Bab 11: Gema di Kedalaman Blue
Gesper nilon hitam itu berderit tajam saat Bimo Satrio menariknya dengan satu sentakan kuat yang terukur. Ia memastikan tabung oksigen di punggung Dara Puspita tidak bergeser barang satu milimeter pun, seolah nyawa perempuan itu bergantung pada presisi baut yang ia kencangkan. Aroma menyengat karet neoprena yang baru keluar dari peti penyimpanan menyesakkan rongga hidung, bercampur dengan uap laut pagi yang lembap di atas geladak *Bintang Timur*. Di cakrawala, matahari mulai mengintip malu-malu, menyepuh permukaan Laut Banda dengan warna perak yang menyilaukan mata hingga memaksa siapapun untuk menyipitkan pandangan.
"Oksigen aman, Mas Bimo?" Dara bertanya tanpa menoleh, suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat. Getaran itu terasa asing, sebuah anomali bagi seorang perempuan yang biasanya berbicara secepat turbin pesawat tempur saat berada di udara. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran kapal yang dingin, membuat buku-buku jarinya memutih pasi di bawah siraman cahaya fajar. Bimo bisa melihat otot leher Dara yang menegang, sebuah tanda bahwa keberanian yang ia tunjukkan hanyalah selapis tipis cat di atas baja yang mulai retak.
"Nggih, Dara. Tekanan stabil di angka dua ratus bar, cadanganmu penuh untuk durasi yang kita rencanakan," Bimo menjawab dengan nada tenang yang sengaja ia buat-buat demi meredam gejolak di dadanya sendiri. Tangannya beralih memeriksa segel masker silikon Dara, memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang terjepit di antara kulit dan karet yang bisa mengundang maut. Ia mengusap pinggiran masker itu dengan lembut, merasakan tekstur kenyal yang akan menjadi satu-satunya pelindung Dara dari tekanan massa air yang luar biasa.
"Jangan lupa melakukan *equalize* setiap dua meter, Dara. Jangan menunggu sampai telingamu terasa seperti ditusuk jarum panas," lanjut Bimo sembari menatap mata Dara melalui kaca masker yang jernih. Dara menarik napas panjang, mencoba menjinakkan detak jantungnya yang menderu layaknya mesin kapal yang dipaksa bekerja melampaui batas. Ia membuang pandangan ke arah laut lepas, tempat di mana warna biru berubah menjadi kegelapan yang tak terduga.
"Rasanya seperti hendak melakukan *take-off* dari landasan pacu yang belum pernah ada di peta manapun, Mas. Biasanya aku berada di dalam kokpit kapal selam yang kedap, bukan telanjang begini hanya dengan balutan baju karet," gumam Dara sembari menyesuaikan letak pemberat di pinggangnya. Bimo terkekeh kecil, sebuah suara rendah yang mencoba memecah ketegangan yang menggantung di antara mereka. Ia memeriksa komputer selam di pergelangan tangannya, memastikan semua sensor berfungsi optimal sebelum mereka menyerahkan diri pada gravitasi.
"Ini bukan tentang seberapa tebal dinding baja yang melindungimu, Dara," sahut Bimo sembari menyesuaikan katup pernapasannya sendiri. "Di bawah sana, ini tentang bagaimana kita membaca denyut nadi arus dan menghormati kehendak laut yang punya jalannya sendiri." Tiba-tiba, Mbak Lastri muncul dari arah dapur dengan langkah kaki yang mantap di atas geladak kayu yang bergoyang. Ia membawa nampan berisi dua cangkir kopi jahe yang uapnya menari-nari ditiup angin laut yang mulai kencang.
Wajah bulat Mbak Lastri memancarkan kecemasan yang gagal ia sembunyikan di balik senyum paksanya. Ia meletakkan nampan itu di atas peti kayu yang sudah kusam, lalu mendekat untuk membetulkan letak kerah baju selam Bimo yang sedikit melipat ke dalam. Tangan perempuan itu terasa hangat dan sedikit kasar saat bersentuhan dengan kulit Bimo, sebuah sentuhan manusiawi yang sangat kontras dengan peralatan logam yang dingin di sekeliling mereka.
