Bab 27: Puing-Puing Harapan
Uap panas mengepul dari dua cangkir keramik yang retak di tepinya, menari-nari di atas meja kayu yang permukaannya sudah penuh dengan goresan dalam. Aroma kopi hitam yang pekat dan pahit berusaha keras mendominasi ruang dapur sempit kapal *Bintang Timur*, bertarung dengan bau solar yang selalu merembes dari celah dinding besi. Bimo Satrio mengaduk minumannya dengan gerakan mekanis, membiarkan sendok logam berdenting ritmis melawan dinding cangkir. Di luar sana, deburan ombak menghantam lambung kapal dengan suara berdebum yang rendah dan konstan. Laut seolah sedang menyanyikan lagu pengantar tidur yang ironis bagi jiwa-jiwa yang tidak mungkin bisa terlelap dalam kegelisahan ini.
Siti Nurhaliza duduk membisu di hadapannya, kedua telapak tangannya melingkari cangkir hangat itu dengan sangat erat seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut. Cahaya lampu gantung yang redup dan berayun pelan memantul di pupil matanya, memperlihatkan gurat kelelahan yang sangat mendalam. Bimo memperhatikan bagaimana punggung Siti tetap tegak, sebuah manifestasi fisik dari ketegaran perempuan Bugis yang menolak untuk patah meski beban informasi dari gua tempo hari sanggup menghancurkan kewarasan siapa pun.
"Saya mohon kepada Anda, Mas Bimo, berhentilah menghukum diri Anda sendiri dengan rasa bersalah yang tidak perlu," ujar Siti dengan suara yang lembut namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah. Ia meletakkan cangkirnya, menciptakan bunyi *klak* kecil di atas meja kayu. "Catatan kakek Anda adalah sebuah fragmen dari sejarah besar bangsa ini, bukanlah sebuah warisan dosa yang harus Anda pikul di pundak Anda hingga akhir hayat."
Bimo melepaskan sendoknya dan menghela napas panjang, merasakan berat yang tak kasat mata seolah-olah seluruh air laut di atas kapal ini sedang menekan dadanya. Ia menatap telapak tangannya yang kasar, tempat di mana garis-garis nasibnya seolah bersilangan dengan ambisi gelap masa lalu. "Saya memahami argumen Anda secara logis, Siti, namun hati saya sulit untuk menerima kenyataan ini dengan tenang," balas Bimo sambil menatap pantulan wajahnya yang keruh di permukaan kopi. "Mengetahui bahwa ambisi keluarga saya sendiri yang menjadi sumbu bagi kekacauan ini, rasanya sangat menyakitkan jika hanya duduk diam tanpa melakukan penebusan."
"Kita sama sekali tidak sedang berdiam diri dalam kepasifan," Siti mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Bimo dengan gerakan singkat yang menyalurkan kehangatan nyata. Sentuhan itu terasa seperti percikan api di tengah udara malam yang membeku. "Saat ini kita sedang bergerak menuju koordinat yang lebih aman, membawa bukti-bukti krusial yang memiliki kekuatan untuk menghentikan langkah Bang Togar serta Samudra Nusantara Corp."
Sepasang mata Bimo kini terpaku pada tangan Siti, merasakan kontras yang tajam antara kelembutan kulit perempuan itu dengan dinginnya dinding logam kapal yang mengelilingi mereka. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa tekad yang sempat tercecer. "Tujuan utama saya hanyalah membuktikan bahwa pencarian yang dilakukan Ayah bukanlah sebuah obsesi buta tanpa dasar," ucap Bimo dengan nada yang lebih stabil. "Saya memiliki kewajiban moral untuk memulihkan nama baik beliau di mata dunia, Siti."
"Dan saya memiliki keyakinan penuh bahwa Anda akan berhasil menuntaskannya," sahut Siti dengan tatapan yang mengunci mata Bimo. "Samudra selalu memiliki cara yang misterius untuk menyingkapkan kebenaran kepada mereka yang menjaga ketulusan hati di dalam dadanya."
