Bab 12: Di Antara Deru dan Debur
Langit di atas Laut Banda seakan tersiram tinta kelabu yang pekat, menelan rona biru jernih dalam hitungan menit hingga cakrawala tampak seperti memar yang membiru. Bimo Satrio berdiri mematung di pinggir dek *Bintang Timur*, merasakan tekanan udara yang mendadak berat menghimpit rongga dadanya. Aroma ozon yang tajam menusuk indra penciuman, berbaur dengan bau amis garam yang mendadak mengental di udara. Di kejauhan, sebuah suara gemuruh rendah mulai merayap di atas permukaan air, terdengar seperti raksasa yang sedang menyeret rantai besi raksasa di atas lantai pualam yang luas. Bimo menyeka butiran keringat di dahinya dengan punggung tangan, sementara matanya menyipit menatap gumpalan awan kumulonimbus yang menggulung rendah seolah hendak menyentuh tiang kapal. Arus bawah laut yang mereka pantau sejak fajar tadi mulai bergejolak hebat, mengirimkan getaran frekuensi rendah yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah menyerahkan separuh hidupnya pada samudra.
Tangannya mencengkeram pagar besi kapal yang kini terasa dingin dan lembap oleh embun laut yang mulai naik. "Bang Ucok! Segera amankan semua peralatan penelitian di dek belakang sekarang juga!" teriak Bimo dengan suara lantang, berusaha mengalahkan siulan angin yang intensitasnya terus meningkat. Ucok Batubara melongokkan kepalanya dari pintu ruang kemudi, menampakkan kerutan skeptis yang dalam di dahi lebarnya. Dia masih menggenggam secangkir kopi hitam yang uapnya langsung buyar diterjang angin kencang yang menderu. Meskipun situasi mulai mencekam, logat Medannya yang keras tetap terdengar nyaring di antara deru mesin kapal yang masih stabil. "Lihatlah layar radar itu dengan saksama, Bimo; permukaannya tampak bersih, seolah-olah baru saja dilap hingga mengilap," sahut Ucok sambil menunjuk ke dalam kabin dengan dagunya. "Janganlah kau terlalu cemas, Mas. Di sana langit hanya ingin membuang air sedikit saja untuk mendinginkan suasana."
Bimo menggelengkan kepalanya dengan cepat, kakinya bergerak mantap menembus embusan angin menuju unit sonar yang masih terpasang di buritan. "Radarnya mungkin terlihat bersih, Bang, tetapi insting saya mengatakan bahwa ini bukanlah sekadar hujan yang lewat begitu saja. Tolong bantu saya sekarang, ini adalah perintah lapangan yang harus segera dilaksanakan." Ucok mendengus pelan, namun dia segera meletakkan cangkir kopinya dan melompat turun ke dek dengan cekatan. Dia menangkap gurat keseriusan yang tak tergoyahkan di mata Bimo, jenis tatapan yang tidak memberikan ruang sedikit pun untuk perdebatan lebih lanjut. Di sisi lain kapal, Silas Papare sudah bergerak tanpa perlu menunggu instruksi, otot-otot lengannya yang legam menegang saat dia menarik rantai jangkar cadangan. Silas bekerja dalam keheningan yang disiplin, hanya memberikan anggukan kecil kepada Bimo sebagai isyarat bahwa dia telah memahami gentingnya situasi mereka.
Awan di atas mereka kini benar-benar telah memadamkan cahaya matahari, menciptakan kegelapan prematur yang mencekam dan menyesakkan napas. Angin yang tadinya hanya bersiul kini mulai melolong panjang, merobek ketenangan permukaan laut menjadi ombak-ombak kecil yang puncaknya berwarna putih susu. Lambung *Bintang Timur* mulai bergoyang dengan ritme yang tidak beraturan, sebuah tarian gelisah yang menandakan bahwa perut samudra sedang mengalami gejolak hebat. "Mei! Segera matikan semua pemancar luar dan masukkan seluruh data ke dalam server lokal sekarang juga!" teriak Bimo ke arah lubang palka yang menuju ke ruang sistem utama. Meiling Wijaya muncul sekejap di ambang pintu, wajahnya tampak pucat pasi di bawah temaram lampu dek yang mulai berkedip-kedip tidak stabil. "Mengapa perintah ini terasa sangat mendadak, Mas Bimo? Saya sedang melakukan kalibrasi pada sensor tekanan bawah laut yang sangat sensitif!"
