Bab 36: Cakrawala yang Tenang
Lambung kapal kayu tua itu bergetar pelan saat menyentuh dermaga, sebuah getaran halus yang berjalan merambat membelah papan kayu lapuk dan membangunkan serangga yang tertidur di celat-celatnya. Gesekan kasar antara lambung dan ban bekas penahan pelabuhan segera menghasilkan dengung parau yang terdengar hingga ke dasar tulang, sebuah suara yang selalu berhasil membawa Bimo Satrio kembali ke kenyataan darat yang kaku setelah berminggu-minggu terombang-ambing di atas permukaan yang tak menentu. Angin sore bertiup kencang dari arah utara, membawa aroma garam yang melekat erat pada serat pakaian dan rambut basah mereka, bau khas laut yang kini terasa berbeda—bukan lagi aroma misteri yang mengancam seperti sebelumnya, melainkan wangi rumah yang telah lama ditunggu. Bima, nama perahu tradisional yang mereka tumpangi, berhenti total dengan satu lompatan kecil terakhir yang mengirimkan riak air ke arah tiang.
Ombak kecil menyapu kaki-kaki tiang dermaga dengan ritme setia, meninggalkan jejak busa putih yang cepat retak di atas pasir basah sebelum menghilang kembali ke dalam kegelapan air. Tepat saat itu, Bimo memegang tali tambat dengan erat, merasakan tekstur serat manila yang kasar dan mengelupas di telapak tangannya, sebuah sensasi fisik yang menancapkan keberadaannya di sini dan sekarang. Jari-jarinya masih terasa kaku dan tidak patuh, sisa kejang otot akibat stres bawah air yang baru saja berlalu, namun adrenalin yang memompa di nadinya perlahan digantikan oleh rasa lelah yang menusuk tulang belakang. Tetap saja dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya mengisi udara pantai yang lebih berat dan lebih hangat daripada udara bertekanan tinggi di dalam kapal selam. Di kejauhan, burung camar berteriak saling memanggil, suara cempreng mereka yang memecah keheningan langit senja yang mulai diwarnai jingga memudar.
"Nggih, Aki. Sudah aman," seru Bimo ke arah geladak belakang, suaranya sedikit serak karena jarang digunakan.
Di luar, Aki Jajang berdiri di sana, tubuh renta itu sedikit membungkuk di bawah beban usia namun matanya tetap tajam menatap garis pantai desa Karang Hijau seolah mencari sesuatu yang hilang. Sang kakek mengangguk perlahan, tangan kanannya memegang tongkat kayu yang sudah licin terjamah waktu dan keringat. Wajah Aki yang keriput berkerut halus, sebuah peta kehidupan yang terukir oleh angin laut dan badai, kini menunjukkan rasa damai yang jarang terlihat selama beberapa hari terakhir.
"Alhamdulillah," gumam Aki dengan suara serak berat, khas Sunda yang pelan dan bergetar, "Lautnya memanggil, teh, tapi dia juga tahu kapan harus mengembalikan tamunya."
Perlahan, suara tepuk tangan dan sorakan riuh rendah tiba-tiba memecah udara, memaksa Bimo menoleh ke arah daratan dengan kening berkerut. Dermaga kayu yang biasanya hanya sepi dipenuhi oleh tukang perahu yang sedang asik memperbaiki jaring, kini dipadati oleh warga desa yang berdesakan. Dengan hati-hati mereka berdiri berjejer rapat, mulai dari anak-anak kecil yang duduk di bibir dermaga dengan kaki menjuntai ke atas air, hingga para nelayan tua yang merokok linting di samping perahu mereka sambil memandang dengan hormat. Lastri berdiri paling depan, mengenakan kebaya motif bunga yang cerah di bawah terang senja, tangan kanannya melambai-lambai dengan kain saputangan yang diikat di pergelangannya tangan yang mulai berkerut.
