3 / 36
Reading
Haluan perahu kayu yang membawa Bimo Satrio membelah permukaan laut yang tenang, meninggalkan jejak buih putih yang segera memudar ditelan birunya air yang pekat. Di ufuk timur, sang surya mulai merangkak naik, menyiram permukaan air dengan warna perak yang menyilaukan mata hingga memaksa siapapun untuk memalingkan wajah. Bimo menyesuaikan letak kacamata hitamnya dengan ujung telunjuk. Hembusan angin laut membawa aroma garam yang tajam dan kelembapan yang terasa akrab di kulitnya, sebuah sensasi yang membangkitkan ingatan lama. Baginya, perjalanan ini menyerupai langkah kaki di jalan setapak yang telah lama tertutup semak belukar, sebuah rute menuju masa lalu yang sebenarnya enggan ia kunjungi kembali. Mesin tempel perahu menderu rendah, mengirimkan getaran konstan yang merambat dari telapak kaki, naik ke tulang belakang, hingga berdenyut di pangkal tengkoraknya.
Kampung Karang Hijau perlahan muncul di kejauhan. Deretan rumah panggung itu tampak rapuh, berdiri di atas kaki-kaki kayu yang terendam air jernih. Namun, harmoni pemandangan asri itu kini terganggu oleh kehadiran benda-benda asing yang mencolok di cakrawala. Kapal-kapal keruk raksasa milik PT Samudra Perkasa berdiri angkuh, menyerupai raksasa logam yang sedang beristirahat setelah melahap isi bumi. Lengan-lengan besinya menjulang tinggi menusuk langit, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan tiang-tiang jemuran ikan milik warga yang bersahaja. Bimo menyipitkan mata saat struktur logam itu memantulkan cahaya matahari, menciptakan kilatan tajam yang menusuk retinanya.
Perahu akhirnya merapat di dermaga kayu yang tampak sudah mulai lapuk dan berlumut di beberapa bagian. Bimo melompat turun, merasakan papan kayu yang berderit dan melengkung di bawah beban tubuhnya yang tegap. Hal pertama yang menyambutnya bukanlah senyum ramah penduduk lokal yang biasanya hangat, melainkan sebuah papan peringatan yang masih baru. Papan itu berwarna kuning mencolok dengan tulisan hitam besar yang tegas: "AREA TERBATAS - PROPERTI PT SAMUDRA PERKASA - DILARANG MASUK". Bimo mengulurkan tangan, menyentuh permukaan papan tersebut. Teksturnya terasa kasar di bawah jemarinya, dan bau cat minyak yang menyengat masih tercium kuat, mencoba menutupi aroma alami laut yang segar.
"Jangan terlalu lama berdiri di situ, Mas," tegur seorang pria paruh baya yang tadi mengantarnya dengan perahu.
Bimo menoleh dan mendapati kegelisahan yang nyata di mata sang nelayan. Pria itu terus melirik ke arah laut lepas dengan gelisah. Di kejauhan, sebuah kapal patroli kecil dengan logo korporasi yang sama tampak sedang berputar-putar, membelah ombak dengan kecepatan tinggi. Seorang penjaga keamanan berseragam gelap berdiri tegak di geladak kapal tersebut, memegang teropong yang diarahkan tepat ke arah dermaga tempat Bimo berdiri. Udara di sekitar dermaga mendadak terasa berat dan menyesakkan, seolah tekanan air di kedalaman tiga puluh meter mulai menghimpit paru-parunya tanpa ampun. Bimo mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu melangkah menuju pusat kampung dengan tas ransel yang terasa lebih membebani bahunya dari biasanya.
