Bab 13: Kehangatan di Balik Sisa Garam
Sisa-sisa amukan badai semalam masih meninggalkan jejak berupa buih putih yang menjilat lambung *Bintang Timur* dengan ritme yang kini jauh lebih tenang. Di ufuk barat, langit mulai meluruhkan jubah biru kelamnya, berganti dengan sapuan jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air yang kini menyerupai hamparan cermin raksasa yang tak berujung. Bimo Satrio berdiri mematung di geladak depan, mencengkeram sehelai kain lembap yang telah berubah warna menjadi keabu-abuan. Jemarinya yang kaku bergerak dengan tenaga yang tersisa, menggosok kerak garam yang mengkristal di permukaan panel instrumen kemudi cadangan. Tekstur kasar dari kristal putih itu terasa seperti parutan tajam di bawah kulit telapak tangannya yang lecet dan memerah.
Rasa perih yang menyengat menjalar hingga ke pergelangan tangan, sebuah peringatan fisik dari cengkeraman putus asa pada tali tambang saat ombak setinggi tiga meter nyaris menyeret mereka ke dalam keheningan abadi semalam. Bau amis laut yang pekat menusuk indra penciumannya, beradu tajam dengan aroma kayu basah dari pagar kapal yang sempat hancur dihantam balok kayu hanyut. Bimo menarik napas panjang, membiarkan udara lembap yang berat memenuhi paru-parunya hingga dadanya terasa sesak. Matanya terpaku pada sisa-sisa kristal putih yang menempel di sudut-sudut logam, menyadari bahwa garam ini adalah saksi bisu betapa tipisnya selaput yang memisahkan antara napas dan senyap di tengah samudra. Di bawah telapak kakinya, mesin kapal bergetar halus, mengirimkan denyut kehidupan yang konstan dan menenangkan ke seluruh tubuhnya.
"Anda masih memiliki kekuatan yang luar biasa, *Bintang Timur*," bisik Bimo dengan suara yang nyaris hilang ditelan angin.
Suara langkah kaki yang berat dan berirama mendekat dari arah belakang, memecah kesunyian geladak. Bimo tidak perlu memutar tubuhnya untuk mengenali siapa yang datang, karena getaran langkah yang mantap serta aroma tembakau murah yang samar selalu menjadi tanda kehadiran Silas Papare. Pria besar itu membawa sebuah ember plastik berisi air tawar dan sebuah sikat kasar yang bulu-bulunya sudah mulai rontok. Silas berhenti tepat di samping Bimo, melemparkan pandangannya ke arah laut yang kini tampak begitu damai, seolah-olah amarah yang meledak semalam hanyalah sebuah fragmen mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.
"Tampaknya laut sudah merasa kenyang untuk hari ini, Saudara Bimo," ujar Silas dengan suara bass yang dalam dan berwibawa.
Bimo mengangguk pelan tanpa mengalihkan fokusnya dari panel instrumen yang sedang ia bersihkan. "Laut hanya memberikan kita kesempatan untuk melintas sejenak, Saudara Silas. Belum ada jaminan bahwa dia akan mengizinkan kita untuk kembali pulang dengan selamat."
"Setidaknya kita masih memiliki hari ini untuk mengisi paru-paru kita dengan udara," balas Silas seraya mencelupkan sikatnya ke dalam ember. Ia mulai menggosok lantai geladak dengan gerakan yang efisien dan bertenaga, menciptakan suara gesekan yang ritmis. "Ibu Lastri sudah memanggil kita untuk segera turun ke bawah. Beliau berpesan agar kita tidak membiarkan sup ikan itu menjadi dingin di atas meja."
