Lorong-lorong baja di fasilitas bawah laut Samudra Nusantara Corp bukan lagi sekadar konstruksi arsitektur; mereka telah berubah menjadi tenggorokan raksasa yang menyempit, siap menelan siapa pun yang terjebak di dalamnya. Cahaya lampu darurat berwarna merah darah berdenyut ritmis, menyiram dinding logam yang basah oleh kondensasi dengan warna luka terbuka. Bimo Satrio berlari dengan paru-paru yang terasa terbakar, setiap hantaman sepatu botnya pada lantai jeruji besi mengirimkan getaran yang merambat hingga ke tulang punggung. Bunyi dentuman itu bergema di sepanjang koridor, sebuah perkusi panik yang mencoba menandingi raungan rendah dari lambung kapal yang mulai menyerah pada tekanan ribuan ton air laut. Bau ozon yang tajam bercampur dengan aroma karat yang menyengat menusuk indra penciumannya, memberikan peringatan fisik bahwa sistem pendukung kehidupan di tempat ini sedang berada di ambang kehancuran.
Di ujung lorong, sebuah pintu kedap udara melingkar yang masif berdiri kokoh, menjadi penghalang dingin antara Bimo dan satu-satunya alasan ia masih bertahan di kedalaman ini. Langkahnya melambat saat ia mencapai jendela observasi kecil berbahan akrilik tebal yang tertanam pada pintu ruang dekompresi tersebut. Bimo menempelkan telapak tangannya yang gemetar pada permukaan kaca yang membeku, merasakan getaran mesin-mesin besar yang sedang sekarat di balik dinding bulkhead. Di dalam ruangan yang sempit dan remang itu, Ratna tergeletak di lantai besi. Tubuhnya meringkuk kecil, sebuah upaya naluriah untuk mempertahankan sisa-sisa kehangatan yang terus menguap. Bibirnya yang biasanya penuh warna kini memucat menjadi ungu kebiruan, kontras dengan kulitnya yang seputih pualam di bawah kedipan lampu neon yang sekarat.
Dada wanita itu bergerak naik turun dalam ritme yang pendek dan patah-patah, sebuah perjuangan fisik yang menyiksa untuk meraup molekul oksigen yang semakin langka. "Ratna! Tetaplah terjaga! Jangan tutup matamu!" teriak Bimo, suaranya parau karena debu dan kepanikan yang mulai mencekik kerongkongannya. Mata Ratna terbuka sedikit, menatap ke arah kaca dengan pandangan yang tampak jauh dan berkabut, seolah-olah jiwanya sudah mulai melayang menuju kegelapan di luar sana. Jari-jarinya menggaruk lantai besi dengan lemah, menghasilkan suara gesekan logam yang memilukan sebelum akhirnya terkulai tak berdaya. Bimo segera beralih ke panel kontrol di samping pintu, jemarinya menekan tombol-tombol yang tidak memberikan respons selain bunyi bip datar yang mengejek.
Layar digital di depannya hanya menampilkan tulisan merah yang berkedip: *LOCKDOWN - ACCESS DENIED*. Seseorang di pusat komando telah memutus akses lokal secara manual, mengubah ruang dekompresi ini menjadi peti mati baja yang kedap suara. "Saya akan mengeluarkan Anda, Ratna. Saya tidak akan membiarkan ini terjadi lagi," bisik Bimo, sebuah sumpah yang lebih ditujukan untuk menenangkan detak jantungnya yang liar. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan teratur memecah keheningan koridor, datang dari arah lorong samping yang gelap. Dua orang penjaga elit dengan seragam hitam taktis muncul, helm *full-face* mereka memantulkan cahaya merah yang berdenyut. Mereka tidak memberikan peringatan atau tuntutan; hanya ada desisan dari senjata kejut listrik yang mereka pegang, siap untuk melumpuhkan siapa pun yang menghalangi jalan.
