Bab 8: Garis Batas di Atas Air
Kayu dermaga itu mengerang di bawah beban langkah Bimo Satrio. Pagi ini, Desa Karang Hijau tidak lagi terbangun oleh deru mesin perahu atau gelak tawa para nelayan yang biasanya sibuk membongkar muatan perak dari jaring mereka. Kesunyian yang mencekam menyelimuti pelabuhan, seolah-olah seluruh kehidupan di sana sedang menahan napas di bawah permukaan air yang tampak keruh dan lesu. Garis polisi berwarna kuning cerah melintang di antara tiang-tiang pancang, memotong cakrawala dan memisahkan warga dari laut yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mereka. Segel resmi dengan logo burung garuda dan tulisan "Heritage Preservation Corporation" tertempel kaku pada setiap kemudi kapal yang kini terpaksa bersandar tanpa daya.
Jari-jari Bimo bergerak perlahan, menyentuh rantai besi dingin yang melilit kemudi kapal milik paman salah satu warga. Logam itu terasa beku, mengirimkan sensasi menggigil yang tidak wajar ke balik kulitnya di bawah sengatan matahari tropis yang mulai meninggi. Aroma karat besi yang basah bercampur dengan bau garam yang tajam menusuk penciumannya, menciptakan perpaduan aroma kegagalan yang menyesakkan rongga dada. Kapal-kapal itu bergoyang pelan, dihantam ombak kecil yang suaranya terdengar seperti gesekan kayu yang sedang merintih kesakitan. Bimo memejamkan mata sejenak, merasakan getaran lambung kapal yang diam, sebuah mesin perkasa yang dipaksa berhenti sebelum sempat mencapai tujuannya di tengah samudra.
"Lihatlah pemandangan ini, Bimo," sebuah suara parau memecah keheningan dari arah tumpukan jaring yang mulai mengering.
Ucok Batubara duduk di sana dengan gurat wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari ingatan terakhir Bimo. Matanya yang memerah menatap nanar ke arah deretan kapal yang terbelenggu, seolah-olah ia sedang melihat barisan narapidana yang menunggu eksekusi. Pria itu biasanya selalu penuh dengan lelucon kasar dan bualan tentang harta karun karun, namun hari ini, bahunya merosot seperti layar yang kehilangan tiang penyangganya. Ia memegang sebatang puntung rokok yang sudah lama padam, seakan-akan ia lupa bahwa api di sana telah mati sejak berjam-jam yang lalu.
"Apakah Anda benar-benar percaya bahwa semua ini dilakukan demi kemajuan ilmu pengetahuan, Bang Ucok?" Bimo bertanya dengan nada rendah, berusaha keras menjaga suaranya agar tetap stabil di tengah amarah yang mulai mendidih.
"Ilmu pengetahuan macam apa yang sanggup membuat perut anak dan istri kami keroncongan seperti ini?" Ucok berdiri dengan langkah yang tampak gontai saat ia mendekati Bimo. "Kapal-kapal ini adalah kaki kami untuk melangkah di atas air, Bimo. Tanpa benda-benda ini, kami hanyalah potongan daging yang menunggu busuk di daratan yang gersang."
Bimo menelan ludah, merasakan beban rasa bersalah yang mengumpul dan memberat di dasar perutnya. Rahasia yang ia simpan rapat tentang koordinat peninggalan ayahnya kini terasa seperti magnet yang menarik segala petaka ini menuju desa mereka yang tenang. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kedatangan orang-orang berseragam itu bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit. Setiap rantai yang terkunci di dermaga ini adalah jerat yang ia pasang sendiri tanpa sengaja saat ia memutuskan untuk menggali kembali puing-puing masa lalu.
"Saya mohon Anda bersabar sejenak, Bang," ujar Bimo sambil menepuk bahu Ucok yang terasa sekeras batu karang. "Saya akan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar birokrasi ini."
