Bab 24: Tersembunyi di Balik Cap yang Membara, Bayangan Lilin Menggetarkan Balairung
Saat lutut kiri sedikit menekuk untuk menyerap gaya benturan, tangan kanannya telah menempel pada cap jabatan di pinggang. Cap persegi perunggu yang direbut dari gudang bawah tanah Departemen Hukum Heng itu terasa panas membara melalui kain, seakan hendak membakar kulit dan daging. Zhu Hanli mendarat setengah langkah di sebelah kirinya, ujung kaki menapak tanpa suara, tiga bilah panah pendek segitiga di dalam lengan baju telah meluncur ke sela-sela jarinya, bilahnya memancarkan cahaya dingin biru kehijauan di bawah tiga puluh enam lentera lilin panjang di dalam balairung. Pandangannya tajam bagai pisau menyapu ruangan: dua belas pilar naga berkeliaran berdiri kokoh, plakat bertulis "Kejujuran dan Keterbukaan" yang tergantung tinggi cat emasnya sudah mengelupas, dan orang yang duduk di balik meja panjang kayu cendana di bawah plakat itu baru saja merapikan lipatan halus di ujung lengan baju. "Saudara muda Zhi Ge," orang di balik meja itu bersuara, nadanya tidak tinggi, namun mampu membuat semua nyala lilin di balairung seketika meredup, "Menurut aturan leluhur, mereka yang menerobos masuk ke balairung musyawarah melalui atap, akan dihukum dengan dicabut kemampuan bertarung dan diusir dari gerbang."
Aroma cendana di dalam balairung begitu pekat hingga menusuk hidung. Di dalam baunya tercampur debu yang baru beterbangan, dan sesuatu yang lebih tajam — bunyi gesekan logam pegas yang tegang saat pelatuk busur silang ditarik setengah. Suara itu berasal dari sudut-sudut yang gelap. Yue Tingzhou tidak perlu melihat untuk tahu, setidaknya delapan busur silang kuat telah mengunci punggung mereka.
Yue Tingzhou berteriak rendah. Bukan kepada musuh, tetapi kepada dirinya sendiri. Makna pedang bangkit dari dantian, bagai aliran sungai dingin merembes di atas hamparan batu, dalam sekejap mengaliri seluruh anggota badan. Dia melangkah maju setengah langkah, melindungi setengah tubuh Zhu Hanli di belakangnya. Gerakan ini membuat tiga penjaga bersenjata pedang di barisan depan secara bersamaan mundur — sol sepatu mereka menggesek batu pualam hingga menimbulkan bunyi mendesing singkat.
Dozinan pasang mata menatap dari kursi-kursi di kedua sisi. Sesepuh Sekte Qingcheng menghentikan tangan yang membelai janggutnya di tengah jalan. Qi Zhaoye dari Aliansi Sungai Caoyun memainkan jangkar kecil di tangannya, sorot matanya suram. Rong Qiwo dari Akademi Heting mengetuk-ngetuk penggaris batu giok, sekali, dua kali, tiga kali. Setiap ketukan bagai mengukur harga dari penerobosan ini.
Pandangannya melampaui meja panjang, mendarat di wajah Yue Tingzhou, bagai memeriksa sebuah dokumen yang hilang lalu ditemukan kembali. "Yue Tingzhou." Suaranya stabil, anggun kuno, setiap kata terbungkus es, "Melanggar masuk tanpa izin ke Musyawarah Publik Seribu Pintu, membawa senjata mengganggu perwakilan berbagai sekte. Menurut Bab Tiga Pasal Sembilan 'Perjanjian Persekutuan Jianghu', dihukum mati di tempat pun tidak berlebihan."
Napas Yue Tingzhou terhenti sejenak. Dia merasakan cap jabatan di dada semakin panas membara — suhunya hampir membakar kain dan melubangi kulit. Tidak. Panas ini bukan berasal dari cap jabatan itu sendiri, melainkan dari tarikan eksternal tertentu. Tarunan aliran energi.
Cap persegi perunggu itu melepaskan diri dari belenggu kerah baju, melayang setinggi tiga kaki di depan dada Yue Tingzhou. Cahaya biru kehijauan memancar dari celah-celah tulisan di atasnya, di udara saling menyilang, terpuntir, akhirnya mengental menjadi bayangan kabur — profil seorang pria paruh baya, mengenakan seragam resmi hitam Kepala Penyidik Utama Departemen Hukum Heng, sedang menunduk menulis sesuatu. Bayangan itu berkedip-kedip tidak stabil, tetapi wajahnya cukup jelas.
