Hawa dingin dari lantai semen yang lembap merayap naik, menembus sol sepatu bot Bimo Satrio hingga menusuk sumsum tulangnya. Ruangan bunker bawah air ini menyerupai perut paus raksasa yang telah lama membusuk, menyisakan aroma logam berkarat dan oli mesin yang tajam menghunjam indra penciuman. Cahaya lampu darurat di langit-langit berkedip-kedip dalam rona kemerahan yang sakit, melemparkan bayangan panjang yang menggeliat di dinding beton yang retak. Bimo berlutut di depan ambang pintu masuk utama. Jemarinya yang gemetar berusaha menyatukan dua kabel tembaga halus dari sisa peralatan komunikasi yang telah usang. Butiran keringat dingin menyembul di sepanjang garis rambutnya, sebuah anomali di tengah suhu ruangan yang nyaris membekukan.
Dia sedang merakit pemicu suara sederhana, sebuah jebakan untuk mendeteksi siapa pun yang berani melintasi batas ruangan tersebut. Alat-alat di hadapannya telah dimakan usia, tertutup lapisan tipis oksida yang membuat permukaan jemarinya terasa kasar dan kotor. Tang pemotong yang dia genggam terasa berat dan kaku, seolah-olah besi itu sendiri menyimpan keengganan untuk bekerja sama dalam situasi yang kian genting. "Hanya perlu sedikit waktu lagi," bisik Bimo pada kesunyian yang mencekam. Suara tetesan air yang ritmis dari langit-langit bunker terdengar seperti detak jam raksasa yang terus menghitung mundur di dalam kepalanya. Setiap tetesan yang menghantam genangan air kecil di sudut ruangan memicu denyut kecemasan yang berdenyut di pelipisnya.
Keamanan tempat ini harus dipastikan sebelum pihak Sindikat berhasil mengendus posisi mereka. Bimo menyadari sepenuhnya bahwa mereka kini berada dalam posisi sebagai buruan. Menjadi mangsa yang pasif bukan lagi sebuah pilihan yang dapat dia toleransi setelah tragedi yang terjadi di ruang kristal. Lempengan logam kecil yang berfungsi sebagai sensor getaran tiba-tiba terlepas dari pegangannya yang goyah. Bimo mengumpat pelan, suaranya bergema pendek dan tajam di dalam ruangan yang sempit itu. Dia meraih kembali komponen tersebut, merasakannya dengan ujung jari yang mulai mati rasa akibat suhu yang rendah.
Logika seorang oseanografer biasanya beroperasi dengan presisi mesin yang tanpa cela. Namun saat ini, adrenalin membuat alur pikirannya melompat-lompat liar layaknya ikan yang terengah-engah di atas daratan kering. "Berhentilah melakukan tindakan yang sia-sia itu, Bimo." Langkah kaki yang tegas bergema dari arah lorong, segera diikuti oleh suara Dara Puspita yang tajam dan dingin. Pilot itu berdiri tegak di ambang pintu bagian dalam, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang sekeras batu karang. Cahaya merah yang redup mempertegas garis-garis kelelahan di bawah matanya, namun sorot matanya tetap setajam elang yang sedang mengintai mangsa dari ketinggian.
Dara menggenggam sebuah unit penerima radio portabel yang terus mengeluarkan suara statis yang berderis, menyerupai desis ular yang sedang terancam. "Tindakan ini bukanlah sebuah kesia-siaan, Dara," sahut Bimo tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Dia terus memaksakan kabel tembaga itu masuk ke dalam terminal yang telah aus dan berkarat. Fokusnya tetap terpaku pada perangkat kecil di tangannya, seolah-olah seluruh sisa keselamatan tim ini bergantung sepenuhnya pada satu sirkuit sederhana tersebut. Otot-otot di sepanjang tulang belakang Bimo terasa kaku bagaikan papan kayu, menolak untuk mengendur meski hanya untuk satu detik yang berharga.
