Bab 35: Segel Pengkhianatan
Berat. Itu satu-satunya kata yang ada di benak Bimo saat merasakan dinginnya besi karatan di telapak tangannya. Laras senjata harpun itu terasa memikul beban seluruh lautan, namun ia tetap mengangkatnya dengan kedua tangan yang gemetar, membiarkan ujung besi itu menatap dada Togar Simanjuntak yang berdiri tenang di tengah ruang bawah tanah. Di sekitar mereka, air laut berputar pelan, membawa butiran debu yang melayang seperti salju di malam hari yang tak kunjung henti. Suara dengking regulator oksigen Bimo terdengar ritmis dan cepat, *hiss-hiss-hiss*, menandai detak jantungnya yang memacu kencang di balik dada.
"Jangan, Mas."
Togar tidak mengangkat tangan. Pria itu hanya tersenyum, senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya, lalu melepaskan pegangan pada alat pendorongnya. Seketika alat itu melayang perlahan ke atas, seperti hantu tanpa bentuk yang terbawa arus lembut keluar dari ventilasi batu.
"Kau berhenti?" Bimo mendesak. Suaranya parau melalui modulator komunikator, terdengar seperti gerigi yang bergesekan.
"Permainan ini berakhir, Bang Togar. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi."
Togar tertawa. Namun, suara tawa itu tidak meledak di air, tapi merayap masuk ke dalam tulang Bimo, dingin dan penuh penghakiman. Pria itu melangkah mundur selangkah, menyandarkan punggungnya pada altar batu yang telah berusia ribuan tahun. Secara bertahap cahaya senter Bimo menyapu wajah Togar, menangkap kilau aneh di mata antagonisnya itu.
"Permainan?"
Togar menggeleng pelan. "Bimo, Bimo. Sebaliknya, kau pikir ini tentang harta karun? Atau tentang kekuasaan?"
"Kau membunuh ayahku."
"Dia mati karena kecerobohannya sendiri, sama seperti kau akan mati di sini jika terus memegang senjata itu."
Tiba-tiba, cahaya di ruangan itu berubah. Dari dinding altar, urat-urat kristal mulai menyala. Warna biru elektrik yang menyilaukan mata memancar keluar, menembus kekeruhan air, berdenyut seperti detak jantung raksasa yang baru bangun. Bimo menyipitkan matanya. Cahaya itu terlalu terang, menusuk retina. Kulit wajahnya terasa kesemutan, terkena radiasi energi kuno yang tiba-tiba bangkit.
"Kali ini apa yang kau lakukan?" seru Bimo.
"Menyambut tamu," jawab Togar dengan tenang. "Lihat ke atas, Mas."
Bimo menoleh ke arah lorong keluar yang mereka lalui tadi. Di kejauhan, di ujung terowongan yang menjulang ke atas, siluet cahaya biru itu menembus kegelapan, menembus massa air, dan terus menanjak. Sinyal. Mercusuar raksasa yang memberitahu posisi mereka kepada seluruh dunia.
"Tiba-tiba tim survei internasional sudah menunggu," ucap Togar. Suaranya kini terdengar lebih keras, lebih berwibawa, menggema di dalam helm Bimo. "Mereka membawa cek, Bimo. Di atas cek dengan angka yang cukup untuk menyelamatkan seluruh desa Karang Hijau dari kemiskinan selama tiga generasi."
Perut Bimo terkoyak. Bukan karena mabuk laut, tapi karena rasa hancur yang tiba-tiba menyiram dadanya. Asam lambung naik ke tenggorokan, meninggalkan rasa asam yang tajam.
"Aki Jajang," bisik Bimo. Nama itu terasa pahit di lidahnya, seperti mengunyah kulit kerang yang busuk. "Dia terlibat dalam ini?"
Di dekatnya, Togar tertawa lagi, kali ini lebih lembut.
"Aki Jajang? Sejauh ini kau pikir tetua tua itu cukup cerdas untuk merancang semua ini? Dia hanya penjaga gerbang, Bimo. Tapi dia tahu kapan harus membuka pintu."
"Berbohong."
