Bab 18: Keheningan Sebelum Kedalaman
Getaran mesin diesel merambat dari lantai baja dek *Bintang Timur*, menyusup melalui sol sepatu bot Bimo Satrio hingga ke sumsum tulangnya. Irama itu terasa seperti detak jantung purba yang sedang berjuang melawan arus ganas Laut Banda. Udara pagi yang lembap membawa uap garam yang lengket, bercampur dengan aroma solar yang menusuk indra penciuman. Di hadapannya, Exo-Suit yang mereka baptis dengan nama Banyu berdiri tegak, tertambat pada penyangga hidrolik yang kokoh. Rangka titanium itu memantulkan cahaya lampu sorot dek yang kekuningan, menciptakan kilau kusam yang tampak mengancam sekaligus megah. Bimo mengusap lengan robotik tersebut, merasakan dinginnya logam yang menyapa telapak tangannya. Sentuhan itu menjadi pengingat bisu tentang tipisnya batas antara nyawa dan kehampaan yang menunggu di bawah sana.
Silas Papare berjongkok di samping kaki suit, memegang kunci torsi raksasa seolah benda itu hanyalah mainan. Otot-otot lengan pria Papua itu menegang, menonjol di bawah kulitnya yang gelap saat ia memeriksa baut pada sendi panggul. "Kaka Bimo, segel di bagian paha kiri sudah saya ganti dengan yang baru," ujar Silas, suaranya berat dan bergema di antara deru angin. Dia menyeka peluh di dahi menggunakan punggung tangan yang berlumuran minyak hitam. Bimo mengangguk pelan, jemarinya menyesuaikan letak kacamata teknis yang sedikit merosot akibat keringat.
"Nggih, Kaka Silas. Terima kasih banyak atas ketelitiannya," sahut Bimo dengan nada formal yang terjaga. Dia berlutut, memfokuskan pandangan pada aktuator hidrolik yang menjadi sendi utama pergerakan Banyu. Matanya menyipit saat menangkap kilasan cairan bening yang merembes di sela-sela jalinan kabel serat optik. "Tolong ambilkan pelumas silikon, Kaka. Saya merasakan ada gesekan yang tidak wajar di bagian ini." Silas segera bangkit dan melangkah menuju kotak peralatan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Bimo menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara laut yang asin dan berat. Tangannya bergerak lincah, memeriksa setiap inci sambungan kabel yang nantinya akan menjadi penyambung nyawanya di kegelapan abadi. Di luar sana, pada kedalaman sepuluh ribu meter, kesalahan sekecil butiran debu bisa berubah menjadi vonis mati yang instan. Tekanan air di dasar palung akan meremukkan baja setebal apa pun, mengubahnya menjadi gumpalan logam tak berbentuk dalam sekejap mata. Suara langkah kaki yang cepat dan berirama di atas dek baja membuyarkan konsentrasinya.
"Bimo, apa kau sudah selesai dengan mainanmu ini?" Suara Dara Puspita memotong keheningan teknis di antara mereka. Pilot kapal selam itu muncul dengan rambut pendek yang berantakan dihantam angin laut yang mulai mengencang. Tangannya mencengkeram erat sebuah tablet militer yang layarnya dipenuhi oleh grafik biru yang naik-turun dengan gelisah. Bimo tidak segera menoleh, fokusnya masih tertuju pada kaleng pelumas yang baru saja diserahkan oleh Silas.
"Sedikit lagi, Dara. Sendi bahu kiri ini masih terasa kaku saat digerakkan," jawab Bimo sambil menyemprotkan cairan pelumas ke celah sempit di antara lempengan logam. Suara decitan tajam terdengar saat ia menggerakkan lengan mekanis itu secara manual, sebuah bunyi yang menyayat keheningan pagi. Bau menyengat dari bahan kimia pelumas kini memenuhi ruang di antara mereka, bertarung dengan aroma karat yang samar. Dara mendengus pelan, matanya menatap tajam ke arah jam digital di pergelangan tangannya.
