5 / 36
Reading
Langit di atas Karang Hijau seolah pecah, menumpahkan ribuan tombak air yang menghantam atap seng rumah Aki Sastra dengan irama yang brutal. Suara gemuruh itu memekakkan telinga, menciptakan selubung sunyi yang memisahkan Bimo Satrio dari dunia luar yang kian tidak menentu. Di dalam ruang tengah yang remang-remang, pria itu duduk terpaku menghadap meja kayu jati yang permukaannya sudah mulai mengelupas dimakan usia. Cahaya dari lampu minyak di sudut ruangan berkedip-kedip gelisah, melemparkan bayangan panjang yang menari liar di dinding kayu yang lembap. Aroma apak dari tumpukan kertas tua dan debu yang terusik memenuhi rongga hidungnya, bersaing dengan bau tanah basah yang merembes masuk melalui celah pintu.
Jari-jari Bimo gemetar saat ia membelai sampul kulit buku catatan kakeknya yang kini terbuka lebar di bawah pendar lampu. Ia menatap deretan koordinat yang tertulis dengan tinta hitam yang sudah memudar, mencoba mencari benang merah di balik coretan matematis yang tampak seperti labirin tanpa jalan keluar. Setiap angka yang tertera terasa seperti beban fisik yang menekan pundaknya, mengingatkannya pada kegagalan ayahnya yang kini terkubur di dasar laut yang gelap. Di luar sana, angin kencang melolong panjang, mengguncang jendela kaca hingga berderit seolah sedang memprotes kekuatan alam. Bimo mengembuskan napas berat, merasakan dinginnya udara malam yang mulai merayap masuk dan menusuk hingga ke sumsum tulang.
Ketukan keras tiba-tiba menghantam pintu depan, menghancurkan keheningan yang menyesakkan itu dengan kasar. Bimo tersentak, bahunya menegang seketika sementara tangannya refleks menutup buku catatan tersebut dan menyembunyikannya di balik punggung. Ia berdiri dengan sikap waspada, otot-otot lengannya mengeras saat ia melangkah perlahan mendekati daun pintu yang masih bergetar akibat hantaman dari luar. Siapa yang cukup gila untuk bertamu di tengah amukan badai seperti ini, di sebuah tempat terpencil yang bahkan jarang dikunjungi oleh warga desa setempat? Ia menggenggam gagang pintu besi yang terasa dingin dan kasar, seolah-olah logam itu sendiri sedang memperingatkannya akan bahaya.
"Siapa di luar?" teriak Bimo, suaranya hampir tertelan oleh deru hujan yang semakin menggila di luar sana. Tidak ada jawaban verbal yang terdengar, hanya ketukan yang kini terasa lebih mendesak dan suara napas yang terengah-engah dari balik kayu. Bimo memutar kunci dengan gerakan cepat, lalu menarik pintu itu sedikit saja agar ia bisa mengintip ke luar. Tempias air hujan langsung menyambar wajah dan membasahi kemejanya, memberikan sensasi dingin yang mengejutkan kulitnya. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita yang terbungkus jas hujan kuning mengilap, memantulkan cahaya lampu jalan yang remang di kejauhan.
Wajah wanita itu tampak pucat pasi di bawah guyuran air, dengan rambut hitam pendek yang menempel basah di dahinya yang lebar. Matanya yang tajam menatap Bimo dengan intensitas yang membuat pria itu sempat kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. "Apakah Anda yang bernama Bimo Satrio?" tanya wanita itu, suaranya terdengar serak namun memiliki nada penekanan yang sangat kuat. Bimo menyipitkan matanya, mencoba mengenali sosok asing yang berdiri di tengah badai ini dengan saksama. Ia tidak menemukan kemiripan dengan siapa pun yang ia kenal di desa, namun ada sesuatu yang sangat familiar pada garis wajahnya.
"Benar, saya sendiri," jawab Bimo dengan nada formal yang kaku, tetap menjaga jarak aman di ambang pintu. "Maaf, Anda siapa dan ada urusan apa mendatangi rumah ini di tengah malam yang buruk seperti sekarang?" Wanita itu tidak segera memberikan jawaban, melainkan justru melangkah maju dengan langkah yang mantap. Gerakan itu memaksa Bimo untuk mundur beberapa langkah, memberinya ruang untuk masuk ke dalam ruangan yang sempit dan berbau kayu tua itu. Ia melepaskan tudung jas hujannya dengan satu sentakan, memperlihatkan fitur wajah yang seketika membuat jantung Bimo berdegup kencang melawan rusuknya.