"Mencari tahu?" Ucok tertawa getir, suaranya pecah di antara deburan ombak yang menghantam tiang dermaga. "Silakan Anda tengok kertas-kertas sialan yang mereka tempelkan itu. Mereka memiliki surat sakti dari Jakarta yang tidak bisa kita lawan dengan tangan kosong. Kita semua hanyalah semut yang kebetulan membangun sarang di atas tumpukan emas yang ingin mereka miliki."
Bimo meninggalkan dermaga dengan perasaan yang semakin memberat, seolah-olah ia sedang berjalan melawan arus pasang yang sangat kuat. Di ujung jalan setapak yang menuju ke arah balai desa, ia melihat Dara Puspita berlari kecil ke arahnya dengan napas yang tersengal. Rambut perempuan itu tampak berantakan, dan wajahnya menunjukkan kecemasan yang sangat jarang ia perlihatkan di balik kokpit kapal selamnya yang canggih. Di tangannya, ia menggenggam seberkas dokumen yang terlihat kaku dengan ujung-ujung kertas yang tajam.
"Bimo, kita sedang berada dalam masalah yang sangat besar," Dara bicara dengan cepat, matanya bergerak gelisah memindai sekitar. "Kali ini, ini bukan sekadar turbulensi kecil yang bisa kita hindari dengan mudah. Kita sedang menabrak dinding gunung yang tak terlihat."
Dara menyerahkan dokumen itu kepada Bimo dengan tangan yang sedikit gemetar. Kertasnya terasa licin dan dingin, memiliki tekstur khas dokumen birokrasi yang tidak mengenal kompromi terhadap nasib rakyat kecil. Bimo membaca baris demi baris dengan teliti, matanya menyipit saat melihat stempel resmi dari Heritage Preservation Corporation (HPC) yang berwarna merah darah. Di sana tertera rencana pembentukan "Zona Warisan Nasional Terbatas" yang mencakup seluruh wilayah perairan Karang Hijau hingga radius dua puluh mil laut ke arah samudra lepas.
"Apakah mereka benar-benar berniat menutup akses total bagi para nelayan?" Bimo bertanya, suaranya kini nyaris berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan.
"Mereka akan melakukannya dengan sangat cepat, lengkap dengan patroli sonar yang beroperasi selama dua puluh empat jam penuh," Dara menyahut, nada bicaranya mulai diwarnai aksen Minang yang samar karena emosi yang meluap. "Siapa pun yang berani melintas tanpa izin tertulis akan dianggap sebagai penjarah benda cagar budaya. Mereka sedang menggunakan hukum sebagai pedang untuk membunuh desa ini secara legal dan sistematis."
Bimo merasakan tekanan yang luar biasa mengumpul dalam wadah tertutup di dalam dadanya, siap untuk meledak kapan saja. Lawan mereka sekarang bukan lagi sekadar Marco atau sindikat gelap yang bisa ia hadapi dengan strategi sembunyi-sembunyi di balik bayangan. Musuh mereka saat ini adalah sebuah entitas raksasa yang memiliki wajah hukum dan dukungan penuh dari struktur negara. Togar Simanjuntak benar-benar telah memainkan kartu yang sangat cerdik, mengubah keserakahan korporasi menjadi misi penyelamatan sejarah yang tampak mulia di mata publik.
"HPC ini sebenarnya hanyalah perpanjangan tangan dari Samudra Nusantara Corp, bukan begitu?" Bimo menatap Dara dengan pandangan yang tajam dan menuntut jawaban pasti.
"Dugaan Anda sangat tepat," Dara mengangguk pelan, jarinya menunjuk ke arah daftar dewan direksi yang tertera di halaman belakang dokumen tersebut. "Sekarang nama Togar ada di sana sebagai penasihat utama yang memegang kendali penuh. Dia tidak perlu lagi mencuri situs itu secara sembunyi-sembunyi, Bimo. Sekarang dia memilikinya secara sah lewat undang-undang yang mereka ciptakan sendiri."