Bimo menoleh dengan cepat, matanya menyapu sekitar hingga ia menemukan sebuah kunci inggris besar yang tertinggal di atas kotak peralatan teknisi. Berat logam di tangannya memberikan sedikit rasa aman yang primitif untuk menghadapi teknologi canggih yang mencoba merenggut nyawa rekannya. Penjaga pertama menerjang maju dengan kecepatan yang terlatih, mengayunkan tongkat listriknya dalam gerakan horizontal yang mematikan. Bimo merunduk, merasakan hembusan udara dingin dari ayunan senjata itu melewati puncak kepalanya, lalu ia membalas dengan hantaman kunci inggris ke arah lutut lawan. Suara retakan tulang yang kering terdengar, diikuti oleh erangan tertahan saat penjaga itu jatuh bertumpu pada satu kaki.
Rekan penjaga itu tidak membuang waktu dan segera melepaskan tembakan kabel dari senjata kejutnya. Bimo melemparkan dirinya ke lantai yang licin karena tumpahan oli mesin, menghindari kabel-kabel yang memercikkan bunga api di atas kepalanya. "Tidak akan ada yang menghalangi saya hari ini," desis Bimo, suaranya terdengar asing dan dingin, bahkan bagi dirinya sendiri. Ia bangkit dengan gerakan yang memanfaatkan momentum dari lantai yang licin, meluncur ke arah penjaga kedua dan menghantamkan kunci inggrisnya tepat ke pergelangan tangan lawan. Senjata kejut itu terlepas dan jatuh dengan dentingan nyaring, memberikan celah bagi Bimo untuk mendaratkan pukulan telak ke arah ulu hati penjaga tersebut.
Lawannya terhuyung ke belakang, menabrak dinding logam dengan dentuman keras sebelum akhirnya merosot jatuh dan tidak sadarkan diri. Bimo berdiri tegak dengan napas yang tersengal-sengal, sementara rasa anyir darah dari bibirnya yang pecah mulai terasa di lidah. Ia tahu waktu terasa seperti pasir yang mengalir cepat di antara jemarinya; setiap detik yang terbuang adalah langkah lebih dekat bagi Ratna menuju kegelapan abadi. Bimo kembali ke panel kontrol, menyadari bahwa meretas kode akses melalui perangkat lunak adalah hal yang mustahil dalam kondisi sistem yang terkunci total. Ia menggunakan ujung kunci inggrisnya untuk mencongkel paksa penutup panel, mengungkapkan jalinan kabel warna-warni dan papan sirkuit yang rumit di dalamnya.
Bau kabel terbakar dan ozon menyergapnya, sebuah simfoni elektronik yang sedang hancur di bawah manipulasi kasarnya. Prosedur *bypass* manual ini sangat berisiko, namun logika oseanografinya yang biasanya kaku kini telah menyerah pada insting bertahan hidup yang murni. "Fokus, Bimo. Cari jalur arus utamanya," gumamnya pada diri sendiri, mencoba mengabaikan peringatan sistem yang mulai meraung dari pengeras suara di langit-langit. Layar monitor di atas panel tiba-tiba berubah warna menjadi kuning peringatan, menampilkan pesan *DATA CRITICAL DELETED* saat Bimo memotong kabel komunikasi utama. Ia sadar bahwa dengan melakukan ini, ia sedang menghancurkan semua data yang tersimpan di dalam unit memori lokal ruang dekompresi ini, termasuk data penelitian rahasia yang mungkin sedang dikumpulkan Ratna.
Pemandangan Ratna yang mulai kehilangan kesadaran di balik kaca membuat semua data di dunia ini terasa tidak berarti. Ia menghubungkan arus pendek pada dua terminal utama, memicu percikan api biru yang meloncat seperti bintang jatuh yang marah, membakar ujung jari-jarinya hingga ia meringis kesakitan. Getaran hebat mulai mengguncang lantai di bawah kakinya, seolah-olah seluruh fasilitas ini sedang memprotes tindakan sabotase yang ia lakukan. Suara desisan udara bertekanan tinggi mulai terdengar dari katup-katup di sekitar pintu, sebuah tanda bahwa keseimbangan tekanan di dalam ruangan mulai terganggu secara paksa. Di dalam ruangan, Ratna tampak tersentak, matanya terbuka lebar saat ia merasakan perubahan tekanan yang drastis.