Ketidaksukaan Dara terhadap rencananya bukanlah rahasia, namun Bimo merasa tidak memiliki kemewahan waktu untuk berdebat mengenai protokol keselamatan yang kini telah kehilangan relevansinya. Dara melangkah maju, sepatunya menimbulkan suara dentum yang berat dan otoriter di atas lantai beton. Dia meletakkan radio itu di atas meja kerja kayu yang telah lapuk dan ditumbuhi jamur di samping posisi Bimo berlutut. Suara statis dari perangkat itu semakin mengeras, memecah keheningan bunker dengan frekuensi yang menyakitkan gendang telinga. "Dengarkanlah frekuensi ini dengan saksama," perintah Dara dengan nada yang tidak menerima bantahan sedikit pun.
Bimo sempat mengabaikan peringatan itu dan terus bekerja dengan gerakan yang semakin kasar pada pemicu suaranya. Dia mencoba memutar sekrup kecil menggunakan kuku jarinya karena obeng yang tersedia memiliki ukuran yang terlalu besar. Rasa frustrasi mulai mendidih di dalam dadanya, sebuah api kecil yang mengancam akan melahap habis sisa-sisa kesabaran yang dia miliki. "Aku harus menyelesaikan perangkat ini secepat mungkin," kata Bimo dengan suara yang terdengar serak dan penuh tekanan. "Bimo Satrio, lihatlah aku sekarang juga!" seru Dara, suaranya meninggi disertai aksen Minang yang mulai muncul ke permukaan.
Tangan Dara bergerak cepat menghalangi gerakan Bimo, mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan kekuatan yang mengejutkan. Bimo terpaksa menghentikan aktivitasnya, menatap langsung ke dalam mata Dara yang berkilat dalam keremangan cahaya merah. Di bawah cengkeraman Dara, Bimo dapat merasakan denyut nadi perempuan itu yang berpacu cepat. Hal itu menjadi pertanda nyata bahwa ketenangan yang Dara tunjukkan hanyalah sebuah topeng yang sangat rapuh. "Perhatikan frekuensi ini," ujar Dara seraya menunjuk ke arah radio yang masih berisik. "Pihak Sindikat telah mengaktifkan pelacak aktif di seluruh sektor ini."
Mereka tidak lagi melakukan pencarian secara acak, Bimo. Mereka telah mengetahui keberadaan kita di sekitar koordinat ini. "Justru karena fakta itulah kita harus mengambil inisiatif untuk menyerang lebih dulu," balas Bimo sambil menarik tangannya dengan gerakan kasar. "Kita tidak mungkin hanya duduk diam di sini menunggu mereka mendobrak pintu masuk. Kita harus menjemput bola, Dara. Kita akan mengejutkan mereka dengan sebuah serangan balik yang tidak terduga." Dara mendengus sinis, melepaskan tawa pendek yang sama sekali tidak mengandung unsur humor di dalamnya.
Dia mengambil satu langkah mundur, menatap Bimo seolah-olah pria itu baru saja mengusulkan ide gila untuk berenang ke permukaan tanpa bantuan tabung oksigen. "Menjemput bola? Apakah Anda menganggap situasi hidup dan mati ini seperti pertandingan sepak bola di kampung?" tanya Dara dengan nada yang sangat pedas. "Kita memiliki informan pengkhianat di dalam tim ini, Bimo. Apakah Anda sudah melupakan fakta krusial tersebut? Setiap langkah agresif yang Anda ambil hanya akan menjadi jebakan maut bagi kita semua karena mereka telah mengantisipasi setiap pergerakan Anda."