Bimo terdiam sejenak, kakinya tiba-tiba terasa berat untuk melangkah, seolah ada rantai tak kasat mata yang menahannya. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam di dalam dada seperti sedimen yang mengeras di dasar sungai, kini bergejolak hebat. Dia bukan pahlawan dalam dongeng-dongeng itu. Dia hanyalah orang yang kebetulan selamat, orang yang berhasil memetik buah dari risiko yang seharusnya tidak ia ambil, sebuah keberuntungan di antara celah kematian. Tapi melihat senyum Lastri yang lebar, dan mata Aki yang penuh harapan, beban itu sedikit demi sedikit terangkat dari pundaknya.
"Ayo turun, Mas Bimo. Jangan biarkan air mata itu jatuh ke laut, garamnya sudah cukup tinggi," kata Lastri begitu Bimo melompat ke dermaga, tangannya langsung meraih lengan Bimo dengan erat namun lembut, seolah memastikan bahwa dia benar-benar nyata.
Bimo tersenyum tipis, merasakan kehangatan tangan Lastri yang kasar karena pekerjaan dapur dan mencuci piring, sebuah sentuhan yang sangat manusiawi.
"Nggih, Mbak. Saya hanya... terharu sedikit melihat semuanya utuh lagi."
Lastri tertawa renyah, suaranya bergetar menahan tangis yang tidak lagi disembunyikan.
"Pertama kali utuh? Desa ini tetap utuh, Le. Hanya saja, hati kita baru saja kembali dari perjalanan yang terlalu jauh."
Matahari sore mulai turun perlahan, menciptakan bayangan panjang dari para nelayan yang berdiri di dermaga, membentuk siluet hitam di atas papan kayu. Tiba-tiba cahaya emas itu memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan jalur-jalur cahaya yang tampak seperti jalan emas terapung menuju horizon. Bimo berjalan pelan di antara kerumunan warga, menerima sapaan hangat, tepukan di bahu, dan senyum dari wajah-wajah yang dulu hanya ia lewatkan begitu saja sebagai tetangga biasa tanpa cerita.
Ucok Batubara tiba-tiba muncul dari kerumunan, tubuh kekarnya mengenakan kemeja kotak-kotak yang terbuka dada, memperlihatkan kaos oblong putih di dalamnya yang sudah berkeringat.
"Bapak Oseanografer kita! Lihat wajahmu itu, sepertinya baru saja bangun tidur," canda Ucok dengan logat Medannya yang kental, menepuk punggung Bimo cukup keras hingga Bimo sedikit terhuyung ke depan.
Bimo memijat pundaknya yang nyeri, tersenyum pahit.
"Sekali lagi, Bang Ucok, tidur di dalam kapal selam tidak sama dengan tidur di kasur kapal mewah, nggih. Tulang-tulangku terasa seperti baru saja dipijat oleh mesin diesel."
Ucok tertawa besar, suaranya menggema membelah kerumunan untuk memberi jalan.
"Bah! Itu karena kau terlalu banyak memikirkan grafik dan data. Kau seharusnya belajar dari kami, kalau lelah, tidur saja. Laut tidak akan kemana-mana."
Mereka bergerak bersama-sama menuju area tanah lapang di pinggir pantai, tempat sebuah monumen sederhana telah didirikan dengan latar belakang bunyi deburan ombak. Di sana, sebuah batu andesit besar berdiri kokoh seperti penjaga masa lalu, tertutup sebagian oleh kain merah putih yang berkibar tertiup angin malam. Dara Puspita sudah berdiri di sana, bersanding dengan Pak Hendra Suwandi dan Siti Nurhaliza yang terlihat sibuk mengatur kamera. Dara terlihat lebih kurus dari biasanya, rambutnya diikat simpul kuda yang rapi namun sedikit berantakan oleh angin, namun matanya tetap memancarkan semangat api yang tak pernah padam. Dia sedang berbicara dengan Siti, gestur tangannya yang lincah memotong udara, menjelaskan sesuatu dengan antusias yang melebihi kelelahan fisiknya.
