Bab 20: Gema di Kedalaman
Uap mengepul dari bibir termos perak yang permukaannya penuh dengan bopeng dan goresan dalam. Bimo Satrio mendekatkan wadah itu ke wajahnya, membiarkan uap cokelat panas yang pekat menyapu indra penciumannya sebelum menyesapnya perlahan. Cairan kental itu meluncur melewati kerongkongannya, menyebarkan kehangatan yang perlahan mengusir sisa-sisa gigilan akibat dekapan air laut yang membeku. Di sisinya, Dara Puspita menyandarkan punggung pada pilar kristal yang memancarkan pendar biru pucat ke seluruh penjuru ruangan. Napas perempuan itu mengalun dalam ritme yang terjaga, sementara matanya terus menyapu langit-langit kubah yang melengkung megah di atas mereka.
"Ternyata Ibu Lastri memang tidak pernah mengecewakan dalam urusan logistik perut kita," ujar Dara dengan nada rendah yang bergetar halus. Dia menerima cangkir plastik yang disodorkan Bimo, jemarinya yang ramping melingkari permukaan wadah yang memberikan rasa nyaman. "Secangkir cokelat ini memberikan sensasi seolah rumah sedang berada sangat dekat dengan kita saat ini."
Bimo mengangguk pelan, jemarinya menaikkan letak kacamata yang sedikit melorot akibat keringat dingin. "Dahulu, Mas Surya sering menekankan bahwa glukosa dan aroma cokelat adalah stimulan terbaik bagi otak yang mulai kehilangan fokus. Kita telah menempuh jarak yang cukup menguras energi hari ini, Dara."
Pandangan Bimo kemudian tertambat pada pusat ruangan, tempat sebuah struktur mekanis kuno berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi. Di puncaknya, sebuah cakram dengan ukiran geometris yang rumit berpendar dalam irama yang lambat, seolah sedang bernapas. Benda itu adalah Core Drive, sebuah mahakarya teknologi yang menjadi alasan utama mereka mempertaruhkan nyawa di kedalaman ini. Keheningan di ruang utama ini terasa begitu padat, memberikan kesan bahwa setiap detik yang berlalu adalah penghormatan bagi peradaban yang telah terkubur ribuan tahun. Dengung rendah dari mesin-mesin kuno yang masih aktif mengisi kekosongan suara, menciptakan harmoni yang lebih menyerupai detak jantung bumi daripada deru mesin buatan manusia.
"Apakah Anda yakin kita memiliki kapasitas untuk membawanya kembali ke permukaan?" tanya Dara kemudian. Dia memutar-mutar cangkirnya, mengamati pantulan cahaya biru yang menari di atas permukaan cokelatnya yang mulai mendingin. "Maksud saya, masyarakat di atas sana mungkin belum memiliki kesiapan mental untuk menghadapi penemuan sebesar ini."
Bimo terdiam sejenak, merasakan beban tak kasat mata yang menekan pundaknya saat menatap cakram tersebut. "Tanggung jawab kita terbatas pada pembuktian kebenaran ilmiah, Dara. Mengenai bagaimana dunia akan bereaksi, hal tersebut berada di luar yurisdiksi kita sebagai peneliti. Namun, seluruh catatan penelitian ayah saya merujuk pada titik ini."
Dara menyunggingkan senyum tipis, sebuah ekspresi langka yang seketika melunakkan garis-garis tegas di wajahnya. "Seorang pilot kapal selam dan seorang oseanografer yang terobsesi pada masa lalu. Kita memang merupakan kombinasi tim yang cukup tidak lazim, bukan?"
Kehangatan dari percakapan singkat itu seketika menguap saat pergelangan tangan Bimo bergetar dengan frekuensi yang mengganggu. Sensor pada jam pintarnya menyala merah terang, memancarkan peringatan frekuensi rendah yang menciptakan rasa nyut-nyutan di gendang telinganya. Bimo segera meletakkan termosnya ke atas lantai marmer yang dingin tanpa memedulikan suaranya yang berdenting. Jantungnya mulai memukul rongga dada dengan keras, menciptakan sensasi sesak yang datang secara tiba-tiba.
"Dara, ada sesuatu yang sedang mendekati posisi kita," bisik Bimo dengan nada yang sarat akan urgensi.