Mereka berjalan menuju gubuk kayu milik Bimo yang terletak agak tersembunyi di balik rimbunnya pohon kelapa yang melambai ditiup angin. Di dalam ruangan sempit itu, aroma kopi tubruk yang pekat dan menenangkan mulai memenuhi udara, memberikan sedikit rasa nyaman di tengah kekacauan. Bimo menyalakan lampu minyak kecil, cahayanya yang redup memantul di permukaan peta-peta tua yang tersebar berantakan di atas meja kayu yang kasar. Ia merasa seperti berada di dalam kabin kapal yang sedang terkepung oleh badai besar, di mana setiap keputusan yang diambil bisa berarti keselamatan atau karam selamanya.
Dara duduk di kursi kayu yang berderit karena usianya yang sudah tua, matanya tidak lepas dari gerak-gerik Bimo. "Jadi, apa rencana yang akan kita jalankan selanjutnya? Kita tidak mungkin hanya duduk diam di sini sambil menunggu mereka memasang pagar kawat di tengah laut."
"Kita harus menemukan lokasi situs itu lebih dulu daripada mereka, Dara," jawab Bimo dengan nada bicara yang tegas dan penuh keyakinan.
"Apakah Anda sudah kehilangan akal sehat?" Dara berdiri dengan tiba-tiba, suaranya meninggi hingga memenuhi ruangan kecil itu. "Tindakan itu akan dianggap sebagai penggalian ilegal oleh pihak berwenang. Jika kita tertangkap, kita tidak hanya akan kehilangan pekerjaan, tetapi kita bisa berakhir di balik jeruji penjara untuk waktu yang sangat lama."
Bimo mendekati meja, jarinya menelusuri garis koordinat yang baru saja ia tandai dengan tinta hitam yang masih basah. "Dara, tolong dengarkan penjelasan saya baik-baik. Jika HPC menemukan situs itu tanpa ada saksi dari pihak desa atau ahli independen, mereka bisa menentukan batas zona sesuka hati mereka sendiri. Mereka akan menutup seluruh area tangkap ikan utama dengan alasan perlindungan artefak yang sebenarnya hanya kedok semata."
"Lalu, apa bedanya jika kita yang menemukannya terlebih dahulu?"
"Kita akan memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat," Bimo menatap Dara dengan keyakinan yang terasa dingin dan menusuk. "Kita bisa membuktikan bahwa situs tersebut berada di titik yang sangat spesifik, sehingga tidak perlu menutup seluruh teluk yang menjadi sumber kehidupan warga. Kita bisa menegosiasikan batas zona agar para nelayan tetap bisa melaut di area luar situs tersebut secara bebas."
Dara terdiam seribu bahasa, matanya menatap uap panas yang membubung dari cangkir kopi yang terletak di atas meja kayu. Ia menyadari bahwa logika Bimo benar, namun risiko yang mereka hadapi terasa seperti terbang menembus badai petir tanpa bantuan instrumen navigasi sama sekali. Keheningan di antara mereka hanya dipecahkan oleh suara cicak di dinding dan desau angin malam yang menyelinap masuk melalui celah-celah kayu gubuk yang mulai lapuk.
"Mengapa Anda begitu yakin bahwa situs kuno itu bisa menjadi penyelamat bagi mereka semua?" Dara bertanya dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Karena ayah saya selalu percaya bahwa laut akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan," Bimo menjawab pelan, suaranya sedikit bergetar oleh kenangan masa lalu. "Catatan Dasar Laut itu bukan sekadar tumpukan harta karun yang tidak bernyawa. Itu adalah bukti otentik bahwa manusia dan laut di tempat ini sudah hidup berdampingan selama berabad-abad tanpa harus saling menghancurkan satu sama lain."
Dara menghela napas panjang, lalu ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus singkong goreng yang masih mengeluarkan aroma hangat. Bau gurihnya seketika memenuhi ruangan, memberikan sedikit rasa nyaman di tengah ketegangan yang terasa mencekam. Ia mendorong bungkusan itu ke arah Bimo, sebuah isyarat dukungan yang tidak membutuhkan kata-kata tambahan untuk dipahami.
