Lampu sorot dari Exo-suit 'Banyu' membelah kegelapan abadi di dasar Palung Banda. Cahaya itu memantul pada permukaan dinding raksasa yang menjulang, sebuah gerbang yang seharusnya menjadi bukti peradaban kuno yang hilang. Bimo Satrio mengatur napasnya, mencoba menenangkan debaran jantung yang berpacu melawan ritme pompa oksigen di punggungnya. Di sampingnya, kapal selam mini yang dikemudikan Dara Puspita melayang stabil, baling-balingnya menimbulkan dengung rendah yang konstan." Bimo, kau lihat ukurannya?" Sekarang suara Dara terdengar melalui interkom, sedikit bergetar oleh statis." Ini lebih besar dari hanggar pesawat di Biak." Sebaliknya, bimo mengangguk di dalam helmnya, meskipun Dara tidak bisa melihatnya dengan jelas." Nggih, Dara. Di sana skalanya tidak masuk akal untuk konstruksi bawah laut sedalam ini. Arus di sini seharusnya sudah menghancurkan struktur apa pun ribuan tahun yang lalu." Tangannya yang terbungkus sarung tangan mekanik menyentuh permukaan gerbang. Teksturnya kasar, ditutupi oleh sedimen tebal dan sisa-sisa organisme laut yang telah membatu. Segera namun, di balik lapisan itu, Bimo merasakan sesuatu yang aneh. Permukaannya terlalu rata, terlalu presisi untuk dikerjakan dengan alat pahat batu kuno. Sekali lagi dia mengeluarkan unit dekripsi portabel dari kompartemen pinggang suit-nya." Aku akan mencoba menghubungkan sistemnya," ujar Bimo sambil mencari titik akses yang telah diidentifikasi oleh pemindaian sonar Mei sebelumnya." Dengan tenang mei, apa kau masih terhubung?" "Masih, Mas Bimo!" suara Meiling Wijaya terdengar nyaring dan cepat dari pusat komunikasi di kapal induk." Selanjutnya loh, kok sinyalnya malah makin kuat ya? Padahal kita di kedalaman ekstrem. Selain itu, kayak ada pemancar WiFi raksasa di balik tembok itu. Aneh banget, sumpah." Tetap saja bimo menemukan sebuah celah sempit yang tersembunyi di balik ukiran berbentuk pusaran air. Dia memasukkan probe data dari unit dekripsinya. Pada akhirnya layar holografik di depan matanya mulai memproses barisan kode yang rumit. Dia bersiap untuk menunggu berjam-jam, mengingat ini seharusnya adalah teknologi dari ribuan tahun lalu yang memerlukan penerjemahan linguistik kompleks. Detik berikutnya, sebuah bunyi 'klik' mekanis yang berat bergema di seluruh parit." Sistemnya merespons," gumam Bimo, matanya membelalak menatap layar." Meski begitu bukan merespons. Sistem ini mengenali protokol kita. Di luar enkripsinya terbuka bahkan sebelum aku mulai meretasnya." "Apa maksudmu?" tanya Dara, kapalnya bergerak sedikit lebih dekat." Jangan bilang orang-orang kuno ini menggunakan bahasa pemrograman C++." "Ini tidak benar," sahut Bimo, rahangnya mengeras bagai semen." Sistem keamanannya menggunakan kunci enkripsi yang sama dengan yang digunakan oleh Samudra Nusantara Corp. Protokol aksesnya identik dengan yang diberikan Bang Togar padaku untuk keperluan riset." Getaran rendah mulai merambat melalui lantai logam di bawah lapisan sedimen yang mereka pijak. Di bawah suara gemuruh itu bukan berasal dari aktivitas tektonik, melainkan mesin-mesin masif yang mulai berputar di balik dinding. Gerbang raksasa itu mulai bergeser, terbelah di tengah dengan presisi yang mengerikan. Sementara itu, air laut yang dingin seolah terhisap masuk ke dalam ruang hampa di baliknya sebelum tekanan menyeimbang. Cahaya senter Bimo menyapu ruangan yang baru terbuka itu. Harapannya untuk melihat pilar-pilar marmer, patung dewa-dewa laut, atau prasasti emas hancur seketika. Di hadapannya membentang sebuah fasilitas industri masif. Di atas pipa-pipa