Bab 34: Gema di Altar Sunyi
Setiap tarikan napas Bimo Satrio terasa kasar, seolah-olah udara harus melewati saringan berkarat sebelum sampai ke paru-parunya. Rasa perih itu menusuk tajam, menyebar dari dada hingga ke tulang rusuk, meninggalkan sensasi terbakar yang sulit diabaikan. Di bawah sol sepatu botnya, lantai batu terasa licin dan licik, tertutup oleh lumut hitam pekat yang membuat keseimbangan menjadi taruhan mahal. Satu langkah salah bisa berakibat fatal. Di depan matanya, pilar-pilar raksasa reruntuhan kota kuno berdiri menjulur, membentang seperti tulang punggung makhluk purba yang membusuk di dasar samudra yang sunyi. Sinar biru elektrik memancar dari sela-sela batu, satu-satunya sumber penerangan di kegelapan ini, namun cahaya itu menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak liar di dinding, seolah-olah kegelapan itu sendiri memiliki nyawa yang sedang menari. Bimo menghentikan langkah tepat di ambang pintu ruang altar utama. Matanya menyipit, menembus kabut air yang keruh, memburu sosok yang telah lama menjadi targetnya. Di sana, di tengah platform batu yang miring berbahaya, Togar Simanjuntak berdiri dengan angkuh. Pria itu memegang sebuah kristal bercahaya; tangan Togar gemetar, bukan karena ketakutan, melainkan karena antisipasi yang memuncak. Dengungan rendah mulai memenuhi ruangan, frekuensi yang terlalu rendah untuk didengar telinga manusia namun cukup kuat membuat rongga dada Bimo bergetar berirama.
"Kau terlambat, Mas Bimo." Suara Togar memecah keheningan, berat dan bariton, namun ada retakan kegilaan yang mengiris ujung kalimatnya. "Di sana sejarah sudah menunggu terlalu lama untuk ditulis ulang."
Bimo tidak membuang waktu untuk menjawab. Otot-otot di kakinya melingkar kencang, siap seperti pegas yang akan meledak. Dia meluncur dari balik sisa dinding karang tempat dia mengintip, bergerak rendah di dalam air, memanfaatkan arus yang berputar di ruangan itu sebagai perisai. Tujuannya tunggal: menerjang Togar sebelum kristal itu benar-benar masuk ke dalam slot mekanisme altar. Ledakan keras menggempita saat Togar menekan pelatuk senjata api bawah airnya. Proyektil menembus air dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak gelembung udara yang berputar, lalu menghantam batu tepat di sebelah kepala Bimo. Serpihan batu tajam berterbangan, mencukil pelipis Bimo dan meninggalkan rasa perih yang hangat seketika. Bimo meringkuk cepat, berguling ke balik pilar yang retak mencari perlindungan sementara. Cairan asin bercampur dengan darah segar masuk ke mulutnya, menciptakan rasa metalik yang pahit dan amis di lidah.
"Dengan cepat kau hanyalah kerikil di jalan menuju keabadian, Bimo!" teriak Togar, suaranya memantul berkali-kali di dinding-dinding kuno yang lembab.
Bimo menggosok darah di pelipisnya dengan punggung tangan, matanya tidak pernah lepas sekejap pun dari sosok di atas altar. "Keabadianmu hanyalah kuburan bagi mereka yang sudah kau khianati, Bang Togar," jawabnya pelan namun tegas. Nada suaranya terkendali, sebuah topeng dingin yang biasa ia pakai untuk menutupi kepanikan yang merayap di urat syarafnya.
Mesin kuno di bawah kaki Togar mulai bergetar, hebat dan tak terkendali. Getaran itu naik merambat ke lantai, membuat keseimbangan semakin sulit dipertahankan. Bimo tahu waktunya makin menipis. Dia memindai area sekitarnya dengan cepat, matanya menangkap detail kecil yang sering terlewat. Arus air di sisi kanan altar tampak lebih kuat, terlihat jelas dari debu dan partikel yang berputar kencang ke arah celah di lantai. Itu adalah satu-satunya keuntungan yang dia miliki saat ini: pengetahuan tentang bagaimana air bergerak. Dengan satu dorongan kaki yang kuat, Bimo meninggalkan perlindungan pilar. Dia tidak bergerak lurus, melainkan mengikuti pola zig-zak yang tidak terprediksi, memanfaatkan pilar-pilar runtuh sebagai gangguan visual untuk mengaburkan prediksi Togar.