Suara tarikan napas tajam terdengar meledak dari berbagai sudut kursi. Seseorang berdiri dengan kaget, kaki kursi menggeser lantai hingga menimbulkan bunyi lengkingan menusuk. Janggut sesepuh Sekte Qingcheng bergetar. "Rekaman tersandi Shen Tie Lü? Bagaimana bisa..."
Dia menatap bayangan itu.
Lalu terdengar suara cibir dingin. Dari tempat duduk Aliansi Caohe. Qi Zhaoye menepuk jangkar kecil di atas meja, suaranya tidak keras, tapi membuat semua orang menoleh. "Menarik," ujarnya, membuka mulut dan memperlihatkan gigi yang kuning oleh asap. "Anak muda keluarga Yue, maksudmu—Kepala Xie memalsukan rekaman Shen Tie Lü?"
Tanya jawab keduanya cepat bagai pedang saling beradu. Suasana di aula tiba-tiba menegang. Wajah Xie Wuchen tetap tenang, tapi Yue Tingzhou melihat jari telunjuk kanannya gemetar ringan di dalam lengan baju—itu satu-satunya tanda gejolak emosinya.
Xie Wuchen mengangkat tangan. Cahaya biru tua dari segel merespons, bayangan Shen Lichuan menghilang seperti asap. Segel perunggu persegi "plak" jatuh kembali ke telapak tangan Yue Tingzhou, panasnya telah hilang, hanya tersisa dingin menusuk tulang. "Tempat perundingan umum, bukan warung teh tempat orang-orang dunia persilatan berdebat." Pandangannya menyapu seluruh ruangan, akhirnya terpaku pada wajah Yue Tingzhou. "Karena kau nekat masuk, pasti ada permintaan. Katakanlah."
Yue Tingzhou menggenggam segel itu. Sentuhan dingin merambat dari telapak tangan ke tulang pergelangan, membuatnya teringat dingin yang meresap sumsum saat bermimpi tentang kasus lama di malam hujan. Dia menoleh, menatap mata Zhu Hanli.
Lalu Yue Tingzhou berbalik, menghadap perwakilan berbagai sekte yang memenuhi aula. Dia melepaskan gagang pedang, menyatukan kedua tangan, dan memberikan hormat dunia persilatan yang sempurna. "Mata-mata rahasia Henglü Si, Yue Tingzhou, bersama pemilik muda Wan Jing Biaoju, Zhu Hanli, nekat masuk ke perundingan umum, hanya untuk melaporkan konspirasi yang menyangkut fondasi dunia persilatan." Dia berhenti sejenak, suaranya tiba-tiba meninggi. "Seleksi perjanjian pernikahan Buku Takdir bukanlah jodoh yang ditakdirkan langit, melainkan dengan nama 'kecocokan', melakukan panen terhadap fondasi para pendatang baru!"
"Omong kosong!" Sesepuh Sekte Qingcheng bangkit menepuk meja, janggut dan rambutnya mengembang. "Buku Takdir didirikan bersama oleh Tiga Aliran dan Enam Sekte, berjalan selama tiga puluh tahun, mana ada cerita panen? Yue Tingzhou, jangan kau fitnah alat publik karena dendam pribadi!"
"Apakah ini fitnah—" Zhu Hanli tiba-tiba berbicara. Dia melangkah maju, berdiri berdampingan dengan Yue Tingzhou, lengan bajunya tergelincir, memperlihatkan sepotong pergelangan tangan. Di bawah kulit, pola biru tua seperti makhluk hidup bergerak perlahan. "Apakah para hadirin mengenali pola ini?"
Pola itu memancarkan kilau aneh di bawah cahaya lilin, bukan tato, bukan bekas luka, melainkan semacam cap yang menembus dari kedalaman daging dan darah. Ia berkedip-kedip mengikuti napas Zhu Hanli, setiap denyutnya membuat permukaan pilar naga yang terdekat memancarkan riak halus—seperti batu yang dilemparkan ke kolam dalam.
