Bab 17: Resonansi yang Terlupakan
Uap panas dari cangkir kopi robusta itu mengepul tinggi. Asapnya menggelitik ujung hidung Bimo Satrio, menawarkan kehangatan yang perlahan mengusir sisa-sisa dingin yang masih bersarang di sumsum tulangnya. Dia menyesap cairan hitam itu dengan hati-hati, membiarkan rasa pahit yang tajam tertinggal di lidah sebagai jangkar realitas yang memaku kesadarannya. Di sekelilingnya, ruang galeri kapal *Bintang Timur* terasa sempit, namun dinding-dinding besinya memberikan rasa terlindung yang sangat dia butuhkan. Kain katun kering yang kini membungkus tubuhnya memberikan sensasi nyaman yang hampir terasa asing setelah berjam-jam kulitnya lembap oleh air laut. Handuk wol kasar yang tersampir di bahunya masih menguapkan aroma detergen murah dan sisa panas matahari yang dibawa Mbak Lastri dari daratan.
"Minumlah yang banyak, Le. Biar nyawamu kumpul kembali ke raga," ujar Mbak Lastri sembari meletakkan sepiring singkong rebus di atas meja logam yang bergetar halus akibat mesin kapal. Bimo mengangguk pelan, berusaha menghentikan getaran di jemarinya yang seolah masih merekam memori saat dia mencengkeram katup darurat dengan keputusasaan yang luar biasa. "Terima kasih, Mbak Lastri. Saya merasa seolah-olah baru saja ditarik keluar dari perut paus yang gelap dan dingin," jawab Bimo dengan suara yang masih agak parau. Mbak Lastri menghela napas panjang, lalu menyahut dengan nada medok yang kental, "Gusti Allah masih memberikan perlindungan, itulah sebabnya kamu masih diberikan napas yang panjang." Dia mengusap permukaan meja dengan kain lap, gerakannya ritmis seolah sedang melakukan ritual untuk mengusir sisa-sisa kemalangan yang mungkin ikut terbawa dari kedalaman laut yang pekat.
Di sudut ruangan, Dara Puspita sedang menekuni peta digital pada tabletnya dengan kening yang berkerut dalam. Rambut pendeknya masih tampak berantakan, dan ada noda oli hitam di pipi kirinya yang sama sekali tidak dia pedulikan. Bibirnya sesekali bergerak, menggumamkan istilah-istilah navigasi teknis yang hanya dipahami oleh mereka yang telah menghabiskan separuh hidupnya di balik kemudi kapal selam. Cahaya lampu galeri yang agak redup memantul di bola matanya, menyingkapkan kelelahan yang luar biasa meskipun dia berusaha menutupinya dengan ketegasan sikap. "Kita tidak memiliki banyak waktu, Bimo," kata Dara tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar yang bercahaya biru. "Arus di luar sana mulai menunjukkan ketidakstabilan yang mengkhawatirkan. Apabila kita tidak segera menemukan koordinat tersebut, kita akan terjebak di dalam palung ini untuk selamanya."
Bimo meletakkan cangkirnya, merasakan kehangatan kopi yang kini mulai menjalar hingga ke dadanya. "Saya memahami kekhawatiran Anda, Dara. Namun, sistem penerjemah otomatis kita memang tidak mampu mengurai simbol-simbol tersebut karena ada pola frekuensi yang terputus di tengah jalan," jelas Bimo dengan nada tenang. "Mungkin mesin ini sudah mencapai batas kemampuannya, sama halnya dengan manusia yang mengoperasikannya," celetuk Bang Ucok yang baru saja melangkah masuk ke galeri, membawa aroma keringat dan pelumas mesin yang menyengat. Dia menarik kursi di samping Bimo dan mengambil sepotong singkong tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Kapal ini sudah tua, Bimo. Kau tidak boleh menggantungkan seluruh nasib kita pada komputer-komputer canggih yang sering kali kehilangan akal sehatnya di bawah tekanan air yang gila ini."