Keheningan kembali turun menyelimuti ruangan itu, kini hanya diisi oleh dengung mesin kapal yang bekerja stabil di bawah telapak kaki mereka. Bimo menyesap kopinya yang mulai mendingin, merasakan cairan pahit itu mengalir di tenggorokannya dan memberikan sedikit dorongan energi ke saraf-sarafnya yang letih. Pikirannya melayang pada Silas yang mungkin sedang mengamati cakrawala di dek, atau Mei yang masih berkutat dengan gelombang radio di ruang navigasi.
Tiba-tiba, sebuah suara melengking yang tajam membelah ketenangan dapur, bersumber dari konsol radar di ruang kemudi yang terhubung langsung dengan interkom. Bunyi *ping* yang cepat dan berulang itu bukan lagi sekadar tanda adanya objek statis di permukaan air. Bimo tersentak, tangannya gemetar hingga kopinya nyaris tumpah saat ia berdiri dengan terburu-buru dari kursinya.
"Mei! Laporkan situasi Anda sekarang juga!" teriak Bimo ke arah interkom, suaranya bergema di lorong sempit yang lembap.
"Mas Bimo! Saya mendeteksi tiga objek yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dari arah jam empat!" suara Mei terdengar pecah melalui pengeras suara, dipenuhi oleh kepanikan yang tidak bisa disembunyikan. "Mereka muncul secara tiba-tiba dari area buta sonar kita, kecepatannya mustahil untuk ukuran kapal nelayan atau patroli biasa!"
Bimo segera menghambur keluar dari dapur, langkah kakinya menciptakan bunyi dentuman keras di atas lantai besi. Siti menyusul tepat di belakangnya dengan wajah yang mendadak pucat pasi, napasnya terdengar memburu. Mereka berdua menaiki tangga besi menuju ruang kemudi dengan tergesa-gesa, suara sepatu bot mereka berdentang seperti genderang perang di lorong kapal.
Di dalam ruang kemudi yang remang-remang, Dara Puspita sudah berdiri tegak di depan kemudi utama, jemarinya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga rahangnya tampak kaku. Matanya tidak beralih sedikit pun dari layar monitor yang kini dipenuhi oleh titik-titik merah yang berkedip mengancam. "Dara, apa yang sedang kita hadapi di luar sana?" tanya Bimo sambil mengatur napasnya yang tersengal.
"Tiga kapal cepat, tipe penyerbu taktis yang biasa digunakan oleh tentara bayaran," jawab Dara tanpa menoleh sedikit pun, tangannya sibuk menggeser tuas transmisi untuk memaksimalkan tenaga mesin. "Mereka bergerak dalam kegelapan total tanpa menggunakan lampu navigasi sama sekali. Ini bukan patroli resmi pemerintah, Bimo. Mereka adalah orang-orang Togar."
Bimo melemparkan pandangannya ke luar jendela kaca depan yang pekat. Di kejauhan, tiga bayangan hitam tampak membelah permukaan air, menciptakan buih-buih putih yang sangat kontras dengan kegelapan malam. Kapal-kapal itu bergerak dalam formasi menjepit yang sangat rapi, laksana sekawanan serigala laut yang sedang mengunci mangsanya. Mereka menutup semua celah pelarian bagi *Bintang Timur* yang kini terasa sangat lamban dan menua.
"Mei, segera kirimkan sinyal darurat ke frekuensi Pak Hendra!" perintah Bimo dengan nada mendesak.
"Tidak bisa, Mas! Seluruh spektrum sinyal kita sedang mengalami *jamming* total!" teriak Mei dari kursinya, jemarinya menari dengan kecepatan gila di atas papan ketik yang berpendar. "Bagaimana mungkin mereka memiliki teknologi pengacak sinyal sekuat ini di tengah laut lepas?"
Dara mengumpat pelan dalam dialek Minang yang kental, sebuah tanda bahwa situasi ini sudah berada di luar kendali normalnya. "Siti, segera kenakan pelampung Anda sekarang juga! Bimo, Anda harus membantu Silas di dek belakang, mereka pasti akan mencoba melakukan perapatan paksa!"
