Bab 10: Gema di Atas Gelombang
Kayu tua kapal *Bintang Timur* mengerang pelan di bawah pijakan Bimo Satrio, sebuah protes mekanis terhadap arus bawah Laut Banda yang liar. Getaran mesin diesel merambat melalui sol sepatunya, mengirimkan denyut konstan yang seolah menyatu dengan detak jantungnya sendiri. Angin malam yang membawa partikel garam tajam menghantam wajah, menyusup ke celah kerah jaket tahan airnya yang mulai terasa lembap. Bimo berdiri mematung di dekat buritan, jemarinya mencengkeram pagar besi yang dingin dan licin oleh embun laut. Di bawah sana, buih putih hasil adukan baling-baling membelah permukaan air yang sehitam tinta, menciptakan kontras yang menyakitkan mata di tengah kegelapan total.
Pikirannya terpaku pada koordinat yang tersimpan di dalam benak, sebuah titik imajiner di peta yang kini terasa seperti magnet raksasa. Bimo mengulurkan tangan yang sedikit gemetar, menyentuh deretan tabung oksigen yang terikat rapi pada rak besi di dinding geladak. Logam silinder itu terasa beku, mengirimkan sensasi ngilu yang merambat hingga ke pangkal lengan, namun dia tidak menarik tangannya. Dia mulai memeriksa regulator satu per satu, memutar katup dengan gerakan presisi yang sudah terpatri dalam memori ototnya selama bertahun-tahun. Jarum pada manometer menunjukkan angka dua ratus bar, diam tak bergerak, memberikan kepastian matematis di tengah ketidakpastian alam.
Napas Bimo menjadi lebih berat saat dia menatap kegelapan cakrawala yang seolah menelan seluruh cahaya dunia. Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan tabung, sebuah ritme gelisah yang gagal dia redam meski wajahnya tampak setenang permukaan danau. Setiap kali kelopak matanya terpejam, memori tentang ayahnya menyeruak kembali—bayangan seorang pria yang ditelan oleh kegelapan air yang sama persis seperti ini. Apakah dia sedang meniti jalan menuju kebenaran, ataukah dia hanya sedang menggali kuburan untuk dirinya sendiri? Mesin di bawah kakinya terus menderu rendah, sebuah detak jantung mekanis yang menjadi satu-satunya bukti bahwa mereka masih bernapas di tengah kekosongan yang luas ini.
"Peralatan itu tidak akan lari ke mana-mana, Mas Bimo."
Suara itu memotong keheningan, disusul oleh aroma pedas-manis jahe yang seketika mengusir bau solar yang menyesakkan. Dara Puspita berdiri beberapa langkah di belakangnya, kedua tangannya menggenggam cangkir kaleng yang mengepulkan uap putih ke udara malam. Cahaya jingga dari lampu badai yang berayun di langit-langit geladak menciptakan bayangan panjang yang mempertegas garis rahangnya yang keras. Dara melangkah maju dengan langkah yang mantap, tubuhnya miring mengikuti goyangan kapal dengan keseimbangan alami seorang pelaut kawakan.
Bimo memutar tubuhnya perlahan, berusaha menenangkan gejolak di dadanya agar suaranya tetap stabil saat berbicara. "Nggih, Mbak Dara. Saya hanya ingin memastikan bahwa tidak akan ada kendala teknis saat kita turun besok pagi."
Dara mengangsurkan salah satu cangkir kepadanya dengan gerakan yang lugas. "Minumlah ini selagi panas. Jahe merah buatan Mbak Lastri memiliki reputasi yang baik untuk mengusir bisikan-bisikan pengganggu yang sering muncul saat laut sedang sepi begini."
Bimo menerima cangkir itu, membiarkan panasnya meresap ke dalam telapak tangannya yang mulai mati rasa karena kedinginan. Aroma jahe dan gula merah yang kuat menusuk indra penciumannya, memberikan rasa hangat yang menjalar hingga ke ulu hati. Dia menyesap cairan panas itu, membiarkan rasa pedasnya membakar tenggorokan dan memaksa paru-parunya untuk mengembang lebih lebar. "Terima kasih, Mbak. Sepertinya saya memang membutuhkan sesuatu untuk tetap berpijak di sini."
