Bab 31: Undangan dari Kegelapan
Angin laut masih menyisakan gigil dingin, meski amukan badai semalam telah mereda. Kapal kayu kecil itu kini berombak pelan, mengayun di hamparan air yang tampak tenang, namun menyimpan misteri kelam di dasarnya. Bimo Satrio berjongkok di buritan, jemarinya cekatan mengencangkan ikatan selang udara kompresor. Setiap simpul harus sempurna, setiap sambungan kedap, tak boleh ada celah. Dia memeriksa pemberat timah di pinggangnya, memastikan beban itu seimbang; tak terlalu berat, tak pula kurang. Gerakannya presisi, teliti, seperti seorang ahli bedah yang mempersiapkan instrumen vital.
Bau amis laut beradu dengan aroma bensin dari mesin kompresor yang meraung, menusuk tajam hidung Bimo. Deru mesin itu memecah keheningan fajar, mengisi udara dengan perpaduan yang memuakkan. Dara Puspita berdiri di samping Bimo, melipat erat tangannya di dada. Rahangnya mengeras, matanya menyapu setiap detail perlengkapan selam tradisional itu, mencari cacat sekecil apa pun.
"Mas Bimo, yakin ini bisa?" Dara bertanya, suaranya sedikit meninggi, berjuang menembus deru mesin. "Selang sepanjang itu. Di kedalaman sana, tekanan bisa membuat selang kolaps. Belum lagi arusnya." Keraguan terpancar jelas dari sorot matanya, mengambang di udara seperti kabut pagi yang pekat.
Bimo mengangkat pandangan, menatap lurus ke mata Dara. "Ini satu-satunya cara, Dara," katanya, suaranya tenang, meski kerutan halus muncul di sudut matanya. "Teknologi mereka terlalu canggih. Sonar mereka akan melahap sinyal elektronik apa pun. Kita harus 'senyap'." Jemarinya menunjuk ke siluet samar kapal induk sindikat di kejauhan, sebuah benteng baja mengambang yang menakutkan. "Kita akan bergerak senyap, bagai hantu di bawah air."
Silas Papare mengangguk pelan dari posisinya, jemarinya memeriksa ketajaman pisau selam. Raut wajahnya tegang, namun tatapannya memancarkan ketenangan. Siti Nurhaliza, matanya menyala penuh tekad, mengenakan maskernya. Dia menatap Bimo, mencari kepastian, dan Bimo membalasnya dengan anggukan meyakinkan. Namun, di balik ketenangan yang ia paksakan, Bimo merasakan denyut keraguan yang samar. Metode ini primitif, berisiko tinggi. Tetapi, intuisi berbisik, ini adalah satu-satunya celah yang mereka miliki.
"'Kalian ingat instruksinya,' Bimo berkata, menatap satu per satu wajah tim kecilnya. 'Tetap dekat. Jangan panik. Atur napas.' Dia menarik napas dalam, merasakan udara dingin menusuk paru-parunya. 'Kedalaman maksimum tiga puluh meter. Tekanan akan terasa seperti beton yang menghimpit. Jangan coba-coba naik terlalu cepat.'"
Dara menghela napas. "Oke, Mas. Semoga 'kuno' ini lebih pintar dari 'baru'." Ia memberi isyarat kepada Ucok Batubara yang bertugas mengawasi kompresor. Ucok mengacungkan jempol, logat Medannya yang kental tak terdengar, hanya raut wajahnya yang serius dan mata yang fokus. Mbak Lastri meletakkan tangan di bahu Bimo, jemarinya meremas pelan. Matanya memancarkan kekhawatiran seorang ibu. "Hati-hati, Le. Laut itu punya mata." Bimo mengangguk tenang, merasakan hangat sentuhan Mbak Lastri meresap.
Dia melangkah ke tepi kapal, merasakan gelombang kecil menghantam lambung. Air laut dingin segera memeluk kakinya. Bimo menarik napas terakhir dari udara bebas, lalu menjatuhkan diri. Kegelapan menelan mereka perlahan.