Bimo menempelkan telapak tangannya ke kaca, mencoba memberikan kekuatan melalui sentuhan yang terhalang itu, sementara air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Ratna! Bertahanlah! Sedikit lagi!" teriaknya, suaranya bersaing dengan raungan alarm yang semakin memekakkan telinga. Kaca observasi yang tebal itu tiba-tiba mengeluarkan suara retakan kecil, sebuah garis halus muncul di permukaannya seperti dahan pohon yang mulai merambat. Tekanan internal di dalam ruangan kini jauh melampaui batas toleransi material setelah Bimo mematikan sistem pengatur otomatis. Ia tahu bahwa jika ia tidak segera membuka pintu itu, kaca tersebut akan pecah dan perbedaan tekanan akan menghancurkan apa pun yang ada di dekatnya.
Ia meraih tuas manual yang terletak di bawah panel, sebuah besi besar yang sudah berkarat karena jarang digunakan, dan mulai menariknya dengan seluruh berat tubuhnya. Tuas itu terasa seperti terpaku pada tempatnya, menolak untuk bergerak meskipun Bimo sudah mengerahkan seluruh kekuatan ototnya hingga urat-urat di lehernya menegang. Keringat dingin mengalir di punggungnya, sementara suara retakan kaca semakin sering terdengar, menyerupai rentetan tembakan di ruang hampa. Setiap inci pergerakan tuas itu terasa seperti kemenangan besar, namun ia butuh lebih dari sekadar inci untuk melepaskan pengunci hidrolik yang masif. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah ayahnya yang hilang di laut, mengingat rasa bersalah yang selama ini menghantuinya.
"Kali ini tidak akan sama!" raungnya, memberikan satu sentakan terakhir yang penuh dengan keputusasaan dan kemarahan terhadap takdir. Suara logam yang beradu terdengar sangat keras saat mekanisme pengunci akhirnya menyerah, diikuti oleh desisan udara yang sangat kuat yang keluar dari celah pintu yang mulai terbuka. Kekuatan udara yang keluar begitu besar sehingga Bimo terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam dinding lorong dengan keras hingga pandangannya sempat menjadi gelap. Kabut putih yang tebal segera memenuhi koridor, hasil dari kondensasi instan akibat perubahan tekanan dan suhu yang sangat ekstrem antara dua ruangan tersebut. Bimo merangkak maju dengan sisa kekuatannya, menembus kabut dingin yang menusuk kulitnya.
Di dalam ruangan yang kini dipenuhi kabut, ia menemukan Ratna yang terkulai lemas di dekat ambang pintu, napasnya terdengar sangat pendek dan tersengal-sengal. Bimo segera mengangkat tubuh wanita itu, mendekapnya erat ke dadanya, merasakan kehangatan yang masih tersisa meskipun tubuh Ratna terus menggigil hebat karena syok. Detak jantung Ratna terasa lemah dan tidak teratur di balik seragamnya, sebuah irama kehidupan yang hampir saja terhenti selamanya. Udara di sekitar mereka terasa sangat dingin, namun bagi Bimo, saat ini adalah momen paling hangat yang pernah ia rasakan sejak ia memulai misi gila ini. "Kau aman sekarang. Aku di sini, Ratna. Bernapaslah pelan-pelan," bisik Bimo di telinga wanita itu.
Ratna membuka matanya sedikit, menatap wajah Bimo dengan pandangan yang perlahan mulai fokus kembali, meskipun ia masih tampak sangat bingung dan lemah. Tangannya yang dingin mencengkeram jaket Bimo dengan sisa kekuatan yang ada, sebuah gerakan refleks yang menunjukkan betapa ia sangat membutuhkan pegangan. Ia mencoba membisikkan sesuatu, namun hanya suara desisan udara yang keluar dari bibirnya yang masih pucat, sementara air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor. Bimo tidak peduli dengan apa yang ingin ia katakan; ia hanya ingin memastikan bahwa wanita ini tetap hidup di dalam pelukannya. Keheningan yang aneh sempat menyelimuti mereka selama beberapa saat, sebuah jeda di tengah badai yang sedang berkecamuk.