Togar menembak lagi, kali ini jari-jarinya lebih cepat. Peluru meleset tipis di dada Bimo, hanya merobek karet baju selamnya. Panas dari gesekan peluru yang lewat itu terasa menyengat kulit, meninggalkan jejak hangat yang menakutkan. Meski begitu, jarak antara mereka terus menyusut. Bimo melompat, menutup celah antara dia dan Togar dalam sekejap mata. Tubuh mereka bertabrakan dengan keras di atas platform altar yang licin. Bau belerang yang menyengat keluar dari celah lantai semakin pekat, bercampur dengan bau logam berkarat dan keringat dingin. Togar ternyata lebih lincah dari yang diperkirakan. Saat Bimo berusaha meraih tangan yang memegang kristal, Togar menghunus belati pendek dari sarungnya. Bilahnya berkilau aneh di bawah cahaya biru, pertanda jelas bahwa lapisan racun cepat mengkilap di di situ. Bimo menangkis pergelangan tangan Togar, tulang mereka bertemu dengan suara bentulan yang membeku.
"Lepaskan!" geram Togar. Matanya melotot lebar, pembuluh darah di lehernya menonjol seperti akar pohon tua yang menempel di kulit. "Bimo, hati belatinya!"
Teriakan itu memecah konsentrasi, datang dari arah lorong masuk. Suara itu sangat familiar. Dara Puspita berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, helmnya terlepas memperlihatkan rambut basah kuyup yang menempel di dahi. Dia memegang alat las bawah air, tangannya gemetar ingin membantu tapi jelas tidak bisa menembak tanpa risiko melukai Bimo.
Bimo tidak berbalik. Fokusnya total 100 persen pada lawan di depannya. Dia menggunakan teknik bela diri taktis, mengalihkan berat badan ke satu kaki untuk menipu keseimbangan Togar. Ruang di atas altar sempit, kondisi itu menguntungkan Bimo yang bertubuh sedikit lebih ringan dan gesit. Dia memutar tubuh dengan cepat, menjepit lengan Togar ke sisi pilar batu yang kasar.
"Kau pikir laut ini bisa kau beli dengan uang?" desis Bimo di telinga Togar. Rahangnya mengeras keras bagai semen, menahan rasa sakit saat siku Togar mendarat keras di tulang rusuknya.
Togar tertawa, mengeluarkan suara cekikikan yang basah dan gila. "Dan laut tidak perlu dibeli, Mas. Ia hanya perlu ditaklukkan. Dan aku akan melakukannya dengan kristal ini!"
Dorongan tiba-tiba dari Togar membuat Bimo terdorong mundur beberapa inci. Lantai altar di bawah kaki mereka bergetar hebat, mengirimkan guncangan ke seluruh tulang. Retakan-retakan halus mulai menjalar seperti jaring laba-laba di atas permukaan batu, merayap ke segala arah. Suara gemuruh air mulai terdengar, kian lama kian keras, seperti ribuan genderang perang yang dimainkan di kejauhan. Mekanisme altar itu jelas tidak stabil. Aktifasi yang terpaksa oleh Togar telah merusak keseimbangan struktur kuno itu secara permanen. Pusaran air kecil mulai terbentuk di tepi platform, menyedot puing-puing dan debu ke dalamnya dengan lapar.
Bimo melihat kesempatan di tengah kekacauan itu. Dia sengaja memundurkan langkah, mengarahkan dirinya ke sisi platform di mana arus air paling kuat mengalir menuju celah pembuangan kuno.
"Kali ini kau lari, Bimo? Seperti ayahmu?" Togar mengejek, mengikuti gerakan Bimo dengan percaya diri yang buta akan bahaya di kakinya.
Bimo berhenti tepat di bibir retakan terbesar. Dia membalikkan badan, posisinya kini setara dengan Togar. "Ayahku menghormati laut, Bang Togar. Dia tidak mencoba menusuknya dari belakang."