Bau karat yang tajam mulai menusuk hidung saat ia melewati tumpukan mesin-mesin tua yang dibiarkan terbengkalai dan memerah di pinggir jalan setapak. Suasana kampung terasa sunyi, sebuah kesunyian yang tidak wajar dan mencekam untuk waktu sepagi ini di desa nelayan. Biasanya, suara anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki atau celoteh ibu-ibu yang sibuk menjemur ikan akan memenuhi udara dengan kehidupan. Kini, yang terdengar hanyalah deru mesin kapal patroli yang sayup-sayup terbawa angin, sebuah pengingat akan kehadiran otoritas yang tak kasatmata namun mengancam. Bimo terus berjalan, mengikuti nalurinya menuju bangunan terbesar di tengah desa, balai pertemuan yang dinding kayunya tampak lembap dan menghitam oleh uap laut yang asin.
Langkah kaki Bimo terhenti tepat di depan pintu masuk balai desa yang terbuka lebar. Di dalam, ruangan itu sudah penuh sesak oleh puluhan pria berwajah keras dengan kulit yang terbakar matahari hingga berwarna tembaga. Suara riuh rendah, teriakan protes, dan perdebatan panas memantul di dinding-dinding kayu, menciptakan gema yang memusingkan kepala. Bimo mencoba masuk dengan langkah setenang mungkin, mengambil posisi di barisan paling belakang agar kehadirannya tidak segera menarik perhatian massa yang sedang emosional. Hawa panas menguar dari tubuh-tubuh yang penuh amarah itu, bercampur dengan aroma keringat yang tajam dan asap tembakau murah yang menyesakkan dada.
"Mereka sudah menutup jalur karang sebelah timur secara sepihak!" teriak seorang nelayan muda sambil menggebrak meja kayu di depan hingga debu-debu beterbangan. "Bagaimana kami bisa mencari nafkah kalau wilayah tangkap kami dipagari besi-besi itu?"
"Harap tenang terlebih dahulu, Man," sahut sebuah suara lain yang lebih tua, mencoba meredam gejolak di ruangan itu. "Kita tidak akan bisa melawan mereka hanya dengan tangan kosong dan emosi yang meluap."
"Sabar sampai kapan, Pak? Sampai tiba-tiba anak-anak kami terpaksa makan pasir karena lautnya sudah habis?" balas nelayan muda itu dengan nada yang semakin meninggi.
Bimo menyadari bahwa beberapa orang yang duduk di dekatnya mulai mengarahkan tatapan curiga ke arahnya. Mereka saling berbisik, mata mereka menyipit saat memperhatikan pakaian Bimo yang tampak terlalu bersih dan modern untuk ukuran orang lokal. Ia merasa seperti seekor burung asing yang baru saja mendarat di wilayah predator yang sedang lapar dan waspada. Darahnya terasa mengalir turun ke kaki, memberikan sensasi goyah yang sesaat, namun ia berusaha tetap berdiri tegak dengan ekspresi wajah yang datar. Ia sangat memahami bahwa di tempat yang sedang dilanda konflik seperti ini, ketakutan adalah undangan terbuka bagi permusuhan yang lebih besar.
Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya berdiri di depan ruangan, mengangkat kedua tangannya untuk meminta ketenangan. Itulah Pak Darman, tetua yang namanya sering disebut-sebut oleh Aki Jajang dengan nada penuh hormat. Wajahnya dipenuhi kerutan yang dalam, menyerupai peta pelayaran kuno yang sudah ribuan kali dilalui oleh badai. Mata Pak Darman menyapu seluruh ruangan dengan tajam, hingga akhirnya pandangannya berhenti tepat pada sosok Bimo yang berdiri di pojok belakang. Ruangan mendadak menjadi hening, hanya menyisakan suara deburan ombak di bawah kolong bangunan yang terdengar jelas di sela-sela napas para nelayan.
"Ada tamu rupanya di tengah-tengah kita," ujar Pak Darman dengan suara bariton yang tenang namun memiliki wibawa yang tidak bisa dibantah. "Silakan maju ke depan, anak muda. Jangan berdiri di kegelapan seperti itu, seolah-olah Anda memiliki sesuatu yang disembunyikan."
