Bab 23: Napas yang Tercuri
Getaran ganjil itu merambat melalui bantal, menggelitik ujung saraf di telinga Bimo sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya. Itu bukan dengung rendah mesin pendorong yang biasanya membuai awak kapal dalam tidur lelap. Bunyi ini lebih tipis, sebuah pekikan frekuensi tinggi yang menyelinap jahat di antara deru konstan kipas sirkulasi. Kelopak mata Bimo tersentak terbuka, menatap langit-langit kabin yang diselimuti kegelapan pekat. Udara di dalam ruangan terasa berat dan lembap, seolah-olah atmosfer telah memadat menjadi tumpukan wol basah yang menindih paru-parunya dengan kejam. Dinginnya lantai logam mematuk telapak kaki telanjangnya saat dia melompat turun dari ranjang dengan gerakan refleks yang kasar.
Lampu indikator di samping pintu berkedip dalam rona merah pucat yang tidak sehat. Warna itu mengingatkan Bimo pada sisa-sisa bara api yang sekarat di tungku tua milik ayahnya, memberikan peringatan tanpa suara yang mencekam. Dia melangkah keluar ke koridor, merasakan denyut jantungnya mulai berpacu liar melawan keheningan yang terasa tidak wajar di perut kapal. Desisan tajam tiba-tiba muncul dari arah Sektor C, terdengar seperti ular berbisa yang bersembunyi di balik dinding-dinding logam yang dingin. Bimo mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa pening yang mulai mencengkeram pangkal tenggorokannya akibat tipisnya oksigen.
Panel kontrol di persimpangan koridor menyala redup, menampilkan deretan angka digital yang merosot tajam seperti tebing yang runtuh. Tekanan udara di Sektor C telah anjlok jauh di bawah batas aman, menciptakan zona mati di jantung kapal selam mereka. Oksigen tidak lagi mengalir dengan benar, terjebak atau terbuang entah ke mana, meninggalkan sisa-sisa napas yang semakin beracun. Jari-jari Bimo yang gemetar menyentuh layar sentuh yang sedingin es, mencoba melakukan reset sistem secara manual dengan gerakan putus asa.
"Jangan sekarang, nggih, ayolah, jangan sekarang," bisiknya dengan suara serak yang hampir tidak dia kenali sebagai suaranya sendiri.
Lampu darurat di langit-langit mulai berputar, menyiram dinding koridor dengan cahaya merah yang berdenyut ritmis seperti detak jantung yang sekarat. Bayangan tubuh Bimo memanjang dan memendek di atas lantai baja, tampak seperti monster hitam yang sedang menggeliat dalam kesakitan yang amat sangat. Dia berlari menuju ruang katup utama, tempat jantung dari seluruh sistem pendukung kehidupan kapal berada. Bau ozon yang tajam dan menyengat mulai menusuk penciumannya, sebuah pertanda buruk akan adanya korsleting atau panas berlebih yang melahap komponen elektronik sensitif.
Pintu Sektor C terbuka dengan desisan hidrolik yang terdengar lemah, seolah mekanisme itu sendiri sedang kehabisan tenaga. Di dalam ruangan yang sempit dan pengap itu, suara desisan udara yang bocor terdengar sepuluh kali lebih keras, mendominasi keheningan. Bimo menyalakan senter kecilnya, menyorotkan berkas cahaya putih ke arah jalinan pipa oksigen yang melintang di dinding seperti pembuluh darah raksasa. Cahaya senter itu menari-nari liar di atas permukaan logam yang berkilat, mencari sumber luka yang menganga.
Dia berhenti tepat di depan katup utama, dan seketika itu juga, rasa asam naik ke pangkal kerongkongannya. Katup itu tidak pecah karena tekanan tinggi yang tidak terkendali atau keausan material yang wajar dimakan usia. Jari Bimo meraba tepian yang kasar dan tajam, menunjukkan bekas gergaji logam yang dipaksakan dengan terburu-buru oleh tangan yang penuh niat jahat. Seseorang telah memotong sebagian kecil dari sambungan pipa dengan presisi yang mengerikan, menciptakan celah yang cukup besar untuk membuang stok oksigen mereka ke ruang hampa di antara lambung ganda.