Bimo menatap tangannya yang sedikit gemetar, menyadari bahwa keinginan untuk menyendiri masih mencengkeram batinnya dengan kuat. Kesendirian selalu menjadi perisai yang ia gunakan untuk memproses setiap kepingan ketakutan dan trauma yang tersisa. Pikirannya terus berputar secara mekanis, menghitung risiko kerusakan pada sistem sonar serta kemungkinan adanya kebocoran mikro pada lambung kapal yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Namun, kontraksi di perutnya yang kosong memberikan argumen yang jauh lebih mendesak untuk segera dipenuhi. Ia meletakkan kain lembap itu di atas kotak peralatan dengan hati-hati, lalu melangkah mengikuti Silas menuju tangga sempit yang mengarah ke dapur kapal.
Ruang dapur atau *galley* yang sempit itu terasa seperti sebuah dimensi yang berbeda dari dinginnya geladak luar. Uap panas dari panci besar yang mengepul di atas kompor gas langsung menyergap mereka, seketika mengaburkan lensa kacamata Bimo hingga ia kehilangan pandangan. Ia terpaksa melepas kacamatanya, mengusap permukaannya dengan ujung kaos yang masih terasa lembap oleh keringat dan air laut. Aroma bawang putih goreng yang harum dan jahe yang tajam mulai membangkitkan rasa lapar yang terasa menyakitkan di lambungnya.
"Nah, akhirnya dua pahlawan kita muncul juga!" seru Lastri dengan nada bicara yang tegas namun hangat. Ia sedang sibuk menuangkan cairan kuning keemasan ke dalam mangkuk-mangkuk keramik yang memiliki retakan halus di sana-sini. "Segeralah duduk, Bimo. Jangan hanya berdiri mematung di ambang pintu seperti sebuah monumen pelabuhan yang tidak bernyawa."
Di sudut ruangan yang remang, Dara Puspita sudah duduk dengan kaki disilangkan, menunjukkan gurat kelelahan di wajahnya namun matanya masih memancarkan api tekad yang sama. Meiling Wijaya duduk di sampingnya, tampak sangat terobsesi dengan tablet digitalnya yang memiliki retakan di pojok kanan bawah layar. Sementara itu, Bang Ucok terlihat sangat menikmati setiap sesapan dari gelas seng yang mengeluarkan uap panas.
"Meiling, letakkan dahulu perangkat elektronik itu," tegur Lastri sambil meletakkan mangkuk berisi sup di depan Bimo dengan gerakan yang mantap. "Anda harus mengisi perut terlebih dahulu. Otak Anda akan mengalami gangguan fungsi jika hanya diberikan asupan data tanpa nutrisi yang memadai."
Meiling mendongak sejenak, memberikan senyum tipis yang tampak dipaksakan untuk menutupi kecemasannya. "Bagaimana Ibu Lastri bisa mengetahui bahwa saya sedang merasa pusing? Sensor sonar kita mengalami gangguan teknis yang cukup serius akibat guncangan badai tadi, Ibu."
"Makanlah terlebih dahulu, Meiling," Dara menimpali dengan suara yang terdengar serak dan berat. Ia meletakkan sendoknya sejenak untuk menatap Meiling. "Kapal ini tidak akan tenggelam hanya karena sensornya mengalami kemiringan beberapa derajat. Namun, kita semua bisa kehilangan nyawa jika membiarkan perut dalam keadaan kosong di tengah misi seperti ini."
Bimo menarik kursi kayu yang mengeluarkan suara derit panjang, lalu duduk di antara Silas dan Bang Ucok. Kehangatan yang merambat dari mangkuk sup ke telapak tangannya yang kaku terasa sangat nyata dan menghibur. Ia menghirup uap yang mengepul, merasakan sensasi pedas hangat dari jahe mulai merayap di pangkal tenggorokannya bahkan sebelum lidahnya mengecap rasa sup tersebut. Di dalam ruangan ini, terdapat sebuah ritual yang tidak tertulis, sebuah momen di mana hirarki komando dan ketegangan misi dikesampingkan demi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.
"Bah! Coba kalian lihat wajah si Bimo ini," Ucok tertawa kecil, suaranya yang parau memecah keheningan yang sempat tercipta. "Wajahmu tampak sangat pucat, Anak Muda. Seolah-olah kau baru saja berpapasan dengan hantu laut di tengah badai semalam."