Togar menerjang, marah karena diejek begitu rendah. Belatinya terayun ke udara, mencari leher Bimo dengan niat bunuh. Saat itulah Bimo bergerak. Dia tidak menghindar. Sebaliknya, dia melompat ke depan, masuk ke jangkauan Togar, lalu menunduk cepat. Tangan kirinya menangkap pergelangan kaki Togar, sementara tangan kanannya mendorong dada lawannya dengan kekuatan penuh.
Fisika bekerja dengan kejam dan tidak pandang bulat. Togar, yang sedang melaju maju dengan penuh momentum, kehilangan pijakan saat kakinya disapu. Tubuhnya terhuyung ke belakang, tepat ke arah pusaran air yang sedang mengamuk.
"Tidak!" teriak Togar, suaranya berubah menjadi teriakan murni.
Tangan Bimo meraih kristal yang terlepas dari genggaman Togar saat pria itu jatuh terjerembab. Dinginnya logam kunci kristal itu menusuk jari Bimo, kontras tajak dengan panasnya telapak tangan yang berkeringat karena adrenalin. Dia menarik kristal itu keluar dari slot mekanisme altar yang hampir terpasang. Mesin itu berhenti berdengung seketika. Namun, kerusakan struktur sudah terlanjur terjadi. Togar berhasil mencengkeram kaki Bimo saat jatuh, cakarannya yang kuat mencoba menyeret Bimo ikut terjun ke dalam lubang arus yang gelap gulita. Kuku Togar menembus neoprene baju selam Bimo, mencengkeram kulit betis dengan sakit yang luar biasa.
"Bimo!" seru Dara, berlari mendekati platform yang runtuh dengan panik.
Bimo merasakan tarikan kuat ke bawah yang mengancam akan menyeretnya. Otot betisnya berteriak menahan beban tubuh Togar yang kini menggantung di atas kehampaan. Dia menunduk, melihat ke bawah, menatap mata Togar yang penuh dengan ketakutan dan kebencian mutlak. Di kedalaman yang gelap di sana, arus itu siap melumat siapa saja yang jatuh ke dalamnya tanpa ampun.
"Sudah selesai, Togar," kata Bimo, napasnya terputus-putus karena tenaga terkuras. "Biarkan laut mengambil kembali miliknya."
Dengan satu gerakan yang menghabiskan sisa tenaganya, Bimo menendang tangan Togar menggunakan tumit yang keras. Jari-jari Togar terlepas satu per satu, tidak mampu lagi mempertahankan cengkeraman. Togar Simanjuntak meluncur ke dalam kegelapan, teriakannya yang terakhir terputus oleh gemuruh air yang menelaninya utuh. Bimo merangkak menjauh dari bibir retakan, tubuhnya ambruk lemah di lantai batu yang kasar. Kristal itu masih tergenggam erat di tangannya, berdenyut. Denyut itu aneh, bukan getaran mesin, tapi sesuatu yang terasa hidup. Seolah-olah benda itu bernapas di dalam genggamannya.
Dara segera berlutut di sisinya. Tangan Dara yang hangat mendarat di bahu Bimo yang menggigil. Dia memeriksa luka di pelipis Bimo dengan tatapan khawatir, namun di balik kekhawatiran itu ada kelegaan yang mendalam.
"Bimo, lepaskan kuncinya!" perintah Dara pelan, matanya melirik ke langit-langit gua yang mulai runtuh. "Tempat ini akan ambruk!"
Bimo menatap kristal di tangannya. Cahaya biru di dalamnya berkedip perlahan, seperti detak jantung yang baru saja bangun dari tidur panjang. Saat dia menggenggamnya lebih erat, dia merasakan denyut itu merambat ke pembuluh darahnya, berbisik pesan yang tidak berbahasa namun dipahami oleh insting primordialnya. Ini belum selesai. Ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar di kedalaman yang lebih gelap.
"Aku baik, Dara," bisik Bimo, akhirnya melepaskan kristal itu ke tangan Dara agar bisa diamankan. "Tapi aku rasa kita baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup."
Dara menarik napas panjang, membantu Bimo berdiri dengan menyandarkan tubuh Bimo ke pundaknya yang kuat. Reruntuhan kecil terus berjatuhan di sekitar mereka, menciptakan debu yang mengaburkan pandangan ke arah pintu keluar. Suara struktur kuno yang rebah bergema di seluruh ruangan, sebuah simfoni kehancuran yang megah namun menakutkan.
