Bab 9: Melampaui Garis Horizon
Lampu badai yang tergantung di tiang dermaga berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas dek kayu Bintang Timur. Pertama udara pagi itu terasa berat, membawa aroma solar yang tajam beradu dengan bau amis khas pasar ikan yang mulai menggeliat di kejauhan. Bimo Satrio menarik napas dalam, merasakan udara asin memenuhi paru-parunya, sebuah ritual kecil sebelum ia benar-benar melepaskan diri dari daratan. Akhirnya tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kerja memeriksa simpul tali pengikat pada *cleat* besi yang sudah mulai berkarat. Ia harus memastikan segalanya sempurna karena laut lepas tidak pernah memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang ceroboh." Segera bahan bakar sudah penuh, Mas Bimo," lapor Silas Papare sambil menepuk tangki cadangan di bagian belakang kapal. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh desau angin fajar yang menusuk tulang. Lalu kaka Silas, begitu Bimo memanggilnya, berdiri dengan tegak meski kapal bergoyang pelan dihantam riak air. Wajahnya yang legam tampak tenang, namun matanya yang tajam terus mengawasi kegelapan di arah cakrawala. Meski begitu bimo mengangguk pelan, jemarinya beralih memeriksa segel pada kotak peralatan selam yang tersusun rapi di bawah kursi penumpang." Nggih, Kaka Silas. Dengan cepat tolong pastikan juga pasokan air tawar kita tidak bocor." Ia berbicara dengan nada formal yang biasa ia gunakan, sebuah mekanisme pertahanan untuk menutupi kegelisahan yang mulai merayap di balik dadanya. Lagi di matanya, setiap liter bahan bakar dan setiap meter tali adalah variabel dalam persamaan keselamatan yang sedang ia hitung secara obsesif." Mesin ini suaranya batuk-batuk terus, Bimo," sebuah suara serak memecah konsentrasi Bimo. Sekarang aki Jajang berdiri di dekat pintu ruang kemudi, jemarinya yang keriput memegang sebatang rokok kretek yang belum dinyalakan. Ia menatap ke arah langit yang masih berwarna abu-abu keunguan dengan dahi berkerut dalam." Di luar langitnya terlihat salah, *atuh*. Warnanya terlalu pucat untuk fajar yang tenang." Dan bimo melangkah mendekati mentor tua itu, mencoba memberikan senyum yang meyakinkan meski ia sendiri merasakan firasat yang sama." Kita sudah melakukan perawatan minggu lalu, Aki. Dengan tenang mesin diesel ini memang butuh waktu untuk panas." Ia tahu Aki Jajang tidak sedang membicarakan masalah teknis semata, melainkan tentang insting seorang penjaga laut yang telah melihat ribuan fajar. Aki Jajang adalah navigasi hidup, kompas moral yang seringkali lebih akurat daripada GPS paling mutakhir sekalipun." Laut itu bukan jalan raya yang bisa kau kendalikan, Le," Aki Jajang bergumam pelan, menggunakan partikel 'teh' yang samar saat ia melanjutkan bicaranya." Tiba-tiba dia punya kehendak sendiri. Kalau kau paksa menembus batas tanpa izin-Nya, kau hanya akan menemukan dinding air." Dara Puspita muncul dari dalam kabin dengan langkah cepat, sepatu botnya berdentum keras di atas lantai kapal yang mulai basah oleh embun. Ia mengenakan jaket kedap air berwarna biru tua, rambutnya diikat ekor kuda dengan sangat rapi." Kemudian kita tidak punya waktu untuk mendengarkan ramalan cuaca tradisional, Aki," potong Dara dengan lugas. Ia melirik jam tangannya, lalu beralih menatap Bimo dengan sorot mata yang menuntut aksi segera." Meskipun demikian, sistem navigasi sudah siap. Kalau kita tidak berangkat sekarang, patroli Samudra Nusantara akan menutup celah di pintu keluar teluk." Tetap saja bimo terdiam sejenak, menatap antara Aki Jajang yang mewakili tradisi dan Dara yang merupakan perwujudan efisiensi modern. Ia tahu risiko yang mereka ambil sangat besar, apalagi dengan cuaca yang mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan. Sejauh ini namun, bayangan