"Ini bukan kecelakaan," gumam Bimo sambil berusaha mengatur napasnya yang mulai tersengal-sengal di udara yang semakin tipis.
Tangannya menyambar botol sealant darurat dari kotak peralatan di dinding dengan gerakan yang hampir menjatuhkan benda itu. Dia mencoba menyemprotkan cairan polimer cepat-kering ke celah yang menganga, namun cairan itu justru meluncur jatuh, menolak untuk menempel pada permukaan pipa. Bimo mendekatkan wajahnya ke arah kebocoran, mencium aroma yang berbeda dan asing di antara bau logam yang dominan. Ada lapisan minyak tipis yang sengaja dioleskan di sekitar area kebocoran, sebuah sabotase cerdik agar perekat darurat apa pun tidak akan bisa berfungsi.
Langkah kaki cepat yang bergema dari arah koridor mengejutkannya, diikuti oleh suara napas yang memburu dan tidak teratur. Dara muncul di ambang pintu dengan wajah seputih kertas perkamen dan rambut hitamnya yang biasanya rapi kini berantakan menutupi dahi. Matanya yang tajam dan waspada segera menangkap kekacauan yang terjadi di depan mereka, memindai kerusakan dengan kecepatan seorang ahli.
"Bimo! Apa yang sebenarnya terjadi dengan sensor oksigen kita?" tanyanya dengan nada bicara yang cepat, berusaha menekan kepanikan yang mulai merayap dalam suaranya.
"Sabotase, Dara," jawab Bimo tanpa mengalihkan pandangan dari pipa yang rusak. "Seseorang menggergaji katup ini dan melapisinya dengan minyak agar tidak bisa diperbaiki dengan cepat."
Dara melangkah mendekat, menatap bekas potongan logam itu dengan tatapan tidak percaya yang membeku di wajahnya. "Siapa yang cukup gila untuk melakukan tindakan bunuh diri seperti ini di tengah laut dalam?" Suaranya meninggi satu oktav, dan aksen Minangnya yang khas mulai terdengar samar di ujung kalimatnya yang bergetar. "Kita semua akan mati konyol jika udara ini habis dalam hitungan jam!"
"Kita butuh peralatan las dingin sekarang juga, Dara," instruksi Bimo, menggunakan nada formal yang dipaksakan untuk menutupi getaran di tangannya. "Tolong ambilkan di gudang bawah secepat mungkin. Lakukan sebelum kadar karbon dioksida di sini membuat kita pingsan di lantai ini."
Dara mengangguk sekali dengan tegas, lalu berbalik dan berlari kembali ke arah tangga akses dengan kecepatan penuh. Bimo mencoba menyeka lapisan minyak itu menggunakan ujung kausnya, namun zat lengket itu terasa sangat sulit dihilangkan, justru semakin menyebar ke permukaan logam lainnya. Rasa logam yang pahit dan tajam mulai terasa di ujung lidahnya, sebuah tanda peringatan biologis bahwa udara yang dia hirup sudah mulai jenuh dengan racun. Dunia di sekitarnya seolah-olah mulai menyempit, berubah menjadi sebuah terowongan panjang yang gelap dan berputar-putar.
Pria itu memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kembali bayangan ayahnya yang selalu tampak setenang permukaan danau saat menghadapi badai paling ganas di tengah laut. Dia menarik napas pendek-pendek, mencoba menghemat setiap molekul oksigen yang masih tersisa di dalam paru-parunya yang mulai terasa terbakar. Lutut Bimo bergoyang tanpa izin, sebuah reaksi fisik spontan dari rasa takut yang mulai merayap naik dari dasar perutnya.
Beberapa menit yang terasa seperti selamanya berlalu sebelum Dara kembali, namun penampilannya kini tampak jauh lebih buruk dari sebelumnya. Dia tidak membawa tas peralatan las yang diminta, melainkan memegang sebuah jeriken air plastik yang sudah kosong dan remuk di tangannya.
