Bab 32: Retakan di Jantung Kota Tenggelam
Getaran membelah air, merambat menusuk tulang Bimo. Ia segera memberi isyarat, tangannya membentuk perintah berlindung. "Menyebar! Lalu cari celah!" suaranya menggelegar melalui interkom, nyaris tenggelam oleh dentuman jauh yang bergema dari kedalaman. Timnya bergerak cepat, bagai bayangan yang ditarik arus, mencari perlindungan di balik reruntuhan kuno kota tenggelam. Pilar-pilar batu yang lapuk menjadi perisai sementara, menawarkan ilusi keamanan.
Cahaya senter 'musuh' menyapu air keruh, menari-nari seperti penari kematian di panggung gelap bawah laut. Mereka tidak menembak dengan proyektil, melainkan melontarkan sesuatu yang memancarkan kilatan energi. Gelombang kejut tak kasat mata menerjang, mendorong tubuh menjauh, memutar penyelam seperti boneka kain. Sebuah getaran kuat merayap di sekujur tubuh Bimo, seolah fondasi kota itu sendiri sedang bergeser, mengerang kesakitan.
"Mereka tidak menembak untuk membunuh, hanya untuk mendorong kita!" Bimo berteriak, matanya menyipit di balik visor helmnya. Ia memindai pola gerakan lawan, mencari anomali. "Ada yang aneh! Tetap waspada!"
Silas Papare, dengan sigap menempatkan dirinya di antara Bimo dan arah datangnya gelombang kejut. Tangannya mencengkeram erat batu yang menjadi pegangan, buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Dara Puspita memeriksa konsol kecil di pergelangan tangannya. Rahangnya mengeras, namun tatapannya tetap terpaku pada setiap pergerakan.
"Ini bukan taktik penyerangan biasa, Mas," ujar Dara, suaranya sedikit terengah. Gelembung-gelembung udara kecil keluar dari regulatornya, bergegas naik ke permukaan. "Lebih mirip pengusiran."
Penyelam-penyelam itu, dengan pakaian serba gelap dan alat pendorong yang memancarkan cahaya redup, terus mendekat. Mereka tidak melepaskan tembakan mematikan, hanya gelombang kejut non-letal yang terasa seperti pukulan tumpul di dada, membuat paru-paru berdenyut. Perut Bimo melilit, sebuah simpul tegang yang familiar, seperti keheningan mencekam sesaat sebelum gempa besar mengguncang. Ini bukan pertempuran yang dia bayangkan; ini adalah sesuatu yang jauh lebih membingungkan.
Bimo membuat keputusan berani. Ia mendorong dirinya dari balik perlindungan pilar, melesat maju. Sapuan cahaya senter nyaris mengenai helmnya, hanya berjarak beberapa inci dari visor. Air bergolak di sekelilingnya, membawa serta pasir halus yang mengurangi jarak pandang. Namun, dia terus berenang, menuju area yang paling sering dihantam gelombang kejut, tempat reruntuhan tampak paling aktif bergetar.
Di sana, di antara puing-puing yang berjatuhan, sebuah pemandangan aneh terhampar. Bukan senjata, bukan peledak. Penyelam-penyelam itu, beberapa di antaranya membawa alat berat, sedang memasang semacam stabilisator darurat. Kabel-kabel tebal melilit pilar-pilar batu yang retak, dan alat-alat berkedip memancarkan cahaya hijau samar, seperti akar yang menghujam semakin dalam ke jantung batu purba. Bau amis laut bercampur dengan aroma ozon samar, bau logam yang terbakar di dalam air.
"Kaka, mereka bukan menyerang," suara Silas terdengar melalui interkom, tegang namun penuh keyakinan. "Mereka mencoba menahan sesuatu. Lihat retakan itu!"
Bimo mengarahkan senternya. Sebuah retakan panjang, menganga seperti luka baru di dinding kuno, membentang di hadapannya. Tekstur kasar retakan itu terasa dingin dan berlumut di ujung sarung tangannya, menyiratkan usia ribuan tahun. Retakan itu. Terlalu familiar. Itu adalah jenis kerusakan yang bisa terjadi akibat infiltrasi paksa, akibat metode yang mereka gunakan untuk masuk ke dalam kota ini.
Penyelam 'musuh' di dekatnya berbalik, senter mereka menangkap siluet Bimo. Mereka segera mengaktifkan alat kejut non-letal, mengusirnya menjauh dari area sensitif itu. Sebuah suara peringatan sonar melengking rendah, menusuk telinga Bimo, seperti raungan paus yang terluka dalam kegelapan samudra. Bimo mundur, namun pandangannya tak lepas dari retakan yang menganga dan alat stabilisasi yang dipasang terburu-buru.
"Mereka... mereka memperbaiki?" bisik Bimo, lebih kepada dirinya sendiri, desis regulatornya menjadi satu-satunya jawaban. Kesadaran itu menghantamnya seperti palu godam, berat dan tak terduga. Beban rasa bersalah mulai menekan dadanya, dingin dan menusuk.
Tiba-tiba, arus bawah air menguat drastis. Puing-puing kuno, pecahan batu dan artefak yang tak teridentifikasi, melayang tak terkendali di depan matanya. Rasa dingin yang menusuk menembus pakaian selamnya, membuat otot-ototnya menegang. Suara gemuruh yang semakin dekat mengindikasikan keruntuhan yang lebih besar, mengancam menelan mereka semua.