baja berdiameter raksasa menjalar di sepanjang dinding seperti pembuluh darah monster logam." Bimo." Tapi suara Dara mengecil." Ini bukan kuil. Lalu ini pabrik." Bimo melangkah masuk, kakinya yang berat meninggalkan jejak di atas lantai yang tampak seperti marmer putih. Perlahan dia membungkuk, menyentuh salah satu pilar besar yang menopang langit-langit. Permukaannya halus, namun saat ujung jarinya menekan lebih keras, dia merasakan elastisitas yang tidak dimiliki batu." Ini polimer," bisik Bimo." Bahan sintetis berkekuatan tinggi yang dilapisi dengan kalsium karbonat untuk memberikan kesan kuno. Lagi mereka sengaja membuatnya tampak seperti reruntuhan." Bau kimia yang menyengat mulai menembus filter masker oksigennya, aroma ozon dan belerang yang tajam. Udara di dalam ruangan ini tidak sepenuhnya air; ada kantong-kantong gas yang terperangkap dalam sistem ventilasi yang masih berfungsi. Cahaya senter mereka memantul pada permukaan dinding yang terlalu halus untuk benda yang diklaim berusia ribuan tahun." Secara bertahap mas Bimo, Dara, kalian harus lihat ini," suara Mei terdengar cemas." Aku baru saja berhasil menyedot sebagian data dari terminal yang baru aktif di sana. Ada log pemeliharaan. Tanggalnya. Tanggalnya baru sepuluh tahun yang lalu." Bimo merasakan isi perutnya berubah menjadi air. Dan seluruh hidupnya, pencarian ayahnya, teori yang dia pertahankan di depan dewan ilmiah—semuanya terasa seperti lelucon yang kejam. Dia berjalan menuju pusat ruangan, di mana sebuah terminal pusat berdiri tegak di atas platform yang ditinggikan. Kali ini di dekatnya dia membersihkan debu tebal dari layar terminal dengan tangan gemetar. Di sana, di sudut kanan atas layar yang mulai menyala dengan cahaya biru neon, terdapat sebuah simbol geometris yang sangat familiar. Kemudian sebuah lingkaran yang dipotong oleh tiga garis vertikal, disamarkan dengan tambahan aksen melengkung agar terlihat seperti rune kuno." Itu logo Samudra Nusantara Corp," ujar Dara, suaranya terdengar tajam dan penuh amarah." Bang Togar. Dia membohongi kita semua." "Bukan hanya membohongi kita, Dara," sahut Bimo sambil terus menekan tombol di terminal." Jadi dia menciptakan sejarah palsu. Inskripsi yang kita pelajari selama berbulan-bulan? Tepat saat itu itu hanya instruksi pemeliharaan sistem yang ditulis dalam bahasa teknis modern yang dikodekan." Dengung statis dari speaker terminal mulai aktif, mengeluarkan suara dengung mesin reaktor yang sekarat. Bimo terus menggali lebih dalam ke dalam sistem, mengabaikan peringatan keamanan yang muncul di layarnya. Dia butuh jawaban. Dengan hati-hati dia butuh tahu mengapa ayahnya harus mati demi sebuah pabrik bawah laut yang menyamar menjadi legenda." Kita harus istirahat sebentar," ujar Dara tiba-tiba." Dengan cepat bimo, kau sudah menyelam terlalu lama. Oksigenmu masih aman, tapi mentalmu tidak. Kau gemetar." Bimo menatap tangannya. Dara benar. Dia duduk bersandar di dinding fasilitas yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Dara mematikan mesin utama kapal selamnya, membiarkannya melayang dalam mode hemat energi, lalu keluar menggunakan baju selam tekanan tinggi miliknya untuk bergabung dengan Bimo di platform terminal. Sekarang ini dara membuka kompartemen kecil di sabuk selamnya dan mengeluarkan dua batang cokelat serta botol air hangat yang terisolasi. Dia menyerahkan satu pada Bimo." Mbak Lastri yang menyelipkannya tadi pagi," kata Dara, mencoba memberikan senyum kecil di balik kaca helmnya." Dia bilang, jangan pernah menghadapi hantu dengan perut kosong." Rasa manis cokelat yang meleleh di lidah Bimo terasa sangat kontras dengan kepahitan kenyataan yang baru saja dia telan. Kehangatan air yang mengalir di tenggorokannya memberikan sedikit kekuatan pada otot-ototnya yang kaku. Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit, hanya ditemani oleh suara tetesan air dan dengung mesin yang jauh." Kau sudah melakukan yang terbaik, Bimo," ujar Dara lembut." Menemukan tempat ini adalah prestasi, terlepas dari apa pun isinya. Kau membuktikan bahwa instingmu tentang koordinat ini benar." "Tapi ini semua palsu, Dara," sahut Bimo, suaranya parau." Ayahku menghabiskan sisa hidupnya mencari 'Catatan Dasar Laut'. Jika tempat ini hanya fasilitas industri milik Togar, maka ayahku mati untuk melindungi rahasia korporat, bukan warisan kemanusiaan." Dara meletakkan tangannya di bahu Bimo." Kita belum tahu semuanya. Mungkin ada alasan mengapa mereka membangunnya di sini." Bimo berdiri kembali, tekadnya kembali menyala. Dia kembali ke terminal dan memasukkan perintah akses tingkat tinggi yang dia peroleh dari dekripsi sebelumnya. Layar terminal berkedip merah, menampilkan barisan data yang mengalir deras." Arsip digital terbuka," gumam Bimo. Dia memutar sebuah rekaman log video. Di layar, terlihat proses pembangunan fasilitas tersebut. Robot-robot bawah laut raksasa sedang menyemprotkan bahan kimia ke dinding bangunan." Itu bahan kimia pemercepat penuaan," Bimo menjelaskan sambil menunjuk ke layar." Dalam hitungan minggu, struktur beton modern bisa terlihat seperti batu yang sudah tererosi selama ribuan tahun. Mereka menciptakan situs arkeologi palsu ini dari nol." "Tapi untuk apa?" tanya Dara." Menghabiskan triliunan rupiah hanya untuk membuat museum palsu di dasar parit terdalam?" Bimo terus menggulir data hingga dia menemukan folder berjudul 'Proyek Sekuestrasi Karbon & Manajemen Limbah'. Matanya menyipit saat membaca dokumen-dokumen teknis di dalamnya." Ini bukan museum, Dara. Setelah itu ini adalah fasilitas sekuestrasi karbon yang gagal," jelas Bimo, suaranya bergetar karena amarah." Togar menggunakan dana hibah lingkungan internasional untuk membangun tempat ini. Dia mengklaim telah menemukan cara untuk menyimpan karbon di dasar laut secara permanen. Tapi sistemnya tidak stabil." Dia membuka sub-folder lain yang berisi label peringatan bahaya radiasi." Dan ini bagian terburuknya," lanjut Bimo." Saat fasilitas ini gagal berfungsi sebagai penyimpan karbon, Togar mengubahnya menjadi tempat pembuangan limbah beracun dan radioaktif ilegal. Dia mengubur limbah industri dari seluruh pabrik Samudra Nusantara Corp di sini, di bawah kedok situs bersejarah yang dilindungi." Layar terminal tiba-tiba berkedip merah dengan peringatan besar: 'Reactor Leak: Toxic Waste Containment Failing'. Suara alarm bernada tinggi mulai memekakkan telinga di dalam ruang tertutup itu, memantul di dinding-dinding polimer yang dingin." Sinyal 'panggilan' yang kita dengar selama ini." Bimo menyadari sesuatu." Itu bukan pesan dari peradaban kuno. Namun, itu adalah alarm sistem pemeliharaan yang otomatis memancar karena kebocoran reaktor semakin parah. Togar tidak ingin kita menemukan kota kuno. Dia ingin kita menutup kebocoran ini sebelum terdeteksi oleh otoritas internasional, atau membiarkan kita mati di sini bersama rahasianya." "Bimo, kita harus keluar sekarang!" teriak Dara." Jika reaktor itu meledak atau kebocorannya meluas, kita tidak akan punya kesempatan." Bimo mencoba mematikan alarm untuk mencegah deteksi lebih lanjut, namun sistem justru merespons dengan cara yang