Di bawah bayangan raksasa kapal induk, dunia berubah. Tekanan air mulai menghimpit dada Bimo, terasa seperti beban berat tak kasat mata. Dia mengatur ritme napasnya, memfokuskan diri pada setiap tarikan dan hembusan. Udara dari selang kompresor meninggalkan rasa logam pahit di lidah, bercampur asinnya garam laut.
Suara 'ping' sonar berdenyut rendah. Rasanya seperti pukulan tumpul di dalam tengkorak, semakin intens saat mereka mendekat. Anehnya, suara itu tidak bereaksi terhadap keberadaan mereka. Bimo melirik ke belakang, memberi isyarat tangan kepada Silas dan Siti agar tetap dalam formasi ketat. Ekspresinya di balik masker menunjukkan kebingungan sesaat. Arus bawah laut yang kuat berusaha menyeret selang udaranya, namun terasa tidak sekuat yang ia duga. Seolah ada tangan tak terlihat yang menahan mereka di jalur yang benar.
Mereka terus turun, menembus lapisan air yang semakin pekat. Cahaya permukaan kini hanya berupa lingkaran keperakan jauh di atas kepala. Kegelapan abisal menyelimuti perlahan, hanya dipecahkan oleh kilatan lampu indikator drone bawah air yang sesekali melintas. Kilatan itu menciptakan bayangan aneh, namun drone-drone itu melaju tanpa curiga.
"'Matikan senter,' Bimo memberi isyarat, jarinya membentuk gerakan silang. Silas dan Siti segera mematuhi, lampu mereka padam. Mereka menempel pada dinding karang gelap, menyatu sempurna dengan bayangan. Jantung Bimo berdegup kencang, memompa darah dingin ke seluruh tubuhnya. Rasa dingin membekukan di ujung jari-jarinya mulai mati rasa. Getaran halus merambat melalui air saat sebuah drone melintas tepat di atas mereka.
Di bawah, keheningan total mencekam. Hanya suara gelembung udara tertahan dari regulator mereka yang terdengar, berusaha disembunyikan. Drone-drone itu melintas tanpa deteksi, terlalu mudah. Tak ada alarm berbunyi. Tak ada reaksi. Perasaan hampa yang aneh menyelimuti Bimo, seperti kehampaan di dasar laut. Ia bertanya-tanya mengapa sistem keamanan canggih itu seolah buta.
Kecurigaan mulai tumbuh dalam benaknya, seperti benih beracun yang ditanam di tanah subur. Mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti kontur lambung kapal induk yang masif. Permukaan kapal itu ditumbuhi lumut dan teritip, menyerupai bangkai paus raksasa yang telah lama tenggelam.
Bimo mencari katup pembuangan limbah, titik masuk yang telah ia identifikasi dari denah yang diberikan Mei. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukannya. Sebuah tuas logam besar, berkarat dan tertutup lumut tebal, menonjol dari dinding baja. Bimo mengeluarkan linggis manual yang telah disiapkan. Otot-ototnya menegang saat ia menancapkan ujung linggis ke celah tuas. Mekanisme katup itu macet, terkunci oleh tekanan hidrostatik raksasa dan korosi parah. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin membanjiri dahinya di balik masker. Linggis berderit, baja tua itu melawan dengan gigih. Suara logam berderit memekakkan telinga di bawah air, terdengar seperti jeritan kesakitan yang teredam.
Bimo memejamkan mata sesaat, menggumamkan doa singkat di dalam maskernya. "Semoga berhasil, Ayah," bisiknya, suaranya teredam air. Dia menarik napas dalam, mengumpulkan sisa tenaganya. Sesuatu yang aneh terjadi. Hambatan itu terasa seperti mencair, seolah ada bantuan tak terlihat yang meringankan bebannya. Satu sentakan terakhir yang mengejutkan, tuas itu bergerak. Katup terbuka dengan desisan panjang, mengeluarkan gelembung-gelembung udara kotor ke dalam kegelapan. "Terlalu mudah," bisik Bimo lagi, kali ini dengan nada yang lebih waspada.