Di tengah kekacauan yang berputar, Bimo melihatnya. Beberapa penyelam dengan lambang medis di lengan, membawa tandu darurat. Sosok tak sadarkan diri terbaring di atasnya. Dengan gerakan hati-hati namun cepat, mereka membelah arus, menuju arah kapal induk.
Kilasan wajah itu. Ratna.
Dunia Bimo seolah runtuh. Wajah pucat, rambut hitamnya melayang-layang di air, membentuk mahkota gelap. Ratna. Bukan tawanan. Bukan musuh. Dia. Terluka. Karena ulah mereka?
"Ratna?" Bimo terkesiap, napasnya tercekat di balik regulator, gelembung-gelembung besar melesat ke atas. "Tidak mungkin. Ini semua karena kita."
Penyelam 'musuh' lainnya mencoba memisahkan Bimo dari pemandangan itu, mengarahkan alat kejut ke arahnya. Namun, Bimo tak lagi merasakan apa-apa selain rasa dingin yang menusuk dari kesadaran barunya. Misi pribadinya, artefak yang dicarinya, 'Catatan Dasar Laut' yang muluk-muluk—semua terasa hampa di hadapan wajah Ratna yang tak berdaya.
"Ikuti aku!" perintah Bimo, suaranya kini dipenuhi urgensi yang berbeda, bukan lagi tentang penyerangan, melainkan perlindungan. Dia berbalik, memimpin timnya menuju celah sempit dan gelap di antara reruntuhan yang relatif stabil.
Menavigasi reruntuhan yang runtuh adalah tantangan tersendiri. Batu-batu besar bergeser, menciptakan suara gesekan yang memekakkan, seperti raungan monster yang terperangkap. Udara di dalam air dipenuhi partikel-partikel halus, membuat cahaya senter menembus kabut. Mereka berjuang, berpegangan pada setiap tonjolan batu, menghindari puing-puing yang jatuh dari atas.
Akhirnya, mereka berhasil menyelinap masuk ke dalam celah. Keheningan relatif menyelimuti mereka, kontras tajam dengan kekacauan gemuruh di luar. Dinding batu dingin menekan tubuh mereka, menawarkan perlindungan dari arus dan gemuruh. Kegelapan pekat hanya ditembus oleh cahaya senter mereka yang redup, menciptakan lingkaran cahaya terbatas.
Dara menarik napas berat, terengah-engah. "Kita aman, untuk sementara." Dia menatap Bimo, matanya dipenuhi pertanyaan yang tak terucapkan. "Apa yang baru saja terjadi, Bimo?"
Bimo menyandarkan punggungnya ke dinding batu yang lembap. Suara napas mereka sendiri yang berat melalui regulator adalah satu-satunya suara yang terdengar, diselingi tetesan air yang menetes dari celah di atas. Bau amis laut yang pekat kini terasa lebih aman, lebih akrab, seperti selimut basah yang melindungi.
"Aku... aku tidak tahu," Bimo mengakui, suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Tapi aku melihat Ratna. Dia terluka. Mereka membawanya pergi."
Silas mengangguk pelan, visornya memantulkan cahaya redup. "Pace Bimo benar. Mereka bukan tentara, lebih seperti... tim darurat. Mereka menjaga, bukan menyerang."
Mei, yang tampak lebih tenang di dalam celah sempit itu, berujar, "Loh, berarti... kita yang salah sasaran? Kita yang bikin kekacauan?"
Beban rasa bersalah Bimo semakin dalam, seperti bongkahan es yang perlahan mencair di dadanya. Dia menatap timnya satu per satu, wajah-wajah lelah dan bingung yang terpantul di cahaya senter. Misi untuk mencari 'Catatan Dasar Laut' terasa begitu jauh, begitu egois, sebuah ambisi yang kini terasa hampa.
"Ratna." Bimo mengulang, suaranya tercekat. "Dia mungkin di sana karena kita. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan mematikan, seperti jurang menganga di bawah mereka. Mereka telah datang untuk mencari kebenaran, tetapi yang mereka temukan adalah konsekuensi yang menghancurkan. Pilihan sulit terhampar di hadapan Bimo: melanjutkan misi yang mungkin telah menghancurkan, atau mencoba memperbaiki kekacauan yang tak disengaja ini, bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya? Bimo menelan ludah, rasa asin dari air laut bercampur dengan kecutnya penyesalan di lidahnya. Pilihan itu bukan lagi tentang ambisi pribadi atau warisan ayahnya, melainkan tentang jejak kehancuran yang mungkin telah mereka ukir di dasar laut ini. Dia harus membuat keputusan, dan itu harus sekarang.
"Kita tidak bisa hanya diam di sini," kata Bimo, suaranya kini lebih tegas, meskipun masih diselimuti beban. "Silas, Mei, kita perlu bergerak. Cari tempat yang lebih aman, dan kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ratna."
Silas mengangguk, obor di helmnya menyapu dinding celah yang basah. "Pace Bimo benar. Celah ini terlalu sempit. Terlalu mudah terjebak." Dia mulai bergerak perlahan, tubuhnya yang kekar bergerak hati-hati di antara bebatuan tajam. Mei mengikutinya, tangannya gemetar saat memegang senter, matanya terus-menerus menoleh ke belakang, seolah takut akan bayangan yang mengintai.
Bimo mengikuti di belakang, setiap gerakan terasa berat. Tekanan air yang menghimpit, suhu dingin yang menusuk, semua terasa seperti penjelmaan dari rasa bersalahnya. Saat mereka merayap keluar dari celah, cahaya senter mereka menari-nari di atas permukaan yang tidak rata. Di sanalah, di tengah kegelapan, Bimo melihatnya. Retakan baru, seperti urat nadi yang pecah, membentang di salah satu pilar kuno yang menopang struktur kota bawah laut. Dari retakan itu, terlihat kilatan cahaya kebiruan yang sangat redup, berdenyut pelan, seolah jantung yang sekarat.