"Siti, masuklah ke ruang mesin dan bersembunyilah di balik tangki cadangan yang paling besar," instruksi Bimo sambil memegang kedua bahu Siti, menatap matanya dalam-dalam untuk memberikan sedikit kekuatan. "Jangan pernah keluar dari sana sampai saya sendiri yang memanggil nama Anda."
Siti mengangguk dengan cepat, meskipun ketakutan yang murni terpancar jelas dari matanya yang berkaca-kaca. "Berhati-hatilah, Mas Bimo. Saya mohon, kembalilah dalam keadaan selamat."
Bimo menyambar sebuah senter besar dari laci darurat dan berlari menuju dek belakang. Udara laut yang asin dan menggigit langsung menusuk kulitnya saat ia mendorong pintu kabin hingga terbuka lebar. Di sana, Silas Papare sudah berdiri dengan posisi siaga, memegang sebatang besi panjang dengan tatapan mata yang tajam laksana elang yang sedang mengintai ancaman.
"Kaka Bimo, mereka sudah berada dalam jarak jangkau yang sangat dekat," ujar Silas dengan suara beratnya yang tenang namun mengandung ancaman yang mematikan. "Orang-orang itu membawa senjata api laras panjang."
Raungan mesin kapal penyerbu itu kini terdengar sangat nyata, sebuah getaran berkekuatan tinggi yang membuat udara di sekitar mereka seolah ikut bergetar. Sebuah cahaya suar merah tiba-tiba meluncur ke langit malam, meledak dan menerangi permukaan laut dengan warna jingga yang mengerikan. Cahaya itu memantul di lambung kapal musuh yang dicat hitam legam tanpa ada satu pun identitas resmi yang tertera.
"Menjauh dari kapal kami! Anda berada di jalur pelayaran sipil!" teriak Bimo sekuat tenaga, mencoba mengalahkan deru mesin yang memekakkan telinga.
Sebuah suara bariton yang sangat berwibawa namun terasa sedingin es terdengar melalui pengeras suara dari salah satu kapal pengejar. "Saudara Bimo Satrio, segera matikan mesin kapal Anda dan angkat tangan. Jangan memaksa kami untuk melakukan tindakan yang akan kami sesali di kemudian hari."
Bimo segera mengenali nada bicara itu; itu adalah suara Togar Simanjuntak, atau setidaknya salah satu letnan kepercayaannya yang memiliki aura intimidasi yang serupa. "Kami berada di wilayah perairan internasional! Anda tidak memiliki hak hukum apa pun untuk menghentikan pelayaran kami!"
Jawaban yang diterima Bimo bukanlah untaian kata-kata, melainkan sebuah dentuman keras yang menggetarkan jiwa. Sebuah tembakan peringatan menghantam permukaan air hanya beberapa meter dari lambung kiri *Bintang Timur*, mengirimkan cipratan air raksasa yang membasahi seluruh dek. Kapal berguncang hebat akibat gelombang kejutnya, memaksa Bimo untuk berpegangan erat pada pagar besi yang berkarat.
"Dara, lakukan manuver menghindar ke arah kiri sekarang!" teriak Bimo melalui radio genggam yang ia genggam erat.
"Saya sedang mengusahakannya, tetapi mesin tua ini tidak bisa dipaksa melampaui batas kemampuannya!" balas Dara dengan nada yang penuh dengan frustrasi. "Mereka terlalu lincah dan cepat, Bimo!"
Tembakan kedua menyusul dengan presisi yang lebih mematikan, kali ini menghantam bagian dek belakang kapal. Ledakan kecil terjadi, disusul oleh jilatan api yang mulai melahap tumpukan jaring nelayan tua yang kering. Bau solar yang tumpah segera menyengat hidung, bercampur dengan asap hitam yang pekat dan menyesakkan dada, menciptakan pemandangan laksana neraka di tengah samudra.