Mereka menyelinap masuk melalui celah yang terbuka, ke dalam ruang ballast yang gelap gulita. Air laut dingin segera tergantikan oleh genangan air berminyak yang licin di lantai. Bau karat dan minyak diesel menusuk tajam udara. Bimo melonggarkan pemberat timahnya, merasakan tubuhnya sedikit lebih ringan. Dia memanjat tangga besi yang licin menuju dek interior, setiap langkahnya penuh kehati-hatian. Tak ada sensor yang berbunyi. Tak ada tanda-tanda deteksi. Keheningan aneh menyelimuti ruang ballast itu, membuat bulu kuduk Bimo meremang. Ini adalah jebakan. Dia tahu itu pasti. Togar Simanjuntak tidak akan pernah membiarkan sesuatu semudah ini.
Tiba-tiba, hembusan udara panas dari mesin kapal menerpa wajahnya. Kehangatan itu mengusir dingin yang membekukan, memberinya kelegaan instan yang mendalam. Rasanya seperti pelukan hangat tak terduga, mengisi ulang energinya, menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menarik napas dalam, merasakan paru-parunya terisi udara yang lebih hangat. "Kami masuk," bisik Bimo ke radio komunikasi jarak pendek di pergelangan tangannya. "Tidak ada perlawanan. Aneh." Suara Dara berdesir dari radio. "Aneh bagaimana, Mas?"
Bimo tidak menjawab. Dia melihat sekeliling. Ruang ballast itu kosong, namun sebuah koridor membentang di ujungnya. Dia melangkah maju, kakinya menginjak genangan air berminyak. Suara langkahnya memecah keheningan yang mencekam. Dia menemukan panel radar internal di dinding. Layar itu berkedip-kedip, menampilkan peta kompleks. Apa yang Bimo lihat di sana membuat darahnya membeku. Kapal induk itu tidak berpatroli. Tak ada tanda-tanda persiapan untuk pertempuran laut. Sebaliknya, radar menunjukkan puluhan, bahkan ratusan, alat penambangan laut dalam canggih sedang dipersiapkan. Ini bukan rudal. Ini adalah bor raksasa, mesin penghisap, dan robot-robot penambang, dirancang untuk mengekstraksi sumber energi langka secara masif dan merusak lingkungan.
Kebenaran pahit, jauh lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan, menusuk kesadarannya. Ini bukan keberhasilan. Ini undangan. Togar Simanjuntak telah menunggunya. Dan sekarang, Bimo berada tepat di jantung sarang ular itu, sendirian, dengan bom waktu yang siap meledak di bawah kakinya. Punggung Bimo merinding, sebuah sensasi dingin yang jauh lebih menusuk daripada air laut. Dia tahu, ini bukan hanya jebakan, ini adalah panggung. Togar Simanjuntak telah mengundangnya ke pertunjukan kehancuran, dan Bimo adalah bintang utamanya. Dia menelan ludah, rasa logam pahit memenuhi mulutnya.
"Dara," bisiknya, suaranya serak. "Batalkan misi penyelamatan. Ini bukan yang kita kira."
Hening sejenak, hanya desiran statis dari radio. "Maksud Mas apa?" tanya Dara, nadanya menuntut penjelasan.
Bimo menunjuk layar radar yang berkedip-kedip. "Ini bukan kapal perang. Ini adalah markas operasi penambangan. Lihat ini, semua titik ini... bukan rudal. Ini mesin bor laut dalam, robot ekstraksi, semua siap diluncurkan." Kata-katanya keluar cepat, berusaha menyingkirkan bayangan kengerian yang baru saja ia saksikan. "Mereka tidak berpatroli, mereka bersiap untuk menghancurkan."