"Lakukan saja instruksi saya, Mei! Lakukan sekarang tanpa penundaan!" Bimo menegaskan perintahnya dengan nada yang tidak lagi menerima diskusi dalam bentuk apa pun. Dara Puspita keluar dari ruang kemudi dengan langkah yang sangat sigap, jaket pilotnya sudah terpasang rapat hingga menutupi lehernya. Dia menatap langit dengan mata yang tajam dan waspada, lalu segera mengalihkan pandangannya kepada Bimo yang sedang berjuang di dek. "Tekanan udara turun dengan sangat drastis, Mas; kita baru saja memasuki zona depresi rendah yang sangat berbahaya. Ini bukan badai biasa yang sering kita temui, melainkan sel badai yang terbentuk secara mendadak akibat anomali suhu air." Bimo mengangguk singkat, menghargai analisis teknis yang diberikan Dara dengan kecepatan yang mengagumkan di tengah situasi kacau ini. "Kita harus segera mengikat unit sonar itu ke rangka utama kapal agar tidak terlepas saat gelombang besar menghantam."
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, gelombang pertama menghantam lambung kapal dengan kekuatan yang sangat mengejutkan hingga seluruh struktur besi itu bergetar. *Bintang Timur* miring tajam ke arah kiri, menyebabkan tumpukan peti logistik bergeser dengan suara benturan logam yang memekakkan telinga. Air laut mulai naik ke atas dek, membasahi sepatu bot Bimo dengan cairan asin yang terasa sangat dingin menusuk kulit. Langit seolah-olah pecah di atas kepala mereka, menumpahkan hujan yang begitu lebat hingga jarak pandang menyusut drastis hanya menjadi beberapa meter saja. "Semuanya segera masuk ke posisi masing-masing!" Dara berteriak lantang, suaranya tetap stabil meskipun harus bersaing dengan gemuruh hujan yang menggila. "Bang Ucok, bantu Silas di bagian haluan sekarang! Mas Bimo, segera amankan unit sonar itu sebelum terlambat!"
Bimo menerjang dek yang kini telah berubah menjadi sangat licin akibat guyuran air hujan dan tumpahan minyak ringan. Setiap langkah yang dia ambil adalah sebuah pertaruhan berbahaya melawan gravitasi dan goyangan kapal yang semakin liar tak terkendali. Secara bertahap, dia dapat merasakan getaran mesin kapal yang berjuang keras melawan arus balik yang datang secara tiba-tiba dari kedalaman. Di hadapannya, unit sonar seberat dua ratus kilogram mulai bergeser dari dudukannya karena baut pengikatnya melonggar akibat guncangan yang terus-menerus. "Sialan!" umpat Bimo dengan suara rendah yang tertelan oleh suara angin yang semakin beringas di sekelilingnya. Jarum pengukur pada panel sonar bergetar hebat di zona bahaya, menunjukkan bahwa beban mekanis yang diterima alat itu telah melampaui batas keamanan.
Dia meraih tali rami tebal yang tergantung di dekat pagar kapal dengan tangan yang mulai mati rasa karena dingin. Tangannya yang basah berusaha membelitkan tali itu ke rangka sonar, namun kapal kembali dihantam oleh ombak setinggi tiga meter yang datang dari arah lambung. Tubuh Bimo terlempar ke arah pagar pembatas, punggungnya menghantam besi dingin dengan sangat keras hingga seluruh napasnya seolah-olah terenggut keluar. Rasa sakit yang tajam segera menjalar di sepanjang tulang belakangnya, namun dia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki waktu untuk sekadar mengaduh. "Mas Bimo! Awas, perhatikan posisi Anda sekarang juga!" Dara berteriak dari arah pintu kabin dengan nada penuh kekhawatiran yang mendalam. Dara tidak tinggal diam melihat situasi itu; dia berlari menembus guyuran air yang membutakan mata dengan gerakan lincah.