"Loh, itu... apa itu?" Mei berbisik, suaranya tercekat.
Bimo mendekat, mengabaikan peringatan hati-hatinya. Tangannya terulur, sarung tangannya yang tebal nyaris menyentuh retakan itu. Ada getaran halus, resonansi aneh yang menembus ke tulangnya. Itu bukan retakan alami. Itu adalah luka. Luka yang dalam, yang menganga, dan Bimo tahu, dengan kepastian yang mengerikan, bahwa itu adalah ulah mereka. Getaran yang mereka rasakan sebelumnya, ledakan sonik yang mereka gunakan untuk membersihkan jalan, mungkin telah menyebabkan kerusakan ini.
"Ini... ini tidak ada sebelumnya," Bimo berbisik, suaranya serak. "Kita... kita yang melakukannya."
Bau amis laut yang sebelumnya terasa akrab kini berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih kelam. Seperti bau tanah yang baru digali, atau bunga yang membusuk. Sebuah tanda kematian yang perlahan merayap.
Silas menatap retakan itu, lalu ke Bimo. Wajahnya di balik visor tidak menunjukkan emosi, namun Bimo bisa merasakan kekecewaan yang mendalam dari pria Papua itu. "Pace Bimo, kita harus lebih hati-hati. Struktur ini... rapuh."
Mereka terus bergerak, menyusuri koridor sempit yang dulunya mungkin adalah jalanan kota. Setiap langkah terasa seperti menginjak kaca pecah. Bimo melihat lebih banyak lagi. Pecahan-pecahan ornamen kuno berserakan di dasar laut, puing-puing yang dulunya megah kini hancur lebur. Sebuah kebocoran energi yang lebih jelas terlihat di kejauhan, seperti kabut bercahaya yang menari-nari di antara reruntuhan, menarik perhatian mereka.
"Itu... itu adalah energi yang mereka coba amankan," kata Bimo, otaknya bekerja keras menghubungkan titik-titik. "Energi yang kita deteksi. Mereka bukan menyerang kita, mereka mencoba melindungi tempat ini dari kita."
Perlahan, pemahaman itu mulai meresap. Penyelam-penyelam yang mereka anggap musuh, yang mereka hadapi dengan agresi, ternyata adalah penjaga. Penjaga yang berusaha menahan kerusakan yang mereka, tim Bimo, telah timbulkan. Ini adalah tamparan keras bagi ego dan tujuan mulia yang selama ini dipegangnya.
Mereka tiba di sebuah area yang lebih terbuka, sebuah alun-alun kuno yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang masih berdiri kokoh, meskipun ditumbuhi lumut dan karang. Di tengah alun-alun itu, ada sebuah formasi batu besar yang menyerupai altar, dengan ceruk-ceruk kecil di sekelilingnya.
"Kita bisa berlindung di sini sebentar," usul Silas, menunjuk ke salah satu ceruk yang cukup besar untuk menampung mereka bertiga. "Setidaknya untuk bernapas dan menilai situasi."
Mereka masuk ke dalam ceruk itu, menyandarkan punggung ke dinding batu yang dingin. Suara regulator pernapasan kembali mendominasi, namun kali ini, ada jeda. Bimo membuka helmnya sedikit, membiarkan udara segar dari tangki memenuhi paru-parunya. Bau amis laut bercampur dengan bau karet dari peralatan mereka.
"Jadi, kita ini... orang jahatnya?" Mei bertanya, suaranya kecil dan rapuh. Dia menatap Bimo dengan mata berkaca-kaca. "Kita yang bikin Ratna celaka?"
Pertanyaan Mei menusuk Bimo seperti belati dingin. Dia tidak bisa menyangkalnya. Semua bukti, semua perasaan yang kini membanjiri dirinya, menunjuk pada satu kesimpulan: mereka telah salah. Misi suci untuk mencari 'Catatan Dasar Laut' kini terasa seperti penjarahan yang disamarkan.
"Aku... aku tidak tahu," Bimo mengakui lagi, kepalanya tertunduk. "Tapi kita tidak bisa mengabaikan ini. Kita tidak bisa hanya pergi."
Tiba-tiba, dari kejauhan, mereka mendengar suara samar. Bukan suara ledakan atau tembakan, melainkan sesuatu yang lebih teratur, seperti panggilan radio yang teredam. Lalu, mereka melihat cahaya. Bukan cahaya senter yang agresif, melainkan cahaya yang lebih lembut, bergerak perlahan.
Silas memberi isyarat agar mereka tetap diam. Mereka mengintip dari balik ceruk.
Beberapa meter dari posisi mereka, di balik tumpukan puing, terlihat siluet beberapa penyelam. Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa peralatan yang tampak seperti tandu darurat bawah air, lengkap dengan tabung oksigen dan perlengkapan medis. Salah satu penyelam memegang semacam perangkat pemindai, yang memancarkan cahaya hijau redup.
Dan di atas tandu itu, terbaring seseorang. Tubuhnya tampak lemas, namun gerakannya sangat hati-hati. Meskipun samar, Bimo bisa mengenali rambut panjang yang terurai di sekitar kepala, dan bentuk tubuh yang familiar.
"Ratna," Bimo berbisik, suaranya tercekat.