"Bimo, ada masalah lain yang jauh lebih mengerikan," katanya dengan suara yang bergetar hebat, hampir menyerupai bisikan hantu. "Ruang penyimpanan makanan kita... semuanya banjir total."
Tangan Bimo yang sedang memegang pipa membeku seketika, dan dia menoleh dengan gerakan kaku. "Banjir? Bagaimana mungkin kompartemen logistik bisa terendam air?"
"Seseorang membuka katup air laut di sana," jelas Dara dengan napas yang tersengal-sengal, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Seluruh stok ransum kita terendam air asin yang pekat. Semuanya hancur, Bimo. Tidak ada lagi yang bisa kita makan kecuali kita mau menelan garam dan karat."
Kenyataan itu menghantam Bimo dengan kekuatan gelombang badai yang menghancurkan dermaga kayu hingga berkeping-keping. Mereka kini terjebak dalam situasi mustahil: kehilangan udara untuk bernapas dan kehilangan sumber energi untuk bertahan hidup secara bersamaan. Tekanan di dadanya semakin berat, bukan hanya karena hipoksia yang mulai menyerang, tapi karena beban tanggung jawab yang tiba-tiba terasa berlipat ganda menindih bahunya. Namun, saat dia menatap mata Dara, dia melihat secercah determinasi yang menolak untuk padam di tengah kegelapan yang mengepung mereka.
"Las dinginnya, Dara," kata Bimo, mencoba memfokuskan kembali pikirannya yang mulai melantur. "Kita urus oksigen dulu. Tanpa napas yang mengalir, makanan sebanyak apa pun tidak akan ada gunanya bagi mayat."
Dara menyerahkan tas peralatan yang ternyata sempat dia sampirkan di bahunya, yang baru disadari Bimo setelah keterkejutan awalnya mereda. Bimo segera mengeluarkan alat las portabel dari dalam tas, jemarinya bergerak dengan kecepatan yang didorong oleh adrenalin murni. Alat itu mengeluarkan bunyi dengung rendah yang menenangkan saat diaktifkan, memancarkan cahaya biru neon yang dingin dan tajam.
Bimo harus melakukan pengelasan ini dengan presisi tinggi di ruang yang sangat sempit dan tidak nyaman. Dia merangkak masuk ke celah di antara pipa-pipa panas yang mengeluarkan uap tipis, merasakan logam dingin menekan punggungnya dengan keras. Tangannya mulai gemetar hebat karena koordinasi motoriknya mulai terganggu oleh kekurangan oksigen yang semakin parah.
"Dara, pegang pipanya dengan kuat," perintah Bimo dengan suara yang mulai melemah. "Jangan biarkan ada getaran sekecil apa pun."
Wanita itu segera berlutut di sampingnya, mencengkeram pipa logam itu dengan kedua tangannya yang kuat, menunjukkan kekuatan yang lahir dari keputusasaan. "Lakukan saja, Bimo. Aku tidak akan melepasnya, meski tanganku harus ikut terpanggang."
Ujung alat las diarahkan ke celah gergaji yang menganga, dan seketika percikan cahaya biru memancar terang, menerangi wajah mereka berdua dengan bayangan-bayangan yang tajam dan dramatis. Panas yang menyengat dari alat las itu terasa sangat kontras dengan suhu ruangan yang mulai anjlok karena sistem pemanas kehilangan daya listriknya. Bau ozon semakin pekat dan menusuk hidung, membuat mata mereka perih dan berair, namun tak satu pun dari mereka yang berani berkedip.
"Sedikit lagi," bisik Bimo pada dirinya sendiri, seolah itu adalah mantra pelindung.
Detak jantungnya sendiri berdegup kencang di telinganya, menyerupai suara drum perang yang dipukul bertalu-talu di kejauhan. Kulitnya terasa menyusut dua ukuran, menempel ketat pada tulang-tulangnya akibat dehidrasi instan dan stres yang ekstrem. Dia terus mengelas, menyatukan kembali logam yang telah dikhianati oleh tangan manusia, hingga akhirnya desisan udara yang bocor itu berhenti sepenuhnya. Bimo mematikan alat las dan menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada dinding pipa yang dingin.