"Jangan terlalu lama bergelut dengan baut. Cuaca di permukaan mulai menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat," kata Dara dengan nada lugas yang tidak menerima bantahan. Dia menyodorkan layar tabletnya tepat ke hadapan Bimo, menunjukkan pusaran warna pada peta sonar. "Lihat ini. Arus bawah laut di mulut palung mulai bergejolak, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengaduknya dari dalam." Bimo berdiri, menyeka tangannya yang kotor dengan selembar kain perca yang sudah menghitam.
Garis-garis biru neon di layar tablet itu meliuk-liuk, mengingatkan Bimo pada gerakan ular yang sedang terancam. "Ini bukan sekadar arus biasa, Dara. Ada pergeseran tektonik kecil yang terekam di sana." Dara mengangguk cepat, wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya. "Itu masalahnya. Kalau kita tidak melakukan peluncuran sekarang, celah masuk yang sempit itu bisa tertutup oleh sedimen atau runtuhan batu karang sebelum kau sempat sampai ke sana."
Meiling Wijaya muncul dari balik pintu ruang kendali dengan langkah yang terburu-buru, wajahnya tampak pucat di bawah cahaya lampu dek yang remang-remang. "Loh, kok kalian masih di sini?" serunya dengan nada cemas yang melengking tinggi. Dia memegang sebuah monitor portabel yang menampilkan angka-angka diagnostik yang terus berubah. "Data sensor tekanan di bagian kaki Banyu menunjukkan anomali yang sangat aneh, Bimo!" Jantung Bimo berdegup lebih kencang, sebuah firasat buruk mulai merayapi benaknya.
Dia segera menghampiri monitor diagnostik yang terpasang di sisi penyangga suit, jemarinya menari di atas papan ketik virtual dengan kecepatan yang terlatih. Angka-angka berwarna merah berkedip-kedip di layar, memberikan peringatan tentang ketidakstabilan pada kompartemen kaki kanan. "Tekanan internalnya turun dua persen," gumam Bimo, suaranya nyaris tenggelam oleh suara ombak yang menghantam lambung kapal. Mei meremas ujung kausnya yang bergambar karakter anime, sebuah kebiasaan yang selalu muncul saat dia merasa tertekan.
"Itu berbahaya, kan? Maksudku, kalau di atas sini saja sudah ada penurunan tekanan, bagaimana saat kau berada di bawah sana nanti?" tanya Mei dengan suara yang sedikit bergetar. Bimo mencoba mengatur napasnya, menekan rasa panik yang mulai muncul di permukaan kesadarannya. "Bukan bocor, Mei. Ini sepertinya hanya masalah kalibrasi pada sensor utama." Dia mengambil obeng presisi dari saku celananya dan membuka panel kecil di bagian pergelangan kaki suit.
Di dalam panel tersebut, jalinan kabel warna-warni tampak seperti saraf-saraf elektronik yang sangat rumit dan rapuh. Silas mendekat, bayangan tubuh besarnya menutupi cahaya lampu sorot, menciptakan ruang gelap di sekitar area kerja Bimo. "Perlu saya bongkar bagian betisnya, Kaka? Mungkin ada kabel yang terjepit di dalam sana," tawar Silas, siap dengan peralatan beratnya. Bimo menggeleng pelan, fokusnya tidak teralihkan dari sirkuit mikro di hadapannya.
"Jangan dulu, Kaka Silas. Biar saya cek sirkuit utamanya terlebih dahulu," jawab Bimo. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya, membuat pakaian kerjanya terasa lengket dan tidak nyaman. Saraf-sarafnya terasa meregang hingga nyaris putus saat dia menyentuh kabel sensor yang sangat halus dengan ujung jarinya. Setiap gerakan tangannya harus dilakukan dengan presisi milimeter; satu kesalahan kecil bisa merusak seluruh sistem komunikasi suit tersebut.