"Le, sarapan dulu. Jangan pernah berani-berani turun ke bawah sana kalau perutmu masih kosong melompong," ujar Mbak Lastri dengan nada medok yang tegas, tidak menerima bantahan. Ia menyodorkan sebutir telur rebus yang masih hangat ke arah Bimo, lalu beralih menatap Dara dengan pandangan keibuan yang tajam. "Laut itu tidak suka pada manusia yang sombong dengan tenaganya sendiri. Makan telurnya, Nduk Dara, supaya nyawamu punya pegangan di dalam air."
"Mbak, aku sudah merasa sangat kenyang hanya dengan menelan rasa gugup ini," Dara mencoba berkelakar, meski senyum yang ia tunjukkan terlihat kaku seperti ukiran kayu. Mbak Lastri tidak bergeming, ia justru menyodorkan potongan telur itu lebih dekat ke bibir Dara dengan gerakan yang menuntut kepatuhan. "Tidak ada alasan. Tiba-tiba makan!" tegasnya sembari meletakkan tangan di pinggang, membuat Dara akhirnya menyerah dan mengunyah telur itu dengan terpaksa.
"Suamiku dulu selalu berpesan, laut itu ibarat perut raksasa yang tidak pernah kenyang. Kalau kamu masuk ke sana dengan perut kosong, dia yang akan merasa lapar dan memakanmu dari dalam," tambah Mbak Lastri dengan suara yang merendah, penuh dengan takhayul pelaut yang telah mendarah daging. Bimo menerima telur itu dengan patuh, mengunyahnya pelan sementara matanya menyapu cakrawala yang mulai benderang. Di sudut geladak yang teduh, Aki Jajang duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah mulai rapuh di pinggirannya.
Sang mentor tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak fajar menyingsing, seolah sedang melakukan percakapan batin dengan entitas yang tidak terlihat. Ia hanya memutar-mutar tasbih kayu di tangannya, menciptakan suara ketukan ritmis yang tenggelam di antara deburan ombak. Matanya yang keruh namun tajam menatap lurus ke arah koordinat yang akan mereka tuju, seolah ia bisa melihat menembus kedalaman air hingga ke dasar yang paling gelap.
"Aki, ada pesan terakhir sebelum kami turun?" Bimo mendekat dan membungkuk sedikit, menunjukkan rasa hormat yang mendalam pada pria tua itu. Aki Jajang berhenti memutar tasbihnya, jemarinya yang keriput mencengkeram butiran kayu itu dengan kuat. Suaranya keluar serak dan pelan, hampir tertelan oleh deru angin yang memukul lambung kapal *Bintang Timur* dengan ritme yang tidak beraturan.
"Di bawah sana, cahaya bukan berasal dari matahari yang kau lihat sekarang, Bimo. Jangan pernah sekali-kali percaya hanya pada apa yang ditangkap oleh matamu saja," bisik Aki Jajang sembari menatap Bimo lekat-lekat. "Rasa di dalam dadamu itu jauh lebih jujur daripada cahaya yang bisa membiaskan kenyataan, atuh. Dengar, rasakan, dan jangan melawan arus yang tidak bisa kau menangkan."
"Nggih, Aki. Saya akan selalu mengingat pesan itu," jawab Bimo sembari mengangguk mantap. Tiba-tiba, Meiling Wijaya berlari keluar dari ruang kendali dengan tumpukan kabel yang melilit di lengannya yang kurus. Wajahnya terlihat pucat pasi, dan kacamata besarnya yang melorot hingga ke ujung hidung membuatnya tampak seperti ilmuwan yang sedang dikejar waktu. Ia terengah-engah, jemarinya yang gemetar mencoba merapikan letak kabel yang semrawut di dadanya.