Bimo mendekat perlahan, mendengar potongan percakapan mereka yang terbawa angin.
"Jadi, struktur pelindungnya harus tetap alami. Di dekatnya kita tidak bisa memasang beton yang akan merusak ekosistem terumbu karang di sekitarnya," kata Siti dengan nada tegas namun sopan, matanya menatap Pak Hendra dengan penuh harap dan sedikit ancaman.
Pak Hendra, yang terlihat gugug dengan dasi kemejanya yang semakin melorot di bawah terik matahari yang tersisa, berdeham pelan sambil menarik kerah baju.
"Ehm, tentu saja, Nona Siti. Pemerintah daerah sangat mendukung konservasi. Ini adalah... ehm... aset berharga."
Dara memalingkan wajah saat melihat Bimo mendekat, bibirnya melengkung membentuk senyum, tipis namun tulus.
"Akhirnya sang komandan darat tumpuk juga ke sini. Aku kira kau masih sibuk menangis di dermaga."
Bimo menggeleng kepalanya, merasakan angin laut yang mulai berembus lebih kencang, menyisir rambutnya yang berantakan dan kering oleh garam.
"Tidak menangis, Dara. Hanya mencoba mengingat kembali bagaimana rasanya berdiri di atas tanah yang tidak bergoyang."
Pak Hendra segera membersihkan tenggorokannya, berdiri tegak dan mencoba mengambil alih situasi dengan wibawa birokratisnya yang kaku.
"Baiklah, warga desa Karang Hijau yang terhormat. Mari kita mulai upacara peresmian ini. Hari ini, kita... ehm... menandai era baru bagi desa kita."
Bimo berdiri di samping batu andesit itu, merasakan dinginnya batu yang merambat ke kakinya melalui alas sepatu. Dia meraih ujung kain merah putih, merasakan serat kain yang halus di bawah jari-jarinya yang masih kasar. Di sekelilingnya, hening seketika. Hanya suara ombak yang memecah karang di kejauhan dan desir angin yang meliukkan daun pohon kelapa di belakang mereka yang mengisi ruang sunyi. Bimo menarik napas, menarik kain itu hingga terlepas, jatuh melambai di tanah, memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi. Tertulis di batu itu dengan huruf pahatan yang dalam dan tegas:
**SITUS PURBAKALA DASAR LAUT KARANG HIJAU**
**CAGAR BUDAYA NASIONAL**
**DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG DAN ADAT LAUT**
Bimo menelusuri relief pahatan di sisi batu tersebut, jarinya mengikuti alur gambaran kapal layar kuno dan ikan-ikan raksasa yang melingkarinya. Tekstur batunya dingin dan kasar, kontras dengan hangatnya sinar matahari yang menyentuh punggung tangannya. Ini bukan sekadar batu mati. Ini adalah pengingat. Pengingat bahwa di bawah kedalaman yang gelap dan menekan, ada sejarah yang berdenyut, sebuah peradaban yang tersembunyi, dan sebuah kekuatan yang tidak bisa ditaklukkan oleh manusia semata.
"Kita bersumpah," kata Aki Jajang yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di samping Bimo tanpa suara, suaranya rendah namun menggetarkan tulang, "bahwa rahasia ini akan kita jaga, bukan untuk dikubur, tetapi untuk dijaga agar tidak disalahgunakan oleh tangan-tangan yang serakah."
Bimo menoleh pada Aki, melihat kedalaman di mata tua itu yang menatap lurus ke depan.
"Nggih, Aki. Kita akan menjaganya. Seperti sungai yang mengukir jalan menembus batu, kita akan terus mengalir, pelan tapi pasti."
Kerumunan bertepuk tangan lagi, kali ini lebih lama dan lebih meriah, suaranya bercampur dengan teriakan anak-anak. Anak-anak desa berlarian ke depan, mencoba menyentuh batu itu dengan rasa ingin tahu yang membara di mata mereka. Bimo melihat seorang anak laki-laki kecil, mungkin berusia tujuh tahun, dengan mata yang besar dan penuh tanda tanya, menatapnya dengan mulut sedikit menganga. Anak itu memegang jaring ikan mainan di tangannya, wajahnya penuh keringat dan debu pantai yang kering di pipinya.