Wajah itu seolah keluar dari masa lalu, identik dengan sosok dalam foto hitam putih milik kakeknya yang selalu ia simpan. Wanita misterius yang memegang potongan peta di dermaga tua puluhan tahun silam kini seolah berdiri di hadapannya dalam wujud yang lebih muda. Kenangan tentang foto itu berputar di kepala Bimo, menciptakan pusaran memori yang sulit untuk ia kendalikan dalam sekejap. "Nama saya Dara Puspita," ujar wanita itu sambil mengusap sisa air di wajahnya dengan gerakan tangan yang cepat dan lugas. Ia menatap Bimo tanpa keraguan sedikit pun, seolah sudah lama merencanakan pertemuan ini.
"Saya tidak memiliki banyak waktu untuk sekadar berbasa-basi dengan Anda, Mas Bimo. Kapal saya hampir saja terhempas dan terbalik di dermaga karena badai ini, dan saya tidak datang ke sini hanya untuk mencari tempat berteduh." Bimo memperhatikan bagaimana Dara mendekap tas ransel hitam kecil di dadanya dengan sikap yang sangat protektif. Ada aura ketegasan yang terpancar dari cara wanita itu berdiri tegak, sebuah sikap yang biasanya hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa bertaruh nyawa di medan terbuka. Bimo memicingkan mata, rasa curiga mulai merayap di benaknya seperti kabut tebal yang menyelimuti hutan bakau di pinggir pantai.
Ia sama sekali tidak mengenal wanita ini, namun Dara mengetahui namanya dan tampaknya memiliki kaitan erat dengan rahasia yang baru saja ia bongkar. "Jadi, Anda adalah pilot kapal selam yang belakangan ini menjadi bahan pembicaraan hangat di pelabuhan, bukan?" tanya Bimo. Ia mencoba memancing informasi lebih jauh sambil tetap menyembunyikan buku catatan kakeknya di balik punggung, seolah benda itu adalah jantungnya sendiri. Dara mendengus pelan, sebuah reaksi yang menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa dengan label-label yang disematkan orang padanya. Ia meletakkan tasnya di atas meja dengan bunyi debuman yang cukup berat.
"Pilot, teknisi, dan satu-satunya orang yang tahu cara tetap bernapas di bawah tekanan ribuan psi," sahut Dara dengan nada sinis yang tidak berusaha ia tutupi. "Namun saat ini, saya berdiri di sini sebagai orang yang memegang jangkar untuk semua coretan kakek Anda yang membingungkan itu." Ia mengabaikan genangan air yang mulai terbentuk di lantai dari jas hujannya yang basah kuyup. Dara membuka ritsleting tasnya yang sempat macet karena butiran pasir yang terselip di sela-sela giginya, lalu mengeluarkan sebuah tabung silinder kedap air dari logam antikarat. Gerakannya sangat berhati-hati, seolah benda di dalamnya adalah porselen yang paling rapuh di dunia.
Dari dalam tabung itu, ia mengeluarkan selembar perkamen tua yang tepiannya sudah bergerigi dan berwarna kecokelatan. Bimo melangkah mendekat, rasa ingin tahunya kini mulai mengalahkan kewaspadaan ekstrem yang sempat menguasai dirinya tadi. Ia akhirnya meletakkan buku catatan kakeknya di atas meja kayu, membiarkan cahaya lampu minyak menyinari kedua benda itu secara bersamaan. Bau kertas tua yang sangat khas—perpaduan antara kayu lapuk dan garam laut yang mengkristal—semakin menguat di antara mereka berdua. Dara membentangkan perkamen itu dengan perlahan, memperlihatkan garis pantai dan simbol navigasi yang digambar tangan dengan sangat detail.