"Kita tidak boleh membiarkan diri kita lumpuh hanya karena bayang-bayang kecurigaan itu," tegas Bimo. Dia berdiri dengan susah payah, mencoba menyamai tinggi badan Dara meskipun bahunya terasa seberat memikul beban berton-ton. Rasa logam yang pahit di lidahnya, sisa dari lonjakan adrenalin dan stres yang berkepanjangan, membuatnya merasa mual. Bimo merasa seperti pohon beringin tua yang berusaha bertahan di tengah amukan angin badai, akarnya mencengkeram erat pada satu-satunya rencana yang dia yakini dapat menyelamatkan nyawa mereka. "Prioritas utama kita adalah data tersebut, bukan keinginan egois Anda untuk menjadi seorang pahlawan," kata Dara.
Suaranya kini melunak namun tetap mengandung penekanan yang tidak tergoyahkan. "Data peradaban kuno yang Anda simpan di dalam saku itu memiliki nilai yang jauh lebih berharga daripada nyawa kita semua. Kita wajib tetap berada dalam persembunyian, menantikan celah yang tepat, dan memastikan data ini sampai ke tangan yang benar." "Dan membiarkan mereka mengepung kita tanpa perlawanan?" potong Bimo dengan nada yang meninggi. "Jika kita tetap bertahan di sini, kita hanya akan mati perlahan seperti tikus yang terjebak di dalam lubang gelap. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Bimo bersumpah dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan siapa pun tertinggal lagi di belakang. Gema suaranya memantul di dinding-dinding beton yang sempit, menciptakan atmosfer yang semakin menyesakkan dada. Dia dapat menangkap sekilas keraguan di dalam mata Dara, sebuah celah kecil yang muncul pada dinding pertahanan sang pilot. Bimo memahami bahwa Dara sedang didera ketakutan yang sama besarnya dengan yang dia rasakan, namun cara mereka memanifestasikan ketakutan tersebut sangatlah bertolak belakang. "Anda masih merasa terbebani oleh rasa bersalah mengenai ayah Anda, bukan?" tanya Dara secara tiba-tiba.
Pertanyaan itu menghantam Bimo dengan kekuatan ombak besar yang menghancurkan tanggul pertahanan mentalnya. Dia terdiam seketika, tangannya mengepal erat di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Luka lama yang telah dia coba kubur dalam-dalam di dasar laut terdalam kini menyeruak kembali ke permukaan, terasa perih dan berdenyut menyakitkan. "Hal ini sama sekali tidak memiliki kaitan dengan ayah saya," desis Bimo dengan gigi terkatup. "Hal ini memiliki kaitan dengan segalanya!" balas Dara dengan nada yang tak kalah tajam.
"Anda sedang mencoba menebus kesalahan di masa lalu dengan mengambil risiko yang sangat bodoh saat ini. Anda ingin membuktikan bahwa kali ini Anda mampu menyelamatkan semua orang, namun kenyataannya, Anda hanya akan menyeret kita semua menuju kematian." Bimo meraih kembali tang pemotongnya dengan gerakan yang terlalu cepat dan tidak terkontrol dengan baik. Amarah yang meluap di dalam dadanya mengaburkan penglihatannya untuk sejenak. Dia mencoba memotong kawat baja yang keras itu dengan satu hentakan kuat, mengabaikan fakta bahwa posisi tumpuan tangannya tidaklah stabil.
Ujung tajam dari alat tersebut tergelincir dari permukaan kawat dan menyayat telapak tangan kirinya dengan cukup dalam. Bimo meringis menahan nyeri, merasakan sensasi panas yang seketika menjalar di sepanjang permukaan kulitnya. Darah merah segar mulai merembes keluar dengan cepat, menciptakan kontras yang mencolok dengan warna kulitnya yang pucat karena kedinginan. "Sial," umpat Bimo dengan suara rendah. Dia mencoba menyembunyikan luka tersebut dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat, namun darah terus mengalir di sela-sela jarinya dan menetes ke lantai semen yang dingin.