Keheningan yang mencekam segera menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara napas mereka yang berat, dalam, dan tidak teratur.
"Sudah selesai?" tanya Dara dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar.
Bimo memeriksa panel indikator kecil di dinding dengan mata yang mulai kabur. "Tekanan mulai stabil. Tapi kita kehilangan hampir tujuh puluh persen cadangan oksigen murni kita. Dengan sistem yang rusak parah ini, kita hanya punya waktu dua puluh empat jam sebelum udara benar-benar habis."
Dara terduduk lemas di lantai logam, menyandarkan punggungnya pada dinding yang lembap oleh kondensasi. Dia menatap tangannya yang kotor oleh oli hitam dan debu logam, seolah-olah tangan itu milik orang asing. "Dua puluh empat jam. Tanpa makanan, dan dengan oksigen yang dihitung per detik."
Bimo keluar dari celah sempit itu dan duduk bersila di samping Dara, merasakan lemas yang luar biasa merayap ke seluruh otot tubuhnya. Rasa lapar yang tadinya dia abaikan kini muncul kembali dengan kekuatan penuh, seolah-olah ada hewan buas yang sedang menggergagi dinding lambungnya. Namun, di tengah keputusasaan yang pekat itu, sebuah ingatan kecil muncul di benaknya.
"Tunggu di sini sebentar," kata Bimo sambil bangkit berdiri dengan susah payah, memegang dinding untuk menjaga keseimbangan.
Dia berjalan menuju sudut ruangan yang gelap, di balik tumpukan kotak suku cadang yang berdebu dan belum sempat dirapikan sejak mereka berangkat. Jarinya merogoh ke celah sempit di bawah rak logam yang tersembunyi, tempat yang biasanya dia gunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi yang tidak ingin diketahui orang lain. Permukaan plastik yang keras menyentuh ujung jarinya, dan dia menariknya keluar dengan senyum kecil: sebuah kotak ransum darurat yang masih tersegel rapat dengan segel vakum.
"Aku menyimpannya untuk berjaga-jaga jika aku terlalu malas untuk pergi ke kantin saat harus bekerja lembur semalaman," kata Bimo sambil menunjukkan kotak itu kepada Dara yang tampak terkejut.
Mata Dara sedikit melebar, memberikan binar kehidupan kembali pada wajahnya yang kuyu. "Kau baru saja menyelamatkan kita dari kematian karena kelaparan, Mas Bimo."
"Hanya biskuit gandum kering yang rasanya seperti serbuk gergaji, Dara. Bukan rendang buatan ibumu yang legendaris itu," balas Bimo dengan senyum tipis yang terasa asing di wajahnya yang lelah.
Mereka kembali ke ruang kendali yang sedikit lebih hangat karena sisa-sisa panas mesin. Cahaya biru dari monitor komputer memberikan penerangan yang cukup untuk melihat satu sama lain di tengah kegelapan. Bimo membuka segel kotak itu, mengeluarkan dua keping biskuit gandum yang keras dan tebal. Aroma gandum kering segera tercium, terasa seperti kemewahan yang luar biasa di tengah situasi maut yang mengepung mereka. Bimo mematahkan biskuit itu dan menyerahkan setengahnya kepada Dara dengan gerakan yang penuh hormat.
"Maafkan saya, Dara," katanya tiba-tiba, suaranya terdengar tulus di tengah kesunyian ruang kendali.
Dara berhenti mengunyah, menatap Bimo dengan dahi yang berkerut bingung. "Untuk apa?"
"Karena saya telah meremehkan semua peringatanmu sejak awal," jawab Bimo. "Kamu benar tentang musuh kita. Mereka tidak hanya ingin menghentikan misi ini, mereka ingin menghapus keberadaan kita dari muka bumi. Saya terlalu terpaku pada logika sains yang kaku dan mengabaikan betapa kreatifnya kekejaman manusia."
Dara menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya pada kursi pilot yang empuk. "Sudahlah. Kita berdua masih bernapas sekarang, itu yang paling penting. Tapi kau harus tahu satu hal, Bimo. Aku tidak akan membiarkan kapal ini tenggelam hanya karena ulah pengecut yang tidak berani menunjukkan wajahnya di depan kita."