"Silakan Anda santap terlebih dahulu, Saudara Bimo," ujar Dara, menggunakan sapaan yang lebih formal untuk menunjukkan rasa hormatnya yang mendalam. "Seorang pilot tidak boleh terbang dengan perut yang kosong, begitu juga dengan seorang oseanografer yang akan menghadapi tantangan besar."
Bimo tersenyum tipis, mengambil sepotong singkong dan merasakan teksturnya yang renyah di luar namun sangat lembut di bagian dalam. Rasa asin garam yang mengering di kulit wajahnya seolah terhapus oleh kehangatan makanan sederhana yang diberikan oleh rekannya itu. Di saat-saat seperti ini, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak sedang berjuang sendirian di tengah lautan masalah yang luas ini. Ada Dara, ada warga desa yang menggantungkan harapan padanya, dan ada bayang-bayang ayahnya yang seolah menuntun setiap langkahnya dari kegelapan masa lalu.
"Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Dara," kata Bimo dengan nada yang sangat tulus.
"Jangan Anda ucapkan terima kasih sekarang," Dara memotong pembicaraan dengan cepat dan tegas. "Simpanlah kata-kata itu untuk saat kita berhasil kembali ke daratan dengan koordinat yang tepat di tangan kita."
Setelah menghabiskan makanan mereka dalam diam yang penuh dengan pemikiran strategis, Bimo mulai mengeluarkan peralatan dasarnya satu per satu. Ia mengambil kompas tua peninggalan ayahnya, sebuah benda dari kuningan yang permukaannya sudah kusam namun jarumnya masih menunjuk ke arah utara dengan sangat presisi. Cahaya lampu senter yang redup memantul di permukaan kaca kompas itu, menciptakan kilatan kecil yang tampak seperti bintang di tengah malam yang gelap gulita. Bimo menandai peta dengan pensil, tangannya bergerak dengan kepastian seorang navigator yang sudah hafal setiap lekuk arus bawah laut.
Ia menyadari bahwa waktu yang mereka miliki tidaklah banyak untuk disia-siakan begitu saja. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dengung sonar yang ritmis, terdengar seperti detak jantung mekanis yang dingin milik kapal-kapal patroli HPC. Suara itu adalah pengingat yang kejam bahwa musuh mereka tidak pernah tidur, terus menyisir dasar laut dengan teknologi yang jauh melampaui apa yang mereka miliki saat ini.
"Kita akan berangkat malam ini juga," Bimo memutuskan, suaranya terdengar sekuat baja yang baru saja ditempa di dalam api.
"Malam ini?" Dara tampak terkejut dengan keputusan yang mendadak itu. "Tetapi patroli mereka pasti akan sangat ketat di sekitar wilayah pelabuhan utama."
"Justru karena alasan itulah kita harus bergerak sekarang," Bimo menjelaskan sambil melipat petanya dengan gerakan yang efisien. "Mereka akan mengira bahwa kita sudah menyerah karena melihat segel-segel yang mereka pasang. Kita akan menggunakan perahu kecil milik Aki Jajang yang disembunyikan di teluk belakang yang jarang dilewati orang."
Dara menatap Bimo dalam waktu yang cukup lama, mencoba mencari keraguan di mata pria itu, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang sudah membatu. Ia tahu bahwa Bimo tidak akan bisa dihentikan oleh apa pun setelah ia mengambil keputusan sebesar ini. Pria ini sudah memutuskan untuk melintasi garis batas yang berbahaya, bukan demi kejayaan pribadi, melainkan demi kelangsungan hidup sebuah desa yang sudah dianggapnya sebagai rumah sendiri.
"Baiklah, saya akan mengikuti rencana Anda," Dara akhirnya menyerah pada argumen Bimo. "Tetapi saya yang akan memegang kendali mesin perahu tersebut. Saya tidak ingin kita berakhir menjadi umpan hiu hanya karena Anda terlalu sibuk melihat angka-angka di layar GPS."
Bimo mengangguk kecil sebagai tanda persetujuan. "Tentu saja, Dara. Keselamatan tim adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar dalam misi ini."