Bau amis darah yang khas kini bercampur dengan aroma besi berkarat di udara, menciptakan kombinasi aroma yang memuakkan. Dara menghela napas panjang, kemarahan yang tadi meluap seolah menguap begitu saja saat melihat kecerobohan yang dilakukan Bimo. Dia melangkah mendekat, lalu meraih tangan Bimo tanpa meminta izin terlebih dahulu. Bimo sempat mencoba menarik tangannya kembali, namun Dara memegangnya dengan mantap dan penuh otoritas. "Silakan duduk terlebih dahulu, Mas Bimo," kata Dara, menggunakan sapaan yang jauh lebih lembut dan jarang dia gunakan.
Bimo tidak melontarkan bantahan kali ini. Dia menjatuhkan diri di atas sebuah peti kayu tua, membiarkan Dara memeriksa luka di telapak tangannya. Cahaya lampu darurat yang berkedip kemerahan membuat aliran darah di tangannya tampak seperti tinta hitam yang pekat dan kental. Perasaan perih mulai menusuk-nusuk sarafnya, namun sentuhan tangan Dara yang stabil memberikan semacam jangkar bagi pikirannya yang sedang kacau balau. Dara mengeluarkan kotak medis kecil dari tas pinggangnya, lalu mengambil botol antiseptik dan selembar kain kasa steril.
Saat cairan bening itu menyentuh luka yang terbuka, tubuh Bimo tersentak secara spontan. Giginya beradu rapat guna menahan rasa perih yang terasa membakar kulitnya. "Mohon tahan sebentar lagi," ujar Dara dengan nada suara yang tenang. Dia membersihkan luka tersebut dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah dia sedang menangani komponen mesin kapal selam yang paling sensitif dan mudah rusak. Bimo memperhatikan wajah Dara dari jarak yang sangat dekat. Dia dapat melihat butiran keringat kecil di dahi perempuan itu dan bagaimana bibirnya terkatup rapat karena konsentrasi yang mendalam.
Di tengah ketegangan dan ancaman maut yang mengintai di luar sana, momen kecil ini terasa seperti sebuah anomali yang ganjil. Hal ini menyerupai sebuah gencatan senjata yang tidak terduga di tengah medan perang yang membara. "Saya hanya tidak ingin kehilangan anggota tim lagi, Dara," bisik Bimo dengan suara yang terdengar sangat rapuh. Nada otoriter yang dia gunakan beberapa menit yang lalu telah sirna sepenuhnya. Dia menatap kain kasa yang mulai berubah warna menjadi merah, merasakan hangatnya balutan itu di kulitnya yang semula dingin membeku.
"Saya memahami perasaan Anda," sahut Dara tanpa sedikit pun mendongakkan kepalanya. "Namun, keselamatan seluruh tim berarti kita harus mengambil keputusan yang paling masuk akal secara logika, bukan keputusan yang paling berani namun ceroboh. Jika Anda gugur di luar sana, siapakah yang akan memiliki kemampuan untuk menerjemahkan data tersebut? Siapakah yang akan menuntaskan misi yang telah dimulai oleh ayah Anda?" Bimo terdiam seribu bahasa. Kata-kata yang diucapkan Dara meresap jauh ke dalam benaknya, perlahan-lahan meruntuhkan tembok keras kepala yang selama ini dia bangun.
Dia menyadari bahwa keinginannya untuk menyerang bukan hanya didorong oleh strategi militer, melainkan oleh rasa takut akan ketidakberdayaan yang selama ini menghantuinya. "Lalu, apakah rencana kita selanjutnya?" tanya Bimo pada akhirnya. Dara menyelesaikan balutan di tangan Bimo dan mengikatnya dengan rapi serta kuat. Dia menatap langsung ke dalam mata Bimo, memberikan sedikit senyuman tipis yang tidak benar-benar mencapai matanya. "Kita akan menunggu di sini," kata Dara dengan tegas. "Kita akan menunggu selama dua jam lagi di dalam ruangan ini."