"Loh, kok sudah mau siap-siap? Tunggu sebentar! Sistem komunikasinya masih dalam proses sinkronisasi akhir," teriak Mei dengan nada panik yang melengking. "Jangan nyemplung dulu sebelum aku memberi aba-aba hijau! Ini masalah keselamatan, bukan sekadar main air!" Dara menoleh ke arah Mei, mencoba mengulas senyum untuk menenangkan sahabatnya yang selalu dipenuhi kecemasan teknis itu.
"Mei, tenanglah. Kita masih punya waktu lima menit lagi sebelum arus di bawah sana mencapai titik paling tenang," sahut Dara, mencoba mengembalikan sisa-sisa kepercayaan dirinya. Namun, Mei justru menggelengkan kepala dengan cepat, jemarinya menari-nari di atas layar tablet yang ia pegang dengan posesif. "Tenang bagaimana? Ini adalah penyelaman terdalam yang pernah kita lakukan tanpa bantuan robot pemandu, Dara! Kalau sinyalnya putus, aku tidak akan bisa melacak posisi kalian di peta digital ini!"
Mei berbicara dengan kecepatan yang sulit diikuti, sementara matanya terus memantau grafik frekuensi yang naik turun di layar tabletnya. "Oke, oke. Frekuensi sekarang sudah terkunci. Ingat ya, kalau lampu di pergelangan tangan kalian berkedip merah, itu artinya aku kehilangan kontak total. Jika itu terjadi, kalian harus langsung naik tanpa tapi!" Di dekat tangga monyet, Kaka Silas berdiri tegak dengan tangan kekar yang memegang tali pemandu dengan mantap.
Pria itu hanya mengangguk singkat ke arah Bimo, sebuah gestur yang mengandung ribuan kata peringatan tanpa perlu diucapkan. "Pace, arus di bawah sana sedang agak liar pagi ini. Saya sudah memasang pemberat tambahan di sepanjang tali pemandu agar kalian tidak hanyut," ujar Silas dengan suara beratnya yang berwibawa. "Ikuti saja talinya, jangan pernah mencoba melawan kekuatan air yang lebih besar dari tenaga kalian."
Bimo mengenakan maskernya, merasakan tekanan karet yang akrab dan dingin di kulit wajahnya yang mulai berkeringat. Ia melangkah ke pinggir kapal, berdiri bahu-membahu di samping Dara yang sudah siap melakukan lompatan. Dunia di atas permukaan terasa begitu bising, penuh dengan instruksi teknis, kecemasan manusia, dan bau kopi jahe yang mulai memudar. Namun, di bawah sana, ia tahu ada keheningan purba yang sedang menanti untuk memeluk mereka.
Keheningan yang mungkin saja menyimpan jawaban atas hilangnya sang ayah belasan tahun yang lalu di perairan yang sama. "Siap untuk perjalanan ini, Dara?" Bimo bertanya melalui sistem radio yang terpasang di dalam maskernya, suaranya terdengar sedikit teredam namun tetap tegas. "Checklist sudah bersih. Mari kita cari harta karun yang sudah lama bersembunyi itu," jawab Dara, suaranya kini kembali lugas dan penuh tekad yang bulat.
Mereka berdua melakukan *giant stride*, melangkah lebar ke udara kosong sebelum akhirnya gravitasi menarik tubuh mereka jatuh dengan cepat. *Byur!* Air laut yang dingin seketika menyergap, memeluk tubuh mereka dengan tekanan yang tidak kenal ampun seolah-olah ingin meremukkan tulang. Bimo merasakan sensasi familiar saat gelembung udara meledak di sekitar telinganya, menciptakan simfoni kekacauan sesaat sebelum dunia atas benar-benar lenyap.