Mereka mulai mengemasi barang-barang ke dalam tas kedap air dengan gerakan yang sangat hati-hati. Meiling Wijaya mungkin akan sangat marah jika ia tahu mereka pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu, tetapi membawa terlalu banyak orang hanya akan meningkatkan risiko terdeteksi oleh radar musuh. Bimo memeriksa kembali tabung oksigen kecil dan masker selamnya, memastikan semuanya berfungsi dengan sempurna tanpa ada kebocoran sedikit pun. Ruangan itu terasa semakin mengecil seiring dengan meningkatnya adrenalin dalam darah mereka, sebuah wadah tertutup yang siap meledak kapan saja.
Saat mereka melangkah keluar dari gubuk, udara malam yang dingin menyambut mereka dengan aroma kelembapan yang sangat tinggi. Langit di atas Karang Hijau tampak sangat bersih, bertabur bintang-bintang yang seolah-olah menjadi saksi bisu atas keberangkatan rahasia mereka menuju kegelapan. Bimo menoleh sekali lagi ke arah desa, melihat lampu-lampu rumah warga yang mulai padam satu per satu seiring berjalannya waktu. Ia menyadari bahwa besok pagi, kehidupan mereka semua mungkin akan berubah selamanya, tergantung pada apa yang akan ia temukan di bawah sana.
Perjalanan menuju teluk belakang dilakukan dengan sangat hati-hati, menghindari jalan utama dan memilih jalur tikus di antara semak belukar yang rimbun. Suara jangkrik dan gesekan daun kelapa menjadi musik latar yang mengiringi langkah kaki mereka yang berusaha keras tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Bimo merasa seperti seorang penyusup di tanah kelahirannya sendiri, sebuah ironi yang terasa sangat pahit di lidahnya. Sesampainya di tepi air, mereka menemukan perahu kecil Aki Jajang yang tertutup rapat oleh tumpukan daun kelapa kering.
Perahu itu tampak sangat ringkih dan tua, namun Bimo tahu betul bahwa kayu ulin yang menjadi dasarnya sangatlah kuat dan tahan lama. Mereka mendorong perahu itu ke air dengan perlahan, berusaha meminimalkan riak yang bisa tertangkap oleh radar canggih milik musuh. Dinginnya air laut yang menyentuh pergelangan kaki Bimo seolah-olah memberikan suntikan energi baru ke dalam tubuhnya, sebuah sambutan hangat dari alam yang sangat ia cintai.
"Apakah Anda mendengar suara itu?" Dara berbisik, telinganya menajam ke arah laut lepas.
Bimo terdiam sejenak, mencoba menangkap suara yang dimaksud oleh rekannya itu. Dari arah laut lepas, suara mesin kapal yang sangat besar terdengar mendekat, dibarengi dengan cahaya lampu sorot yang menyapu permukaan air secara periodik. Lampu itu bergerak perlahan, membelah kegelapan malam dengan kejam, mencari apa pun yang berani bergerak di wilayah yang sudah mereka klaim secara sepihak. Bimo segera mengeluarkan teropongnya dan mengamati pergerakan kapal tersebut dengan saksama.
Jantungnya berdegup kencang saat ia menyadari arah pergerakan lampu sorot yang sangat terang itu. Kapal HPC tidak sedang melakukan patroli secara acak di tengah laut. Mereka bergerak dengan tujuan yang sangat spesifik, membelah ombak dengan kecepatan konstan menuju satu titik koordinat yang sangat ia kenali dalam ingatannya.
"Mereka sedang menuju ke sana, Dara," suara Bimo terdengar serak dan penuh dengan ketegangan.
"Apakah mereka menuju ke koordinat ayah Anda?" Dara bertanya dengan nada yang sangat cemas.