"Pola Jie," suara perempuan dingin terdengar dari sudut tempat duduk. Lu Jianwei tak tahu kapan telah berdiri di tepi bayangan, di tangannya menggulung catatan medis kuning, pandangannya tajam seperti jarum. "'Catatan Aneh Denyut Nadi' mencatat: memasukkan energi Jie ke tubuh untuk memurnikan meridian, sembilan mati satu hidup. Yang berhasil, pergelangan tangan muncul pola biru tua, dapat merasakan samar getaran poros langit dan bumi." Dia mengangkat mata, melihat Zhu Hanli. "Tapi dalam catatan, pola Jie seharusnya pola mati. Polamu ini... hidup."
Zhu Hanli tersenyum. Senyuman itu tak mengandung sedikit pun kehangatan. "Karena ini bukan hasil pemurnian meridian." Dia mengangkat pergelangan tangan, membiarkan pola biru tua itu sepenuhnya terpapar di pandangan semua orang. "Ini adalah cap. Tanda yang dicapkan oleh induk 'Buku Takdir' kepada 'bahan bakar berkualitas' yang dipilihnya."
"Konyol!" Xie Wuchen akhirnya memarahi dengan keras. Ini pertama kalinya dia menaikkan volumenya, ujung suaranya bergema di dalam aula, tajam seperti pisau. "Zhu Hanli, untuk menghindari hukuman, kau berani mengarang cerita setan seperti ini! Para hadirin—" dia menoleh ke tempat duduk, "perempuan ini membawa pola setan, lagi nekat masuk ke perundingan umum bersama pengkhianat ini, hatinya pant
Suara halus tali pengikat yang putus terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi sepi. Yue Tingzhou mengangkat plakat pinggangnya, membiarkannya memantulkan cahaya dingin yang keras di bawah cahaya lilin. "Plakat ini adalah bukti identitas mata-mata rahasia Departemen Hukum Heng." Suaranya bergema, setiap kata seolah menghantam lantai batu hijau. "Hari ini, aku, Yue Tingzhou, di sini, dengan wewenang terakhir sebagai mata-mata, menuduh Xie Wuchen, Kepala Pengelola Buku Takdir—"
Dia berhenti sejenak, pandangannya menyapu setiap wajah yang terkejut, marah, atau ragu.
"Atas nama perjanjian pernikahan, melakukan penyaringan dan panen. Menggunakan bakat-bakat baru dunia persilatan sebagai bahan bakar, memupuk diri sendiri, mempertahankan apa yang disebut 'tatanan takdir'." Pergelangan tangannya berputar, plakat itu terlepas dari genggamannya, melengkung di udara, dan menghantam dengan keras di atas meja panjang di depan Xie Wuchen.
Dentuman logam menghantam kayu meja mengguncang nyala lilin.
"Plakat ini kukembalikan." Yue Tingzhou menarik kembali tangannya, telapak tangan kosong, namun terasa lebih berat dari sebelumnya. "Mulai saat ini, aku, Yue Tingzhou, dan Departemen Hukum Heng—selesai sudah segala ikatan."
Xie Wuchen menatap plakat di atas meja itu untuk waktu yang lama. Kemudian dia perlahan mengangkat tangannya dan bertepuk.
Tepuk tangan itu nyaring, terdengar menusuk di tengah kesunyian. Pintu samping Balai Musyawarah terbuka, dua penjaga Shuang Sun membawa seorang juru tulis yang gemetaran masuk. Juru tulis itu mengenakan seragam pegawai rendah Departemen Hukum Heng berwarna hijau, keringat dingin membasahi pelipisnya, pupil matanya kosong, kakinya gemetar saat berjalan.
Xie Wuchen menunjuk Yue Tingzhou, suaranya kembali pada kestabilan anggun kuno itu, bahkan membawa sedikit belas kasihan.
"Silakan lihat, inilah dokumen palsu yang dipaksakan oleh Yue Tingzhou saat mencuri segel." Dia sedikit memiringkan badan, membiarkan juru tulis itu terpapar di pandangan semua orang. "Ding Xueqiao, katakanlah—malam itu di gudang bawah tanah Departemen Hukum Heng, apa yang kau lihat?"
Dia mengangkat kepala, pandangannya kosong menyapu Yue Tingzhou, lalu menyapu semua perwakilan dari berbagai sekte di ruangan itu. Kemudian dia membuka mulut, suaranya datar seperti sedang melafalkan naskah yang sudah dihafal luar dalam:
"Pukul sembilan lewat tiga perempat malam... Yue Tingzhou menyusup ke gudang bawah tanah, dengan pedang memaksa pejabat rendah ini... memalsukan rekaman gambar Shen Zongji... ingin menjebak Xie Zongshi... pejabat rendah ini menolak, dia lalu... mengancam akan membasmi keluarga..."