Bimo menarik napas panjang, merasakan lantai kayu yang berderit di bawah setiap langkahnya saat ia berjalan menuju bagian depan. Setiap pasang mata di ruangan itu mengikuti gerakannya tanpa berkedip, menimbang-nimbang dengan saksama apakah ia adalah kawan yang membawa harapan atau lawan yang dikirim oleh korporasi. Ia berhenti tepat di samping Pak Darman, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat sesuai tradisi yang telah ia pelajari dengan baik. Di sini, kata-kata adalah komoditas yang harus digunakan dengan sangat hati-hati, menyerupai cadangan oksigen yang terbatas di dalam tabung selam saat berada di kedalaman laut.
"Matur nuwun, Pak," kata Bimo dengan nada formal yang sopan dan terjaga. "Nama saya Bimo Satrio. Saya datang ke sini bukan untuk menambah beban atau kerumitan bagi Bapak-bapak sekalian."
"Bimo Satrio?" Pak Darman mengulang nama itu perlahan, dahinya berkerut seolah sedang menggali memori yang terkubur. "Itu adalah nama yang tidak asing bagi telinga saya. Apakah Anda memiliki hubungan darah dengan almarhum Pak Surya?"
"Beliau adalah kakek saya, Pak," jawab Bimo singkat namun tegas. "Saya datang karena mendengar kabar mengenai apa yang sedang terjadi di Karang Hijau saat ini."
Bisik-bisik kembali terdengar di seluruh penjuru ruangan, namun kali ini nadanya sedikit melunak dan penuh rasa ingin tahu saat nama kakek Bimo disebutkan. Pak Surya dulunya adalah seorang oseanografer yang banyak membantu para nelayan di wilayah ini dalam memetakan arus bawah laut dan memprediksi musim ikan. Warisan nama besar itu kini menjadi jembatan yang rapuh, namun setidaknya cukup kuat untuk menahan gelombang kecurigaan warga untuk sementara waktu. Pak Darman mengangguk pelan, lalu mempersilakan Bimo untuk duduk di sebuah kursi kayu yang permukaannya sudah halus karena sering digunakan selama puluhan tahun.
Ketegangan di ruangan itu sedikit mencair, meskipun sisa-sisa amarah masih terasa menggantung di udara seperti awan mendung yang siap menumpahkan hujan. Pak Darman kembali menatap para nelayan sebelum beralih kepada Bimo. "Kakekmu adalah orang yang sangat baik, Bimo. Namun, zaman sekarang sudah jauh berbeda dengan masa kakekmu dahulu. Sekarang, laut bukan lagi milik mereka yang memuja ombak dan menghormati alam, melainkan milik mereka yang hanya memuja angka-angka keuntungan di atas kertas."
"Apa yang sebenarnya sedang mereka cari di sini, Pak? Mengapa mereka begitu agresif?" tanya Bimo, mencoba memancing informasi tanpa terlihat terlalu mendesak atau mencurigakan.
"Awalnya mereka bilang ingin mengambil energi untuk membangun masa depan yang lebih baik," sahut seorang nelayan dari barisan tengah dengan nada sinis yang kental. "Tapi yang kami lihat hanyalah jaring-jaring kami yang robek dan tumpahan solar yang meracuni terumbu karang kami."
"Mereka menutup jalur laut yang biasanya kami lalui untuk mencari ikan," tambah nelayan lain dengan suara yang bergetar karena emosi. "Katanya demi keamanan operasional proyek. Tapi kami semua tahu, mereka hanya ingin menguasai dasar laut itu sendiri tanpa ada mata yang mengawasi."
Bimo mendengarkan setiap keluhan itu dengan saksama, mencatat setiap detail kecil dalam ingatannya yang analitis. Ia mencoba membayangkan peta bawah laut wilayah ini di dalam kepalanya, mencocokkan keluhan para nelayan dengan titik-titik koordinat yang ia ketahui dari penelitian sebelumnya. Ada sebuah pola yang mulai terbentuk, sebuah skema yang jauh lebih besar dan lebih gelap dari sekadar pembangunan dermaga atau eksplorasi energi konvensional. Ia merasa seperti sedang menyusun kepingan teka-teki raksasa di mana potongan-potongannya mulai jatuh ke tempat yang seharusnya. Namun, ia tetap menjaga ekspresinya agar tidak menunjukkan ketertarikan yang berlebihan.