Dara menyandarkan punggungnya pada pagar kapal, matanya menatap tajam ke arah haluan di mana kegelapan seolah tidak memiliki batas. "Anda terlihat seperti seorang navigator yang kehilangan kompas di tengah badai, Mas Bimo. Terlalu banyak variabel yang Anda kunci di dalam kepala."
"Saya hanya tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun dalam misi ini," jawab Bimo sambil mengamati riak teh di cangkirnya yang mengikuti irama gelombang. "Logika saya mengatakan bahwa semua persiapan kita sudah maksimal, namun ada sesuatu di dalam sini yang terus berteriak agar saya tetap waspada."
Dara terkekeh, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan kayu tua yang kering namun penuh dengan keyakinan. "Dalam dunia penerbangan atau saat aku mengemudikan kapal selam, insting adalah satu-satunya instrumen yang tetap menyala saat semua sistem listrik padam. Namun, jika kau membiarkan insting itu bermutasi menjadi ketakutan, kau sudah tenggelam bahkan sebelum kakimu menyentuh air."
Bimo terdiam, membiarkan suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal mengisi celah di antara percakapan mereka. Dia merasa sangat kecil di hadapan bentangan Samudra Nusantara yang seolah memiliki nyawanya sendiri. "Mbak Dara, apakah Anda pernah berpikir bahwa mungkin ada alasan mengapa sejarah ini tetap terkubur? Bagaimana jika apa yang kita gali besok hanya akan membuka luka yang seharusnya sudah mengering?"
Dara tidak segera memberikan tanggapan atas pertanyaan itu. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Warnanya cokelat tua, dengan ujung-ujung kertas yang sudah rapuh dan berubah warna menjadi kekuningan karena usia. Dia membukanya dengan sangat hati-hati, seolah-olah setiap lembarannya adalah sayap kupu-kupu yang bisa hancur hanya dengan satu sentuhan kasar.
"Kemarilah, Mas Bimo," ujar Dara dengan nada yang lebih rendah namun penuh wibawa.
Bimo melangkah mendekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan di bawah temaram lampu badai. Di dalam buku itu, dia melihat sketsa-sketsa rumit yang digambar dengan tinta hitam yang mulai memudar. Ada gambar artefak berbentuk cakram dengan simbol-simbol aneh yang menyerupai rasi bintang, dikelilingi oleh catatan kaki dalam tulisan tangan yang miring namun sangat tegas. Bau kayu cendana yang samar tercium dari sela-sela halaman, bercampur dengan aroma amis laut yang abadi.
"Ini adalah warisan ayahku," Dara menjelaskan, ujung jarinya menelusuri garis-garis sketsa itu dengan penuh penghormatan. "Beliau menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk memetakan hubungan antara navigasi kuno dan pola arus bawah laut di wilayah ini. Beliau sangat percaya bahwa leluhur kita tidak hanya sekadar mengapung di atas air, melainkan mereka memahami rahasia yang tersembunyi di kedalaman."
Bimo menyipitkan mata, mencoba menerjemahkan simbol yang ditunjuk oleh Dara dengan pengetahuan akademisnya. "Simbol ini... polanya sangat mirip dengan sirkulasi termohalin yang saya pelajari saat riset. Bagaimana mungkin masyarakat kuno memiliki pemahaman sedalam ini tanpa bantuan teknologi satelit?"
"Itulah letak kekeliruan Anda, Mas Bimo," Dara menutup buku itu dengan suara *pluk* yang berat. "Anda melihat sejarah sebagai tumpukan tulang dan debu yang sudah tidak bernyawa. Bagiku, sejarah itu seperti arus laut yang tidak pernah berhenti mengalir. Dia terus bernapas di bawah kita, memberikan arah pada perjalanan kita hari ini, meskipun kita sering kali terlalu angkuh untuk mengakuinya."