Namun Yue Tingzhou melihat jari-jari Ding Xueqiao berkedut tak sadar di dalam lengan baju, keringat dingin di pelipisnya telah mengalir menjadi aliran tipis, meluncur di pipinya yang pucat pasi. Jiwa dan pikiran juru tulis ini, mungkin telah terkikis habis oleh obat atau sihir rahasia, hanya menyisakan cangkang kosong.
Tetua Sekte Qingcheng tiba-tiba berdiri, menunjuk Yue Tingzhou, bentakannya seperti guntur:
"Saksi dan bukti semuanya ada! Yue Tingzhou, masih ada apa lagi yang hendak kau katakan?!"
Tepuk tangan Xie Wuchen sangat ringan, tiga kali, namun di tengah ruangan yang sunyi sepi, terasa seperti mengetuk di hati setiap orang.
Lengan bajunya rapi, tidak sedikitpun berantakan. Pandangannya menyapu Yue Tingzhou, melirik Zhu Hanli, akhirnya mendarat di plakat "Zheng Da Guang Ming" di atas ruangan, seolah memastikan suatu tatanan masih tergantung.
Pintu samping terbuka. Dua pelayan berjubah abu-abu menyeret seseorang, tersandung-sandung berjalan ke depan ruangan. Itu adalah seorang juru tulis muda Departemen Hukum Heng, mengenakan seragam dinas yang sudah luntur, wajahnya pucat seperti kertas. Butiran keringat di pelipisnya bergulir satu per satu, menghantam lantai batu hijau, membentuk noda-noda kecil berwarna gelap.
"Katakan." Suara Xie Wuchen tidak tinggi, namun seperti paku es menusuk gendang telinga. "Apa yang kau ketahui, di hadapan para senior dunia persilatan ini, jelaskan dengan jelas."
Juru
"Para hadirin, perhatikan." Xie Wuchen mengangkat tangan, memberi isyarat pada Ding Xueqiao untuk mundur ke samping, suaranya tetap tenang dan anggun. "Inilah cacing-cacing yang ditemukan dalam pemeriksaan internal Henglü Si. Mencuri Zhiyin, menyalin larangan secara pribadi, berkolusi dengan pemberontak, memaksa rekan sejawat... Setiap perkara memiliki bukti nyata."
Ia berhenti sejenak, pandangannya menyapu perwakilan berbagai sekte di ruangan.
"Yue Tingzhou, kau berasal dari keluarga terhormat, berguru pada Shen Tielü, seharusnya menjadi pilar dunia persilatan kita. Sayangnya, kau dibutakan oleh keserakahan, merendahkan diri sendiri, bahkan bersekongkol dengan wanita keluarga Zhu ini yang membawa pola jahat tak jelas asal-usulnya."
Setiap kalimat yang diucapkannya membuat tekanan di ruangan bertambah berat.
"Dunia persilatan berdiri, yang paling penting adalah reputasi bersih. Alasan keluarga terhormat disebut terhormat bukan karena kekuatan fisik yang hebat, melainkan karena menjaga tatanan dan keadilan, menjadi teladan bagi dunia." Suara Xie Wuchen tiba-tiba naik sedikit, meski tidak berteriak, setiap kata bagai palu. "Hari ini jika kita membiarkan sampah seperti ini, melakukan perbuatan kotor atas nama 'menyelidiki kasus', menyembunyikan niat jahat dengan dalih 'pertunangan'—di mana letak tatanan dunia persilatan kita? Di mana harga diri berbagai sekte?"
Ia berdiri, jenggot dan rambutnya seolah mengembang, menatap Yue Tingzhou dengan marah. "Yue Tingzhou! Masih ada apa lagi yang hendak kau katakan?"
Pandangan dari segala penjuru bagai jarum-jarum tak terhitung, menusuk punggung Yue Tingzhou. Ada yang marah, ada yang curiga, ada yang dingin penuh kegembiraan atas penderitaan orang lain. Ia merasakan Zhiyin di pelukannya membakar panas, wajah samar-samar gurunya Shen Lichuan berkedip-kedip di kedalaman cap itu, seolah berjuang, atau diam-diam mengawasi.