Meiling Wijaya muncul dari balik pintu sekat dengan wajah yang tampak pucat di bawah sinar lampu neon yang berkedip. "Bang Ucok, sistem ini tidak mengenal rasa lelah. Masalah utamanya adalah data yang mengalami korupsi akibat rembesan air pada sirkuit sekunder," sanggah Mei sambil mendekati meja. Jemarinya yang lincah menari di atas layar monitor portabel yang dia dekap sejak tadi. Dia meletakkan perangkat itu di hadapan Bimo, memperlihatkan barisan kode yang terus berputar tanpa henti. "Saya sudah mencoba melakukan proses *reboot* sebanyak tiga kali, namun hasilnya tetap nihil. Simbol-simbol ini menyebabkan algoritma dekripsi kita terjebak dalam putaran logika yang tidak berujung. Saya mulai curiga bahwa ini bukan sekadar bahasa tulisan yang biasa kita kenal."
Bimo segera berdiri, meninggalkan kenyamanan kursinya dengan gerakan yang tegas. "Bawa monitor itu ke ruang kendali sekarang juga, Mei. Saya ingin memeriksanya sekali lagi karena ada sesuatu yang mengganjal di ingatan saya mengenai catatan penelitian ayah saya," perintah Bimo. Mereka melangkah cepat melewati lorong sempit kapal yang dipenuhi bau ozon dari peralatan elektronik yang bekerja melampaui batas. Di dalam ruang kendali, Silas Papare berdiri tegak menyerupai tugu peringatan yang kokoh, matanya mengawasi layar sonar dengan ketajaman yang tidak menyisakan ruang bagi kesalahan. Dia hanya memberikan anggukan singkat saat Bimo masuk, sebuah pengakuan bisu atas keselamatan rekan setimnya. Suara dengung statis dari speaker monitor yang rusak memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.
"Coba masukkan kembali input simbol dari fragmen ketiga yang kita temukan tadi," perintah Bimo dengan nada yang dipaksakan agar tetap stabil. Mei menekan beberapa tombol dengan kecepatan tinggi, lalu menjawab, "Baik, data sudah masuk. Namun, perhatikanlah layarnya, sistem kembali memberikan peringatan berwarna merah." Layar di hadapan mereka kini menampilkan serangkaian garis melengkung yang saling bersilangan, menyerupai pusaran air yang membeku dalam bentuk digital. Setiap kali sistem mencoba melakukan penerjemahan, kode-kode tersebut hancur menjadi karakter acak yang sama sekali tidak bisa dibaca oleh logika manusia maupun mesin. Bimo mendekat hingga wajahnya hampir menyentuh layar, matanya memicing untuk menangkap pola tersembunyi di balik kekacauan tersebut.
"Ini bukan merupakan deretan huruf, Mei," bisik Bimo, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada rekan-rekannya. "Perhatikan jarak antar garis ini. Ini bukan merupakan spasi linguistik yang biasa digunakan dalam penulisan bahasa kuno." Dara melangkah mendekat dan menyilangkan tangan di depan dadanya dengan sikap skeptis. "Lantas, jika itu bukan bahasa, bagaimana kita bisa menentukan arah perjalanan kita? Kita tidak sedang berada di posisi yang memungkinkan untuk bermain tebak-tebakan di kedalaman ini," ujar Dara dengan nada yang mulai menajam. Bimo merogoh saku celananya dan mengeluarkan buku catatan tua milik ayahnya yang sudah agak basah di bagian pinggirnya. "Ini adalah frekuensi," ujar Bimo dengan keyakinan yang baru.
Dia membuka halaman yang berisi sketsa manual simbol tersebut, lalu membandingkannya dengan grafik sonar yang terekam sebelum sistem mengalami malfungsi. "Ayah saya pernah menuliskan sebuah catatan mengenai 'nyanyian yang mampu menggerakkan gunung'. Dahulu, saya mengira itu hanyalah sebuah metafora puitis yang muncul karena dia terlalu lama berada di tengah laut yang sunyi," jelas Bimo. Cahaya biru neon dari layar memantul di mata Dara, menciptakan kilatan keraguan yang sangat jelas. "Bimo, apakah kau mencoba mengatakan bahwa kota yang kita cari ini ditemukan melalui alunan musik? Kita membutuhkan koordinat geografis yang pasti, bukan sebuah pertunjukan konser di bawah laut. Jangan membuang waktu kita yang berharga dengan teori yang tidak memiliki dasar logika."