Mei saat ini sedang berupaya keras untuk meretas sinyal pengacak yang mereka gunakan. Jika dia berhasil, kita akan memiliki gambaran yang jauh lebih jelas mengenai posisi dan kekuatan mereka. "Tepat pada saat itu, jika dalam waktu dua jam tidak ada perkembangan yang berarti, saya akan mengikuti rencana Anda untuk keluar dari sini." Bimo menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuan. Kesepakatan tersebut terasa seperti sebuah beban berat yang sedikit terangkat dari bahunya, meskipun rasa waswas tetap mendekam di sudut hatinya yang paling dalam.
Dia melirik ke arah pintu bunker yang masih tertutup rapat, membayangkan musuh yang mungkin sedang merayap dalam kegelapan koridor di luar sana. "Dua jam," ulang Bimo dengan suara rendah. Keheningan yang berat kembali menyelimuti ruangan sempit itu, hanya menyisakan suara tetesan air dan deris statis dari radio. Dara duduk di lantai semen di samping Bimo, menyandarkan punggungnya pada dinding beton yang dingin dan lembap. Mereka berdua tenggelam dalam pusaran pikiran masing-masing, menyadari bahwa setiap detik yang berlalu membawa mereka semakin dekat pada konfrontasi.
"Dara," panggil Bimo setelah beberapa saat keheningan berlalu. "Ya?" "Terima kasih. Untuk bantuan pada luka ini." Dara hanya memberikan anggukan kecil sebagai respons, matanya terpejam seolah-olah sedang mencoba mengumpulkan sisa-sisa energi yang dia miliki. Bimo memperhatikan tangannya yang kini terbalut kasa putih bersih, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdenyut hingga ke ujung jari yang terluka. Di dalam bunker yang gelap dan lembap ini, mereka hanyalah dua jiwa yang sedang berjuang keras untuk bertahan hidup di tengah badai yang belum mencapai puncaknya.
Waktu seolah-olah melambat, setiap menit yang terlewati terasa seperti jam-jam yang menyiksa batin. Bimo mencoba menyusun rencana cadangan di dalam kepalanya, membayangkan jalur pelarian melalui saluran ventilasi atau pipa pembuangan air. Pikirannya kembali melayang pada sosok ayahnya, pada momen-momen terakhir sebelum kecelakaan tragis itu merenggut segalanya. Dia teringat ucapan ayahnya bahwa laut tidak pernah memihak kepada siapa pun, ia hanya memberikan apa yang pantas diterima oleh mereka yang berani menyelaminya. Apakah dia memang pantas untuk mendapatkan kebenaran yang terkubur ini?
Apakah timnya pantas untuk menanggung risiko sebesar ini demi sebuah catatan dari masa lalu yang misterius? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar-putar di kepalanya seperti pusaran air yang gelap dan dalam. Bimo melirik ke arah Dara yang tampak tertidur, meskipun dia yakin pilot itu pasti tetap waspada terhadap suara sekecil apa pun. Keberanian yang dimiliki Dara selalu berhasil membuatnya merasa kagum, sebuah kekuatan yang lahir dari penolakan terhadap takdir yang dipaksakan. Tiba-tiba, suara benturan logam yang sangat keras bergema dari arah koridor luar bunker.
Suara itu terdengar pendek namun memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat Bimo dan Dara tersentak bangun secara bersamaan. Napas mereka tertahan di tenggorokan, menciptakan kesunyian yang mencekam. Bimo segera meraih lampu senter di sampingnya, namun dia memilih untuk tidak menyalakannya terlebih dahulu. Dia memberikan isyarat tangan kepada Dara agar tetap diam dan tidak melakukan gerakan yang tidak perlu. Detak jantung Bimo terasa seperti genderang perang yang bertalu-talu dengan sangat kencang di dalam rongga dadanya.