Suara teriakan Mei dan deru mesin kapal seketika digantikan oleh irama napasnya sendiri yang teratur dan bergema di dalam helm. *Hiss. Fwuuh. Hiss. Fwuuh.* Penurunan dimulai dengan Bimo yang memimpin di depan, matanya terpaku pada tali pemandu yang menjuntai ke dalam kegelapan abadi. Warna biru cerah di permukaan perlahan-lahan memudar, berganti menjadi biru tua yang pekat dan menindih, seolah mereka sedang masuk ke dalam perut raksasa yang dingin.
Suhu air turun drastis, membuat Bimo merasa kulitnya seperti menyusut dua ukuran di balik baju selam neoprena yang ia kenakan. Ia menoleh sejenak ke belakang, melihat siluet Dara yang sedang melakukan *equalize* dengan menekan hidungnya di balik masker. Dara memberikan isyarat jempol ke atas yang terlihat samar di tengah remang air, sebuah tanda bahwa ia masih memegang kendali atas dirinya sendiri. Mereka terus turun, melewati lapisan-lapisan air yang terasa semakin berat menghimpit paru-paru dan rongga dada.
Di kedalaman dua puluh meter, cahaya matahari sudah tidak sanggup lagi menembus kerapatan massa air yang pekat. Dunia mereka kini hanya sebatas lingkaran cahaya kecil yang dihasilkan oleh sorot lampu senter air yang mereka genggam erat. Bimo merasakan tekanan air seperti pelukan erat dari kekasih yang posesif, semakin kuat dan menyesakkan di seluruh tubuhnya. Ia mengetuk tangki oksigennya dengan sepotong besi kecil, memberikan kode suara yang merambat cepat di dalam air. *Ting. Ting. Ting.*
"Dara, bagaimana posisimu?" Bimo bertanya lewat radio, mencoba memastikan rekan selamnya tidak tertinggal di tengah kegelapan yang semakin menjadi. "Aku tepat di belakangmu, Bimo. Rasanya seperti sedang terbang di tengah malam buta tanpa bantuan instrumen navigasi sama sekali," jawab Dara dengan suara yang sedikit terdistorsi oleh gangguan sinyal air. Namun, ia terdengar jauh lebih tenang sekarang, seolah kegelapan telah memberinya semacam kedamaian yang aneh.
Tiba-tiba, Bimo merasakan getaran aneh yang merambat melalui air, sebuah pergeseran tekanan yang tidak lazim. Arus bawah laut yang tidak terduga datang menyapu dari arah samping dengan kekuatan yang cukup untuk membuat tubuh mereka terombang-ambing. Arus itu membawa sedimen pasir yang sangat pekat, mengubah kejernihan air menjadi kabut tebal yang membutakan mata. Dalam sekejap, jarak pandang mereka yang tadinya beberapa meter menyusut menjadi nol mutlak.
Cahaya senter Bimo hanya memantul pada butiran-butiran pasir yang melayang, menciptakan dinding putih yang menyilaukan dan membingungkan arah. "Dara! Segera berpegangan pada tali pemandu! Jangan sampai terlepas!" Bimo berseru dengan nada yang mulai meninggi karena cemas. "Aku tidak bisa melihat talinya, Bimo! Di mana kamu? Aku kehilangan arah!" Suara Dara terdengar panik, napasnya mulai memburu dan tidak beraturan di dalam radio.
Bimo merentangkan tangannya di tengah kegelapan yang bergejolak, mencoba menggapai apapun yang bisa ia jadikan pegangan. Perutnya melilit menjadi simpul yang menyakitkan, dan rasa takut purba mulai merayap di tengkuknya seperti ribuan kaki serangga. Ia tahu betul betapa berbahayanya kehilangan arah di kedalaman seperti ini, di mana atas dan bawah bisa dengan mudah tertukar. Dunia seolah menyempit, hanya menyisakan dirinya sendiri dan kegelapan yang terasa sangat menyesakkan dada.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat pesan Aki Jajang tentang tidak mempercayai mata sepenuhnya. Bimo membiarkan tubuhnya melayang pasrah, merasakan arah aliran air yang menghantam permukaan kulitnya yang terbungkus baju selam. Ia bisa merasakan pola arus itu, sebuah tarian air yang kacau namun sebenarnya memiliki ritme yang bisa dipelajari. Ia menggerakkan kakinya perlahan, melawan dorongan arus, hingga akhirnya jarinya menyentuh sesuatu yang kasar dan dingin.