Setelah perdebatan yang melelahkan itu berlangsung selama hampir dua jam tanpa titik temu yang pasti, Pak Darman akhirnya memutuskan untuk menghentikan pertemuan sejenak. Ia mengajak Bimo menuju teras belakang balai desa yang menghadap langsung ke arah laut lepas yang membentang luas. Di sana, suasana terasa sedikit lebih ringan dengan hembusan angin yang lebih kencang, membawa kesegaran yang dibutuhkan paru-paru mereka. Seorang wanita paruh baya datang membawakan nampan berisi kopi tubruk yang uapnya mengepul panas dan sepiring pisang goreng yang masih hangat. Aroma kopi yang pahit dan kental segera memenuhi indra penciuman Bimo, memberikan sedikit ketenangan di tengah situasi yang kacau.
"Silakan diminum, Le," ujar wanita itu ramah, yang kemudian Bimo ketahui bernama Mbak Lastri, sosok yang mengelola logistik di desa tersebut. "Pisang gorengnya baru saja matang, masih manis dan renyah."
Bimo menyesap kopi hitam itu perlahan, merasakan cairan panas yang membakar lidahnya namun memberikan sentakan energi yang ia butuhkan untuk tetap fokus. Rasa manis dari pisang goreng yang dibalut tepung renyah itu terasa seperti kemewahan kecil di tengah intimidasi korporasi yang mengepung desa mereka. Ia duduk melingkar bersama Pak Darman dan beberapa nelayan senior lainnya, menikmati momen istirahat yang singkat ini. Di ruang terbuka ini, percakapan terasa lebih jujur dan mengalir tanpa beban formalitas yang kaku seperti di dalam ruangan tadi.
"Pak Darman, saya sempat melihat koordinat wilayah yang mereka tutup," kata Bimo setelah meletakkan cangkir kopinya. "Berdasarkan data geologi, itu bukan wilayah yang memiliki cadangan minyak atau gas dalam jumlah besar. Mengapa mereka begitu bersikeras menguasai titik tersebut?"
Pak Darman terdiam sejenak, matanya menatap jauh ke arah cakrawala di mana kapal keruk itu berada. Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pasir di dasar laut yang sunyi. Tangan tuanya yang tadi sedikit gemetar saat memegang cangkir kini menjadi mantap, seolah ia baru saja mengambil keputusan besar yang telah lama ia pertimbangkan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Bimo, merendahkan suaranya hingga hampir menyerupai bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang duduk di lingkaran terbatas itu.
"Korporasi itu tidak hanya mencari apa yang bisa mereka jual di pasar komoditas, Bimo," bisik Pak Darman dengan nada yang sangat serius. "Ada sesuatu yang sedang 'tertidur' di bawah karang itu. Sesuatu yang kakekmu dulu pernah ceritakan dalam dongeng-dongengnya sebelum dia menghilang."
Tepat saat Pak Darman mengucapkan kata-kata itu, sebuah sirene dari kapal patroli korporasi meraung keras di dekat pantai. Suaranya yang melengking tajam membelah kesunyian siang itu, menggetarkan kaca-kaca jendela balai desa yang sudah mulai rapuh dan tua. Bimo secara refleks berdiri dan berjalan menuju pagar teras, melihat ke arah laut dengan jantung yang berdegup kencang di balik dadanya. Sebuah kapal baja hitam yang masif tampak sedang membelah ombak dengan angkuh, bergerak sangat dekat dengan garis pantai kampung seolah sedang memamerkan kekuatannya.