"Perhatikan bagian ini," kata Dara, jemarinya menunjuk pada bagian tepi peta yang tampak terpotong secara kasar dan tidak beraturan. "Garis arus ini tidak berhenti di sini secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Garis ini berlanjut ke suatu titik koordinat yang hanya bisa ditemukan jika kita memiliki potongan lainnya." Bimo merasakan sensasi dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya saat ia melihat pola garis yang ditunjukkan oleh Dara. Ia segera membuka buku catatan kakeknya pada halaman yang berisi sketsa kasar yang selama ini ia anggap sebagai coretan gagal seorang pria tua.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bimo menyandingkan buku catatan itu tepat di samping peta milik Dara. Garis-garis tinta hitam di buku catatan itu menyambung dengan sempurna pada garis-garis di atas perkamen, membentuk rute navigasi rumit yang melewati palung-palung dalam. "Garis ini... Kakekku tidak pernah bisa menyelesaikannya dalam catatan pribadinya," bisik Bimo, suaranya nyaris hilang ditelan suara hujan yang masih menderu. "Beliau selalu berhenti di titik koordinat ini, seolah-olah ada dinding kasat mata yang menghalanginya untuk melihat lebih jauh ke dalam samudra."
"Beliau tidak berhenti karena terhalang oleh apa pun, Mas Bimo," potong Dara dengan cepat, matanya berkilat penuh dengan ambisi yang membara. "Beliau berhenti karena sengaja membagi rahasia ini menjadi dua bagian yang terpisah. Saat itu beliau sadar bahwa satu orang saja tidak akan pernah cukup kuat untuk memikul beban kebenaran tentang apa yang tersembunyi di bawah sana." Keheningan yang canggung seketika menyelimuti mereka berdua, hanya diinterupsi oleh detak jam dinding tua yang berbunyi lambat dan monoton. Bimo menatap Dara, mencoba membaca motif yang tersembunyi di balik sorot mata wanita yang baru ia temui itu.
Ia melihat ada luka yang tersimpan rapat, sebuah tekad yang lahir dari penolakan panjang dan keinginan besar untuk membuktikan harga diri. Bimo sangat mengenal perasaan itu; rasa haus akan pengakuan yang seringkali mengaburkan logika sehat manusia. "Mengapa Anda memilih untuk membawa potongan berharga ini kepada saya?" tanya Bimo dengan nada yang masih menyimpan sedikit pertahanan. "Anda bisa saja mencari tim lain yang memiliki modal besar, seperti Samudra Nusantara Corp misalnya. Mereka pasti akan bersedia membayar sangat mahal untuk mendapatkan peta kuno seperti ini."
Dara mendengus, sebuah tawa pendek yang terdengar pahit keluar dari bibirnya yang pucat. "Bang Togar dan orang-orangnya? Saya lebih memilih untuk menenggelamkan kapal saya sendiri daripada harus menyerahkan peta ini kepada mereka yang hanya melihat laut sebagai tambang emas." Ia menatap Bimo dengan pandangan yang lebih lunak namun tetap serius. "Mereka akan menghancurkan segalanya, Bimo. Mereka tidak pernah peduli pada sejarah, apalagi soal keseimbangan ekosistem laut yang sudah rapuh." Bimo terdiam, ia bisa merasakan kejujuran yang tulus dalam nada bicara Dara yang lugas dan tanpa basa-basi.
Rasa hormat yang samar mulai muncul di hati Bimo terhadap wanita ini, meskipun mereka baru saja bertemu dalam situasi yang kacau. Ia menyadari bahwa mereka berdua, dengan cara yang berbeda, sedang berusaha melindungi sesuatu yang jauh lebih besar dari ambisi pribadi. Namun, bayang-bayang kegagalan masa lalu masih menghantui pikirannya seperti awan mendung yang enggan beranjak pergi. "Saya membutuhkan kepastian bahwa semua ini bukan sekadar kebetulan yang diatur," ujar Bimo, mencoba kembali pada mode berpikir analitisnya sebagai seorang peneliti. "Peta ini bisa saja palsu, mengingat banyak orang yang mampu meniru gaya gambar kuno."
"Saya bukan seorang arkeolog gadungan yang sedang mencari mangsa, dan saya tidak punya waktu untuk menipu Anda," balas Dara, suaranya meninggi karena merasa tersinggung. "Anda bisa memilih untuk terus bersembunyi di rumah ini, meratapi catatan kakek Anda sampai bangunan ini roboh dimakan rayap. Atau, kita bisa bekerja sama untuk mencari tahu apa yang sebenarnya beliau temukan di dasar laut sana." Dara kemudian mengambil lampu minyak dari sudut meja, mendekatkannya ke arah kedua dokumen yang masih bersandingan erat. Panas dari api lampu mulai menyebar, menghangatkan permukaan kertas yang dingin dan lembap.