Bimo segera menyambar alat pemadam api ringan yang tergantung di dinding kabin luar. Ia menyemprotkan busa putih ke arah api yang menari-nari, berjuang melawan hawa panas yang mulai menjilat kulit lengannya hingga terasa perih. Asap tebal membuat pandangannya mulai kabur dan matanya perih, namun ia terus bergerak dengan keras kepala, menolak untuk membiarkan kapalnya hancur begitu saja di tangan para penjahat ini.
"Silas, mereka sedang merapat di sisi kiri!" teriak Bimo saat melihat salah satu kapal cepat itu menempelkan lambungnya pada *Bintang Timur*.
Kait-kait besi dilemparkan dari kapal musuh, mencengkeram pagar kapal dengan bunyi denting logam yang kasar. Beberapa pria berpakaian taktis hitam dengan wajah tertutup topeng mulai memanjat naik dengan ketangkasan yang terlatih. Silas menyambut mereka dengan kemarahan yang tenang namun destruktif. Dengan satu ayunan besi panjangnya yang bertenaga, ia menjatuhkan penyerang pertama kembali ke dalam pelukan laut yang dingin.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak untuk dihadapi oleh satu orang saja. Dari sisi kanan, kapal kedua juga mulai melakukan manuver yang sama, mengirimkan gelombang penyerang tambahan. Bimo melepaskan tabung pemadam api yang sudah kosong dan mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata pertahanan diri. Ia menemukan sebuah kunci inggris besar di dekat kotak perkakas yang terbuka.
"Jangan biarkan satu pun dari mereka menginjakkan kaki di ruang kemudi!" seru Bimo kepada Silas.
Seorang penyerang berhasil melompat ke dek dan langsung menerjang ke arah Bimo dengan pisau komando yang berkilat. Bimo menghindar dengan gerakan refleks, merasakan desingan angin saat tinju lawan melewati telinganya hanya dalam hitungan milimeter. Ia membalas dengan hantaman kunci inggris ke arah bahu lawan, membuat pria itu mengerang kesakitan dan terduduk di lantai dek.
Malangnya, penyerang lain datang dari arah belakang tanpa suara, menghantamkan popor senjata api ke punggung Bimo dengan kekuatan penuh. Bimo tersungkur ke depan, rasa sakit yang tajam dan panas menjalar di sepanjang tulang belakangnya seolah-olah sarafnya sedang diputus. Rasa amis darah mulai memenuhi mulutnya saat wajahnya menghantam lantai dek yang keras dan kasar.
Ia mencoba untuk bangkit kembali, namun sebuah sepatu bot militer yang berat menekan kepalanya ke lantai dengan sangat kuat. "Cukup sampai di sini, Satrio," suara dingin itu kini terdengar sangat dekat, tepat di atas telinganya.
Bimo mendongak dengan susah payah, matanya yang bengkak mencoba memfokuskan pandangan. Di depannya berdiri seorang pria tinggi dengan seragam taktis yang sangat rapi, menatapnya dengan pandangan merendahkan seolah Bimo hanyalah serangga yang mengganggu. Di belakang pria itu, beberapa orang lainnya sudah menodongkan senjata api ke arah Silas yang kini terdesak di sudut dek dengan napas yang memburu.
"Di mana keberadaan gadis itu sekarang?" tanya pemimpin penyerang tersebut dengan nada datar tanpa emosi.
Bimo memilih untuk terdiam, rahangnya mengeras bagai semen yang membeku. Ia tidak akan pernah memberikan informasi apa pun tentang Siti kepada mereka, apa pun risikonya. Namun, harapannya hancur berkeping-keping saat ia mendengar teriakan melengking dari arah ruang mesin di bawah sana. Dua orang penyerang keluar dari pintu palka sambil menyeret Siti Nurhaliza yang terus meronta-ronta dengan sisa tenaganya.
"Lepaskan dia sekarang juga, bajingan!" raung Bimo, mencoba meronta namun tekanan sepatu bot di kepalanya semakin menguat hingga ia merasa tengkoraknya akan retak.
Siti menatap Bimo dengan mata yang dipenuhi oleh ketakutan yang murni dan air mata yang mulai mengalir. "Mas Bimo! Tolong saya!"