"Tanyakan padanya. Tanyakan mengapa 'Catatan Dasar Laut' itu begitu mudah kau temukan. Tanyakan mengapa peta yang kau bawa selalu cocok dengan rute yang aman."
Tangan Bimo mengepal. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, menahan amarah yang ingin meledak.
"Catatan itu nyata."
"Catatan itu adalah umpan, Mas." Togar melangkah mendekat, mengabaikan ujung harpun yang masih mengarah ke dadanya dengan santai. "Di sana aku yang meletakkannya di perpustakaan kakekmu bertahun-tahun lalu. Aku yang memastikan kau menemukannya saat waktu yang tepat."
Dunia Bimo berputar. Ingatan tentang malam-malam ia menghabiskan waktu mempelajari catatan itu, tentang rasa bangga saat ia menemukan pola rahasia di antara garis, semuanya hancur seketika. Itu semua sandiwara. Perjalanannya, pengorbanannya, risiko yang ia ambil untuk timnya, semuanya hanya bagian dari skenario yang ditulis oleh orang yang ia anggap musuh.
"Lalu kau butuh pahlawan," kata Bimo. Suaranya bergetar menahan amarah yang membeku. "Desa butuh pahlawan untuk melegitimasi klaim Cagar Budaya agar harga tanahnya melonjak."
"Tepat sekali." Togar mengangguk. "Dan kau punya wajah yang cukup tampan dan hati yang cukup bodoh untuk mengisi peran itu."
Bimo menurunkan senjatanya. Lengan Bimo jatuh lemas di samping tubuhnya. Harpun itu terasa sangat berat, seperti batu karang yang menempel lengannya. Ia merasa dikhianati, tidak hanya oleh Togar, tapi oleh sejarah, oleh takdirnya sendiri. Rasa logam berkarat memenuhi mulutnya, bau stres yang bercampur dengan keputusasaan.
"Sekarang," Togar melanjutkan, "biarkan aku menyelesaikan tugas ini. Mercusuar ini harus stabil sampai tim penyelam Samudra Nusantara tiba."
Togar berbalik menuju konsol batu di tengah altar. Dengan tenang tangannya menari di atas panel kristal yang menyala biru.
"Tidak."
Suara itu keluar dari mulut Bimo tanpa pikir panjang. Togar berhenti.
"Selanjutnya apa?"
"Kalian tidak menyelamatkan sejarah," ujar Bimo, pelan namun tegas. "Kalian menjualnya sebelum dunia sempat mengenalnya."
Bimo menatap konsol itu. Matanya menyapu struktur batu di sekelilingnya. Selama ini ia mengandalkan 'Catatan' itu, mengikuti instruksi yang tertulis di sana kertas yang kini basah kuyup di saku pelungkungnya. Tapi ada satu hal yang tidak pernah tertulis di sana. Satu anomali kecil yang ia temukan sendiri saat mereka pertama kali masuk ke zona ini. Retakan di dinding sebelah kanan. Retakan itu tidak ada di peta.
Bimo mengabaikan Togar yang mulai berteriak memerintahnya untuk diam. Ia berenang menjauh dari altar pusat, mendekati dinding batu yang tertutup lumut tebal. Jari-jarinya meraba celah itu. Dingin. Air laut dalam yang merembes masuk terasa menusuk tulang, jauh lebih dingin dari air di sekitarnya.
"Jadi jangan sentuh itu!" teriak Togar. "Itu saluran pembuangan tekanan! Itu akan menghancurkan keseimbangan ruangan!"
Dengan hati-hati, Bimo menyelipkan jarinya ke dalam celah sempit itu. Ia meraba sesuatu yang keras. Logam. Tuas kuno yang telah berkarat, terkubur di dalam batu selama berberabad-abad. Ini bukan tombol elektronik seperti yang ada di konsol Togar. Ini mekanisme fisik. Primitif. Tulus.
"Jika tempat ini harus ditemukan," bisik Bimo, lebih pada dirinya sendiri, "biarlah ia ditemukan dengan caranya sendiri, bukan sebagai pertunjukan kalian."