Ketenangan itu hancur saat suara tepuk tangan yang lambat dan berirama terdengar dari arah pintu keluar koridor, memecah kabut putih yang mulai menipis. Bimo mendongak, matanya menyipit saat ia melihat sebuah sosok tinggi yang berdiri tegak dengan setelan jas rapi yang tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan industri yang hancur ini. Cahaya merah dari lampu darurat menyinari wajah pria itu dari samping, menonjolkan garis rahang yang keras dan senyum dingin yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Bimo berdiri. Togar Simanjuntak berdiri di sana dengan kedua tangan di saku celananya, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan seorang kolektor yang sedang menilai barang berharga.
Matanya yang tajam beralih dari Bimo ke arah Ratna, lalu ke arah panel kontrol yang hancur dan terbakar di samping pintu. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya sebuah kepuasan yang menyeramkan, seolah-olah semua yang terjadi di sini adalah bagian dari pola yang telah ia susun sejak lama. Bimo merasakan gelombang kemarahan yang luar biasa bangkit di dalam dirinya, namun ia juga merasakan firasat buruk yang mulai merayap di tulang belakangnya. "Kerja bagus, Bimo Satrio. Sungguh sebuah pertunjukan kepahlawanan yang sangat menyentuh hati, bahkan untuk ukuran orang seperti saya," kata Togar, suaranya yang bariton menggema di koridor dengan wibawa yang mematikan.
Bimo mempererat dekapannya pada Ratna, seolah-olah ingin melindungi wanita itu dari aura jahat yang terpancar dari sosok di depannya. "Apa maumu, Togar? Kau hampir membunuhnya! Kau mengunci ruangan ini dari pusat!" teriak Bimo, suaranya penuh dengan kebencian. Togar tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam di atas batu, tanpa ada sedikit pun rasa humor di dalamnya. Ia melangkah maju perlahan, setiap langkah kakinya terdengar sangat terukur dan penuh ancaman, membuat Bimo secara refleks mencoba mundur meskipun punggungnya sudah menyentuh dinding. Togar berhenti tepat di depan mereka, menunduk untuk menatap mata Ratna yang kini tampak dipenuhi oleh ketakutan yang berbeda.
"Membunuhnya? Oh tidak, Bimo, kau salah paham. Saya tidak akan pernah membunuh aset paling berharga saya," ujar Togar sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau baru saja menyelamatkan mata-mataku, Bimo. Dan yang lebih hebat lagi, dengan tindakan heroikmu yang ceroboh itu, kau telah menghancurkan semua bukti pengkhianatannya yang tersimpan di server lokal ini. Kau baru saja membersihkan jejaknya untukku." Dunia seolah-olah berhenti berputar bagi Bimo saat kata-kata itu meresap ke dalam kesadarannya, membuat rasa dingin yang lebih hebat dari air samudra merayap di seluruh tubuhnya. Ia menunduk menatap Ratna, mencari bantahan di mata wanita itu.
Namun, yang ia temukan hanyalah rasa bersalah yang mendalam dan air mata yang semakin deras mengalir dari mata Ratna yang kini menghindari tatapannya. Dekapan hangat yang tadi ia berikan kini terasa sangat asing, sementara suara alarm yang meraung di kejauhan seolah-olah sedang menertawakan kebodohannya. Bimo menyadari bahwa ia bukan lagi seorang pahlawan, melainkan pion yang baru saja menyelesaikan langkah terakhir untuk musuhnya. "Bagaimana rasanya, Bimo?" desis Togar, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Bimo yang pucat pasi. "Bagaimana rasanya mengetahui bahwa tanganmu sendiri yang telah membakar kebenaran yang selama ini kau cari?"
Bimo mencoba membuka mulutnya untuk membalas, namun tidak ada kata yang keluar, hanya napasnya yang terasa semakin berat di tengah atmosfer yang tiba-tiba terasa sangat menyesakkan. Ia menatap panel kontrol yang masih mengeluarkan asap, menyadari bahwa data krusial tentang 'Catatan Dasar Laut' kini telah hilang selamanya dalam api sirkuit yang ia sulut sendiri. Togar menegakkan tubuhnya kembali, merapikan jasnya dengan gerakan santai, sementara beberapa penjaga baru mulai muncul dari kegelapan di belakangnya dengan senjata terarah. "Sekarang, mari kita bicara tentang masa depanmu, Bimo Satrio," kata Togar dengan nada yang hampir terdengar ramah, namun matanya tetap sedingin es.