Bimo berjongkok, menyamakan tinggi pandangannya dengan anak itu, merasakan sedikit ketegangan di lututnya.
"Ingin tahu apa yang ada di bawah sana, Nak?"
Anak itu mengangguk cepat-cepat, giginya yang ompong terlihat jelas saat dia tersenyum malu-malu.
"Iya, Pak. Apakah ada harta karun? Emas dan permata?"
Bimo tertawa pelan, menunjuk ke arah laut yang mulai berubah warna menjadi ungu gelap di kejauhan, seolah menyembunyikan rahasianya.
"Ada harta karun, Nak. Tapi bukan emas atau permata. Harta karunnya adalah cerita. Cerita tentang nenek moyang kita, dan cerita tentang bagaimana kita harus menjaga laut ini agar ia mau memberi kita hidup."
Anak itu mengerutkan dahi, tampak kebingungan namun tetap antusias, matanya menyipit mencoba memahami.
"Cerita? Apakah cerita bisa dimakan?"
"Tidak bisa dimakan," sahut Lastri yang datang membawa nampan berisi kue tradisional, dia menyodorkan satu kue pada anak itu dengan senyuman ramah, "tapi cerita yang bagus membuat makanan terasa lebih enak. Coba saja kau dengar."
Anak itu mengambil kue itu dengan tangan yang cepat, lalu berlari kembali ke tengah kerumunan, tertawa bersama teman-temannya sambil mengunyah. Bimo bangkit berdiri, merasakan lututnya sedikit berbunyi 'klik' saat ia menegakkan badan. Kelelahan fisik mulai merayap masuk ke dalam persendian, menggantikan adrenalin yang sempat memompa jantungnya berdetak kencang.
"Ayo, Mas Bimo. Mbak Lastri sudah menyiapkan makanan di warung. Kau pasti lapar setelah semua drama ini," bisik Dara di telinganya, tangannya menarik lengan Bimo pelan membimbingnya menjauh dari batu itu.
Mereka berjalan meninggalkan area upacara, menuju sebuah warung tua yang berdiri tak jauh dari bibir pantai, atapnya terbuat dari rumbia yang kusam namun memberi kesejukan. Lantainya dari tanah yang dipadatkan rapi, dan meja-mejanya dari papan kayu yang sudah berwarna gelap dan berminyak oleh tahun-tahun penggunaan. Bau kopi tubruk yang sedang diseduh langsung menggelitik indera penciuman Bimo, dicampur dengan aroma gorengan dari pisang yang baru saja keluar dari wajan dan menempel di udara.
Bimo duduk di bangku panjang, meluruskan kakinya yang terasa berat seperti timah. Meiling Wijaya sudah duduk di pojok, laptopnya terbuka namun matanya tertuju ke arah layar HP sambil tersenyum-senyum sendiri, jari-jarinya menari-nari cepat di atas keyboard virtual.
"Eh, Bimo! Dara! Sini dong, aku baru saja upload foto-foto upacara tadi. Komentarnya udah ngebut banget loh! Seru banget!" seru Meiling dengan antusias yang meluap-luap, matanya berbinar-binar di layar.
Dara duduk di sebelah Bimo, menyandarkan punggungnya ke dinding warung dengan napas panjang.
"Biarkan saja mereka berkomentar, Mei. Yang penting sekarang adalah kopi dan pisang goreng Mbak Lastri."
Lastri datang membawa nampan besar, langkahnya pasti di atas lantai tanah. Di atasnya ada beberapa cangkir kopi hitam pekat yang uapnya masih mengepul, dan sepiring besar pisang goreng yang masih hangat dan berminyak mengkilap.
"Nikmatilah, Le. Makanan kampung yang sederhana. Tidak ada makanan hotel bintang lima di sini."