Belum sempat Dara memberikan tanggapan, sebuah dentuman yang memekakkan telinga mengguncang fondasi seluruh ruangan. Suara logam yang terpelintir dan robek bergema dari arah gerbang utama, diikuti oleh runtuhnya material bangunan. Pintu baja tebal yang menjadi pertahanan terakhir mereka hancur berkeping-keping, terlempar ke dalam oleh kekuatan kinetik yang sangat masif. Bau ozon yang tajam dan aroma mesiu yang menyengat segera merangsek masuk, menenggelamkan aroma cokelat yang tadi sempat memberikan ketenangan.
Bimo bergerak dengan kegesitan yang dipicu oleh lonjakan adrenalin. Dia menyambar tablet data di dekatnya, menyisipkannya ke dalam saku rahasia di balik jaket tahan airnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya sempat melirik Core Drive yang masih terpasang kuat di pilar, namun dia menyadari bahwa mencoba melepaskannya sekarang adalah tindakan yang ceroboh.
"Segera berlindung di balik pilar utama!" perintah Bimo dengan suara yang ditekan. Dia menarik lengan Dara, menuntunnya menuju kegelapan yang tercipta oleh bayangan struktur kristal raksasa.
Asap putih membubung tinggi dari reruntuhan pintu, disusul oleh kilatan lampu merah yang menyapu dinding-dinding ruangan dengan liar. Suara langkah sepatu bot berat yang menghantam lantai marmer menciptakan irama yang teratur sekaligus mengancam jiwa. Dari balik kabut asap yang mulai menipis, muncul sosok-sosok yang menyerupai prajurit dari masa depan. Mereka mengenakan eksoskeleton logam hitam mengkilap yang menutupi seluruh tubuh dengan pelat baja berlapis. Kabel-kabel hidrolik pada sendi mereka mendesis setiap kali kaki mereka menapak, menciptakan getaran yang terasa hingga ke tulang rusuk Bimo.
Pasukan Sindikat telah berhasil menembus perimeter mereka. Mereka masuk dengan formasi tempur yang sangat disiplin, moncong senjata plasma mereka menyapu setiap jengkal ruangan dengan presisi mematikan. Di tengah barisan, seorang pria dengan unit eksoskeleton yang lebih masif dan kompleks melangkah maju dengan penuh otoritas. Helmnya terbuka secara mekanis, menampakkan wajah yang keras dengan bekas luka permanen yang melintang di pipi kirinya. Matanya menatap sekeliling dengan dingin, mencerminkan kekosongan yang menyerupai dasar samudra terdalam.
"Komandan Drazen," desis Dara dengan gigi yang bergemeletuk akibat amarah yang meluap.
Bimo menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh kepanikan yang mulai menguasai pikirannya. Dia memahami bahwa menghadapi pasukan bersenjata lengkap dengan tangan kosong adalah sebuah kesia-siaan yang fatal. Dengan perlahan, dia melangkah keluar dari balik bayangan pilar, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menunjukkan ketiadaan senjata.
"Hentikan tindakan kalian!" teriak Bimo, suaranya memantul di antara pilar-pilar kristal dan menciptakan gema yang panjang. "Kalian sedang melakukan invasi ilegal di dalam situs arkeologi yang berada di bawah perlindungan hukum internasional!"
Langkah kaki Drazen terhenti seketika. Dia menatap Bimo dengan pandangan meremehkan, seolah-olah pria di hadapannya hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti. Suara mekanis dari langkah kakinya kembali terdengar saat dia mendekat, setiap dentuman logam di atas marmer terasa seperti hantaman godam pada kesadaran Bimo.
"Hukum internasional?" Drazen melepaskan tawa parau yang terdengar kasar di telinga. "Di kedalaman ribuan meter ini, hukum yang diciptakan manusia di atas sana tidak memiliki kekuatan apa pun, Tuan Satrio. Di sini hanya berlaku hukum kepemilikan, dan mulai detik ini, seluruh tempat ini adalah properti milik Samudra Nusantara Corp."
Drazen memberikan isyarat singkat dengan jarinya. Dua prajurit di sampingnya segera merangsek maju, mengarahkan laras senjata mereka tepat ke arah dada Bimo. Cahaya merah dari bidikan laser menempel pada jaket Bimo, bergerak-gerak mengikuti ritme napasnya yang tidak beraturan.
"Kalian tidak memiliki hak hukum maupun moral atas teknologi ini," protes Bimo, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar meskipun lututnya terasa lemas. "Ini adalah warisan bagi seluruh umat manusia, bukan sekadar komoditas untuk diperjualbelikan oleh Bang Togar."