tentang 'Catatan Dasar Laut' dan wajah ayahnya yang hilang seolah menjadi magnet yang menariknya menjauh dari dermaga." Kita berangkat," putus Bimo akhirnya. Perlahan suaranya tidak keras, namun mengandung ketegasan yang membuat semua orang di atas kapal terdiam. Ucok Batubara yang baru saja selesai memuat beberapa peti logistik tambahan berteriak dari arah buritan." Di dekatnya bah! Begitulah! Jangan lama-lama macam orang mau lamaran!" Ia tertawa kasar, memperlihatkan deretan giginya yang putih kontras dengan kulitnya yang terbakar matahari." Selain itu, kau tengoklah laut itu, Bimo. Dia sudah rindu mau memeluk kapal kita ini!" Pada akhirnya bimo memberikan instruksi terakhir kepada Silas untuk melepaskan tali tambat. Saat mesin diesel Bintang Timur akhirnya menderu, getarannya terasa hingga ke tulang kering Bimo, sebuah detak jantung mekanis yang menandai dimulainya perjalanan mereka. Di sana kapal itu perlahan bergerak meninggalkan dermaga, menjauh dari lampu-lampu desa Karang Hijau yang mulai mengecil. Garis pantai yang selama ini menjadi zona aman mereka perlahan memudar, digantikan oleh hamparan air gelap yang seolah tak berujung. Sebaliknya, di pintu keluar teluk, arus bawah yang kuat mulai menghantam lambung kapal, membuat kemudi terasa berat di tangan Bimo. Ia harus berjuang menjaga haluan agar tetap lurus, sementara ombak pertama dari laut lepas mulai menghantam bagian depan kapal dengan bunyi dentuman yang ritmis." Namun, jaga keseimbangan!" teriak Bimo saat kapal miring ke arah kiri. Ia bisa merasakan air laut yang asin memercik ke bibirnya, memberikan rasa getir yang akrab. Dara segera berada di sampingnya, tangannya dengan cekatan menyesuaikan beberapa tombol pada panel instrumen." Secara bertahap arusnya lebih kuat dari yang diprediksi, Bimo," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor." Kita harus menambah kecepatan sepuluh knot untuk menembus arus ini, atau kita akan terseret kembali ke karang penghalang." "Lakukan, Dara!" jawab Bimo singkat. Ia membiarkan Dara mengambil alih kendali teknis sementara ia fokus pada arah visual. Setelah itu di depan mereka, laut lepas membentang seperti raksasa yang sedang terbangun dari tidur panjangnya. Kapal Bintang Timur terasa begitu kecil, sebuah titik putih yang berani menantang luasnya samudera. Setelah satu jam perjuangan melawan arus teluk, kapal akhirnya mencapai wilayah perairan yang lebih dalam. Di sini, warna air berubah dari hijau toska yang jernih menjadi biru tua yang pekat, hampir menyerupai warna hitam di bawah bayang-bayang awan mendung yang mulai berkumpul. Di dalam bimo meninggalkan ruang kemudi sejenak untuk memeriksa kondisi kru dan peralatan di dek tengah. Ia menemukan Dara sedang berlutut di depan perangkat sonar, mencoba melakukan kalibrasi ulang di tengah guncangan ombak yang semakin tidak beraturan." Sekarang ini bagaimana sinyalnya?" tanya Bimo sambil memegang tiang penyangga agar tidak jatuh. Tepat saat itu ia melihat Dara yang tampak kesulitan menjaga keseimbangan, wajahnya menunjukkan konsentrasi penuh. Peralatan sonar itu sangat sensitif, sedikit saja guncangan berlebih bisa merusak akurasi data yang mereka butuhkan. Jadi dara mendengus kesal, jemarinya menari di atas layar sentuh yang basah." Ada gangguan anomali magnetik yang sangat kuat di bawah sana. Di atas sinyalnya terus memantul seperti bola pingpong." Ia menatap Bimo dengan ekspresi yang sulit diartikan." Tapi ini bukan gangguan biasa, Bimo. Seolah-olah ada sesuatu yang besar di bawah sana yang menyerap gelombang sonar kita." Sementara itu, bimo berjongkok di samping Dara, membantu menahan dudukan perangkat sonar agar tetap stabil." Mungkin itu justru tanda yang kita cari, Dara. Kali ini ayahku pernah menulis tentang anomali serupa di koordinat ini." Ia