Bimo mengambil segumpal pisang goreng, merasakan hangatnya di telapak tangannya sebelum memasukkannya ke mulut. Rasa manis gula aren dan pisang matang langsung meledak di lidah, sebuah rasa yang sangat akrab dan menenangkan jiwa yang gelisah. Dia menyesap kopinya, rasa pahit dan pekatnya menyiram tenggorokan, membangunkan sel-sel saraf yang mulai lelah dan membeku.
"Ini jauh lebih enak dari makanan katering kantor," ujar Bimo sambil mengusap sisa minyak di bibirnya dengan serbet kasar.
"Tentu saja saja," kata Ucok yang duduk di seberang meja, sedang mengunyah kue dengan suara berisik dan tidak peduli, "Makanan kampung dibuat dengan cinta, bukan dengan target keuntungan."
Silas Papare, yang sejak tadi diam saja di sudut meja seperti patung, tiba-tiba berbicara dengan suara berat.
"Laut sudah tenang, Pace. Tapi kita harus tetap waspada. Matahari sudah hampir tenggelam."
Suara Silas yang berat dan berdialek Papua itu selalu membawa kenyataan yang pahit kembali ke permukaan, seperti air dingin yang membasahi muka. Bimo menoleh ke arah Silas, melihat bekas luka kecil di alis lelaki itu yang masih merah, sisa dari pertarungan di bawah air yang nyaris merenggut nyawa mereka.
"Kaka Silas benar. Kita mungkin sudah menang, tapi laut tidak pernah lupa."
"Tidak perlu bicara hal-hal serius sekarang," potong Lastri tegas namun lembut sambil menuang ulang kopi untuk Silas, "mari kita syukuri saja bahwa kalian semua bisa kembali dengan utuh. Suamiku dulu... Dia tidak pernah kembali."
Hening sesaat melanda meja makan itu, hanya suara sendok mengeram piring dan desiran angin di luar warung yang terdengar jelas. Bimo merasakan dadanya sesak, seolah ada tangan yang memijatnya pelan namun menyakitkan. Dia tahu Lastri menyimpan luka yang dalam, luka yang sama seperti yang dia rasakan atas kehilangan ayahnya, namun Lastri memilih menutupnya dengan tawa dan kebaikan hati yang besar.
"Mbak Lastri," kata Bimo pelan, suaranya hampir berbisik, "ayahku dulu juga menghilang di laut. Tapi hari ini, aku merasa seperti aku menemukan sedikit dari dirinya di sana, di dasar laut itu. Mungkin dia tidak hilang, mungkin dia hanya... kembali ke tempat asalnya."
Lastri menatap Bimo, matanya berkaca-kaca menahan air mata namun dia tersenyum, garis-garis di wajahnya melunak.
"Mungkin benar, Le. Laut adalah ibu kita semua. Ibu tidak akan pernah menyakiti anaknya, dia hanya memanggil mereka pulang."
Matahari sudah benar-benar tenggelam sekarang, meninggalkan cakrawala yang berwarna ungu keabu-abuan yang dalam. Sangat dalam. Langit tampak seperti kanvas lebar yang disapu kuasasi cat air basah, bercampur antara warna senja yang pergi dan malam yang datang. Bimo berdiri dari kursi, merasakan kakinya sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
"Aku mau ke ujung tanjung sebentar," kata Bimo pada Dara.
Dara mengangguk, matanya memahami tanpa perlu kata-kata.
"Jangan terlalu lama. Ombak malam bisa licik."
Bimo berjalan sendirian meninggalkan kehangatan warung kopi dan suara canda tawa teman-temannya, menuju jalan setapak yang terbuat dari batu karang yang tidak rata dan licin oleh lumut. Jalan itu membelah semak-semak belukar yang tumbuh liar di tanjung, mencengkeram kaki celananya. Suara jangkrik mulai terdengar, nyanyian malam yang ritmik dan menenangkan, menggantikan suara manusia. Dia berhenti di ujung tanjung, tempat karang hitam menjorok tajam ke laut seperti monumen alam yang sunyi.