"Bang Togar mengirim saya ke sini bukan untuk berdebat mengenai etika arkeologi," balas Drazen dengan nada yang sedingin es. Dia berjalan mengelilingi pilar pusat, matanya terpaku pada Core Drive yang terus berpendar keemasan. "Beliau menginginkan sumber energi ini, dan beliau akan mendapatkannya, terlepas dari apakah Anda memilih untuk bekerja sama atau tidak."
Dara muncul dari balik pilar dengan wajah yang memerah akibat emosi yang tertahan. "Apakah Anda berpikir bisa masuk begitu saja dan merampas apa pun yang Anda inginkan? Kapal induk kami berada tepat di atas posisi ini, dan kami telah mengirimkan koordinat lokasi ini ke otoritas pusat!"
Drazen menoleh perlahan, sebuah seringai tipis yang sarat akan kemenangan muncul di bibirnya. "Otoritas pusat? Maksud Anda Pak Hendra Suwandi? Saat ini, beliau kemungkinan besar sedang menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa ekspedisi kalian telah hilang dalam sebuah kecelakaan tragis. Tidak akan ada bantuan yang datang untuk menyelamatkan kalian, Nona Puspita."
Dara hendak melontarkan makian, namun Bimo segera memberikan isyarat tangan rahasia di balik punggungnya. Sebuah gerakan jari yang telah mereka sepakati sebelumnya: *siapkan prosedur sabotase*. Dara terdiam seketika, matanya berkilat menunjukkan pemahaman atas instruksi tersebut. Dia perlahan mundur ke dalam kegelapan, tangannya mulai meraba-raba panel kontrol kecil di dekat pilar kristal tempatnya berlindung tadi.
"Apa sebenarnya yang menjadi keinginan utama Anda, Drazen?" tanya Bimo, berusaha mengulur waktu sebanyak mungkin. "Jika ini berkaitan dengan distribusi energi, kita bisa membicarakan prosedurnya. Namun, saya mohon jangan hancurkan integritas tempat ini."
Drazen mendekati Bimo hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma napasnya yang berbau kopi pahit dan tembakau murah menusuk indra penciuman Bimo dengan tajam. "Saya menginginkan data intinya. Saya tahu Anda telah mengunduh seluruh enkripsinya ke dalam tablet Anda. Serahkan benda itu sekarang, atau saya akan membiarkan anak buah saya membersihkan ruangan ini dari semua saksi mata yang tidak diperlukan."
Dinginnya laras senjata plasma menyentuh pelipis Bimo saat salah satu prajurit mendekat. Logam itu terasa seperti es yang membakar kulitnya, memberikan sensasi maut yang sangat nyata. Bimo memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kembali bayangan wajah ayahnya untuk mencari kekuatan. Dia merasakan keberadaan Core Drive di saku rahasianya, sebuah benda kecil yang menyimpan rahasia peradaban ribuan tahun.
"Saya tidak membawanya bersama saya," bohong Bimo dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Drazen tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut. Dia justru memberikan anggukan kecil yang dingin kepada prajurit di sampingnya. "Geledah dia secara menyeluruh. Jangan biarkan satu inci pun terlewatkan dari pemeriksaan kalian."
Tangan-tangan kasar mulai merenggut pakaian Bimo dengan paksa. Mereka mengambil termos peraknya dan melemparkannya hingga isinya tumpah membasahi lantai marmer yang indah. Cokelat panas yang tadi memberikan rasa nyaman kini mengalir seperti aliran darah gelap di antara celah-celah lantai yang retak. Bimo menahan napas saat tangan prajurit itu mulai mendekati saku rahasia di balik jaketnya.
Di sudut ruangan yang gelap, Dara berhasil mencapai panel kontrol listrik darurat. Jemarinya bergerak dengan kelincahan yang luar biasa di atas permukaan kristal yang responsif terhadap sentuhan. Dia menatap ke arah Bimo, menunggu tanda final untuk mengeksekusi rencana mereka. Bimo menangkap kilatan di mata Dara, sebuah percikan keberanian yang seketika membakar habis rasa takut di dalam dirinya.
"Sekarang, Dara!" teriak Bimo dengan segenap kekuatannya.