mencoba memberikan penjelasan logis, meski di dalam hatinya ia merasakan getaran kegembiraan yang bercampur dengan ketakutan. Di sini jika anomali itu memang berasal dari situs bawah laut yang mereka cari, maka mereka sudah berada di jalur yang benar. Suara 'ping' yang monoton dari layar sonar mengisi keheningan di antara mereka, beradu dengan deru mesin diesel di bawah dek. Sekali lagi bimo memperhatikan profil wajah Dara yang diterangi cahaya biru dari monitor. Ada ketegasan di sana, namun juga ada celah kecil yang menunjukkan kerapuhan yang jarang ia perlihatkan." Selanjutnya kau melakukannya dengan baik," gumam Bimo pelan. Dara hanya mengangguk singkat, tidak ingin merusak dinding profesionalisme yang telah ia bangun dengan susah payah." Jangan puji aku dulu sebelum kita menemukan benda itu, Bimo. Kita masih punya perjalanan panjang." Di bawah di bagian lain kapal, Silas dan Ucok sedang sibuk mengamankan muatan yang mulai bergeser akibat guncangan ombak. Ucok terus mengoceh tentang pengalamannya menyelundupkan barang di cuaca yang lebih buruk, sementara Silas hanya mendengarkan dengan senyum tipis yang jarang terlihat. Dengan hati-hati kehadiran mereka memberikan rasa aman bagi Bimo, sebuah pengingat bahwa ia tidak menanggung beban ini sendirian. Matahari mulai naik lebih tinggi, namun sinarnya terhalang oleh lapisan awan kelabu yang tebal. Hawa dingin mulai merayap naik dari permukaan air, menembus lapisan jaket yang dikenakan para kru. Bimo memutuskan untuk beristirahat sejenak dan masuk ke dalam kabin kecil untuk menyeduh kopi. Ia menemukan Mbak Lastri sedang sibuk di dapur mini, menyiapkan sarapan sederhana meski kapal terus bergoyang hebat." Minum ini dulu, Le," ujar Mbak Lastri sambil menyodorkan segelas kopi panas yang uapnya mengepul wangi." Wajahmu pucat sekali. Laut ini memang cantik, tapi dia juga bisa menghisap tenaga kalau kita tidak waspada." Bimo menerima gelas itu, merasakan kehangatan menjalar ke telapak tangannya yang mulai kaku." Matur nuwun, Mbak Lastri. Maaf sudah merepotkan di tengah ombak begini." Ia menyesap kopi hitam yang pahit itu, membiarkan aromanya menenangkan saraf-sarafnya yang tegang." Seketika jangan minta maaf sama saya, minta maaf sama laut kalau kamu tidak menghormatinya," jawab Mbak Lastri dengan nada medok yang hangat namun penuh penekanan. Ia menatap Bimo dengan mata yang menyimpan banyak cerita tentang kehilangan." Suami saya dulu juga seperti kamu, selalu ingin tahu apa yang ada di balik cakrawala. Tapi laut tidak selalu mau memberikan jawaban." Bimo terdiam, kata-kata Mbak Lastri terasa seperti peringatan yang menghujam langsung ke inti rasa bersalahnya. Ia teringat kembali pada ayahnya, pada kecelakaan yang menghancurkan dunianya belasan tahun lalu. Apakah ia sedang mengulangi kesalahan yang sama? Apakah ambisinya untuk membuktikan teori ayahnya akan membawa orang-orang di sekitarnya ke dalam bahaya? Ia membawa kopinya keluar ke dek, duduk di samping Dara yang masih setia mengawasi sonar. Mereka berbagi keheningan yang nyaman di tengah deru angin, sebuah momen jeda di tengah ketidakpastian. Uap kopi yang hangat menyentuh wajah Bimo, memberikan kontras yang aneh dengan angin laut yang dingin. Di kejauhan, garis horizon tampak samar, seolah-olah batas antara langit dan laut telah melebur menjadi satu." Apa yang kau pikirkan?" tanya Dara tiba-tiba, suaranya lebih lembut dari biasanya. Bimo menatap cakrawala yang kosong." Tentang apa yang kita tinggalkan di daratan. Desa Karang Hijau, orang-orang yang berharap pada kita." Ia menoleh ke arah Dara." Dan tentang apakah kita benar-benar siap untuk apa yang akan kita temukan di bawah sana." Dara terdiam sejenak, matanya menatap layar sonar yang masih menunjukkan anomali." Kita sudah melampaui titik untuk kembali, Bimo. Satu-satunya