Bimo memperhatikan dengan saksama, matanya tidak berkedip saat melihat sesuatu yang ajaib mulai terjadi di atas meja kayu itu. Di bagian tengah, tepat di mana kedua potongan itu bertemu, sebuah simbol kecil mulai muncul perlahan-lahan seiring dengan meningkatnya suhu pada kertas. Simbol itu berbentuk lingkaran dengan garis-garis melengkung yang menyerupai pusaran air yang kuat, dengan sebuah titik kecil di pusatnya. Bimo tersentak mundur, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang kuat. Ia sangat mengenali simbol itu; tanda yang sama pernah digambar kakeknya di dinding kamar sebelum menghilang.
Simbol yang selama ini ia anggap sebagai manifestasi dari demensia sang kakek, kini terbukti sebagai pintu masuk menuju rahasia yang nyata. "Itu... simbol 'Mata Samudra'," bisik Bimo, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap di dalam dadanya. "Kakek sering menggambarnya berkali-kali sambil bergumam tentang sebuah kota yang terlelap di bawah air." Dara menatapnya dengan pandangan penuh kemenangan yang tenang. "Sekarang Anda sudah percaya?" tanya Dara, suaranya melunak namun tetap mengandung tuntutan yang jelas. "Peta ini asli, dan koordinat ini menunjuk ke lokasi yang tidak ada dalam peta navigasi modern mana pun."
Bimo menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai yang kini justru berkecamuk di dalam dadanya sendiri. Ia menoleh ke arah jendela, di mana hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis, namun kegelapan di luar sana terasa lebih pekat. Dinding-dinding ruangan seolah merapat perlahan, menekan Bimo untuk segera mengambil keputusan yang akan mengubah garis hidupnya selamanya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi hanya menjadi pengamat yang aman di balik meja mikroskopnya. "Tunggu sebentar," kata Bimo sambil berbalik menuju dapur kecil yang terletak di bagian belakang ruangan tersebut.
"Anda basah kuyup dan kedinginan, biarkan saya membuatkan sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh Anda." Ia menyalakan kompor gas kecil, meletakkan panci berisi air di atas nyala api yang membiru di tengah kegelapan dapur. Sambil menunggu air mendidih, ia memarut jahe segar yang diambilnya dari keranjang bumbu milik Mbak Lastri. Aroma pedas dan hangat dari jahe mulai memenuhi ruangan, memberikan rasa nyaman yang sangat kontras dengan ketegangan di ruang tengah. Ia mengambil dua cangkir keramik yang permukaannya sudah retak-retak dimakan usia, lalu menuangkan air jahe panas ke dalamnya.
Bimo kembali ke ruang tengah dan menyodorkan satu cangkir kepada Dara yang masih berdiri di dekat meja. Wanita itu menerimanya dengan kedua tangan, membiarkan uap panas menyentuh wajahnya yang pucat dan memberikan sedikit rona kehidupan. Ia menyesap minuman itu perlahan, matanya terpejam sejenak seolah sedang menikmati kehangatan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Keheningan kali ini terasa berbeda, tidak lagi penuh dengan kecurigaan yang tajam, melainkan sebuah gencatan senjata sementara. "Terima kasih, Mas Bimo," ujar Dara, suaranya kini terdengar jauh lebih manusiawi tanpa lapisan sinisme yang tebal.
"Minuman jahenya enak, rasanya sangat mirip dengan buatan nenek saya di Padang dulu." Bimo hanya mengangguk singkat, ia duduk kembali di kursinya dan mulai menyesap teh jahenya sendiri yang masih mengepulkan uap. "Mbak Lastri selalu berpesan bahwa laut tidak akan membiarkan rahasianya terbongkar oleh orang yang perutnya kosong atau kedinginan," jawab Bimo. Dara tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sangat jarang ia tunjukkan kepada orang asing yang baru ditemuinya. "Mbak Lastri benar, laut memang memiliki caranya sendiri untuk menguji kesiapan kita sebelum memberikan jawaban yang kita cari."
Bimo kembali menatap peta yang masih terbentang di atas meja, garis-garis itu kini tampak seperti jalan raya menuju ketidaktahuan yang luas. Ia menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti rute ini untuk membuktikan bahwa teori ayahnya benar. Ia harus memastikan bahwa kakeknya tidak gila, dan bahwa ada sesuatu di dasar laut yang layak untuk dilindungi. "Jadi, apa rencana Anda selanjutnya?" tanya Bimo, matanya kini menatap Dara dengan penuh keseriusan yang tidak bisa diganggu gugat. "Anda memiliki peta, saya memiliki catatan dan pengetahuan tentang arus di wilayah Karang Hijau ini."