"Segera bawa dia ke kapal utama kita," perintah sang pemimpin tanpa menunjukkan emosi sedikit pun. "Dan segera pasang perangkat peledak di titik-titik vital. Kita tidak lagi membutuhkan kapal tua yang tidak berguna ini."
"Jangan! Ini adalah satu-satunya warisan dari ayah saya!" raung Bimo dengan suara yang serak. Air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya, bercampur dengan debu, oli, dan darah yang mengering.
Pria yang menekan kepala Bimo mengangkat kakinya, hanya untuk memberikan satu tendangan keras ke arah perut Bimo. Bimo terbatuk hebat, tubuhnya meringkuk laksana janin untuk menahan rasa sakit yang luar biasa yang menghantam organ dalamnya. Ia hanya bisa melihat dengan pandangan yang kabur saat Siti diseret paksa melewati pagar kapal dan dimasukkan ke dalam kapal cepat milik sindikat tersebut.
"Bimo!" teriakan Siti terdengar untuk terakhir kalinya sebelum sebuah tangan kasar membekap mulutnya dengan paksa.
Para penyerang mulai mundur dari lambung *Bintang Timur* dengan efisiensi militer yang menakutkan, seolah-olah mereka baru saja menyelesaikan latihan rutin. Bimo berusaha merangkak menuju pagar kapal, jemarinya mencakar lantai kayu yang mulai terasa panas karena api yang semakin membesar di bagian bawah palka. Ia melihat Silas yang tergeletak pingsan di sudut dek, sementara Dara dan Mei sedang digiring keluar dari ruang kemudi oleh penyerang lainnya dengan tangan terikat.
"Kalian tidak akan pernah bisa lari dari konsekuensi perbuatan ini!" teriak Bimo dengan sisa kekuatan yang ia miliki di paru-parunya.
Pemimpin penyerang itu menoleh sejenak sebelum melompat kembali ke kapalnya dengan gerakan yang sangat tenang. "Kami tidak sedang melarikan diri, Satrio. Kami hanya sedang melakukan pembersihan terhadap sampah-sampah sejarah yang tidak relevan lagi."
Sebuah benda kecil berbentuk kotak dengan lampu merah yang berkedip cepat ditinggalkan begitu saja di tengah dek belakang. Bimo tahu persis apa benda itu. Detik-detik kematian kapalnya sudah dimulai dalam hitungan mundur yang kejam. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha mencapai Silas, menyeret tubuh besar pria Papua itu menuju tepi kapal dengan napas yang tersengal-sengal.
"Silas! Bangun, Kaka! Kita harus segera melompat sekarang juga!" teriak Bimo sambil menampar pipi Silas dengan keras.
Silas mengerang pelan, matanya terbuka sedikit dan langsung menangkap pemandangan api yang sudah mengepung mereka dari segala arah. Dengan bantuan Bimo, Silas berhasil berdiri dengan langkah yang sangat goyah. Mereka berdua tertatih-tatih menuju pagar kapal, tepat saat suara detak dari perangkat peledak itu berhenti secara tiba-tiba.
"Lompat!"
Bimo dan Silas melontarkan tubuh mereka ke dalam kegelapan laut tepat saat sebuah dentuman raksasa yang memekakkan telinga meledak di belakang mereka. Gelombang panas dari ledakan itu menghantam punggung Bimo dengan kekuatan ribuan palu, melemparkannya lebih jauh ke tengah laut yang hitam. Air laut yang dingin menusuk tulang segera menyambut tubuhnya, memberikan kejutan termal yang membuat napasnya seolah terhenti seketika.
Di bawah permukaan air, Bimo hanya bisa mendengar suara gemuruh yang diredam oleh massa air dan melihat cahaya jingga yang berpendar hebat dari permukaan. Ia berjuang sekuat tenaga untuk naik kembali, paru-parunya berteriak meminta oksigen yang sangat ia butuhkan. Saat kepalanya akhirnya memecah permukaan air, pemandangan yang menyambutnya adalah sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan yang paling pahit.