Getaran rendah dari mesin kapal yang masif itu terasa hingga ke ulu hati Bimo, sebuah sensasi yang tidak menyenangkan dan penuh ancaman fisik. Ia bisa melihat wajah anak-anak nelayan yang sedang bermain di pinggir pantai mendadak pucat pasi karena ketakutan yang nyata. Mereka berlarian mencari perlindungan di balik rumah-rumah panggung, seolah-olah kapal itu adalah predator purba yang siap memangsa mereka kapan saja. Cahaya matahari senja yang mulai menguning memantul pada lambung kapal baja itu, menciptakan bayangan panjang yang seolah menelan seluruh kampung ke dalam kegelapan yang prematur.
"Anda lihat itu, Bimo?" tanya Pak Darman yang kini sudah berdiri di sampingnya dengan tangan terkepal. "Itu adalah cara mereka untuk terus mengingatkan kami siapa sebenarnya penguasa di wilayah ini sekarang."
"Ini bukan sekadar masalah sengketa lahan atau wilayah tangkap, Pak," ujar Bimo pelan, matanya masih terpaku pada kapal patroli yang mulai menjauh. "Ini adalah sebuah invasi yang terencana dengan sangat rapi."
"Benar sekali," sahut Pak Darman dengan nada yang getir. "Mereka memiliki besi yang dingin dan kuat, sementara kami hanya memiliki garam. Dan dalam sejarah dunia, garam selalu kalah jika harus beradu langsung dengan besi yang tidak memiliki perasaan."
Bimo merasakan kemarahan yang mulai membuncah di dalam dirinya, sebuah emosi yang jarang ia biarkan muncul ke permukaan karena ia lebih sering mengandalkan logika. Ia teringat akan ayahnya, akan kecelakaan tragis yang merenggut nyawa pria itu, dan bagaimana korporasi besar selalu memiliki cara-cara kotor untuk menutupi jejak mereka dari hukum. Ia tidak ingin melihat tragedi yang sama menimpa orang-orang di kampung ini, orang-orang yang hanya ingin hidup damai berdampingan dengan laut mereka. Namun, ia juga menyadari bahwa ia tidak boleh bertindak gegabah tanpa rencana yang matang dan dukungan data yang akurat.
Kapal patroli itu akhirnya berbelok menjauh, meninggalkan gelombang besar yang menghantam tiang-tiang dermaga dengan keras hingga airnya menciprat ke daratan. Suasana kembali sunyi, namun kesunyian kali ini terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya, seolah-olah badai besar sedang mengintai di balik ketenangan tersebut. Para nelayan yang tadi beristirahat kini mulai kembali ke dalam balai desa dengan wajah yang tampak lebih muram dan putus asa. Bimo kembali ke tempat duduknya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke dasar laut, mencoba memvisualisasikan apa sebenarnya yang 'tertidur' di kedalaman sana.
Pak Darman merogoh saku bajunya yang lusuh dan mengeluarkan sebuah lipatan kertas yang tampak sudah sangat tua dan menguning. Ia membukanya dengan sangat hati-hati di atas meja, memperlihatkan sebuah peta laut wilayah Karang Hijau yang digambar dengan tangan secara mendetail. Tekstur kertas peta itu terasa rapuh dan sedikit berminyak di jemari Bimo saat ia membantu meratakan lipatan-lipatan yang ada. Di atas peta itu, terdapat banyak coretan tinta merah yang menandai area-area tertentu, lengkap dengan catatan kaki dalam bahasa teknis dan simbol-simbol yang tidak sepenuhnya Bimo pahami pada awalnya.
"Ini adalah peta yang disimpan oleh kakekmu sebelum dia pergi untuk terakhir kalinya," kata Pak Darman dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh orang lain. "Dia menitipkannya kepadaku, dan berpesan bahwa peta ini hanya boleh diberikan kepada seseorang yang memiliki mata yang sama dengannya, seseorang yang melihat laut lebih dari sekadar air."