Dara menyilangkan tangan di dada, matanya tidak lepas dari jam tangan yang terus berdetak tanpa ampun. "Kita hanya punya waktu tiga puluh menit sebelum jendela peluncuran ini tertutup sepenuhnya. Kalau kita lewat dari waktu itu, ombak akan menjadi terlalu tinggi bagi derek peluncur untuk bekerja dengan aman." Bimo mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mencoba mengabaikan tekanan waktu yang diberikan Dara. "Aku butuh waktu, Dara. Aku tidak bisa turun ke kedalaman sepuluh ribu meter dengan sensor yang memberikan data sampah."
Bayangan tentang kecelakaan kapal selam ayahnya bertahun-tahun lalu melintas di benaknya, sebuah memori kelam yang selalu menghantuinya setiap kali dia berada di ambang misi besar. "Tapi kita tidak punya kemewahan waktu!" balas Dara, suaranya meninggi hingga mencapai nada oktaf yang tajam. Aksen Minangnya mulai terdengar samar, tanda bahwa kesabarannya sudah mencapai batas. "Kalau kita tunda lagi, Bang Togar akan punya alasan yang sangat kuat untuk membatalkan misi ini secara permanen."
Bimo terdiam, tangannya masih berada di dalam panel mesin yang penuh dengan oli. Dia tahu Dara benar tentang Togar Simanjuntak, pria itu hanya menunggu satu kegagalan kecil untuk menarik seluruh pendanaan dan menguasai semua data yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah. Namun, keselamatan tim dan dirinya sendiri adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. "Nggih, saya paham. Tapi saya yang akan berada di dalam suit ini, Dara," kata Bimo dengan nada tenang yang dipaksakan.
"Kalau sensor ini gagal membaca tekanan luar secara akurat, sistem penyeimbang otomatis tidak akan bekerja. Saya bisa hancur menjadi bubur dalam hitungan detik di bawah sana," lanjut Bimo sambil terus bekerja. Aki Jajang berjalan perlahan mendekati kerumunan yang sedang tegang itu, langkah kakinya hampir tidak terdengar di atas dek baja. Dia mengenakan sarung usang dan jaket pelaut tua yang warnanya sudah memudar dimakan usia dan garam laut.
"Tenanglah, anak-anakku," ucap Aki Jajang dengan suara serak yang lambat namun memiliki wibawa yang menenangkan. "Laut tidak pernah menyukai hati yang terburu-buru dan penuh dengan amarah." Mei segera menoleh ke arah mentor tua itu, wajahnya mencari sandaran kekuatan. "Aki, sensor ini bermasalah. Kalau dipaksakan, risikonya terlalu besar untuk Bimo." Aki Jajang menatap Exo-Suit Banyu seolah-olah benda logam dingin itu adalah makhluk hidup yang memiliki perasaan.
Dia mengulurkan tangannya yang keriput, menyentuh bagian bahu suit dengan penuh kasih sayang. "Benda ini memang kuat, tapi dia tidak punya jiwa. Jiwanya ada pada dirimu, Bimo." Bimo menatap mentornya itu dengan penuh hormat, menghentikan sejenak pekerjaannya. "Aki, saya harus memastikan semuanya aman secara teknis." Aki Jajang menunjuk dadanya sendiri, lalu menunjuk ke arah laut yang gelap dan luas di luar pagar dek.
"Keamanan itu ada di sini, dan di sana. Terkadang, mesin bicara bohong karena dia takut pada kegelapan yang akan dia masuki. Periksalah sekali lagi dengan hatimu, bukan hanya dengan alatmu," bisik Aki Jajang. Bimo menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi kata-kata tersebut. Dia memejamkan mata sejenak, merasakan getaran mesin suit yang merambat melalui ujung jarinya. Kali ini, dia tidak hanya mencari angka di layar, melainkan merasakan setiap sambungan fisik.