Bimo memaksakan sebuah senyum tipis, lalu menyendok sup ikan yang memiliki tekstur daging lembut dan gurih. "Saya hanya sedang memikirkan efisiensi penggunaan bahan bakar kita setelah dipaksa melawan arus yang begitu kuat, Bang Ucok."
"Kau selalu saja memikirkan data dan angka," Dara mencibir, meskipun terdapat nada kasih sayang yang tersembunyi di balik ketajamannya. "Sesekali, pikirkanlah bagaimana caranya agar jantungmu tidak terasa seperti akan melompat keluar saat ombak menghantam lambung kapal. Tahukah kau, Bimo? Saat kau memegang kemudi tadi, ekspresi wajahmu sangat mirip dengan seseorang yang sedang mengalami kesulitan buang air besar."
Tawa serentak pecah di dalam ruangan yang sempit itu, bahkan Silas yang biasanya pendiam pun ikut terkekeh pelan hingga bahunya berguncang. Cahaya kuning redup dari lampu minyak yang digantung di langit-langit berayun pelan mengikuti irama ombak, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding kayu yang mulai melapuk. Bimo menyadari bahwa pada saat-saat seperti inilah, mereka bukan lagi sekadar kru yang disatukan oleh kontrak kerja atau ambisi pribadi. Mereka telah bertransformasi menjadi sekumpulan jiwa yang terikat satu sama lain di atas sepotong kayu yang terapung di tengah raksasa biru yang tak terduga.
"Berbicara mengenai bekas luka dan kenangan," Dara memulai pembicaraan baru sambil menggulung lengan bajunya, memperlihatkan bekas luka panjang yang melintang di lengan bawahnya. "Apakah kalian tahu dari mana saya mendapatkan tanda ini? Ini bukan berasal dari pertempuran di kapal selam, melainkan dari dahan pohon mangga di belakang rumah saya saat saya berusia sepuluh tahun. Saya hanya ingin membuktikan kepada sepupu laki-laki saya bahwa saya mampu memanjat lebih tinggi daripada mereka semua."
"Itu adalah manifestasi dari sifat keras kepala yang mendarah daging, Nak," sahut Lastri dari balik kompor sambil terus mengelap piring-piring yang sudah bersih.
Dara tertawa, dan untuk sejenak matanya tampak menerawang menembus dinding kapal. "Mungkin saja begitu. Namun, sejak hari itu, saya menyadari bahwa saya sangat tidak suka dibatasi oleh larangan apa pun. Ayah saya pernah berkata bahwa tempat seorang perempuan adalah di dapur, bukan di atas pohon. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh lebih dalam daripada akar pohon mana pun di daratan."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini suasana terasa jauh lebih hangat dan nyaman bagi mereka semua. Bimo mendengarkan dengan saksama, merasakan setiap kata yang diucapkan oleh Dara seolah meruntuhkan satu per satu tembok pertahanan yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya. Ia memperhatikan Silas yang secara tidak sadar mengusap bekas luka di pelipisnya, sebuah tanda permanen dari masa lalu yang kelam di pedalaman hutan Papua yang sangat jarang ia ceritakan kepada siapa pun. Di dalam ruangan ini, luka tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, melainkan sebuah lencana keberadaan yang sah.
"Bagaimana dengan Saudara Silas?" tanya Meiling dengan nada penuh rasa ingin tahu, matanya berbinar di balik lensa kacamatanya.
Silas terdiam selama beberapa saat, memandang sisa sup yang menggenang di dasar mangkuknya. "Luka ini tidak berasal dari pohon mangga, Meiling. Ini adalah pemberian dari seorang teman yang memilih jalan yang salah. Namun, laut telah membantu mencuci banyak noda darah di tangan saya. Sekarang, fokus utama saya hanyalah memastikan kalian semua tiba di tujuan dengan selamat."