Bahu Zhu Hanli dengan ringan menyentuh punggungnya. Sangat ringan, tapi mantap.
Saat membuka mata lagi, ia menatap sesepuh Sekte Qingcheng, suaranya jelas dan tenang, bahkan dengan nada kesopanan seperti dokumen resmi. "Menurut hukum, baru bisa dijatuhi hukuman jika saksi dan bukti lengkap. Kesaksian Juru Tulis Ding rinci, waktu dan tempat cocok, memang tampak seperti bukti nyata."
Yue Tingzhou melanjutkan, "Namun, bukti perlu dibedakan keasliannya. Wajah Juru Tulis Ding pucat pasi, berkeringat deras, pupil mata melebar, nada suara datar—ini adalah ciri khas pengendalian pikiran oleh 'Mixin San' atau 'Soul Snatching Technique'. Bila Xie Zongshi bicara keadilan, bolehkah meminta sesepuh yang ahli pengobatan atau penyelidikan jiwa di sini untuk memeriksa denyut nadi Juru Tulis Ding?"
Cincin ibu jari di tangan Xie Wuchen berhenti sejenak. Ekspresinya datar, hanya cahaya di matanya yang menjadi dingin. "Yue Tingzhou, sampai saat ini masih mau berkelit?"
"Bukan berkelit," kata Yue Tingzhou satu per satu. "Meminta kejelasan. Jika jiwa Juru Tulis Ding sadar, bersaksi sukarela, Yue bersedia mengaku bersalah dan menerima hukuman, tanpa sepatah kata pun. Jika ia dikendalikan oleh obat atau teknik rahasia, menjadi alat fitnah—"
"Maka di bawah bendera besar 'keluarga terhormat menjaga tatanan' ini, yang tersembunyi sebenarnya tatanan, atau monster rakus yang melahap manusia?"
"Kurang ajar!" sesepuh Sekte Qingcheng membentak keras, kemarahan di wajahnya semakin menjadi. "Zongshi Xie memegang operasi dan pemeliharaan Buku Takdir, berwibawa dan dihormati, mana boleh kau fitnah! Kau mencuri Zhiyin, berkomplot dengan pemberontak sudah bukti nyata, sekarang masih mau membalikkan tuduhan, mengacaukan pandangan musyawarah kita?"
Ia menoleh ke beberapa perwakilan netral lain di ruangan, suaranya sedih. "Para hadirin! Pemuda ini pandai bersilat lidah, membalikkan hitam putih, sungguh bencana besar dunia persilatan kita! Menurut pandangan hamba, lebih baik percaya ada daripada tidak ada. Harus segera menangkap Yue Tingzhou dan Zhu Hanli, menyelidiki dengan teliti, agar kekacauan tidak meluas!"
Beberapa perwakilan netral yang awalnya ragu-ragu, wajah mereka berubah. Ada yang men
Ia berhenti sejenak, sudut bibirnya melengkung membentuk busur tanpa kehangatan.
"Silakan, di hadapan para sesepuh dunia persilatan ini, coba Anda jelaskan."
"Ataukah ini... cap yang digunakan 'Kitab Takdir' untuk menandai 'bahan bakar berkualitas'?"
Lencana pinggang itu terbaring di atas batu hijau, seperti besi panas membara yang membakar mata semua orang.
Napas Yue Tingzhou sangat ringan. Sisa aroma cendana di paru-paru tercampur bau darah, dan bau tanah sebelum hujan, semuanya membanjiri naik. Ia mendengar suara detak jantungnya sendiri, seperti genderang yang menabrak gendang telinga, namun anggota badannya terasa dingin seperti terendam air es. Berat di pinggangnya telah hilang, digantikan oleh rasa ringan yang hampir seperti pusing—untuk pertama kalinya dalam dua puluh tujuh tahun, benda itu tidak ada di sana.
Jari-jari di balik lengan Xie Wuchen, bergerak sedikit tak terlihat.
Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, bahkan sudut bibirnya masih menyimpan senyuman biasa yang hampir seperti belas kasihan. Tapi Yue Tingzhou melihat urat di sisi lehernya, sedikit menonjol di bawah kulit, seperti cacing yang bersembunyi. Zongshi ini menahan napas, setiap tarikan napasnya setengah ketukan lebih panjang dari biasanya.