Tiba-tiba, ujung jarinya merasakan sesuatu yang ganjil pada sebuah konektor kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kabel. "Ketemu," gumamnya pelan. Sebuah butiran garam halus terjepit di antara pin konektor, menyebabkan hambatan arus yang membuat data sensor menjadi tidak stabil. Bimo mengambil cairan pembersih kontak elektrik dan menyemprotnya dengan sangat hati-hati. Setelah memasang kembali konektor itu, dia menutup panel dengan sekali klik yang memuaskan.
"Mei, cek lagi datanya sekarang," perintah Bimo. Mei segera menatap layar tabletnya dengan mata membelalak tak percaya. "Loh, kok langsung hijau semua? Wah, Bimo, kamu benar-benar punya tangan ajaib!" Dara menghela napas lega, meski wajahnya tetap menunjukkan ketegasan profesional yang tidak tergoyahkan. "Bagus. Sekarang, Silas, bantu Bimo masuk ke dalam suit. Kita harus segera pindah ke ruang peluncuran sebelum badai benar-benar tiba."
Silas dengan sigap membantu Bimo melepaskan pakaian deknya dan mengenakan pakaian dalam termal khusus yang terasa ketat dan dingin di kulit. Pakaian itu dirancang untuk menjaga suhu tubuh di tengah dinginnya air laut yang bisa mencapai titik beku di kedalaman ekstrem. Satu per satu, bagian-bagian berat dari Exo-Suit dipasangkan ke tubuh Bimo melalui bantuan mesin derek kecil. Proses ini terasa seperti ritual kuno, di mana seorang ksatria sedang mengenakan baju zirah sebelum menuju medan perang yang mematikan.
Getaran rendah mesin derek mulai merambat melalui lantai baja saat penyangga suit mulai bergerak menuju lubang peluncuran. Bimo merasakan beban logam seberat ratusan kilogram itu kini menyatu dengan tubuhnya, menjadi kulit kedua yang kaku namun perkasa. Motor-motor servo mendengung halus setiap kali dia menggerakkan jari atau lengannya, memberikan umpan balik mekanis yang presisi. Bau oli mesin yang tajam kini bercampur dengan bau karet dari segel kedap udara yang mulai mengunci.
"Sistem pendukung kehidupan aktif," suara Mei terdengar melalui interkom di dalam helm Bimo, terdengar sedikit cempreng namun jelas. "Oksigen di level seratus persen. Tekanan internal stabil pada satu atmosfer." Mereka bergerak menuju ruang kemudi untuk briefing terakhir sebelum pelepasan. Di sana, sebuah proyektor hologram menampilkan peta tiga dimensi dari Palung Banda yang tampak mengerikan. Cahaya biru neon dari proyektor itu memantul di mata Bimo, memberikan kesan futuristik yang kontras dengan suasana kapal yang tua dan berkarat.
"Rute kita adalah celah sempit di sisi utara," Dara menjelaskan sambil menunjuk ke sebuah lorong gelap di peta hologram. "Jalurnya sangat sempit, hanya tersisa ruang dua meter di sisi kiri dan kanan suit. Kau harus sangat presisi dalam bermanuver, Bimo. Sedikit saja kau menyenggol dinding karang, kabel pemandumu bisa putus." Bimo menatap simulasi rute tersebut dengan saksama, mencoba menghafal setiap belokan yang ada.
"Bagaimana dengan cadangan oksigen jika rute ini tertutup oleh runtuhan?" tanya Bimo, suaranya terdengar berat melalui speaker helm. Dara menatapnya dengan serius. "Kita punya cadangan untuk delapan jam. Tapi kalau kau terjebak di sana, rute alternatif akan memakan waktu dua kali lebih lama. Itu artinya, kau harus bergerak cepat tanpa melakukan kesalahan tunggal pun." Bimo mendengus pelan, menyadari betapa mustahilnya permintaan itu.