"Ini bukan sekadar musik, Dara. Ini adalah murni ilmu fisika," balas Bimo, suaranya tetap rendah namun mengandung penekanan yang tidak bisa dibantah. "Air adalah konduktor suara yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan udara. Peradaban kuno ini kemungkinan besar menggunakan prinsip resonansi untuk menyembunyikan atau membuka pintu masuk menuju wilayah mereka." Mei mengerutkan keningnya, mencoba mengikuti alur pemikiran Bimo yang tidak lazim tersebut. "Jika teori itu benar, apakah berarti simbol-simbol ini sebenarnya adalah instruksi audio? Semacam partitur musik kuno?" tanya Mei dengan nada penuh rasa ingin tahu. Bimo mengangguk mantap. "Tepat sekali. Mei, bisakah Anda menghubungkan *synthesizer* kapal ini ke pemancar sonar eksternal? Kita perlu memainkan nada-nada ini ke lingkungan luar."
"Namun Bimo, jika frekuensi yang kita hasilkan salah, getaran tersebut bisa merusak integritas lambung kapal kita," potong Dara, langkahnya maju satu tahap seolah ingin menghalangi niat Bimo. "Tekanan air di luar sana sudah mencapai tingkat yang sangat ekstrem. Getaran sekecil apa pun bisa membuat kapal ini hancur seperti cangkang telur yang rapuh." Bimo menatap Dara lurus-lurus, mencari sisa-sisa kepercayaan di balik ketakutan yang terpancar dari wajah wanita itu. "Saya sangat menyadari risikonya. Namun, kita tidak memiliki pilihan lain yang lebih masuk akal. Sistem otomatis kita telah mati dan logika konvensional kita telah gagal total. Kita harus menaruh kepercayaan pada warisan yang ditinggalkan oleh mereka yang pernah berada di sini sebelum kita."
Silas Papare berdehem, suaranya yang berat dan dalam memecah ketegangan yang menggantung di udara. "Saudara Bimo, saya rasa kita memang harus mencobanya. Laut ini memiliki cara bicaranya sendiri yang unik. Terkadang, dia tidak berbicara kepada otak kita, melainkan langsung kepada tulang-tulang kita," ujar Silas dengan bijak. Dara menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit sebagai tanda menyerah. "Baiklah. Namun, jika kapal ini mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan, saya akan mematikan seluruh mesin secara paksa. Apakah Anda paham?" Bimo menjawab dengan singkat, "Saya paham." Mei mulai bekerja dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata biasa, mengalihkan seluruh jalur output audio menuju sistem transduser bawah air yang kuat.
Bau kabel yang memanas mulai tercium di dalam ruang kendali, menandakan beban kerja yang meningkat drastis pada sistem daya kapal. Bimo mengambil alih konsol *synthesizer*, jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh tuts virtual yang terpampang di layar. Dia mulai memainkan nada pertama, sebuah bunyi rendah yang sangat dalam hingga menggema di seluruh ruangan. Getaran infrasound itu terasa hingga ke sumsum tulang, menciptakan sensasi ganjil yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Kapal *Bintang Timur* seolah memberikan respons fisik; lambung bajunya mengeluarkan suara mengerit yang memilukan. "Bimo, getarannya sudah terlalu kuat! Kita harus berhenti!" teriak Dara sembari mencengkeram pinggiran meja navigasi dengan erat.