Elder Sekte Qingcheng tiba-tiba beranjak dan memukul meja, janggut putihnya bergetar. "Mata-mata Henglüsi? Kalau kau mengaku sebagai mata-mata, seharusnya kau tahu hukum besi 'Yinlin'—terbongkarnya identitas, setara dengan desersi! Sekarang kau bicara seenaknya di sini, apakah kau merasa mati masih kurang cepat, masih ingin menyeret reputasi bersih gurumu ke kuburan?"
Suaranya tinggi dan tajam, memicu gemuruh di dalam aula. Beberapa perwakilan netral yang awalnya ragu-ragu, ditusuk oleh kata "desersi" itu hingga wajah mereka berubah serius, satu per satu memalingkan pandangan.
Pandangannya menancap di wajah Xie Wuchen, seperti dua paku dingin. "Berdasarkan bukti," ia membuka mulut, suaranya tidak keras, namun menenggelamkan semua keributan, "tiga tahun lalu, murid dalam Sekte Qingcheng, Chen Song, sembilan belas tahun, puncak tingkat Diewen, tiga hari setelah pembaruan daftar 'Kitab Takdir', tiba-tiba meridiannya berbalik saat berlatih pedang di gunung belakang, muntah darah dan meninggal. Penyebab kematian dicatat sebagai 'api mendadak menyerang jantung, gila latihan'."
"Dua tahun lalu, kandidat pemegang bendera baru Persekutuan Caohe, tangan kanan Qi Zhaoye, Zhao Ben, tingkat awal Jieshi, saat mengawal sejumlah 'hadiah untuk sekte' ke Akademi Heting, bersama kapalnya menghilang di Teluk Bailong. Setelahnya dilakukan penyelaman, badan kapal utuh, barang-barang tidak rusak, hanya orangnya yang hilang. Arsip dicatat sebagai 'diserang perampok, jasad hilang'."
Tangan Qi Zhaoye yang memainkan anker berhenti, matanya menjadi gelap.
"Setahun lalu, murid Akademi Heting yang paling diharapkan dapat mencapai kesempurnaan 'Tingxi' angkatan ini, murid langsung Rektor Rong, Lin Wanzhao, setelah memahami 'Bagian Ketenangan' yang diberikan 'Kitab Takdir', tiba-tiba mengalami kegilaan, menghancurkan matanya sendiri, hingga kini masih di daerah terlarang gunung belakang akademi, tidak sadarkan diri." Yue Tingzhou berhenti sejenak, setiap kata seperti butiran es yang menghantam tanah, "Rektor Rong, peristiwa ini, catatan medis di bawah Anda seharusnya ada."
Jari-jari Rong Qiwu yang memegang penggaris giok, buku-bukunya memutih. Ia tidak berbicara, tetapi bibirnya terkunci membentuk garis kaku.
Hanya suara hujan, semakin deras, menimpa genting dengan berisik, seperti banyak tangan yang mengetuk dengan panik.
Dengan lambat ia mengangkat tangan kanan, merapikan lipatan yang sebenarnya tidak ada di lengan bajunya, gerakannya elegan seperti membersihkan guqin kuno. "Yue Tingzhou," suaranya masih stabil, bahkan membawa sedikit penyesalan, "untuk menghindari hukuman, kau cukup bersusah payah mengumpulkan banyak kasus lama dunia persilatan ini. Sayangnya, dipaksakan, penuh celah. Kematian Chen Song, ada rekannya yang bersaksi, akibat balasan mempelajari ilmu terlarang; hilangnya Zhao Ben, perompak air Teluk Bailong merajalela, arsip bertahun-t
Corak itu tak seperti tato, melainkan lebih mirip cahaya yang memancar dari bawah kulit, rumit, ganjil, berdenyut dengan irama yang membuat hati berdebar. Ia melingkar di pergelangan tangannya yang ramping, bagai rantai dingin, atau semacam cap kuno nan jahat.
"Corak ini," ucap Zhu Hanli, suaranya jernih dan dingin, dengan suara serak khas dialek selatan, namun kata per kata jelas terdengar, "di dunia persilatan disebut 'Corak Malapetaka'. Kabarnya, aku Zhu Hanli ditakdirkan menyandang kutukan kesepian, malapetaka turun dari langit."
Ia berhenti sejenak, tatapannya tiba-tiba terangkat, bagai ujung lembing yang disepuh es, menembus lurus ke Xie Wuchen.