Bimo menatap peta itu dengan saksama, dan tiba-tiba paru-parunya seolah lupa cara bekerja untuk beberapa detik. Di salah satu sudut peta, terdapat sebuah titik koordinat yang dilingkari dengan tinta merah yang sudah memudar namun tetap terlihat jelas. Koordinat itu sangat akrab di matanya, karena itu adalah titik yang persis sama dengan yang ia temukan dalam catatan rahasia kakeknya yang ia simpan di brankas rumahnya. Titik itu berada tepat di bawah wilayah yang sekarang ditutup rapat oleh PT Samudra Perkasa dengan alasan operasional yang mencurigakan.
"Apa yang sebenarnya tersembunyi di titik ini, Pak?" tanya Bimo, suaranya sedikit bergetar karena perpaduan antara kegembiraan intelektual dan ketakutan yang mendalam.
Pak Darman tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menatap Bimo dengan pandangan yang penuh beban sejarah, seolah sedang menimbang apakah pemuda di depannya ini benar-benar siap untuk memikul rahasia yang selama ini ia jaga dengan taruhan nyawanya. Di luar, suara ombak kembali terdengar normal menghantam pantai, namun di dalam balai desa itu, sebuah takdir baru baru saja diputuskan oleh waktu. Bimo merasakan tangannya menjadi mantap saat ia menggenggam pinggiran meja kayu, siap untuk menghadapi apa pun konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya.
"Itu adalah pintu masuknya, Bimo," bisik Pak Darman akhirnya, suaranya mengandung kengerian sekaligus kekaguman. "Pintu masuk menuju sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemukan oleh manusia-manusia yang hanya memikirkan keuntungan materi semata."
Bimo menelan ludah, merasakan rasa asin air laut yang mengering di kulit wajahnya saat angin berhembus masuk. Ia menyadari bahwa mulai saat ini, perjalanannya bukan lagi sekadar mencari jawaban atas kematian ayahnya yang misterius. Ini telah berubah menjadi sebuah misi suci untuk melindungi rahasia yang jauh lebih besar, sebuah rahasia yang memiliki potensi untuk mengubah segalanya yang kita ketahui tentang dunia. Ia menatap Pak Darman, memberikan anggukan kecil yang penuh arti, sebuah janji tanpa kata-kata bahwa ia tidak akan membiarkan warisan kakeknya jatuh ke tangan yang salah.
"Berhati-hatilah, Le," peringat Pak Darman saat Bimo mulai melipat kembali peta itu dengan gerakan yang sangat hati-hati. "Mencari tahu lebih dalam bisa membahayakan nyawamu. Korporasi itu memiliki mata di mana-mana, bahkan di tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh cahaya matahari di bawah air sekalipun."
Bimo memasukkan peta itu ke dalam saku bagian dalam jaketnya, merasakannya menempel erat di dadanya seolah memberikan perlindungan tambahan. Ia berdiri, berpamitan kepada Pak Darman dan warga lainnya dengan sikap yang tetap tenang meski pikirannya sedang berkecamuk hebat. Saat ia berjalan keluar dari balai desa, matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya di cakrawala, menciptakan semburat warna merah darah yang dramatis di langit. Ia melihat kembali ke arah kapal-kapal keruk korporasi yang kini tampak seperti siluet monster hitam yang menakutkan di tengah keremangan cahaya.
Langkah kakinya membawanya kembali menuju dermaga, tempat perahu yang akan membawanya pulang sudah menunggu dengan mesin yang sudah dipanaskan. Ia tidak menoleh lagi ke belakang, fokus sepenuhnya pada jalan di depannya yang kini terasa lebih jelas namun juga jauh lebih berbahaya. Di dalam kepalanya, koordinat-koordinat itu terus berputar, membentuk sebuah pola geometris yang memanggilnya untuk segera kembali ke laut dengan peralatan yang lebih lengkap. Ia tahu bahwa malam ini ia tidak akan bisa tidur nyenyak, karena rahasia yang ia bawa di sakunya terasa seperti api yang siap membakar segalanya jika tidak ditangani dengan benar.