"Tahan sebentar lagi, saya hampir menyelesaikan rangkaiannya!" balas Bimo dengan suara keras. Dia menekan rangkaian nada berikutnya, mengikuti pola lengkungan simbol kuno yang rumit itu. Kapal berguncang hebat, melemparkan beberapa peralatan kecil ke lantai. Di luar jendela observasi yang sangat tebal, kegelapan laut yang abadi seolah mulai bergejolak dan menari. Partikel-partikel sedimen di air bergerak mengikuti irama yang diciptakan oleh Bimo, membentuk pola-pola geometris yang menakjubkan. Rasanya seperti menjadi ikan yang melihat jaring raksasa mendekat, sebuah perasaan terjepit di antara dua kekuatan besar yang tidak mungkin dilawan oleh kekuatan manusia biasa.
"Sistem daya kita mulai tidak stabil, Bimo!" Mei berteriak di tengah kebisingan getaran mesin yang menderu. "Aneh sekali, mengapa seluruh indikator energi justru melonjak naik melampaui batas maksimal?" Tiba-tiba, suara dengung yang menyakitkan telinga itu berubah menjadi sebuah harmoni yang sangat jernih dan indah. Getaran yang tadinya terasa merusak kini justru terasa sinkron dengan detak jantung mereka masing-masing. Simbol-simbol di layar monitor yang tadinya berwarna merah padam, perlahan mulai bersinar dengan cahaya emas yang lembut dan menenangkan. Garis-garis tersebut bergerak secara organik, menyatu, dan membentuk sebuah struktur tiga dimensi yang melayang megah di tengah ruangan kendali.
"Kita berhasil melakukannya," bisik Mei dengan mata yang membelalak kagum. Sebuah peta holografik yang terbentuk dari partikel cahaya emas kini melayang di udara, menampilkan rute navigasi yang sangat jelas. Jalur tersebut berkelok-kelok melewati celah-celah palung yang belum pernah tercatat dalam atlas mana pun di dunia. Namun, ada sebuah kejanggalan yang tertangkap oleh mata mereka; titik tujuan akhir mereka tidak berada di dasar laut yang terbuka. "Tunggu sebentar," ujar Dara sambil mendekati hologram tersebut, wajahnya diterangi oleh cahaya emas yang berpendar. "Perhatikan koordinat ini. Ini adalah sesuatu yang secara ilmiah tidak mungkin terjadi."
Bimo segera memeriksa data teknis yang muncul di samping peta tersebut dengan saksama. "Mengapa kedalamannya justru berkurang secara drastis? Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?" tanya Bimo dengan penuh keheranan. "Bukan kedalamannya yang berkurang, Bimo," ujar Dara dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan. "Inti dari kota ini tidak terletak di dasar laut yang kita bayangkan. Kota ini berada di dalam sebuah kantong udara raksasa yang terletak jauh di bawah lapisan kerak bumi." Keheningan yang sangat pekat menyelimuti ruang kendali setelah pernyataan itu terlontar. Hanya suara 'ping' yang jernih dari sonar yang menandakan bahwa koordinat telah terkunci sepenuhnya. Informasi ini seolah menampar seluruh logika ilmiah yang selama ini dipegang teguh oleh Bimo.
Sebuah peradaban kuno telah membangun kota di bawah kerak bumi, terlindungi oleh lapisan batuan yang sangat tebal namun tetap memiliki ruang udara untuk bernapas. "Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan hidup di sana dalam jangka waktu yang begitu lama?" tanya Mei dengan suara yang sangat kecil, seolah takut mengganggu keheningan. "Tekanan magma seharusnya sudah menghancurkan tempat itu ribuan tahun yang lalu." Bimo menatap peta cahaya itu dengan rasa ingin tahu yang sangat mendalam, rasa takutnya kini telah sepenuhnya terkalahkan oleh kehausan akan pengetahuan baru. "Mungkin itulah alasan utama mengapa mereka menggunakan prinsip resonansi. Mereka menggunakannya untuk menyeimbangkan tekanan ekstrem dari luar, seperti sebuah gelembung yang tidak akan pernah pecah selama getaran tertentu tetap terjaga."