"Kecepatan bisa membunuh di kedalaman itu, Dara. Arus di celah sempit bisa sangat tidak terduga dan bisa melemparkan suit ini seperti bola pingpong." Dara menatap mata Bimo dengan intensitas yang jarang dia tunjukkan, sebuah kilatan kekhawatiran yang tulus. "Makanya aku yang akan memandumu dari atas sini menggunakan sonar tercanggih kita. Percayalah padaku, Bimo. Aku tidak akan membiarkanmu tersesat di kegelapan itu."
Mbak Lastri masuk ke ruang kemudi membawa nampan berisi gelas-gelas stainless steel yang mengeluarkan uap panas. Aroma jahe yang pedas dan manis seketika memenuhi ruangan, memberikan kontras yang aneh dengan bau logam dan solar yang dominan. "Ayo, minum dulu, Le, Nduk," katanya dengan nada medok yang hangat dan keibuan. "Jangan pergi ke tempat gelap itu dengan perut kosong dan hati yang dingin." Bimo menerima gelas itu dengan tangan mekanisnya yang besar, mengontrol kekuatannya agar tidak meremukkan gelas tipis itu.
Dia menyesap teh jahe panas itu perlahan melalui sedotan khusus yang terhubung ke helmnya. Rasa pedas jahe menyengat lidahnya, memberikan kehangatan yang menjalar hingga ke perutnya yang mual karena gugup. "Matur nuwun, Mbak Lastri," ujar Bimo tulus. Uap hangat dari teh itu menyentuh wajahnya, memberikan momen ketenangan yang sangat dia butuhkan sebelum terjun ke dalam kehampaan. Mbak Lastri mengusap bahu logam suit Bimo dengan lembut.
"Ingat, laut itu seperti ibu. Dia bisa marah, tapi dia juga bisa melindungi kalau kita menghormatinya. Pulanglah dengan selamat, ya?" Bimo mengangguk, merasakan kehangatan persaudaraan yang mengalir di ruangan itu. Mereka bukan sekadar tim peneliti; mereka adalah keluarga yang disatukan oleh misi yang hampir mustahil ini. Di sudut ruangan, Silas sedang memeriksa kembali tali pemandu, sementara Mei masih sibuk dengan kode-kode komunikasinya yang rumit.
"Waktunya berangkat," ujar Dara, suaranya kini kembali profesional dan dingin seperti es. Bimo meletakkan gelasnya dan berjalan menuju kapsul peluncur yang sudah menunggu di lubang dek tengah. Kapsul itu berbentuk silinder baja tebal dengan jendela kaca akrilik yang sangat tebal untuk menahan tekanan luar biasa. Saat dia melangkah masuk, suara bising dari dek luar tiba-tiba menghilang, digantikan oleh dengung statis dari sistem komunikasi di dalam helmnya.
Silas membantunya mengunci posisi suit di dalam kapsul dengan rantai-rantai pengaman yang berat. "Kaka Bimo, jaga diri baik-baik di bawah sana," bisik Silas sebelum menutup pintu kapsul. "Saya tunggu di atas sini dengan kopi yang jauh lebih kuat dari teh jahe ini." Bimo hanya bisa memberikan jempol mekanisnya sebagai jawaban. Pintu kapsul tertutup dengan suara dentuman logam yang berat, mengisolasi Bimo dari dunia luar.
Suara hampa udara segera terdengar saat sistem vakum mulai bekerja, menyeimbangkan tekanan di dalam kapsul sebelum diturunkan ke laut. Bimo merasa seolah-olah dia sedang berada di dalam peti mati logam yang sangat canggih. Detak jantungnya bergema di dalam helm, terdengar seperti tabuhan genderang yang tidak beraturan di tengah kesunyian. "Bimo, kau mendengarku?" Suara Dara terdengar jernih di telinganya, memberikan sedikit rasa aman.