Dia memang ada di sana. Terluka. Tapi penyelam-penyelam itu tidak mengikatnya, tidak menyeretnya. Mereka merawatnya. Salah satu penyelam dengan hati-hati menyesuaikan masker oksigen di wajah Ratna, sementara yang lain memeriksa monitor kecil di samping tandu. Ini adalah adegan penyelamatan, bukan penangkapan.
Bimo merasakan gelombang emosi yang kompleks. Lega karena Ratna masih hidup, namun juga rasa bersalah yang luar biasa. Mereka telah menembak jatuh kapal selam yang membawa Ratna, mengira itu adalah musuh. Mereka telah menyebabkan kecelakaan ini.
"Mereka... mereka tim medis," Mei berbisik, matanya membelalak. "Mereka menolongnya."
Silas mengangguk pelan. "Pace Bimo, mereka tidak berniat buruk. Mereka hanya mengamankan lokasi dan menyelamatkan korban."
Fakta itu menghantam Bimo dengan kekuatan gelombang pasang. Selama ini, mereka bergerak dengan asumsi bahwa mereka adalah pihak yang benar, yang melindungi warisan. Tetapi kenyataannya, mereka adalah pihak yang menyebabkan kekacauan. Misi ayahnya, 'Catatan Dasar Laut', yang seharusnya membawa pencerahan, kini terasa seperti kutukan.
"Kita harus melakukan sesuatu," kata Bimo, suaranya bergetar. Dia tidak bisa hanya melihat Ratna terluka dan tidak melakukan apa-apa. "Kita harus membantu."
Silas menatapnya, lalu ke arah penyelam-penyelam yang kini mulai bergerak perlahan, membawa tandu Ratna menjauh. "Membantu bagaimana, Pace? Mereka mungkin mengira kita adalah ancaman."
"Kita akan menjelaskan," Bimo bersikeras. "Kita akan menyerah. Kita akan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan."
Mei menatap Bimo dengan cemas. "Menyerah? Tapi... misi kita? Catatan Dasar Laut?"
Bimo menggelengkan kepalanya. "Catatan Dasar Laut tidak akan berarti apa-apa jika kita menghancurkan segalanya di sekitarnya. Jika kita melukai orang-orang tak bersalah."
Dia bangkit perlahan, sarung tangannya mencengkeram erat sisi ceruk. Hatinya bergejolak. Selama ini, tujuan hidupnya adalah membuktikan teori ayahnya, menemukan artefak legendaris itu. Tetapi sekarang, di hadapan kerusakan nyata yang mereka sebabkan, di hadapan Ratna yang terluka karena ulah mereka, prioritasnya bergeser. Rasa bersalah itu terlalu berat untuk diabaikan.
"Kita harus memikirkan cara untuk mendekati mereka," Bimo melanjutkan, otaknya mulai merancang strategi baru. "Tanpa memicu konflik lebih lanjut. Kita perlu tahu kondisi Ratna, dan kita perlu tahu seberapa parah kerusakan yang kita timbulkan."
Silas mengamati Bimo. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan oseanografer itu. Sebuah tekad baru, yang bukan lagi tentang penemuan, melainkan tentang penebusan. "Baiklah, Pace Bimo. Tapi kita harus sangat hati-hati. Kita tidak tahu siapa mereka sebenarnya, meskipun niat mereka tampaknya baik."
Mei masih terlihat ragu, namun dia mengangguk pelan. "Aku bisa mencoba memindai frekuensi komunikasi mereka, mungkin kita bisa mendengarkan sesuatu."
Bimo menatap ke arah di mana penyelam-penyelam itu membawa Ratna pergi. Keputusan itu terasa seperti membelah dirinya menjadi dua. Satu sisi berteriak untuk melanjutkan pencarian, untuk memenuhi janji pada ayahnya. Sisi lain, yang kini jauh lebih kuat, menuntut pertanggungjawaban, penebusan, dan bantuan. Ini bukan lagi tentang penemuan, tetapi tentang moralitas.
Dia harus memilih. Melanjutkan misi yang mungkin telah menghancurkan, atau mencoba memperbaiki kekacauan yang tak disengaja ini, bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, sebuah pusaran air yang mengancam menenggelamkannya.
***
Sementara itu, di dalam kapal selam *Nusantara Jaya*, Dara merasakan getaran aneh yang menjalar di lambung kapal. Dia telah mencoba menghubungi Bimo dan timnya berulang kali, tetapi hanya ada keheningan. Kekhawatiran mulai merayap, mencengkeramnya seperti tentakel gurita.
"Mei, Bimo, Silas, apa kalian mendengarku?" Dara memanggil melalui interkom, suaranya tegang. "Laporkan posisi dan kondisi. Aku merasakan anomali energi di sini."
Hanya suara statis yang menjawab. Dara menghela napas panjang, mengepalkan tangannya di kemudi. Dia benci ketidakpastian ini. Dia benci tidak bisa melihat apa yang terjadi di luar. Monitor sonar menunjukkan beberapa titik bergerak di sekitar reruntuhan, tetapi terlalu banyak puing dan interferensi untuk mendapatkan gambaran yang jelas.
"Lastri, apakah ada sinyal dari tim penyelam?" Dara bertanya, sedikit meninggikan suaranya agar terdengar hingga ke dapur kecil di belakang ruang kendali.
"Belum, Nduk," jawab Lastri, suaranya terdengar cemas. "Hanya desisan. Aku sudah mencoba semua frekuensi."
Dara menggeram frustrasi. Dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa hanya menunggu. Naluri pilotnya berteriak untuk bergerak, untuk mencari, untuk membantu. Tapi dia juga tahu risiko bergerak sembarangan di medan yang tidak dikenal, apalagi setelah insiden tabrakan yang menyebabkan hilangnya Ratna.