Dara menekan urutan perintah pada panel kristal tersebut. Dalam sekejap, seluruh pencahayaan di ruang utama padam secara total. Kegelapan yang pekat menelan ruangan itu, menyisakan hanya pendar biru redup dari kristal-kristal dinding yang mulai kehilangan pasokan daya. Suara tembakan pertama memecah keheningan yang mencekam, kilatan cahayanya menerangi wajah Drazen yang tampak murka dalam sekejap mata.
"Tangkap mereka hidup atau mati!" raung Drazen di tengah kegelapan yang membingungkan.
Bimo segera merunduk, merasakan desisan peluru plasma yang melintas tepat di atas kepalanya dengan panas yang menyengat. Bau ozon semakin tajam memenuhi udara, mulai menyesakkan paru-parunya yang terengah. Dia merangkak di atas lantai yang basah oleh tumpahan cokelat, mencoba mencari arah di tengah kekacauan yang terjadi. Suara dentuman eksoskeleton yang menabrak pilar-pilar kristal bergema seperti guruh yang terperangkap di dalam gua.
"Kaka Silas! Mei!" panggil Bimo dengan suara yang ditekan agar tidak menarik perhatian musuh.
Dari arah kegelapan di sisi kanan, terdengar suara berat milik Silas Papare. "Saya berada di sini, Kaka Bimo! Ikuti arah suara saya sekarang juga!"
Bimo bergerak cepat menuju sumber suara, tangannya meraba-raba permukaan marmer yang terasa kasar akibat reruntuhan. Di belakangnya, dia bisa mendengar Drazen memberikan instruksi kepada pasukannya untuk mengaktifkan pemindai termal pada helm mereka. Dia menyadari bahwa jendela waktu mereka sangatlah sempit. Jika mereka tidak segera meninggalkan ruang utama ini, mereka akan terjebak tanpa jalan keluar.
"Mei, apakah sistem komunikasi kita masih memiliki fungsionalitas?" tanya Bimo saat dia berhasil mencapai posisi Silas.
"Bagaimana mungkin bisa jalan, Mas Bimo? Semuanya berada dalam kondisi kacau!" suara Meiling terdengar panik, namun jemarinya tetap bekerja dengan kecepatan tinggi di atas keyboard hologram kecilnya. "Sinyal pengacak mereka telah mengunci seluruh frekuensi di ruangan ini. Kita benar-benar terisolasi dari dunia luar!"
"Dara, laporkan posisi Anda!" Bimo berbisik ke arah kegelapan di sisi lain.
"Saya berada di dekat pintu keluar samping!" sahut Dara dengan nada waspada. "Namun, ada dua prajurit dengan unit eksoskeleton yang menjaga lorong tersebut. Kita membutuhkan sebuah pengalihan perhatian yang efektif!"
Bimo merogoh sakunya, memastikan Core Drive masih berada di tempatnya. Benda itu terasa hangat di telapak tangannya, seolah-olah memiliki denyut jantungnya sendiri yang berdetak seirama dengan miliknya. Dia menatap ke arah tempat Drazen berdiri, di mana lampu-lampu senter dari helm pasukan Sindikat mulai menyapu ruangan dengan cahaya yang menyilaukan.
"Silas, apakah Anda memiliki kapasitas untuk menahan pergerakan mereka sejenak?" tanya Bimo dengan nada serius.
"Pace tenang saja," jawab Silas singkat dengan nada yang mantap. Bimo bisa mendengar suara otot yang meregang, seperti pegas baja yang siap dilepaskan dari kunciannya. "Segera pergi dari sini. Saya akan memastikan mereka tetap sibuk dengan kehadiran saya."
Bimo merasakan dorongan kuat di bahunya, sebuah tanda agar dia segera bergerak menjauh. Dia merangkak dengan hati-hati, mengikuti bayangan yang tercipta oleh pilar-pilar kristal yang menjulang. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah gravitasi di tempat ini tiba-tiba meningkat berkali-kali lipat. Di belakangnya, suara benturan logam yang sangat keras pecah—Silas telah melancarkan serangannya. Teriakan prajurit Sindikat berpadu dengan dentum logam yang saling menghantam dengan kekuatan penuh. Silas memanfaatkan kekuatan fisiknya yang masif untuk menjatuhkan salah satu prajurit berbaju besi, menjadikan kegelapan total sebagai sekutu utamanya. Namun, Bimo menyadari bahwa Silas tidak akan mampu bertahan selamanya melawan teknologi tempur secanggih itu.