*Bintang Timur*, kapal yang telah menjadi rumah, tempat berlindung, dan saksi bisu dari seluruh perjuangannya, kini hancur berkeping-keping menjadi puing-puing yang tak berbentuk. Api berkobar hebat di atas sisa-sisa kayu dan besi yang masih mengapung, menciptakan siluet mengerikan yang menari-nari di tengah kegelapan malam yang sunyi. Asap hitam membubung tinggi ke angkasa, menutupi bintang-bintang yang tadinya terlihat begitu indah dan tenang.
Bimo terengah-engah, tangannya menggapai-gapai sepotong kayu sisa pintu kabin untuk menjaga tubuhnya agar tetap mengapung di permukaan. Ia memutar tubuhnya dengan susah payah, mencari keberadaan teman-temannya di antara puing yang terbakar. "Silas! Dara! Mei! Di mana kalian?"
Hanya kesunyian laut yang luas yang menjawab panggilannya, diselingi oleh suara retakan kayu yang terbakar dan desis air yang memadamkan bara. Di kejauhan, ia melihat lampu belakang dari tiga kapal cepat itu menjauh dengan kecepatan tinggi, membawa Siti pergi menuju kegelapan cakrawala yang tak terjangkau oleh tangannya. Rasa kehilangan yang sangat mendalam menghantam Bimo lebih keras daripada gelombang ledakan tadi.
Segala sesuatu yang telah ia bangun dengan susah payah, segala bukti sejarah yang ia kumpulkan dengan mempertaruhkan nyawa, semuanya kini tenggelam bersama bangkai kapal itu ke dasar samudra. Ia merasa telah gagal secara total. Kegagalan untuk melindungi kapalnya, kegagalan untuk melindungi Siti, dan kegagalan untuk menuntaskan janji suci pada ayahnya. Setiap otot di tubuhnya berteriak kesakitan, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat dan menghancurkan.
Ia menatap puing-puing yang perlahan-lahan mulai tenggelam satu per satu ke dalam pelukan arus bawah. Besi tua *Bintang Timur* seolah mengeluarkan erangan terakhir yang memilukan sebelum akhirnya ditelan sepenuhnya oleh kedalaman laut yang dingin dan tak berampun. Bimo terombang-ambing sendirian di tengah samudera yang luas, laksana sebutir debu di tengah badai yang tak berujung.
Cahaya jingga dari api yang memantul di permukaan air mulai meredup seiring dengan tenggelamnya sisa-sisa kapal ke dalam kegelapan. Langit malam terasa semakin rendah, seolah-olah hendak menghimpit tubuhnya ke dalam air yang membeku. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya yang tersengal dan menahan rasa dingin yang mulai merayap masuk ke dalam tulang-tulangnya.
Namun, di tengah keputusasaan yang nyaris sempurna itu, sebuah kilatan cahaya aneh muncul dari kedalaman air tepat di bawah kakinya. Sebuah pendaran safir yang asing dan misterius mulai merayap dari kegelapan palung, membentuk pola-pola geometris yang sangat familiar di mata Bimo. Itu adalah frekuensi cahaya yang sama dengan yang ia temukan di dalam catatan rahasia kakeknya, sebuah fenomena yang seharusnya tidak mungkin terjadi di koordinat ini.
Apakah laut sedang mencoba membisikkan sesuatu kepadanya, ataukah ini hanyalah halusinasi dari otaknya yang mulai kekurangan oksigen? Bimo tidak tahu pasti. Ia hanya bisa menatap pendaran misterius itu saat kesadarannya mulai menipis, sementara kapal musuh telah menghilang sepenuhnya di garis cakrawala, meninggalkan dirinya dalam pelukan maut yang sunyi.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar yang kasar mencengkeram kerah pelampungnya dari arah belakang, menarik tubuhnya ke atas sebuah sekoci kecil yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Bimo terbatuk hebat, memuntahkan air asin dari paru-parunya saat ia melihat wajah Silas yang penuh luka namun masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang kuat.
"Kita belum benar-benar kalah, Kaka Bimo," bisik Silas dengan suara serak yang penuh dengan tekad.