"Kita akan bergerak perlahan menuju lokasi terakhir mereka," putus Dara, mengabaikan protokol keamanan untuk sementara waktu. "Jaga jarak, tapi kita harus lebih dekat untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik."
Dia mulai menggerakkan tuas kendali, kapal selam raksasa itu beringsut maju, membelah kegelapan. Lampu sorot kapal menembus air, menciptakan lingkaran cahaya di antara reruntuhan yang menjulang. Setiap bayangan terasa seperti ancaman, setiap suara kecil terasa seperti pertanda bahaya.
***
Kembali di dasar laut, Bimo, Silas, dan Mei mulai menyusun rencana. Mei mencoba menyetel frekuensi komunikasinya, berharap bisa menangkap percakapan penyelamat Ratna. Silas memindai area sekitar, mencari rute teraman untuk mendekat. Bimo sendiri merasakan beratnya tanggung jawab yang kini ia pikul.
"Aku menangkap sesuatu," Mei tiba-tiba berbisik, matanya terpaku pada layar kecil di pergelangan tangannya. "Suara-suara... mereka berbicara dalam dialek lokal yang aku tidak kenali sepenuhnya, tapi ada beberapa kata yang familiar."
Dia menaikkan volume sedikit. Suara-suara teredam itu menjadi lebih jelas.
"Kondisi pasien... stabil... tapi perlu evakuasi cepat..."
"Retakan... semakin membesar... butuh penanganan segera..."
"Sumber energi... tidak stabil... bahaya ledakan..."
Kata-kata itu menghantam Bimo seperti pukulan. Ledakan? Retakan membesar? Ini lebih buruk dari yang dia bayangkan. Mereka tidak hanya melukai Ratna, mereka juga mengancam seluruh struktur kuno ini, dan mungkin juga sumber energi yang ada di dalamnya.
"Ledakan?" Bimo mengulang, suaranya terdengar jauh. "Itu artinya... seluruh tempat ini bisa runtuh?"
Silas menatapnya dengan serius. "Jika sumber energi itu tidak stabil, Pace, maka ya. Seluruh kota ini bisa menjadi kuburan."
Rasa bersalah Bimo semakin dalam, kini bercampur dengan ketakutan yang mencekam. Dia telah mengejar bayangan ayahnya, dan dalam prosesnya, dia mungkin telah membahayakan nyawa banyak orang, termasuk Ratna, dan menghancurkan sebuah situs yang tak ternilai harganya.
"Kita harus menghentikannya," kata Bimo, tekadnya kini membaja. "Kita harus membantu mereka menstabilkan sumber energi itu. Dan kita harus membantu Ratna."
Mei menatapnya. "Tapi bagaimana? Kita tidak tahu apa-apa tentang energi itu. Kita bahkan tidak tahu apa yang mereka lakukan."
"Kita akan belajar," Bimo menjawab, matanya memancarkan cahaya yang tidak pernah ada sebelumnya. Bukan cahaya ambisi, melainkan cahaya tanggung jawab. "Kita akan menawarkan bantuan. Kita akan menunjukkan bahwa kita tidak berniat jahat."
Silas mengangguk. "Baiklah, Pace Bimo. Rencananya?"
Bimo menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya air laut di sekitar helmnya. "Mei, coba hubungi mereka. Gunakan frekuensi yang sama. Sampaikan bahwa kita adalah tim peneliti, bahwa kita tidak bermaksud menyebabkan kerusakan, dan kita ingin membantu. Silas, kau akan menjadi pengawal kita. Kita akan mendekat perlahan, dengan tangan terbuka."
Ini adalah pertaruhan besar. Mereka bisa saja ditembak, ditangkap, atau bahkan lebih buruk. Tetapi Bimo tidak melihat pilihan lain. Dia tidak bisa lagi membiarkan tujuan pribadinya mengaburkan pandangannya. Warisan ayahnya akan terasa hampa jika dibangun di atas kehancuran.
Mei mulai menekan tombol-tombol di perangkat komunikasinya, wajahnya tegang. Silas mempersiapkan dirinya, memeriksa peralatan selamnya. Bimo menatap ke arah kegelapan yang menelan Ratna dan penyelamatnya.
Dilema moral dan strategis Bimo Satrio menggantung di udara – haruskah ia melanjutkan misi untuk mencari artefak yang mungkin telah ia hancurkan, atau mencoba memperbaiki kekacauan yang tak disengaja dan menyelamatkan Ratna? Dia sudah membuat keputusannya. Sekarang tinggal menghadapi konsekuensinya.
***
Di dalam *Nusantara Jaya*, Dara melihat titik-titik bergerak di sonar semakin banyak. Dia mendengar suara-suara aneh dari lambung kapal, seperti desisan dan dentuman yang teredam. Alarm mulai berbunyi, menandakan adanya anomali energi yang semakin kuat.
"Ada apa ini?" Dara berseru, matanya menyapu panel kontrol. "Sistem energi utama menunjukkan fluktuasi besar! Ada sesuatu yang tidak beres di luar sana."
Lastri muncul dari dapur, wajahnya pucat. "Nduk, aku juga merasakan. Seperti ada gempa di bawah air."
Tiba-tiba, layar komunikasi Mei berkedip. "Dara! Aku berhasil menghubungi mereka! Tapi... ini gawat! Mereka bilang ada kebocoran energi besar, dan struktur ini tidak stabil!"