"Dengar, Dara. Posisi sudah terkunci dan sistem siap untuk peluncuran." Dara menarik napas panjang di ujung sana. "Oke. Kita mulai penurunan dalam hitungan lima, empat, tiga, dua, satu. Lepaskan!" Sentakan keras terasa saat kapsul itu dilepaskan dari derek dan meluncur masuk ke dalam air dengan kecepatan tinggi. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil kapsul seketika berubah menjadi hijau gelap, lalu dengan cepat memudar menjadi biru tua yang pekat.
Gelembung-gelembung udara menari-nari di luar kaca sebelum menghilang ke atas, menuju permukaan yang kini terasa sangat jauh. Bimo menatap ke luar jendela, menyaksikan dunia yang dia kenal perlahan-lahan menghilang. Kapal *Bintang Timur* kini hanya tampak seperti bayangan hitam kecil yang semakin mengecil di atas sana. Dia kini memasuki wilayah di mana cahaya matahari tidak lagi berkuasa, sebuah kerajaan kegelapan yang abadi.
"Kedalaman seratus meter," lapor Mei melalui radio, suaranya terdengar stabil. "Semua sistem normal. Tekanan luar mulai meningkat sesuai prediksi." Bimo merasakan sedikit tekanan pada telinganya, sebuah sensasi yang sudah biasa dia rasakan namun tetap membuatnya waspada terhadap setiap perubahan sekecil apa pun. Dia menggerakkan jari-jari mekanisnya, memastikan respons motorik suit tetap lancar di bawah tekanan yang mulai meningkat.
Rasa logam di lidahnya akibat udara daur ulang mulai terasa tidak enak, namun itu adalah tanda bahwa sistem oksigennya bekerja dengan baik. "Dara, aku melihat banyak partikel sedimen di sini," ujar Bimo saat lampu sorot kapsul menerangi butiran-butiran putih yang melayang seperti salju di kegelapan. "Pandangan mulai terbatas, hanya sekitar lima meter ke depan." Dara menyahut dengan cepat, "Tetap pada jalur, Bimo. Jangan terdistraksi oleh apa pun di luar sana."
Kapsul terus turun dengan kecepatan konstan, membawa Bimo semakin dalam ke rahim bumi. Kegelapan di luar jendela kini menjadi absolut, sehitam tinta yang tumpah di atas kain beludru. Hanya lampu sorot kapsul yang memberikan sedikit harapan di tengah kehampaan yang menelan segalanya. Bimo merasa seperti seekor makhluk kecil yang sedang diintai oleh predator raksasa di tengah hutan yang gelap. Rasa takut itu ada, mengintai di sudut pikirannya, namun dia menekannya dalam-dalam.
Tiba-tiba, lampu indikator oksigen di panel kendalinya berkedip kuning dengan suara peringatan yang menusuk telinga. Jantung Bimo seolah berhenti berdetak sejenak. "Mei, ada peringatan pada aliran oksigen. Kau melihatnya di sana?" Suara Mei terdengar panik di seberang komunikasi. "Loh, kok bisa? Sebentar, aku cek datanya! Bimo, ada fluktuasi pada katup pencampur. Jangan panik, coba kau ketuk panel di sebelah kananmu dengan perlahan."
Bimo melakukan instruksi itu dengan hati-hati, memukul pelan panel logam tersebut dengan telapak tangan suitnya. Lampu kuning itu terus berkedip selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya kembali menjadi hijau stabil. "Sepertinya hanya masalah sensor lagi," gumam Bimo, meski keringat kini sudah membasahi dahinya dengan deras. "Tapi ini benar-benar membuatku tidak nyaman, Mei."
"Kita sudah terlalu jauh untuk kembali sekarang," suara Dara terdengar tegas namun ada nada getar yang tidak bisa dia sembunyikan. "Kau berada di kedalaman lima ratus meter. Kita hampir mencapai batas zona mesopelagik, tempat di mana tekanan mulai menjadi benar-benar serius." Bimo mencoba mengatur napasnya kembali, membayangkan wajah ayahnya yang tersenyum saat mereka pertama kali menyelam bersama. Ayahnya selalu berkata bahwa laut tidak pernah berniat membunuh, dia hanya menuntut rasa hormat yang mutlak dari siapa pun yang memasukinya.