Bimo merasakan tenggorokannya tercekat oleh emosi yang tiba-tiba meluap. Ia merogoh saku jaketnya yang tebal, menyentuh sebuah benda logam yang permukaannya terasa dingin dan kasar di ujung jarinya. Dengan gerakan yang perlahan dan penuh hormat, ia mengeluarkan benda itu dan meletakkannya di atas meja kayu yang penuh dengan noda minyak yang membandel. Sebuah kompas tua dengan kaca yang mengalami retak seribu terpampang di sana, jarumnya tidak lagi menunjuk ke arah utara, melainkan berputar dengan gelisah tanpa arah yang pasti.
"Ini adalah satu-satunya peninggalan terakhir dari ayah saya," suara Bimo terdengar lebih pelan dan berat dari biasanya.
Semua mata di ruangan itu kini tertuju pada benda kecil yang tampak rapuh tersebut. Cahaya lampu minyak memantul di permukaannya yang kusam, memberikan kesan magis sekaligus tragis. Bimo menarik napas dalam-dalam, merasakan beratnya beban kenangan yang selama ini ia pikul sendirian mulai terbagi di antara rekan-rekannya.
"Beliau memberikannya kepada saya saat saya pertama kali diajak menyelam di perairan Teluk Ambon," lanjut Bimo, jemarinya mengusap pinggiran kompas itu dengan gerakan yang sangat lembut. "Ayah saya selalu berpesan bahwa laut memiliki kompasnya sendiri yang tidak bisa dibaca oleh orang awam. Beliau memperingatkan bahwa jika kita terlalu mengandalkan alat mekanis, kita akan tersesat di dalam labirin logika kita sendiri. Saat kecelakaan tragis itu terjadi, kompas ini berada di genggamannya. Saya menemukannya tersangkut di antara celah karang, dua hari setelah beliau dinyatakan hilang secara resmi."
"Saudara Bimo..." gumam Lastri, tangannya berhenti bergerak di atas piring yang sedang ia bersihkan.
Bimo menatap rekan-rekannya satu per satu, mencari kekuatan di dalam mata mereka. "Selama bertahun-tahun, saya mengerahkan segala kemampuan untuk memperbaiki kompas ini menggunakan rumus fisika dan prinsip mekanika yang saya pelajari. Saya memiliki pemikiran bahwa jika saya berhasil membuatnya menunjuk ke arah yang benar lagi, saya akan menemukan jawaban atas misteri kenapa ayah saya tidak pernah kembali ke permukaan. Namun, badai yang kita lalui semalam menyadarkan saya akan satu hal. Kompas ini sebenarnya tidak mengalami kerusakan teknis. Dia hanya tidak lagi bersedia menunjuk ke arah utara geografis yang kita kenal selama ini."
Dara meletakkan telapak tangannya di atas tangan Bimo, sebuah sentuhan singkat yang sarat dengan pengertian dan empati. "Mungkin jarum itu sedang menunjuk ke arah yang memang seharusnya kita tuju saat ini, Bimo. Bukan utara yang ada di peta, melainkan sesuatu yang jauh lebih fundamental."
"Atau mungkin dia hanya memerlukan penggantian magnet yang baru," celetuk Bang Ucok, mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa terlalu emosional bagi seleranya. "Namun, jika kau memang menginginkannya, aku bisa mencarikan kompas pengganti di pasar gelap Makassar. Yang ini sebaiknya kau simpan saja di dalam lemari pajangan sebagai kenang-kenangan."
Bimo tertawa kecil, dan kali ini tawa itu terdengar benar-benar tulus dari lubuk hatinya. "Terima kasih atas tawarannya, Bang Ucok. Mungkin Anda benar secara teknis. Namun, saya rasa saya akan tetap memilih untuk menyimpannya di dalam saku jaket saya."