jalan adalah terus maju." Ia menghela napas panjang." Aku tidak pernah suka tinggal di daratan terlalu lama. Di sana terlalu banyak aturan, terlalu banyak ekspektasi. Di laut, setidaknya aku tahu siapa musuhku." Bimo tersenyum tipis." Mungkin itu sebabnya kita berdua ada di sini. Kita sama-sama mencari sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh daratan." Tiba-tiba, Aki Jajang mendekati mereka dengan langkah yang masih sangat stabil meski kapal terombang-ambing. Ia menatap Bimo dengan sorot mata yang lebih lunak." Bimo, kemarilah. Biar Aki yang istirahat sebentar, kau pegang kemudinya." Bimo berdiri dan melangkah menuju ruang kemudi, menggantikan posisi Aki Jajang. Saat tangannya menyentuh kayu kemudi yang kasar dan licin karena air laut, ia merasakan koneksi instan dengan kapal itu. Tekstur kayu itu terasa seperti kulit pohon tua yang telah bertahan melewati ribuan badai. Ia bisa merasakan setiap getaran mesin dan setiap hantaman ombak melalui telapak tangannya." Kau punya tangan yang bagus untuk kemudi, Le," puji Aki Jajang sambil menyalakan rokok kreteknya yang sempat tertunda." Kau tidak melawan ombak, tapi kau mengikutinya. Itu kunci untuk bertahan di laut lepas." "Nggih, Aki. Saya hanya mencoba mendengarkan apa yang dikatakan kapal ini," jawab Bimo jujur. Ia merasakan rasa lelah yang mulai menyerang, namun tekadnya justru semakin menguat. Pengakuan kecil dari Aki Jajang adalah validasi yang ia butuhkan, sebuah jembatan antara ambisi modernnya dan kearifan tradisi yang selama ini ia ragukan. Kapal Bintang Timur terus melaju menembus laut dalam, meninggalkan zona yang biasa dikunjungi oleh para nelayan desa. Di sini, laut terasa lebih liar dan lebih sunyi. Tidak ada burung camar yang mengikuti, tidak ada perahu lain yang terlihat. Hanya ada mereka berlima dan samudera yang luas. Siti Nurhaliza yang sejak tadi berada di bagian depan kapal untuk mengamati ekosistem permukaan, masuk ke ruang kemudi dengan wajah yang tampak cemas." Mas Bimo, warna air di depan berubah drastis. Ada banyak plankton mati yang mengapung, dan suhunya turun tiba-tiba." Sebagai seorang biologiwan, Siti sangat peka terhadap perubahan lingkungan sekecil apa pun. Bimo segera memeriksa indikator suhu air pada panel navigasi. Benar saja, suhu air turun hampir lima derajat dalam waktu singkat." Dara, periksa sonar lagi! Ada sesuatu yang tidak beres dengan kolom air di depan kita." Dara kembali ke posisinya dengan sigap." Bimo, lihat ini!" teriaknya dengan nada suara yang naik satu oktav." Dasar laut di depan kita. Dia naik secara drastis! Dari kedalaman seribu meter menjadi hanya seratus meter dalam jarak kurang dari satu mil laut." Lampu merah di panel instrumen mulai berkedip-kedip, diiringi oleh suara alarm sonar yang berbunyi kencang dan monoton. Bunyi itu seolah menusuk gendang telinga, menciptakan suasana panik yang instan di dalam kabin yang sempit. Bimo segera menarik tuas kecepatan, memperlambat laju kapal hingga nyaris berhenti." Semua kru bersiap di posisi masing-masing!" perintah Bimo. Suaranya terdengar tenang di tengah kekacauan suara alarm, sebuah ketenangan yang dipaksakan untuk menjaga moral timnya." Silas, siapkan jangkar darurat! Ucok, pastikan semua peralatan selam terikat kuat!" Kesunyian mendadak melanda para kru saat mereka menyadari betapa drastisnya perubahan di bawah mereka. Di luar, laut yang tadinya biru tua kini tampak hampir hitam pekat, dengan ombak yang tidak lagi pecah melainkan bergulung-gulung berat. Atmosfer di atas kapal berubah menjadi tegang, seolah-olah mereka baru saja melewati gerbang menuju dunia yang berbeda. Bimo menatap layar sonar dengan mata yang tidak berkedip. Di sana, terlihat sebuah formasi raksasa yang tidak menyerupai gunung bawah laut atau karang mana pun yang pernah ia lihat dalam peta navigasi. Bentuknya terlalu simetris, terlalu teratur untuk menjadi hasil karya alam semata. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari tenggorokannya. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu, sekaligus momen yang paling ia takuti." Ini bukan formasi batuan, Bimo," bisik Dara, suaranya bergetar karena kombinasi antara kegembiraan dan kengerian." Lihat polanya. Ini adalah struktur." Bimo mengangguk pelan, jemarinya mencengkeram pinggiran meja navigasi hingga buku-buku jarinya memutih." Kita sudah sampai. Ini adalah koordinat terakhir yang dicatat ayahku." Ia menoleh ke arah kru yang lain, melihat wajah-wajah yang dipenuhi oleh ketidakpastian." Kita akan melakukan penyelaman awal untuk memastikan apa yang ada di bawah sana." Tepat saat Bimo bersiap untuk memberikan instruksi penurunan kamera bawah laut, radar navigasi di sampingnya menangkap sesuatu yang lain. Sebuah titik besar muncul di layar, bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar dari arah kedalaman menuju posisi kapal mereka. Titik itu bukan berasal dari formasi statis di bawah sana, melainkan sesuatu yang hidup dan sangat besar." Bimo, ada bayangan besar bergerak di bawah kita!" teriak Silas dari dek depan sambil menunjuk ke arah air yang gelap. Bimo berlari menuju jendela kabin, matanya berusaha menembus kegelapan air laut. Di bawah permukaan yang bergejolak, ia melihat sebuah siluet raksasa yang meluncur dengan anggun namun mengancam. Bayangan itu jauh lebih besar daripada kapal Bintang Timur, sebuah entitas yang seolah-olah muncul dari legenda kuno yang sering diceritakan Aki Jajang." Itu bukan paus," gumam Aki Jajang yang kini berdiri di samping Bimo, wajahnya tampak sangat pucat." Itu adalah Penjaga. Kita sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur." Kapal Bintang Timur tiba-tiba berguncang hebat, bukan karena hantaman ombak, melainkan karena sesuatu yang besar baru saja menggesek lambung kapal dari bawah. Suara gesekan logam beradu dengan sesuatu yang keras terdengar memilukan, membuat semua orang di atas kapal terlempar dari posisi mereka. Bimo berusaha bangkit, matanya terus terpaku pada layar radar yang kini dipenuhi oleh gangguan sinyal yang aneh." Dara, aktifkan lampu sorot bawah laut!" teriak Bimo sambil berusaha meraih kembali kendali kemudi. Saat lampu sorot berkekuatan tinggi itu menyala, cahayanya membelah kegelapan air laut hingga kedalaman beberapa puluh meter. Apa yang mereka lihat di bawah sana membuat napas Bimo tertahan. Bukan sekadar makhluk laut, melainkan sebuah permukaan logam yang sangat luas dan berkilau, tertutup oleh lapisan lumut dan karang, namun tetap memancarkan aura teknologi yang melampaui zaman mereka. Bayangan besar itu kembali melintas, kali ini lebih dekat ke permukaan, menciptakan pusaran air yang membuat kapal mereka berputar-putar tidak terkendali. Bimo menyadari bahwa mereka bukan lagi sekadar penjelajah yang mencari artefak, melainkan ikan kecil yang terjebak dalam jaring raksasa yang tidak terlihat." Semuanya, pegangan!" teriak Bimo saat kapal kembali dihantam oleh gelombang kejut dari bawah. Di tengah kekacauan itu, Bimo melihat ke arah cakrawala. Awan mendung kini telah sepenuhnya menutupi langit, menciptakan kegelapan prematur yang mencekam. Di bawah sana, di kedalaman yang tak terjangkau, sebuah cahaya biru redup mulai muncul dari balik struktur raksasa itu, seolah-olah sebuah mesin kuno baru saja diaktifkan kembali setelah ribuan tahun terdiam. Bimo tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai, dan garis horizon yang mereka lalui tadi bukan sekadar batas wilayah, melainkan titik di mana logika sains mereka akan diuji oleh keajaiban dan kengerian yang tersembunyi di dasar laut. Ia mencengkeram kemudi lebih