tidak terduga. Pintu gerbang raksasa yang tadi mereka lewati mulai bergeser menutup." Protokol lockdown otomatis aktif!" seru Bimo, tangannya menari di atas keyboard terminal." Sistem mendeteksi kebocoran dan mengunci seluruh area untuk mencegah kontaminasi keluar. Atau untuk memastikan tidak ada saksi yang bisa pergi." "Dara, kembali ke kapal selam!" perintah Bimo." Aku akan mencoba meretas pintu dari sini." "Aku tidak akan meninggalkanmu, Mas!" balas Dara, aksen Minangnya mulai muncul karena panik." Cepat selesaikan itu!" Bimo merasakan keringat dingin mengucur di dahinya. Ruangan itu terasa semakin mengecil, seolah dinding-dindingnya mulai menghimpit mereka. Dia melihat ke arah layar radar di terminal yang masih aktif. Di sana, di permukaan laut yang jauh di atas mereka, beberapa titik merah muncul." Dara, lihat ini," bisik Bimo, wajahnya pucat di bawah cahaya biru neon. Layar menunjukkan bahwa kapal induk mereka, Bintang Timur, sedang dikelilingi oleh unit tempur tak dikenal. Logo yang muncul di radar bukan lagi logo Samudra Nusantara Corp yang ramah, melainkan kode unit keamanan swasta yang sering digunakan Togar untuk 'operasi pembersihan'." Mereka tidak dikirim untuk membantu kita," ujar Bimo dengan suara yang dingin dan pasti." Di sini mereka dikirim untuk memastikan rahasia ini tetap terkubur di dasar laut. Bersama kita." Suara alarm terus menderu, sebuah simfoni kematian di kedalaman ribuan meter. Bimo menatap gerbang yang hampir tertutup rapat, lalu menatap Dara. Di dalam hatinya, sebuah api kemarahan mulai membakar rasa takutnya. Jika Togar menginginkan sebuah legenda, maka Bimo akan memberinya sebuah tragedi yang tidak akan pernah bisa dia hapus dari catatan sejarah." Mei, jika kau masih bisa mendengarku," Bimo berbicara ke interkom dengan nada yang sangat tenang, "unggah semua data yang baru saja aku kirimkan ke server publik. Sekarang juga. Jangan tunggu perintah lagi." "Tapi Mas, itu akan memicu skandal global!" suara Mei terdengar menangis." Lakukan saja, Mei! Biar seluruh dunia tahu apa yang ada di dasar Palung Banda," tegas Bimo. Dia meraih tangan Dara, menariknya menuju celah gerbang yang semakin menyempit. Di belakang mereka, reaktor limbah itu terus mendengung, sebuah bom waktu yang siap meledakkan ilusi yang telah dibangun Togar selama bertahun-tahun. Bimo tahu, mulai saat ini, mereka bukan lagi sekadar peneliti. Mereka adalah buronan di tempat yang paling tidak mungkin untuk melarikan diri. Lampu sorot dari kapal-kapal permukaan di atas sana mulai menembus kegelapan melalui sensor sonar, seperti mata predator yang mencari mangsa di kegelapan malam. Bimo mengeratkan pegangannya pada kendali suit-nya, matanya menatap lurus ke depan, menembus air laut yang keruh oleh pengkhianatan." Ayo, Dara," bisik Bimo." Kita tunjukkan pada mereka bahwa laut tidak bisa menyimpan rahasia selamanya." Pintu gerbang menutup dengan dentuman yang menggetarkan seluruh dasar parit, mengunci mereka dalam kegelapan yang baru, sementara di atas sana, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. ***