Dia berhasil mencapai posisi Bimo tepat saat unit sonar itu meluncur bebas menuju tepi dek yang miring tanpa penghalang. Jika benda berharga itu jatuh ke laut, kabel serat optiknya akan terputus dan seluruh misi penelitian mereka akan berakhir dengan kegagalan total. Bimo bangkit berdiri dengan sisa kekuatan yang dia miliki, menggunakan seluruh berat badannya untuk menahan beban sonar yang terus merosot. Dia merasakan otot-otot bahunya seolah-olah akan terlepas dari persendiannya akibat tekanan yang sangat luar biasa berat. Gesekan kasar dari tali rami mulai membakar telapak tangan Bimo hingga kulitnya terasa perih, namun dia tetap mencengkeramnya dengan kekuatan penuh. "Dara! Segera kunci simpulnya pada tiang penyangga itu sebelum tenaga saya habis!" Bimo berteriak dengan wajah yang memerah padam.
Di bawah guyuran hujan, Dara bergerak dengan sangat cepat, jemarinya yang terampil bekerja dengan presisi tinggi meskipun kapal terus terombang-ambing hebat. Dia tidak menggunakan simpul pelaut yang biasa digunakan, melainkan simpul pengikat kargo pesawat yang memiliki kekuatan tarik jauh lebih tinggi. "Tahanlah sebentar lagi, Mas! Saya hanya membutuhkan beberapa detik lagi untuk mengunci posisi tali ini!" "Cepatlah, Dara! Saya tidak akan mampu menahan beban seberat ini lebih lama lagi!" Tiba-tiba, tali pengikat utama putus dengan suara dentuman keras yang menyerupai letusan senapan di tengah badai. Beban sonar itu menyentak tangan Bimo dengan sangat kuat, menyeret tubuhnya hingga hampir mencapai tepi dek yang tidak memiliki pagar pelindung.
Mulut Bimo terasa kering bagaikan pasir gurun saat dia melihat kegelapan air laut yang siap menelannya di bawah sana. Kematian terasa begitu dekat, hanya berjarak beberapa inci saja dari ujung sepatu botnya yang sudah kehilangan daya cengkeram. Tepat sebelum Bimo terseret lebih jauh ke dalam pelukan samudra, sepasang tangan yang sangat kuat mencengkeram kerah jaketnya dan menariknya kembali. Silas Papare muncul bagaikan bayangan kokoh yang berdiri tegak di tengah amukan badai yang membutakan pandangan mata. Dengan satu tangan, Silas menahan tubuh Bimo agar tidak terjatuh, sementara tangan lainnya membantu Dara menarik tali cadangan yang lebih kuat. Kekuatan fisik Silas yang luar biasa memberikan stabilitas yang sangat mereka butuhkan untuk mengendalikan situasi yang hampir lepas kendali itu.
"Kaka, tetaplah bertahan di posisi itu! Saya akan mengunci ikatannya sekarang juga!" Silas berseru dengan dialek Papuannya yang sangat kental dan penuh wibawa. Bersama-sama, mereka bertiga berhasil menyeret unit sonar itu kembali ke tengah dek dan mengikatnya dengan tiga lapis tali baja cadangan. Setelah memastikan bahwa semuanya telah aman, Silas memberikan jempol kepada Bimo sebelum dia kembali ke tugasnya untuk mengamankan palka kapal. Bimo terduduk lemas di atas dek yang basah, dadanya naik turun dengan cepat berusaha mengatur napas yang memburu dan tidak beraturan. Air hujan mengalir deras dari rambutnya, masuk ke dalam mata dan menimbulkan rasa perih yang cukup mengganggu penglihatannya.
"Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Dara dengan suara yang melembut meskipun napasnya sendiri masih terdengar sangat tersengal-sengal. Bimo mengangguk pelan, mencoba mengabaikan getaran hebat yang masih menjalar di kedua tangannya yang lecet dan memar. "Terima kasih, Dara. Jika bukan karena bantuan kalian semua, saya mungkin sudah menjadi umpan ikan di dasar laut saat ini." "Janganlah Anda berbicara sembarangan seperti itu," Dara memotong dengan nada tegas yang menjadi ciri khas kepemimpinannya yang kuat. "Kita adalah satu tim yang solid. Sekarang, mari kita segera masuk ke dalam sebelum badai ini benar-benar menunjukkan amarahnya yang paling puncak."
Mereka bergegas masuk ke dalam kabin utama kapal yang terasa jauh lebih aman dibandingkan dek yang sedang diamuk badai. Di dalam, suasana tidak kalah tegang karena Meiling sedang sibuk di depan monitornya yang terus berkedip akibat gangguan elektromagnetik yang kuat. Aki Jajang duduk dengan tenang di pojok ruangan, memegang tasbih kayu dan berkomat-kamit dengan ekspresi yang sangat damai. Wajah tuanya tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan, melainkan semacam penghormatan yang sangat dalam terhadap kekuatan alam yang sedang bermanifestasi di luar. "Aki, apakah menurut Anda laut saat ini sedang marah kepada kita?" tanya Meiling dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa cemas.