Perahu mulai bergerak menjauh dari Kampung Karang Hijau, meninggalkan dermaga yang kini tampak sepi dan terabaikan dalam kegelapan yang mulai turun. Bimo menatap ke arah air yang gelap di bawahnya, mencoba membayangkan apa yang sedang 'tertidur' di kedalaman yang sunyi itu. Ia merasa seperti seorang penjelajah zaman dahulu yang baru saja menemukan pintu masuk ke dunia yang hilang, sebuah dunia yang penuh dengan keajaiban namun juga menyimpan bahaya yang mematikan. Mesin perahu menderu, membelah malam yang mulai turun, membawa Bimo menuju takdir yang sudah menantinya di dasar laut yang paling dalam.
Udara malam yang dingin mulai menusuk kulitnya, namun Bimo tidak merasakannya karena fokusnya sepenuhnya tercurah pada peta di dalam sakunya. Ia tahu bahwa besok ia harus mulai merencanakan penyelaman yang lebih dalam dan jauh lebih berisiko dari semua penyelaman yang pernah ia lakukan sebelumnya. Ia membutuhkan bantuan, ia membutuhkan tim yang bisa ia percayai sepenuhnya, dan ia tahu persis ke mana harus mencari mereka. Namun, untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati kesunyian laut yang luas, satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar bebas dari tekanan dunia di atas permukaan.
Di kejauhan, lampu-lampu kapal korporasi mulai menyala satu per satu, menciptakan bintik-bintik cahaya yang dingin dan steril di tengah kegelapan laut yang alami. Bimo mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan tekad yang semakin mengakar di dalam hatinya untuk mengungkap kebenaran yang selama ini disembunyikan. Ia bukan lagi sekadar seorang oseanografer yang bekerja dengan data statistik dan angka-angka kering, ia kini adalah seorang penjaga rahasia yang siap mempertaruhkan segalanya demi kebenaran. Dan di bawah sana, di kegelapan yang abadi, sesuatu yang besar sedang menunggu untuk dibangunkan dari tidurnya yang sangat panjang.
Bimo menatap ke arah koordinat yang dilingkari merah di dalam ingatannya, menyadari bahwa perjalanan ini sebenarnya baru saja dimulai. Setiap putaran baling-baling perahunya membawanya semakin dekat dengan jawaban yang selama ini ia cari, namun juga semakin dekat dengan bahaya yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Laut di depannya tampak tenang, namun ia tahu bahwa di bawah permukaannya yang halus, sebuah badai besar sedang bersiap untuk meledak ke permukaan. Dan ia akan berada tepat di tengah-tengahnya, siap untuk menghadapi apa pun yang akan dilemparkan oleh takdir kepadanya dengan kepala tegak.
Pikiran Bimo melayang pada Meiling dan Silas, bertanya-tanya apakah mereka sudah siap untuk menghadapi apa yang akan datang menghantam mereka. Ia tahu bahwa ia tidak bisa melakukan misi ini sendirian, namun ia juga memiliki keraguan yang besar untuk melibatkan mereka dalam sesuatu yang begitu mematikan. Namun, melihat apa yang terjadi di Karang Hijau hari ini, ia menyadari bahwa diam bukanlah sebuah pilihan yang tersedia lagi. Ia harus bertindak, dan ia harus bertindak sekarang juga sebelum besi-besi korporasi itu menghancurkan segalanya yang berharga di dasar laut ini tanpa sisa.
Saat perahu semakin menjauh, bayangan Kampung Karang Hijau perlahan menghilang ditelan kegelapan malam yang pekat, hanya menyisakan suara mesin yang terus menderu dengan irama yang konsisten. Bimo menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma laut yang murni tanpa campur tangan bau besi dan karat untuk sesaat yang berharga. Ia tahu bahwa kedamaian ini hanyalah sementara, sebuah jeda singkat sebelum pertempuran sesungguhnya dimulai di kedalaman yang tak terjangkau oleh cahaya matahari. Dan di sana, di tempat yang paling gelap dan sunyi, ia akan menemukan jati dirinya yang sebenarnya sebagai seorang putra laut yang sejati.