Bimo merasakan tekanan air seolah-olah sedang meremas paru-parunya, meskipun Exo-suit 'Banyu' dirancang untuk menahan beban ribuan ton. Di dalam kesunyian yang mencekam setelah pintu gerbang tertutup, hanya suara napasnya yang terdengar berat dan tidak teratur. Cahaya dari kapal selam Dara menjadi satu-satunya pemandu di tengah labirin pipa industri yang kini menjadi penjara mereka." Bimo, sistem navigasiku kacau," suara Dara terdengar melalui gangguan statis yang semakin parah." Interferensi elektromagnetik dari reaktor itu mengacak-acak kompas. Kita buta di sini." "Tetap tenang, Dara. Gunakan sonar pasif," instruksi Bimo sambil mencoba menstabilkan posisi terbang suit-nya." Ingat apa yang dikatakan Aki Jajang? Laut punya detak jantungnya sendiri. Mesin-mesin ini. Mereka punya irama yang berbeda. Cari celah di mana arus air terasa paling alami." Dia mencoba mengingat setiap jengkal peta yang sempat dia lihat di terminal tadi. Fasilitas ini luas, sebuah labirin yang dirancang untuk menyembunyikan dosa-dosa industri di balik fasad kemegahan arkeologi. Bimo menyalakan lampu suar darurat di bahu suit-nya, memancarkan cahaya merah yang berdenyut, memberikan tanda pada Dara di tengah kegelapan yang pekat. Mereka bergerak perlahan melewati deretan tangki penyimpanan raksasa yang tampak seperti tumor besi yang tumbuh di dinding gua. Bimo bisa melihat retakan-retakan halus pada permukaan tangki tersebut, di mana cairan berwarna hijau kusam merembes keluar, menciptakan awan beracun yang mematikan bagi kehidupan laut di sekitarnya. Kemarahannya kembali berkobar melihat kerusakan lingkungan yang begitu nyata dan disengaja ini." Lihat itu, Dara," Bimo menunjuk ke arah rembesan limbah." Itu alasan mengapa terumbu karang di dekat sini mati secara misterius selama sepuluh tahun terakhir. Togar membunuh laut ini demi keuntungan perusahaannya." "Dan dia menggunakan nama ayahmu untuk melegitimasi ekspedisinya," tambah Dara, suaranya penuh kebencian." Dia tahu kau akan sangat terobsesi untuk membuktikan teori ayahmu sehingga kau tidak akan mempertanyakan apa pun sampai semuanya terlambat." Bimo terdiam. Kata-kata Dara menghujam tepat di ulu hatinya. Rasa bersalah yang selama ini dia bawa karena tidak bisa menyelamatkan ayahnya kini bercampur dengan rasa malu karena telah menjadi pion dalam permainan Togar. Dia merasa seperti seorang bodoh yang menari di atas kuburan ayahnya sendiri." Mas Bimo!" suara Mei tiba-tiba memecah keheningan, meskipun sangat lemah." Aku. Aku berhasil mengunggah sebagian datanya, tapi mereka. Mereka mulai meretas sistem komunikasi Bintang Timur. Kaka Silas sedang mencoba menahan mereka di dek, tapi situasinya kacau banget! Pak Hendra mencoba bernegosiasi, tapi sepertinya tidak berhasil!" "Mei, putus semua koneksi fisik ke darat!" perintah Bimo." Gunakan pemancar satelit cadangan yang kita sembunyikan di pelampung darurat. Jangan biarkan mereka melacak lokasimu!" "Akan kucoba, Mas! Tapi kalian harus cepat keluar dari sana! Sensor permukaanku menunjukkan ada kapal selam tempur kelas berat yang sedang turun ke posisi kalian. Mereka bukan milik pemerintah, Mas. Itu tentara bayaran!" Bimo menatap Dara melalui kaca helmnya. Mereka berdua tahu apa artinya itu. Togar tidak hanya ingin mengubur rahasianya; dia ingin memastikan tidak ada bukti hidup yang tersisa." Dara, ada terowongan pembuangan di sektor selatan fasilitas ini," kata Bimo cepat sambil memeriksa skema memori di otaknya." Itu satu-satunya jalan keluar yang tidak menggunakan gerbang utama. Tapi kita harus melewati ruang reaktor." "Ruang reaktor yang sedang bocor itu?" tanya Dara dengan nada sangsi." Itu sama saja dengan bunuh diri, Bimo." "Kita tidak punya pilihan lain. Jika kita tetap di sini, tentara bayaran itu akan menjebak kita seperti ikan di dalam bubu. Setidaknya di ruang reaktor, kita punya peluang untuk memicu alarm yang lebih besar dan menarik perhatian otoritas internasional." Dara menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar pasrah namun penuh tekad melalui interkom." Baiklah, Oseanografer. Pimpin