"Kepala Utusan Xie, Anda luas pengetahuannya, menguasai masa lalu dan kini. Dapatkah Anda beri tahu semua yang hadir di sini—" Ia membalikkan pergelangannya, membuat corak biru pekat itu sepenuhnya terpapar di bawah sorot cahaya langit redup yang miring masuk dari pintu, "—mengapa 'Corak Malapetaka' ini, ketika mendekati gulungan 'Buku Takdir · Panduan Umum Pengoperasian' yang Anda peluk, cahayanya meledak dan denyutnya semakin keras?"
Belum habis ucapannya, ia sudah melangkah lebih dekat lagi ke arah singgasana tinggi tempat Xie Wuchen duduk!
Hampir bersamaan, corak biru pekat di pergelangannya itu, seolah digerakkan oleh tangan tak kasatmata, tiba-tiba menyala terang! Cahayanya bukan lagi aliran redup, melainka berkedip-kedip dan membesar dengan hebat, bagai nyala api pekat yang tertekan lama akhirnya menemukan jalan keluar, bahkan membuat separuh wajahnya memancarkan cahaya biru aneh. Jalur corak itu berputar-putar gila, mengeluarkan suara desis yang amat halus namun membuat gigi bergemeretak, seolah beresonansi dengan sesuatu yang tak terlihat.
Di pelukan Xie Wuchen, gulungan 'Buku Takdir · Panduan Umum Pengoperasian' yang disegel dengan benang emas itu, ternyata ikut mengeluarkan dengungan rendah! Rune berwarna keemasan pucat yang berputar di permukaan gulungan buku itu, tiba-tiba terhenti, lalu mulai berkedip-kedip tak menentu, frekuensi kedipannya selaras samar dengan kedipan Corak Malapetaka di pergelangan Zhu Hanli!
"Ini... apa yang terjadi?!"
"Corak itu... benar-benar merespons Buku Takdir?!"
"Sihir! Pasti sihir!"
Teriakan terkejut, suara keraguan, hardikan marah meledak. Para Pengawas Shuang Sun di belakang Xie Wuchen serentak melangkah setengah langkah ke depan, tangan menekan gagang pedang, aura pembunuhan mengeras. Namun Xie Wuchen sendiri, untuk pertama kalinya menunjukkan keheningan yang jelas.
Di mata bagai sumur tua tak berombak itu, akhirnya melintas retakan amat halus, mirip kesalahan frekuensi pada instrumen presisi. Napasnya, irama panjang yang dikendalikan sekuat tenaga, mengalami gangguan sesaat—meski hanya sekejap, Yue Tingzhou menangkapnya.
Yue Tingzhou menarik napas dalam-dalam, udara itu melewati tenggorokannya yang perih terbakar, membawa rasa besi dan keteguhan. Ia tak lagi melihat Xie Wuchen, melainkan berpaling ke para perwakilan berbagai sekte yang bingung dan ragu, suaranya lantang, menenggelamkan semua keriuhan:
Ia menunjuk pergelangan Zhu Hanli yang cahayanya meledak, setiap kata bagai palu berat: "Ini adalah tanda dari naskah induk 'Buku Takdir' terhadap 'bahan pakan' ter'unggul' yang telah disaringnya! Siapa pun yang ditandai corak ini, pria atau wanita, apapun latar belakangnya, karakter meridiannya, potensi kultivasinya, bahkan takdir dan keberuntungannya, semuanya telah dianalisis dan diarsipkan oleh 'Buku', dicatat sebagai prioritas 'panenan'!"
Ia menoleh tajam, kembali menatap Xie Wuchen, sorot matanya bagai kilat: "Kepala Utusan Xie! Anda mengoperasikan buku ini bertahun-tahun, sungguh tak tahu? Atau sengaja melakukannya, atas nama tata tertib dunia persilatan, menjalankan praktik memelihara bahan pakan?!"
Bunyi renyah papan nama pinggang menghantam batu hijau, bagai paku es menusuk udara yang beku.
"Papan nama ini," suara Yue Tingzhou menenggelamkan semua keriuhan, kata per kata jelas, "adalah bu
Di balik papan nama itu, terdengar dengungan resonansi yang sangat halus namun membuat semua orang yang berkultivasi di atas Tingkat Mendengar Nafas merinding. Suara itu tidak seperti logam, melainkan lebih mirip getaran organ tubuh hidup yang tersentuh.