Bimo meraba saku jaketnya sekali lagi untuk memastikan peta itu masih ada di sana, sebuah jimat yang akan membimbingnya menembus labirin bawah laut yang mematikan. Ia menutup matanya sejenak, membayangkan wajah ayahnya yang tersenyum di tengah gelembung udara, memberikan kekuatan batin yang ia butuhkan untuk terus melangkah maju tanpa ragu. Malam semakin larut, namun semangat di dalam diri Bimo justru semakin membara, menerangi jalan setapak yang kini membentang luas di hadapannya menuju misteri yang paling dalam. Perjalanan pulang ini terasa lebih cepat dari saat ia datang, seolah-olah laut sendiri ingin ia segera sampai dan memulai persiapannya dengan segera.
Bimo menatap bintang-bintang di langit yang menjadi navigasi alami bagi para pelaut sejak zaman dahulu kala, merasa terhubung kembali dengan para leluhurnya yang juga pernah mengarungi perairan ini dengan gagah berani. Ia bukan lagi orang asing di sini, ia adalah bagian integral dari ekosistem ini, dan ia akan berjuang untuk melindunginya dengan segala cara yang ia miliki. Dan saat perahu akhirnya merapat di dermaga tujuannya, Bimo melompat turun dengan keyakinan baru yang menyala-nyala, siap untuk menuliskan babak selanjutnya dalam catatan dasar laut yang belum selesai.
Tepat saat Bimo melangkah di atas pasir pantai yang dingin, ponselnya bergetar di saku celananya, menandakan sebuah pesan masuk dari Meiling yang berisi serangkaian kode enkripsi yang baru saja berhasil ia pecahkan dengan susah payah. Bimo membukanya dengan cepat, dan pupil matanya membelalak saat melihat data manifes rahasia yang dikirimkan oleh rekannya tersebut melalui saluran aman. Di sana, tertera sebuah nama proyek yang membuat darahnya seolah membeku seketika: "PROYEK ATLANTIS BARU". Ia menatap ke arah laut lepas sekali lagi, menyadari bahwa apa yang dikatakan Pak Darman tentang sesuatu yang 'tertidur' bukan sekadar kiasan puitis, melainkan sebuah kenyataan yang sangat mengerikan.
Bimo mematikan layar ponselnya, membiarkan kegelapan malam kembali menyelimutinya saat ia berjalan menuju rumah Aki Jajang dengan langkah yang mantap dan pasti. Ia tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, malam di mana rencana besar akan disusun untuk melawan kekuatan yang jauh lebih besar dari mereka semua. Namun, ia tidak merasa takut lagi, karena ia tahu bahwa ia tidak lagi berjalan sendirian di jalan setapak yang penuh dengan duri dan rintangan ini. Dan di kejauhan, suara ombak yang menghantam karang terdengar seperti genderang perang yang mulai ditabuh dengan irama yang konstan, menandai dimulainya perjuangan yang akan menentukan masa depan laut mereka untuk selamanya.
Bimo berhenti sejenak di depan pintu kayu rumah Aki Jajang, melihat cahaya lampu minyak yang masih menyala remang-remang di dalam, tanda bahwa sang mentor sedang menunggunya dengan penuh kesabaran. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang murni memenuhi paru-parunya untuk terakhir kalinya sebelum ia masuk dan membagikan rahasia besar yang ia bawa. Ia tahu bahwa setelah pintu itu terbuka, tidak ada lagi jalan untuk kembali ke kehidupannya yang lama sebagai seorang ilmuwan yang kaku dan hanya percaya pada data di atas meja. Dan dengan tangan yang mantap, Bimo mengetuk pintu kayu itu, siap untuk membuka tabir misteri yang selama ini tersembunyi rapat di balik garam dan besi.