Dia merangkak dengan sangat pelan menuju arah pintu, berusaha menghindari genangan air agar tidak menimbulkan suara percikan sekecil apa pun. Rasa perih di tangannya kini terlupakan sepenuhnya saat adrenalin kembali membanjiri seluruh sistem sarafnya. Dia menempelkan telinganya pada permukaan pintu logam yang terasa sangat dingin. Untuk beberapa saat yang terasa sangat lama, tidak ada suara apa pun yang terdengar kecuali desis statis dari radio yang masih menyala di atas meja. Bimo mengulurkan tangannya, mematikan radio itu dengan gerakan yang sangat berhati-hati.
Kegelapan dan keheningan kini menjadi satu-satunya kawan setia mereka di dalam ruangan itu. Di bawah celah pintu yang tidak rata, sebuah bayangan terlihat melintas dengan cepat. Cahaya dari luar koridor yang sangat redup sempat terhalang oleh sesuatu yang bergerak tepat di depan pintu masuk. Bimo menahan napasnya sekuat tenaga hingga paru-parunya terasa panas dan sesak. Bayangan tersebut berhenti tepat di depan ambang pintu, tidak bergerak sedikit pun. Bimo menyadari satu fakta mengerikan yang membuat darah di sekujur tubuhnya terasa membeku seketika.
Pintu bunker ini, yang selama ini dia anggap sebagai pelindung utama mereka, ternyata tidak terkunci dari sisi luar. Mekanisme penguncinya telah lama hancur dimakan oleh usia dan karat yang parah, sebuah detail krusial yang dia lewatkan. Tangan Bimo gemetar bagaikan daun yang ditiup angin kencang saat dia meraih gagang pintu, mencoba menahannya agar tidak terbuka. Namun, dia menyadari bahwa jika seseorang di luar sana memutuskan untuk mendorong pintu itu, dia tidak akan memiliki kekuatan yang cukup. Kegelapan di dalam bunker terasa menekan bola matanya, membuat konsentrasinya terganggu.
Dia melirik ke arah belakang, ke arah Dara yang sudah bersiap dengan pisau selam yang berkilat di tangannya. Mata mereka bertemu dalam keremangan, berbagi ketakutan yang sama tanpa perlu mengucapkan satu kata pun. Siapakah sosok yang berada di balik pintu logam tersebut? Apakah itu Silas yang baru saja kembali dari pengintaian, ataukah salah satu prajurit eksoskeleton milik Sindikat yang telah berhasil menemukan persembunyian mereka? Ataukah itu sang pengkhianat yang akhirnya memutuskan untuk menuntaskan tugas gelapnya? Bayangan itu tetap bergeming di sana, seolah-olah sedang mendengarkan keberadaan mereka.
Bimo dapat merasakan hawa dingin yang merayap masuk dari bawah celah pintu, membawa serta aroma laut yang asin dan ancaman kematian. Dia mematikan lampu senternya sepenuhnya, membiarkan ruangan itu jatuh ke dalam dekapan kegelapan total yang sempurna. Suara gesekan logam yang halus terdengar, seolah-olah seseorang sedang mencoba memutar gagang pintu dari sisi yang berlawanan. Bimo mempererat pegangannya pada gagang pintu, merasakan balutan kasa di tangannya mulai basah oleh keringat dan darah yang kembali merembes. Dunia di luar bunker itu seolah menghilang, menyisakan hanya pintu logam ini sebagai batas tipis.
Bimo menutup matanya sejenak, membisikkan doa singkat yang pernah dia pelajari dari ibunya di masa kecil. Dia telah bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya, meskipun dia tahu bahwa garis di pasir yang dia buat telah dilanggar. Pintu itu berderit pelan, sebuah suara yang terdengar seperti jeritan memilukan di tengah keheningan yang sangat mencekam. Bimo merasakan tekanan pada gagang pintu mulai meningkat secara bertahap. Dia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk menahan tekanan tersebut, kakinya mencari tumpuan di lantai semen yang licin.