jalannya. Tapi kalau kita mati, aku akan menghantuimu selamanya karena membuatku melewatkan makan malam Mbak Lastri." Bimo tersenyum tipis, sebuah reaksi refleks yang aneh di tengah situasi hidup dan mati. Dia memacu pendorong suit-nya, meluncur menuju jantung fasilitas. Cahaya merah dari alarm lockdown memberikan nuansa neraka pada setiap sudut ruangan. Mereka melewati pilar-pilar polimer yang kini tampak seperti tulang-belulang raksasa dari peradaban yang tidak pernah ada. Saat mereka mendekati ruang reaktor, suhu air di sekitar mereka mulai meningkat secara drastis. Sensor pada suit Bimo berbunyi peringatan, menunjukkan tingkat radiasi yang mulai merangkak naik. Dinding-dinding di sekitar mereka bergetar hebat, dan suara dengung mesin berubah menjadi raungan yang memekakkan telinga." Tahan posisimu, Dara!" teriak Bimo saat sebuah ledakan kecil terjadi di salah satu pipa uap, menyemburkan gelembung-gelembung panas yang menghalangi pandangan. Di depan mereka, sebuah pintu baja tebal berdiri menghalangi jalan. Ini adalah pintu masuk ke inti reaktor. Bimo tahu bahwa di balik pintu itu, kebenaran yang paling mengerikan—dan jalan keluar mereka—berada. Dia menyiapkan unit dekripsinya sekali lagi, namun kali ini tangannya tidak lagi gemetar. Seketika dia tidak lagi mencari sejarah; dia sedang berjuang untuk masa depan." Bimo, lihat ke belakang!" suara Dara meninggi, penuh ketakutan. Bimo menoleh. Di kejauhan, di ujung koridor panjang yang baru saja mereka lewati, dua pasang lampu sorot biru yang tajam muncul. Itu bukan lampu dari kapal riset. Di dalam itu adalah lampu dari kapal selam tempur tak berawak, 'Predator', milik unit keamanan Togar. Kapal-kapal itu bergerak cepat, moncong torpedo mereka sudah terbuka, siap untuk mengakhiri misi ini selamanya." Mereka sudah di sini," bisik Bimo. Dia kembali fokus pada pintu baja di hadapannya. Jari-jarinya bergerak secepat kilat di atas panel kontrol. Dia tidak hanya mencoba membuka pintu; dia sedang mencoba membalikkan protokol keamanan fasilitas ini." Ayo. Sejauh ini ayo. Sedikit lagi." gumam Bimo. Sebuah ledakan torpedo menghantam dinding di dekat mereka, mengguncang air dengan kekuatan yang luar biasa. Kapal selam Dara terdorong ke samping, menghantam pilar polimer." Dara! Kau tidak apa-apa?" teriak Bimo." Aku baik-baik saja! Tapi lambung kapal mulai retak!" sahut Dara, suaranya terdengar sesak." Cepat, Bimo! Buka pintunya!" Dengan satu sentakan terakhir, Bimo berhasil menjebol sistem. Pintu baja itu terbuka dengan suara decitan logam yang memilukan. Bimo dan Dara segera melesat masuk, tepat saat torpedo kedua meledak di tempat mereka berdiri beberapa detik yang lalu. Di dalam ruang reaktor, pemandangannya jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan. Meskipun demikian, di tengah ruangan, sebuah inti reaktor raksasa berdenyut dengan cahaya biru yang menyakitkan mata—radiasi Cherenkov. Di sekelilingnya, ribuan barel limbah beracun ditumpuk secara sembarangan, banyak di antaranya sudah hancur karena tekanan air." Ini bukan sekadar tempat pembuangan," bisik Bimo saat melihat label pada barel-barel tersebut." Akhirnya ini adalah limbah dari proyek senjata biologis yang gagal. Togar. Dia menyimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar karbon." "Bimo, terowongan pembuangannya! Di mana?" tanya Dara, kapalnya berputar-putar mencoba menghindari puing-puing yang jatuh dari langit-langit. Bimo menunjuk ke sebuah lubang besar di dasar ruangan, di mana arus air yang sangat kuat tersedot masuk." Itu dia! Pertama