Tali pemandu itu terasa seperti garis kehidupan di tengah kekacauan yang melanda. "Dara, ikuti suaraku sekarang juga! Aku berada tepat di dekat tali pemandu! Ulurkan tanganmu ke arah kanan!" Bimo berteriak, suaranya mencoba menembus kebisingan arus yang menderu di dalam helmnya. Beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam berlalu hingga akhirnya ia merasakan sebuah tangan mencengkeram lengan bajunya dengan sangat kuat, hampir mencakar karet neoprena yang ia kenakan.
Bimo segera menarik Dara mendekat, memastikan mereka berdua memegang tali pemandu yang sama dengan erat. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti mereka saat arus liar itu perlahan-lahan mereda, meninggalkan sisa-sisa sedimen yang mulai mengendap kembali ke dasar laut. "Jangan pernah dilepaskan lagi," ujar Bimo singkat dengan napas yang masih sedikit tersengal. "Tidak akan pernah. Sial, aku benar-benar benci jalanan yang tidak punya lampu penerangan begini," Dara mendengus kesal.
Mereka melanjutkan penurunan dengan lebih hati-hati hingga akhirnya ujung tali pemandu menyentuh dasar laut yang misterius. Kedalaman tiga puluh lima meter tercatat di komputer selam Bimo, sebuah angka yang menuntut kewaspadaan tinggi. Di sini, dasar laut bukan hanya hamparan pasir putih yang membosankan, melainkan gundukan-gundukan karang mati yang tertutup oleh lapisan lumut misterius yang berwarna kelabu tua. Bimo menyalakan detektor logam genggamnya, sebuah alat yang langsung mengeluarkan getaran ritmis di telapak tangannya.
Bimo mulai menyisir area tersebut dengan gerakan yang sangat metodis, seperti seorang petani yang sedang membajak sawah di bawah tekanan air yang hebat. Ia tidak sedang mencari emas atau perak yang berkilau, melainkan jejak sejarah yang telah lama terkubur oleh waktu dan lupakan oleh dunia. Setiap kali detektornya mengeluarkan bunyi bip rendah yang statis, ia akan berhenti dan mengais pasir dengan tangannya, hanya untuk menemukan kaleng tua yang sudah berkarat atau potongan besi kapal nelayan.
"Kita sudah sepuluh menit berada di bawah sini, Bimo. Cadangan oksigen kita mulai menipis," Dara memberikan peringatan teknis yang sangat krusial. Ia sedang memeriksa formasi karang di sisi lain, sorot lampu senternya menari-nari di antara celah-celah gelap yang tampak mengancam. "Tunggu sebentar lagi, Dara. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda di titik ini," gumam Bimo, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada rekan selamnya.
Intuisinya mengatakan bahwa mereka sudah berada di tempat yang tepat, karena koordinat dari catatan kakeknya tidak mungkin salah. Ia bergerak menuju sebuah celah karang yang tampak tidak biasa, dengan bentuk yang terlalu simetris untuk sebuah formasi alami yang dibentuk oleh alam. Saat ia mendekatkan lampu senternya, sebuah kilauan perak tertangkap oleh sudut matanya, memantulkan cahaya dengan cara yang sangat spesifik. Kilauan itu bukan berasal dari sisik ikan, melainkan sesuatu yang statis dan terjepit di antara karang.
Bimo mendekat dengan jantung yang berdegup kencang hingga suaranya bergema di dalam telinganya sendiri. Ia menggunakan pisau selamnya untuk mencongkel benda itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang melakukan operasi bedah yang sangat rumit. Celah karang yang tajam hampir saja merobek sarung tangan pelindungnya, namun ia tidak memedulikan hal itu sama sekali. Dengan satu sentakan lembut yang presisi, benda itu akhirnya terlepas dari cengkeraman karang yang telah memeluknya selama puluhan tahun.