Dara merasakan jantungnya berdebar kencang. "Kebocoran energi? Apakah itu ulah kita?"
"Aku... aku tidak tahu persis," Mei menjawab, suaranya penuh kepanikan. "Tapi Bimo bilang kita harus membantu. Dia bilang kita harus bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab bagaimana?" Dara bertanya, otaknya berpacu. "Kita ini tim peneliti, bukan tim penyelamat bencana!"
Namun, saat itu, sebuah getaran dahsyat mengguncang *Nusantara Jaya*. Lampu-lampu berkedip, dan beberapa panel kontrol mati. Sebuah retakan besar muncul di salah satu dinding reruntuhan di depan mereka, memancarkan cahaya kebiruan yang menyilaukan.
"Ya Tuhan!" Dara berseru, mencoba menstabilkan kapal. "Ini... ini bukan gempa biasa! Ini kehancuran!"
Dia melihat ke arah layar sonar. Titik-titik penyelam, termasuk Bimo dan timnya, kini tampak bergerak cepat, menuju ke arah kebocoran energi. Mereka tidak mundur, mereka maju.
"Bimo, apa yang kalian lakukan?" Dara berteriak ke interkom, meskipun dia tahu jawabannya. Bimo telah memilih. Dia telah memilih untuk menyelamatkan, bukan mencari.
***
Di dasar laut, Bimo merasakan getaran yang sama. Retakan yang tadi dia lihat kini membesar, memuntahkan cahaya kebiruan yang semakin terang dan intens. Suara desisan dan gemuruh memenuhi air, seperti raungan monster purba yang terbangun dari tidurnya.
"Mei, apakah mereka merespons?" Bimo bertanya, mencoba berbicara di tengah kebisingan.
"Mereka... mereka bilang butuh bantuan untuk menstabilkan inti energi! Tapi mereka ragu pada kita!" Mei berteriak, suaranya nyaris tenggelam.
"Katakan pada mereka kita punya peralatan yang bisa membantu! Kita punya keahlian!" Bimo berseru. Dia tahu ini adalah kebohongan. Mereka tidak punya peralatan khusus untuk menstabilkan inti energi kuno. Tapi dia harus mencoba. Dia harus membeli waktu.
Silas menunjuk ke depan. Beberapa penyelam dari tim penyelamat Ratna terlihat di kejauhan, menatap ke arah mereka dengan waspada. Mereka membawa semacam alat penahan energi, tapi jelas kewalahan. Ratna sudah tidak terlihat, mungkin sudah dievakuasi lebih jauh.
"Pace Bimo, mereka bersiap," kata Silas, suaranya tenang namun tegang. "Mereka mungkin akan menembak."
Bimo mengabaikan peringatan itu. Dia mulai bergerak maju, tangannya terangkat ke samping sebagai tanda tidak ada perlawanan. Mei mengikutinya, terus berbicara ke komunikasinya, mencoba meyakinkan para penyelam itu. Silas menjaga jarak, siap bereaksi jika terjadi hal terburuk.
Lampu-lampu dari penyelam lain menyinari mereka. Bimo bisa melihat ekspresi tegang di balik visor mereka. Mereka adalah orang-orang yang lelah, yang sedang berjuang melawan bencana yang tidak mereka duga. Dan mereka melihat Bimo dan timnya sebagai penyebab bencana itu.
"Kami datang untuk membantu!" Bimo berteriak ke arah mereka, suaranya teredam oleh air dan regulator. "Kami bisa membantu menstabilkan ini!"
Seorang penyelam yang tampak seperti pemimpin mereka menunjuk ke arah Bimo, lalu ke arah retakan yang kini memancarkan cahaya kebiruan yang semakin ganas. Ada keraguan di matanya, tetapi juga keputusasaan. Mereka jelas membutuhkan bantuan.
Getaran lain yang lebih kuat mengguncang seluruh area. Puing-puing kecil mulai berjatuhan dari langit-langit kuno. Struktur ini benar-benar di ambang kehancuran.
Bimo tahu, dia tidak bisa lagi mundur. Dia telah membuat keputusannya. Dia telah memilih untuk menyelamatkan, untuk memperbaiki, untuk menebus. Misi untuk 'Catatan Dasar Laut' kini terasa begitu jauh, begitu tidak penting dibandingkan dengan bencana yang mengancam di hadapannya.
Dia harus mengambil risiko. Dia harus membuktikan bahwa mereka bukan musuh, melainkan sekutu yang datang untuk membantu. Bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya, termasuk reputasinya, bahkan mungkin nyawanya sendiri.
***
Di atas, di dalam *Nusantara Jaya*, Dara melihat tim Bimo mendekati para penyelam yang awalnya mereka anggap musuh. Dia melihat Bimo mengangkat tangannya, sebuah isyarat damai di tengah kekacauan.
"Mereka... mereka benar-benar akan membantu?" Dara bergumam, tidak percaya. Bimo, si ilmuwan yang terobsesi dengan penemuan, kini mempertaruhkan segalanya untuk memperbaiki kesalahan.
Alarm di kapal semakin nyaring. Tekanan air di sekitar mereka mulai berfluktuasi secara drastis. Dara tahu, jika inti energi itu meledak, tidak hanya kota kuno ini yang hancur, tetapi juga *Nusantara Jaya* dan semua orang di dalamnya.
"Lastri, bersiap untuk evakuasi darurat!" Dara berteriak. "Tapi tunggu sinyal dari Bimo. Kita tidak akan meninggalkan mereka."
Lastri mengangguk, wajahnya pucat pasi. Dia mulai mengamankan peralatan di dapur, meskipun tangannya gemetar.