Bimo mengangguk, merasakan sebuah ikatan kepercayaan yang baru dan kuat mulai terbentuk di antara mereka. Ketegangan yang selama ini menghalangi kerja sama mereka seolah-olah luruh bersama debu logam di lantai kapal. Di bawah sana, di kedalaman laut yang gelap dan tidak bersahabat, mereka menyadari bahwa mereka hanya memiliki satu sama lain untuk diandalkan.
"Kita harus mencari tahu siapa pelakunya," kata Dara dengan nada bicara yang kembali tegas dan penuh otoritas. "Tidak mungkin orang luar bisa masuk ke sini tanpa terdeteksi oleh sensor luar yang sangat sensitif. Sabotase ini dilakukan dari dalam, oleh seseorang yang tahu persis di mana letak kelemahan fatal kapal ini."
"Atau seseorang yang memasang alat sabotase dari luar saat kita sedang tidak waspada di pelabuhan terakhir," tambah Bimo dengan nada spekulatif. "Tapi untuk sekarang, kita perlu menghemat tenaga. Kita butuh setiap tetes energi untuk rencana besar besok pagi."
Keheningan kembali menyelimuti ruang kendali, hanya diiringi oleh suara dengung instrumen yang rendah. Bimo menatap layar monitor yang menunjukkan pemandangan di luar kapal, di mana kegelapan abadi laut dalam tampak seperti kanvas hitam raksasa yang menunggu untuk dilukis dengan tragedi. Dia memikirkan ayahnya, memikirkan rahasia kuno yang tersembunyi di dasar laut ini, dan betapa tipisnya garis yang memisahkan mereka dari kematian saat ini.
Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat asing memecah keheningan. Bukan suara alarm yang melengking, bukan pula suara mesin yang menderu. Itu adalah suara dentuman ritmis yang berasal dari luar lambung kapal yang tebal.
*Dung. Dung. Dung.*
Suara itu terasa berat dan bergetar hebat, seolah-olah ada sesuatu yang sangat besar dan kuat sedang mengetuk pintu mereka dari kegelapan. Dara langsung tegak berdiri, tangannya secara refleks menyambar tuas kendali darurat.
"Bimo, kau mendengar suara itu?" bisiknya dengan nada ngeri.
Bimo tidak segera menjawab. Dia melangkah mendekat dan menempelkan telinganya langsung ke dinding logam kapal yang dingin, merasakan getaran yang merambat kuat melalui material baja setebal sepuluh sentimeter itu. Dentuman itu tidak terjadi secara acak. Ada pola yang jelas di sana, sebuah ketukan yang terdengar seperti kode komunikasi yang sangat tua dan terlupakan.
"Sesuatu... sesuatu sedang mencoba untuk masuk," bisik Bimo, wajahnya kembali pucat pasi, lebih pucat daripada saat dia menemukan kebocoran oksigen tadi.
Dentuman itu semakin keras dan bertenaga, mengguncang seluruh kerangka kapal selam mereka hingga baut-baut di langit-langit berderit protes. Di layar monitor, sensor sonar mulai menangkap sebuah bayangan raksasa yang mendekat dari arah kegelapan yang paling pekat di bawah mereka. Bayangan itu tidak memiliki bentuk mekanis seperti kapal selam atau robot bawah air, melainkan sesuatu yang bergerak dengan kelincahan organik yang mustahil bagi teknologi manusia mana pun.
"Bimo, lihat itu! Di monitor sonar!" teriak Dara sambil menunjuk ke arah layar yang berkedip-kedip tidak stabil.
Bimo menatap layar itu dengan mata terbelalak penuh horor. Objek di layar itu terlalu besar untuk menjadi seorang penyelam manusia, namun terlalu kecil untuk menjadi kapal selam militer. Dan yang paling mengerikan, objek itu berhenti tepat di depan jendela observasi utama mereka, meskipun lampu eksternal yang paling kuat sekalipun tidak mampu menangkap wujudnya secara jelas di tengah kekeruhan air.