Bimo merasakan rahangnya mengeras, sebuah reaksi fisik terhadap argumen yang menantang dasar pemikirannya. Dia ingin membantah, ingin menegaskan bahwa data empiris adalah satu-satunya jangkar yang bisa diandalkan dalam misi berbahaya seperti ini. Namun, saat dia melihat binar di mata Dara yang memantulkan cahaya lampu badai, kata-katanya tertahan di kerongkongan. Ada sebuah api determinasi di sana, sebuah energi yang murni dan tak tergoyahkan.
"Ayah saya hilang karena mengejar sejarah ini, Mbak," bisik Bimo, suaranya hampir tertelan oleh deru angin yang semakin kencang. "Beliau mengejar sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh rumus fisika mana pun, dan laut menuntut nyawanya sebagai bayaran. Saya hanya takut sejarah sedang mempersiapkan panggung yang sama untuk kita."
Dara memutar tubuhnya, kini menghadap Bimo sepenuhnya dengan jarak yang sangat dekat. Bimo bisa melihat butiran air laut yang menempel pada bulu mata perempuan itu, berkilau seperti permata kecil di bawah lampu. "Laut tidak pernah mengambil apa pun tanpa memberikan sesuatu sebagai gantinya, Mas. Mungkin ayahmu tidak benar-benar hilang. Mungkin beliau sudah mencapai tujuannya, dan sekarang adalah giliranmu untuk melangkah lebih jauh."
Sentuhan tangan Dara di lengan Bimo terasa hangat, sebuah kontras yang tajam dengan udara malam yang menusuk. Bimo merasakan kekakuan di pundaknya perlahan meluruh, seperti es yang mulai retak di bawah sinar matahari. Dia menyadari bahwa selama ini dia memandang misi ini sebagai beban yang harus dipikulnya sendiri, sebuah bentuk penebusan dosa atas kegagalan masa lalu yang terus menghantuinya.
"Bagaimana Anda bisa memiliki keyakinan sebesar itu?" tanya Bimo dengan suara yang lebih lembut.
Dara memberikan senyuman tipis yang penuh dengan pengertian, meskipun matanya tetap menyimpan ketegasan. "Karena aku juga sedang melarikan diri dari bayang-bayang, Mas. Namun di tengah laut lepas ini, tidak ada tempat untuk bersembunyi di balik dinding. Kau harus berani menghadapi ombaknya, atau kau akan hancur bersamanya. Kita semua di kapal ini membawa luka, namun luka itulah yang menjadi kompas kita untuk tahu ke arah mana harus berlayar."
Bimo mengangguk perlahan, sebuah pengakuan bisu yang terasa melegakan di dadanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka angkat sauh dari pelabuhan, dia merasa benar-benar menjadi bagian dari kesatuan ini. Dia bukan lagi sekadar ilmuwan bayaran yang dingin, melainkan seorang manusia yang berbagi tujuan yang sama dengan kru lainnya. Keheningan laut yang tadinya terasa mengancam kini berubah menjadi ruang luas yang penuh dengan kemungkinan.
"Nggih," ujar Bimo akhirnya. "Mungkin sudah saatnya saya berhenti menatap kaca spion dan mulai fokus pada apa yang ada di bawah kaki kita."
Dara menepuk bahunya sekali lagi sebelum berbalik menuju ruang kemudi. "Bagus. Sekarang habiskan jahemu dan segera beristirahat. Besok aku membutuhkan otak oseanografermu dalam kondisi terbaik. Aku tidak ingin kapalku menabrak dinding karang hanya karena pilotnya sedang melamunkan masa lalu."