Dara menatap layar, melihat titik-titik kecil yang mewakili timnya dan para penyelam lain. Mereka semua kini berkerumun di sekitar retakan yang memancarkan cahaya biru. Sebuah cahaya yang indah, namun mematikan.
Dia merasakan beban yang sama seperti Bimo. Tanggung jawab. Mereka telah datang ke sini untuk mencari kebenaran, tetapi yang mereka temukan adalah kehancuran yang tak terduga. Dan sekarang, mereka harus memilih: melarikan diri, atau menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka.
Dara tahu, tanpa perlu Bimo mengatakannya, bahwa pilihan mereka sudah jelas. Mereka akan membantu. Mereka akan bertarung. Bukan untuk artefak, bukan untuk kejayaan, tetapi untuk bertahan hidup, dan untuk menebus kesalahan yang telah mereka perbuat.
Pertaruhan itu terasa berat, seperti beban samudra yang tak terbatas.
***
Bimo melangkah maju, cahaya biru dari retakan menerangi visornya. Dia bisa merasakan panas yang aneh dari energi yang bocor, menembus lapisan pelindung pakaian selamnya. Udara di dalam helmnya terasa pengap, namun dia mengabaikannya. Fokusnya hanya pada para penyelam di depannya, dan pada retakan yang terus membesar.
Penyelam pemimpin itu, seorang pria dengan perawakan tinggi dan lambang yang tidak dikenal di bahunya, menatap Bimo dengan tatapan curiga. Dia tidak menurunkan senjatanya, sebuah alat yang tampak seperti pistol penenang bawah air.
"Siapa kalian?" suara pria itu terdengar melalui frekuensi komunikasi yang kini berhasil disinkronkan Mei. Suaranya tegang, penuh ancaman. "Apa yang kalian inginkan?"
"Kami tim peneliti," Bimo menjawab, suaranya setenang mungkin, meskipun jantungnya berdebar kencang. "Kami tidak bermaksud menyebabkan kerusakan. Kami datang untuk membantu. Kami punya keahlian. Kami bisa membantu menstabilkan inti energi itu."
Pria itu mendengus. "Keahlian? Kalian yang menyebabkan ini! Kalian menembak jatuh kapal kami! Kalian melukai rekan kami!"
Rasa bersalah itu menghantam Bimo lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Dia tidak bisa menyangkalnya. "Kami akui kesalahan kami. Kami salah mengira kalian adalah ancaman. Tapi sekarang, kami di sini untuk menebusnya. Rekan kalian, Ratna, kami tahu dia terluka karena kami. Kami bersedia melakukan apa saja untuk memperbaikinya."
Mei menyela. "Kami bisa memindai struktur energi. Kami punya data dari sonar kami. Kami bisa membantu mengidentifikasi titik lemah dan cara menstabilkannya."
Pria itu ragu. Matanya beralih dari Bimo ke retakan yang kini berdenyut dengan cahaya yang semakin terang. Suara gemuruh di bawah air semakin keras. Dia jelas berada dalam situasi yang putus asa.
"Bagaimana kami bisa percaya kalian?" pria itu bertanya, suaranya sedikit melunak, meskipun masih penuh kecurigaan.
"Kami tidak punya alasan untuk berbohong," Bimo menjawab. "Kami juga terancam oleh kehancuran ini. Kami hanya ingin membantu."
Pria itu menatap Bimo untuk beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya ke rekan-rekannya. Ada diskusi singkat yang teredam di antara mereka.
Silas tetap diam di belakang Bimo, tangannya siap. Dia tahu, satu gerakan salah bisa memicu bencana.
Akhirnya, pria itu menghela napas. "Baiklah. Tapi satu kesalahan, satu gerakan mencurigakan, dan kalian akan menyesalinya." Dia memberi isyarat kepada Bimo untuk mendekat. "Apa yang bisa kalian lakukan?"
Bimo merasakan sedikit kelegaan, namun ketegangan masih mencekiknya. Mereka telah mendapatkan kesempatan. Sekarang, mereka harus membuktikan diri.
Dia menoleh ke Mei. "Mei, aktifkan pemindaian termal dan energi. Kita perlu tahu persis apa yang terjadi di dalam retakan itu. Silas, tetap waspada, lindungi Mei."
Mei segera bekerja, jari-jarinya menari-nari di atas layar perangkatnya. Silas mengangguk, obor di helmnya menyapu area sekitar.
Bimo melangkah maju, mendekati retakan yang kini memancarkan cahaya biru yang menyilaukan. Dia bisa merasakan tarikan energi yang kuat, seperti pusaran air yang tak terlihat. Ini adalah inti dari semua yang mereka cari, semua yang mereka hancurkan.
Dia harus mengambil keputusan. Misi untuk mencari 'Catatan Dasar Laut' kini terasa begitu jauh, begitu egois, sebuah ambisi yang kini terasa hampa. Di hadapannya, terhampar kehancuran yang nyata, dan kesempatan untuk penebusan.
Pilihan sulit terhampar di hadapan Bimo: melanjutkan misi yang mungkin telah menghancurkan, atau mencoba memperbaiki kekacauan yang tak disengaja ini, bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya? Dia telah memilih yang terakhir. Namun, apakah mereka akan berhasil? Dan apa konsekuensi dari pilihan ini?