Di seberang saluran, Mei pasti mendengar. "Loh, serius, Mas? Penambangan? Tapi kenapa di kapal induk?" Suara Mei terdengar panik, mengkhianati ketenangannya yang biasa.
"Untuk menyembunyikannya," jawab Bimo dingin. "Untuk beroperasi di bawah radar militer. Mereka menggunakan kamuflase terbesar yang bisa mereka temukan." Dia menatap peta, puluhan titik merah bergerak-gerak seperti sel kanker yang membelah diri. "Ini lebih buruk dari perang. Ini adalah pembantaian ekosistem."
Dara terdiam, mencerna informasi yang mengejutkan itu. "Jadi, apa rencana kita sekarang, Mas?" tanyanya, suaranya kini lebih tenang, namun ada ketegasan yang baru.
"Kita tetap di sini," kata Bimo, otaknya berputar cepat mencari solusi. "Kita lumpuhkan mereka dari dalam. Kita hentikan peluncuran itu." Dia menoleh ke belakang, ke arah koridor gelap yang mereka lalui. "Tapi bukan dengan cara yang mereka harapkan."
Dia memikirkan perlengkapan selam yang dibawa. Peralatan kuno, warisan dari ayahnya, yang selalu ia bawa sebagai cadangan. "Mei, Silas, Ucok, dengarkan." Suara Bimo memenuhi udara lembap. "Kita akan menggunakan metode lama. Sangat lama."
***
Beberapa menit kemudian, di ruang ballast yang remang-remang, Bimo, Silas, dan Ucok bersiap. Bimo mengenakan setelan selam karet tebal, berat di pundaknya. Dia memilih perlengkapan selam tradisional: selang kompresor udara yang panjang, dihubungkan ke tangki cadangan kecil yang dibawa Ucok, dan pemberat timah di pinggangnya. Bukan alat canggih dengan rebreather elektronik, bukan pula tabung oksigen modern. Ini adalah metode penyelaman yang sunyi, lambat, dan hampir tak terdeteksi oleh sonar modern. Ini adalah tipuan.
"Kau yakin ini akan berhasil, Kaka?" Silas bertanya, suaranya dalam. Dia sendiri mengenakan setelan selam yang lebih modern, namun mengikuti instruksi Bimo untuk mematikan semua perangkat elektronik yang bisa memancarkan sinyal. Ucok, dengan setelan selamnya yang terlihat usang, menyeringai. "Macam mau menyelam cari ikan, bah. Bukan sabotase kapal perang."
"Justru itu kuncinya," Bimo menjelaskan, mengencangkan masker selamnya. Udara dingin menyentuh wajahnya. "Sistem sonar modern dirancang untuk mendeteksi anomali frekuensi tinggi, gelombang akustik dari mesin, atau gelembung udara dari tabung. Selang kompresor ini... suaranya sangat minim. Pemberat timah membuat kita bergerak perlahan, hampir seperti melayang. Kita akan menjadi bagian dari air itu sendiri."
Dia memeriksa selang kompresor yang terhubung ke Ucok. "Ucok, kau akan jadi paru-paruku. Jaga tekanan udara. Silas, kau pengawal. Tetap di belakangku, awasi sekeliling."
Ucok mengangguk, ekspresi serius jarang terlihat di wajahnya. "Siap, Mas Bimo. Jangan khawatir, paru-paru Batubara ini kuat."
"Pace Bimo, hati-hati," Silas mengingatkan, tangannya menepuk bahu Bimo. Kekuatan fisiknya terlihat jelas bahkan dalam gerakan sederhana itu.
Bimo mengangguk. Dia tahu risiko yang mereka ambil. Ini bukan hanya misi, ini adalah pertarungan ideologi. Pertarungan antara teknologi rakus dan kearifan kuno. Dia berharap, untuk kali ini, kearifan akan menang.