Silas Papare mendekat, wajahnya yang keras tampak sangat tegang di bawah cahaya emas. "Itu adalah tempat yang sangat berbahaya, Saudara Bimo. Kita sedang bersiap untuk masuk ke dalam perut bumi yang sebenarnya," ujar Silas dengan nada peringatan. "Namun, itu adalah satu-satunya cara bagi saya untuk membuktikan kebenaran teori ayah saya," sahut Bimo, matanya tetap terpaku pada pusat cahaya di peta itu. "Dan itu juga merupakan satu-satunya cara untuk menghentikan apa pun rencana jahat yang sedang disusun oleh Bang Togar." Di kejauhan, di atas permukaan laut yang tidak terlihat, Bimo menyadari bahwa Togar Simanjuntak mungkin sedang memantau setiap pergerakan mereka. Pria itu memiliki sumber daya yang tidak terbatas, namun dia tidak memiliki kunci resonansi yang baru saja mereka temukan.
"Dara, apakah Anda mampu membawa kita menuju titik tersebut?" tanya Bimo dengan penuh harap. Dara menatap rute berbahaya yang terpampang di hadapannya, lalu beralih menatap Bimo dengan pandangan yang tajam. Dia menarik napas dalam-dalam, sebuah gerakan yang menunjukkan determinasi kuat seperti seorang pelari yang bersiap di garis start. "Saya adalah pilot terbaik yang pernah Anda temui, Bimo. Jika memang ada jalan masuk ke sana, saya pasti akan menemukannya. Namun, siapkanlah diri Anda masing-masing. Ini bukan lagi sekadar penyelaman rutin. Ini adalah sebuah perjalanan menuju tempat yang seharusnya tidak pernah ada dalam peta dunia."
Bimo mengangguk pelan, merasakan kelegaan emosional yang luar biasa meskipun sebuah pertanyaan besar masih menggantung di benaknya. Bagaimana peradaban tersebut bisa membangun struktur semegah itu tanpa hancur oleh panas magma? "Mbak Lastri!" teriak Bang Ucok dari arah belakang dengan semangat yang kembali berkobar. "Siapkan kopi lagi untuk kami! Kita akan menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan!" "Nggih, Le! Sabar sebentar!" sahut Mbak Lastri dari arah galeri. Kapal *Bintang Timur* perlahan mulai bergerak maju, mengikuti rute cahaya emas yang membelah kegelapan abadi di hadapan mereka. Di dalam ruang kendali yang sempit, kelima manusia itu terdiam, masing-masing bergelut dengan pikiran dan kekhawatiran mereka sendiri.
Cahaya hologram itu perlahan memudar saat koordinat sudah tersimpan dengan aman di dalam sistem navigasi, meninggalkan mereka kembali dalam remang lampu kabin yang temaram. Bimo kembali ke kursinya, jemarinya menyentuh permukaan meja logam yang terasa dingin di kulitnya. Dia teringat kembali akan wajah ayahnya dalam foto tua yang dia simpan, sebuah senyuman yang menyimpan seribu rahasia besar. Kini, dia merasa lebih dekat dengan ayahnya daripada sebelumnya. Namun, kabut dingin mulai mengendap di dadanya saat dia menyadari bahwa musuh mereka bukan hanya tekanan air atau kerak bumi, melainkan ambisi manusia yang tidak mengenal batas.
"Mei, pastikan seluruh jalur komunikasi kita tetap terenkripsi dengan tingkat keamanan tertinggi," perintah Bimo dengan tegas. "Saya tidak ingin Bang Togar menangkap sinyal resonansi yang kita pancarkan ini." "Beres, Mas Bimo. Saya akan memasang dinding api paling tebal yang pernah saya buat," jawab Mei dengan semangat yang mulai pulih. Dara memegang tuas kendali dengan mantap, otot-otot lengannya tampak menegang. "Semuanya, pegangan yang kuat. Kita akan segera memasuki celah pertama di dinding palung ini." Kapal selam itu menukik tajam, masuk ke dalam retakan gelap yang tadinya hanya tampak seperti bayangan biasa di radar mereka.