itu menuju ke parit luar, jauh dari fasilitas ini. Tapi kita harus melewati aliran radiasi itu." "Lakukan sekarang!" teriak Dara. Saat mereka bersiap untuk melompat ke dalam arus pembuangan, sebuah suara bariton yang berat dan tenang tiba-tiba memenuhi saluran komunikasi mereka, memotong transmisi Mei." Bimo Satrio. Kau selalu menjadi anak yang terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri. Sama seperti ayahmu." Bimo membeku. Itu suara Togar Simanjuntak." Bang Togar," desis Bimo, giginya bergeletuk menahan amarah." Kau membunuh ayahku." "Ayahmu adalah seorang visioner, Bimo. Tapi dia tidak mengerti bahwa kemajuan membutuhkan pengorbanan," suara Togar terdengar tanpa penyesalan, seolah dia sedang membicarakan laporan laba rugi perusahaan." Dia menemukan fasilitas ini saat masih dalam tahap pembangunan. Dia ingin melaporkannya. Aku tidak punya pilihan." "Kau bajingan!" teriak Dara." Dan sekarang, kalian berdua akan menyusulnya," lanjut Togar." Fasilitas ini akan mengalami 'kecelakaan tragis' akibat aktivitas seismik. Dan kalian akan diingat sebagai pahlawan yang gugur saat mencoba menyelamatkan warisan kuno Indonesia. Bukankah itu akhir yang indah?" "Tidak akan terjadi, Togar," sahut Bimo, suaranya kini sedingin es." Data itu sudah menyebar. Mei sudah mengirimkannya ke seluruh jaringan berita internasional. Kau tidak bisa membunuh kebenaran." Hening sejenak di saluran komunikasi. Bimo bisa membayangkan wajah Togar yang memerah karena marah di kantornya yang mewah di Jakarta." Kalau begitu," suara Togar berubah menjadi bisikan yang kejam, "kalian akan mati dalam kegelapan, tanpa ada yang bisa menemukan jenazah kalian." Dua kapal selam 'Predator' masuk ke dalam ruang reaktor, menembakkan senapan mesin bawah laut mereka. Peluru-peluru menembus air, menciptakan garis-garis putih yang mematikan." Dara, lompat!" perintah Bimo. Mereka berdua meluncur ke dalam terowongan pembuangan tepat saat inti reaktor mulai meledak. Cahaya putih yang membutakan menelan seluruh ruangan, diikuti oleh gelombang kejut yang melemparkan mereka ke dalam kegelapan terowongan yang sempit. Bimo merasakan suit-nya terbentur dinding terowongan berkali-kali, kesadarannya mulai memudar saat tekanan dan guncangan menghantam tubuhnya. Hal terakhir yang dia dengar sebelum semuanya menjadi gelap adalah suara alarm yang semakin menjauh dan detak jantungnya sendiri yang seolah-olah menyatu dengan detak jantung laut yang sedang menangis. Dia menatap layar di pergelangan tangannya untuk terakhir kali sebelum pingsan. Di sana, sebuah sinyal baru muncul di radar permukaan. Bukan kapal Togar, bukan juga Bintang Timur. Sebuah armada besar sedang mendekat dengan kode identitas internasional. Bimo tersenyum tipis. Mereka tidak dikirim untuk meneliti. Tiba-tiba mereka dikirim untuk mati. Tapi Togar lupa satu hal: di dasar laut, tidak ada yang benar-benar bisa terkubur selamanya. Cahaya biru neon dari terminal yang kini hancur adalah hal terakhir yang terbayang di benak Bimo, menerangi wajahnya yang pucat, sebelum kegelapan total mengambil alih. Dia telah menemukan 'Catatan Dasar Laut'-nya sendiri, dan harganya adalah seluruh dunia yang dia kenal. Di permukaan, badai besar mulai terbentuk, seolah-olah alam sendiri sedang bersiap untuk menuntut balas atas apa yang telah dilakukan manusia di kedalamannya yang paling sunyi. Bimo Satrio, sang oseanografer yang kaku, kini telah menjadi bagian dari legenda yang dia cari—sebuah rahasia yang menunggu untuk ditemukan kembali oleh mereka yang berani menatap langsung ke mata kegelapan.