"Bimo! Di sebelah sini!" Dara menarik tangan Bimo dengan kuat, menuntunnya masuk ke dalam sebuah lorong sempit yang tersembunyi di samping ruang utama.
Mereka berlari menembus kegelapan, hanya mengandalkan cahaya redup dari dinding lorong yang terbuat dari material bioluminesens. Napas Bimo tersengal-sengal, dadanya terasa sesak oleh debu konstruksi dan rasa cemas yang menghimpit. Di belakang mereka, suara langkah kaki Drazen yang berat terus mengejar tanpa henti, menyerupai bayangan maut yang tidak pernah mengenal kata lelah.
"Jangan mengurangi kecepatan!" perintah Dara dengan tegas.
Mereka tiba di sebuah persimpangan lorong yang membingungkan. Bimo berhenti sejenak, mencoba memanggil kembali peta digital yang sempat dia pelajari di tabletnya. Namun, pikirannya terasa buntu, seperti roda gigi mekanis yang terkunci pada posisinya. Dia menoleh ke belakang dan melihat kilatan lampu senter yang semakin mendekati posisi mereka.
"Ambil jalur kiri! Kita menuju ke arah ruang mesin pusat!" teriak Meiling yang berlari di barisan depan.
Mereka berbelok dengan tajam, hampir menghantam dinding kristal yang keras. Ruangan di hadapan mereka kini dipenuhi oleh jaringan pipa besar yang mengalirkan cairan bercahaya biru elektrik. Suara dengung di area ini jauh lebih intens, menciptakan getaran frekuensi rendah yang bisa dirasakan hingga ke ujung jari kaki.
"Kita harus segera mengunci pintu akses ini!" ujar Bimo sambil menunjuk ke arah pintu geser otomatis di belakang mereka.
Meiling segera menyambungkan perangkat portabelnya ke panel pintu tersebut. Jemarinya menari dengan lincah di atas layar, mencoba meretas sistem keamanan kuno yang kini telah terintegrasi secara paksa dengan teknologi Sindikat. "Ayo, sedikit lagi. Berhasil!"
Pintu baja itu menutup dengan suara desisan udara yang tajam, tepat saat sebuah tembakan plasma menghantam permukaannya dari sisi luar. Dentuman keras segera menyusul saat pasukan Drazen mulai mencoba mendobrak pintu tersebut menggunakan kekuatan fisik. Bimo bersandar pada permukaan pintu, merasakan panas yang mulai merambat dari logam yang terkena tembakan energi.
"Kita berada dalam posisi terjebak," bisik Meiling dengan wajah yang pucat pasi di bawah siraman cahaya biru ruang mesin. "Pintu ini tidak akan mampu bertahan lama. Mereka pasti membawa alat pemotong termit."
Bimo menatap rekan-rekannya satu per satu. Dara tampak berdiri dengan sikap siap bertempur hingga titik penghabisan, Meiling yang gemetar namun tetap berusaha fokus pada sistemnya, dan Silas yang baru saja bergabung dengan napas memburu serta luka lecet di lengannya. Mereka semua telah mempertaruhkan segalanya demi sebuah penemuan yang berpotensi mengubah jalannya sejarah dunia.
"Memang benar kita terjebak," ujar Bimo dengan suara yang perlahan kembali tenang. "Namun, kita memegang sesuatu yang sangat mereka dambakan. Selama benda ini berada di tangan kita, peluang untuk selamat tetap ada."
Dia mengeluarkan Core Drive dari sakunya. Benda itu kini bersinar dengan intensitas yang lebih terang, seolah-olah sedang merespons aliran energi masif yang ada di dalam ruang mesin ini. Cahaya keemasan yang dipancarkannya terlihat sangat kontras dengan pendar biru di sekeliling mereka, menciptakan pemandangan yang surealis sekaligus indah.
"Benda apa itu sebenarnya, Mas?" tanya Meiling dengan mata yang membelalak takjub.
"Ini adalah kunci dari seluruh ekosistem ini, Mei," jawab Bimo dengan nada khidmat. "Bukan sekadar penyimpan data, melainkan unit kendali atas seluruh kota bawah laut ini. Ayah saya selalu berpesan bahwa laut tidak akan pernah menyerahkan rahasianya kepada mereka yang datang dengan niat kekerasan."