Di dalam sana, kegelapan terasa jauh lebih pekat, seolah-olah cahaya pun enggan untuk menembus lapisan tersebut. Suara mesin kapal berubah menjadi geraman rendah yang berat saat harus melawan arus bawah tanah yang sangat kuat. Bimo menutup matanya sejenak, mencoba merasakan aliran air yang mengalir di sekitar lambung kapal melalui intuisinya. Dia seolah bisa merasakan getaran bumi, sebuah bisikan kuno yang memanggil mereka untuk masuk lebih dalam ke rahim dunia. "Kita hampir sampai pada titik transisi yang krusial," lapor Dara, suaranya terdengar kaku karena konsentrasi yang penuh pada panel kendali di depannya.
Tiba-tiba, sensor tekanan di panel kendali mulai berputar secara liar dan tidak terkendali. Angka-angka digital di layar melonjak naik dengan cepat, lalu turun secara drastis hanya dalam hitungan detik. Lampu peringatan berwarna kuning mulai berkedip dengan cepat, menciptakan suasana darurat yang sangat mencekam di dalam kabin. "Dara, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kapal kita?" tanya Bimo dengan tubuh yang condong ke depan. "Tekanannya... tekanannya menghilang secara tiba-tiba!" teriak Dara dengan nada tidak percaya. "Kita baru saja melewati batas air. Kita sedang memasuki ruang hampa yang sangat luas!"
Guncangan hebat melanda seluruh badan kapal saat mereka menembus lapisan terakhir dari penghalang air yang tebal. Selama beberapa detik yang terasa sangat lama, semua orang di dalam kabin merasa melayang, sebuah sensasi tanpa bobot yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Lalu, dengan bunyi debuman keras yang menggetarkan seluruh rangka kapal, *Bintang Timur* mendarat di atas permukaan yang terasa padat namun memiliki elastisitas tertentu. Bimo membuka matanya perlahan dan segera melihat ke arah jendela observasi. Pemandangan yang tersaji di depannya membuat dia seolah lupa bagaimana cara paru-parunya bekerja.
Di hadapan mereka, terbentang sebuah ruang raksasa yang diterangi oleh koloni lumut-lumut bercahaya yang menempel di langit-langit gua batuan. Di tengah ruang tersebut, berdiri sebuah struktur megah yang terbuat dari kristal dan logam yang tidak dikenal, berkilauan dengan indahnya di bawah cahaya yang redup. "Itu dia," bisik Bimo dengan suara yang hampir tidak terdengar karena rasa takjub yang luar biasa. "Itulah inti kota yang selama ini dicari." Namun, saat mereka mulai mengamati struktur tersebut, sebuah getaran lain mulai terasa merambat dari lantai kapal. Getaran ini bukan berasal dari mesin, melainkan sebuah denyutan yang terasa hidup dan penuh dengan amarah yang terpendam.
"Bimo," suara Dara terdengar sangat kecil dan penuh ketakutan. "Lihatlah ke arah bawah kita." Di bawah lapisan transparan tempat kapal mereka mendarat, aliran cairan merah membara mengalir dengan sangat deras. Itu adalah magma. Mereka benar-benar sedang berada di atas tungku bumi yang sangat panas, hanya dipisahkan oleh sebuah lapisan tipis yang entah bagaimana bisa bertahan dari suhu yang mematikan. "Bagaimana mungkin tempat ini tidak meleleh menjadi abu?" tanya Mei dengan wajah yang kini benar-benar pucat pasi. Bimo tidak memberikan jawaban, matanya tertuju pada sebuah pintu gerbang besar di depan mereka yang perlahan mulai terbuka.
Gerbang itu seolah menyambut kedatangan mereka, namun di baliknya, kegelapan yang lebih dalam telah menanti dengan setia. Bimo menyadari bahwa apa yang akan mereka temukan di dalam sana mungkin akan mengubah seluruh sejarah umat manusia, atau justru mengakhirinya di tempat yang sunyi ini. "Kita harus segera keluar dari kapal," ujar Bimo dengan nada yang sangat tegas. "Siapkan seluruh perlengkapan selam darat sekarang juga. Kita akan masuk ke dalam kota tersebut." Dara menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, penuh dengan pertimbangan logis dan emosional. "Apakah kau benar-benar yakin, Bimo? Jika kita melangkah keluar sekarang, tidak akan ada jalan untuk kembali lagi ke permukaan."