"Karena setelah ini, kau tidak akan punya tempat lagi untuk pulang, baik di darat maupun di bawah air." Togar memeriksa jam tangannya, lalu melemparkan sebuah benda kecil ke arah Bimo—sebuah kartu akses berwarna perak yang identik dengan milik Ratna. "Katakan padaku, Bimo... jika dia benar-benar terjebak tanpa harapan, mengapa dia memegang kartu override cadangan di saku jaketnya sepanjang waktu?" Bimo merasakan jantungnya seakan berhenti saat jemarinya meraba saku jaket Ratna dan menemukan benda keras yang tersembunyi di sana. Ia menatap Ratna dengan ngeri, namun wanita itu hanya memberikan senyum tipis yang penuh rahasia sebelum lampu koridor padam sepenuhnya, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang mencekam. Di tengah kegelapan itu, sebuah suara bisikan asing terdengar tepat di telinga Bimo, "Selamat datang di kedalaman yang sebenarnya, Bimo." Kegelapan itu tidak berlangsung lama sebelum lampu darurat berwarna merah darah mulai berkedip, menyinari koridor dengan cahaya yang menyerupai luka terbuka di jantung fasilitas bawah laut tersebut. Bimo tidak membuang waktu untuk memikirkan bisikan asing yang baru saja menggelitik telinganya; instingnya sebagai oseanografer yang terbiasa menghadapi kemelut tekanan ekstrem segera mengambil alih. Ia menerjang ke arah unit dekompresi, mengabaikan teriakan para penjaga yang masih kebingungan dalam remang cahaya yang berdenyut. Di balik kaca tebal yang mulai berembun oleh uap dingin, ia melihat Ratna bersandar pada dinding logam yang membeku. Wanita itu tampak setengah sadar, dadanya naik turun dengan cepat dalam upaya putus asa untuk meraup oksigen yang semakin menipis, sementara jemarinya mencakar lehernya sendiri seolah-olah udara telah berubah menjadi duri yang menyumbat tenggorokan.
Bimo menghantam panel kontrol digital dengan kepalan tangannya, namun hanya percikan api biru yang menyambutnya, menari-nari di atas sirkuit yang telah hangus. "Sial, sistemnya sudah terkunci dari pusat," desisnya, suaranya parau tertelan gemuruh mesin yang mulai tidak stabil di bawah lantai besi. Ia tahu tidak ada waktu untuk meretas kode digital yang telah dikorupsi oleh Togar. Dengan gerakan tangkas yang lahir dari tahun-tahun memperbaiki mesin kapal di tengah badai, ia membuka paksa penutup manual di bawah konsol utama. Di sana, tersembunyi di balik estetika modern perusahaan Samudra Nusantara, terdapat deretan katup kuno yang tersambung langsung ke pipa hidrolik primer—sebuah mekanisme murni yang tidak bisa dikhianati oleh perangkat lunak mana pun.
"Bimo Satrio, menjauhlah dari sana! Tekanannya sudah melewati batas aman, panel itu bisa meledak!" teriak salah satu penjaga yang ragu-ragu untuk mendekat karena melihat uap panas mulai menyembur dari celah pipa.
Bimo mengabaikan peringatan itu sepenuhnya. Ia mencengkeram katup utama dengan kedua tangannya yang kasar dan kapalan. Logam panas itu seakan membakar telapak tangannya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang, namun ia tetap bertahan dengan gigih. Di balik kaca, mata Ratna terbuka sedikit, menatapnya dengan pandangan yang kabur namun penuh permohonan yang menyayat hati. Bimo terpaku sejenak; dalam manik mata wanita itu, ia melihat bayangan ketakutan yang sama dengan yang ia rasakan saat kehilangan ayahnya di kedalaman samudera bertahun-tahun lalu. Ia tidak akan membiarkan laut—atau ruang besi buatan manusia ini—mengambil nyawa lagi di hadapannya.
"Nyuwun sewu, Bapak... kali ini aku tidak akan membiarkan kegelapan menang," gumam Bimo pelan, sebuah janji suci kepada ingatan masa lalunya.