"Saya memiliki sebuah kapal selam kecil bernama 'Neng Geulis' yang saya rakit sendiri dengan tangan saya," jawab Dara dengan nada bangga. "Kapal itu memang tidak semewah peralatan milik korporasi, tapi dia sangat lincah dan bisa masuk ke celah-celah sempit yang sulit dijangkau." Ia meletakkan cangkirnya yang sudah kosong, lalu melanjutkan penjelasannya mengenai kendala teknis yang dihadapi kapalnya. "Masalah utamanya adalah sistem komunikasinya sering sekali mengalami gangguan saat berada di kedalaman yang ekstrem." Bimo terdiam sejenak, otaknya mulai bekerja mencari solusi untuk masalah komunikasi yang disebutkan Dara.
"Saya mengenal seseorang yang bisa membantu kita soal itu," ujar Bimo, pikirannya langsung tertuju pada sosok Meiling Wijaya, seorang ahli sistem. "Kita juga membutuhkan orang yang tahu cara menghadapi tekanan fisik di bawah sana agar misi ini tidak berakhir tragis." Dara mengangguk setuju, ia menyadari bahwa tim kecil mereka memang belum lengkap untuk menghadapi tantangan sebesar ini. "Kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh mereka yang bermodal besar: kebenaran yang tertulis jelas di atas perkamen ini." Hujan di luar benar-benar telah berhenti, menyisakan suara tetesan air dari atap yang jatuh dengan ritme teratur.
Cahaya lampu minyak mulai meredup karena kehabisan sumbu, membuat bayangan di dalam ruangan itu semakin panjang dan terlihat misterius. Bimo merasakan sebuah tekad baru yang mulai tumbuh di dalam dirinya, seperti benih yang baru saja mendapatkan air setelah kemarau panjang. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan penuh dengan rintangan berbahaya, dan mereka akan berhadapan dengan kekuatan besar yang tidak segan menggunakan kekerasan. "Besok pagi, kita harus menemui Aki Jajang," kata Bimo dengan nada yang tidak menerima bantahan apa pun dari Dara. "Beliau adalah penjaga tradisi dan pantangan laut di pulau ini."
"Aki Jajang? Maksud Anda orang tua yang selalu bicara menggunakan teka-teki yang sulit dimengerti itu?" tanya Dara dengan dahi yang berkerut heran. Bimo mengangguk mantap, ia tahu bahwa tanpa restu dari Aki Jajang, perjalanan mereka ke tengah laut akan sangat berisiko. "Beliau mungkin terlihat seperti orang tua biasa, tapi beliau memahami bahasa laut lebih baik daripada siapa pun di Karang Hijau." Dara menghela napas panjang, ia melipat kembali peta miliknya dengan sangat rapi dan memasukkannya ke dalam tabung logam. "Baiklah, saya akan mengikuti cara Anda untuk urusan lokal, tapi untuk teknis bawah air, saya yang memegang kendali."
Bimo menatap tangan Dara yang terulur di atas meja, melihat bekas luka kecil di punggung tangannya sebagai tanda kerja keras. Tanpa ragu, Bimo menyambut uluran tangan itu, merasakan genggaman yang kuat dan penuh dengan keyakinan yang menular. Di ruangan yang remang itu, sebuah aliansi yang tidak terduga telah resmi terbentuk, diikat oleh tinta tua dan aroma jahe. "Setuju," jawab Bimo tegas, menandai dimulainya babak baru dalam pencarian rahasia yang selama ini terpendam di kedalaman samudra. Saat Dara bersiap untuk pergi, Bimo kembali menatap buku catatan kakeknya yang seolah-olah sedang berdenyut.
Ada sesuatu yang hidup di balik garis-garis itu, sebuah entitas yang memanggilnya dari kegelapan yang paling dalam dan sunyi. Ia menutup buku itu dengan perlahan, merasakan beratnya tanggung jawab yang kini harus ia pikul di pundaknya sendiri. Dara melangkah menuju pintu, jas hujannya sudah tidak lagi meneteskan air sebanyak saat ia pertama kali datang tadi. Sebelum benar-benar keluar, ia berbalik dan menatap Bimo sekali lagi dengan pandangan yang sangat waspada. "Jangan sampai catatan itu jatuh ke tangan yang salah, saya merasa ada mata-mata Togar yang mulai berkeliaran di sini."