Bimo memperhatikan punggung Dara yang menjauh, langkahnya tetap stabil meskipun kapal bergoyang lebih hebat saat ombak besar menghantam lambung. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara laut yang bersih memenuhi paru-parunya, merasakan keberanian yang mulai mengalir di pembuluh darahnya. Dia kembali menatap ke arah laut, namun kali ini matanya tidak mencari bayangan ayahnya, melainkan mencari pola-pola di permukaan air untuk membaca pesan yang dikirimkan oleh arus.
Di kejauhan, kilat menyambar di cakrawala, menerangi awan gelap untuk sepersekian detik dan memperlihatkan betapa luasnya medan pertempuran mereka. Bimo menghabiskan sisa teh jahenya, merasakan kehangatan terakhir yang tersisa di dasar cangkir. Dia baru saja akan melangkah menuju kabinnya saat sebuah suara asing menembus deru angin dan mesin.
*Bip. Bip. Bip.*
Suara itu berasal dari arah ruang kemudi, nadanya cepat dan tidak beraturan, memicu alarm bahaya di dalam kepala Bimo. Dia membeku di tempat, detak jantungnya tiba-tiba berpacu kencang seolah-olah sebuah jam pasir telah dibalik. Dia sangat mengenal frekuensi itu—suara sonar yang mendeteksi keberadaan objek yang tidak seharusnya berada di jalur mereka. Tanpa membuang waktu, Bimo berlari menuju ruang kemudi, melewati pintu geser besi dengan sekali sentakan kuat.
Di dalam, Meiling Wijaya duduk kaku di depan monitor, wajahnya tampak pucat pasi di bawah siraman cahaya biru layar. Jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, sementara keningnya berkerut dalam konsentrasi yang penuh kecemasan.
"Mei, apa yang terjadi?" tanya Bimo, suaranya terdengar parau karena ketegangan yang tiba-tiba memuncak.
Meiling tidak menoleh sedikit pun, matanya terpaku pada titik merah yang berkedip-kedip di layar radar. "Loh, Mas Bimo! Lihat ini. Ada sinyal kuat di kedalaman empat ratus meter. Ini bukan gangguan alam atau kawanan ikan, polanya terlalu simetris dan konsisten."
Dara, yang baru saja sampai di depan konsol utama, segera berdiri di samping Meiling dengan wajah serius. "Tunjukkan padaku datanya, Mei. Apakah ada kemungkinan ini hanya anomali termal karena perbedaan suhu air?"
"Bukan, Mbak Dara," suara Meiling sedikit bergetar saat dia memperbesar tampilan layar. "Ini adalah pantulan dari material logam. Ukurannya sangat besar. Dan yang lebih mengerikan... dia sepertinya bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kapal kita, menjaga jarak yang konstan."
Bimo merasakan sensasi dingin seolah es terbentuk di dalam pembuluh darahnya. Dia mendekat ke layar, menganalisis titik merah itu dengan saksama menggunakan seluruh kemampuan analitisnya. Namun, semakin dia memperhatikan pola gerakan titik tersebut, semakin dia menyadari bahwa ini bukan fenomena laut yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Sesuatu di bawah sana sedang mengawasi mereka, mengikuti setiap pergerakan *Bintang Timur* dengan kesabaran yang menakutkan.
"Silas! Bang Ucok!" teriak Dara ke arah interkom dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah. "Semua kru ke ruang kemudi sekarang juga! Kita punya tamu yang tidak diundang di bawah lambung kapal."
Suara langkah kaki berat segera terdengar dari lorong kapal, disusul oleh kemunculan Silas Papare yang masih mengenakan kaos dalam, wajahnya tampak waspada dan siap bertindak. Bang Ucok menyusul di belakangnya dengan raut muka tegang, kehilangan selera humor yang biasanya selalu dia bawa. Mereka semua berkumpul di ruang yang sempit itu, dikelilingi oleh instrumen yang terus mengeluarkan bunyi peringatan yang memekakkan telinga.
"Apa yang terjadi, Kaka?" Silas bertanya sambil menatap tajam ke arah monitor.