Aki Jajang membuka matanya perlahan, menatap Meiling dengan pandangan yang sangat teduh dan menenangkan jiwa yang sedang gelisah. "Laut ini tidak sedang marah, Nduk. Laut hanya sedang mengambil napas panjang, namun terkadang napasnya memang terasa terlalu kuat bagi kita yang berukuran kecil ini." Beliau kembali memejamkan mata, membiarkan suaranya yang tenang meredam kepanikan yang sempat menyelimuti ruangan sempit tersebut. Mbak Lastri muncul dari arah dapur kecil dengan membawa beberapa handuk kering dan sebuah termos besar berisi minuman hangat. Wajahnya yang biasanya selalu ceria kini tampak sedikit pucat, namun dia tetap menjalankan perannya sebagai pengasuh tim dengan sangat baik. Dia membagikan handuk kepada Bimo dan Dara yang basah kuyup, memastikan bahwa mereka tidak kedinginan setelah berjuang di luar.
"Ayo, Le, Nduk, segera keringkan badan kalian agar tidak jatuh sakit di tengah perjalanan yang masih jauh ini," ujar Mbak Lastri. Dia menuangkan cairan berwarna cokelat gelap yang aromanya sangat harum ke dalam cangkir-cangkir logam yang tersedia di meja. "Ini adalah jahe geprek yang dicampur dengan gula aren asli. Minumlah selagi masih panas agar badan kalian terasa lebih hangat." Bimo menerima cangkir itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa adrenalin yang masih mengalir di pembuluh darahnya. Rasa hangat dari kopi jahe yang membakar kerongkongannya memberikan sensasi nyaman yang luar biasa, seolah-olah mengusir hawa dingin yang sempat merasuk. Dia duduk di lantai kabin yang sempit bersama Dara dan Silas, merasakan getaran mesin kapal yang masih berjuang keras di bawah kaki.
"Di mana Bang Ucok sekarang?" tanya Bimo setelah dia menyesap minumannya dan merasakan kehangatan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. "Dia masih berada di ruang kemudi bersama Pak Hendra," jawab Dara sambil menyeka sisa air di wajahnya dengan handuk kering. "Pak Hendra sepertinya sedang mengalami mual yang cukup hebat, namun dia tetap berusaha keras untuk membantu proses navigasi kapal." Bimo tersenyum tipis mendengar laporan itu, menyadari bahwa setiap orang di kapal ini memiliki peran yang sangat krusial. "Dalam situasi yang penuh dengan tekanan seperti ini, setiap orang akan menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya, Dara." "Termasuk Anda sendiri, Mas Bimo," sahut Dara sambil menatap mata Bimo dengan pandangan yang sangat tajam dan penuh selidik.
"Anda hampir saja mengorbankan nyawa demi sebuah mesin sonar. Apakah 'Catatan Dasar Laut' itu memang sebegitu berharganya hingga Anda melupakan keselamatan diri sendiri?" Bimo terdiam sejenak, matanya terpaku pada uap panas yang mengepul dari cangkir logam di genggamannya yang masih terasa perih. "Bagi saya, itu bukan sekadar mesin atau tumpukan data digital, Dara. Itu adalah satu-satunya jembatan penghubung yang tersisa antara saya dan almarhum Ayah saya." Dara terdiam mendengar pengakuan jujur itu, dan sorot matanya yang tajam perlahan-lahan mulai melunak karena rasa empati yang muncul. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Bimo yang lecet, memberikan dukungan moral yang tidak memerlukan kata-kata tambahan untuk dijelaskan.
Keheningan sesaat menyelimuti mereka, hanya diiringi oleh suara hantaman hujan yang ritmis di atas atap logam kabin kapal yang kokoh. Di luar sana, badai masih terus mengamuk dengan hebatnya, namun di dalam ruangan yang sempit itu, rasa persaudaraan mulai mengental. Mereka bukan lagi sekadar sekelompok orang dengan kepentingan yang berbeda-beda yang kebetulan terjebak di dalam kapal yang sama di laut. Mereka telah bertransformasi menjadi satu kesatuan yang utuh setelah berhasil melewati ujian pertama yang diberikan oleh samudra yang luas ini. Satu jam berlalu dengan sangat lambat, namun guncangan kapal mulai mereda secara bertahap seiring dengan menjauhnya pusat badai. Cahaya kilat yang sesekali menerangi kabin yang gelap pun mulai jarang terlihat, menandakan bahwa cuaca ekstrem ini akan segera berakhir.