Dengan seluruh kekuatan yang tersisa di lengannya, Bimo menarik tuas itu. Gesekan besi tua yang berkarat terdengar nyaring, seperti jeritan hantu yang terjepit dalam botol. Lantai di bawah kaki mereka bergetar hebat. Getaran itu menjalar ke tulang kering Bimo, membuat giginya bergerigi.
"Apa yang telah kau lakukan?" Togar berbalik, wajahnya penuh ketakutan untuk pertama kalinya.
Dari langit-langit, suara gemuruh yang memekakkan telinga mulai terdengar. Batu-batu raksasa mulai bergeser. Mekanisme pengunci kuno itu tidak hanya mematikan cahaya. Ia sedang melipat seluruh ruangan.
"Kita harus pergi! Sekarang!" Bimo berteriak, menarik tangan Togar yang masih terpaku di konsol.
Togar mencoba melepaskan tangannya. "Sinyalnya! Data belum terkirim seluruhnya!"
"Lupakan data!" Bimo mendorong Togar keras, mendorongnya menjauh dari altar yang mulai runtuh. Sebuah balok batu besar jatuh dari atas, menghantam tempat Togar berdiri beberapa detik yang lalu dengan debuman yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh ruangan. Aroma lumut kuno yang terganggu oleh gerakan mekanis kini tercampur dengan bau debu dan minyak batu yang tumpah.
Mereka berenang. Bimo memimpin jalannya, mengingat setiap belokan dari ingatannya sendiri, bukan dari catatan palsu. Lorong-lorong mulai menyempit. Langit-langit runtuh di belakang mereka, menutup jalan bagi siapa pun yang mencoba menyusul. Debu beterbangan di mana-mana, mengurangi jarak pandang hingga hanya beberapa sentimeter saja. Bimo hanya bisa melihat siluet Togar di depannya dan gelembung udara yang keluar dari regulator mereka.
"Di sini!" teriak Bimo melalui komunikator. Ia melihat celah sempit di bagian atas lorong. Jalan keluar darurat. Mereka harus naik.
Togar mengikutinya, dengan susah payah menarik tubuhnya yang kelelahan naik ke celah itu. Bebatuan terus berjatuhan di belakang mereka, makin lama makin dekat. Suara gesekan batu raksasa itu seperti suara langit yang sedang runtuh. Mereka berhasil mencapai ruang dekompresi tepat saat gerbang batu raksasa di lorong utama menutup dengan dentuman final yang mengguncang seluruh dinding gua.
Hening.
Suara gemuruh berhenti. Hanya terdengar suara napas mereka yang terengah-engah dan desis air yang tenang. Bau garam yang tajam kembali memenuhi hidung Bimo, menggantikan bau debu dan minyak. Mereka selamat.
Bimo membuang masker wajahnya, mengambil napas dalam-dalam udara segar di ruang udara tertutup itu. Ia melihat ke bawah, melalui kaca tebal, ke kegelapan laut di mana reruntuhan kota itu kini berbaring. Terkubur selamanya.
Togar duduk di lantai besi, kepala tertunduk. Pria itu terlihat hancur, lebih tua dari usianya yang sebenarnya.
"Itu berakhir," bisik Togar. "Semuanya."
Bimo merogoh saku pelungkungnya. Ia mengeluarkan 'Catatan Dasar Laut' itu. Kertasnya sudah sobek, basah, dan tintanya sudah luntur menjadi coretan tak berarti. Tanpa kata-kata, Bimo meremas kertas itu menjadi bola basah, lalu melemparnya ke dalam tempat sampah logam di sudut ruangan.
"Itu baru dimulai," kata Bimo. Ia menatap Togar, lalu berbalik menuju pintu keluar. "Tapi bukan dengan aturan kalian."
***
Lautan di atas sunyi. Bimo memecahkan permukaan air dengan gerakan yang lelah. Bulan purnama menggantung tinggi di langit, menerpa wajahnya dengan cahaya perak yang dingin. Udara malam berhembus kencang, membawa aroma samudra yang bebas.