Sebuah koin. Bimo membersihkan kerak laut yang menempel tebal di permukaannya dengan ibu jari yang gemetar. Di bawah cahaya senter yang terang, koin itu tidak menunjukkan wajah raja atau lambang negara manapun yang pernah ia pelajari di buku sejarah. Alih-alih, ada sebuah simbol aneh yang terukir di sana: sebuah lingkaran dengan garis-garis yang saling bersilangan, membentuk pola geometris yang sangat rumit dan presisi.
"Dara. Coba lihat ini," Bimo berbisik, suaranya dipenuhi oleh euforia penemuan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dara segera mendekat, matanya membelalak lebar di balik kaca masker saat melihat benda di tangan Bimo. "Itu bukan koin VOC, Bimo. Juga bukan koin dari kapal Spanyol yang selama ini kita duga karam di perairan ini," gumam Dara dengan nada tidak percaya. "Simbol ini... aku pernah melihatnya di salah satu halaman buku catatan rahasia milik ayah," lanjut Bimo.
"Ini bukan bagian dari manifes kapal komersial mana pun yang pernah tercatat dalam sejarah maritim kita. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih besar dan berbeda," tambah Bimo sembari menggenggam koin itu erat-erat. "Bimo, lihat ke arah sana!" Dara tiba-tiba menunjuk ke arah kegelapan yang berada di luar jangkauan lampu senter mereka. Di balik gundukan pasir raksasa, sebuah struktur bangunan yang sangat besar mulai terlihat samar-samar, seperti raksasa yang sedang tertidur.
Itu bukan sekadar bangkai kapal karam biasa yang hancur berkeping-keping. Bentuknya lebih menyerupai sebuah kompleks bangunan permanen, dengan pilar-pilar batu yang telah runtuh dan tertutup oleh lumut laut yang sangat tebal. Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih dekat untuk menyelidiki, alarm di pergelangan tangan Bimo mulai berkedip merah dengan intensitas yang menakutkan. "Mei memanggil kita untuk segera naik. Waktu kita benar-benar sudah habis," ujar Dara dengan nada yang penuh dengan penyesalan.
Bimo menatap struktur raksasa itu sekali lagi, sebuah janji akan rahasia besar yang sedang menanti untuk diungkap ke permukaan. Ia memasukkan koin misterius itu ke dalam kantong baju selamnya, merasakannya berat dan nyata sebagai bukti perjalanan mereka. "Nggih. Kita harus segera naik sekarang. Tapi aku berjanji, kita akan kembali lagi ke tempat ini dengan persiapan yang lebih matang," tegas Bimo sembari memberikan isyarat untuk memulai prosedur kenaikan.
Prosedur dekompresi terasa sangat membosankan dan menyiksa bagi Bimo yang sedang dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang meluap-luap. Mereka harus berhenti di beberapa kedalaman tertentu agar nitrogen di dalam darah mereka tidak membentuk gelembung mematikan yang bisa merusak organ tubuh. Bimo merasakan rasa lelah yang luar biasa mulai menyerang persendiannya, seolah-olah laut sedang mencoba menahan mereka agar tetap tinggal di bawah sana selamanya.
Saat kepala mereka akhirnya memecah permukaan air, cahaya matahari yang menyilaukan mata menyambut mereka seperti sebuah pelukan hangat. Udara segar yang asin memenuhi paru-paru Bimo, terasa jauh lebih nikmat dan melegakan daripada udara botolan yang mereka hirup selama empat puluh menit terakhir. "Mereka sudah muncul! Mereka selamat!" teriakan Mei terdengar nyaring dari atas geladak, diikuti oleh suara sorak-sorai kecil dari kru lainnya yang sudah menunggu dengan cemas.