Tiba-tiba, suara gergaji mesin yang memotong logam mulai terdengar dari arah pintu masuk. Percikan api mulai muncul di celah-celah pintu baja, menandakan bahwa pasukan Drazen hampir berhasil menembus pertahanan terakhir mereka. Bau logam yang terbakar segera memenuhi ruangan, membuat napas terasa semakin sesak.
"Dara, segera cari jalur evakuasi lain. Silas, berikan bantuan kepadanya," perintah Bimo dengan cepat. "Mei, aku membutuhkan bantuanmu untuk menghubungkan cakram ini ke sistem pusat ruang mesin."
"Tetapi Mas, jika terjadi kesalahan dalam sinkronisasi, seluruh tempat ini bisa mengalami kegagalan struktural dan meledak!" protes Meiling dengan nada khawatir.
"Kita tidak memiliki alternatif lain, Nduk," suara Ibu Lastri terdengar dari arah belakang. Ternyata beliau sudah berada di sana bersama Aki Jajang sejak kekacauan dimulai. "Laut sedang berbicara kepada kita. Kita harus memiliki keberanian untuk mendengarkannya."
Aki Jajang melangkah maju, tangannya yang keriput menyentuh bahu Bimo dengan mantap. "Ingatlah apa yang pernah Aki sampaikan, Le. Keseimbangan adalah kunci utama. Jangan mencoba melawan arus, tetapi ikutilah ke mana arus itu akan membawa kita."
Bimo mengangguk dengan penuh keyakinan. Dia mendekati meja kendali utama yang berbentuk lingkaran di tengah ruangan. Dengan tangan yang kini telah stabil, dia meletakkan Core Drive ke dalam lubang yang tampak sangat pas di tengah meja tersebut. Begitu cakram itu menyentuh dasar lubang, seluruh ruangan bergetar dengan hebatnya. Suara dengung mesin berubah menjadi nyanyian frekuensi tinggi yang memenuhi seluruh udara. Cahaya keemasan merambat dari meja kendali, mengalir melalui pipa-pipa di dinding, dan menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota bawah laut.
Di balik pintu, suara gergaji mesin mendadak berhenti total. Bimo bisa mendengar suara teriakan panik yang datang dari pasukan Sindikat. Melalui layar monitor yang berhasil diaktifkan oleh Meiling, mereka menyaksikan pemandangan yang luar biasa: unit eksoskeleton yang dikenakan oleh pasukan Drazen mendadak terkunci secara otomatis. Sendi-sendi mekanisnya tidak dapat digerakkan sama sekali, seolah-olah ada medan magnet raksasa yang menahan pergerakan mereka.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" tanya Dara dengan nada takjub.
"Ini adalah protokol pertahanan otomatis kota," jawab Bimo, matanya tetap terpaku pada layar monitor. "Sistem kota ini mengenali teknologi asing yang memiliki tanda-tanda agresif. Eksoskeleton mereka menggunakan frekuensi yang bertabrakan secara langsung dengan energi yang dipancarkan oleh Core Drive."
Drazen tampak berteriak dengan penuh amarah di layar, berusaha keras melepaskan diri dari baju besinya yang kini telah berubah menjadi penjara logam yang menyesakkan. Wajahnya yang tadi penuh dengan rasa kemenangan kini berubah menjadi topeng ketakutan yang nyata. Dia terjepit di tengah lorong, tidak mampu bergerak maju maupun mundur.
Namun, rasa kemenangan itu terasa sangat singkat. Lampu-lampu di ruang mesin mulai berkedip dengan warna merah yang mengkhawatirkan. Suara peringatan dalam bahasa kuno yang tidak dikenal mulai bergema dari dinding-dinding kristal.
"Mas Bimo! Lonjakan energinya terlalu besar untuk ditampung!" teriak Meiling dengan nada histeris. "Core Drive ini memicu reaksi berantai pada reaktor pusat. Jika kita tidak segera mencabutnya, seluruh integritas kota ini akan runtuh dalam hitungan menit!"
Bimo menatap Core Drive yang kini berputar dengan kecepatan sangat tinggi, memancarkan cahaya yang menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. Dia memahami apa yang harus dilakukan, namun dia juga menyadari risiko yang menyertainya. Jika dia mencabutnya sekarang, medan magnet yang menahan pasukan Sindikat akan menghilang. Namun jika dia membiarkannya, mereka semua akan terkubur di bawah jutaan ton air laut.
"Bimo, lakukan sesuatu dengan cepat!" teriak Dara dari kejauhan.