Ia menoleh ke kanan. Di kejauhan, siluet hitam sebuah kapal besar terlihat jelas melawan cahaya bulan. Kapal survei. Mereka sudah menunggu. Lampu depan kapal itu menyapu permukaan laut, mencari sesuatu yang tidak akan pernah mereka temukan. Mercusuar biru dari dasar laut sudah padam. Kunci yang mereka cari sudah terkubur selamanya di bawah tumpukan batu dan rahasia yang Bimo segel. Tidak ada sinyal. Tidak ada koordinat presisi. Hanya kehampaan luas Samudra Hindia yang menjaga rahasia itu.
"Bimo!"
Suara Dara Puspita memecah keheningan. Kapal selam kecil mereka, *Nusantara*, muncul dari balik bayang-bayang tebing karang. Dara berdiri di atas geladak, rambutnya berantakan, matanya mencari-cari. Bimo mengangkat tangannya, memberi isyarat. Dara melompat ke air, berenang mendekatinya dengan gaya bebas yang cepat. Saat ia mencapai Bimo, wajahnya penuh tanda tanya.
"Apa yang terjadi di bawah sana?" tanya Dara, napasnya memburu. "Kami kehilangan sinyal sonar Togar. Dan ada getaran hebat yang terasa sampai ke lambung kapal."
Bimo menatap mata Dara, lalu melihat ke arah kapal survei raksasa di kejauhan yang mulai berputar bingung, tidak menemukan apa yang mereka cari.
"Permainan selesai, Dara," ujar Bimo. Suaranya tenang, namun ada kekuatan baru di sana. Kekuatan yang tidak datang dari data atau catatan kuno. "Mereka tidak akan menemukan apa pun di sini."
Dara mengikuti pandangan Bimo. Ia tersenyum tipis, memahami sesuatu telah berubah secara fundamental di dalam diri oseanografer itu.
"Lalu kita?" tanya Dara. "Ke mana kita sekarang?"
Bimo membalikkan badan, memandang garis pantai desa Karang Hijau yang mulai diterpa fajar pagi. Desa itu masih tidur, tidak tahu bahwa bencana dan kekayaan yang dijanjikan oleh orang-orang seperti Togar baru saja lewat begitu saja.
"Kita pulang," jawab Bimo. "Kita masih punya banyak pekerjaan rumah."
Ombak menyapu wajah mereka, membawa garam dan kenangan, membersihkan sisa-sisa pengkhianatan yang menempel. Di bawah permukaan yang tenang, reruntuhan itu beristirahat, akhirnya damai, tidak lagi menjadi peta harta karun, tapi sekadar bagian dari laut yang menyimpan masa lalu. Namun ketenangan yang Bimo klaim itu hanya separuh dari kebenaran. Di balik senyum tipisnya kepada Dara, ingatan tentang sepuluh menit terakhir di kedalaman masih berputar liar, lebih mencekam daripada tekanan air yang menghimpit dada mereka.
Dara, yang tampaknya tidak sepenuhnya percaya dengan simpelnya jawaban Bimo, berenang memutar, menghadapnya kembali. "Aki Jajang?" tanyanya, hati-hati. "Kau bertemu dengannya di sana, kan? Itu sebabnya kau menyuruhku mematikan sonar?"
Bimo mengangguk pelan, air asin membasahi wajahnya. "Dia menungguku di ruang altar, Dara. Bukan sebagai penjaga, tapi sebagai sutradara dari sandiwara ini."
Ingatan itu melanda Bimo kembali, membawanya tenggelam ke kegelapan ruang altar yang lembap dan dingin. Saat itu, ia berdiri dengan harpoon teracung, napasnya tersengal-sengal di dalam regulator, sementara sosok tua itu berdiri tegak di depan meja batu yang menyala.
"Aki!" seru Bimo di dalam komunikator, suaranya terdengar cemas dan marah. "Serahkan Catatan Dasar Laut itu! Togar sudah di atas, kita tidak punya waktu!"
Aki Jajang berdiri di sana, memegang gulungan manuskrip kuno itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang tongkat kayu yang biasa ia pakai berjalan. Matanya yang keriput menatap Bimo bukan dengan kewaspadaan, melainkan dengan rasa sayang yang menyakitkan.
Lalu, pria tua itu tertawa.
Suara tawa Aki bergema di ruang tertutup itu, menembus dinding air, terdengar aneh dan renyah melalui speaker di telinga Bimo. Tawa itu tidak penuh kemenangan, melainkan kelelahan.