Di dalam kepalanya, dia seolah mendengar suara ayahnya yang memanggil dari kedalaman samudera, sebuah peringatan yang datang terlambat. "Jangan buka pintunya," bisik sebuah suara dari dalam kegelapan lorong yang pekat. Suara itu terdengar begitu pelan hingga Bimo hampir mengira bahwa itu hanyalah sebuah halusinasi dari pikirannya yang tertekan. Suara itu jelas bukan milik Silas, bukan pula milik Mei atau Lastri yang sedang berada di bagian lain bunker. Itu adalah suara yang asing, namun terasa sangat akrab di telinga Bimo, membangkitkan memori yang seharusnya telah lama hilang.
Bimo merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sesaat. Dia mengenali nada bicara tersebut, getaran yang sama yang selalu dia dengar di dalam rekaman-rekaman lama penelitian ayahnya. Namun, logika sehatnya menolak hal tersebut karena ayahnya telah lama tiada, hilang di dasar laut yang tidak pernah memberikan jawaban. Tekanan pada pintu tiba-tiba menghilang begitu saja. Bayangan di bawah celah pintu pun lenyap, seolah-olah sosok misterius itu telah menguap ke dalam kegelapan koridor yang sunyi. Bimo tetap berdiri mematung di posisinya, tangannya masih mencengkeram gagang pintu.
Dia tidak berani melakukan gerakan apa pun, bahkan tidak berani untuk sekadar bernapas secara normal. Dara mendekatinya dengan langkah tanpa suara, meletakkan tangan di bahunya sebagai bentuk pertanyaan bisu. "Siapakah sosok itu?" bisik Dara dengan suara yang nyaris tidak terdengar oleh telinga manusia. Bimo tidak memberikan jawaban secara lisan. Dia hanya terus menatap pintu logam yang dingin itu, menyadari bahwa misi mereka telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sindikat bukan lagi satu-satunya ancaman yang harus mereka takuti di kedalaman yang gelap ini.
Di luar sana, suara langkah kaki yang menjauh terdengar sangat ringan, menyerupai suara ombak yang menyapu pantai di tengah malam yang sepi. Bimo menyadari bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman bagi mereka untuk bersembunyi. Garis telah ditarik secara nyata, dan mereka baru saja melangkah melampaui batas tersebut menuju kebenaran yang mungkin akan menghancurkan mereka. Dia menatap tangannya yang terluka, merasakan denyut nyeri yang kini terasa seperti sebuah peringatan hidup yang terus berdetak. Cahaya merah lampu darurat berkedip sekali lagi sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Kegelapan yang sempurna kini menyelimuti mereka, di mana hanya detak jantung dan rasa takut yang menjadi pemandu utama. "Kita harus segera meninggalkan tempat ini sekarang juga," kata Bimo dengan suara yang kini terdengar sangat dingin dan penuh kepastian. Dara tidak melontarkan bantahan sedikit pun kali ini. Dia memahami bahwa saat ini, logika dan keberanian harus berjalan beriringan jika mereka ingin melihat matahari terbit lagi. Mereka mulai bergerak dalam kegelapan yang pekat, bersiap menghadapi apa pun yang menunggu di balik pintu bunker tersebut.
Setiap langkah yang mereka ambil terasa sangat berat, seolah-olah tekanan air laut di atas mereka telah merembes masuk ke dalam tulang. Namun, di dalam dada Bimo, sebuah api baru telah menyala dengan terangnya. Itu bukan lagi api amarah yang buta, melainkan api tekad untuk menemukan jawaban atas suara misterius yang baru saja dia dengar. Jawaban tersebut tersembunyi di balik Catatan Dasar Laut yang kini terasa semakin berat di dalam saku pakaiannya. Petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan harganya mungkin adalah segala hal yang mereka miliki di dunia ini. Bimo Satrio menarik napas dalam-dalam, merasakan udara bunker yang apek memenuhi paru-parunya untuk terakhir kali sebelum dia mendorong pintu itu terbuka lebar.