Di sini, suara ombak jauh lebih keras, bergemuruh. Gelombang memecah diri di kaki karang, mengirimkan semburan air asin yang membasahi wajah dan celah-celah celana Bimo, membuatnya menggigil sedikit. Dingin. Segar. Bimo menatap ke depan, ke arah kegelapan laut yang tak berujung, sebuah kekosongan yang menakutkan namun mempesona. Di sana, di bawah lapisan gelap itu, terdapat sebuah dunia yang hanya sedikit orang yang tahu, sebuah dunia yang kini telah mereka segel demi kebaikan yang lebih besar.
Dia memasukkan tangan ke saku celananya, meraba sesuatu yang dingin dan keras di sana. Sebuah koin tua, koin peninggalan dari situs bawah laut yang sempat ia simpan sebagai kenang-kenangan rahasia. Koin itu berkarat, gambarnya sudah tidak jelas terkikis oleh waktu, tapi bagi Bimo, koin itu mewakili semua perjalanan ini. Tebakannya tentang ayahnya, teori yang ia pertaruhkan nyawanya, dan risiko yang hampir ia korbankan. Bimo menggenggam koin itu erat, merasakan sisinya yang tajam menekan telapak tangan, meninggalkan jejak di kulit.
Lalu, dengan gerakan pelan dan terukur, dia melemparkannya jauh ke laut. Koin itu berputar di udara, menangkap cahaya redup dari bintang-bintang yang mulai bermunculan satu per satu, sebelum akhirnya lenyap dengan *pleset* kecil di antara buih ombak yang menghantam karang.
"Selamat tinggal," bisik Bimo ke arah gelap. Dia tidak melempar rasa bersalahnya. Namun, dia juga tidak melempar masa lalunya. Dia melemparkan kunci itu kembali ke tempatnya, sebuah simbol bahwa dia sudah selesai mencari jawaban, dan sekarang saatnya untuk menjaga apa yang ada.
Angin malam bertiup lebih kencang, mengibaskan rambut Bimo yang berantakan ke wajahnya. Dia menutup matanya, mendengar suara laut yang seperti napas panjang dunia yang sedang tidur. Isi perutnya yang tadinya terasa mual karena kelelahan, kini terasa tenang, seperti air yang menggenang di telaga yang tenang tanpa riak.
"Bimo."
Dia menoleh cepat. Dara berdiri beberapa langkah di belakangnya, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket kulitnya untuk menghangatkan diri. Wajahnya tersinari cahaya rembulan yang baru saja muncul dari balik awan tebal, memberikan siluet lembut di wajahnya.
"Aku pikir kau sudah kembali ke kapal," kata Bimo, terkejut.
Dara mendekat, berdiri berdampingan dengannya di tepi karang yang berbahaya. Dia juga menatap laut, namun matanya tidak mencari apa-apa di sana. Dengan tenang dia hanya menikmati pemandangannya, membiarkan waktu berhenti sejenak.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini sendirian. Siapa yang tahu kalau kau tiba-tiba terjun ke laut lagi tanpa alasan yang jelas?"
Bimo tertawa pelan, suaranya pecah oleh angin.
"Tidak. Aku janji. Tidak ada lagi penyelaman tanpa izin."
Dara menoleh, menatapnya dengan serius, matanya menelusuri wajah Bimo seolah membaca pikirannya.
"Kita melakukannya, Bimo. Akhirnya kita menemukan tempat itu. Kita menyegelnya. Apa kau merasa puas?"
Bimo terdiam sejenak, membiarkan suara ombak mengisi keheningan di antara mereka. Pertanyaan itu sederhana, namun jawabannya sangat kompleks dan berlapis-lapis. Dia memikirkan data yang ia kumpulkan, teori ayahnya yang terbukti benar, situs yang kini aman dari tangan-tangan serakah seperti Togar Simanjuntak. Tapi lebih dari itu, dia memikirkan wajah-wajah di desa ini, Lastri, Aki, anak-anak yang berlarian tadi dengan mulut penuh kue.