Bimo menatap gerbang yang terbuka itu, lalu menatap rekan-rekannya satu per satu dengan penuh keyakinan. "Saya tidak pernah merasa seyakin ini di dalam seluruh hidup saya. Ayah saya sedang menunggu jawaban di dalam sana." Silas Papare sudah mulai menyiapkan tas perlengkapannya dengan gerakan yang sangat efisien dan tanpa keraguan sedikit pun. "Saya akan ikut dengan Anda, Saudara Bimo. Tugas saya untuk melindungi tim ini belum selesai." Mbak Lastri muncul di pintu sekat dengan membawa beberapa botol air minum dan bungkusan makanan yang masih hangat. "Jangan sampai kalian lupa membawa ini. Di bawah sana pasti tidak ada warung yang buka," ujarnya berusaha mencairkan suasana.
Meskipun dalam situasi yang sangat mencekam, sebuah senyuman kecil muncul di bibir Bimo. Kehangatan tim ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras di kedalaman yang gila ini. Namun, saat dia melangkah menuju pintu keluar, sebuah peringatan berwarna merah muncul kembali di layar monitor milik Mei. "Mas Bimo! Ada sinyal lain yang tertangkap radar!" teriak Mei dengan suara yang panik. "Sinyalnya datang dari arah atas kita! Ada sesuatu yang sedang mengebor masuk dengan paksa!" Bimo membeku di tempatnya berdiri. Togar Simanjuntak ternyata telah berhasil menemukan posisi mereka jauh lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Dara, cepatlah!" perintah Bimo dengan suara yang mendesak. "Kita harus segera masuk ke dalam kota sebelum mereka berhasil menembus langit-langit gua ini!" Suara dentuman keras terdengar dari arah atas, getarannya meruntuhkan beberapa bongkah batu besar dari langit-langit gua yang kuno. Debu-debu mulai berjatuhan, menutupi pandangan mereka dengan kabut abu-abu yang pekat. Ketegangan di dalam kapal telah mencapai puncaknya, menyerupai kawat baja yang ditarik dengan beban berlebih hingga hampir putus total. Bimo mencengkeram gagang pintu keluar, merasakan panas yang mulai merambat naik dari lantai gua yang mereka pijak.
Dia menarik napas sedalam mungkin, membiarkan oksigen terakhir dari dalam kapal memenuhi paru-parunya, lalu mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Cahaya emas dari dalam kota menyambut kedatangannya, namun di balik keindahan tersebut, Bimo merasakan sebuah kehadiran lain yang sangat kuat. Sebuah entitas yang telah terbangun dari tidurnya yang selama ribuan tahun, dan kehadiran itu tampaknya tidak merasa senang dengan kedatangan tamu-tamu yang tidak diundang ini. "Selamat datang di rumah, Ayah," bisik Bimo saat dia melangkah keluar, kakinya menyentuh tanah yang telah ribuan tahun tidak pernah dipijak oleh kaki manusia mana pun.
Tepat saat anggota terakhir dari kru keluar dari kapal, sebuah ledakan yang sangat besar mengguncang seluruh langit-langit gua. Cahaya lampu sorot raksasa menembus kegelapan dari arah atas, menandakan bahwa armada Samudra Nusantara Corp telah tiba di lokasi tersebut. Di tengah kekacauan dan debu yang beterbangan, Bimo melihat sesuatu yang membuatnya terpaku di tempat. Di atas salah satu menara kristal kota yang paling tinggi, sebuah bayangan hitam berdiri tegak, mengawasi mereka dengan mata yang bersinar terang seperti api di tengah badai yang mengamuk. Siapakah sebenarnya penjaga kota ini? Pertanyaan itu menggantung di udara yang panas saat gerbang kota perlahan mulai menutup kembali, mengunci mereka di dalam rahim bumi bersama rahasia yang mungkin memang lebih baik tetap terkubur untuk selamanya.