Peringatan itu membuat Bimo terdiam sejenak, ia teringat akan sosok Silas Papare yang ia lihat di dermaga beberapa waktu lalu. Apakah pria besar itu bekerja untuk Togar, ataukah ia memiliki agenda tersembunyi yang jauh lebih berbahaya bagi mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai berputar di kepalanya, menambah lapisan kerumitan pada misi yang baru saja ia mulai malam ini. "Saya akan berhati-hati," jawab Bimo singkat, meyakinkan Dara bahwa ia tahu betapa berharganya buku catatan yang ia pegang. Dara mengangguk pelan, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam yang masih terasa lembap dan dingin.
Bimo segera mengunci pintu rumahnya rapat-rapat, memastikan setiap jendela sudah tertutup dengan benar untuk menghindari penyusup yang tidak diinginkan. Ia kembali ke meja kayu, menatap lampu minyak yang kini hanya menyisakan bara kecil di ujung sumbunya yang sudah menghitam. Kehangatan jahe masih tersisa di tenggorokannya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke dasar laut yang paling dalam. Ia membayangkan apa yang sebenarnya tersembunyi di balik koordinat yang baru saja ia validasi bersama wanita asing bernama Dara itu. Di kejauhan, suara ombak yang menghantam karang terdengar lebih keras, seolah laut sedang memberikan sambutan sekaligus peringatan.
Bimo mengambil buku catatan itu, membawanya ke dalam kamar, dan meletakkannya dengan hati-hati di bawah bantal tempatnya beristirahat. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bimo bermimpi tentang ayahnya yang sedang tersenyum di tengah hamparan kota bawah laut. Namun, di balik senyuman ayahnya, ada bayangan hitam besar yang perlahan-lahan menelan cahaya keemasan yang terpancar dari kota tersebut. Bimo terbangun dengan peluh dingin yang membasahi keningnya, menyadari bahwa waktu kini tidak lagi berada di pihaknya untuk bersantai. Sumbu yang terbakar semakin pendek, dan ia harus segera bergerak sebelum kegelapan benar-benar menguasai segalanya tanpa sisa.
Cahaya fajar mulai mengintip dari celah ventilasi rumahnya, membawa harapan baru sekaligus tantangan yang jauh lebih besar bagi Bimo. Ia berdiri dan menatap cangkir teh jahe yang sudah mendingin di atas meja, menyadari bahwa hari ini perjalanannya akan benar-benar dimulai. Garis-garis yang bertemu semalam hanyalah awal dari sebuah peta besar yang akan membawanya menuju takdir yang sudah lama menanti. Ia mengambil tasnya, memastikan buku catatan kakeknya tersimpan aman di bagian yang paling tersembunyi dan sulit dijangkau. Langkah kakinya terdengar mantap saat ia keluar rumah, menginjak tanah yang masih basah oleh sisa amukan badai semalam.
Di dermaga, ia bisa melihat siluet kapal selam milik Dara yang bergoyang pelan mengikuti arus laut yang mulai tenang. Bimo berjalan menuju rumah panggung Aki Jajang, melewati deretan pohon kelapa yang melambai tertiup angin pagi yang segar. Ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil sekarang adalah satu mil lebih dekat menuju jawaban yang selama ini ia cari. Dengan potongan peta yang kini sudah lengkap, ia merasa memiliki kompas batin yang tidak akan pernah salah menunjukkan arah. Saat sampai di depan rumah Aki Jajang, ia melihat orang tua itu sudah duduk di teras sambil menatap laut.
"Aki," sapa Bimo dengan nada hormat, membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda kesantunan yang mendalam kepada sang sesepuh desa. Aki Jajang menoleh perlahan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang keriput dan penuh dengan gurat pengalaman hidup. "Mata Samudra sudah terbuka, Le. Apakah kau sudah benar-benar siap untuk melihat apa yang selama ini ia lihat di kedalaman?" Pertanyaan itu membuat Bimo terpaku, menyadari bahwa perjalanan ini akan jauh lebih spiritual dan berbahaya daripada yang ia duga. Di bawah sinar matahari pagi, Bimo Satrio menyadari bahwa ia kini bukan lagi sekadar seorang ilmuwan yang logis.