"Sesuatu sedang membuntuti kita dari kedalaman," jawab Dara singkat, tangannya mulai memainkan tuas kendali untuk menyesuaikan posisi kapal. "Mei, coba kunci koordinatnya dan lakukan pemindaian pasif. Aku ingin tahu apakah ini kapal selam militer atau sesuatu yang lain."
"Sedang dicoba, Mbak! Tapi sinyalnya sangat aneh, seolah-olah ada enkripsi frekuensi yang menutupi identitas aslinya," jawab Meiling dengan nada panik yang mulai merayap naik.
Bimo menatap ke luar jendela ruang kemudi, menembus kegelapan air yang kini terasa jauh lebih mengancam daripada sebelumnya. Dia teringat kata-kata Dara tentang sejarah yang bernapas di bawah mereka. Apakah ini adalah bagian dari rahasia yang mereka cari, ataukah ini adalah unit pengejar dari Samudra Nusantara Corp yang telah berhasil melacak posisi mereka? Rasa takut yang tadinya hanya berupa bayangan kini mewujud nyata, merayap di punggungnya seperti sentuhan tangan dingin dari dasar samudra.
Bimo mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan tanggung jawab yang besar menekan bahunya. Namun kali ini, dia tidak merasa sendirian dalam menghadapi ancaman tersebut. Dia memiliki tim yang solid di sekelilingnya, dan dia memiliki keyakinan baru yang baru saja tumbuh di geladak tadi.
"Mbak Dara, lihat itu!" Meiling menunjuk ke sudut layar dengan jari yang gemetar.
Titik merah itu tiba-tiba berhenti bergerak, diam mematung di kedalaman tepat di bawah posisi *Bintang Timur*. Suasana di ruang kemudi seketika menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara napas mereka yang memburu dan bunyi detak sonar yang semakin melambat. Seolah-olah pemangsa di bawah sana sedang menahan napas, menunggu saat yang paling tepat untuk menerkam mangsanya.
"Dia berhenti," bisik Bang Ucok, suaranya yang berat terdengar serak karena ketegangan. "Bah! Apa dia sedang menunggu kita untuk turun ke bawah?"
Dara menatap Bimo, sebuah tatapan yang penuh dengan pertanyaan sekaligus tantangan yang tajam. "Mas Bimo, ini adalah wilayah keahlianmu. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan dalam situasi seperti ini?"
Bimo menatap layar itu sekali lagi, lalu beralih menatap laut lepas yang gelap gulita. Hatinya bergejolak, namun dia memaksakan dirinya untuk tetap tenang dan berpikir jernih. "Kita tetap pada rencana awal," ujar Bimo dengan suara yang mantap dan tegas. "Kita akan turun besok pagi sesuai jadwal. Jika sejarah memang ingin berbicara kepada kita, maka kita harus berada di sana untuk mendengarkannya."
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Bimo bertanya-tanya apakah mereka benar-benar siap untuk menghadapi apa yang menanti di kegelapan abadi di bawah sana. Sonar terus berbunyi, sebuah gema yang memantul di antara harapan dan ketakutan, menandai awal dari babak baru yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Kapal *Bintang Timur* terus melaju membelah ombak yang semakin besar, sementara di bawah sana, siluet logam misterius itu tetap setia mengikuti seperti bayangan yang tak terpisahkan.
Bimo kembali ke geladak sejenak, menatap pagar besi yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Dia tahu bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali ke belakang. Peta sudah dibentangkan, mesin sudah menderu, dan takdir sudah ditetapkan di titik koordinat tersebut. Kini tinggal menunggu waktu sampai mereka benar-benar menyentuh dasar laut dan menghadapi misteri yang telah menunggu selama puluhan tahun.
Angin laut bertiup lebih kencang, membawa pesan-pesan tak terdengar dari masa lalu yang kini terasa begitu dekat di depan mata. Bimo memejamkan mata, mencoba merasakan denyut nadi samudra di bawah pijakan kakinya. Dia tidak lagi merasa seperti orang asing di atas kapal ini; dia adalah bagian dari arus yang akan membawa mereka menuju kebenaran atau kehancuran total.