"Kepala Pelaksana Xie," suara Zhu Hanli dengan aksen khas selatan yang sedikit serak, kini bagai jarum yang dibekukan dalam es, "Gulungan 'Pedoman Operasional' yang Anda genggam di pelukan, itu adalah salah satu dari tiga salinan replika dari cetakan asli 'Cermin Poros', bukan?"
"Pola ini," Zhu Hanli mengangkat pergelangan tangannya, membiarkan cahaya biru kehijauan itu berputar perlahan di hadapan semua orang, "di dunia persilatan disebut 'Pola Malapetaka', dikatakan sebagai bekas yang tertinggal karena saya menggunakan energi malapetaka untuk memurnikan tubuh. Setengah benar, setengah salah."
Ia berhenti sejenak, pandangannya tajam bagai pisau, menatap Xie Wuchen.
"Yang benar, pola ini memang lahir karena 'malapetaka'. Tujuh tahun lalu, saat Biro Pengawalan Wanjing mengangkut kumpulan cetakan 'Cermin Poros' itu menuju Akademi Heting, pengawal utamanya, ayahanda saya, Zhu Chengying, tewas mendadak di Lereng Luoyan. Jasadnya tidak terluka, hanya ada satu titik bekas bakar di tengah dahi, meridiannya kering seluruhnya, seolah disedot habis."
Suaranya sangat stabil, stabil sampai membuat hati orang merinding.
"Yang salah, pola ini bukan hasil latihan saya yang sengaja menarik energi malapetaka." Zhu Hanli mengucapkan kata demi kata dengan jelas, "Melainkan, pada saat ayahanda saya tewas, 'cap induk' yang tersegel di dalam cetakan itu merasakan bakat 'Jiuyin Hanpo' dalam tubuh saya, lalu meledak keluar sendiri, menyerang tubuh saya dan meninggalkan bekas ini!"
"Omong kosong!" Sesepuh Qingcheng yang berjanggut dan berambut putih itu tiba-tiba berdiri sambil menepuk meja, cangkir teh di atasnya melompat, menyemburkan air teh yang mendidih, "'Kitab Takdir' adalah alat publik dunia persilatan, yang menjaga tata pernikahan dan etika, mana mungkin melakukan ilmu sesat seperti itu?!"
"Ilmu sesat?" Yue Tingzhou menyambung, suaranya tidak tinggi namun meredam keriuhan, "Kalau begitu saya bertanya pada sesepuh, dalam sepuluh tahun terakhir, di dunia persilatan, setelah kontrak pernikahan 'kecocokan tinggi' ditandatangani, ada empat puluh tujuh kasus di mana salah satu atau kedua pihak tiba-tiba tewas, kultivasi mereka hancur total, bahkan seluruh sekte kecil musnah dalam semalam. Arsip Departemen Henglü mencatatnya, catatan daerah berbagai prefektur juga menyebutkannya secara sporadis. Lalu, semua ini disebut apa?"
Pandangannya beralih ke Xie Wuchen, nada suaranya tiba-tiba menjadi sangat sopan, sopan sampai hampir menantang: "Kepala Pelaksana Xie telah mengoperasikan 'Kitab Takdir' selama sepuluh tahun, pasti sudah lama menghitung 'kebetulan' semacam ini. Bagaimana kalau Anda buka halaman ketujuh dari gulungan 'Pedoman Operasional' Anda, bagian 'Rencana Cadangan untuk Konsumsi dan Pengisian Bahan Bakar', lalu bacakan untuk hadirin?"
Bukan kemarahan, melainkan pengamatan dingin seperti instrumen presisi yang mendeteksi variabel di luar rencana. Cincin giok hijau di lengan bajunya berhenti berputar.
"Yue Tingzhou, Zhu Hanli." Ia perlahan membuka mulut, setiap kata seolah dikeluarkan dari ruang es, "Kalian berdua saling bersahut-sahutan, mengarang kebohongan yang mengejutkan ini, mencemari reputasi bersih 'Kitab Takdir', menggoyahkan fondasi dunia persilatan. Niat kalian patut dihukum mati."
"Karena kalian terus-menerus menyebut bukti, biarlah bukti yang berbicara." Xie Wuchen menatap pegawai Departemen Henglü, Ding Xueqiao, yang terus-menerus gemetar ketakutan, "Pegawai Ding, tadi Anda menuduh Yue Tingzhou memalsukan cap dan berkhianat. Sekarang, di hadapan para sesepuh, beranikah Anda menggunakan '