kuat, matanya menatap tajam ke arah cahaya biru itu, siap menghadapi apa pun yang akan muncul dari kegelapan samudera. Kapal Bintang Timur terus terombang-ambing, sebuah titik kecil di tengah amukan raksasa bawah laut. Di dalam ruang kemudi yang sempit, napas para kru terdengar memburu, beradu dengan suara alarm yang tak kunjung berhenti. Bimo Satrio, sang oseanografer yang selalu percaya pada data dan angka, kini harus berhadapan dengan sesuatu yang melampaui segala teori yang pernah ia pelajari." Bimo, lihat radarnya!" Dara berteriak di tengah kebisingan." Bayangan itu. Dia tidak pergi. Dia sedang melingkari kita!" Bimo menatap layar radar yang berkedip-kedip merah. Titik besar itu kini bergerak melingkar, menciptakan pola yang seolah-olah sedang mengunci posisi mereka. Ia merasakan getaran aneh yang merambat dari lantai kapal hingga ke ujung jari-jarinya, sebuah frekuensi rendah yang membuat dadanya terasa sesak." Siapkan kamera!" perintah Bimo dengan suara yang serak." Kita harus tahu apa yang sedang kita hadapi sebelum benda ini menghancurkan kita!" Saat kamera bawah laut mulai diturunkan, layar monitor di dalam kabin menampilkan gambar yang buram dan penuh gangguan statis. Namun, di antara gangguan itu, sebuah bentuk mulai terlihat jelas. Sebuah mata raksasa, dengan pupil yang bersinar keemasan, menatap langsung ke arah kamera dari kegelapan yang paling dalam. Bimo tertegun, seluruh tubuhnya membeku. Mata itu tidak terlihat seperti mata binatang, melainkan seperti sebuah lensa optik yang sangat canggih, menyimpan kecerdasan yang sangat tua dan sangat dingin. Di saat itulah ia menyadari bahwa 'Catatan Dasar Laut' yang ia cari bukan sekadar buku atau artefak, melainkan sebuah peringatan tentang sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemukan oleh manusia." Matikan mesinnya," bisik Aki Jajang tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan kepanikan yang melanda kru lainnya." Jangan melawannya. Tunjukkan bahwa kita tidak berniat menghancurkan." Bimo menatap Aki Jajang, lalu beralih ke arah monitor yang masih menampilkan mata raksasa itu. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih tuas mesin dan menariknya hingga posisi mati. Seketika itu juga, deru mesin diesel yang selama ini menemani mereka menghilang, digantikan oleh kesunyian yang sangat mencekam. Kapal Bintang Timur kini hanya terapung-apung, mengikuti arus yang diciptakan oleh makhluk raksasa di bawahnya. Di dalam keheningan itu, Bimo bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, seirama dengan denyut cahaya biru yang semakin terang dari dasar laut. Tiba-tiba, radar menangkap bayangan besar itu bergerak menjauh dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kapal mereka dalam ketenangan yang aneh. Namun, tepat saat mereka mengira ancaman telah berlalu, sebuah guncangan yang jauh lebih dahsyat menghantam kapal, seolah-olah dasar laut itu sendiri sedang meledak di bawah mereka. Bimo terlempar ke arah panel instrumen, kepalanya terbentur keras hingga pandangannya menjadi kabur. Di tengah rasa sakit yang berdenyut, ia sempat melihat ke arah monitor kamera bawah laut sebelum layarnya benar-benar mati. Di sana, di antara reruntuhan karang dan logam, sebuah pintu raksasa mulai terbuka, mengungkap sebuah lorong gelap yang menuju ke jantung bumi." Kita sudah masuk ke dalam zona bahaya," gumam Bimo sebelum kegelapan merenggut kesadarannya. Di luar kapal, laut lepas yang tadinya tenang kini berubah menjadi pusaran raksasa yang menelan segala sesuatu di sekitarnya. Kapal Bintang Timur perlahan-lahan tersedot ke dalam pusat pusaran itu, menuju ke kedalaman yang belum pernah terjamah oleh cahaya matahari, membawa Bimo dan timnya menuju takdir yang telah menunggu mereka selama ribuan tahun di balik garis horizon.