"Kau pikir ini tentang harta, Bimo muda?" tanya Aki, suaranya serak namun tajam. "Kau pikir aku mempertahankan tempat ini dari Samudra Nusantara Corp demi emas?"
Bimo tidak menurunkan senjatanya. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang mulai retak di dalam dadanya. "Berhenti bercanda, Aki! Serahkan dokumen itu agar kita bisa mengunci gerbang ini dari luar!"
Aki menghentikan tawanya. Ia melangkah maju, keluar dari bayangan cahaya bioluminesens pirus yang redup. Cahaya itu mengenai wajahnya, mengungkapkan garis-garis wajah yang selama ini Bimo kenal sebagai wajah penjaga desa yang bijaksana. Tapi dalam cahaya redup itu, saat Aki mencondongkan badan, Bimo melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.
Struktur tulang pipinya. Cara alisnya menyatu. Bekas luka halus di dagu.
Bimo merasakan hawa dingin yang lebih tajam dari air laut sekitarnya menyusup ke tulangnya. Wajah itu identik. Sama persis dengan foto tua yang tergantung di balai desa Karang Hijau. Foto Kepala Desa pertama mereka, leluhur yang dikabarkan hilang ditelan badai puluhan tahun silam.
"Kau..." desah Bimo, hampir tidak berasa. Suaranya tercekat di tenggorokan. "Wajahmu... kau mirip dengan..."
"Aku adalah adiknya, Bimo," potong Aki pelan, kebenaran itu terasa berat seperti palu. "Aku adalah Wardana. Saudara yang lari karena malu, saudara yang memilih menghilang dan mengganti nama, meninggalkan desa ini sementara kakiku memimpinnya."
Bimo menurunkan harpoonnya perlahan. Senjatanya terasa begitu berat dan sia-sia. Dunia di bawah air ini berputar. Seluruh perjuangannya, seluruh riset yang ia lakukan untuk menemukan reruntuhan demi kehormatan ayahnya, ternyata berdiri di atas pondasi dusta yang dibangun oleh mentornya sendiri.
"Sindikat," bisik Bimo, menyadari keterkaitannya. "Berita tentang Sindikat yang mengincar situs ini... cerita tentang ancaman bioterorisme... itu semua?"
"Sandiwara," jawab Aki dengan tulus, tatapannya menembus jiwa Bimo. "Aku butuh cara untuk memaksa pemerintah bertindak cepat. Jika aku hanya meminta perlindungan, mereka akan mengabaikannya selama bertahun-tahun. Tapi ancaman 'Sindikat'? Itu akan memaksa mereka menerjunkan status Cagar Budaya Nasional dalam semalam."
Bimo merasakan kecewa yang begitu dalam hingga membuatnya mual. Ia merasa seperti boneka. "Jadi 'Catatan' ini?" Bimo menatap gulungan di tangan Aki. "Peta harta karun yang ayahku cari selama hidupnya... itu juga palsu?"
Aki melempar gulungan itu ke arah Bimo. Bimo menangkapnya dengan reflek, tangan basahnya memegang kulit kering yang rapuh. Saat disentuh, Bimo bisa merasakannya. Tidak ada energi kuno di sana. Tidak ada struktur kristal atau tinta konduktif seperti yang ia bayangkan selama ini. Hanya kertas daun kering yang direkatkan dengan lem modern.
"Itu umpan, Bimo," ujar Aki, suaranya lembut namun menusuk. "Tanpa misteri 'Catatan' itu, kau tidak akan pernah kembali ke sini. Tanpa janji memvalidasi teori ayahmu, kau tidak akan membawa orang-orang pintar seperti Togar atau Hendra ke perairan ini. Aku butuh kalian semua datang ke sini, berteriak satu sama lain, agar pemerintah melihat."
Bimo meremas umpan itu di tangannya. Seluruh hidupnya, obsesinya pada data ilmiah, kebutuhannya untuk membuktikan sesuatu secara logika—semuanya telah dimanfaatkan. Rasa bersalah karena tidak menyelamatkan ayahnya telah digunakan sebagai senjata oleh orang yang ia percayai.