Ia memutar katup itu dengan seluruh tenaga yang ia miliki, otot-otot lengannya menegang hingga hampir melampaui batas kemampuannya. Suara derit logam yang bergesekan memenuhi ruangan, menyaingi bunyi alarm sistem yang kini melengking tajam bagaikan jeritan roh laut yang marah. Layar monitor kecil di sampingnya berkedip merah dengan peringatan yang mengerikan: *PERINGATAN: OVERRIDE MANUAL TERDETEKSI. TEKANAN TIDAK STABIL. RISIKO LEDAKAN KRITIS.* Bimo tidak bergeming. Ia mengatur aliran udara secara bertahap, memanipulasi tekanan dengan presisi seorang ahli bedah agar paru-paru Ratna tidak hancur akibat dekompresi yang terlalu mendadak.
Setiap putaran katup terasa seperti menarik beban seluruh cakrawala yang runtuh. Uap panas mulai menyembur lebih deras, menyengat wajah Bimo dan mengaburkan pandangannya, namun ia tetap fokus pada sosok di balik kaca tebal itu. Ratna menempelkan telapak tangannya yang gemetar ke permukaan kaca yang dingin, meninggalkan jejak uap yang tipis. Bimo membalasnya, meletakkan tangannya di titik yang sama, dipisahkan oleh material transparan yang menjadi batas antara hidup dan mati. Sebuah kontak mata yang emosional terjadi di tengah kekacauan itu; sebuah pengakuan sunyi bahwa meskipun rahasia 'Catatan Dasar Laut' telah musnah, nyawa manusia di hadapannya jauh lebih berharga daripada artefak mana pun.
Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil terjadi di dalam panel kontrol, melemparkan serpihan logam dan api ke udara. Bimo terlempar ke belakang, namun ia berhasil melakukan putaran terakhir pada katup pengaman. Suara desisan udara yang keluar dari katup terdengar seperti napas naga yang akhirnya menyerah pada kelelahan. Pintu dekompresi yang berat itu bergetar hebat sebelum akhirnya bergeser terbuka dengan suara hidrolik yang berat dan penuh tekanan.
Bimo segera merangsek masuk ke dalam ruangan yang berkabut itu, menangkap tubuh Ratna yang lunglai sebelum wanita itu menyentuh lantai besi yang dingin. Hawa dingin yang menusuk dari dalam ruangan itu menyelimuti mereka berdua, kontras dengan panasnya mesin yang membara di luar. Ratna terbatuk keras, menghirup udara segar dengan rakus seolah-olah itu adalah nektar kehidupan, sementara tangannya mencengkeram erat jas Bimo dengan sisa tenaga yang ada.
"Kau... kau benar-benar melakukannya, Mas Bimo," bisik Ratna dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun ada secercah kelegaan yang tulus di matanya yang mulai kembali bersinar.
Bimo hanya bisa mengangguk pelan, napasnya sendiri masih memburu dan wajahnya memerah akibat panas uap. Ia memeluk wanita itu dengan protektif, merasakan detak jantung Ratna yang perlahan mulai stabil di balik jaketnya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap, bagaikan ketenangan di mata badai sebelum gelombang besar menghantam. Saat ia mencoba berdiri sambil memapah Ratna yang masih lemas, sebuah bayangan panjang dan dingin jatuh di ambang pintu keluar yang terbuka.
Lampu koridor utama tiba-tiba kembali menyala dengan kekuatan penuh, menyilaukan mata mereka dan menyingkap sosok yang berdiri tegak dengan keanggunan seorang predator yang telah memenangkan perburuan besar. Togar Simanjuntak berdiri di sana, merapikan manset kemejanya yang mahal dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah kekacauan di sekitarnya hanyalah gangguan kecil dalam agenda hariannya. Seringai dingin tersungging di wajahnya yang keras, sementara matanya yang tajam menatap pemandangan di depannya dengan kepuasan yang mengerikan.
"Kerja bagus, Bimo," desis Togar, matanya tertuju pada Ratna yang masih lemas dalam dekapan Bimo, "kau baru saja menyelamatkan mata-mataku, dan menghancurkan semua bukti yang kubutuhkan."