Bimo mengangguk pelan, matanya masih terpaku pada cahaya lampu sorot yang kini berhenti tepat di atas area yang baru saja ia tandai di petanya. Rasa takut yang tiba-tiba menyerang membuat tepi pandangannya menggelap sejenak, sebuah longsoran ketakutan yang nyaris meruntuhkan pertahanan mentalnya. Namun, di balik rasa takut itu, muncul sebuah kemarahan yang tenang, sebuah dorongan kuat untuk tidak membiarkan sejarah mereka dicuri begitu saja oleh korporasi.
"Waktu kita tidak hanya sedang menipis, Dara," Bimo berkata sambil melompat ke dalam perahu dengan gerakan cepat. "Waktu kita sudah benar-benar habis. Kita harus sampai di sana sebelum mereka mulai menurunkan tim penyelam mereka ke dasar laut."
Dara tidak membuang waktu lagi untuk berdebat. Ia segera menghidupkan mesin perahu yang suaranya sudah sengaja diredam dengan lilitan kain basah yang tebal. Mesin itu berdengung hidup, sebuah getaran yang terasa hingga ke tulang belakang Bimo, memberikan sensasi seperti seorang prajurit yang bersiap melakukan serangan terakhir. Mereka membelah air dalam sunyi, bergerak seperti bayangan hitam di bawah perlindungan kegelapan malam yang pekat. Di kejauhan, kapal HPC tampak seperti monster besi yang bersinar terang, mendominasi cakrawala dengan kekuatan yang mengintimidasi siapa pun.
Bimo memegang pinggiran perahu dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang ia berikan. Ia tahu bahwa perjalanan ini mungkin tidak akan memiliki pelabuhan untuk kembali dengan selamat, namun ia juga tahu bahwa berdiam diri berarti membiarkan desa ini tenggelam dalam kepastian yang mati.
"Bimo, tolong lihat ke arah depan!" Dara menunjuk ke arah permukaan air yang tenang di hadapan mereka.
Beberapa pelampung sensor milik HPC mulai terlihat mengapung, memancarkan cahaya merah kecil yang berkedip secara teratur setiap beberapa detik. Pelampung-pelampung itu membentuk garis batas yang tidak terlihat namun sangat mematikan, sebuah pagar digital yang siap membunyikan alarm jika ada penyusup yang melintas. Bimo menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kacau oleh berbagai skenario terburuk yang mungkin terjadi.
"Kita harus melewati garis itu tanpa memicu sensor suara mereka," Bimo memberikan instruksi dengan suara yang sangat rendah. "Gunakan arus bawah untuk mendorong perahu kita. Matikan mesin sekarang juga."
Dara segera mematikan mesin, membiarkan perahu mereka hanyut mengikuti gerakan air yang tenang dan sunyi. Mereka sekarang sepenuhnya bergantung pada kemurahan hati alam, sebuah perjudian besar di tengah laut yang tidak pernah memaafkan kesalahan sekecil apa pun. Bimo menatap jarum kompasnya yang bergerak gelisah, seolah-olah benda itu merasakan ketegangan yang sama dengan tuannya. Perahu mereka perlahan-lahan mendekati garis pelampung merah yang berkedip itu.
Setiap detik yang berlalu terasa seperti berjam-jam, di mana suara napas mereka sendiri terdengar seperti guntur yang menggelegar di telinga masing-masing. Bimo bisa merasakan keberadaan sensor-sensor itu di bawah sana, mengirimkan gelombang suara yang mencari mangsa di kegelapan abadi. Ia memejamkan mata, mencoba menyatu dengan arus air, merasakan detak jantung laut yang berdenyut di bawah lambung perahu yang tipis. Tepat saat perahu mereka melewati batas pelampung, sebuah lampu sorot dari kapal HPC menyapu area tepat di belakang mereka.
Cahaya itu nyaris mengenai ujung perahu, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jari-jari raksasa yang mencoba menggapai mereka dari kegelapan. Bimo menahan napasnya, tidak berani bergerak sedikit pun hingga cahaya itu menjauh kembali ke arah laut lepas yang luas.
"Kita berhasil melewatinya," bisik Dara, suaranya dipenuhi dengan kelegaan yang sangat luar biasa.