"Aku memanfaatkan luka-lukamu, Bimo," lanjut Aki, tidak ada penyesalan, hanya fakta. "Dan aku minta maaf untuk itu. Tapi lihat sekelilingmu. Laut ini damai karena kita berada di sini."
Bimo menatap mekanisme di tengah ruangan. Struktur kristal raksasa yang berdenyut dengan cahaya biru lembat—fajar buatan di dasar samudra. Itu adalah suar navigasi. Jika dibiarkan menyala, siapa pun dengan peta seismik yang tepat—seperti Togar—bisa menemukan pintu masuk ini kembali, bahkan setelah status cagar budaya turun. Korupsi akan menemukan jalan.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Bimo, suaranya hampir hilang di gemuruh ombak kecil di dalam helmnya.
Aki menunjuk ke kristal itu dengan dagunya. "Laut tidak butuh peta. Laut butuh ingatan. Matikan suar itu. Dan kunci gerbang dari dalam. Bukan dengan Catatan palsu itu, tapi dengan apa yang ayahmu ajarkan kepadamu. Apa yang kau rasa, bukan apa yang kau baca."
Bimo menatap kristal itu. Ia melempar "Catatan" itu ke lantai batu. Umpan itu mengapung, tak berguna. Ia menghampiri mekanisme bioluminesens. Cahaya itu indah, memikat, namun berbahaya.
Dengan satu ayunan tangan yang keras, Bimo memukul inti kristal itu dengan gagang harpoonnya.
*Krrak!*
Suara retakan yang diikuti ledakan kecil gelembung udara terdengar jelas. Cahaya biru berkedip sekali, lalu padam total. Kegelapan menyelubungi ruang altar secara instan, hanya menyisakan cahaya redup dari lampu helm Bimo dan Aki.
Sekarang, hanya insting yang tersisa.
Bimo berbalik menghadap gerbang raksasa. Tidak ada pegangan tuas, tidak ada panel digital. Hanya serangkaian katup hidrolik kuno yang diselaraskan dengan tekanan air dari arah yang berbeda. Bimo menutup matanya, mengingat pelajaran ayahnya bukan dari buku, tapi dari sensasi air di kulit.
"Arus datang dari timur laut," bisik Bimo, merasakan getaran halus air yang menyusup melalui celah-celah batu. "Tekanan naik di pilar kiri."
Ia memutar roda pengunci pertama, bukan karena buku panduan mengatakannya, tapi karena ia bisa merasakan resonansi logam yang menuntut diputar berlawanan arah jarum jam. *Klik.* Suara berat terdengar.
"Pilar kanan stabil," gumamnya. Ia bergerak ke sisi lain, merasakan aliran air yang lebih dingin di sana. Katup itu harus ditekan ke dalam, lalu dikunci. Bimo melakukannya, otot-otot lengannya tegang menahan tekanan air.
*Gedebuk!*
Gerbang utama mulai bergeser. Batu-batu raksasa itu bergesekan, menghasilkan suara dengkulan yang berat namun memuaskan. Mereka menutup rapat, menutup akses menuju ruang altar selamanya. Tanpa suar navigasi, tanpa peta, reruntuhan ini kembali menjadi bagian dari geologi samudra, tersembunyi dari mata rakus manusia.
Bimo berbalik. Aki sudah tidak ada di sana. Hanya bayangannya yang tersisa sejenak di antara partikel debu yang melayang sebelum lampu helm Bimo menyapunya bersih.
"Pulanglah, Bimo," suara Aki terdengar samar di dalam kepalanya, atau mungkin hanya ilusi akustik bawah air. "Tugasmu selesai."
Bimo menendang dinding, mendorong dirinya menjauh dari gerbang yang kini tertutup itu. Ia menembus kegelapan, berenang mengejar cahaya redup di atas permukaan yang semakin lama semakin terang. Saat kepalanya menembus permukaan, paru-parunya memburu udara segar, dan matanya langsung mencari siluet kapal survei Samudra Nusantara yang berputar-putar di kejauhan seperti hiu yang bingung kehilangan mangsanya.
