi temporal menempel padanya seperti asap, merembes ke dunia di sekelilingnya. Batu-batu di bawah kakinya berkedip-kedip berganti keadaan. Bintang-bintang di atas seolah tersendat di jalurnya, meloncat maju dan mundur.
“Aku tidak bisa mengendalikannya.” Pengakuan itu tercabik dari tenggorokannya. “Utang itu—terlalu besar. Aku meminjam terlalu banyak. Aku tidak tahu bagaimana—”
“Kalau begitu kita lari.” Cassian memutarnya menghadap tembok pelataran. Di baliknya, kota terhampar dalam kegelapan, labirin jalan dan bayang-bayang. “Kita lari sampai itu berhenti, atau sampai kita menemukan tempat yang aman. Kamu bisa bergerak?”
Ia bisa bergerak. Harus bergerak. Alternatifnya adalah membiarkan kekacauan melahapnya, menjadi hantu yang terperangkap dalam momen-momennya sendiri yang retak selamanya. Elara mengangguk.
Mereka berlari. Tembok menjulang di depan. Cassian memanjat lebih dulu, gerakannya luwes dan cepat, lalu menjulurkan tangan untuk menariknya naik setelahnya. Elara merasakan batu kasar di bawah jemarinya, tarikan pada otot-otot yang dilemahkan oleh hari-hari dalam tahanan dan tahun-tahun utang waktu. Namun ia memanjat. Ia memanjat karena alternatifnya adalah menyerah, dan menyerah berarti mati di penjara ciptaannya sendiri.
Mereka melompat turun ke jalan di seberang. Batu-batu jalan licin oleh embun senja, dan kaki Elara tergelincir di permukaan basah. Cassian menangkapnya sebelum ia jatuh, cengkeramannya mantap pada lengannya.
“Lewat sini.” Ia menariknya ke dalam bayang-bayang sebuah gang. Distorsi itu mengikuti mereka, dinding-dinding berkedip di tepi penglihatannya, tetapi di sini rasanya berkurang. Lebih senyap. Seolah langit terbuka memberi badai ruang untuk menyebar.
“Ada rumah aman. Tiga jalan ke timur. Kamu sanggup?”
Ia tidak tahu. Tidak tahu apa pun lagi—tidak tahu apakah ia bisa memercayainya, tidak tahu apakah bukti-bukti terhadapnya nyata, tidak tahu apakah kekuatannya sendiri akan membunuhnya sebelum malam ini usai. Namun ia bebas. Brankas itu sudah di belakangnya, dinding-dindingnya surut ke dalam kegelapan. Crown of Hours masih hilang, masih berada di tangan musuh, tetapi ia bebas. Dan Cassian telah datang menjemputnya.
Itu pasti berarti sesuatu.
Elara membiarkannya menuntunnya menyusuri jalan-jalan yang gelap, tangannya masih tergenggam di tangan Cassian, tubuhnya gemetar oleh sisa-sisa guncangan runtuhnya waktu. Loop-loop itu mengikutinya—ia bisa merasakannya, bisa melihat dunia tersendat di tepi penglihatannya—tetapi kini lebih lambat, lebih lemah, seolah badai itu akhirnya mulai kehabisan tenaga. Atau seolah ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk sesuatu yang lebih buruk.
“Dokumen-dokumen itu.” Suaranya keluar serak, nyaris hanya bisikan. “Veyra menunjukkan kepadaku—”
“Aku tahu apa yang dia tunjukkan padamu.” Rahang Cassian mengeras. Ia tak memperlambat langkah, tak berhenti bergerak, tetapi genggamannya pada tangan Elara berubah—menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar penopang, sesuatu yang nyaris seperti penghiburan. “Dan aku akan mengatakan yang sebenarnya. Semuanya. Tapi bukan di sini. Bukan sekarang. Saat kita sudah aman.”
“Bagaimana aku tahu—” Elara menelan ludah. “Bagaimana aku tahu kau tidak berbohong?”
Ia berhenti. Dalam gelap gang, wajahnya setengah tersembunyi bayang-bayang, tetapi Elara bisa melihat matanya. Mantap. Jernih. Dan ada sesuatu di dalamnya yang tampak nyaris seperti duka.
“Kau tidak tahu,” katanya pelan. “Kau tidak bisa. Belum. Tapi aku datang untukmu, Elara. Aku melangkah masuk ke badai temporal untuk menemukanmu. Aku mempertaruhkan segalanya untuk menarikmu keluar dari brankas itu.” Suaranya merendah. “Apa seorang pria yang berniat memperbudak manusia fana akan mempertaruhkan dirinya demi satu archivist?”
Elara tak punya jawaban. Bukti-bukti dan kenyataan hidup di dua semesta yang terpisah, dan ia terperangkap di ruang di antara keduanya. Namun tangan Cassian hangat menggenggam tangannya. Dan di dunia yang tak berhenti retak menjadi serpihan, kehangatan itu satu-satunya hal yang terasa nyata.
“Tiga jalan,” katanya akhirnya. “Kau bilang tiga jalan.”
Ekspresi Cassian berubah—sesuatu yang mungkin lega, atau mungkin sesuatu yang lebih dalam. Ia mengangguk sekali, lalu berbalik dan menuntunnya masuk ke kegelapan.
Di belakang mereka, badai terus mengamuk. Stoneheart Vault berkelip di tepi penglihatannya, dinding-dindingnya bergeser masuk-keluar dari keberadaan. Utang yang ia tanggung pada waktu masih belum terbayar, masih menagih haknya. Dan entah di mana dalam kekacauan yang ia tinggalkan, putaran-putaran itu sudah mulai menyebar—merembes ke dunia di sekelilingnya, meretakkan realitas detik demi detik.
Ia bebas. Tetapi penjara ciptaannya sendiri baru saja dimulai.