Waktu seolah berhenti di dalam kapsul sempit itu. Satu-satunya penanda bahwa mereka bergerak adalah angka kedalaman yang terus bertambah di layar monitor dengan ritme yang menakutkan. Seribu meter. Dua ribu meter. Lima ribu meter. Tekanan di luar sana kini sudah mencapai tingkat yang luar biasa, ribuan ton air menekan setiap inci dinding kapsul. Bimo bisa mendengar suara derit halus dari dinding baja, seolah-olah logam itu sedang mengerang di bawah beban air yang mahaberat.
"Bimo, kau akan segera memasuki zona hadal," suara Dara kini terdengar lebih serius dan penuh konsentrasi. "Persiapkan dirimu untuk pelepasan dari kapsul pelindung. Kau harus keluar dan mulai berenang secara mandiri menuju celah palung yang sudah kita tentukan." Bimo menarik napas dalam, menguatkan mentalnya. "Diterima. Memulai prosedur dekompresi internal kapsul sekarang." Dia merasakan tekanan di dalam kabin mulai disesuaikan dengan tekanan luar melalui sistem hidrolik yang kompleks.
Ini adalah bagian yang paling berbahaya dari seluruh misi ini. Jika suit gagal menyeimbangkan tekanan secara instan, tubuhnya akan hancur seketika sebelum dia sempat berteriak. Dia memegang tuas pelepasan pintu dengan tangan yang gemetar hebat. "Tekanan seimbang," lapor Mei dengan suara lega. "Kau bisa keluar sekarang, Bimo. Hati-hati di luar sana. Jangan lupa, komunikasimu sepenuhnya bergantung pada kabel pemandu ini."
Bimo menarik tuas itu dengan mantap. Pintu kapsul terbuka perlahan, mengeluarkan suara desisan air yang masuk ke dalam kompartemen penyeimbang. Dia melangkah keluar, meninggalkan keamanan kapsul menuju kegelapan abadi yang sesungguhnya. Di luar sana, air terasa seperti substansi yang sangat padat, menekan suitnya dari segala arah dengan kekuatan yang mengerikan. Lampu sorot di bahu suitnya menyala, membelah kegelapan dengan dua garis cahaya putih yang tajam.
Dia melayang di tengah kehampaan yang tak berujung. Di bawahnya, jurang Palung Banda menganga lebar seperti mulut monster raksasa yang siap menelannya utuh. Dia mulai menggerakkan pendorong jet kecil di punggung suitnya, meluncur perlahan menuju rute navigasi. "Aku sudah di luar. Memulai navigasi menuju celah utara," lapor Bimo, suaranya terdengar lebih berat karena kepadatan udara di dalam suit yang sudah disesuaikan.
"Aku melihatmu di sonar, posisimu bagus," sahut Dara. "Tapi kau bergerak terlalu ke kanan karena pengaruh arus samping. Geser dua derajat ke kiri sekarang." Bimo menyesuaikan posisinya dengan hati-hati. Dia bisa melihat dinding karang raksasa di depannya, permukaannya ditutupi oleh organisme aneh yang mengeluarkan cahaya bioluminesensi redup berwarna biru dan ungu. Mereka tampak seperti bintang-bintang yang terperangkap di dasar bumi, sebuah keindahan yang mematikan.
"Dara, aku hampir mencapai mulut celah," ujar Bimo, matanya terpaku pada layar sonar di dalam helmnya. Namun, sesuatu yang aneh muncul di layar sonar itu; sebuah titik kecil berwarna merah terang yang berkedip di posisi yang jauh di bawahnya. Titik itu bergerak dengan pola yang terlalu teratur untuk menjadi seekor makhluk laut. Bimo mengerutkan kening, mencoba mempertajam fokus sonarnya. "Mei, kau melihat apa yang aku lihat di layar sonar?"