Bimo berdiri perlahan, mencoba meluruskan kakinya yang terasa sangat kaku setelah duduk dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama. "Saya akan keluar sebentar untuk memeriksa kondisi unit sonar sekali lagi," kata Bimo dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya. "Saya akan ikut bersama Anda," timpal Dara yang segera bangkit dari tempat duduknya tanpa ragu sedikit pun untuk membantu. Mereka berdua melangkah keluar menuju dek, di mana hujan kini telah mereda menjadi gerimis halus yang terasa menyegarkan kulit. Udara malam di tengah laut itu terasa sangat segar, bersih dari segala debu dan polusi, menyisakan bau garam yang sangat murni. Bimo memeriksa setiap ikatan tali pada unit sonar dan merasa sangat lega saat melihat bahwa semuanya masih terikat dengan kokoh.
"Mei! Coba nyalakan kembali sistem sonar kita! Mari kita lihat apakah semua sensornya masih berfungsi dengan baik!" teriak Bimo ke arah kabin. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bip yang beraturan dari dalam ruangan sistem, memberikan harapan baru bagi seluruh kru kapal. Meiling berseru dengan nada yang sangat gembira, "Sistem sudah kembali *online*, Mas Bimo! Semua indikator sensor menunjukkan warna hijau!" Bimo tersenyum lebar ke arah Dara, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa syukur atas keberhasilan mereka mempertahankan peralatan vital tersebut. "Kerja yang sangat bagus, Dara. Terima kasih atas bantuanmu yang sangat berarti tadi di saat situasi sedang sangat kritis." Dara hanya mengangkat bahunya sedikit, mencoba menyembunyikan rasa bangga yang muncul di hatinya dengan ekspresi wajah yang tetap datar.
Bimo melangkah masuk ke dalam ruang sistem untuk melihat data terbaru yang berhasil dikumpulkan oleh sensor sonar mereka selama badai. Dia berdiri tepat di belakang Meiling, mengamati layar monitor yang mulai menampilkan citra topografi dasar laut dengan detail yang sangat mengagumkan. Namun, saat matanya menyapu layar radar navigasi yang baru saja dikalibrasi ulang oleh sistem cadangan, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak sesaat. Di layar radar itu, di tengah-tengah kekosongan Laut Banda yang seharusnya tidak memiliki struktur apa pun, muncul sebuah titik hijau. Titik itu berkedip dengan ritme yang sangat teratur, berada tepat di jalur pelayaran mereka dengan jarak hanya beberapa mil laut. "Mei, benda apa yang sedang ditunjukkan oleh radar itu?" tanya Bimo dengan suara yang kembali menjadi sangat tenang dan analitis.
Meiling mengerutkan keningnya, jemarinya bergerak dengan sangat cepat di atas *trackball* untuk mencoba mengidentifikasi objek misterius yang tertangkap oleh radar. "Ini sungguh aneh, Mas; objek ini jelas bukan merupakan sebuah kapal kargo atau kapal penumpang yang biasa melintas di sini." "Mungkin itu hanyalah tumpukan sampah laut atau batang pohon besar yang hanyut terbawa oleh arus badai tadi?" usul Dara. Bimo menggelengkan kepalanya dengan yakin, karena pola pergerakan objek tersebut sama sekali tidak menunjukkan karakteristik benda yang hanyut secara pasif. "Lihatlah pola pergerakannya dengan saksama; benda itu sedang bergerak melawan arus laut dengan kecepatan yang sangat konstan dan terarah." Bang Ucok masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah yang kembali menegang, menunjukkan bahwa situasi ini memang sangat tidak biasa.