Suasana di dalam dapur kecil itu berangsur-angsur menjadi lebih ringan dan penuh dengan harapan. Mereka menghabiskan sisa makanan dengan lahap, mulai berbagi cerita-cerita kecil mengenai rumah yang mereka tinggalkan serta impian sederhana yang ingin mereka wujudkan jika misi berbahaya ini berhasil diselesaikan. Meiling bercerita tentang ambisinya untuk membangun sebuah perpustakaan digital bagi anak-anak di desa kelahirannya, sementara Ibu Lastri hanya memiliki keinginan sederhana untuk membuka warung makan permanen di daratan yang tidak pernah bergoyang akibat ombak. Waktu seolah-olah berhenti berdetak di dalam lambung *Bintang Timur*, menciptakan sebuah gelembung ketenangan di tengah samudra yang luas.
Kehangatan yang tercipta di antara mereka bukan hanya berasal dari sup jahe yang pedas atau uap panas dari kompor, melainkan dari benih rasa saling percaya yang mulai tumbuh dan mengakar. Bimo merasakan beban yang selama ini menindih pundaknya mulai sedikit berkurang. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak perlu memikul beban masa lalu ayahnya seorang diri di tengah laut ini. Ia memiliki tim ini, orang-orang yang bersedia menerjang badai dan menghadapi ketidakpastian bersamanya tanpa rasa ragu.
Setelah jamuan makan malam yang sederhana itu selesai, Bimo memutuskan untuk kembali ke geladak atas guna mencari udara segar. Laut kini benar-benar telah menenangkan dirinya, permukaannya yang hitam legam mencerminkan ribuan bintang yang bertaburan di langit malam tanpa gangguan polusi cahaya sedikit pun. Suara dengkur halus dari mesin kapal terasa seperti detak jantung yang menenangkan, sebuah irama yang menandakan bahwa perjalanan panjang mereka masih jauh dari kata usai. Ia bersandar pada pagar kapal yang dingin, memandang ke arah cakrawala yang gelap dan penuh misteri.
Di suatu tempat di kedalaman yang belum pernah terjamah oleh cahaya matahari, rahasia besar itu sedang menanti untuk ditemukan. Gerbang Batu yang sering disebutkan dalam catatan harian ayahnya bukan lagi sekadar koordinat abstrak di atas kertas tua, melainkan sebuah tujuan nyata yang kini berada dalam jangkauan mereka.
"Apa yang sedang memenuhi pikiranmu saat ini?" suara Dara terdengar tiba-tiba di sampingnya. Ia berdiri di sana, menatap ke arah yang sama dengan Bimo, membiarkan rambut pendeknya berkibar pelan tertiup angin laut yang sejuk.
"Saya sedang memikirkan tentang rumah," jawab Bimo dengan jujur tanpa mengalihkan pandangannya. "Dan tentang bagaimana samudra ini bisa terasa seperti sebuah rumah sekaligus penjara di saat yang bersamaan."
Dara mengangguk pelan, seolah ia memahami dualitas perasaan tersebut dengan sangat baik. "Kebebasan sejati selalu menuntut harga yang sangat mahal, Bimo. Terkadang kita harus menukarnya dengan rasa takut yang datang secara konstan. Namun, saya pribadi tidak akan pernah bersedia menukarnya dengan kenyamanan apa pun yang ditawarkan oleh daratan di sana."
Mereka berdua berdiri dalam keheningan selama beberapa saat, menikmati momen ketenangan yang sangat langka di tengah misi ini. Kehidupan di atas kapal adalah tentang kemampuan menemukan momen-momen kecil seperti ini di antara jam-jam yang penuh dengan ketegangan saraf dan kerja keras fisik. Bimo merasa, untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan pelabuhan, ia memiliki keyakinan penuh bahwa mereka akan berhasil menemukan apa yang selama ini mereka cari di kedalaman laut.
"Kita diperkirakan akan tiba di koordinat pertama besok pagi saat matahari terbit," ujar Dara, memecah kesunyian malam. "Anda sebaiknya segera beristirahat. Saya tidak menginginkan pilot utama saya memiliki mata panda saat kita harus melakukan manuver berbahaya di antara celah karang yang sempit."
"Tentu, Dara. Anda juga sebaiknya segera beristirahat," Bimo memberikan senyum tipis sebagai tanda perpisahan sementara.