Suara gemuruh semakin keras, mengancam menelan mereka semua dalam kegelapan abadi. Bimo tahu, ini baru permulaan. Pertarungan sebenarnya baru akan dimulai. Ini bukan lagi tentang penemuan, tetapi tentang bertahan hidup dan menebus kesalahan yang telah mereka perbuat. Dia harus membuktikan bahwa mereka bukan musuh, melainkan sekutu yang datang untuk membantu. Bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya, termasuk reputasinya, bahkan mungkin nyawanya sendiri.
***
Di dalam *Nusantara Jaya*, Dara melihat tim Bimo kini bekerja sama dengan para penyelam lain. Sebuah aliansi yang tidak terduga, lahir dari bencana. Dia melihat Bimo, yang biasanya selalu tenang dan analitis, kini bergerak dengan urgensi yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Suhu inti energi melonjak!" Mei berteriak melalui komunikasi. "Retakan meluas! Kita harus cepat!"
Dara merasakan kapal bergetar lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Monitor menunjukkan struktur kota kuno itu mulai menunjukkan tanda-tanda keruntuhan masif.
"Bimo, apa yang harus kita lakukan?" Dara bertanya, suaranya tegang. "Apakah ada cara untuk membantu dari sini?"
"Dara, siapkan *Nusantara Jaya* untuk menarik puing-puing besar jika perlu!" Bimo menjawab, suaranya penuh perintah. "Kita mungkin perlu menopang struktur yang runtuh! Dan bersiaplah untuk evakuasi darurat jika inti energi tidak bisa distabilkan!"
Dara mengangguk, meskipun dia tahu betapa berbahayanya perintah itu. Menarik puing-puing di bawah tekanan air yang ekstrem bisa menghancurkan kapal. Tapi dia percaya pada Bimo. Dia percaya pada tekad baru yang kini membakar oseanografer itu.
Dia mencengkeram kemudi, matanya terpaku pada layar. Sebuah cahaya kebiruan yang sangat terang kini memancar dari retakan, menerangi seluruh area. Itu adalah pemandangan yang indah, namun mematikan. Seperti bunga beracun yang mekar di dasar laut.
"Bertahanlah, Bimo," bisik Dara, lebih kepada dirinya sendiri. "Bertahanlah."
Dia tahu, mereka semua kini berada di ambang kehancuran. Dan satu-satunya jalan keluar adalah bekerja sama, bahkan dengan mereka yang tadinya mereka anggap musuh.
***
Bimo merasakan panas yang membakar di dekat retakan. Dia dan Mei bekerja cepat, memindai dan menganalisis data yang masuk. Penyelam pemimpin itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Komandan Ardi, berdiri di samping mereka, memberikan instruksi kepada timnya.
"Data menunjukkan inti energi tidak stabil karena tekanan yang tidak seimetris," Mei menjelaskan, suaranya cepat dan panik. "Ada bagian yang terlalu panas, dan bagian lain yang terlalu dingin. Kita perlu menyeimbangkan tekanan di sekitar inti."
"Bagaimana caranya?" Komandan Ardi bertanya, alisnya berkerut.
"Kita perlu menyalurkan kelebihan energi dari satu sisi ke sisi lain, atau setidaknya membuang sebagian kecil energinya secara terkontrol," Bimo menjawab, otaknya berpacu. "Kita butuh alat untuk itu. Apakah kalian punya semacam alat penyalur energi?"
Komandan Ardi menggelengkan kepalanya. "Kami hanya punya alat penahan. Kami tidak pernah mengira akan ada kebocoran sebesar ini."
Bimo menatap Mei, lalu ke retakan yang kini mulai mengeluarkan gelembung-gelembung cahaya. Ini adalah tanda-tanda kritis.
"Kita harus improvisasi," kata Bimo. "Mei, bisakah kau memodifikasi perangkat pemindai kita untuk menyalurkan energi? Kita bisa menggunakan kristal di dalamnya sebagai konduktor."
Mei menatapnya, matanya membelalak. "Modifikasi perangkat? Itu... itu sangat berbahaya, Bimo! Bisa meledak di tangan kita!"
"Kita tidak punya pilihan lain," Bimo bersikeras. "Ini satu-satunya cara. Kita harus mencoba."
Komandan Ardi mendengarkan, wajahnya menunjukkan keputusasaan. Dia tahu, ini adalah pilihan terakhir mereka.
Silas mendekat, tangannya memegang alat multifungsi. "Pace Bimo, aku bisa membantu Mei. Aku punya beberapa alat yang mungkin berguna untuk modifikasi."
Bimo mengangguk. "Bagus. Kita butuh setiap detik. Komandan Ardi, bisakah tim Anda membantu menahan retakan dengan alat penahan kalian selama kami bekerja?"
Komandan Ardi mengangguk tegas. "Akan kami lakukan."
Mereka mulai bekerja. Mei dan Silas berjongkok, dengan cepat memodifikasi perangkat pemindai Bimo. Bimo sendiri terus memantau data, memberikan instruksi. Tim Komandan Ardi bergerak, menempatkan alat penahan mereka di sekitar retakan, mencoba memperlambat keruntuhan.
Suara gemuruh semakin keras, dan getaran semakin intens. Seluruh kota kuno itu terasa seperti akan runtuh kapan saja. Bimo tahu, ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya. Bukan untuk sebuah penemuan, tetapi untuk menyelamatkan. Untuk menebus.
Dilema moral dan strategis Bimo Satrio menggantung di udara – haruskah ia melanjutkan misi untuk mencari artefak yang mungkin telah ia hancurkan, atau mencoba memperbaiki kekacauan yang tak disengaja ini, bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya? Dia telah memilih. Kini, hanya waktu yang akan menentukan apakah pilihannya akan membawa keselamatan atau kehancuran total.