"Siapkan semua sistem penyelaman, Mei," suara Dara terdengar dari dalam ruang kemudi, tegas dan tidak memberikan ruang untuk keraguan. "Kita tidak akan membiarkan apa pun menghalangi langkah kita sekarang."
Bimo menarik napas dalam, merasakan keberanian yang perlahan mengalir di pembuluh darahnya, menggantikan rasa takut yang sempat melumpuhkannya. Dia tahu bahwa esok hari akan menjadi momen paling menentukan dalam hidupnya, dan dia bersumpah tidak akan membiarkan laut mengambil siapa pun lagi dari sisinya. Kapal terus bergerak maju, meninggalkan jejak buih yang perlahan menghilang ditelan kegelapan, menuju koordinat yang akan menjadi saksi bisu pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
Di ruang kemudi, lampu-lampu indikator terus berkedip, menjadi saksi bisu atas ketegangan yang menyelimuti seluruh kru. "Apapun itu," bisik Dara sendirian di depan kemudi, "jangan pernah coba-coba menyentuh kapalku." Suara mesin diesel terus berdenyut, menjadi lagu pengantar tidur yang penuh dengan ketidakpastian di tengah luasnya samudra yang tak bertepi. Dan di bawah sana, titik merah itu terus berkedip, sebuah mata yang tak pernah terpejam di kegelapan abadi yang menunggu untuk dipecahkan. Bimo melangkah ke geladak, mencari udara segar di bawah langit malam yang pekat dan lembap. Di sana, Siti berdiri mematung di dekat pagar, menatap cakrawala seolah sedang membaca peta rahasia yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri. Bimo mendekat perlahan, membiarkan keraguan yang sedari tadi menggerogoti batinnya tumpah di antara deru mesin diesel yang konstan.
"Siti, apakah menurutmu misi ini benar-benar sepadan dengan segala risikonya?" tanya Bimo dengan nada rendah, matanya terpaku pada buih putih yang tersapu di sisi lambung kapal. "Aku merasa kita seperti pengemudi yang nekat melaju di jalanan berkabut tanpa lampu depan. Bagaimana jika yang kita temukan di bawah sana bukan jawaban, melainkan kehancuran yang lebih besar bagi kita semua?"
Siti menoleh perlahan, sorot matanya setenang permukaan air teluk yang terlindung. "Mas Bimo, perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain seperti mesin," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Bagi kami, laut adalah sejarah yang bernapas. Ia bukan fosil mati di dalam museum, melainkan sebuah entitas yang terus tumbuh dan menyimpan memori dalam setiap molekul garamnya. Kita tidak sedang menggali kuburan, kita sedang mencoba mendengarkan detak jantung masa lalu yang masih berdenyut."
Bimo tertegun, merasakan perspektif baru itu meresap ke dalam logikanya yang kaku. Tanpa disadari, Siti menggeser posisinya hingga bahu mereka bersentuhan ringan saat mereka menatap kegelapan samudra. Interaksi fisik yang sederhana itu memberikan kehangatan tak terduga bagi Bimo, seolah-olah beban berat di pundaknya sedikit terangkat oleh kehadiran rekan di sisinya.
"Ajari aku melihatnya seperti itu," bisik Bimo, menoleh ke arah Siti. "Tunjukkan padaku bagaimana cara membaca tanda-tanda alam yang tidak bisa ditangkap oleh sensor digital atau satelit canggih milik kita."
Siti tersenyum tipis, lalu meraih tangan Bimo dan menempelkannya pada pagar besi kapal yang bergetar halus. "Rasakan denyut mesin yang beradu dengan perlawanan arus di bawah sana, Mas. Di situlah letak ceritanya, sebuah dialog abadi antara manusia dan semesta."
Saat mereka terdiam menikmati momen tersebut, sonar di ruang kemudi tiba-tiba mengeluarkan bunyi bip yang cepat dan tidak beraturan.