"Mei, Dara, kita mulai," bisik Bimo ke radio, lalu mematikan perangkatnya. Mereka harus benar-benar sunyi.
Mereka melangkah ke dalam genangan air di dasar ruang ballast. Air dingin meresap ke dalam setelan selam mereka, memberikan kejutan yang menyegarkan. Bimo memimpin, perlahan menyelam ke dalam air yang semakin dalam. Kegelapan menyelimuti mereka. Hanya cahaya redup dari senter selam Silas yang menembus pekatnya air, menari-nari di antara bayangan logam yang menjulang.
Mereka berenang menembus labirin pipa dan struktur baja yang berkarat. Setiap gerakan diperhitungkan, setiap sentuhan pada logam menghasilkan suara yang bisa memantul dan menarik perhatian. Bimo bergerak seperti hantu, mengandalkan instingnya dan sedikit dorongan arus air yang ia rasakan. Dia bisa merasakan tekanan air di sekelilingnya, membungkus tubuhnya seperti selimut dingin.
Keheningan bawah air terasa mencekam. Hanya suara napas mereka sendiri yang terdengar, diperkuat oleh masker. Bimo terus maju, matanya mencari jalur keluar, jalur menuju jantung kapal. Dia tahu, mereka harus menemukan katup pembuangan ballast utama, yang akan membuat kapal induk ini kehilangan keseimbangan dan menghentikan semua operasi penambangan.
Mereka melewati beberapa sensor sonar. Bimo bisa merasakannya, getaran halus di air, seperti jaring tak terlihat. Namun, mereka meluncur melewatinya tanpa alarm. Tidak ada lampu merah yang berkedip, tidak ada sirene yang meraung. Ini terlalu mudah. Sebuah ilusi, pikir Bimo. Teknologi canggih ini mungkin terlalu fokus mencari ancaman "besar", rudal, torpedo, atau kapal selam mini. Mereka tidak mengantisipasi tiga penyelam sunyi dengan perlengkapan dari era lain. Atau, Togar memang sengaja membiarkan mereka masuk.
Rasa aneh itu tumbuh di dada Bimo. Kemudahan yang tidak wajar ini terasa seperti umpan. Setiap kali mereka melewati zona keamanan tanpa hambatan, bukan kelegaan yang ia rasakan, melainkan kecurigaan yang semakin dalam. Togar Simanjuntak bukan orang bodoh. Dia pasti sudah mengantisipasi pergerakan Bimo.
Mereka akhirnya mencapai sebuah ruang yang lebih besar, jantung sistem ballast kapal. Di sana, menjulang di dinding logam, ada deretan katup raksasa, masing-masing sebesar roda truk. Katup-katup itu terlihat tua, berkarat, namun kokoh. Ini adalah target mereka.
Bimo memberi isyarat kepada Silas dan Ucok. Silas mengangguk, tangannya menggenggam pisau selamnya, siap untuk segala kemungkinan. Ucok mengencangkan cengkeramannya pada selang kompresor, memastikan aliran udara Bimo tidak terganggu.
Bimo mendekati katup terbesar. Permukaannya kasar, ditutupi lumut dan karat. Dia mengulurkan tangan, merasakan dinginnya logam. Pegangan katup itu berkarat, macet. Ini tidak akan mudah. Dia mencoba memutar dengan sekuat tenaga, otot-otot lengannya menegang di bawah setelan selam. Katup itu bergeming.
Dia mundur sedikit, mengambil napas dalam-dalam. Lalu, dengan seluruh kekuatannya, dia mendorong lagi, memutar dengan satu gerakan eksplosif. Suara logam berderit memekakkan telinga di dalam keheningan bawah air. Katup itu bergerak, sedikit demi sedikit.
Air mulai berputar di sekitar mereka, tekanan meningkat. Bimo terus mendorong, memutar, merasakan sendi-sendinya berdenyut. Keringat membanjiri dahinya di balik masker. Dia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang, setiap detaknya terasa seperti pukulan palu di telinganya.