"Kita harus pergi sekarang," kata Dara, nada bicaranya cepat dan lugas, aksen Minangnya terdengar jelas karena stres yang melanda. "Nggak ada gunanya jadi pahlawan kalau ketimbun batu di sini."
Bimo mengangguk lemah, membiarkan Dara memimpin langkahnya menjauh dari altar sunyi yang kini telah menjadi makam bagi ambisi seorang raja tanpa mahkota. Dia melirik sekali lagi ke arah lubang hitam tempat Togar menghilang. Arus di sana telah tenang, seolah-olah laut puas dengan persembahan hari ini. Di luar ruangan altar, kegelapan koridor menyambut mereka. Namun, di kejauhan, mereka bisa melihat cahaya redup dari lampu darurat kapal selam Dara yang berkedip-kedip, sebuah suar kehidupan di tengah kematian yang mengancam.
"Kau dengar itu?" tanya Bimo tiba-tiba, menghentikan langkah Dara sejenak.
Dara menatapnya dengan dahi berkerut bingung. "Dengar apa? Suara batu jatuh?"
"Bukan." Bimo menatap ke arah kedalaman lorong koridor yang gelap gulita. "Suara lain. Seperti ada yang bangun."
Dara menarik lengan Bimo lebih keras, tidak sabar. "Lupakan itu, Bimo. Otakmu cuma kekurangan oksigen. Ayo, jalan!"
Mereka bergerak semakin cepat, meninggalkan reruntuhan altar yang mematikan. Namun, di benak Bimo, bayangan kristal itu terus berputar. Denyutnya masih terasa di ujung jarinya, sebuah pengingat nyata bahwa kemenangan hari ini mungkin hanya sebuah ilusi semata. Samudra Nusantara Corp mungkin sudah hancur, Togar sudah tiada, tetapi laut menyimpan rahasia yang jauh lebih tua dan jauh lebih berbahaya daripada sekadar korupsi bisnis manusia. Ketika mereka akhirnya mencapai ruang dekompresi sementara yang didirikan oleh tim di luar zona bahaya, suara gemuruh di belakang mereka berhenti seketika. Keheningan yang menyusul itu jauh lebih berat dan tekan dari suara bising tadi.
Meiling Wijaya sudah menunggu di sana, wajahnya pucat menatap monitor yang menampilkan data seismik yang aneh dan tidak masuk akal. Jari-jarinya menari-nari di atas keyboard, matanya tidak berkedip sedikit pun.
"Lo berdua selamat?" tanya Meiling tanpa menoleh, suaranya cepat dan sarat kecemasan. "Loh, datanya gila banget nih. Ada spike energi yang gak masuk akal dari kedalaman altar."
Bimo melepaskan helmnya dengan kasar, menghirup udara ruangan yang berbau oli dan ozon dengan lega. "Altar runtuh, Mei. Togar hilang."
Meiling berbalik cepat, matanya membulat tidak percaya. "Hilang? Bukan mati?"
"Tenggelam oleh arus," jawab Dara sambil menurunkan alat pernapasannya dengan lelah. "Dan biarlah laut yang merawatnya. Kita fokus gimana cara balik ke permukaan dengan utuh."
Meiling menggeleng gelap, lalu menunjuk gemas ke layar monitor di depannya. "Masalahnya, spike energinya gak berhenti pas runtuhan. Itu terus naik. Ke arah kita."
Bimo merasakan kedinginan yang tidak berhubungan dengan suhu ruangan membelakangi lehernya. Dia melihat ke arah layar. Garis grafik itu memang merangkak naik, perlahan namun pasti, seperti ombak yang pasang sebelum tsunami besar datang menerjang.
"Apa artinya?" tanya Bimo, suaranya hampir berbisik ketakutan.
"Artinya," ucap Meiling, menelan ludah dengan susah payah, "kita mungkin baru saja mematikan alarm, tapi rumahnya mulai bangun."
Silas Papare muncul dari bayang-bayang sudut ruangan, tubuhnya yang besar menghalangi pintu keluar. Ekspresinya keras, tatapan mata Papua itu menyapu semua orang di ruangan dengan intensitas tinggi.
"Kita harus segera naik ke *Nusantara*," kata Silas dengan nada yang tidak mengizinkan tawar-menawar. "Sekarang. Aku gak suka cara air bergerak di luar sana."