Bimo menatap Silas, lalu kembali menatap ke arah perginya sindikat yang telah menghancurkan hidupnya. Sebuah kemarahan baru mulai tumbuh di sela-sela keputusasaannya, sebuah api kecil yang menolak untuk padam meski disiram oleh seluruh air samudera. Ia akan menemukan Siti. Ia akan menghancurkan Togar hingga ke akar-akarnya. Dan ia akan membuktikan bahwa laut tidak pernah melupakan mereka yang berani mencari kebenaran di dasarnya.
Namun, saat ia menoleh kembali ke arah pendaran biru di bawah air, cahaya itu tiba-tiba meledak dalam keheningan yang absolut, mengirimkan gelombang kejut yang membuat sekoci mereka terombang-ambing hebat di atas permukaan. Sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tua dari sekadar sindikat atau kapal selam sedang terbangun di kedalaman sana. Bimo Satrio baru saja menyadari bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai, dan taruhannya adalah masa depan umat manusia itu sendiri.
Di kejauhan, guntur meredam di langit yang tanpa awan, sebuah pertanda alam yang seolah menyambut kehancuran mereka dengan tawa yang dingin dan angkuh. Bimo mengepalkan tinjunya, merasakan sisa-sisa kekuatan yang masih ia miliki mengalir kembali ke pembuluh darahnya. Ia tidak akan membiarkan puing-puing ini menjadi akhir dari segalanya.
"Kita akan mengejar mereka, Silas, apa pun risikonya," ujar Bimo dengan nada suara yang kini dipenuhi oleh tekad baja yang tak tergoyahkan.
Silas hanya mengangguk pelan, mulai mendayung sekoci kecil itu menembus kabut asap tebal yang masih menyelimuti permukaan air. Di belakang mereka, *Bintang Timur* telah sepenuhnya hilang dari pandangan, meninggalkan permukaan laut yang kembali tenang seolah-olah tidak pernah terjadi tragedi berdarah apa pun di sana beberapa saat yang lalu. Namun, bagi Bimo, setiap riak air kini adalah pengingat akan hutang darah yang harus segera ia bayar tunai.
Malam itu, di tengah laut lepas yang tak mengenal ampun, Bimo Satrio kehilangan segala harta bendanya, namun ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi musuh-musuhnya: sebuah alasan untuk tidak lagi memiliki rasa takut pada kematian. Dan di kedalaman yang paling gelap, Catatan Dasar Laut mulai membisikkan rahasia terakhirnya, sebuah rahasia yang akan mengubah takdir manusia untuk selamanya.
Pendaran biru itu tidak hilang; ia justru mengikuti sekoci mereka laksana bayangan yang setia, menunggu saat yang tepat untuk menunjukkan wajah aslinya kepada dunia yang sudah terlalu lama melupakannya. Bimo menatap cahaya itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ayahnya mungkin tidak pernah benar-benar pergi, melainkan sedang menunggunya di suatu tempat yang sangat jauh di bawah sana, di jantung samudra yang paling dalam.
Perjalanan ini belum berakhir; ini hanyalah awal dari sebuah penyelaman yang akan membawa mereka menuju titik nadir kemanusiaan, atau menuju puncak kejayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan Bimo bersumpah, apa pun yang terjadi nanti, ia akan menjadi orang terakhir yang berdiri tegak untuk menceritakan kisah ini kepada dunia yang sedang terlelap.
Angin malam bertiup semakin kencang, membawa aroma hangus dari puing-puing dan harapan yang masih tersisa di antara mereka. Di tengah kegelapan yang pekat, Bimo Satrio terus menatap lurus ke depan, ke arah di mana Siti dibawa pergi, ke arah di mana musuhnya merasa telah memenangkan pertempuran ini. Namun, mereka salah besar, karena seorang pria yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan adalah pria yang paling berbahaya di seluruh samudera raya.
Sekoci itu terus melaju perlahan, membelah ombak yang semakin tinggi, menuju sebuah takdir yang telah tertulis di dasar laut sejak ribuan tahun yang lalu. Dan kali ini, tidak akan ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa menghentikan arus yang sudah mulai bergerak dengan kekuatan penuh.