"Perjalanan kita belum berakhir," Bimo menyahut sambil menunjuk ke arah depan yang masih gelap. "Ini baru merupakan permulaan dari jalan yang sebenarnya harus kita tempuh."
Di depan mereka, situs kuno itu menunggu di kedalaman yang sunyi, menyimpan rahasia besar yang bisa menyelamatkan atau justru menghancurkan segalanya. Bimo tahu bahwa apa yang akan ia temukan di bawah sana bukan sekadar artefak kuno yang tidak berharga, melainkan sebuah kebenaran yang sudah lama terkubur bersama ayahnya. Dan malam ini, ia akan memastikan dengan segenap jiwanya bahwa kebenaran itu tidak akan pernah dipenjara oleh garis batas mana pun yang diciptakan manusia.
Kapal HPC kini hanya berjarak beberapa ratus meter dari posisi perahu mereka yang kecil. Bimo bisa melihat aktivitas yang sangat sibuk di atas dek kapal tersebut, para pekerja yang menyiapkan peralatan selam canggih dan robot bawah air yang modern. Mereka tampak seperti semut-semut yang sedang mengerubuti sepotong gula, tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari balik kegelapan malam. Bimo mulai mengenakan perlengkapan selamnya dengan gerakan yang sangat cepat dan efisien.
Ia memeriksa masker selamnya sekali lagi, memastikan tidak ada celah kebocoran yang bisa berakibat fatal di kedalaman nanti. Udara di dalam tabung oksigennya terasa sangat dingin saat ia mencobanya, sebuah rasa yang mengingatkannya pada keheningan dasar laut yang selalu ia rindukan sekaligus ia takuti.
"Saya akan turun ke bawah sekarang," ujar Bimo kepada Dara dengan nada serius. "Tolong jaga perahu ini tetap berada di posisi yang aman. Jika ada tanda-tanda mereka menyadari keberadaan kita, segera tinggalkan tempat ini dan jangan menunggu saya."
"Jangan Anda bicara omong kosong seperti itu," Dara membalas dengan nada yang sangat tajam. "Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda di bawah sana sendirian tanpa bantuan. Cepat selesaikan urusan Anda dan segera kembali ke permukaan sebelum saya memutuskan untuk menyusul Anda ke bawah."
Bimo tersenyum tipis di balik maskernya, lalu ia menjatuhkan diri ke belakang ke dalam air yang sangat gelap. Sensasi dingin seketika menyelimuti seluruh tubuhnya, sebuah pelukan akrab yang selalu membuatnya merasa benar-benar hidup. Ia menyalakan lampu senter bawah airnya, membelah kegelapan abadi dengan seberkas cahaya yang tampak rapuh namun penuh dengan harapan. Di bawah sana, dunia terasa sangat berbeda dan jauh lebih tenang daripada di permukaan.
Suara permukaan air yang berisik seketika menghilang dari pendengarannya, digantikan oleh suara napasnya sendiri yang terdengar ritmis dan menenangkan jiwa. Bimo berenang turun dengan gerakan yang sangat tenang, mengikuti garis arus yang sudah ia pelajari dengan saksama dari catatan ayahnya. Ia merasa seperti sedang menelusuri jalan setapak yang sudah lama ditinggalkan oleh peradaban, menuju ke sebuah destinasi yang sudah menunggunya selama bertahun-tahun lamanya.
Pemandangan di dasar laut mulai berubah seiring dengan bertambahnya kedalaman yang ia capai. Terumbu karang yang biasanya berwarna-warni kini tampak seperti siluet abu-abu yang misterius di bawah cahaya senternya yang terbatas. Bimo terus bergerak maju, matanya tetap waspada mencari tanda-tanda keberadaan situs kuno yang legendaris itu. Ia tahu ia sudah sangat dekat, karena suhu air di sekitarnya mulai terasa sedikit lebih hangat daripada sebelumnya.