Bimo melirik ke arah Dara. Dara mengangguk, setuju. Mereka semua merasakannya. Perubahan itu nyata. Sesuatu telah bergeser di dasar laut hari ini, dan keseimbangan alam yang selama mereka jagai dengan susah payah itu kini tergantung pada seutas benang yang sangat tipis dan rapuh.
"Ayo," kata Bimo, memaksa kakinya yang lelah untuk bergerak sekali lagi. "Kita pulang."
Tapi saat dia melangkah keluar, pandangannya tertuju ke tangannya sendiri. Di mana tadi dia memegang kristal itu, ada bekas merah muda yang berdenyut, seperti tatto temporer yang bersinar redup. Pola itu menyerupai peta samudra yang belum tergambar di dunia ini. Pertanyaan besar itu melayang di udara, lebih berat daripada tekanan air di luar sana. Apa yang sebenarnya ia pegang tadi? Dan apa yang sekarang terlepas di dalam kegelapan altar? Kapal selam *Nusantara* menunggu di atas, sebuah pelipur lara besi. Namun Bimo tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai. Laut tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja, tidak setelah apa yang terjadi di altar sunyi itu. Tiba-tiba, sebuah suara gemuruh retakan yang lebih keras memotong jalur pikir Bimo, mengubah keheningan sesaat menjadi kekacauan. Dari kegelapan di balik pilar altar yang mulai runtuh, sosok yang mereka kira sudah terkalahkan melompat keluar dengan gerakan yang canggung namun mematikan. Togar Simanjuntak tidak menyerah. Wajahnya pucat, keringat bercampur dengan lendur dan air laut, matanya melotot dengan obsesi gila yang tak terkendali, jauh melampaui logika rasional seorang direktur perusahaan.
"Itu milikku!" teriak Togar, suaranya pecah oleh desingan regulator udaranya dan gemuruh struktur yang rebah. Ia tidak melihat tim yang lain, tidak melihat Silas yang sudah bersiap dengan posisi menyerang di pintu keluar. Pandangan Togar hanya tertuju pada satu titik: bekas merah muda di tangan Bimo dan slot kosong di altar tempat kristal itu bersemayam. "Kau pikir kau bisa pergi membawa masa depan itu hanya dengan sebuah tato di tanganmu?"
Bimo sempat membeku sejenak, kaki yang lelah terasa seperti terpatri di lantai batu. Analisisnya tentang arus air terhenti oleh ancaman fisik yang langsung menghadangnya. Togar meluncur ke depan seperti predator yang terluka, tangan terpentang mencoba mencengkeram leher Bimo dengan cengkeraman yang ingin merampas apa pun yang tersisa.
"Kau tidak mengerti apa yang ada di tanganmu, bocah!" bentak Togar, busa mulutnya melayang liar di air, matanya penuh dengan nafsu yang sakit. "Itu kunci untuk segalanya! Kekuasaan tak terbatas!"
Bimo tidak menjawab. Otaknya yang terlatih sebagai oseanografer bekerja cepat, memindai medan pertempuran bukan sebagai arena tinju, melainkan sebagai sistem fluida dinamis yang sedang mengalami gangguan. Ia merasakan perubahan densitas air di sekitar platform. Ada celah kecil di lantai altar, retakan struktural yang disebabkan oleh benturan sebelumnya, mulai menghisap air dengan kekuatan yang meningkat. Jika ia bisa memanfaatkan fisika di sini, dia punya kesempatan.
Saat tangan Togar nyaris menyentuh bahunya, Bimo tidak mundur. Ia malah melangkah ke samping dengan presisi milimeter, tepat saat arus hisapan dari lantai meledak ke atas akibat tekanan ruang yang tidak stabil. Tubuh besar Togar terbawa oleh dorongan air tak terduga itu, keseimbangannya buyar seketika.
"Apa?" Togar tersandung kakinya sendiri, lututnya membentur lantai batu yang licin dengan suara benturan yang menggerutu.
Itu adalah kesempatan Bimo. Dari sudut matanya, ia melihat kilauan samar di dalam slot altar. Kristal Kunci itu belum sepenuhnya terlepas, hanya bergeser sedikit dari dudukannya. Dengan gerakan yang mempertaruhkan segalanya, Bimo mengayunkan tangannya, menendang lutut Togar dengan keras sekaligus meraih benda di dalam altar tersebut.