Sebuah tangan raksasa, dengan jari-jari yang panjang, kurus, dan berselaput transparan, tiba-tiba menempel dengan keras pada kaca tebal jendela observasi. Kaca yang dirancang untuk menahan tekanan ribuan ton itu tiba-tiba berderit di bawah tekanan yang luar biasa dari tangan tersebut, menciptakan retakan-retakan kecil yang mulai merambat cepat seperti jaring laba-laba yang mematikan.
Dara menarik napas tajam yang gemetar, tangannya kini berada di atas panel peluncur senjata darurat. "Apa itu, Bimo? Apa itu salah satu dari mereka yang kau ceritakan?"
Bimo tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya bisa menatap tangan berselaput itu, menyadari dengan kepastian yang pahit bahwa oksigen yang baru saja mereka perjuangkan mungkin tidak akan pernah sempat mereka habiskan. Pertanyaan besarnya bukan lagi tentang siapa yang menyabotase kapal mereka dari dalam, melainkan makhluk apa yang baru saja mereka bangunkan dari tidur panjangnya di dasar laut yang tak tersentuh ini. Siapakah sebenarnya yang sedang mengetuk pintu mereka di kedalaman ribuan meter, dan apa yang akan terjadi saat kaca itu akhirnya menyerah pada tekanan? Bimo menyambar lengan Dara, menariknya menjauh sebelum kaca itu benar-benar menyerah pada tekanan yang kian menggila. Mereka bergegas menuju ruang mesin yang pengap, di mana uap panas mulai menyembur dari pipa-pipa yang retak akibat guncangan. Di sudut panel utama, Bimo menemukan bukti fisik yang tak terbantahkan: sekring pengaman telah dicabut paksa dan kabel sensor dipotong dengan sangat rapi. "Ini sabotase, Dara. Seseorang di atas sana ingin memastikan kita tidak pernah kembali ke permukaan," bisik Bimo dengan suara yang bergetar karena amarah yang dingin.
Tanpa membuang waktu, Bimo melakukan tindakan berisiko tinggi dengan merangkak ke dalam celah mesin yang sempit dan mendesis panas. Dara memberikan bantuan teknis yang krusial, jemarinya menari di atas panel cadangan untuk menstabilkan tekanan uap agar Bimo tidak terpanggang hidup-hidup di dalam sana. "Tahan posisi itu, Bimo! Aku akan mengalihkan aliran pendinginnya sekarang!" seru Dara dengan nada tegas yang memecah kepanikan. Kerja sama tim yang mendadak solid itu berhasil menghidupkan kembali sistem pendukung kehidupan dalam hitungan detik yang sangat krusial.
Setelah badai teknis itu mereda, mereka terduduk lemas di lantai ruang kendali yang hanya diterangi lampu darurat kemerahan. Ketegangan yang sebelumnya membeku di antara mereka mulai mencair, digantikan oleh kelelahan yang luar biasa. Bimo merogoh sakunya, mengeluarkan ransum terakhir berupa biskuit gandum yang sudah remuk. Ia membagi dua makanan itu, menyodorkan bagian yang lebih besar kepada Dara. Aroma biskuit gandum kering yang sederhana itu mendadak terasa seperti kemewahan surgawi di tengah situasi maut ini.
"Maafkan saya, Dara. Saya terlalu sombong dan meremehkan betapa jauh Togar bersedia bertindak untuk menyingkirkan kita," ucap Bimo dengan nada penuh penyesalan, menatap remah biskuit di telapak tangannya. Dara menghela napas panjang, sorot matanya melunak saat ia menerima pemberian itu sebagai simbol kepercayaan yang baru tumbuh. "Kita simpan permintaan maaf itu untuk nanti, Mas Bimo. Sekarang, fokus kita hanya satu: bertahan hidup."
Namun, momen rekonsiliasi singkat itu tiba-tiba pecah oleh suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Dari balik dinding baja tebal yang melindungi mereka, terdengar suara dentuman ritmis yang mengguncang seluruh lambung kapal. *Dung... dung... dung...* Sesuatu, atau seseorang, sedang mencoba masuk dengan paksa dari kegelapan abadi di luar sana.