Kaka Silas dan Bang Ucok membantu mereka naik ke tangga monyet dengan cekatan. Begitu kaki Bimo menyentuh geladak kayu *Bintang Timur*, ia merasa dunianya sedikit berputar karena perubahan tekanan yang drastis. Mbak Lastri segera menyampirkan handuk wol yang tebal dan hangat ke bahu mereka berdua dengan gerakan yang protektif. "Duduk dulu, Le. Jangan banyak bergerak dulu supaya aliran darahmu kembali normal," ujar Mbak Lastri sembari menuntun mereka ke bangku kayu.
Ia menyodorkan cangkir berisi kopi jahe panas yang mengepulkan aroma rempah yang kuat ke tangan Bimo yang masih kaku. "Minum ini pelan-pelan. Biar nyawamu yang tadi tertinggal di bawah bisa berkumpul lagi di sini," tambahnya dengan senyum lega. Bimo menyesap kopi jahe itu, merasakan kehangatan perlahan-lahan merambat kembali ke ujung jari-jarinya yang membiru karena kedinginan. Rasa pedas jahe dan manis gula aren membakar kerongkongannya, memberikan kenyamanan fisik yang sangat ia butuhkan saat ini.
Di sampingnya, Dara sudah mulai berbicara tanpa henti kepada Mei tentang arus bawah yang hampir menyapu mereka ke dalam kegelapan. Aki Jajang mendekat dengan langkah pelan, matanya tertuju langsung pada kantong baju selam Bimo yang tampak sedikit menonjol. "Kamu membawa sesuatu yang bukan milikmu dari rumah mereka, Bimo?" tanya Aki Jajang dengan suara yang mengandung peringatan terselubung. Bimo merogoh kantongnya dan mengeluarkan koin perak itu, lalu meletakkannya di atas meja kayu yang kasar.
Seluruh kru segera berkumpul, menatap benda kecil yang tertutup kerak laut itu dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. "Ini yang kami temukan di celah karang tadi, Aki," ujar Bimo pelan. Bang Ucok, yang biasanya selalu penuh dengan komentar jenaka, terdiam seribu bahasa saat melihat simbol yang terukir di koin itu. Ia mengambilnya dengan tangan yang kasar, menimbangnya di telapak tangan, lalu mengamatinya dengan ketelitian seorang ahli barang antik.
"Bah! Aku sudah puluhan tahun menyelundupkan barang-barang antik dari dasar laut, tapi tak pernah sekalipun aku melihat simbol macam ini. Ini bukan barang sembarangan, Bimo," ujar Bang Ucok dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Siti, coba kamu perhatikan ini dari sudut pandangmu," Bimo menggeser koin itu ke arah Siti Nurhaliza yang sejak tadi hanya diam mengamati. Siti mengambil koin itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca tipis yang mudah pecah.
Sebagai seorang biologiwan kelautan, ia lebih tertarik pada jenis kerak dan organisme yang menempel di permukaan logam tersebut. "Pertumbuhan koral di atas logam ini menunjukkan bahwa benda ini sudah berada di bawah sana setidaknya selama lima puluh hingga enam puluh tahun terakhir. Tapi lihatlah polanya, ini bukan pola Bugis, bukan juga pola lokal manapun yang ada di seluruh Nusantara," jelas Siti sembari mengerutkan keningnya yang halus.
"Mei, coba kamu jalankan pencarian di database-mu sekarang juga," perintah Bimo dengan nada yang tidak bisa dibantah. Mei segera mengambil foto koin itu dengan kamera tabletnya dan menjalankan program pencarian gambar tingkat lanjut. Keheningan yang mencekam menyelimuti geladak selama beberapa saat, hanya terdengar suara deru mesin kapal dan deburan ombak yang memukul lambung. Wajah Mei yang tadinya penuh semangat perlahan-lahan berubah menjadi bingung, lalu kemudian memucat pasi.