Saat Bimo hendak memutar tubuhnya untuk menuju kabin, sebuah suara bip yang pelan namun memiliki irama yang konsisten terdengar dari arah ruang kemudi. Itu bukanlah suara alarm bahaya yang melengking, melainkan nada peringatan dari sistem sonar jarak jauh yang baru saja diaktifkan kembali oleh Meiling setelah perbaikan singkat. Bimo dan Dara saling melempar pandangan penuh tanya, lalu dengan langkah seribu mereka bergegas menuju ruang kemudi yang terletak di bagian atas.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya biru elektrik dari monitor, Meiling duduk terpaku dengan tubuh yang kaku. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak sangat tegang, matanya melekat tanpa berkedip pada layar sonar yang menunjukkan gelombang pantulan frekuensi yang sangat tidak lazim.
"Meiling? Apa yang terjadi?" tanya Bimo, suaranya seketika kembali ke nada profesional yang tenang namun penuh kewaspadaan.
Meiling tidak memberikan jawaban melalui kata-kata, melainkan hanya menunjuk ke arah layar monitor dengan jari yang sedikit gemetar. Di sana, di tengah hamparan dasar laut yang seharusnya datar dan berlumpur, muncul sebuah siluet raksasa yang tampak statis. Bentuk objek tersebut terlalu simetris untuk bisa dikategorikan sebagai formasi karang alami, dan ukurannya terlalu masif untuk sekadar bangkai kapal karam biasa. Siluet itu berdiri tegak dengan keangkuhan yang nyata di kedalaman lima ratus meter, tepat berada di jalur navigasi yang akan mereka lalui beberapa jam lagi.
"Benda apakah itu?" bisik Dara, suaranya bergetar hebat karena campuran antara rasa takut yang primitif dan kegembiraan yang meluap.
Bimo melangkah mendekat ke arah layar, matanya menyipit mencoba menganalisis setiap pola pantulan frekuensi yang tertangkap oleh sensor. Objek misterius itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan biologis, namun kehadirannya di sana terasa begitu dominan, seolah-olah ia adalah seorang penjaga purba yang telah menunggu selama ribuan tahun hanya untuk momen pertemuan ini.
"Itu bukanlah sekadar tumpukan batu atau formasi geologi," gumam Bimo, jemarinya menyentuh permukaan monitor yang terasa dingin di kulitnya. "Itu adalah sebuah struktur buatan dengan skala yang luar biasa. Kita saat ini sudah berada tepat di depan pintunya."
Radar di pojok ruangan kembali mengeluarkan bunyi bip yang teratur, memberikan konfirmasi sekunder atas keberadaan objek misterius tersebut. Di dasar laut yang gelap, sunyi, dan menekan, sesuatu yang raksasa sedang menanti kedatangan mereka, sebuah bayangan yang berpotensi mengubah segala paradigma yang mereka ketahui tentang sejarah peradaban manusia dan rahasia samudra. Bimo merasakan detak jantungnya meningkat dengan pesat, bukan karena ketakutan akan bahaya, melainkan karena sebuah kesadaran mendalam bahwa perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Di bawah sana, di balik kegelapan air yang memiliki tekanan luar biasa, jawaban atas hilangnya sang ayah mungkin sedang bersembunyi di balik pintu batu yang selama ini membisu. Malam itu, di tengah Laut Banda yang tampak begitu tenang di permukaan, *Bintang Timur* terus melaju perlahan namun pasti, membawa tujuh jiwa menuju sebuah takdir yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kehangatan sup jahe dari Ibu Lastri tadi masih terasa nyaman di perut Bimo, namun pikirannya sudah menyelam jauh ke dasar laut, menembus lapisan-lapisan air yang dingin menuju siluet raksasa yang kini memenuhi seluruh layar sonarnya. Sebuah pertanyaan besar kini menggantung dengan berat di udara: apakah mereka benar-benar telah siap secara mental dan fisik untuk membuka pintu yang selama ini terkunci rapat oleh kehendak samudra?