"Loh, sebentar. Aku sedang menyinkronkan datanya," Mei terdiam sejenak, hanya suara ketikan keyboard yang terdengar cepat di latar belakang. "Bimo, itu bukan gangguan sensor atau pantulan suara. Sinyal itu... itu adalah sinyal buatan manusia." Dara memotong dengan cepat, "Apa maksudmu, Mei? Tidak ada tim lain yang diizinkan berada di area ini." Suara Mei kini dipenuhi ketakutan yang nyata.
"Sinyal itu memiliki tanda frekuensi yang hampir sama dengan peralatan kita, tapi dengan enkripsi yang berbeda. Dan sinyal itu bergerak tepat di bawah posisi Bimo sekarang." Bimo membeku di tengah air yang dingin, menatap ke arah kegelapan yang tak berujung di dalam palung. Di sana, jauh di kedalaman yang belum terjamah, sebuah cahaya kecil berwarna merah mulai terlihat berkedip secara ritmis seolah-olah sedang memanggil namanya.
"Dara, ada sesuatu di bawah sana," bisik Bimo dengan suara yang bergetar hebat. "Sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada di sini." Dara berteriak melalui radio, "Bimo, batalkan misi! Kembali ke kapsul sekarang juga!" Tapi perintah itu datang terlambat. Arus bawah laut yang sangat kuat tiba-tiba muncul dari arah palung, menarik Exo-Suit Bimo ke bawah dengan kekuatan yang tak tertahankan oleh pendorong jetnya.
"Dara! Aku terseret! Arusnya terlalu kuat!" teriak Bimo sambil mencoba mengaktifkan pendorong darurat. Cahaya merah di bawah sana semakin terang, dan untuk sesaat, lampu sorotnya menangkap garis-garis logam raksasa yang terkubur di dalam sedimen dasar laut. Itu bukan sekadar artefak kuno; itu adalah sebuah struktur masif yang tampak masih aktif. "Komunikasi... terputus... Bimo... kau..." Suara Dara menghilang menjadi statis yang tajam dan menyakitkan telinga.
Bimo Satrio kini benar-benar sendirian, jatuh semakin dalam ke dalam rahim laut yang paling gelap, menuju sebuah rahasia yang telah terkubur selama ribuan tahun. Tekanan udara di dalam helmnya mulai turun drastis, dan hal terakhir yang dia lihat sebelum kesadarannya memudar adalah bayangan raksasa yang bergerak di balik dinding palung. Dia merasakan suitnya menghantam sesuatu yang keras namun lentur, dan tiba-tiba dia tidak lagi merasa jatuh.
Dia berada di sebuah ruangan luas yang dipenuhi cahaya lembut, di mana air tidak lagi terasa menekan. Bimo membuka matanya perlahan, dan di hadapannya berdiri sebuah gerbang batu raksasa yang dihiasi dengan simbol-simbol yang sama dengan yang ada di catatan ayahnya. Simbol-simbol itu mulai bercahaya emas, mengeluarkan suara dengungan rendah yang menggetarkan seluruh tubuhnya. "Selamat datang, Satrio," sebuah suara bergema langsung di dalam pikirannya.
Suara itu sangat mirip dengan suara ayahnya, namun memiliki wibawa yang tak terlukiskan oleh kata-kata. Bimo mencoba bergerak, namun suitnya tidak lagi merespons perintah motoriknya. Dia hanya bisa menyaksikan saat sosok-sosok bercahaya mulai keluar dari balik gerbang, mendekatinya dengan gerakan anggun. Di permukaan, kapal *Bintang Timur* bergoyang hebat dihantam badai mendadak. Dara menatap layar monitor yang statis dengan air mata yang mulai mengalir. "Bimo! Jawab aku!" teriaknya sia-sia, sementara Aki Jajang hanya bisa menatap laut dengan tatapan sedih yang mendalam. Perang untuk memperebutkan rahasia dasar laut baru saja dimulai, dan Bimo adalah kuncinya.