"Bimo, apakah kau melihat apa yang tertangkap oleh radar navigasi manualku?" tanya Ucok dengan nada suara yang penuh dengan keheranan yang mendalam. "Setiap kali aku mencoba untuk mengunci koordinat objek tersebut, posisinya seolah-olah melompat-lompat di atas layar radar dengan sangat aneh." Bimo mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya terpaku pada layar monitor seolah-olah dia sedang berusaha menembus misteri yang ada di sana. Rasa takut yang sempat muncul kini telah berganti sepenuhnya dengan fokus yang sangat tajam dan keinginan besar untuk mencari tahu. Dia menyadari bahwa sinyal ini terlalu teratur untuk dianggap sebagai sebuah kesalahan sistem atau sekadar gangguan teknis akibat badai. "Dara, ambil alih kemudi sepenuhnya. Bang Ucok, Silas, segera siapkan lampu sorot jarak jauh ke arah koordinat objek tersebut!"
"Apa sebenarnya yang sedang kita cari di tengah kegelapan ini, Mas?" tanya Silas yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kabin. Bimo tidak langsung menjawab pertanyaan itu, karena matanya masih tertuju pada titik hijau yang kini mendekat dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Sinyal itu seolah-olah muncul begitu saja dari ketiadaan, menembus sisa-sisa kabut badai yang masih menyelimuti permukaan air laut yang gelap. "Sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di koordinat ini menurut semua peta navigasi modern yang kita miliki," bisik Bimo. Saat lampu sorot raksasa dinyalakan dan membelah kegelapan malam, cahaya putih yang sangat terang itu menghantam sebuah objek misterius. Objek itu bukanlah kapal, melainkan sebuah struktur logam berwarna hitam legam berbentuk silinder panjang dengan antena-antena aneh yang mencuat ke atas.
Di lambung objek yang basah itu, terpantul cahaya lampu sorot kapal mereka, menampakkan sebuah simbol yang sangat dikenal oleh Bimo. Simbol itu identik dengan logo yang sering dia lihat dalam dokumen-dokumen rahasia milik ayahnya yang telah lama hilang secara misterius. Bimo merasakan bulu kuduknya berdiri tegak saat menyadari implikasi dari keberadaan benda tersebut di tengah Laut Banda yang sangat dalam. "Mei, coba panggil mereka menggunakan semua frekuensi darurat yang tersedia!" perintah Bimo dengan suara yang terdengar sangat tertahan oleh emosi. Meiling mencoba berkali-kali untuk melakukan kontak komunikasi, namun hanya suara statis yang terdengar dari pengeras suara di ruang sistem mereka. "Tidak ada jawaban sama sekali, Mas; sistem komunikasi mereka tampaknya benar-benar mati total atau sengaja tidak diaktifkan oleh mereka."
Tiba-tiba, struktur hitam yang misterius itu mulai bergerak secara perlahan, namun gerakannya bukan menjauh melainkan mulai tenggelam kembali ke kedalaman. Yang lebih mengejutkan lagi, saat benda itu tenggelam, layar monitor Meiling menangkap sebuah transmisi data singkat yang masuk ke sistem mereka. Itu adalah sebuah kode biner yang terenkripsi dengan protokol keamanan yang seharusnya sudah tidak digunakan lagi selama lebih dari dua puluh tahun. "Mas Bimo! Lihatlah apa yang sedang terjadi pada layar monitor utama kita sekarang juga!" seru Meiling dengan nada suara yang panik. Bimo terperangah melihat barisan kode yang berlari dengan sangat cepat di layar, dan di tengah kekacauan itu muncul sebuah kalimat. *SELAMAT DATANG KEMBALI, SATRIO. KAMI SUDAH MENUNGGU KEDATANGANMU.*
Bimo menatap pesan itu dengan napas yang tertahan, sementara di luar sana, mesin kapal *Bintang Timur* mendadak mati total tanpa peringatan. Kapal mereka kini terombang-ambing tanpa daya, perlahan-lahan terseret oleh pusaran air yang ditinggalkan oleh struktur hitam yang baru saja menghilang. Di tengah keheningan yang mencekam setelah mesin mati, terdengar suara ketukan logam yang berirama dari bagian bawah lambung kapal mereka sendiri. Seseorang, atau sesuatu, sedang berada di bawah sana, membalas pesan yang muncul di layar monitor dengan ketukan yang sangat teratur. Apakah ini adalah pertemuan yang telah direncanakan sejak lama, ataukah mereka baru saja masuk ke dalam jebakan yang telah terpasang selama puluhan tahun? Bimo mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat, menyadari bahwa perjalanan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai di titik ini.