Kini, kembali di permukaan dengan Dara, Bimo menyelesaikan kisahnya. Ia melihat ke arah pantai Karang Hijau. Rasa kecewa itu masih ada, namun berubah wujud. Ia tidak lagi mencari validasi dari data palsu atau mentornya. Ia melakukan satu hal nyata hari ini. Ia menyegel sesuatu.
"Jadi Aki... Wardana... dia mengorbankan reputasinya demi melindungi desa ini?" tanya Dara, suaranya lebih lunak sekarang, memahami beban yang Bimo pikul.
"Dia memanipulasi kita semua, Dara," jawab Bimo, menatap telapak tangannya yang masih terasa pegal memutar roda pengunci tadi. "Tapi tujuannya tercapai. Togar tidak akan menemukan apa pun. Tanpa sinyal sonar, tanpa koordinat pasti, situs itu hanyalah tumpukan batu bagi mereka."
Dara menghela napas, mengayuhkan kakinya secara perlahan, bergerak menuju tangga kapal mereka yang terombang-ambing tenang. "Dan ayahmu? Bukti teorinya?"
Bimo tersenyum, senyuman yang berbeda dari sebelumnya. Lebih tulus. "Ayahku benar, Dara. Laut ini punya memori. Dan hari ini, aku berhasil menjaganya agar tetap diam. Itu cukup bagiku."
Mereka mencapai sisi kapal. Silas Papare sudah menunggu di rel, tangan besarnya direntangkan untuk menarik Bimo naik.
"Kita berhasil, Kaka?" tanya Silas dengan dialek Papua khasnya, matanya waspada mencari ancaman di balik bahu Bimo.
Bimo memegang tangan Silas, ditarik naik ke geladak basah. Ia melirik ke arah kabin komando di mana Meiling Wijaya mungkin sedang cemas memantau layar, dan ke arah dek Lastri yang mungkin sedang menyiapkan air hangat.
"Ya," jawab Bimo, merasakan berat badannya yang kembali kering di atas kapal. "Kita berhasil. Tapi tidak dengan cara yang kita kira."
Ia berjalan ke rel, melihat ke bawah ke arah permukaan laut yang tenang. Di kedalaman sana, kunci gerbang sudah terkubur, mekanisme bioluminesens hancur, dan "Catatan" palsu terbakar oleh garam. Tidak ada yang bisa menemukannya lagi. Bukan Togar, bukan pemerintah, bahkan bukan dirinya sendiri.
"Mei," panggil Bimo pelan, menoleh ke arah speaker komputer. "Matikan semua log data koordinat reruntuhan. Hapus permanen. Jangan tinggalkan jejak digital."
Dari dalam speaker, terdengar suara Meiling yang ragu namun patuh. "Eh, serius, Bimo? Data itu berharga... oh, oke, menghapus. Bye-bye sejarah. Semoga tidak nyesel ya."
Bimo tidak menyesal. Ia memandang kapal survei raksasa milik Togar di kejauhan yang mulai meninggalkan area perairan, frustrasi karena kehilangan sinyal. Mereka membawa pulang tangan kosong. Sementara Bimo membawa pulang ketenangan yang selama ini ia cari.
"Togar akan marah besar," komentar Dara yang berdiri di sampingnya, menggoson rambut basahnya dengan handuk.
"Biarkan," sahut Bimo, merasakan hangatnya fajar pagi yang mulai menyentuh kulitnya. "Biarkan dia marah di darat. Di laut, aturannya berbeda."
Lastri keluar dari dapur dengan aroma kopi dan bubur hangat yang menyeruak keluar, mengusir bau garam dan minyak mesin. "Nduk, Mas, ayo makan. Masih hangat. Laut bisa menunggu, perut tidak bisa."
Bimo tersenyum mendengar kata-kata Lastri yang selalu membumi itu. Ia mengikuti Dara ke dalam kabin, meninggalkan laut yang kembali tenang. Di bawah sana, reruntuhan itu beristirahat, akhirnya damai, tidak lagi menjadi peta harta karun, tapi sekadar bagian dari laut yang menyimpan masa lalu, terlindungi selamanya oleh kunci yang hanya Bimo dan Aki yang tahu—dan kunci itu sudah hilang selamanya di dalam kegelapan.