"Aku merasa... pulang," jawab Bimo akhirnya, kata itu keluar dengan sendirinya dari hatinya. "Bukan hanya pulang ke desa ini. Tapi pulang ke diriku sendiri. Aku akhirnya mengerti bahwa harta karun yang ayahku cari bukanlah emas atau artefak. Tapi keseimbangan. Dan kita berhasil mempertahankannya."
Dara tersenyum, jarinya menyentuh lengan Bimo pelan, memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam.
"Kau berubah banyak, Bimo Satrio. Dari seorang akademisi kaku yang hanya percaya pada angka, menjadi seorang... pahlawan yang cukup bijak untuk melempar koin langka ke laut."
"Itu bukan koin langka, Dara. Itu hanya koin tua."
"Bagi kita mungkin biasa. Tapi bagi sejarah, itu berharga. Seperti dirimu."
Mereka berdiri diam di sana beberapa lama, membiarkan waktu berlalu tanpa arti, hanya ditemani oleh deburan ombak dan gemerlap bintang di atas kepala. Laut di depan mereka berubah warna lagi, dari hitam pekat menjadi biru keperakan di bawah sinar bulan yang semakin terang. Permukaannya berkilauan, seperti ribuan cermin kecil yang saling memantulkan cahaya dan berkedip. Bimo merasakan ketenangan yang selama ini ia cari di buku-buku teori yang berdebu dan laboratorium kumuh yang bising. Ketahanan itu bukan berarti tidak ada rasa sakit atau penyeselan. Di atas ketahanan adalah mampu berjalan terus sambil membawa luka itu, dan menemukan tempat di mana luka itu bisa disembuhkan perlahan. Dan baginya, tempat itu ada di sini, di desa Karang Hijau, bersama orang-orang aneh yang kini ia sebut keluarga.
"Kita harus kembali," kata Dara akhirnya, memecah keheningan yang nyaman. "Besok masih ada banyak pekerjaan. Laporan administrasi, perbaikan kapal selam, dan aku harus memastikan Mei tidak sengaja mengunggah koordinat rahasia ke media sosial."
Bimo mengangguk, tersenyum tipis.
"Nggih. Ayo kita kembali."
Mereka berbalik, meninggalkan ujung tanjung yang sunyi. Saat mereka melangkah menjauh dari pantai, Bimo berhenti sejenak dan menoleh sekali lagi ke belakang. Di kegelapan, dia melihat sesosok bayangan berdiri di atas air, sebuah siluet yang samar. Tidak, itu bukan hantu. Itu adalah pantulan bulan di permukaan laut yang tenang, sebuah cakrawala yang diam dan penuh janji. Laut telah memberikan rahasianya, dan kini, dalam ketenangannya, Bimo akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya. Bukan sebuah titik di peta, bukan sebuah koordinat GPS yang presisi. Tapi sebuah tempat di mana hatinya berlabuh, di antara orang-orang yang mencintainya bukan karena apa yang ia temukan, tetapi karena siapa dia.
"Ayo, Dara," panggil Bimo pelan, memanggilnya kembali ke dunia nyata. "Mari kita buat kopi baru untuk Mbak Lastri."
Dara menunggu di ujung jalan setapak, siluetnya menentang bulan yang besar di langit.
"Jangan lupa, besok pagi kita harus sarapan. Aturan Mbak Lastri: tidak makan, tidak boleh berlayar."
Bimo tersenyum lebar, melangkah mengejar Dara dengan langkah yang lebih ringan. Jejak kakinya meninggalkan jejak basah di atas pasir, yang segera akan disapu oleh ombak naik, menghapus jejak fisiknya namun tidak akan pernah bisa menghapus jejak yang ia tinggalkan di hati desa ini. Perjalanan mungkin telah berakhir, namun peta kehidupan baru saja terbentang, lebih luas dan lebih indah dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.