Akhirnya, dengan derit panjang yang mengerikan, katup itu terbuka sepenuhnya. Air laut dingin bergejolak masuk, mengalir deras ke dalam ruang ballast, menciptakan pusaran air yang kuat. Kapal mulai bergetar, getaran rendah yang terasa di tulang-tulang mereka.
Bimo memberi isyarat kepada Silas dan Ucok untuk bergerak. Misi pertama selesai. Namun, saat mereka berbalik untuk pergi, sebuah cahaya terang tiba-tiba menyala di atas mereka, menembus kegelapan air. Cahaya itu diikuti oleh suara dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.
"Mei, apa itu?" Bimo berteriak ke radio, lupa bahwa dia telah mematikannya. Dia menyalakannya kembali dengan cepat.
"Mas Bimo, kalian terdeteksi!" Suara Mei terdengar panik, terputus-putus. "Ada anomali besar di ruang ballast utama. Mereka... mereka mengirimkan sesuatu!"
Bimo mendongak. Dari celah di atas mereka, sebuah objek silindris besar mulai turun perlahan ke dalam air. Objek itu memiliki beberapa lengan mekanik yang mencuat, dan di bagian depannya, sebuah lensa besar memancarkan cahaya merah menyala. Itu bukan drone keamanan biasa. Ini adalah robot penambang, salah satu yang mereka lihat di radar, namun ini dilengkapi dengan sensor yang jauh lebih canggih.
"Sial," desis Ucok, mengacungkan pisaunya ke arah robot itu.
Silas menarik Bimo ke belakang, mendorongnya menjauh dari cahaya merah. "Pace, kita harus bergerak!"
Robot itu bergerak cepat, memindai area dengan cahayanya yang menyilaukan. Bimo merasakan gelombang energi yang aneh dari robot itu, seperti pulsasi yang mengganggu keseimbangan air. Ini bukan hanya sensor. Ini adalah penekan sonar, dirancang untuk mengganggu komunikasi dan deteksi.
"Mereka tahu kita di sini," kata Bimo, suaranya tegang. "Ini bukan ilusi lagi. Ini perangkap."
Mereka berenang secepat mungkin, menghindari cahaya robot yang terus memburu mereka. Namun, air yang bergejolak karena katup yang terbuka membuat gerakan mereka sulit. Robot itu mendekat, lengan-lengannya mulai mengembang, siap mencengkeram.
"Mei, apa yang bisa kita lakukan?" Bimo bertanya, suaranya mendesak.
"Aku... aku mencoba menembus sistem mereka, Mas! Tapi firewall-nya terlalu kuat!" jawab Mei, suaranya penuh frustrasi.
Tiba-tiba, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari radio Bimo. "Mas Bimo! Mereka memutus saluran komunikasi utama!" teriak Dara. "Aku kehilangan kalian!"
Saluran komunikasi terputus. Mereka sendirian. Robot itu semakin dekat, cahayanya menyinari wajah Bimo, memperlihatkan pantulan ketakutan dan tekad. Lingkungan di sekitar mereka terasa seperti rahim yang membusuk, penuh dengan ancaman yang tumbuh dan menyebar.
Bimo melihat ke arah Silas dan Ucok. Wajah mereka tegang, mata mereka memancarkan tekad yang sama. Mereka tidak akan menyerah. Dia tidak akan menyerah.
"Kita harus keluar dari sini," perintah Bimo, menarik pisaunya. "Ikuti aku!"
Dia memimpin jalan, mencari celah di antara pipa-pipa besar, mencoba menemukan jalur pelarian. Robot itu menembakkan semacam gelombang kejut, membuat air di sekitar mereka bergetar hebat. Bimo merasakan sakit menusuk di telinganya. Ini bukan hanya pertahanan, ini serangan.