Bimo mengulurkan tangannya menuju cakram yang berputar itu. Panas yang terpancar darinya terasa seperti menyentuh permukaan bintang yang membara. Pada saat yang bersamaan, pintu di belakang mereka akhirnya jebol. Drazen, yang entah bagaimana berhasil melepaskan helm dan sebagian pelindung dadanya, merangkak masuk dengan pistol plasma yang masih tergenggam di tangannya.
"Serahkan benda itu kepadaku sekarang juga!" raung Drazen dengan suara yang serak akibat amarah yang meluap-luap.
Bimo tidak menoleh sedikit pun. Dia memfokuskan seluruh konsentrasi dan energinya pada Core Drive. Tepat saat jemarinya menyentuh permukaan logam cakram tersebut, Drazen melepaskan tembakan. Peluru plasma itu melesat membelah udara, menciptakan garis cahaya terang di tengah kegelapan ruang mesin yang mencekam. Bimo merasakan sentuhan dingin dari logam cakram di telapak tangannya, yang segera diikuti oleh ledakan cahaya putih yang menelan seluruh pandangannya.
Keheningan yang mendalam mendadak jatuh menyelimuti ruangan. Cahaya yang tadi menyilaukan mata lenyap seketika, menyisakan kegelapan yang terasa lebih pekat dari sebelumnya. Bimo terjatuh ke lantai marmer, napasnya tersengal-sengal mencari oksigen. Dia segera meraba sakunya, memastikan Core Drive masih berada di sana. Benda itu kini terasa sangat dingin, seolah-olah seluruh cadangan energinya telah terkuras habis hingga ke dasar.
"Apakah semua orang berada dalam kondisi baik?" tanya Bimo dengan suara yang parau.
Tidak ada jawaban yang segera terdengar. Hanya ada suara tetesan air yang jatuh ke lantai marmer dan desisan uap dari pipa yang mengalami kebocoran. Bimo mencoba untuk berdiri, namun kepalanya terasa berputar dengan hebat. Dia menyalakan lampu senter kecil pada jaketnya, menyapu ruangan dengan cahaya yang gemetar. Dara, Meiling, Silas, Ibu Lastri, dan Aki Jajang tampak tergeletak di lantai, perlahan-lahan mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Di dekat pintu yang hancur, Drazen terbaring tidak bergerak dengan pistol plasmanya yang terlempar jauh ke sudut ruangan.
"Kita... apakah kita masih diberikan kesempatan untuk hidup?" bisik Meiling sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Benar, Mei. Kita semua masih hidup," jawab Bimo dengan nada lega yang tertahan.
Namun, kegembiraan mereka terhenti seketika saat terdengar suara gemuruh yang datang dari kejauhan. Itu bukan lagi suara mesin, melainkan suara aliran air yang sangat deras. Bimo mengarahkan senternya ke arah langit-langit kubah, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat apa yang terjadi. Retakan-retakan besar mulai menjalar di permukaan kubah kristal yang melindungi kota. Air laut mulai merembes masuk dengan cepat, menciptakan air terjun kecil yang jatuh dengan suara yang mengerikan.
"Struktur kubahnya mulai mengalami keretakan fatal," ujar Silas dengan suara yang penuh dengan ketegangan. "Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Sekarang juga!"
Bimo menatap Core Drive di tangannya, lalu menatap rekan-rekan setimnya. Mereka telah berhasil menemukan kebenaran yang selama ini dicari oleh ayahnya, namun harga yang harus mereka bayar mungkin adalah nyawa mereka sendiri.
"Dara, segera pimpin jalan menuju dermaga kapal selam," perintah Bimo dengan tegas. "Kita tidak memiliki waktu luang lagi."
Saat mereka mulai berlari melintasi lorong pelarian, Bimo sempat menoleh sekilas ke arah Drazen. Pria itu mulai menunjukkan tanda-tanda pergerakan, matanya terbuka dan menatap Bimo dengan kebencian yang murni dan mendalam. Bimo menyadari bahwa ini bukanlah akhir dari pengejaran pihak Sindikat. Ini hanyalah babak awal dari perang yang lebih besar di kedalaman samudra yang gelap.