Tiba-tiba, cahaya senternya menangkap sesuatu yang tidak biasa di antara gundukan pasir dan karang yang mati. Sebuah struktur batu yang tampak terlalu simetris untuk menjadi hasil karya alam mulai terlihat dengan jelas. Bimo mempercepat gerakannya, jantungnya berpacu lebih kencang saat ia menyadari apa yang ada di depannya saat ini. Itu adalah bagian dari sebuah gerbang besar yang sudah tertutup oleh lumut dan karang selama berabad-abad lamanya.
Bimo mendekati struktur raksasa itu dan menyentuh permukaannya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tekstur batu itu terasa sangat kasar namun memiliki pola ukiran yang sangat halus di bawah lapisan lumut yang tebal. Ini bukan sekadar reruntuhan biasa yang tidak berarti; ini adalah bagian dari peradaban yang hilang yang pernah diceritakan oleh ayahnya dalam dongeng pengantar tidur. Di tengah gerbang itu, terdapat sebuah simbol yang sangat ia kenali—simbol yang sama persis dengan yang ada di koin kuno miliknya.
Namun, kegembiraan yang dirasakan Bimo tidak bertahan lama di dalam hatinya. Dari arah atas, ia melihat beberapa berkas cahaya lampu yang jauh lebih kuat mulai turun perlahan ke arahnya. Itu adalah lampu-lampu dari robot bawah air milik HPC yang mulai melakukan pemindaian area tersebut secara sistematis. Suara dengung motor listrik robot-robot itu terdengar seperti lebah yang sedang marah di dalam air, menciptakan getaran yang sangat mengganggu ketenangan situs kuno tersebut.
Bimo segera mematikan lampu senternya dan bersembunyi di balik reruntuhan pilar batu yang sangat besar. Ia melihat robot-robot itu bergerak dengan presisi yang menakutkan, memetakan setiap inci dari gerbang kuno itu dengan sensor laser merah mereka. Mereka tidak hanya sekadar mencari artefak berharga; mereka sedang mengklaim wilayah suci ini untuk kepentingan korporasi mereka yang rakus. Bimo menyadari bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi untuk bersembunyi.
Ia harus segera menemukan "jantung" dari situs ini, tempat di mana Catatan Dasar Laut itu disimpan dengan aman, sebelum robot-robot itu menemukannya lebih dulu. Ia mulai merangkak di antara reruntuhan batu, menggunakan ingatannya tentang peta ayahnya sebagai pemandu tunggal di tengah kegelapan yang mencekam. Setiap gerakannya harus diperhitungkan dengan sangat matang agar tidak menimbulkan debu pasir yang bisa menarik perhatian sensor canggih milik musuh.
Di tengah labirin batu yang rumit itu, Bimo menemukan sebuah celah sempit yang menuju ke arah sebuah ruangan bawah tanah yang tersembunyi. Ia menyelipkan tubuhnya ke dalam celah itu dengan susah payah, merasakan dinding batu yang dingin menjepit tubuhnya dari kedua sisi dengan erat. Ruangan di dalamnya terasa sangat sunyi, seolah-olah waktu telah berhenti berputar di sana selama ribuan tahun yang lalu. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah meja batu yang di atasnya terletak sebuah kotak logam yang tampak masih utuh dan berkilau.
Bimo mendekati meja itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan, tangannya perlahan-lahan menjangkau kotak misterius tersebut. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh permukaan logam yang dingin itu, sebuah suara dentuman keras terdengar dari arah luar ruangan. Getaran hebat seketika mengguncang seluruh ruangan bawah tanah itu, menjatuhkan debu dari langit-langit batu. Bimo menoleh ke arah celah masuk dan melihat cahaya lampu sorot yang sangat terang mulai menyinari ruangan tempatnya berada.
Salah satu robot milik HPC telah berhasil menemukan jalan masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut. Waktu yang dimiliki Bimo benar-benar sudah habis sekarang, dan ia harus segera membuat pilihan sulit yang akan menentukan masa depan Desa Karang Hijau untuk selamanya. Apakah ia akan mengambil catatan itu dan mencoba melarikan diri, ataukah ia akan tertangkap dan membiarkan Togar Simanjuntak memenangkan permainan ini dengan mudah?