"Tidak!" jerit Togar, mencoba meraih tangan Bimo.
Jari-jari Bimo menutupi benda itu. Sensasinya kontras, menusuk tulang. Dingin. Begitu dinginnya logam kristal itu hingga terasa seperti memegang es kering yang menyala, bertolak belakang dengan panasnya telapak tangan Bimo yang sedang gemetar karena adrenalin. Bimo menariknya keluar dengan paksa. Suara *ting* nyaring beresonansi melalui air, seperti dentingan lonceng gereja yang tenggelam, mengirimkan getaran syok ke seluruh ruangan.
Tapi Togar belum selesai. Meskipun lututnya terkilir dan napasnya memburu, pria itu masih memiliki kekuatan putus asa seorang yang tak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Ia melompat maju, mengabaikan rasa sakit, tangannya mencengkeram pergelangan kaki Bimo dengan kuku yang hampir menusuk neopren pakaian selam.
"Kau akan ikut aku ke dasar yang paling dalam jika harus begitu!" geram Togar, wajahnya dipenuhi ketakutan dan kemarahan yang memutar balik realita. Ia mencoba menyeret Bimo, menariknya menuju lubang hitam di lantai altar tempat arus pusaran mulai terbentuk, siap melahap apa pun yang jatuh ke dalamnya.
Bimo merasakan tarikan itu. Gesekan karet di batu runtuh. Panik mulai naik ke lehernya, namun ia memaksanya tetap tenang. Ia melihat ke arah Silas dan Dara, tapi mereka terlalu jauh, terhalang oleh runtuhan pilar yang mulai runtuh akibat getaran pertarungan. Dia harus menyelesaikan ini sendiri, di sini dan sekarang.
"Kau salah, Togar," kata Bimo, napasnya memburu di dalam regulator, matanya menatap langsung ke mata lawannya. "Laut ini tidak memilihmu. Laut hanya memungut apa yang jatuh."
Menggunakan semua sisa kekuatannya, Bimo memutar tubuhnya di dalam air, memanfaatkan inersia dan hambatan air, lalu menendang tangan Togar sekuat tenaga. Tendangan itu menghantam siku Togar dengan akurat, membuat cengkeraman itu mengendur dan melepaskan Bimo.
Togar terpelanting ke belakang, kehilangan pegangan terakhirnya di tepian platform. Ia tergelincir masuk ke dalam lubang arus, tubuhnya tersapu oleh kekuatan alam yang baru saja ia bangkitkan. Teriakannya yang teredam air menghilang di kegelapan, diseret oleh pusaran menuju kedalaman yang tidak diketahui, meninggalkan Bimo sendirian di tengah altar yang runtuh.
Bimo terhuyung-huyung mencari keseimbangan, punggungnya membentur dinding altar yang masih hangat. Ia berdiri di sana, sendirian sejenak, dengan kristal kunci tergenggam erat di tangannya. Suasana di sekitarnya tiba-tiba hening, seolah-olah laut sedang menahan napas menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Dia menatap benda di tangannya. Cahaya redup di dalamnya berdenyut, selaras dengan bekas merah muda di telapak tangannya. Bimo merasakan getaran aneh menjalar lengan atasnya, bukan listrik, tapi sebuah kesadaran yang lebih tua dari usia bangunan ini. Sebuah bisikan samar yang tidak didengar oleh telinga, tapi dirasakan oleh jiwanya. Ini bukan akhir. Ini hanyalah gerbang menuju sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih menakutkan di kedalaman yang lebih dalam lagi.
"Ayo, Bimo! Cepat!" seru Silas dari kejauhan, suaranya memecah lamunan Bimo dan mengingatkannya pada dunia nyata.
Bimo mengangguk, memasukkan kristal itu ke dalam kantung aman di dadanya, dekat dengan jantung yang berdebar kencang. Dia berbalik dan berenang menuju teman-temannya, meninggalkan altar yang runtuh dan mimpi buruk bernama Togar Simanjuntak di belakangnya. Perjalanan pulang ke *Nusantara* menanti, tapi beban di dadanya kini terasa jauh lebih berat daripada sekadar batu.