Suara gemuruh air yang masuk semakin menggelegar, menenggelamkan suara langkah kaki mereka yang terburu-buru. Kota kuno yang megah itu seolah mulai menangis, mengeluarkan air mata asin yang akan segera menelan kembali seluruh kemegahannya ke dalam pelukan dasar laut yang sunyi. Di tengah kekacauan struktural itu, Bimo Satrio menggenggam erat catatan masa lalu di tangannya, bersumpah untuk membawanya kembali ke permukaan bumi, apa pun risiko yang harus dihadapi.
Tiba-tiba, sebuah ledakan sekunder mengguncang lorong di hadapan mereka, meruntuhkan langit-langit dan menutup akses menuju dermaga kapal selam. Debu tebal dan reruntuhan kristal memenuhi udara, membutakan pandangan mereka seketika. Dari balik reruntuhan yang menumpuk, terdengar suara tawa Drazen yang terdengar gila, beradu dengan suara gemuruh air yang semakin mendekat ke posisi mereka.
"Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup!" teriak Drazen dari balik kegelapan.
Bimo berdiri dengan tegak, cahaya senternya berusaha menembus debu yang beterbangan liar. Dia merasakan Core Drive di tangannya kembali berdenyut secara perlahan, sebuah gema terakhir dari kekuatan yang pernah mendominasi seluruh samudra di masa lampau.
"Kita akan membuktikan hal tersebut nanti," bisik Bimo pada dirinya sendiri dengan nada penuh tekad.
Dia menoleh ke arah timnya, melihat api tekad yang sama menyala di mata mereka masing-masing. Mereka menolak untuk menyerah pada keadaan. Tidak di tempat ini, dan tidak pada saat ini. Karena di kedalaman yang paling gelap ini, mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar teknologi kuno: sebuah kepercayaan yang tak tergoyahkan satu sama lain.
Namun, saat air mulai membanjiri lantai lorong hingga mencapai ketinggian mata kaki, sebuah pertanyaan besar mulai menghantui benak Bimo. Jika jalur menuju kapal selam telah tertutup sepenuhnya, ke mana mereka harus melangkah untuk menyelamatkan diri? Dan apakah Core Drive yang kini meredup itu masih menyimpan satu rahasia terakhir yang mampu menyelamatkan nyawa mereka dari kehancuran ini?
Kegelapan kembali menelan mereka saat lampu senter Bimo mendadak mati total, menyisakan hanya suara air yang menderu dahsyat dan detak jantung yang berpacu melawan waktu yang terus menipis. Di tengah kegelapan yang mencekam itu, sebuah pendar cahaya biru baru muncul dari arah yang sama sekali tidak terduga, jauh di bawah lantai lorong yang mulai mengalami keretakan hebat.
"Segera ikuti arah cahaya biru tersebut!" teriak Aki Jajang, suaranya terdengar sangat yakin dan berwibawa di tengah badai yang melanda.
Bimo tidak lagi memiliki keraguan dalam dirinya. Dia melompat menuju sumber cahaya baru itu, membiarkan dirinya terjatuh ke dalam ketidakpastian yang menyelimuti kedalaman tersebut. Tubuhnya menembus lapisan air yang semakin dingin, sementara cahaya biru itu semakin terang, membimbingnya menuju sebuah lorong bawah tanah yang tersembunyi di balik lantai yang retak. Di sekelilingnya, dinding-dinding lorong berdenyut dengan pendaran bioluminesensi yang lembut, seolah-olah tempat ini masih hidup dan bernapas setelah ribuan tahun tertidur.
Satu per satu, anggota timnya mengikuti di belakang. Suara percikan air dan napas yang memburu bergema di ruang sempit itu. Bimo merasakan kakinya menyentuh permukaan yang keras dan kering — sebuah lantai batu yang tidak terendam air. Mereka telah menemukan kantong udara yang tersembunyi di jantung struktur kuno ini.
"Kita selamat," bisik Dara, suaranya pecah oleh kelegaan yang tak terbendung.
Namun, saat lampu senter Bimo menyapu ruangan baru itu, cahayanya menangkap sesuatu yang membuat seluruh tim membeku di tempat. Di hadapan mereka, terukir di dinding batu dengan presisi yang mustahil untuk zamannya, terbentang sebuah peta raksasa yang menunjukkan seluruh jaringan ruangan bawah laut — dan di pusatnya, sebuah simbol yang persis sama dengan simbol di koin yang mereka temukan berminggu-minggu lalu. Rahasia terbesar dari Catatan Dasar Laut kini terbentang di depan mata mereka, menunggu untuk diungkap.