"Loh. Kok tidak ada hasilnya sama sekali?" Mei bergumam dengan suara yang bergetar. "Database sejarah maritim global tidak memiliki catatan apapun tentang simbol geometris ini. Tapi tunggu sebentar, aku menemukan sesuatu yang sangat mirip di dalam arsip rahasia yang sempat aku retas dari server Samudra Nusantara Corp minggu lalu." "Maksudmu perusahaan milik Bang Togar?" Dara bertanya dengan suara yang meninggi satu oktav karena terkejut.
Mei mengangguk cepat, wajahnya kini benar-benar ketakutan. "Iya. Ada satu folder yang dilindungi oleh enkripsi tingkat militer dengan nama kode 'Proyek Atlantis Baru'. Simbol di sampul digital folder itu persis sekali dengan simbol yang ada di koin ini." Bimo merasakan sensasi dingin yang bukan berasal dari air laut merayap di sepanjang tulang punggungnya. Jika Togar Simanjuntak sudah mengetahui tentang keberadaan simbol ini, itu artinya mereka bukan satu-satunya pihak yang sedang melakukan pencarian di perairan ini.
"Togar tidak akan pernah membiarkan siapapun memiliki benda ini jika dia tahu kita sudah menemukannya," ujar Bimo dengan suara yang sangat pelan namun tajam. "Nggak usah takut, Pace," Kaka Silas menimpali sembari mengepalkan tangannya yang besar dan kuat. "Kita sudah melangkah sejauh ini, dan pada akhirnya lautlah yang akan menentukan siapa yang layak untuk menyimpan rahasianya." Bimo menatap koin di atas meja, yang kini tampak seperti mata yang sedang menatap balik padanya dari masa lalu.
Ia tahu bahwa penyelaman hari ini hanyalah sebuah permulaan kecil dari badai besar yang akan segera datang. Perjalanan mereka masih sangat panjang, dan jalan di depan terasa semakin gelap serta dipenuhi oleh tikungan yang tidak terduga. "Mbak Lastri, tolong siapkan makan siang yang paling banyak untuk kami," Bimo berkata sembari menatap kru-nya satu per satu dengan pandangan yang penuh tekad. "Kita akan butuh tenaga ekstra karena besok kita akan turun lagi dengan peralatan yang lebih lengkap."
"Nggih, Le. Mbak akan masakkan lodeh yang paling enak untuk kalian semua," jawab Mbak Lastri dengan senyum hangat, meski matanya tetap memancarkan kekhawatiran yang mendalam. Bimo berdiri dan berjalan ke pinggir kapal, menatap ke arah laut yang kini tampak sangat tenang di bawah sinar matahari siang. Namun, ia tahu bahwa di bawah sana, di kegelapan yang sunyi, sesuatu yang sangat besar dan kuno sedang menunggu kedatangannya kembali.
Tiba-tiba, radar di ruang kendali berbunyi dengan nada nyaring yang memecah ketenangan siang itu. Mei berlari masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, dan sedetik kemudian suaranya yang gemetar terdengar melalui pengeras suara kapal. "Mas Bimo! Ada sebuah kapal besar sedang mendekat dengan kecepatan tinggi dari arah utara! Mereka tidak menyalakan transponder identitas sama sekali!" Bimo menoleh ke arah utara, dan di cakrawala yang tadinya kosong, sebuah siluet hitam mulai muncul membelah ombak dengan angkuh.
Itu adalah kapal patroli cepat milik Samudra Nusantara Corp, yang melaju seperti pemangsa yang telah menemukan mangsanya. "Dara, segera nyalakan mesin! Kita harus pergi dari posisi ini sekarang juga!" teriak Bimo sembari memberikan instruksi darurat. Namun, jauh di dalam hatinya, Bimo menyadari bahwa melarikan diri hanyalah menunda pertemuan yang sudah digariskan oleh takdir laut. Pertarungan untuk memperebutkan rahasia di dasar Banda baru saja dimulai, dan koin di sakunya terasa semakin panas, seolah-olah sedang berdenyut mengikuti detak jantungnya sendiri.