Mereka berenang melewati lorong sempit, menghindari jangkauan lengan robot. Bimo tahu mereka tidak bisa melawannya secara langsung. Kekuatan fisik tidak akan cukup melawan mesin canggih ini. Mereka harus lebih cerdik.
"Kita harus naik!" Bimo memberi isyarat kepada Silas, menunjuk ke sebuah lubang ventilasi di atas mereka. Itu adalah jalan keluar yang sempit, tapi mungkin satu-satunya.
Silas mengangguk, segera melesat ke atas, diikuti oleh Ucok yang masih memegang selang kompresor Bimo dengan erat. Bimo mengikuti, merasakan robot itu semakin dekat di belakang mereka, cahayanya yang merah menyala seperti mata predator.
Mereka berhasil masuk ke lubang ventilasi, berenang menanjak melalui saluran sempit yang berkarat. Udara di sana pengap dan berbau minyak. Bimo merasa paru-parunya terbakar, namun dia terus mendorong dirinya. Dia bisa mendengar suara robot itu mencoba mengikuti, lengan-lengannya mengikis dinding logam di bawah mereka.
Mereka akhirnya muncul di sebuah koridor yang kering, gelap, dan berbau amis. Bimo terbatuk, melepas maskernya, menghirup udara yang lebih tebal. Silas dan Ucok juga terengah-engah.
"Itu... itu tadi dekat sekali, Mas," Ucok berkata, menyeka keringat di dahinya.
"Terlalu dekat," Bimo setuju. Dia melihat sekeliling. Koridor itu kosong, namun ada beberapa pintu baja di sepanjang dinding. Mereka berada di area yang lebih dalam dari kapal.
"Kita berhasil masuk lebih jauh dari yang kita duga," Silas berkomentar, suaranya tenang namun waspada.
Bimo mengangguk. Dia tahu ini adalah intinya. Mereka telah melewati garis pertahanan luar, menembus cangkang kapal. Tapi mereka juga telah mengungkapkan diri. Togar kini tahu persis di mana mereka berada.
Dia mengeluarkan radio komunikasinya lagi, mencoba menghubungi Dara dan Mei. Hanya desiran statis. Mereka benar-benar terputus.
"Kita harus terus bergerak," kata Bimo. "Tujuan kita bukan hanya melumpuhkan kapal ini. Kita harus mencari tahu apa sebenarnya yang Togar rencanakan dengan semua mesin penambangan itu."
Dia melihat ke arah salah satu pintu baja. Di sana, sebuah panel kontrol kecil berkedip-kedip. Bimo mendekat, rasa penasaran dan bahaya berpadu dalam dirinya. Dia menyentuh panel itu. Layar kecil menyala, menampilkan denah kapal.
Namun, yang menarik perhatiannya adalah sebuah peta proyeksi di tengah layar. Peta itu menunjukkan dasar laut, dengan beberapa titik terang yang berkedip. Titik-titik itu bukan lokasi penambangan biasa. Itu adalah formasi geologi yang sangat spesifik, yang hanya akan dicari jika seseorang sedang mencari...
"Catatan Dasar Laut," bisik Bimo, menyadari kengerian yang sebenarnya. Togar tidak hanya menambang energi. Dia mencari artefak yang sama dengan yang dicari ayah Bimo, artefak yang bisa mengubah pemahaman manusia tentang sejarah dan sumber daya bumi. Artefak yang bisa memberinya kekuasaan mutlak.
Bimo merasa darahnya mengering. Ini bukan hanya tentang lingkungan. Ini adalah tentang kendali atas masa depan. Dan Togar Simanjuntak, dengan senyum ramahnya, telah menjebak mereka dalam permainan yang jauh lebih besar dan lebih mematikan dari yang pernah mereka bayangkan. Mereka bukan hanya penyusup. Mereka adalah pion dalam permainan catur yang sudah diatur, dan Togar baru saja menggerakkan bidak terakhirnya. Mereka harus bergerak cepat. Waktu adalah racun yang merayap.